-Part 1: Salvation-

Duduk di singgasana Istana Dragonic Kingdom tak lain dan tak bukan adalah Draudillon Oriculus. Saat ini, bukan, selama ini ia telah menggunakan tubuh kecilnya ini untuk tetap mempertahankan para lolicon agar bersedia membantunya melindungi Dragonic Kingdom. Namun bukan berarti ia menyukai semua hal itu, Draudillon justru sangat merasa jijik setiap saat ia berdiri tersenyum paksa kepada para lolicon. Jika saja kondisi kerajaannya tidak sedang krisis dan memerlukan semua bantuan yang ada, maka sudah pasti Draudillon akan kembali ke wujud aslinya.

Berdiri di samping singgasana Draudillon dengan wajah profesionalnya adalah prime minister sekaligus advisor-nya Draudillon. Dan berdiri beberapa belas langkah dari singgasana Draudillon adalah Cerebrate dengan wajah mesumnya memandang tubuh mungil Draudillon dengan penuh nafsu. Lelaki berambut hitam pendek berusia tiga puluhan yang memiliki emblem adamantine itu adalah ketua dari Crystal Tear, satu-satunya tim adamantine adventurer di kerajaan yang dipimpin Draudillon ini. Jika saja ia tak membutuhkan mereka maka sudah pasti Draudillon akan mengusir pedofil laknat ini!

"Itu adalah semuanya dari para adventurer. Dan seperti yang Majesty inginkan, kami akan menyerang dan mengambil kembali kota tersebut dari tangan makhluk hina itu dalam waktu dua hari setelah memastikan rakyat yang selamat sampai ke Steffin City."

Tapi setidaknya, meskipun dia pedofil, Cerebrate tetap bisa diandalkan. Hal itu membuat Draudillon sedikit lebih kuat mempertahankan tubuh lolinya ini dihadapan pria terkuat di-seantero Dragonic Kingdom itu.

"Aku senang mendengarnya, Onii-san, tolong pimpin para adventurer dan bantu Regald untuk merebut kembali kota kita nanti ya~"

"Tentu saja, Majesty, aku tidak akan membiarkan makhluk-makhluk menjijikkan itu menyentuh tubuh sucimu!" seru Cerebrate dengan lantangnya.

Mendengar hal itu membuat Draudillon merinding. Ia cepat-cepat menyuruh Cerebrate pergi dari hadapannya, tentu saja dengan nada halus khas anak kecil, dan langsung menselonjorkan dirinya di singgasananya ketika makhluk mesum itu tak lagi terlihat. "Bawakan aku peta dan segelas bir!" perintah Draudillon pada advisornya.

Sang advisor hanya menghela napas pelan, mengangguk, lalu menyuruh seorang maid untuk menyediakan apa yang ratunya pinta.

"Aku tak mau melakukan hal ini lagi, menggunakan tubuh loli ini di hadapan para lolicon rasanya sangat menjijikkan!"

"Tentu saja Anda bisa kembali ke tubuh asli Anda, Your Majesty.. namun setelah kita aman dari para beastmen."

Draudillon menggembungkan pipinya mendengar ucapan prime minister-nya. Ia lalu menghela napas lelah dan mengistirahatkan kepalanya pada lengan singgasananya. Tak lama kemudian seorang pelayan wanita datang membawa segelas bir dan selembar peta yang ia minta, dengan cepat Draudillon meraih gelas yang berisikan minuman keras itu dan meneguknya dengan lancar. Ia menghabiskan setengah isi gelas dalam sekali teguk, pertanda jelas bahwa ia sudah sangat terbiasa dengan minuman beralkohol ini.

Draudillon meletakkan gelas berisi bir-nya di lengan kiri singgasana lalu meraih peta yang disodorkan sang pelayan.

Dragonic Kingdom terletak di posisi yang sangat rawan dan strategis. Di sisi timur terdapat Beastman Country yang sudah sangat sering menyerang kota-kota Dragonic Kingdom untuk mengumpulkan manusia yang notabene-nya adalah makanan para beastmen. Di sisi selatan terdapat Border Lake, hal ini sangat baik untuk perkembangan ekonomi Dragonic Kingdom. Border Lake juga adalah pemisah antara Dragonic Kingdom dengan Slane Theocracy, orang-orang bisa melewati danau tersebut jika tidak ingin mengambil jalur panjang yang memutar. Wyvern Rider Tribes dan Minotaur Nation berdiri megah di sisi barat laut Dragonic Kingdom, dan di antara Border Lake dan pegunungan yang memisahkan Wyvern Rider Tribes dengan Dragonic Kingdom adalah padang rumput yang akan membawa setiap orang yang menelusurinya ke Katze Plains, tempat di mana para undead sangat aktif lantaran ada negative energy yang sangat semerbak di sana yang disebabkan oleh peperangan antara Re-Estize Kingdom dan Baharuth Empire yang berkepanjangan setiap tahunnya.

Dragonic Kingdom adalah salah satu dari beberapa negara manusia yang terdapat di dataran utama (mainland). Kerajaan ini dulu didirikan oleh Brightness Dragon Lord, yang tak lain dan tak bukan adalah kakek buyut dari ratu Dragonic Kingdom saat ini, Draudillon Oriculus, dirinya. Brightness Dragon Lord menikahi seorang wanita dari kalangan manusia dan membentuk struktur dasar kerajaan. Pernikahan ini menyebabkan manusia keturunan sang dragon lord mendapatkan kemampuan untuk mengakses wild magic yang telah lama terlupakan.

