G

Chapter: 1

Song: EXO - Overdose

.

.

Hari sudah berganti pagi. Matahari mulai menunjukkan sinarnya ke dunia. Suara burung-burung berkicau menyambutnya dengan riang. Sinar matahari yang masuk lewat celah jendela kamar membuatku bangun dari tidur. Kedua mataku membuka secara perlahan, tangan kananku meraba meja untuk mencari sesuatu, dan aku menguap panjang setelah menemukannya.

''Sudah jam tujuh pagi," gumamku. Aku melihat sebentar jam yang tertera di layar ponselku, lalu aku meletakkan ponselku kembali ke atas meja.

Aku bangkit dari tidurku, dan aku menyadari sesuatu. Aku tidak tidur sendirian, ada seseorang yang menemaniku tidur di kamar. Dia adalah Kris, tetanggaku sekaligus kekasihku. Kris masih tertidur dalam posisi memelukku. Dia mendengkur pelan, tanda dia nyaman dalam tidurnya. Aku terkekeh pelan saat melihatnya. Jari tanganku menusuk pipinya dengan jahil.

"Kris, bangun," kataku pelan. Kris menggeram kecil, dan dia kembali ke alam bawah sadarnya.

Aku mendengus. Tanganku beralih mencubit pipinya dengan gemas, "Kalau kau tidak bangun dengan segera, aku akan marah padamu karena kau membuat kita telat ke sekolah."

Bibir Kris perlahan membentuk sebuah seringai. Kedua matanya membuka kelopaknya, lengan tangannya memeluk pinggangku dengan erat, "Pagi, Suho," ucapnya dengan suara serak.

"Kita terlambat untuk ke sekolah, Kris." Aku menggembungkan pipiku dengan kesal.

Kris tertawa kecil. Dia mengambil satu kecupan di pipiku, "Kita bisa masuk di pelajaran keduanya, Ho," katanya santai.

Aku memukul kepala Kris dengan bantal. Kris mengaduh sambil tertawa. Aku memukul Kris sampai puas dan setelahnya, aku bangkit dari pelukan Kris dengan muka kesal.

Aku berjalan ke pintu kamar, "Aku siapkan sarapan dulu, ya," kataku sebelum meninggalkan Kris di kamar.

Aku melangkah menuruni anak tangga sambil bersiul. Saat aku memasuki dapur, aku melihat kakakku, Kim Yixing, aku biasa memanggilnya Lay, sedang memasak telur dadar. Aku berjalan mendekatinya, dan Lay tersenyum saat dia melihatku.

"Pagi, Suho."

"Pagi, hyung. Mau kubantu?"

Lay mengangguk. "Kamu tumben telat bangun. Begadang lagi?" Tanyanya.

Aku mengambil telur dengan gerakan kaku, "Iya, hyung. Hari ini ada tes matematika yang aku benci. Hyung sendiri tumben bangun pagi," aku mencoba mengalihkan pembicaraan, "ada kencan dengan yeojachingu* hyung, eoh?" Tanyaku dengan nada jahil.

Lay terkekeh. Tangannya meraih piring kosong untuk menaruh telur yang dimasaknya. "Hyung baru putus, Suho," kata Lay.

Aku terkejut dengan ucapan kakakku itu. Lay memberi piringnya ke tanganku sambil tersenyum, "Sana makan dulu, nanti telat lagi," suruh Lay seraya mengusirku.

Aku berjalan menaiki anak tangga dengan bingung. Pikiranku melayang pada peristiwa setengah tahun yang lalu. Saat itu, Lay memberitahukan statusnya yang sudah berpacaran pada keluargaku. Mukanya tampak berseri-seri saat menceritakan yeojachingunya yang cantik, pintar, dan baik hati, menurutnya. Aku, eomma*, dan appa* tentu saja senang dengan berita itu. Kebahagiaan salah satu anggota keluarga merupakan prioritas utama dalam keluargaku.

Appa bekerja sebagai manajer di salah satu perusahaan produk makanan Korea Selatan yang terkenal, sedangkan eomma mempunyai salon yang sudah memiliki banyak pelanggan tetap, dan itu semua tidak menjadi alasan kami memamerkan kekayaan harta kami, tetapi menunjukkan kesederhanaan dan tingkah laku yang baik.

Aku sayang sekali pada keluargaku. Aku dan kakakku memang jarang sekali bertemu dengan orang tuaku karena pekerjaan mereka, tetapi eomma dan appa sering menanyakan kabar kami lewat telepon atau email setiap hari.

Aku seketika menghentikan langkahku. Aku bertanya dalam hati, 'Apakah aku harus memberitahukan hubunganku dengan Kris yang sekarang? Apa mereka akan menerimanya?' Aku menghela nafas pelan, lalu aku kembali melangkah ke pintu kamar.

"Kris, ini sarapanmu." Aku menutup pintu kamar sambil mencari sosok Kris. Suara guyuran air tiba-tiba terdengar dari kamar mandi. Aku meletakkan piringku di atas meja, dan berjalan mendekati pintu kamar mandi.

