Hari minggu yang tenang benar-benar hari yang tepat untuk beristirahat dari segala kegiatan dan pekerjaan sepanjang seminggu tapi pagi itu harus terusik dengan suara perkelahian yang terjadi di salah satu gang kecil, terlihat dua kubuh yang terus saling pukul tanpa henti
"beraninya kau . . di mana ketua kalian haa?" seorang pria berbadan kekar dan besar memukul salah satu lawannya dengan beringas karena amarah, beberapa teman-teman orang itu membantunya mundur dan mulai menyerang si pria bertubuh besar itu sampai pria itu mundur beberapa langkah
"cih . ." pria itu meludah dan tersenyum sinis "serangga seperti kalian hanya makanan ringan buatku" ucapnya lalu maju dan memukul beberapa orang yang mendorongnya tadi
Kubuh lawan terlihat terluka semua dan tampak mundur membuat si pria berbadan besar itu tertawa meremehkan diikuti teman-temannya tetapi itu tidak lama, semua yang ada disitu terdiam saat motor hitam besar memasuki gang itu dan berhenti tepat 10 meter didepan si pria besar
"wah, kau membantai teman-teman ku rupanya" Chanyeol membuka helmnya lalu tersenyum kepada teman-temannya "kalian tidak apa-apa?" teman-temannya terlihat memiliki beberapa luka di wajah dan badan mereka, tapi mereka masih tetap bangun dan siap bertarung lagi
"datang juga kau bocah" ucap pria bertubuh besar itu mengalihkan perhatian Chanyeol, Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya bosan "apa lagi masalah mu sekarang Rik?"
"kau melecehkan pacarku" teriak Rik emosi "kau memaksanya putus denganku dan melecehkannya"
Chanyeol hanya tersenyum sinis "apa yang membuat aku menginginkan pacar mu? Dia sama sekali tidak berharga"
"apa kata mu?" Rik mengepalkan tangannya siap memukul wajah Chanyeol
"aku bilang pacarmu benar-benar tidak berguna dan murahan" Rik berlari kearah Chanyeol siap memukulnya tetapi sebelum itu Chanyeol sudah melempar helmnya mengenai wajah Rik dan langsung menendang tubuh Rik dengan kuat membuat tubuh besar pria itu langsung jatuh, tidak tinggal diam kedua kubuh itupun kembali berkelahi
Chanyeol membantu beberapa temannya yang dipukuli, dan beberapa kali menyuruh yang terluka parah untuk segera pulang, perkelahian itu terus berlanjut sampai sirine polisi yang terdengar dari jauh membuat mereka tanpa kata-kata lari membubarkan diri, Chanyeol membantu teman-teman yang terluka untuk berdiri dan melarikan diri dari situ sampai tidak sadar jika Rik sudah berada di belakangnya dengan pisau di tangannya
Srekk . .
Chanyeol menatap Rik bengis dan memukul rahang Rik dengan keras, pisau Rik masih tertancap di perut sebelah kiri Chanyeol, Chanyeol menahan sakitnya dan terus menendang tubuh Rik sampai Rik tidak sadarkan diri, suara sirine polisi sudah terdengar semakin mendekat dan kesadaran Chanyeol pun sudah sampai batas, dia dapat merasakan darah yang terus bercucuran dari perutnya dan pisau tadi tetap bersarang di perut Chanyeol, Chanyeol terbaring di tanah dengan mata yang sudah tertutup hampir kehilangan kesadarannya berpikir dia akan berakhir di rumah sakit dengan beberapa polisi yang menjaga dan siap mengintrogasinya.
"Chanyeol bertahanlah" bukan tangan kasar yang dia rasakan melainkan tangan lembut yang membelai wajahnya juga suara lembut yang terdengar sebelum kesadaran Chanyeol benar-benar menghilang 'siapa itu?'