Draudillon sendiri pun dapat menggunakan wild magic, namun karena resiko yang besar dari penggunaan magic tersebut membuatnya enggan untuk menggunakannya, dan hanya menjadikan itu sebagai kartu as-nya. Hal ini lantaran hanya seperdelapan dari diri Draudillon yang merupakan keturunan Brightness Dragon Lord, karena itu tidak mudah baginya untuk mengontrol wild magic tersebut. Ia bisa saja memusnahkan seluruh beastmen, namun ia harus mengorbankan satu juta jiwa untuk mengaktifkan sihirnya, dan itu adalah delapan puluh persen dari populasi kerajaannya. Bukan saja itu yang menjadi masalahnya, jika Draudillon salah sedikit saja maka yang akan musnah adalah kerajaan yang dipimpinnya. Dan tentu saja sebagai ratu ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi, jadilah ia meminta bantuan pada Slane Theocracy dan Baharuth Empire untuk menanggulangi invasi Beastman Country.

Tapi sepertinya itu adalah kesalahan; baik Slane Theocracy mau pun Baharuth Empire hanya setengah hati dalam membantu negerinya, hal ini ditunjukkan dari lambatnya gerakan mereka untuk mementahkan invasi dari Beastmen Country. Padahal ia sudah membayar banyak untuk itu! Namun tetap saja, hingga hari ini tak banyak yang kedua negeri itu lakukan, bahkan beberapa kotanya sudah diduduki oleh para beastmen. Tentu saja mereka juga memakan para manusia yang menghuni kota tersebut!

Draudillon menghela napas berat dan kembali meraih gelas di lengan kiri singgasannya lalu menenggak bir itu hingga habis, hanya segelas bir ini yang dapat meringankan stress yang ia rasakan.

"Majesty, apa Anda sudah memutuskan akan membayar upeti kepada Slane Theocracy?"

Draudillon mengernyitkan keningnya, tak suka mendengar pertanyaan yang tak ingin ia dengarkan itu keluar dari mulut sang prime minister. "Aku benci mengatakan ini, tapi kita tidak akan membayar upeti pada orang-orang yang tak serius itu!"

"Tapi mau bagaimana pun itu, kita tetap memerlukan bantuan mereka, Majesty."

Draudillon menatap tajam sang prime minister. "Kau tahu kalau mereka tidak benar-benar serius dalam melenyapkan beastmen, mereka terlalu sibuk dengan perang yang tak penting mereka dengan Elf Kingdom. Terlebih lagi, dengan setengah-setengah dalam membantu kita mereka bisa terus mendapatkan gold tetap setiap tahunnya.. dan melanjutkan perang berkepanjangan mereka dengan para Elf! Kau tak bersungguh-sungguh berpikir kalau mereka peduli, kan?!"

Prime minister menghela napas dan mendesah pelan. "Tentu saja tidak, Majesty. Namun kita tak bisa memungkiri kalau bantuan mereka sedikit menaikkan harapan rakyat. Kalau sampai kita tidak membayar upetinya maka mereka akan—"

"Kau benar," ucap Draudillon menyela ucapan prime minister. "Para Cardinal akan mengirim orang-orangnya ke sini untuk mencari tahu kenapa kita tidak membayar mereka.. dan dengan begitu kita tak perlu bersusah payah memanggil mereka untuk mengusir beastmen."

"Jadi begitu.. hm.. tapi Majesty, menunggu mereka datang dengan inisiatif mereka sendiri akan memakan waktu yang lama, bisa-bisa kita kehilangan kota kita yang lain. Saat ini, selain ibukota kerajaan, hanya tersisa Steffin City dan beberapa desa yang terletak di antara ibukota dan Setffin City yang belum diambil alih oleh para beastmen. Kalau sampai Capital City ini jatuh maka Beastmen Country akan dapat menginvasi Steffin City dengan mudah, dan kalau itu sampai terjadi.." prime minister tidak menyelesaikan ucapannya, dan Draudillon mengerti maksud ucapan advisor-nya tanpa dia harus melanjutkan bicara.

"Karena itu kita akan menyewa adamantine team adventurer dari Re-Estize, Blue Rose. Dengan bayaran seribu atau dua ribu gold coin mereka pasti akan menerima tawaran kita."

"Dan itu jauh lebih sedikit dari upeti yang kita bayarkan ke Theocracy."

Draudillon mengangguk setuju. "Memberikan sepuluh ribu gold coin setiap tahunnya kepada Slane Theocracy itu terlalu sia-sia.."

"Saya mengerti," ucap sang prime minister dengan senyum kecil di bibirnya. "Kalau begitu saya permisi dulu, Your Majesty, saya akan mengirimkan orang untuk ke Re-Estize menemui Blue Rose."

"Ya, usahakan secepat mungkin."

Draudillon memandang sekilas kepergian advisor-nya lalu kembali mendaratkan iris hazel-nya pada peta. "Bawakan aku bir lagi!" serunya pada pelayan yang masih berdiri di kirinya sedari tadi.

