Title : When a Deer Meet The Albino

Author : HunHanLoverz

Genre : Romance, Fluff

Cast :

- Luhan as Xi Luhan

- Oh Sehun as Oh Sehun

- Byun Baekyun as Byun Baekhyun

- Kim Jongin as Kai

(dan akan bertambah seiring berjalannya cerita)

Annyeong readers! gimana fanfic yang kemaren? Maaf ya kalo feelnya rada ga dapet. Tapi dari chapter ke chapter diusahakan akan lebih baik lagi. Semoga chapter yang ini lebih greget dari yang kemaren yah. Oke gausah banyak bacot. Langsung aja, Cekidot!

Happy Reading!


"Luhan…" tanpa sadar aku mengucapkan namanya.

"Hm?" dia menoleh ke arahku dan memiringkan kepalanya

Aku gelagapan dan berusaha memasang wajah datarku. Dengan cueknya aku menjawab, "Apa? Apa kau terpesona pada ketampananku? Kenapa melihatku seperti itu?"

Dia mengerutkan kening dan menatapku dengan tatapan bertanya. Tidak lama, ia tersenyum dan tertawa kecil.

Entah kenapa. Aku merasa hariku tak akan sama lagi.

.

.

.

Chapter 2 : It isn't Love, Is it?

.

.

"Hah.. hah.. Kenapa panas sekali eoh?" ucap Sehun sambil mengelap peluh yang berlomba-lomba turun dari pelipisnya.

Sehun berhenti dengan nafas yang terengah-engah, mencoba mengumpulkan nafasnya kembali sebelum ia berlari. Wah, namja itu kuat juga. Sudah lima belas keliling belum berhenti juga eoh? batin Sehun. Tanpa disadari, kedua ujung bibir Sehun membentuk lengkungan manis yang akan membuat semua yeoja jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Hei! Ada apa denganmu? Kenapa tersenyum seperti orang bodoh begitu?"

"Ya! Kau mengagetkanku kkamjong! Apa yang kau lakukan di sini? Membolos lagi hah? Kau ini, sudah tau nilaimu kebakaran semua kenapa masih berani membolos?"

"Oh Sehun. Bisakah kau tidak menggangguku sebentar? Aku sedang berkonsentrasi," ujar namja berkulit gelap itu sambil mengamati objek pemandangan yang menurutnya cukup mempesona.

"Konsentrasi? Memang kau sedang apa? Apa meminum sekaleng cola membutuhkan konsentrasi?" ujar Sehun sambil berjalan ke tempat duduk di pinggir lapangan dan menyelonjorkan kakinya yang pegal.

"Kau kenal namja itu?" ujar namja berkulit gelap sambil menunjuk orang yang dimaksud dengan dagunya.

"Dia? Yang berambut pink itu? Luhan."

"Luhan? Ah... Menarik."

"Kai, kuperingatkan kau. Jika kau ingin menjadikan dia mainanmu, lupakan saja."

"Wow Tuan Oh Sehun, kau berani memerintahku eoh? Atau.. jangan-jangan kau menyukainya hm?" ujar Kai sambil menyeringai tipis pada sahabatnya itu.

"Aku? Menyukainya? Yang benar saja! Dia itu namja, kkamjong. NAMJA!" Sehun berteriak di akhir kalimat hingga beberapa orang yang melewati lapangan menoleh ke arah Sehun dan Kai.

"Kecilkan suaramu bodoh! Luhan mungkin bisa mendengarnya." ujar Kai sambil menolehkan kepalanya ke arah Luhan. Benar saja. Luhan sedang melihat ke arah Sehun dan Kai dengan tatapan bingung.

"Hai manis," teriak Kai sambil mengeluarkan smirk andalannya.

Luhan memiringkan kepalanya dan mengangguk sambil tersenyum.

"Astaga. Jantungku," ujar Kai sambil memegang dada sebelah kirinya.

"Kau terlalu berlebihan, kkamjong" sahut Sehun sambil memutar bola matanya.

"Ya! Kau tidak lihat? Dia manis sekali. Apalagi kalau tersenyum seperti tadi. Apa menurutmu dia tidak terlalu cantik untuk ukuran namja? Aku harus memasukkannya dalam daftar mangsaku.."

