LEN Sang Idola
Warning: alur berantakan, typo, GAJE (enggak jelas), AAAANNNDD! IT'S AN ISLAMIC FIC~
Disclaimer: Vocaloid bukan punya Seven Seas Project
Superstar Udin © Mahfuzh Amin
ココロ・キセキ © Jun-P
LEN Sang Idola © Lucy Pinku
Rated: K+ semi T
Genre: Parody, Friendship, and a little Romance
Main Chara: Len K.
Summary: "Len, apakah kabar yang beredar itu benar?"/Len tidak langsung menjawab pertanyaan temannya yang bernama Lui Hibiki itu, dia justru mengalihkan pandangannya ke luar jendela kelasnya./"Rin ..."/Mata Lui berbinar ketika mendengarnya./"WOI! LEN JATUH CINTA DENGAN RIN YANG AKAN BERULANG TAHUN BESOK!"/Lalu, siswa-siswi VHS yang mendengarnya langsung berhamburan keluar kelas untuk mencari berkas tentang siswi itu.
Lucy's Note: Hai! Ini Author Lucy Pinku! Specialist genre Parody dan Fluff Romance! :3 Hehe ... apakah update-nya terlalu lama? Lucy minta maaf, ya, Minna! Sebenarnya, fic ini mau dipublikasikan saat ulang tahunnya Rin dan Len kemarin. Tapi, apa boleh buat? Kami kehabisan pulsa :3
Oke, daripada kelamaan, mending langsung aja!
Don't like, don't read!
Chapter2: Surprise!
Mentari tersenyum di kala seorang makhluk CFM* yang paling shota, yang paling sekseh (?) sedang memakai sepatunya di teras rumah. Pemuda bernama Len Kagamine atau yang biasa dipanggil Len ini menunjukkan wajah shota-nya sehingga orang-orang yang lewat di depannya langsung pingsan bersimbah darah seketika.
Hal itu menjadi hal yang fenomenal bagi semua orang, terutama keluarga besar VHS. Sehingga tak ayal, belum lama menorehkan nama sebagai keluarga besar VHS, Len telah menjadi terkenal di kalangan VHS, bahkan oleh alumnus VHS.
Tragedi munculnya wajah shota yang terjadi di hari ke-3 MOS tersebut merupakan awal dijadikannya Len sebagai buah bibir di VHS. Wajahnya yang shota dengan rambut pirang dan mata biru muda yang cerah menjadi faktor pendukung ketenarannya. Tidak hanya dari fisik, ketenaran Len juga makin mencolok oleh keramahan, kebaikan hatinya, dan tentu saja kecerdasannya, hingga Len pun mendapat tempat tersendiri di hati keluarga VHS yang patut dibanggakan.
Ketika sedang membahas tentang Len tadi, ternyata dia berjalan dengan cepat sehingga sekarang dia berada di depan pintu kelasnya.
"Ohayō, Minna!"
"Ohayō gozaimasu, LEEEN!"
Dengan santai, Len berjalan masuk melewati beberapa siswi yang terkikik begitu dia melewati mereka. Saat sampai di bangkunya bangku ke-3 dari kanan baris ke-2 sebelah kiri, tampak seorang pemuda yang sama shota-nya namun masih 5 tingkat di bawah Len mendekati Len.
"Len, apakah kabar yang beredar itu benar?"
Ketika duduk, Len tidak langsung menjawab pertanyaan dari temannya yang bernama Lui Hibiki itu. Len langsung mengingat kejadian kemarin saat ia berencana mengadakan surprise untuk ulang tahun seorang siswi yang diduga ulang tahunnya bersamaan dengan ulang tahun Len.
Len hanya bisa melamun mengingatnya. Pandangannya dialihkan ke luar jendela kelasnya. Tangannya digunakan untuk menopang dagu. Bibirnya pun bergerak mengucapkan sesuatu.
"Rin ..."
Mata Lui berbinar ketika mendengarnya. Lui kemudian melingkarkan tangannya di sekitar mulutnya dan berteriak, "WOI! LEN JATUH CINTA DENGAN RIN YANG AKAN BERULANG TAHUN BESOK!"
Semua siswa-siswi VHS yang mendengarnya (kecuali Len dan orang yang disebutnya "Rin") langsung berhamburan keluar dari kelas masing-masing untuk mencari berkas seorang siswi VHS yang akan berulang tahun besok.
*LEN Sang Idola*
Setelah dilakukan pencarian selama 2 jam 27 menit pas, ditemukanlah sebuah nama yang diduga akan menjadi target Len.
Nama siswi itu adalah Rin Kyōne. Dia lebih sering dipanggil Rin oleh teman-temannya. Kehadirannya di VHS telah menciptakan buah bibir yang hangat, terutama di kalangan siswa. Kulitnya yang putih, rambutnya yang pirang lurus yang selalu ditahan dengan 4 jepit dan bando pita. Membuat kesan imutnya semakin terlihat, apalagi setelah diperhatikan, rupanya wajah Rin sangat mirip dengan Len. Tentu saja hal ini membuat geregetan para siswa yang punya kesempatan untuk memperebutkan Len versi perempuan.
