Sakura berlalu dari sana berjalan menuju kafetaria. Ia membalas beberapa pesan yang dikirimkan oleh Shino sementara kakinya berhenti di depan stan kopi yang dulu dihampirinya bersama Anko.

"Caffe latte––"

"Kopi hitam."

Sakura membalikkan tubuhnya secara reflek dan melihat ketua teamnya sedang berdiri di belakangnya. Ia memandang lurus ke penjual kopi tanpa mempedulikan Sakura. Kedua matanya yang dingin terlihat angkuh dan ia memberikan selembar uang ke arah sang penjual. Sakura bergeser ke kanan sedikit, membiarkan orang itu menyelesaikan pesanannya terlebih dahulu.

Ponselnya berdering dan nama Shino muncul di layar.

"Halo?"

"Apa kau sedang sibuk?"

Sakura tersenyum, mengeluarkan selembar uang dari dompetnya dan memberikannya ke arah sang penjual. "Sebenarnya aku sedang memesan kopi. Nanti kuhubungi lagi, ya?"

Sakura memandang penjual kopi di depannya. "Bisakah kau tambahkan krim diatasnya?"

Sakura menerima uluran latte pesanannya dan duduk di salah satu meja. Ia melihat punggung Kakashi––ketua team-nya––berada beberapa meja di depannya. Wajahnya masih cukup muda namun rambutnya mulai kehilangan pigmen. Ia sedang membaca sesuatu dengan serius di ponselnya, sehingga tidak menyadari kalau Sakura sedang mengamatinya.

Sikap Kakashi sangat tidak bersahabat padanya. Ia tahu kalau ia memang salah, terlambat hari ini, tapi sambutan seperti itu benar-benar kontras dengan sambutan yang diberikan orang lain padanya. Bukannya Sakura ingin agar dianak-emaskan, tapi setidaknya ia harus membuat Sakura merasa diterima disini, 'kan?

.

.

"Sakura-san."

Bibir Sakura terbuka, menggumam tak karuan sementara kedua tangannya berusaha menghalau tangan orang lain yang sedang mengguncang-guncang tubuhnya.

"Sakura-san... bangun."

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali dan sadar kalau ia sedang berada di dalam ruang kerjanya. Ia tidak bisa memaki seperti yang biasa ia lakukan dengan Ino. Karena itu Sakura segera menegakkan tubuh, dan mendapati ada Anko yang sedang berdiri di depannya.

"Ada apa?" tanya Sakura bingung.

"Agen lapangan sedang menyelidiki kasus baru. Sebaiknya kau tidak berada jauh-jauh dari komputermu." Ujar Anko, mengerling ke arah komputer yang tidak terlalu jauh dari mereka. "Data bisa saja langsung mereka kirimkan lewat internet."

Sakura mengangkat kepalanya untuk melihat Anko. "Memangnya ada kasus apa?"

"Pembunuhan seorang janda kaya di pusat kota." Kata Anko. "Siang hari seperti ini. Ditambah, pelayan yang ada di rumah itu sama sekali tidak mendengar sesuatu yang mencurigakan. Tiba-tiba saja nyonya mereka sudah meninggal dengan sebuah peluru menembus kepalanya."

Sakura mengernyitkan kening. "Aneh sekali."

Anko mengangkat bahu dan keluar dari ruangan tersebut. Ketika Sakura menyalakan komputernya, beberapa pesan segera masuk dengan pengirim bernama cigaman36. Ketika membuka pesan yang dikirimkan, Sakura melihat ada beberapa foto di lokasi yang tadi digambarkan Anko.

"Cigaman36... Asuma." Gumam Sakura, mengamat-amati beberapa foto yang diambil oleh Asuma. Janda yang diceritakan Anko ternyata jauh lebih muda dibandingkan yang ada di pikiran Sakura. Ia kira orang tersebut adalah seorang wanita tua gemuk yang rambutnya sudah penuh dengan uban.

Ternyata masih tergolong muda.