-O-

Cerebrate keluar dari Istana kerajaan dengan wajah senang, mata hitamnya berkilatan memancarkan nafsunya yang membara. Suara lembut sang ratu yang memanggilnya "onii-san" masih terngiang dengan jelas di telinganya. Jujur saja, ia sangat horny saat berdiri di hadapan makhluk indah tadi, bahkan saat ini ia masih bisa merasakan sesuatu di antara selangkangannya sedikit mengeras. Cerebrate tidak tahu sampai kapan ia akan bisa menahan dirinya ketika berdiri di hadapan makhluk terindah yang bernama Draudillon Oriculus, mungkin ia harus cepat-cepat menyingkirkan para beastmen lalu meminta sang ratu untuk menikah dengannya.

"Cerebrate-dono, aku harap kau tidak sedang membayangkan hal mesum yang berhubungan dengan Her Majesty."

Cerebrate mendengus pelan mendengar suara dari orang yang tak terlalu disukainya itu, Ia bukan tidak menyukai sang Commander Dragonic Knight—nama dari tentara Dragonic Kingdom—karena sifatnya atau apa pun, melainkan karena sang Commander tersebut mensuarakan ketidaksetujuannya secara gamblang atas hasratnya untuk memiliki Queen Draudillon. "Reinhart," ucap Cerebrate pada akhirnya, tentu saja setelah ia menghilangkan pikiran nistanya terhadap sang ratu.

"Aku harap kau berhenti menjadikan Her Majesty sebagai objek kemesumanmu, Cerebrate."

Cerebrate mengerutkan keningnya. Jika Reinhart tidak menggunakan suffiks saat mengucapkan namanya maka itu artinya dia benar-benar serius, dan serius-Reinhart bukanlah sosok yang disenangi Cerebrate. Tentu saja dalam duel satu lawan satu maka Cerebrate yakin ia lebih unggul, ia dan Reinhart pernah bertarung all-out beberapa tahun lalu. Memang pertarungan itu berlangsung sengit, namun pada akhirnya Cerebrate berhasil mengalahkan pria berusia dua puluh tujuh tahun itu dan menobatkan dirinya sebagai yang terkuat di-seantero Dragonic Kingdom. Satu-satunya yang membuat Cerebrate berhati-hati ketika berhadapan dengan serius-Reinhart adalah mata tajam lelaki berambut biru gelap sebahu itu. Saat dia sedang serius, Cerebrate seakan-akan bisa melihat predator yang sedang mengincarnya. Tapi bukan berarti ia takut, Cerebrate tak takut pada siapa pun, ia adalah yang terkuat di sini. Karena itu, dengan seringaian meremehkan ia berkata, "Ho… apa yang akan kau lakukan kalau aku membayangkan Her Majesty bertelanjang bulat dengan mata sayu penuh nafsu dan kaki terbuka lebar ke arahku, huh?"

Trank! Cerebrate bergerak cepat menangkis pedang tajam Reinhart dengan pedang miliknya. Ia kemudian memiringkan kepalanya ke kiri menghandari pukulan tangan kiri Reinhart, lalu Cerebrate melompat beberapa langkah ke belakang menghindari tendangan kaki kiri sang commander.

Cerebrate menyeringai dan memasang pose menyerangnya. "Reinforce Armor, Shield Wall, Greater Strength."

"Reinforce Armor, Lesser Gravity, Greater Speed."

Reinhart melesat dengan pedang terayun tajam mencoba memenggal leher Cerebrate. Trank! Cerebrate menangkis pedang tajam Reinhart dengan pedangnya yang lebih besar, kemudian ia mengayunkan kaki kirinya mencoba menghantam sang commander, namun Reinhart berhasil memblok tendangan Cerebrate dengan tangan kirinya. Akan tetapi karena telah memperkuat dirinya dengan greater strength, Reinhart tetap terlempar ke belakang beberapa langkah meski dia bisa menangkis tendangan Cerebrate. "Apa itu? Rasanya kau lebih lemah dari waktu itu," ucap Cerebrate sambil melesat dengan pedang mengayun tinggi ke arah Reinhart. Reinhart merespon cepat. Cling! Cling! Trank! Reinhart menangkis setiap ayunan kuat pedang Cerebrate, benturan kedua pedang yang sekeras adamantine itu menimbulkan bunyi dentingan yang membuat para prajurit lain berdatangan.

"Commander Reinhart."

Cerebrate dan Reinhart berhenti dari pertarungan mereka ketika suara tegas seorang wanita memanggil nama sang commander. "Kali ini cukup sampai di sini, dan tolong jangan katakan hal menjijikkan itu lagi di depanku, Cerebrate-dono.. atau kau akan menyesal." Tegas Reinhart sambil melangkah menuju wanita berambut pirang sepunggung yang Cerebrate kenali sebagai vice-commander dari Dragonic Knight.

"Cih, katakan itu kalau kau sudah bisa mengalahkanku!" seru Cerebrate dengan nada kesal, matanya memandang tajam pada sang commander yang tengah berjalan memasuki istana kerajaan.

Cerebrate kembali berdecih ketika melihat Reinhart sama sekali tak memberinya respon. Barulah setelah sosok commander telah sepenuhnya menghilang ia beranjak pergi, menuju ke tempat di mana para adventurer dan sebagian anggota dari Dragonic Knight berada.

Setengah jam kemudian Cerebrate sampai di markas darurat Dragonic Kingdom yang terletak di luar dinding yang melindungi ibukota kerajaan, beberapa puluh meter ke arah timer tower pengamat dari gerbang utama kerajaan. Markas tersebut sengaja didirikan selurus dengan tower pengamat dan hanya berjarak lima puluh meter dari tower, ini memungkinkan penjaga tower untuk menyampaikan informasi baik dari dalam kota mau pun dari pengamatan yang didapat kepada markas darurat.