CHANYEOL POV
Kepalaku terasa pening, sial bajingan itu bermain kotor dengan memakai pisau, kesadaranku mulai pulih dan membuat rasa sakit tusukan tadi mulai menjalar diseluruh tubuhku
"apa yang aku katakan tentang jangan ikut campur?" suara siapa itu, sepertinya ada seseorang di sini
"tapi dia sekarat, aku tidak bisa membiarkannya mati disana. Kita mengenalnya dan harus menolongnya" suara yang lebih lembut dari suara tinggi tadi terdengar, suara ini 'Chanyeol bertahanlah' benar itu suaranya
"kita tadi bisa ketahuan" ucap salah satu dari mereka, orang ini benar-benar emosian dari suaranya saja aku sudah tidak menyukainya
"nyatanya tidak kan dan kita berhasil menyelamatkan dia" benar, benar sekali sekarang biarkan mataku terbuka agar aku bisa melihat malaikat penyelamat bersuara lembut ini
"tanganmu terluka, aku akan pergi mengambil perban" terdengar langkah seseorang menggeser pintu dan menutupnya lagi dengan pelan, sial kenapa mataku sangat berat untuk dibuka
Dingin
Aku merasakan tangan dingin dan halus itu diatas kepalaku, siapa orang ini? Aku berusaha keras membuka mata ku dan berhasil "silau" gumanku, orang ini tampak kaget dan langsung mengangkat tangannya dari kepalaku, ada rasa kehilangan kehangatan ketika dia mengangkat tangannya
Hal pertama yang aku lihat adalah seorang pria kecil dengan kulit putih pucat, wajahnya tampak memerah entah kenapa dan bibirnya tunggu dia ini benar-benar pria kan? Kenapa bibirnya merah dia tampak tidak memakai sesuatu di bibirnya tapi benar-benar merah natural
"kau baik-baik saja" benar orang ini orang dengan suara lembut ini pantas saja terdengar tidak asing, "ketua Fakultas Sastra?" kataku memastikan, saat kemarin kami bertemu aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya cukup detail tapi ini benar-benar dia
"kau bisa memanggilku Baekhyun" dia berkata "apa aku tidak memberitahu nama ku kemarin yaa" gumannya yang masih bisa aku dengar, aku kemudian menutup kembali mataku "tidak, aku hanya ingin memastikan saja"
"heh memangnya aku bilang apa?" tanyanya, membuatku sedikit gemas dengan tingkahnya, pintu tampak terbuka dengan keras membuatku terbangun kaget hal itu membuat kepalaku kembali terasa pening, dan saat aku melihat Jongin emosiku naik dan langsung melempar bantal kearahnya
"he kau ternyata masih hidup kupikir sudah mati" katanya melempar kembali bantal itu padaku dengan cukup keras dan duduk dengan santainya di samping tempat tidurku
"hei dia masih sakit" ahh aku melupakan si malaikat bersuara lembut ini, dia datang dan menaruh bantal keposisi semula "dan kau jangan banyak bergerak, dokter menyuruhmu untuk banyak beristirhat dulu" ucapnya terlihat kesal dan aku hanya bisa menahan senyumku melihat wajah menggemaskannya
Jongin yang bingung melirik kepadaku "siapa dia?" katanya tanpa bersuara "kau dengar itu,aku harus banyak beristirahat dan jika ingin menjenguk setidaknya bawakan aku makanan, aku lapar"
"ohh aku membawa . ." Jongin mengangkat tasnya dan bersiap mengeluarkan beberapa snack yang dibawanya tapi sekali lagi "hei kau tidak boleh makan sembarangan, ini makan ini" ucap Baekhyun memberikan mangkuk yang berisi yougurt beku yang dicampur dengan pisang
Jongin tampak mulai penasaran dan sedikit kesal "maaf tapi kau siapa? Kenapa kau terus mengatur sahabatku?" Baekhyun menatap Jongin beberapa saat dan menggaruk belakang lehernya, kenapa wajahnya memerah?
"maaf, apa aku bersikap menjengkelkan?" dia bertanya seperti berbisik "yaa sedikit" ucap Jongin, anak ini benar-benar jujur
"aku Baekhyun, ketua mahasiswa Fakultas Sastra. Aku membawa Chanyeol ke rumah sakit milik ayahku saat aku melihatnya berkelahi dan terluka, ayahku sebenarnya tidak mau menerimanya kecuali aku mengurusnya sampai dia pulih dan itu membuat ayahku bisa memberi alasan kepada polisi yang sedang mengejar orang-orang yang berkelahi dalam gang pagi tadi" Baekhyun menatap ku "semua polisi mencari seorang mahasiswa yang mempunyai luka tusukan di perut, sepertinya lawan mu yang tertangkap memberitahu jika kau terluka"
Aku hanya menghela nafas "Rik sialan itu benar-benar bermain kotor" ucap Jongin menggelengkan kepalanya "ini Jongin sahabatku" aku memberitahu Baekhyun, Baekhyun hanya tersenyum manis dan mengangguk
Aku terus memandang wajah Baekhyun yang terus melihat handphonenya"setidaknya dia mungkin khawatir dengan mu" Baekhyun memandangku "apa maksud mu?"
"ayahku berkata mereka hanya mencari seorang mahasiswa yang terkena luka tusukan di perut tetapi tidak mengetahui nama dan Universitas mana" Baekhyun menatapku dan mulai mengatur meja diatas ranjangku lalu mengatur mangkuk, sendok dan gelas dengan teliti "dia mungkin merasa bersalah" ucapnya lagi menggedikan bahunya
"Jongin" Baekhyun berkata menatap Jongin "kau temani dia dan jangan ganggu dia" Baekhyun mulai memakai jaketnya "dan Chanyeol setelah makan kau harus segera beristirahat, kalian berdua terlihat seperti pembuat masalah jadi jangan coba-coba melakukan hal yang aneh-aneh dan membuatku terkena masalah lebih dari ini, aku ingin mencari temanku dulu" ucapnya lalu keluar dari kamar meninggalkan aku dan Jongin yang hanya mengangguk
"wah dia lebih berisik dari kekasihku" ucap Jongin, aku hanya mengangguk setuju meski aku tidak tau seberisik apa kekasih Jongin. "biar kutebak, pasti mereka yang menelfon polisi. Tipikal anak Sastra yang tidak suka kekerasan dan jauh dari masalah" aku mengangguk setuju.