Tunggu dulu, apakah penulis fic ini telah menciptakan sedikit-sekali-unsur-shōnen-ai?
Kembali ke cerita ...
"Shh, tapi diam, ya! Jangan sampai dia tahu ..." bisik Len kepada Lui. Lui mengangguk tanda ia menyanggupinya.
"Begini, aku butuh bantuanmu untuk mempersiapkannya. Bantuin, ya!" Len memasang mata imutnya. Lui pun langsung tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Insya Allah, aku bantuin, deh, Len."
Len bernafas lega. "Kalau begitu, pst ... pst ..."
Lui tersenyum ketika Len membisikkan apa yang ada di pikirannya. Rencana mereka pun dimulai setelahnya.
*LEN Sang Idola*
Tanggal 27 Desember ...
"Ehem," Lui berdeham kecil. "Ayo main basket! Kau ikut, Len?"
Len mengangkat wajahnya dan menunjukkan senyum penuh misteri. "Ayo!"
Dari kejauhan, seorang gadis tengah berdiri di balik sebuah tiang. Ia menatap malu-malu ke arah lapangan. Matanya yang berwarna biru safir tak henti-hentinya menatap sesosok pemuda berwajah serupa dengan wajahnya di depan sana. Pandangannya pun teralihkan pada sebuah kotak kecil berwarna putih dengan gambar " " berwarna biru dengan hiasan pita di atasnya. "Len ... sepertinya, aku suka padamu ..."
Seorang gadis yang sedikit lebih tinggi darinya yang tiba-tiba saja berada di belakangnya menepuk pelan bahunya. "Kyōne-chan?"
Rin tersentak kaget begitu mendengar nama keluarganya tersebut. Ia berbalik, menatap gadis di belakangnya dan segera menyembunyikan kotak putih tadi. "Kagami-san? Apa yang bisa kubantu?"
Gadis itu menatap tumpukan buku di depannya, "Bisa tolong bawakan buku-buku ini ke perpustakaan? Masih ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan."
Rin menatap ragu tumpukan buku itu. Ia hanya bisa menghela nafas berat. "Baiklah. Ngomong-ngomong, apa hanya sebanyak ini?"
Lenka gadis di depan Rin menggeleng, "Masih banyak, Kyōne-chan. Semuanya kurang lebih ... sebanyak betapa luasnya gudang sekolah."
"HAH?!" mata Rin terbelalak, "S-sebanyak itukah?"
"Iya. Aku sudah minta bantuan dari beberapa orang, kok. Maaf merepotkan, ya. Habisnya, anggota pengurus perpustakaan yang lainnya sudah pulang, kecuali kau dan aku. Jadi, mohon bantuannya! Aku permisi dulu,"
Lenka segera melenggang pergi. Meninggalkan Rin yang hanya bisa melongo di tempat. Namun, diam-diam Lenka mengedipkan sebelah matanya kepada Len seolah-olah ia mengatakan 'rencana-berhasil' yang dibalas dengan senyum dan anggukan dari Len di ujung sana.
*LEN Sang Idola*
"Haah ... akhirnya selesai juga." Rin menghela nafas lega. Ia mengelap keringat yang mengalir di sisi-sisi wajahnya. Rin menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Kemudian, ia mengeluarkan kado yang tadi ia masukkan ke dalam tasnya.
"Semuanya sudah pulang. Yah ... tidak jadi memberikan Len hadiah, deh."
Rin melangkah ke gerbang sekolah dengan lesu. Wajahnya ditekuk ketika dirinya menyadari bahwa langit sudah gelap. Rin merasakan pegal di seluruh bagian tubuhnya.
Srek ...
Rin berbalik waspada mendengar suara itu. Matanya melirik ke sana ke mari, mencari sesuatu yang menimbulkan suara itu.
"Siapa di sana?"
Kekhawatiran dan keterkejutan Rin tiba-tiba sirna sesaat setelah ia melihat banyak sekali cahaya lilin yang mengelilinginya. Hati dan tubuh Rin tiba-tiba menghangat. Senyum terukir jelas di wajahnya ketika ia alunan musik yang amat ia sukai.
"'Ichi-dome no kiseki wa, kimi ga umareta koto
Ni-dome no kiseki wa, kimi to sugoseta jikan ...'"
Rin terkejut. Dari balik orang-orang yang membawa lilin-lilin itu, Rin melihat Len berjalan ke arahnya dengan setelan jas yang begitu pas untuknya. Salah satu tangannya diletakkan di belakang punggungnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Wajah Rin merona seketika.
Wajah Rin bertambah merah saat Len menjadi lebih dekat dengannya, Ia dapat mengenal jelas lagu apa yang baru saja dinyanyikan Len. "'Kokoro Kiseki', Len?"
Len tidak menjawab. Ia hanya tersenyum hangat sambil melanjutkan lagunya.