Ada satu lubang peluru di kepala wanita itu, dan dia digenangi oleh darah. Sebenarnya foto itu sedikit mengganggu, tapi mau tak mau Sakura harus mengamatinya dengan sangat detil. Ia membaca catatan tangan Asuma dan beberapa orang lainnya, menganalisanya dan menyimpulkan semua catatan tersebut.

Pintu ruangannya terbuka dan Asuma berdiri disana. Sakura mengerutkan keningnya, kaget. Ia memandang jam yang ada di layar komputer dan menghela nafas. Lagi-lagi ia terlalu asyik menyusun jurnal sehingga melupakan waktu. Dengan senyuman di bibir, Sakura berjalan mendekat ke arah laki-laki itu.

Satu setengah jam. Wow, ujar Sakura pada dirinya sendiri.

"Kita ada rapat di ruang pertemuan. Kurasa kau tidak mendengarkannya lewat radio." Ujar Asuma, mengerling ke arah sebuah speaker kecil yang berada di tembok. "Terlalu konsentrasi bekerja, huh?"

"Percaya atau tidak, aku seperti sedang menonton sebuah film." Sakura memandang Asuma sementara mereka berjalan menuju lift yang berada di ujung ruangan.

Asuma menoleh, lalu terkekeh pelan. "Film horror?"

Sakura tersenyum. "Semacam itu." Katanya. "Apakah ini kasus yang sangat penting sampai harus diadakan rapat setelah kalian melihat tempat kejadian untuk pertama kalinya?"

"Tidak juga. Tapi rapat sebenarnya memang harus selalu diadakan secara perdana untuk setiap kasus." Jelas Asuma, berjalan beriringan dengan Sakura menuju ruang pertemuan. "Karena Kakashi baru kembali, makanya rapat juga baru diadakan untuk kasus ini. Kau, berisap-siaplah untuk mencatat."

Mereka masuk dan untung saja kali ini tidak terlambat seperti rapat pagi tadi. Sakura kembali mengambil tempat di sebelah Kurenai––yang mana duduk disebelah Kakashi––dan tersenyum pada wanita itu. Beberapa orang masuk setelahnya dan mengisi tempat-tempat yang masih kosong. Baru kali inilah Sakura dapat mengamati tempat duduk masing-masing orang dengan jelas.

"Jurnal diterima pukul sebelas tadi. Korbannya adalah Atsuko Yume. Umur tiga puluh tahun, janda muda Tuan Hiroto Yume." Kakashi menampilkan sebuah gambar dari korban di papan putih besar, lalu menyilangkan kedua tangannya. "Tidak ada sidik jari, tidak ada rambut, tidak ada saksi mata."

"Profesional?"

"Tidak mungkin." Kakashi tersenyum meremehkan. "Nona Haruno, dimana jurnalmu?"

Sakura tersentak pelan. Sial, aku lupa membawanya, ujar gadis itu di dalam hati.

"Aku tidak membawanya."

Kakashi mengerutkan keningnya. "Aku sudah menduganya. Menurutmu, siapa pelaku kejahatan?"

Sakura merasa tubuhnya membeku. Ia memang sudah menyimpulkan si pelaku, tapi ditanyai di depan banyak orang berpengalaman seperti ini mau tidak mau membuat wajahnya perlahan-lahan memucat.

"Kakashi, kau tidak perlu terlalu keras pada Sa––"

"Aku yakin dia sudah menemukan jawabannya."

Menerima kalimat seperti itu dari orang macam Kakashi membuat ketegangan dalam tubuh Sakura menghilang. Gadis itu menatap sang ketua, lalu entah darimana, keberanian muncul dari dalam dirinya. Ia berdeham beberapa kali sebelum angkat suara.

"Pelakunya... Daisuke Watanabe."

Kurenai menoleh. Kedua alis hitamnya yang sempurna tertaut akan pernyataan Sakura. "Kepala pelayan rumah itu?"

Sakura mengangguk. Ia menundukkan kepala ketika beberapa suara tawa terdengar dari segala penjuru ruangan.