Sehun terdiam memandangi Luhan yang masih terus berlari. Dia akui, namja ini memang cantik. Terlalu cantik untuk ukuran namja. Lihat bulu matanya yang lentik dan matanya yang indah. Seperti mata yeoja, cantik sekali. Luhan. Luhan. Luhan. Apakah mungkin dia seorang malaikat yang dikirimkan ke bumi?

"Oh SeHuuuuun! Kau mendengarkanku tidak?! Haish. Percuma aku bicara panjang lebar. Kau malah asik memperhatikan Luhan" ujar Kai sambil melempar kaleng colanya ke tong sampah.

"Siapa yang memperhatikannya? Enak saja." jawab Sehun ketus sambil membuang muka ke arah lain.

"Terserah kau saja. Aku akan kembali ke kelas" ujar Kai sambil mengacak rambut Sehun.

"KKAMJONG! Jangan hancurkan tatanan rambutku!" Sehun menepis tangan Kai dari kepalanya.

Kai berlari ke kelasnya sambil melambaikan tangannya ke arah Sehun.

"Aish.. dasar anak itu," Sehun kembali mendudukkan dirinya ke bangku dan memperhatikan sosok yang sekarang hampir mencuri semua perhatiannya.

Sehun POV

Aku benar-benar tidak sanggup berlari lagi. Kakiku rasanya mau patah. Jadi lebih baik aku mengistirahatkan diri disini bukan? Sesuatu yang dipaksakan hasilnya pasti tidak akan maksimal *dasar sok bijak* *author ditimpuk Sehun*

Wah dia benar-benar namja. Sekarang adalah putaran terakhirnya, dan dia tidak berhenti untuk istirahat sama sekali. Mungkin aku harus mengakui kalau dia ternyata namja yang manly seperti apa yang dia katakan padaku sebelumnya. Eh.. tapi kenapa jalannya jadi seperti zombie? Apa kakinya terkilir?

Aku berdiri dari tempatku dan berjalan ke arahnya. Langkah Luhan semakin lama semakin pelan, dan tubuhnya seakan bisa ambruk kapan saja. Kenapa perasaanku jadi tidak enak? Apa dia baik-baik saja?

Aku sedikit berlari ke arahnya. Dari kejauhan aku melihat dia memegangi perutnya. Ekspresi wajahnya seperti sedang kesakitan. Apa dia sakit? Aku sebenarnya ingin segera berlari ke arah Luhan dan menanyakan 'apa kau baik-baik saja?' tapi gengsiku terlalu besar untuk melakukan itu.

Tepat pada saat itu, aku melihat tubuhnya limbung ke tanah. Aku langsung berlari dan meneriakkan namanya, "LUHAAAAN!"

Sehun POV end

Luhan POV

Ah, sepertinya itu teman Sehun. Mereka terlihat akrab sekali.

Kenapa namja itu melihatku seperti itu? Sepertinya dia mengatakan sesuatu. Karena aku tidak bisa mendengarnya, aku hanya mengangguk dan tersenyum dari kejauhan sambil terus berlari. Ah.. rasanya kakiku mau patah. Kenapa lapangan ini besar sekali sih?

Baiklah. Putaran terakhir. Aku pasti bisa melakukannya. tinggal sedikit lagi... dan akh.. perutku. Sakit sekali. Apa penyakitku kambuh lagi?

Aku memelankan langkahku dan mencoba untuk terlihat biasa saja. Tapi tidak bisa, ini sakit sekali. Rasanya semua tenagaku sudah terkuras habis, aku bahkan tidak bisa bernapas dengan benar. Akh.. aku.. tak bisa menahannya lagi.

Tiba -tiba semuanya serasa berputar, kepalaku rasanya mau pecah. Aku tak bisa menyeimbangkan tubuhku dan sebelum semuanya gelap, aku mendengar seseorang meneriakkan namaku.

"LUHAAAAN!"

.

.

.

Sehun?


"Luhan..."

"Luhan? Luhan? kau bisa mendengarku?"