AUTHOR POV
Baekhyun dan Kyungsoo tampak duduk di lobby bagian bawah rumah sakit itu, Kyungsoo dengan telaten membalut luka di tangan Baekhyun "bagaimana temannya tau kalau dia dirawat disini?"
"aku tidak tau, aku tidak Tanya. Dia bahkan langsung masuk ke kamar itu, kau tau kalau lantai itu cukup di jaga ketat lagi pula aku tidak memasukan nama Chanyeol di bagian administrasi"
"lalu nama siapa yang kau pakai?"
"kau"
"Sialan, selesai" kata Kyungsoo, Baekhyun memandang tangannya yang terluka akibat mengangkat badan Chanyeol yang lebih besar dan tinggi darinya membuat badan Baekhyun tidak seimbang dan mereka berdua terjatuh di tanah berkerikil tajam belum lagi tangan Baekhyun yang tertindis badan besar Chanyeol, beruntung sekali ayah Baekhyun tidak melihat ini
"aku sudah bilang kepadamu beberapa kali agar tidak usah ikut campur" Kyungsoo mulai lagi memarahi Baekhyun karena masih kesal "sudah lah, ini sudah berlalu lain kali aku pasti tidak begitu"
"ahh ini lain kali ke-10.000 yang aku dengar sejak kita bertemu" ucap Kyungsoo datar dan Baekhyun hanya bisa tersenyum meringis
"tapi sirine polisi tadi ide mu bukan aku" Baekhyun membela diri membuat Kyungsoo tersadar dan mereka tertawa bersama "kau lihat muka panic mereka tadi ya ampun, badan mereka penuh tato tapi ketika mendengar sirine polisi mereka langsung lari terbirit-birit" mereka tertawa cukup kuat sampai salah satu perawat lewat dan menegur mereka.
Baekhyun dan Kyungsoo pun kembali ke dalam kamar Chanyeol dan benar-benar kaget mendapati kasur itu sudah kosong tapi setidaknya Chanyeol menghabiskan makanan yang disediakan Baekhyun tadi
"benar-benar pencari masalah" ucap Kyungsoo datar.
.
Selama satu minggu Baekhyun tidak terganggu dengan urusan Fakultas karena memfokuskan diri dengan ujian mid-semesternya yang benar-benar menguras pikiran dan waktunya, Baekhyun bukanlah seseorang yang jenius seperti Kyungsoo jadi dia harus terus belajar untuk menjaga nilainya tetap bagus dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk istirahat setelah seminggu penuh berkutat dengan buku-buku tebal khas Sastra belum lagi suara music yang sangat berisik dari kamar depan membuat Baekhyun harus memasang pengedap suara di ruangannya
Tin . .
"siapa lagi yang menganggu ku" keluh Baekhyun mendengar handphonenya berbunyi
KyungsooDo : membosankan
BaekhyunByun : aku sudah merasakannya seminggu yang lalu
KyungsooDo : ayo ke bar
BaekhyunByun : aku ingin belajar
KyungsooDo : haha lelucon yang bagus. Temui aku di xxxx bar
BaekhyunByun : fine
"anak ini tidak bisa membiarkan aku beristirahat sehari saja" guman Baekhyun segera berjalan ke arah lemarinya, memakai hoddie putih kebesaran dan celana jeans denim hitam dengan robekan di beberapa bagian
Beberapa menit kemudian Baekhyun sudah sampai di xxxx bar, Baekhyun keluar dari taxi dan langsung masuk kedalam bar karena suasana diluar bar itu cukup menyeramkan dan sangat sepi jauh dari keramaian 'kenapa juga Kyungsoo memilih bar ini', Baekhyun sampai kebagian dalam bar dan melihat sekeliling bar yang cukup ramai itu mencari keberadaan sahabat kecilnya tetapi yang dia lihat malah pria tinggi dengan wajah tampan yang sedang asik menggoda seorang wanita dengan rambut pendek yang sepetinya sudah sedikit mabuk
Jongin beradu pandang dengan Baekhyun dan tersenyum lalu melambaikan tangan menyuruh Baekhyun untuk datang ketempatnya, baru saja Baekhyun ingin melangkah tangannya sudah ditarik oleh Kyungsoo yang muncul dari arah sampingnya
"hei" ucap Kyungsoo "aku duduk di lantai dua dan melihatmu berdiri mematung di sini, aku berdiri lama didekat tangga itu tapi kau tidak melihatku"
"ohh kau di lantai 2 pantas saja tidak terlihat lagipula tadi aku melihat seseorang" aku berkata dan kembali memandang kearah tempat Jongin tetapi aku tidak melihat keberadaan Jongin lagi, hanya tinggal wanita berambut pendek tadi yang terus meneguk minumannya