"Cerebrate-sama," ucap salah seorang prajurit kerajaan. "Captain Regald sudah menunggu kedatangan Anda di ruangannya."

Cerebrate hanya mengangguk dan langsung pergi ke ruang utama di lantai dua dari bangunan ini. Ia tak langsung masuk ke ruangan, ada seorang wanita berusia dua puluhan berdiri di depan pintu, dengan kedua tangan terlipat di bawah dada besarnya. Jika ia lelaki normal maka sudah pasti matanya akan fokus pada dua gunung kembar itu yang begitu menggoda, namun Cerebrate tidak begitu; tak ada yang bisa menggugah nafsunya selain Queen Draudillon.. dan mungkin beberapa loli lainnya, tak peduli jika wajah wanita berambut merah sebahu itu cukup terbilang cantik.

"Vrylia.. apa yang kau lakukan di situ?" tanya Cerebrate dengan nada bosan, ia bisa menduga kalau Regald sedang memuaskan asistennya yang satu lagi, Xylia, kembarannya Vrylia. Dan Vrylia sedang bertugas menjaga pintu agar tak ada yang mengganggu kegiatan mereka.

Wajah Vrylia memerah. "B-bukan urusan Anda, Cerebrate-dono!" ucapnya setengah teriak. "Silahkan menemui Vice-Captain di ruangannya, Regald-sama menyuruhku mengatakan itu pada Anda."

"Cih," decih Cerebrate sambil kembali menuruni tangga. Ia tak berkata lebih lanjut, dan sama sekali tak menunjukkan rasa kesal pada Captain of Brightness itu. Alasannya sederhana: tak seperti Reinhart yang menentang hasratnya untuk memiliki Queen Draudillon, Regald Nurl Verbestr malah sering menyemangatinya. "Setiap lelaki memiliki fetish mereka masing-masing, bukan hanya lelaki, bahkan wanita pun begitu!"—begitu prinsipnya Regald. Karena itulah Cerebrate bisa akrab dengan Regald meskipun lelaki berambut pirang jabrik itu adalah seorang bangsawan. Keakrabannya dengan Regald bahkan selevel dengan keakrabannya dengan temannya sesama adamantine adventurer, mungkin karena Regald juga orang yang easy-going sepertinya.

Cerebrate mengetuk pintu ruang vice-captain dan langsung memasukinya setelah teriakan "masuk" menginvasi indera pendengarannya.

"Ah, Cerebrate-dono. Jika Anda berada di sini artinya Vrylia atau Xylia kembali berdiri di depan pintunya Regald-dono, ha.. aku sudah lelah memintanya untuk jangan melakukan sex di sini, captain memang keras kepala.. atau setidaknya dia meminjamkan salah satu dari mereka berdua padaku, hahahaha.." ucap sang vice-captain diakhiri dengan tawa canda seraya menginstruksikan dirinya untuk duduk di kursi depan meja kerjanya.

Cerebrate duduk di kursi kosong itu dan memandang wajah lelah vice-captain, seorang lelaki berumur tiga puluhan, bertubuh besar tegap, dan berambut hitam ikal pendek sepertinya. "Ia akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum kau sempat menyentuh dada besar mereka, Elliot." Ujar Cerebrate dengan senyum jenakanya, sebelum akhirnya kedua pria sebaya itu meledak dalam tawa.

Namun tawa itu langsung terhenti ketika Elliot memasang wajah seriusnya. "Captain Illya telah ditangkap," ucap Elliot dengan nada serius. "Dari total 8700-an prajuritnya, hanya 800-an yang berhasil menyelamatkan diri, itu pun karena mereka memang ditugaskan oleh Captain untuk memastikan keselamatan rakyat."

Cerebrate mengernyitkan keningnya mendengar hal itu. "Berapa jumlah total warga yang berhasil meninggalkan Ignit?"

"24.778 orang, terdiri atas anak-anak, wanita hamil, dan lanjut usia."

"Itu bahkan tidak sampai seper empat dari jumlah total warga.."

Meskipun Cerebrate seorang lolicon, dan ia merasa bangga menjadi seorang lolicon, namun ia masihlah rakyat Dragonic Kingdom, tentu ia merasa tidak senang dengan apa yang menimpa warga setanah airnya. Terlebih lagi ia adalah adamantine adventurer, dan ia bersama dengan kedua temannya sesama adamantine adventurer ikut merasa bertanggung jawab terhadap jatuhnya Kota Ignit dan Kota Vledyr.

"Jadi, ada keperluan apa Anda ke sini, Cerebrate-dono?"

"Aku hanya ingin memberitahu jumlah adventurer yang akan ikut membebaskan Kota Ignit esok lusa."

"Teruskan."

"Total ada seratus empat adventurer yang akan ikut. Lima puluh di antaranya adalah Gold rank adventurer, dua puluh lima Platinum rank adventurer, enam belas Mythril rank adventurer, sepuluh Orichalcum rank adventurer, dan tentu saja tiga Adamantine rank adventurer."

Elliot mengangguk dan mencatat apa yang baru saja Cerebrate katakan. "Ada lagi?" tanyanya.

Cerebrate menggelengkan kepalanya dan berdiri. "Aku dan keseratus tiga adventurer lainnya akan siap esok lusa kapan pun kalian siap untuk menyerang." Tepat setelah mengatakan itu Cerebrate langsung berjalan keluar dari ruangannya Elliot. Pun ia tak menghabiskan waktu lama di markas darurat ini; Cerebrate langsung kembali ke dalam kota dan bergegas menemui kedua temannya di Breathness-Inn, penginapan terbaik di ibukota Dragonic Kingdom.