Samar-samar Luhan mendengar seseorang memanggil namanya. Apa aku sudah ada di surga? Kenapa semuanya terlihat putih? batin Luhan.

"Sss-sehun?" Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan cahaya masuk ke matanya.

"Kenapa aku ada di.. akh" Luhan meringis pelan sambil memegang perutnya saat mencoba mendudukkan tubuhnya di kasur.

"Sekarang kau ada di ruang kesehatan. Tadi kau pingsan. Hati-hati... Apa ada yang sakit?" Sehun membantu Luhan duduk di kasur dengan hati-hati. Seolah-olah sentuhannya bisa menyakiti Luhan yang sekarang tampak pucat.

"Gwaenchana. Mian merepotkanmu." ujar Luhan sambil tersenyum tipis.

"Sehun! Apa temanmu sudah bangun?"

"Dia baru saja bangun Baekkie hyung!"

Baekhyun menghampiri mereka berdua dan duduk di kasur Luhan. Ia mengamati Luhan dengan seksama. Dia menaruh punggung tangannya di dahi Luhan dan memeriksa denyut nadinya.

"Apa tadi pagi kau belum sarapan?"

"Belum. Kenapa kau bisa tau?"

"Haaah. Kau ini sama pabbonya dengan sepupuku yang satu ini. Sudah tahu kau mengidap penyakit maag akut, kenapa tidak sarapan eoh?"

"Ya hyung! Apa yang kau bilang? Siapa yang kau sebut pabbo?" ujar Sehun sebal sambil memberikan glarenya pada Baekhyun.

"Cih. Apa maksudmu memberi glare padaku?"

"Kenapa kau tidak pernah berprasangka baik pada dongsaengmu ini? Mataku tadi kelilipan makanya aku terlihat seperti memberi glare padamu, padahal..."

"Cukup! Aku harus kembali ke kelas karena waktu jagaku sudah habis. Luhan, jangan lupa makan roti yang sudah kutaruh di atas meja dan minum obatmu." ujar Baekhyun sambil berjalan ke pintu.

"Ah mianhae. Aku belum tau siapa namamu. Dan kenapa kau tau namaku?" tanya Luhan

"Ah ya... Aku Byun Baekhyun. Kau bisa memanggilku Baekki atau Baekhyun terserah kau saja. Kenapa aku bisa tau namamu? Sepupu pabbo-ku yang memberitahunya padaku." jawab Baekhyun sambil tersenyum.

"Ah.. begitu"

"Oh ya, Luhan-ssi sepertinya kau sekelas denganku. Kau kelas 11-3 bukan? Aku juga berada di kelas itu. Saat istirahat nanti aku akan kembali kesini untuk mengantarmu ke kelas. Aku buru-buru, maafkan aku. Kalau sepupuku macam-macam padamu, jangan sungkan untuk memukulnya atau melemparnya keluar jendela. Dia hoobaemu jadi lakukan apa saja yang membuatmu nyaman. Annyeong!"

Luhan tertawa pelan, sedangkan Sehun mendengus sebal mendengar perkataan Baekhyun.

"Hyung macam apa yang tega melihat dongsaengnya dilempar keluar jendela?" Sehun bermonolog ria smabil mendengus.

"Tenang saja Sehun-ssi, aku tak akan melakukan itu pada orang yang sudah berbaikhati mengantarku kesini," Luhan tertawa sambil menepuk lengan Sehun.

Sehun tersenyum. Luhan sangat cantik saat tertawa seperti ini.

"Luhan... Ah maksudku, Luhan hyung. Aku kira kau setingkat denganku." ujar Sehun sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Aku kira juga begitu. Ternyata kau setahun lebih muda dariku."

Hening. Mereka menatap satu sama lain dan entah kenapa pipi Luhan tiba-tiba merona saat Sehun mendekatkan wajahnya. Astaga kenapa aku seperti ini? batin Luhan. Jarak antara keduanya makin tipis dan saat napas Sehun menyapa lembut wajah Luhan, Luhan menutup matanya. Entahlah. Apapun yang akan terjadi, ia tidak peduli lagi.

"Hyung, ponimu berantakan," Sehun menggerakkan jemarinya di atas kening Luhan untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi mata Luhan.