"kau melihat apa?" Kyungsoo melihat kearah pandangan Baekhyun "ouh kau tertarik dengan tipe seperti itu? Wow tipe mu benar-benar berubah" dia menyenggol pinggang Baekhyun
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa, mereka kemudian memilih duduk di lantai dua menghindari kerumunan orang di lantai satu
"kau tidak dikira anak dibawah umur lagi ?" Baekhyun meneguk birnya, dia seorang yang suka bir tetapi bukanlah peminum yang sering
Kyungsoo menatap tajam Baekhyun membuatnya ingat ketika beberapa kali mereka mengunjungi bar dan Kyungsoo selalu ditahan karena dianggap masih dibawah umur 'hell aku adalah seorang mahasiswa' dan sialnya lagi Kyungsoo selalu lupa membawa kartu identitas membuat mereka berakhir di kafe atau toko ice cream
"aku membawa kartu identitasku" ucap Kyungsoo mengangkat dompetnya "mereka sempat mengira ini palsu" Baekhyun menertawakan nasib Kyungsoo yang selalu di kira anak kecil karena postur tubuhnya yang cukup kecil untuk ukuran mahasiswa
Tin . .
Baekhyun menghentikan tawa mengejeknya pada Kyungsoo dan melihat handphonenya yang sempat bergetar
"tidak ada handphone saat kita sedang bersama" Kyungsoo menegur Baekhyun dan dibalas anggukan oleh Baekhyun tetapi dia masih saja melihat handphonenya
Chanyeol : kau sibuk ?
BaekhyunByun : tadinya. Ada apa?
Chanyeol : bisa temui aku?
BaekhyunByun : bagaimana jika, kau yang menemuiku?
'kenapa semua orang menginginkanku menemui mereka saat mereka yang membutuhkanku' pikir Baekhyun kesal, dia menatap Kyungsoo yang sekarang juga focus dengan handphonenya
Chanyeol : baiklah. Kau di asrama apa?
BaekhyunByun : aku berada di xxxx bar sekarang
Chanyeol : benarkah? aku juga berada di xxxx bar, kau duduk dibagian mana, aku akan mendatangi mu
BaekhyunByun : lantai 2, sofa merah panjang menghadap ke balkon 'read'
"Heii, aku harus menemui seseorang, kau ingin pulang sekarang?" Kyungsoo berdiri lalu menyimpan handphonenya
"ingatkan aku siapa yang menyuruhku datang disini" Baekhyun mendengus kesal
Kyungsoo memukul lengan Baekhyun pelan "ouu jangan kesal, aku benar-benar harus pergi"
"keberatan memberitahu sahabat mu ini dengan alasan yang bagus dan masuk akal?"
Kyungsoo terdiam dan matanya melihat sekeliling tidak terarah "i. .itu" Kyungsoo tampak gugup dan membuat Baekhyun sedikit kaget, jika Kyungsoo seperti ini pasti ada yang sudah lama dia sembunyikan dari Baekhyun "hei jika belum siap jangan cerita dulu, pergilah. Aku juga sedang menunggu seseorang" ucap Baekhyun
Kyungsoo tersenyum lega dan menepuk pundak Baekhyun lalu pergi, Baekhyun kembali meneguk birnya memikirkan sikap Kyungsoo yang akhir-akhir ini atau mungkin setahun ini sedikit berubah well dia masih seorang yang sombong juga kasar dengan orang lain tapi Kyungsoo seperti menyembunyikan sesuatu darinya "ahh sudahlah mungkin hanya perasaanku saja" guman Baekhyun
"kadang perasaanmu selalu benar jadi jangan menyepelekannya" suara rendah di telinga Baekhyun membuatnya kaget dan hampir menjatuhkan gelasnya
"jangan berbisik di telingaku" teriak Baekhyun membuat Chanyeol menertawakannya dan dengan santainya duduk di samping Baekhyun "hei wajahmu memerah" ucap Chanyeol
"aku benar-benar tidak suka seseorang berbisik ditelingaku" guman Baekhyun masih menutup telinganya yang sekarang memerah seperti wajahnya sementara si pelaku dengan santainya meminum bir Kyungsoo yang belum terbuka
"wow kau seorang peminum yang kuat, bagaimana bisa kau menghabiskan 5 botol seorang diri?" ucap Chanyeol menatap Baekhyun kagum "kau bodoh ya? Jelas-jelas di meja ini ada dua gelas yang berarti tadi aku tidak sendiri"
"ohh aku pikir kau menaruh gelas itu agar orang-orang tidak mengira kau kesepian dan minum sendirian" Baekhyun menatap tajam Chanyeol yang kembali tertawa 'apa orang ini sudah mabuk kenapa dia banyak tertawa?'