"Kodokuna kagaku-sha ni, tsukura reta robotto
Dekibae o iunara, 'kiseki'
Dakedo mada tarinai, hitotsudake dekinai
Sore wa 'kokoro' no iu, puroguramu ..." Len menghela nafas pendek. Satu demi satu teman satu angkatannya muncul sambil membawa lilin masing-masing. Ada juga beberapa kakak kelas yang muncul, beberapa dari mereka membawa kado beraneka warna. Suasana menjadi semakin hangat.
"'Oshiete agetai ... hito no yorokobi kanashimi'
Kiseki no kagaku-sha wa, negau ..." Len mengambil jeda sejenak, lalu kembali bernyanyi. "Kunō wa tsudzuki, toki dake ga sugite iku
Okizari no utagoe to, kono 'kokoro' ..."
"'Sono hitomi no naka, utsura boku wa, kimi ni totte donna, sonzai?'
Kare ni totte jikan wa, mugen janai
Demo kanojo ni wa mada, wakaranai ..."
Rin tersenyum. Ia berdeham kecil lalu melanjutkan nyanyian Len.
"'Anata wa naze naku no?'
Fushigi kokoro, kokoro fushigi
Kare wa hanashita, yorokobu koto o
Fushigi kokoro, kokoro fushigi
Kare wa hanashita, kanashimu koto o
Fushigi kokoro, kokoro mugen
Watashi no rikai o koeteiru ... Ah ..."
Len tidak diam saja. Ia membuat isyarat kepada teman-temannya untuk membuat suara latar. Segera setelahnya, Len menyambung nyanyiannya lagi.
"'Ichi-dome no kiseki wa, kimi ga umareta koto
Ni-dome no kiseki wa, kimi to sugoseta jikan
San-dome wa mada nai ... San-dome wa mada ...'"
Rin melanjutkannya lagi. "Messēji o ... jushin shimasu!
Hasshin moto wa ... mirai no ... watashi?!"
"Ikuhyaku no toki o koete, todoita messēji
Mirai no tenshi kara no, 'kokoro' kara no utagoe ..." Setelah menyelesaikan bait itu, Len mendekati Rin. Suara mereka dan yang lain menyatu dengan begitu indah.
"Arigatō ... konoyo ni watashi o unde kurete ..."
"'Ichi-dome no kiseki wa, kimi ga umareta koto ...'"
"Arigatō ... issho ni sugoseta hibi o ..."
"'Ni-dome no kiseki wa, kimi to sugoseta jikan ...'"
"Arigatō ... anata ga watashi ni kureta subete ..."
"'San-dome no kiseki wa, mirai no kimi kara no 'magokoro'"
"Arigatō ... eien ni utau ..."
"'Yon-dome wa iranai yon-dome wa iranaiyo ...'"
"'Arigatō ... Arigatō ...'"
Musik berhenti. Semuanya bertepuk tangan kecuali Len, Rin, dan yang memegang lilin, tentunya . Rin menangis terharu. Ia menatap Len dengan mata berbinar-binar.
"Arigatō gozaimasu, Len! Soshite, otanjōbi omedetō!" Rin menunjukkan kado yang sedari tadi dibawanya.
Len kembali tersenyum hangat. Ia menunjukkan kado yang tadi ia sembunyikan di belakang punggungnya setelah menerima hadiah dari Rin. "Otanjōbi omedetō mo, Rin-chan! Aku punya hadiah untukmu, bukalah!"
Rin membuka bungkus hadiah berbentuk kotak padat itu. Nafasnya tertahan. Air mata haru menyelinap keluar dari sudut-sudut mata Rin. Kotak itu berisi sebuah Al-Qur'an dengan sampul merah muda yang berisleting dengan tali sehingga bisa dengan mudah dibawa. Rin juga menemukan sebuah mukenah berwarna putih susu dengan bergambar jeruk dan juga jilbab.
"Arigatō, Len ..."
"Cie ... Cie ... Len dan Rin, nih, ye ..." siswa-siswi lainnya menyoraki Len dan Rin. Sedangkan yang namanya disebut hanya bisa merona malu.
"S'lamat ulang tahun, s'lamat ulang tahun
S'lamat ulang tahun, Len, Rin, s'lamat ulang tahun ..."
"Bagi kuenya! Bagi kuenya! Bagi kuenya sekarang juga!
Sekarang, juga! Sekarang juga ..."
Pesta ulang tahun itu pun berakhir riuh dengan pembagian kue dan penerimaan kado yang agak tidak wajar, namun tetap dihiasi senyuman bahagia dari siswa-siswi VHS pada malam hari yang istimewa itu.
.
.
Tsudzuku
.
.
Lucy's Note: Ehehe ... sekali lagi, Lucy minta maaf karena update-nya, lho, Minna. Dan juga, terima kasih bagi iloveyugiohGX93-san, YuMi-san dan hinam-san yang telah me-review fic Lucy. Lucy senang sekali, lho, bisa membuat kalian terhibur sampai tertawa. Tapi, mohon maaf, sepertinya, chapter kali ini tidak bisa membuat kalian terbahak karena penulisannya berubah jadi 'sedikit lebih' serius.
* = Singkatan dari Crypton Future Media
Kalau begitu, minta review-nya, dong, Minna! Tapi jangan di -flame! :3
Adieu!