"A-aah. Aku kira kau mau apa.." ujar Luhan pelan.

"Memang kau kira aku mau apa hyung?" Sehun menyeringai dan memberikan tatapan 'menggoda' pada Luhan.

"Mm..mau..mau.. yah melakukan sesuatu yang lebih penting! Untuk apa kau mendekatiku hanya untuk merapihkan poniku? Kau memperlakukan aku seolah-olah aku ini seorang yeoja!" bentak Luhan sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu dan kesal.

"Menurutmu itu bukan hal penting?" tanya Sehun sambil tertawa.

"Jelas tidak! Apa kau menganggap itu hal penting?"

"Itu hal penting untukku,"

"Kau memang suka bercanda ya"

"Aku serius hyung. Itu hal penting untukku. Kalau ponimu berantakan seperti tadi, kau tak bisa melihat dengan benar dan aku jadi tidak bisa melihat mata indahmu,"

Luhan terdiam. Dia mengutuk hormonnya yang bekerja berkali-kali lebih cepat saat di dekat Sehun. Wajahnya kembali memerah dan Luhan melemparkan bantalnya ke arah Sehun dengan keras.

"Ya hyung! apa yang kau lakukan? Aw..Appo" ujar Sehun sambil mengelus lengannya yang kena pukulan bantal Luhan.

"AKU MEMBENCIMU OH SEHUUUN!"

"Ya, ya aku tahu. Love you too hyung"

"Kau ini, benar-benar menye-... akh" Luhan memegangi perutnya yang kembali terasa sakit.

"Hyung! Gwaenchana? Ah aku sampai lupa.. Ayo makan rotimu hyung. Ini pasti gara-gara kau belum makan daritadi," Sehun panik dan langsung mengambi roti yang ditaruh Baekhyun di meja dekat tempat tidur Luhan.

"Mian hyung, aku terlalu fokus melihat wajah cantikmu.. Aku sampai lupa mengingatkanmu makan,"

"Terserah," jawab Luhan acuh tak acuh.

"Hyung, kau ingin aku menciummu eoh? Jangan manyun begitu. Nanti cantiknya hilang," ujar Sehun sambil mencolek dagu Luhan.

"Kau! Berhenti menyentuhku seenak jidatmu!"

"Kau makin cantik kalau marah seperti itu hyung"

"Sekali lagi kau katakan aku cantik, aku akan memenggal kepalamu sepulang sekolah nanti!"

"Eoh.. lihat tuan putri yang manis ini. Kau yakin akan memenggal leher pangeranmu yang tampan ini hm?"

"YAK! Sejak kapan aku jadi seorang putri dan kau adalah pangeranku? Teruslah bermimpi Oh Sehun!"

"Aku rasa itu akan segera jadi kenyataan. Apa kau tak mau memiliki Pangeran Tampan sepertiku?"

"Sehun... kau akan membuatku mati kalau begini caranya. Cepat berikan roti itu padaku sebelum aku kesakitan lagi." nada bicara Luhan tiba-tiba berubah menjadi dingin dan datar.

"A-ah mianhae,"

Sehun membuka bungkus roti itu sambil memandang Luhan.

"Mau aku suapi hyung?"

"Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri,"

"Kalau kau perlu bantuanku, aku.."

"Aku bisa meminta tolong pada penjaga ruang kesehatan yang berada disini."

"A-aku minta maaf hyung, tadi aku hanya bercanda.."

"Aku tahu."

"Hyung, bisakah kau memandangku sebentar saja?"

"..."

"Hyung kau marah padaku?"

"Keluar Oh Sehun. Sekarang,"

Sehun terdiam. Nada datar yang dipakai Luhan benar-benar menyiratkan bahwa Luhan tidak menginginkannya di sini. Seperti ada yang menusuk hatinya. Kenapa ia merasa sakit saat Luhan mengucapkan kalimat itu?

"Baiklah hyung aku keluar. Mianhae..." ucap Sehun lirih, tapi Luhan masih bisa mendengarnya.

Luhan merasa tidak enak melihat ekspresi Sehun yang terlihat sangat menyedihkan. Sebenarnya ia cuma bercanda, tapi kenapa Sehun terlihat seperti benar-benar tertekan?