"Yah, lebih baik ada tersangka dibandingkan tidak sama sekali." Ujar Kakashi, tersenyum meremehkan ke arah Sakura dan membuat gadis itu kembali kehilangan keberaniannya. "Ada yang punya pendapat lain?"

Seorang pria tanpa rambut mengangkat tangannya. "Kakak korban. Dia sangat membencinya, 'kan?"

Diskusi terus berlangsung hingga satu jam kedepan. Selama satu jam itulah, Sakura merasa terbunuh perlahan-lahan. Ia hanya tersenyum ketika Kurenai diam-diam mengusap punggung tangannya, menguatkan dirinya yang sekarang diam-diam mati karena rasa malu yang diberikan Kakashi.

Dan ketika ia ingin keluar, Kakashi memberikan isyarat baginya untuk tetap duduk. Pria itu melirik Asuma dan Kurenai yang tampak ingin tinggal dengan mereka––memaksa mereka untuk pergi––. Ia berjalan dan menutup pintu.

Kemudian duduk di kursi Kurenai.

"Jadi menurutmu, Daisuke pelakunya?"

Oh, jangan mulai lagi. Kau sangat menyebalkan, desis Sakura kesal dalam hatinya.

Sakura mengangguk. Tapi ia tidak berbicara.

"Kau berpikir seperti itu karena Daisuke selalu muncul di setiap foto yang Asuma ambil dan dia adalah orang pertama yang menyebarkan kematian Nyonya Yume?"

Sakura mengangkat kepalanya. Kedua alisnya bertaut.

"Bagaimana kau tahu?"

"Bagaimana aku tahu."

Satu kalimat dengan intonasi yang berbeda itu diucapkan secara bersamaan oleh dua orang di ruangan tersebut. Sakura sekarang menyadari ada sesuatu yang menggelitik dari ketua team-nya ini. Mereka mencurigai orang yang sama?

"Aku tidak mungkin berbicara seperti ini denganmu di depan banyak orang. Bagaimanapun juga, sebagai seorang ketua, aku harus bersikap objektif." Ujar Kakashi, menyandarkan tubuhnya yang lelah. "Aku cukup terkesan dengan analisamu, Haruno. Tapi satu yang harus kau ingat, dengan dua kejanggalan tadi, kau tidak bisa terlalu buru-buru menjatuhkan tuduhan pada satu orang. Kau harus mencermati jurnal yang dikirim Asuma lebih banyak lagi."

Setelah berkata seperti itu, Kakashi meninggalkan Sakura tanpa basa-basi. Kali ini Sakura kembali melihat sisi dingin dan tertutup Kakashi, berbeda ketika pria itu mengatakan kalau ia memiliki pola pikir yang sama dengan Sakura secara tidak langsung.

Teleponnya berdering. Sakura meraih benda itu dari saku, mendekatkannya ke telinga.

"Halo?"

.

.

"Kau terlihat sangat lelah."

Sakura tersenyum dan menggigit potongan daging panggangnya dengan lesu. "Setiap hari adalah hari yang melelahkan."

Shino meneguk ocha-nya sementara kedua matanya memperhatikan setiap gerakan Sakura. Mata gadis itu sudah setengah tertutup namun mulutnya masih sibuk mengunyah daging. Ia beberapa kali menguap, mengusap matanya yang terkena asap abu-abu karena daging yang mereka makan, dan sesekali mengumpat.

"Kau tahu," gumam Sakura pelan. "Kurasa mulai sekarang kita tidak boleh sering-sering bertemu seperti ini lagi."

"Kita sudah pernah membahasnya."

"Shino, mengertilah." Sakura meletakkan sumpitnya, memandang Shino dengan lelah. "Kau benar-benar berarti untukku. Mereka sudah mengingatkanku untuk mengurangi segala macam kontak untuk kebaikanku dan orang-orang terdekatku. Aku tidak ingin mengambil resiko."

"Tidak ada resiko apapun yang kau ambil, Sakura." Ujar Shino lembut. "Kau adalah penulis jurnal. Kau membuat jurnal. Bekerja dibalik meja, selama sehari penuh. Tidak akan ada yang mempermasalahkannya. Mereka berkata seperti itu karena mereka takut kau akan membocorkan segala rahasia yang terjadi disana."