"Kris, kamu mandi?" Tanyaku dengan suara agak keras.

"Iya! Taruh aja sarapannya di atas meja, Ho!" seru Kris dari balik kamar mandi.

Aku menepuk dahiku, "Bodoh! Kamu punya kamar mandimu sendiri di rumahmu. Aku juga mau mandi! Aku tidak mau terlambat, Kris!" Seruku panik.

Tidak ada respon. Aku menggeram kesal. Dengan segera, aku berjalan cepat ke lemari pakaianku, lalu membukanya dengan kasar. Aku mengambil pakaian seragam sekolahku dan memakainya dengan cepat. Kemudian, aku mengambil tasku sebelum aku berjalan lagi ke pintu kamar.

'Maaf Kris, aku tidak mau kehilangan cap anak rajin di sekolah,' batinku berkata setelah aku pamit ke Lay untuk pergi ke sekolah.

Aku beruntung karena aku datang tepat waktu ke kelas. Aku segera duduk di kursiku, dan seperti biasa, Baekhyun dan Kyungsoo akan menarik kursinya ke mejaku, lalu kami saling menceritakan masalah kami, sebagian besar masalahku.

"Mukamu pantas tampak kusut. Kalian bertengkar lagi untuk ke sekian kalinya," Baekhyun menanggapi dengan malas sambil menyeruput susu kotaknya.

Kyungsoo mengangguk, "Aku pikir kalian pasangan yang jarang berantem karena Kris sunbae kelihatannya seperti laki-laki yang dewasa," komentar Kyungsoo.

Aku menghembuskan nafas dengan lelah, "Sunbae kesayangan sekolah ini pasti akan menangis darah begitu mengetahui kalau dia itu namja yang mesum dan suka seenaknya," ujarku sambil mengacak rambutku dengan sedikit frutasi.

Baekhyun dan Kyungsoo tertawa melihat tingkahku. Baekhyun tiba-tiba menghentikan tawanya, dia mengisyaratkanku untuk berbalik. Aku menurutinya saja, dan aku agak terkejut saat melihat sosok Kris yang sedang berdiri di depan kelasku. Suara teriakan yeoja-yeoja di kelasku mulai terdengar kencang saat Kris memasuki kelas dengan gayanya yang seperti pangeran. Aku menahan nafas saat Kris akhirnya berdiri di dekat mejaku.

Kris menaruh suatu bungkusan di atas meja, "Ini bekalmu, tadi ketinggalan di meja makan. Lay hyung menyuruhku untuk mengantarnya ke kelasmu," jelas Kris dengan muka datarnya.

Aku tersenyum canggung, "Terima kasih, Kris," ucapku sambil mengambil bekalku. Kris hanya diam, lalu dia pergi keluar kelas tanpa mengindahkan yeoja-yeoja yang berusaha mendekatinya.

Aku, Baekhyun, dan Kyungsoo saling berpandangan dalam diam. "Itu Kris sunbae, kan?" Tanya Kyungsoo.

Aku dan Baekhyun sama-sama mengangguk. Baekhyun lalu melirikku, dia menyikut lenganku sambil tersenyum jahil, "Kris sunbae memang sudah jatuh cinta padamu, Ho. Lihat saja tadi, dia berusaha untuk tidak menunjukkan hubungannya denganmu," Baekhyun melirik Kyungsoo yang ikut tersenyum, "Padahal, itu pasti sulit mengingat Kris sunbae orang yang mesum dan suka seenaknya," ejek Baekhyun sambil meminum susu kotaknya lagi.

Aku mengerang tidak terima. Kyungsoo tertawa kecil sambil menepuk bahuku, "Bagaimana kalau kau makan saja bekalmu itu, Ho, sebelum wali kelas kesayanganmu masuk," kata Kyungsoo.

Aku mulai membuka bungkus bekal makananku dengan cepat, mengingat aku belum sarapan tadi pagi. Ada sehelai kertas kecil jatuh dari dalam bungkusan. Aku mengambilnya dan membuka lipatan kertas itu. Mataku sempat melirik Baekhyun dan Kyungsoo yang sedang tertawa.

.

Jangan sampai tidak dihabiskan bekalnya karena aku tahu kamu belum sarapan tadi pagi. Aku tunggu kamu di atap sekolah sepulang sekolah.

Kekasihmu, Kris.

Aku tersenyum saat membaca kertas itu. Tanganku meraih ponsel di saku celanaku, ibu jariku menekan tombol-tombolnya dengan cepat. Setelah selesai, aku memakan bekalku dengan lahap. Baekhyun dan Kyungsoo melihatku dengan pandangan bingung.

"Suho," panggil Kyungsoo.

"Ya?"

"Kamu kenapa senyam-senyum sendiri?" Tanya Baekhyun.

Aku menghentikan makanku sembari tertawa kaku, "Hanya perasaan kalian," jawabku berkilah.

Kedua sahabatku itu hanya mengangguk saja. Tanpa kami bertiga sadari, ada seseorang yang melihat kami dari balik jendela kelas. Dia menyeringai saat melihatku.

"Kau milikku, Suho."

.

.

Tbc.