"Ah sudahlah. Setidaknya sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang..."


Sehun POV

Aku jadi merasa tidak enak, apa Luhan hyung benar-benar marah padaku? Aku kan hanya bercanda. Walaupun memang, aku akui.. aku memang terlalu berlebihan. Aku bahkan tidak bisa berhenti mengatakan kalau Luhan hyung cantik. Tapi kenyataannya memang begitu. Dia terlihat begitu cantik di mataku.

Saat aku berbicara dengannya, aku merasa nyaman.. Makanya aku tak sungkan saat bercanda dengannya. Walaupun baru beberapa jam mengenalnya, aku sudah menganggapnya seperti hyung-ku sendiri.

Nah, Oh Sehun. Sudah jelas bukan? Kau ingin melindunginya dan juga berada di dekatnya, bukan karena kau gay. Ini karena kau sangat menyayangi Luhan seperti menyayangi Baekki hyung. Hanya sebatas hubungan Hyung-Dongsaeng. Tidak lebih. Kenapa kau sangat mengkhawatirkannya eoh? Kau bahkan bukan siapa-siapanya.

Aku menundukkan kepala sambil memijat pelipisku pelan. Bagaimana jika Luhan hyung risih berada di dekatku karena aku yang terlalu perhatian padanya? Apa aku harus menjaga jarak dengannya? Ya.. setidaknya sampai dia tidak marah lagi padaku. Atau bersikap seolah-olah tidak mengenalnya?

Aaargh... Luhan hyung. Kau membuatku gila!


"Bagaimana keadaan Luhan? Apa ia sudah memakan obatnya?" Baekhyun bertanya pada Sehun.

"Mungkin sudah." Jawab Sehun acuh tak acuh.

"Ya! Aku bertanya baik-baik! Kenapa kau malah merengut begitu eoh?"

"Memang aku siapanya? Kenapa aku harus peduli padanya? Aku bahkan baru mengenalnya hari ini. Lebih baik kau saja yang kesana mengecek bagaimana keadaan Luhan hyung,"

"Ada apa denganmu Oh Sehun? Baru satu jam yang lalu kulihat kau dekat sekali dengan Luhan dan sekarang kau berlagak seperti tidak mengenalnya. Aku kira kau menyukai Luhan."

"Aku? Menyukainya? Yang benar saja,"

"Habis kau perhatian sekali padanya. Dan kau tau? Saat kau menggendongnya ke ruang kesehatan, wajahmu tampak seperti suami yang menunggu istrinya melahirkan. Begitu cemas dan khawatir."

"Istriku? Dia kan namja.."

"Ya! Bukan itu maksudku, namja pabbo! Maksudku kau seperti sangat khawatir akan keadaannya. Selama empat tahun hidup bersamamu, aku tidak pernah melihat kau begitu ketakutan seperti tadi,"

"Aku menyayanginya seperti aku menyayangimu hyung."

"Benarkah?"

Sehun tidak menjawab. Ia pura-pura tidak mendengar dan fokus pada buku yang sedang dibacanya.

"Ah.. baiklah. Aku akan menjenguk Luhan sekarang. Kau ikut?"

"Aku sudah menemaninya daritadi hyung. Dia pasti bosan melihat wajahku terus,"

"Benar juga. Baiklah aku duluan!"

Sehun mengangguk dan memperhatikan punggung Baekhyun yang makin lama makin menjauh. Sehun menyenderkan punggungnya ke tembok dan mendongakkan kepalanya. Ia menghela napas panjang dan memejamkan matanya perlahan. Maafkan aku Luhan hyung...


"Kau yakin kau sudah kuat berjalan?"

"Baekhyun, berhentilah mengkhawatirkan diriku. Aku ini namja."

"Aku tau. Walaupun awalnya aku juga ragu. Kau terlalu cantik untuk ukuran seorang namja,"

"Hei! Berkacalah Baek. Kau juga terlalu cantik dan imut untuk dikatakan seorang namja."

Baekhyun menggeplak kepala belakang Luhan dengan keras dan meninggalkan Luhan yang meringis kesakitan akibat pukulan Baekhyun.