..Next Day..

Draudillon sedikit menyesalkan perbuatannya tadi malam. Setelah berbicara mengenai keamanan Brightness City, atau lebih sering disebut the Capital City, bersama dengan dua orang dari empat orang terbaiknya, Draudillon menghabiskan malam dengan meminum habis empat botol besar bir. Bahkan ia telat bangun tadi pagi, untung saja Emily—vice-commander Dragonic Knight sekaligus personal guard-nya—datang dan membangunkannya secara paksa, kalau tidak maka ia pasti masih terbaring ria di tempat tidurnya.

"Majesty."

Draudillon mengangguk dan menghampiri wanita berambut pirang panjang sepinggang yang berdiri setia di depan pintu kamarnya. Wanita ini mengenakan pakaian putih khas prajurit dan dilengkapi dengan adamantine armor yang dicat dengan warna perak. Adamantine armor tersebut hanya ada tiga di Dragonic Kingdom, itu adalah armor yang diwariskan turun temurun kepada prajurit kerajaan terpercaya. Reinhart Elzenkirl, Emily Avosvin, dan Regald Nurl Verbestr adalah orang-orang terpercaya Draudillon bersama dengan prime minister, Alfred Nurl Verbestr, yang tak lain adalah ayah dari Regald Nurl Verbestr. Mereka berempat adalah orang yang paling loyal padanya, jadi tentu saja ia berinteraksi baik dengan mereka.

"Apa Majesty yakin tidak ingin ditemani prime minister? Beliau sedang rapat dengan para menterinya dan akan selesai dalam satu jam, kita bisa menunggu beliau kalau Majesty mau."

"Tidak, tidak, aku hanya ingin jalan-jalan sebentar melihat penduduk kota, biarkan Alfred melakukan tugasnya."

"Baiklah kalau begitu, mari kita pergi." Ucap Emily sambil mempersilahkan Draudillon memimpin jalan, dia dengan cepat berjalan di sisi kiri Draudillon, satu langkah di belakangnya.

Lima menit kemudian Draudillon dan Emily keluar dari Royal Palace, mata Draudillon langsung tertuju pada gerbang besar di ujung jalan ber-paving block ini.

Brightness City, ibukota Dragonic Kingdom, merupakan kota dengan populasi terbanyak di-seantero kerajaan, dari total empat kota yang ada: Brightness, Steffin, Ignit, Vledyr. Dengan populasi enam ratus ribu jiwa lebih, Brightness City mengungguli Steffin City yang memiliki populasi sebanyak tiga ratus delapan ribu lebih jiwa. Brightness City memiliki dua gerbang, satu gerbang utama yang dialokasikan untuk keperluan umum dan satu gerbang khusus yang hanya dibuka ketika situasi darurat saja sebagai jalur keluar untuk mengevakuasi rakyat. Dari gerbang utama, dikenal juga Eterya Gate, para pendatang atau siapa saja yang hendak memasuki kota dapat melihat istana kerajaan, Royal Palace, yang berdiri megah ditengah-tengah kota. Brightness city berbentuk segi enam sempura yang daerah luar dan dalamnya dibatasi oleh dinding besar yang kesemuanya terbuat dari Iron. Dinding pembatas menjulang tinggi hingga 10 meter dan memiliki lebar seperlima meter, disetiap sudutnya berdiri menara pengawas yang tidak pernah absen akan penjaga. Menara pengawas memiliki tinggi 35 meter, bagian dalamnya terbuat dari kayu mahoni dan bagian luar dialapisi mythril setebal dua centi meter. Bagian luar menara dicat dengan warna perak, warna perak merupakan warna utama di kota ini, bahkan 75 persen bagian luar Royal Palace juga berwarna perak.

Dari gerbang, mengikuti jalan utama kota maka para pendatang dapat melihat bangunan terbesar kedua setelah Royal Palace, bangunan Brightness Guild Adventurer. Bangunan ini terletak 800 meter dari gerbang utama dan berdiri kokoh disebelah kanan jalan, disekeliling bangunan berdiri tembok pembatas setinggi satu setengah meter yang terbuat dari bebatuan dan besi.

Draudillon dan Emily berjalan dengan tenang menyusuri jalan kota, beberapa prajurit mengikuti mereka sepuluh langkah dari posisi mereka berdua dari belakang. Mereka bukan sedang menuju ke Guild, akan tetapi ke tower pengawas yang terletak di sebelah kanan Royal Palace. Karena letaknya yang lumayan jauh dari Royal Palace, butuh waktu yang tak sedikit untuk tiba ke sana. Dan tentu saja selama dalam perjalanan Draudillon selalu menyapa setiap rakyatnya yang melihat dan memandang takjub dirinya. Karena sifatnya inilah Draudillon sangat dicintai rakyatnya, berbeda dari pemimpin negeri lain yang tidak pernah berjalan kaki di luar istana.

Sesampainya di depan tower, dua prajurit yang bertugas menjaga pintu masuk tower langsung bergegas berlutut dengan kepala tertunduk di depan Draudillon. "Your Majesty!" seru mereka serempak dengan nada penuh hormat.

"Berdirilah, aku ingin ke ruang observasi."