"jadi kau ingin membicarakan apa?" Baekhyun segera bertanya tidak mau terus di bully ketua Fakultas Teknik ini
Saat Chanyeol baru ingin membuka mulutnya, dua orang wanita tiba-tiba datang dan duduk di samping Chanyeol, Chanyeol memandang mereka tajam sangat tajam akibat terganggu, Baekhyun sampai menggeser mundur karena tatapan tajam Chanyeol
"Chanyeol kau baru saja meninggalkan aku dilantai bawah ternyata kau berada disini" ucap wanita itu dengan suara imut yang dibuat-buat membuat Baekhyun menahan tawanya "ehh kau membawa teman, dia manis. Kami akan menemani kalian" ucapnya memberi isyarat mata agar temannya segera duduk di samping Baekhyun
"ahh aku tidak apa-apa, kalian bisa menemaninya saja" ucap Baekhyun menggeser badannya lagi, Baekhyun memperhatikan kedua wanita itu 'aku saja yang memakai hoddie masih kedinginan di ruangan ini tapi mereka memakai pakaian yang benar-benar minim metabolisme tubuh mereka benar-benar kuat'
"kalian pergi sekarang juga" Chanyeol berkata menahan emosinya yang ingin meledak Baekhyun menatap Chanyeol yang tadinya terus tertawa dan benar-benar mempunyai sikap yang bersahabat dalam waktu beberapa detik saja sudah menjadi orang yang menakutkan
Kedua wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi saat melihat wajah menakutkan Chanyeol mereka langsung berdiri dan pergi, Baekhyun masih terdiam tidak berani berbicara karena juga sedikit takut dengan ekspresi marah pria di sampingnya itu
Chanyeol menghela nafas panjang dan menatap Baekhyun dengan ekspresi bingung melihat jaraknya dengan Baekhyun yang sudah semakin menjauh darinya "kau baik-baik saja?" ucap Chanyeol dan Baekhyun hanya bisa menganggukan kepalanya lalu mendekat tidak terlalu dekat hanya tidak sejauh tadi saja
Percakapan Chanyeol tidak jauh dari rencana kegiatan mereka dan kesiapan dana juga akomodasi, Baekhyun hanya menambahkan beberapa hal yang tidak disebutkan Chanyeol dan masuk catatan mereka berdua, meskipun Baekhyun baru saja jadi ketua tapi dia cukup berpengalaman dengan hal ini
Jam sudah menunjukan pukul 01.00 am dan tidak terasa sepuluh botol bir sudah mereka habiskan dan kebanyakan dihabiskan oleh Baekhyun, Chanyeol hanya menyentuh dua botol saja, Baekhyun terlihat sudah cukup mabuk wajahnya memerah dan terus meracau tidak jelas, Chanyeol? Dia hanya menyaksikan pria mabuk di sampingnya dan kadang tertawa melihat Baekhyun membuat ekspresi imut di hadapannya
"ouh Chanyeol-sii ~" pria mabuk dihadapan Chanyeol itu mulai mencubit pipi Chanyeol dan mengacak rambut Chanyeol lalu tertawa, Chanyeol yang melihat kelakuan dari pria mabuk ini hanya sabar karena pasti besok anak ini tidak akan ingat apapun jadi percuma saja jika Chanyeol memarahinya
"ohh tunggu di mana sahabat Baekhyun~ kenapa sahabat Baekhyun pergi~" Baekhyun mengguncang tubuh Chanyeol lalu memeluknya dan terdiam "harum kamu sangat harum" Chanyeol terdiam dengan keringat dingin yang mulai keluar karena Baekhyun berbisik di lehernya
"sepertinya aku harus membawanya pulang" guman Chanyeol lalu menyandarkan badan Baekhyun yang sepertinya sudah tertidur itu ke sofa
Chanyeol memperhatikan wajah Baekhyun lalu membersihkan sedikit kotoran yang menempel di wajah Baekhyun "kenapa wajah pria bisa semanis ini" guman Chanyeol lalu mata Chanyeol tertuju ke bibir merah Baekhyun yang sedikit terbuka "bibirnya pun merah" Chanyeol menyentuh bibir Baekhyun dengan jarinya dan menekannya lalu melihat jarinya lagi "tidak ada pewarna" gumannya
Wajah Chanyeol terus mendekati wajah Baekhyun sampai Chanyeol bisa mencium aroma bir dari nafas Baekhyun yang halus, jarak mereka kini sangat dekat bahkan hidung mereka kini bersentuhan Chanyeol memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya dan . .