"Ya! Baekhyun! Apa yang kau lakukan? Mau membuat leherku patah eoh? Ah.. appo" ujar Luhan sambil mengusap tengkuknya.

"JANGAN PERNAH KATAKAN AKU CANTIK! AKU INI NAMJA, PABBO!"

Dahsyat sekali. Suaranya betul-betul seperti halilintar. Luhan yakin seluruh sekolah dapat mendengarkan teriakan Baekhyun tadi. Mungkin ada untungnya juga di sekolah ini ada siswa seperti Baekhyun. Kalau ada pengumuman, guru-guru tinggal menyuruh Baekhyun berteriak saja di tengah lapang. Praktis. Tak usah bayar biaya pasang speaker atau membeli megaphone.

"Astaga.. Suaramu mengerikan," lirih Luhan

"KAU BILANG APA?!"

"Aaa-ah tidak. Aku bilang kau cantik. Ah ani ani. Mm-maksudku.. kau tampan. Iya! Kau sangat tampan. Kau lelaki tertampan yang pernah aku kenal sampai saat ini," ujar Luhan gelagapan. Ia takut teriakan Baekhyun makin menjadi dan akan berakibat fatal pada pendengarannya.

"Kajja! Kita ke kelas! Kau mau menunjukkan dimana kelas kita kan?", Luhan merangkul pundak Baekhyun dan tersenyum manis. Baekhyun menghela napas dan mengangguk pelan.

"Baiklah. Kajja!"


Luhan POV

Waah ternyata sekolah ini luas sekali. Ada banyak lapangan. Mulai dari lapangan basket, lapangan bulu tangkis, lapangan sepak bola, dan jangan lupakan kantin yang super besar itu. ckck seperti food court yang ada di mall-mall besar! Aku beruntung bisa masuk sekolah ini.

Kalian tau kenapa aku bisa bersekolah disini? Aku dapat beasiswa karena aku termasuk murid berprestasi. Sebenarnya aku sudah ditawari beasiswa dari tahun lalu, tapi karena ibuku sedang sakit aku tidak tega meninggalkannya sendirian. Ayahku adalah seorang pengusaha terkenal. Tapi ia meninggalkan ibu dan aku saat aku berusia sepuluh tahun. Aku dan ibuku tinggal di tempat yang jauh dari keramaian. Aku juga berusaha mencari nafkah dari mulai menjadi waiter di restoran, sampai menjadi pembersih kolam renang. Aku melakukannya demi ibuku. Tapi penyakitnya sudah tak bisa disembuhkan.. Musim gugur tahun kemarin, ibuku meninggal. Karena itulah aku memutuskan untuk pindah ke kota dan mengambil beasiswa.

"LUHAN! KAU MENDENGARKANKU TIDAK?!"

"BAEKHYUUN KAU INGIN MEMBUATKU TULI EOH? Jelas aku mendengarnya. Belok ke kanan adalah ruang guru. Maju ke depan lima langkah dan berbelok ke kiri itu adalah ruang perpustakaan dan ruangan di depan kita ini adalah ruang musik. Biasanya kau berlatih vocal di ruangan ini bersama Kyungsoo, Chen, dan siapa satu lagi? Ah.. dan Suho. Tepat di belakang kita ada ruang dance yang biasanya dipakai latihan hari senin dan rabu. Bagaimana? Apakah aku pendengar yang baik Byun Baekhyun?"

"Mmm yaa… kau bukan pendengar yang buruk. Kau menyimak semua yang aku katakan padamu. Tapi ada yang tidak kau sebutkan tadi.."

"Jinnja? Apa itu?"

"Sehun anggota club dance di sekolah ini. Dan kau tau temannya yang berkulit gelap? Namanya Kai. Dia leader club dance sekolah kami. Katanya mereka berdua sangat ahli dalam bidang ini. Ada juga yang bilang mereka sangat mempesona saat menari. Tapi entahlah, aku tidak terlalu peduli. Kau tau? Bahkan hanya untuk melihat Kai dan Sehun menari, hampir semua yeoja yang seangkatan dengan mereka masuk club dance ini. Padahal mereka tidak bisa menari sama sekali," bisik Baekhyun pelan sambil melirik yeoja yang bergerombol di ujung koridor. Fans-nya Sehun kah? Karena beberapa dari mereka memegang banner 'Sehun oppa aku mencintaimu'. Aku tidak menyangka Sehun sepopuler ini.