Kedua prajurit tersebut langsung berdiri lalau bergegas membukakan pintu untuk ratu mereka. Draudillon berterima kasih pada keduanya lalu memasuki tower bersama dengan Emily, prajurit yang mengawal mereka dari belakang tadi dengan setia menunggu di luar tower. Dan tak lama kemudian kedua wanita itu memasuki ruang observasi di puncak menara pengawas yang memiliki tinggi 35 meter dengan bagian dalamnya terbuat dari kayu mahoni dan bagian luar dilapisi mythril setebal dua centi meter.

"Y-Your Majesty, Vice-Commander Avosvin, kami tidak tahu kalau Anda berdua akan ke sini hari ini.." ucap seorang prajurit yang tertua dari ketiga prajurit yang ada di ruang observasi ini setelah ia kembali berdiri dari berlutut memberi hormat.

"Tidak perlu khawatir, Your Majesty hanya ingin melihat seluruh kota dari sini." Ucap Emily menjelaskan maksud kedatangan Draudillon.

Para prajurit bernapas lega dan langsung memberikan magic item untuk memperjelas pandangan kepada Emily. Emily berterima kasih pada bawahannya dan memberikan magic item tersebut pada Draudillon. Draudillon menerima magic item tersebut dan bergegas ke sisi tower yang mengarah ke dalam kota. Emily dengan setia berdiri di samping sang ratu. Keduanya memandang suasana pagi Brightness City dengan tenang, ketiga prajurit melanjutkan tugas mereka mengawasi bagian luar kota.

"Anda telah mengambil keputusan yang sangat tepat dengan tidak memberitahukan invasi Beastman Country kepada rakyat, Your Majesty, jika tidak maka tidak mungkin kita bisa melihat mereka bisa menjalani hari dengan tanpa beban seperti itu."

"Tentu saja Emily, aku tak ingin rakyatku hidup dalam ketakutan."

Keduanya kembali diam. Namun sesaat kemudian Emily kembali berbicara. "Ada dua hal yang masih mengganjal di pikiran saya, Your Majesty."

"Apa itu?"

"Yang pertama, mengapa Anda tidak memaksa agar setiap Temple of the Six Gods menurunkan biaya pengobatan terhadap rakyat? Saya yakin tak akan ada Priest yang akan keberatan, kecuali para Priest yang ikut terjun ke dalam bisnis malam."

Draudillon menghela napas pelan. "Akan menimbulkan masalah dengan Slane Theocracy kalau aku memaksa mereka, karena bukan saja Priest itu dibayar atas healing spell mereka, melainkan temple sepenuhnya berjalan dengan menggunakan pemasukan dari menyembuhkan orang-orang."

"Bukankah seharusnya Theocracy yang membiayai keberlangsungan temple?"

Draudillon mengerti kenapa ada nada tidak suka dalam suaranya Emily. Sama sepertinya, mereka berdua bukanlah penyembah salah satu dari Six Gods. Bagi Draudillon itu adalah sebuah kewajaran, ia adalah keturunan dragon lord. Sedangkan bagi Emily itu adalah masalah yang sangat personal, Draudillon tahu kalau wanita yang sedang berdiri di sampingnya ini sangat membenci dengan apa yang namanya dewa atau tuhan; dia sama sekali tak percaya kalau mereka ada, karena tak mungkin kekacauan terjadi kalau dewa atau tuhan itu ada.

"Seharusnya begitu.." jawab Draudillon setelah beberapa saat diam. "Lalu yang kedua?" tanyanya.

"Aku tidak keberatan dengan bar, tetapu mengapa Anda setuju untuk tetap membiarkan brothel itu tetap berjalan, bukan itu saja, namun setiap kota memiliki satu atau dua brothel, mengapa?"

Emily memandang bangunan yang terletak tak jauh dari tower tempat mereka berada dengan jijik.

Draudillon kembali mendesah. "Satu-satunya cara agar kasus pemerkosaan tidak terjadi adalah dengan membiarkan brothel itu tetap ada dan membuatnya legal namun dengan pengawasan yang ketat. Bayangkan kalau brothel itu ditutup, maka tidak akan lagi aman bagi seorang wanita biasa untuk berkeliaran sendiri saat malam. Kendatipun kita membuat hukum yang keras atau bahkan membiarkan temple melarang hubungan sexual di luar hubungan pernikahan, yang tentu saja itu tak akan pernah terjadi karena ada dari priest yang juga doyan dengan sex, hal itu tak akan menurunkan pelaku pemerkosan. Lagipula, sex itu memang kebutuhan setiap makhluk hidup.. dan juga, semakin ketat suatu hukum, maka semakin pintar para krimanal jadinya.. karena mereka akan berpikir keras menyembunyikan kejahatannya."

"Ha.. aku mengerti itu, tapi tetap saja.."

"Hm.. bagaimana denganmu, Emily, apa kau sudah melakukan sex dengan Reinhart?" tanya Draudillon dengan nada polosnya yang dibuat-buat.

Wajah Emily memerah seketika dengan mata melebar. "A-apa yang Anda katakan.. i-itu tidak pantas untuk dibicarakan!"

"Berarti itu artinya sudah? Bagaimana rasanya?"

"Your Majesty!" teriak Emily sambil menarik paksa Draudillon lalu melompat ke luar tower. "Fly!" Emily langsung melesat menjauhi tower setelah mengancam ketiga prajurit agar tidak mengatakan apa yang mereka dengar tadi pada siapa pun.