.
"ahh kepalaku" Baekhyun bangun dan memegangi kepalanya yang pening dan perutnya yang sakit, dia kini menyadari betapa banyak dia minum semalam "apa karena aku terlalu banyak minum semalam?"
"kau baru sadar?" Baekhyun meloncat dari kasur itu mendengar suara seseorang dari sampingnya, Baekhyun berdiri di samping tempat tidur degan selimut yang dia bungkus di badannya sampai ke leher "kau bahkan masih memakai baju kenapa juga kau bertingkah seperti sedang telanjang"
Baekhyun menatap Chanyeol horror, Chanyeol hanya memakai celana jeansnya semalam tanpa atasan dan Baekhyun bisa melihat jelas tubuh atletis Chanyeol dengan abs yang terpampang jelas, rambutnya yang acak-acakan menambah kesan hot dan manly khas mahasiswa Teknik
"apa yang kau lakukan di sini?" Baekhyun bertanya masih dalam keadaan shock "ini kamarku jika kau ingin tahu" Baekhyun mengedarkan pandangannya baru menyadari jika dia memang sedang tidak berada di kamarnya, kamar dengan warna dinding cokelat dan beberapa foto potrait terpajang di dinding belum lagi miniature hewan-hewan di berbagai sudut ruangan
"bisakah kau memberikan selimut itu? Aku kedinginan" Chanyeol menarik selimut itu dan membuat badan Baekhyun ikut tertarik dan terjatuh di tempat tidur, wajah Baekhyun menabrak abs Chanyeol yang terasa keras 'kapan aku bisa mendapat perut seperti ini?' pikir Baekhyun
Pintu kamar Chanyeol di buka dengan kasar dan kuat "hei~ saha . .bat ku?" Jongin terdiam melihat posisi Chanyeol dengan seorang pria yang wajahnya tersembunyi di perut Chanyeol sedangkan Chanyeol yang berniat mengambil selimut dari badan Baekhyun terlihat seperti sedang memegang bokong pria itu "apa aku salah waktu?" ucap Jongin berdehem lalu berniat keluar
"hei ini bukan seperti yang kau pikirkan" Chanyeol berteriak dan Baekhyun langsung bangun dan duduk di samping ranjang dengan wajah memerah "eiii bukankah ini ketua Fakultas Sastra? Apa yang kau lakukan terhadap sahabatku?" Jongin masuk dan berdiri di depan Baekhyun yang masih menunduk malu
"kenapa juga kau datang pagi-pagi begini?" ucap Chanyeol bangun dan duduk di samping ranjang "aku tidak tau kalian sedekat ini" ucap Jongin tidak memperdulikan pertanyaan Chanyeol
"sial jangan berpikir macam-macam, dia mabuk semalam dan aku tidak tau dia tinggal dimana jadi aku bawa kesini" ucap Chanyeol menatap Baekhyun yang masih memerah 'imut' pikirnya
"dan kenapa kalian bisa bersama dan mabuk semalam, kau hanya kutinggal sebentar dan langsung menghilang" Chanyeol memandang Jongin kaget karena melupakan sahabatnya di bar semalam "aku pikir kau sudah diculik oleh wanita-wanita disana"
"aku ingin membahas kegiatan tapi anak ini terus minum setelah itu dan dia benar-benar mabuk sampai muntah di pakaianku" Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan kaget dan malu, sedangkan Jongin memandang Chanyeol jijik "aku sudah mandi"
Jongin datang dengan beberapa makanan yang dia bawa dari tempat kekasihnya dan kini mereka sarapan bersama dalam diam tentu saja, Baekhyun masih canggung, Chanyeol sesekali menatap Baekhyun dan menendang kaki Jongin saat Jongin mulai menginterogasi mereka lagi, sedangkan Jongin yahh menikmati waktunya dengan mengganggu Chanyeol dan Baekhyun
"aku juga tinggal di apartemen ini" ucap Baekhyun saat matanya memandang keluar membuat Jongin dan Chanyeol yang sedang adu kaki dibawah meja kini terdiam "benarkah ? wahh benar-benar takdir" ucap Jongin membuatnya mendapat tendangan dari Chanyeol
"heii Jongin masakan kekasihmu benar-benar lezat dan terasa familiar" ucap Baekhyun membuat Jongin memberikan dua jempolnya pada Baekhyun "kamar mu lantai berapa?" kata Jongin
"uhm lantai 5"
"ohh hei ini juga lantai 5"
"benarkah?" Jongin dan Chanyeol mengangguk "nomor berapa ?" Jongin terus bertanya
"0503" Jongin membelalak kaget dan Chanyeol menatap Baekhyun "benarkah?" Jongin dan Chanyeol bertanya dan Baekhyun yang bingung hanya mengangguk
"jadi kamarmu berada tepat di depan kamar ini" ucap Chanyeol membuat Baekhyun menatapnya kaget "jadi ini kamar 0508?" Chanyeol dan Jongin mengangguk
"jadi kau yang selalu memutar music dengan keras dan memaksaku memasang kedap suara di seluruh ruangan ku" Baekhyun menunjuk Chanyeol masih jengkel dengan si pengacau konsentrasi belajarnya
Chanyeol yang bingung hanya mengangkat bahunya dan menunjuk Jongin dengan dagunya "aku tidak pernah memutar music dengan keras, pelakunya dia" Baekhyun menatap Jongin tajam dan Jongin hanya bisa tersenyum "kau bisa menyuruhku mematikannya"
"aku sudah menulis kertas dan menempelkannya di pintu ini tetapi keesokannya aku menemukan kertas tertempel di pintu kamarku dengan tulisan 'urus urusanmu sendiri' Jongin merutuk mengingat perbuatannya dan tersenyum dengan wajah sok polosnya
.