"Aku tidak akan berkata apapun pada siapapun."

"Aku percaya itu." Shino tersenyum, menggenggam tangan gadis di depannya. "Karena itu, berhentilah khawatir. Kau akan menjagaku, 'kan?"

Sakura tersenyum dan mengangguk.

Lima belas menit kemudian, Shino merangkul Sakura pergi keluar dari tempat makanan tersebut. Mereka berkendara menuju bioskop, game center, dan tempat-tempat umum lainnya yang biasa mereka datangi dulu.

"Aku ingat saat pertama kali melihatmu bermain disana." Sakura menunjuk sebuah permainan di sudut ruangan, lalu tertawa sendiri. "Kau benar-benar tidak mempedulikan siapapun. Dan saat itu, kita berada di kelas yang sama, 'kan? Kau mulai menyadari aku sedang melihat ke arahmu dan kau berjalan ke arahku."

"Jangan diingat-ingat. Memalukan sekali." Kata Shino, meminum kopi hangatnya yang berada di genggamannya.

"Kita bertemu.. seperti baru kemarin."

Shino menerima tangan Sakura dan mengajaknya keluar dari game center tersebut. Tidak seharusnya ia membawa Sakura kesana. Ia memutuskan untuk mengantar gadis itu pulang ke apartmen-nya dan Ino tinggal. Setelah memberikan ciuman selamat malam, Shino keluar dari gedung apartmen dan duduk terdiam di dalam mobil.

Laki-laki itu mengantukkan kepalanya ke kemudia mobil dan menghela nafasnya keras-keras.

Entah sampai kapan ia berbohong.

Shino meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor. Butuh beberapa waktu sampai orang di seberang sana menjawab panggilannya.

"Ya?"

"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Sekarang."

.

.

Sakura mengucapkan selamat pagi pada beberapa orang dan mengabsen kehadirannya sendiri pada komputer umum di lantai paling bawah. Ia baru saja mengeluarkan dompet dan ingin berjalan menuju kafetaria ketika seseorang menarik tangannya.

Asuma.

Dan setelahnya, pria itu memaksa untuk mentraktir Sakura. Alasannya adalah, ia memang selalu mentraktir setiap orang yang akan pergi ke kafetaria untuk membeli kopi. Alasannya lagi adalah, ia pecinta kopi dan ia senang sekali kalau ada orang lain yang memutuskan untuk mengawali hari dengan kopi.

"Ada apa dengan lenganmu?" tanya Sakura, ketika menyadari kalau lengan kanan Sakura sedang diperban.

"Tertembak kemarin." Jelas Asuma, berterimakasih pada orang yang memberikan dua cangkir kopi ke mereka berdua. "Hari ini agen lapangan akan menanyakan beberapa hal pada orang-orang yang berada di rumah tersebut. Tapi kau lihat... sepertinya aku tidak bisa menulis jurnal."

Sakura mengangguk-angguk. "Kalaupun bisa, pasti sakit, ya?"

"Tentu saja. Karena itu kau harus ikut denganku." Kata Asuma. "Maksudku, untuk menyusun jurnalmu, kau membutuhkan banyak data dari setiap agen lapangan, 'kan? Kau tidak bisa menyusun sesuatu dari catatan yang subjektif. Ditambah, kurasa kau cukup baik dalam menyimpulkan. Kenapa kau tidak ikut turun saja sekalian?"

Sakura mengusap tengkuknya, merasa tidak enak. "Entahlah, Asuma, aku... aku tidak tahu. Memangnya seorang penulis jurnal diperbolehkan untuk turun langsung?"

"Tentu saja!"

Ketika melihat kedua alis Sakura yang bertaut bingung, Asuma menyadari kecerobohannya sendiri. Ia mengumpati kebodohannya sementara Sakura menyadari ada sesuatu yang janggal dari perkataan Asuma tadi.

"Penulis jurnal... boleh turun ke kapangan?"

.

.

"Tidak boleh."