"Menurutku mereka sedikit menakutkan.." komentarku

"Sedikit?! Mereka sangat menakutkan! Kau tak akan tau apa yang akan mereka perbuat kalau kau berani mendekati Sehun."

"Aku sama sekali tak ada niatan untuk mendekati Sehun. Jadi kau bisa tenang bacon." ujarku santai

"Bacon?"

"Kenapa? Menurutku nama itu cocok untukmu,"

"Aku rasa ini sedikit aneh. Tapi aku juga merasa begitu."

Aku dan Baekhyun berpandangan dan tertawa keras sampai semua orang di koridor berhenti menatap kami. Entah apa yang lucu, tapi aku merasa aku sudah menemukan sahabat baruku di sini.


Kami berjalan ke lantai dua. Kata Baekhyun, kelas kami berada di pojok kanan lorong.

"Naaah ini dia kelas kita! Bagaimana? Tidak terlalu buruk bukan?"

"Kau bercanda. Ini menakjubkan!" ujarku sambil menutup mulutku yang menganga. Ada TV besar, speaker, proyektor, bahkan kelas ini ber-AC dan di setiap kelas ada satu komputer yang terletak dekat meja guru. Di sekolahku dulu, kelasku hanya beralaskan semen tanpa ubin, dan dua buah papan tulis kapur. Ini benar-benar menakjubkan!

BRUKK

"Ah.. appo." Aku jatuh terduduk sambil meringis kesakitan

"Ah mianhae. Gwaenchana?"

"Ne. Nan gwaenchana." Ujarku sambil berdiri. Orang yang tadi menabrakku mengulurkan tangannya ke arahku, saat aku mencuri pandang ke arahnya.. rasanya waktu berhenti. Jantungku terasa ngilu saat melihat wajahnya. Aku bahkan menampar diriku sendiri untuk memastikan aku bermimpi atau tidak.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menampar dirimu sendiri?" ujar namja itu sambil membantuku berdiri.

"Aa-aniya. Chogiyo, aku mau keluar.." ujar Luhan sambil terus menunduk

"Kenapa kau menundukkan kepalamu terus? Apa kau… Luhan?!"

Suara itu... Ah Tuhan. Jangan lagi

TBC/END?

NOTE:

Akhirnya chapter 2 selesaaaai. Pada penasaran ga siapa yang nabrak Luhan? Pasti penasaran kaaan? Makanya pantengin terus ceritanya biar ga penasaran :P ada yang bisa nebak ga? Kalo ada yang bisa nebak dikasih kisseu cuma-cuma dari author *dilempar batu sama readers* kalo ada yang punya unek-unek atau ide cerita selanjutnya buat fic ini ke depannya, jangan sungkan nulis di kotak review ne? Kalo banyak yang review, diusahakan dilanjut. Tapi kalo cuma sedikit... mm gimana ya? Yah itu mah gimana mood author aja. Hehe

WAJIB MENINGGALKAN JEJAK!

THANKS TO:

BabyHimmie, HDHH, ares, lisnana1, luwinaa, RZHH 261220, hunhanminute

jeongmal gomawo karena sudah mereview :) dan terimakasih juga buat silent reader yang sudi baca cerita saya~ buat yang punya account udah di PM yaa

.

.

BALASAN REVIEW

ares: Hihi gomawo udah review :) iya emang mereka lucu banget kaya author :3 *dilempar baskom sama hunhan* hunhan emang bisa banget bikin orang diabetes, abis manisnya ga ketulungan. Ini sudah dilanjuut. Review lagi ne? :D

lisnana1: Beneran rame? waah makasih chingudeul :D gomawo sudah mereview :)

luwinaa: Mmm endingnya HunHan ga ya? Belum bisa dipastikan.. hihi tapi karena author HunHan hardshipper kayanya sih endingnya tetep HunHan. Gomawo review-nya :)