"Emily! Emily! Cepat turun!" teriak Draudillon memaksa Emily untuk turun.

"Anda diam, kita akan kembali ke Royal Palace. Anda melawan seperti ini, kita akan ke tempatnya Cerebrate."

Draudillon diam seketika. Emily tersenyum penuh kemenangan, meskipun wajahnya masih sedikit memerah mengingat kegiatannya dengan Reinhart tadi malam.

Sesaat kemudian, Throne Room, Royal Palace

"Kami sudah menunggu Anda sejak enam menit yang lalu, Your Majesty."

Itu adalah kalimat pertama yang didengar Draudillon begitu ia dan Emily memasuki ruang singgasana kerajaan. Reinhart dan prime minister berdiri di kiri kanan singgasana memandangnya dengan taut muka yang sedikit senang namun serius. "Ada apa memangnya?" tanya Draudillon seraya mendudukkan dirinya di singgasananya.

"Seorang prajurit tadi melaporkan hal yang mengejutkan.. namun menggembirakan yang pasti akan membuat Your Majesty senang."

"Apa itu?" tanya Draudillon tak sabaran.

Reinhart melihat ke arah prime minister yang mengangguk padanya memberi persetujuan. Reinhart pun mengangguk dan menghela napas pelan sebelum memulai bicara. "Kota Ignit.. dua orang yang bernama Naruto Uzumaki dan Arthuria Pendragon telah menghabisi semua beastman yang ada di sana, membebaskan para tahanan, dan membuat kota kembali aman. Setidaknya itulah pesan yang disampaikan oleh prajurit yang muncul di markas utama Dragonic Knight setengah jam yang lalu melalui sebuah sihir teleportasi level tinggi.. kalau tidak salah prajurit itu menyebutnya Gate, wanita yang bernama Athuria Pendragon yang mengaktifkan spell itu."

Draudillon terdiam tak percaya, matanya melebar penuh keterkejutan, pun begitu dengan Emily. Sebagai seorang magic caster yang bisa menggunakan sihir tingkat ke-empat, mendengar sihir level tinggi seperti itu adalah hal yang sangat mengejutkan, lebih mengejutkan dari fakta bahwa kedua orang itu telah menghabisi seluruh beastman yang menduduki Ignit City.

"Kita harus ke sana, aku ingin melihatnya!" seru Draudillon penuh semangat. Emily mengangguk setuju, dia pun ingin melihat pengguna sihir level atas tersebut.

"Kami pun berpikir begitu, saat ini prajurit yang datang memberi informasi tadi masih berada di markas utama, kita bisa pergi kapan pun Your Majesty siap."

"Tapi Majesty," ucap prime minister, Draudillon dan Emily memandangnya penuh tanya. "Kami tak bisa menemukan informasi apa pun mengenai kedua orang yang telah menyelamatkan Kota Ignit. Asumsi kami mereka berasal dari pusat benua, dengan kekuatan yang seperti itu bisa jadi mereka adalah god-kin atau bahkan keturunan dari Eight Greed Kings."

Draudillon menghindikkan bahunya. "Aku tak peduli itu, yang penting mereka telah menyelamatkan kotaku.. dan siapa tahu aku bisa menikahi laki-laki itu dan melahirkan penerus yang kuat, kan?" Draudillon menyengir lebar dan turun dari tahtanya.

"Ah, tapi bagaimana kalau dia lolicon?" tanya Draudillon sambil menghentikan langkahnya lalu memandang Reinhart dan prime minister.

"Aku ragu akan hal itu, prajurit tadi mengatakan kalau perempuan yang bernama Arthuria Pendragon ini bukanlah loli, tingginya hanya dua atau tiga centi di bawah Emily. Prajurit tadi bahkan menganggamnya sebagai dewi, kecantikannya tak bisa diutarakan, begitu katanya."

"Apa lebih cantik dari tubuh asliku?"

Reinhart menghendikkan bahunya.

Draudillon mengernyitkan keningnya. "Aku tak peduli, kita akan ke sana sekarang. Aku akan menggunakan wujud asliku dan kita akan pergi dari gerbang khusus."

Reinhart, Emily, dan prime minister mengangguk dan ketiganya mengikuti Draudillon yang sudah berjalan menuju pintu keluar ruang singgasana.

..Tiga belas jam sebelumnya, Kota Ignit..

Suara kunyahan daging dan tulang retak menginvasi indera pendengaran Illya sedari tadi. Ia sama sekali tak berani melihat ke luar penjara tempatnya dikurung ini, Illya sama sekali tak akan sanggup melihat pemandangan horor yang disajikan di hadapan penjara tempatnya kini berada. Jangankan melihat rekannya menjadi makanan para beastmen.. membayangkannya saja Illya tidak sanggup.

"Captain."

Illya melirik ke sebelah kirinya dengan tanpa semangat. Pemuda yang memandang penuh keseriusan adalah wakilnya, dan ia sendiri adalah kapten yang pemimpin semua prajurit kerajaan yang ditempatkan di Kota Ignit untuk melindungi dan mengawasi kota ini.

Rostav, nama wakilnya, menunjukkan padanya sebuah lubang kecil di dinding yang ia sembunyikan dengan duduk membelakangi dinding itu. "Aku akan menggunakan magic item yang diberikan ayahku untuk meledakkan dinding ini pada tengah malam nanti, dan kemudian kita akan melarikan diri dari sini dengan semuanya."