Sakura mengerucutkan bibirnya ketika menerima penolakan dari Kakashi. Di hadapannya, Kurenai, Asuma dan satu orang perempuan lainnya yang tidak Sakura ketahui namanya saling bertatapan. Kakashi menjawab pertanyaan Asuma dengan tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan yang sedang dikerjakannya.

"Tapi Asuma bilang padaku..."

"Kau pikir ketuanya aku, atau Asuma?"

Sakura tidak berani mengeluarkan kata apapun lagi bibirnya. Ia benar-benar menganggap ketuanya ini adalah orang yang menyebalkan. Orang tua beruban yang menyebalkan. Kenapa penulis jurnal lainnya boleh turun ke lapangan sementara ia tidak?

"Midori juga selalu ikut bersama kita." Asuma angkat suara. "Kenapa Sakura tidak?"

Kakashi mengangkat kepalanya. Sakura tidak melihatnya, tapi ia tahu dari gerakan tangan pria itu yang berhenti. Kakashi tidak mengucapkan beberapa kata sebelum akhirnya ia menghela nafas.

"Dia sudah bertahun-tahun bekerja bersama kita. Dia baru lima hari bersama kita. Midori juga," ujar Kakashi terhenti, menatap Sakura tepat di manik mata saat gadis itu mengangkat kepalanya. "Sudah cukup dewasa untuk menyimpulkan sesuatu."

Sakura kembali menundukkan kepalanya. Si tua bangka menyebalkan.

"Kakashi, kurasa Asuma benar." Gadis yang berada di baris paling ujung angkat suara. "Lengan kanannya tertembak. Ia tidak akan menulis. Semua agen lapangan akan menyebar sesuai dengan tugasnya masing-masing. Kalau Sakura terus ada di samping Asuma, ia bisa mencatat setiap perkataan Asuma. Lagipula, ia hanya membantu Asuma mencatat. Ia tidak menyimpulkan sesuatu dari catatan Asuma saja."

Kakashi berdecak. "Mei, kau tahu kalau––"

"Kakashi. Kita sudah terlambat."

Sakura menyadari kalau ketua team tersebut sudah terpojok dan pada akhirnya ia mendengar helaan nafas Kakashi. Pria itu memandangnya sesaat, menilai, dan kemudian keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh tiga rekan lainnya.

Sakura mengemasi tasnya dan membawa sebuah buku catatan. Ia menaiki mobil bersama Kurenai. Agen lapangan yang selama ini hanya di dengarnya ternyata Kakashi, Kurenai, Mei dan Asuma. Hanya mereka berempat. Sakura tidak habis pikir bagaimana empat orang itu bisa memecahkan kasus-kasus penting selama ini.

"Kakashi... sangat membenciku, ya?"

Sakura memang ingin membuka pembicaraan dengan wanita di sampingnya ini, tapi ia tidak menyangka nama yang pertama keluar dari bibirnya adalah Kakashi.

Kurenai tersenyum. "Tidak, tentu saja tidak. Dia memang sedikit keras pada orang baru." Jelas Kurenai, melirik ke arah Sakura beberapa kali. "Lagipula, sepertinya pandangan kalian tentang tersangka pembunuhan sama."

"Kau tahu tentang itu?"

"Aku mengenal Kakashi selama bertahun-tahun. Tentu saja aku tahu."

Perkataan Kurenai mau tidak mau membuatnya merasa sedikit lega. Mereka sampai di rumah tempat pembunuhan dan Sakura turun dari mobil. Ia segera berjalan menuju Asuma, mengikuti langkah kaki pria itu dan mengamat-amati lokasi pembunuhan tersebut.

Seorang wanita gemuk datang dengan terburu-buru. Ia segera mencengkram lengan Kakashi kuat-kuat.

"Ada lagi...!" ujarnya, matanya membulat ketakutan. "Dia membunuh satu orang lagi!"

Empat orang tiu segera bergerak. Sakura mengikuti langkah tergesa-gesa Asuma, sementara ia melihat Kakashi melangkah masuk dengan wajah yang sangat tenang. Meski begitu, langkah kakinya sangat lebar dan ia dapat menyeimbangi gerakan tergesa-gesa Sakura.