Kyungsoo mengambil handphonenya yang sempat bergetar dan melihat nama penelfon lalu menekan loudspeaker karena kini Kyungsoo sedang sibuk membersihkan kamarnya
"apa yang kau lakukan witch Kyungsoo" suara Baekhyun yang dibuat imut menyapan Kyungsoo yang langsung memutar bola mata
"hei kegiatan itu, kau ikut kan?" Kyungsoo berhenti sejenak dari acara mengelap kacanya dan duduk di kursinya "tidak, tapi kau tanpa sepegetahuanku akan mengepak semua pakaianku dan aku yang tidak punya pakaian di sini terpaksa berjalan dengan kakiku sendiri dan masuk kedalam bus" terdengar suara tawa dari Baekhyun dan Kyungsoo pun tersenyum
"hei bagaimana semalam? Kau bertemu dengan siapa? Aku lupa menanyakan itu" Kyungsoo kembali menyapu lantai kamarnya
"aku bertemu dengan Chanyeol semalam membahas akomodasi kegiatan, ohh kau ingat aku menceritakan tentang kamar depan yang sangat berisik?" Kyungsoo mengangguk lalu menyadari jika Baekhyun tidak akan melihat itu "iya, apa dia pemilik kamar itu?"
"wahh bagaimana bisa kau tau?"
"tentu saja karena kau baru menyebut namanya dan tiba-tiba membawa topik itu" Kyungsoo menepuk tangannya bangga dengan pekerjaannya saat melihat kamarnya yang kini telah bersih
"apa yang kau lakukan?" suara ketukan dari luar kamar Kyungsoo mengalihkan pandangan Kyungsoo "melakukan sesuatu yang berguna" ucap Kyungsoo lalu mengintip dari lubang pintu kamarnya "hei aku harus pergi, sampai jumpa di kampus" ucap Kyungsoo memutuskan sambungan dengan cepat tanpa menunggu balasan Baekhyun.
Kyungsoo sedikit merapikan penampilannya dan menyingkirkan sapu, sarung tangan dan alat pell tadi "huh merepotkan" ucapnya lalu membuka pintu
.
.
Side story
(seminggu sebelumnya, perkelahian dalam lorong kecil)
"minggu depan sudah mulai ujian mid-semester, jadi ini adalah kesempatanku untuk bebas" ucap Baekhyun yang terus menarik lengan baju kepanjangan milik Kyungsoo yang mengikuti langkah lebar Baekhyun dengan sedikit berlari
"kau tau kau tidak ujian selamanya dan tidak semua orang punya kaki yang lincah sepertimu jadi berjalanlah perlahan, ini masih pagi" ucap Kyungsoo yang sudah lelah mengikuti Baekhyun, Baekhyun hanya tersenyum dan memelankan langkahnya menyamai Kyungsoo
Beberapa toko masih tutup dan jalanan itu sangat sepi karena hari masih sangat pagi udara pun cukup dingin membuat beberapa orang seperti Kyungsoo berpikir dua kali jika ingin keluar tetapi sahabat tersayang dan juga menjengkelkan ini menarik Kyungsoo dari tempat tidur yang nyaman dan menyuruhnya berjalan sepagi ini "aku benar-benar benci bangun pagi" guman Kyungsoo
Saat mereka melewati satu lorong kecil terdengar suara ribut membuat Baekhyun menatap Kyungsoo lalu menatap lorong itu penasaran "tidak, kita akan terus dan tidak masuk kedalam lorong itu" itu perkataan Kyungsoo tapi tubuhnya kini ditarik masuk kedalam lorong kecil itu
Mereka berdua kini melihat orang-orang yang saling memukul dan saling menendang "ohh liat itu Chanyeol" ucap Kyungsoo "berarti ini mahasiswa Teknik" Baekhyun berguman, mereka menunduk bersembunyi di beberapa tumpukan kardus saat beberapa orang yang mereka kenali sebagai mahasiswa Teknik berlari keluar dari lorong itu dengan wajah dan tubuh yang sudah terluka
"mereka benar-benar mahasiswa yang keras tapi keren, Teknik ini" ucap Baekhyun, Kyungsoo hanya menatapnya dan berniat menarik Baekhyun keluar dari lorong itu tetapi badan Baekhyun tidak bergerak seinci pun "jika kita ketahuan kita bisa mati" ucap Kyungsoo menatap ngeri beberapa orang yang lewat lagi kini kondisi mereka lebih parah