Illya melebarkan matanya, "Tapi bagaimana kau bisa menggunakan magic item dengan tangan yang ter—" Illya menghentikan ucapannya begitu Rostav menunjukkan tangannya yang tak terikat. Bukan hanya Gustav saja, melainkan semua prajurit yang duduk bersandar pada dinding penjara yang berjumlah tiga belas orang secara total. Dan dengan cepat Illya mengerti kalau mereka semua telah berusaha keras untuk merencanakan pelarian; semangat mereka tak luntur, tidak sepertinya yang telah kehilangan asa sejak ia mendengar kunyahan daging rekannya oleh para beastmen.

"Captain," panggil Rostav lagi sambil menunjukkan pisau kecil di tangannya. Beberapa prajurit yang tak bersandar duduk dengan tenang menutupi pandangan para beastmen dari melihat Rostav dan dirinya.

Illya mengangguk mengerti dan langsung memiringkan tubuhnya ke kanan, membiarkan tangannya yang diikat ke belakang menghadap Rostav. Setelah beberapa kali menggesek-gesekkan mata pisau yang telah di-enchant (diperkuat/disertai) dengan second-tier spell wind slice, akhirnya tali yang mengikatnya putus juga, Illya mendapatkan kebebasan tangannya kembali.

"Aku sudah memperhatikan para beastmen sejak kita ditangkap dua hari yang lalu. Mereka akan mengurangi penjagaan ketika kita semua terlelap, dan setidaknya kurasa tengah malam adalah waktu yang tepat bagi kita untuk meledakkan dinding ini. Mengingat kita dikurung di tengah-tengah kota dan jumlah kita semua tiga puluh empat, maka aku memutuskan untuk membagi kita menjadi tiga: Captain akan memimpin sebelas dari kita untuk keluar dari kota dan kembali ke Capital melalui sisi utara kota, aku dan kesembilan lainnya akan mencoba memfokuskan perhatian para beastmen pada kami ke arah selatan, sedangkan Reyon dan kesembilan lainnya akan mencoba membebaskan para tahanan yang lain."

Illya mengernyitkan keningnya. "Kami tak akan kembali ke Capital, aku yakin Captain Regald sudah mengetahui tentang jatuhnya kota ini ke tangan para beastman. Memang kita tak tahu apakah kedelapan ratus prajurit yang kuperintahkan membawa para penduduk yang tak bisa bertarung benar-benar berhasil dalam tugasnya, ada kemungkinan para beastmen berhasil mendapatkan mereka, tapi setidaknya jika mereka berhasil melewati persimpangan jalan ke Veldyr maka aku yakin bawahan Captain Regald akan tahu. Singkatnya, tetap di kota adalah opsi terbaik; kami akan menarik perhatian mereka ke sisi utara sedangkan Rostav ke sisi selatan dan Reyon akan fokus pada pembebasan para tahanan dan membawa mereka ke luar kota dari sisi tim—" Illya langsung menutup mulut dan matanya memandang ke langit-langit ruangan begitu seorang Bafolk berdiri di depan jeruji. Dan Illya kembali mendaratkan matanya pada Rostav yang matanya mengarah pada sosok Bafolk yang sudah beranjak.

"Aku mengerti, nanti tengah malam akan kita lakukan. Sebaiknya kita mengistirahatkan diri dulu, Reyon akan membangunkan kita tengah malam nanti."

Illya menganggukkan kepalanya, senyum kecil terpatri di wajah manisnya, kemudian ia memejamkan matanya dan mencoba memasuki alam mimpi. Setidaknya.. ia masih memiliki harapan untuk diwujudkan.

-1-

AN: Naruto dan Arthuria tiba di New World enam bulan lebih cepat dari Ainz dan Nazarick. Dan berhubung informasi mengenai Dragonic Kingdom masih sangat amat minim, bahkan penampilan asli Draudillon pun belum diperlihatkan selain disebuatkan bahwa dia gorgeous woman, nama prime minister juga belum disebutkan, dan mungkin baru akan diungkapkan di volume 14 atau bahkan 15... maka aku akan membuatnya sesukaku.. tentu saja dengan tetap menggunakan semua informasi yang diberikan oleh volume-volume yang ada. Jadi, akan ada banyak OC di Dragonic Kingdom.

Special note: Ada yang menuliskan Dragonic Kingdom sebagai Draconic Kingdom.. aku belum melihat tulisan dalam katakana-nya jadi nggak tahu mana yang lebih bener, tapi aku sendiri lebih menyukai menggunakan Dragonic daripada Draconic.

Important note tentang kelanjutan cerita:

-Part I: Salvation, terdiri atas 4-6 chapter, tergantung jumlah word tiap chapternya nanti.

-Part II: Vassal of Dragonic Kingdom, terdiri atas 2 chapter

-Intermission 1: Blue Rose in Dragonic Kingdom

-Part III: Encounter in E-Rantel; Momon the darkness, masih belum dibuat lay out-nya, yang pasti lebih dari 3 chapter.

-Part IV: To Arwintar, belum jelas.

-Part V: Battle of Katze Plains, belum jelas.

-Part VI: A Visit from Theocracy, belum jelas.

Masih sampai di sini planning-nya, akan kutambahkan lagi kalau sudah selesai keenam part di atas. Chapter selanjutnya akan kuusahakan minggu depan, doakan saja semoga aku tak terlalu sibuk

QA:

1. Sifat Naruto? Akan terjawab di chapter depan.

Terakhir, terima kasih atas dukungannya!