"ohoo dimana Kyungsoo ku yang pemberani" Kyungsoo menatap Baekhyun datar dan menariknya lagi tapi tidak berhasil "kita harus membubarkan mereka" ucap Baekhyun
Kyungsoo hanya ingin segera pergi dari sini jadi dia mengeluarkan handphone dan speaker yang beruntungnya ada di tas yang dia bawah
"apa yang kau lakukan?" ucap Baekhyun, Kyungsoo lalu menunjukan sound sirine polisi "kau pikir ini akan berhasil?" Tanya Baekhyun melihat Kyungsoo mulai menyalakan speaker itu "ada ide lain?" Baekhyun menggeleng
"good kalau begitu diam dan liat saja"
Sirine polisi itu berbunyi cukup kecil tetapi masih bisa didengar oleh orang-orang tadi, belum sampai 10 detik sirine itu berbunyi orang-orang tadi mulai lari berhamburan dari lorong itu dan Kyungsoo menambahkan volumenya begitupun langkah mereka yang berlari menambah kecepatan membuat Kyungsoo dan Baekhyun menahan tawa
Tetapi Baekhyun terbelalak saat melihat Chanyeol yang jatuh dan pisau yang menancap di perutnya juga darah yang bercucuran, Baekhyun segera berlari kearah Chanyeol karena kini tinggal Chanyeol yang sekarat dan seorang pria berbadan besar yang sepertinya pingsan yang tersisah di situ
"apa kau gila? Apa yang kau lakukan?" teriak Kyungsoo mematikan speakernya "Kyungsoo dia terluka" Baekhyun menunjukan pisau yang menancap di tubuh Chanyeol membuat Kyungsoo terbelalak kaget
Baekhyun segera mengangkat badan Chanyeol tetapi tidak mencabut pisau itu untuk menahan agar darahnya tidak terlalu banyak keluar "telfon ambulance dari rumah sakit ayahku, lalu telfon polisi" ucap Baekhyun panic
Kyungsoo hanya mengangguk dan segera mengambil handphonenya
"Chanyeol bertahanlah" bisik Baekhyun lalu membelai wajah Chanyeol yang dipenuhi keringat juga darah
.
(tengah malam di dalam xxxx bar)
Wajah Chanyeol terus mendekati wajah Baekhyun sampai Chanyeol bisa mencium aroma bir dari nafas Baekhyun yang halus, jarak mereka kini sangat dekat bahkan hidung mereka kini bersentuhan Chanyeol memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya lalu bibir mereka bersentuhan, Chanyeol tampak tidak puas dan menarik dagu Baekhyun memperdalam ciumannya dengan pria yang sedang mabuk itu
"uhhhmm" Chanyeol menjauhkan dirinya saat mendengar suara desahan Baekhyun lalu menatap Baekhyun yang wajahnya kini memerah dan bibirnya yang terbuka, Chanyeol kembali mencium Baekhyun dan kini memasukan lidahnya mengekpos mulut Baekhyun lalu beralih ke leher Baekhyu mulai menjilat, mengecup dan menggigitnya, sedangkan Baekhyun terus mendesah kecil "aku harus berhenti, jika tidak ini bisa diluar kendali"
Chanyeol menjauhkan wajahnya dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak kembali mencium Baekhyun, Baekhyun tampak membuka matanya dan menatap Chanyeol "apa dia mengetahui jika aku menciumnya?" Baekhyun memajukan wajahnya dan memegang pipi Chanyeol membuat Chanyeol terdiam, Baekhyun kembali menutup matanya hendak mencium Chanyeol saat
Hueeekkkk
Baekhyun muntah di baju Chanyeol membuat Chanyeol kesal tetapi juga bersyukur "dia benar-benar mabuk"
Tbc
Hai thank untuk kalian yang sudah menyempatkan diri untuk review cerita ini dan maafkan jika ada beberapa typo, dan benar cerita ini aslinya bukan dengan karakter ChanBaek tetapi saya ubah karena maaf jika ada beberapa kesalahan..
gimana dengan part? aku sebenarnya tidak suka dengan cerita yang terlalu banyak konflik jadi mungkin cerita ini konfliknya yang ringan-ringan saja.
Salam sayang ZH