Sial, aku merasa mual.

Sakura mencium bau darah dan melihat sebuah ruangan penuh dengan cipratan darah. Seorang pria muda, mungkin seumuran dengannya, tergeletak dengan darah membasahi kemeja abu-abunya. Luka tembakan berada di dada kirinya, dan bukan Cuma satu, tapi ada dua lubang.

"Dia Akira, adik laki-laki Nyonya Yume." Kata wanita gemuk itu. "Dia datang kemarin malam untuk melihat kondisi kakaknya. Aku tidak menyangka, hari ini dia akan menjadi seperti ini..."

"Sakura, ikut denganku."

Sakura mengangguk dan mengikuti langkah Asuma. Pria itu mengambil beberapa foto, sementara makin lama bau anyir dari ruangan tersebut makin mendominasi indera penciumannya. Sakura berusaha untuk menghirup nafasnya dalam-dalam, namun kepalanya mulai berputar. Matanya berkunang-kunang.

Ia tidak pernah tahu kalau ia akan seperti ini kalau mencium bau darah dalam jumlah banyak secara langsung.

"Sakura?"

Asuma menahan kedua tangan Sakura yang sekarang sedang berpegangan pada kursi makan rumah itu. Sakura menariknya dengan susah payah, lalu duduk di kursi tersebut. Ia meletakkan kepalanya pada meja makan, lalu berusaha untuk mengatur nafasnya.

"Sakura, pakai ini." Ujar Asuma, memberikan kantung kertas yang langsung disambut Sakura dengan perasaan syukur. Gadis itu merasa jauh lebih baik dan sekarang ia menyandarkan kepalanya pada kursi makan yang tinggi. Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan berat.

"Terimakasih." Sakura berterimakasih. "Maafkan aku, ayo kita pergi..."

"Tidak, lebih baik kau disini saja." Ujar Asuma menolak. "Aku akan merekam suaraku sendiri, jadi kau tinggal mendengarkannya dan menulisnya."

Asuma berkeras dan memaksa Sakura untuk tetap duduk disana. Saat ini, Sakura benar-benar merasa dirinya tidak berguna. Mungkin ini alasan Kakashi yang tidak mau membawanya. Pria itu mungkin tahu kalau Sakura benar-benar akan tidak berguna disana dan hanya membuat mereka terbebani.

Sakura berdecak. Ia memandang kamera kecil yang diberikan Asuma sebelum ia pusing tadi, dan memutuskan untuk berkeliling rumah dan mencari-cari sesuatu yang janggal di matanya.

Sakura kembali ke tempat korban kedua berada dan mengambil beberapa foto. Hanya ada beberapa polisi lokal disana––agen lapangan lainnya pasti sudah berpencar dan bertanya kepada beberapa pelayan di rumah tersebut.

Lagi.

Ia kembali merasa mual namun tetap memaksakan diri untuk mencatat. Sakura menggambar posisi mayat tersebut dan menulis segala hal yang dapat ia tulis.

Sakura baru saja ingin melangkah lebih dekat ketika sebuah tangan menahannya.

Kakashi?

"Mundur." Kata pria itu dingin. "Kau tidak boleh terlalu dekat dengan darah."

Sakura melepaskan tangannya sendiri dari ketua teamnya, lalu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, sungguh."

Kakashi melipat kedua tangannya di depan dada. "Masuklah ke dalam mobil."

"Tidak, Kakashi, aku––"

Kakashi tidak menerima penolakan dan segera menarik tangan Sakuar keluar dari rumah tersebut. Ia membawa Sakura ke dalam mobilnya––yang ia kendarai sendirian––dan berhasil membuatnya duduk di dalam mobil.

Kakashi masuk ke dalamnya lalu membawa mobil keluar dari kawasan perumahan itu. Sakura tidak tahu kemana orang itu akan membawanya sampai akhirnya Kakashi berhenti di pinggir jalan begitu saja dan membuka kaca jendela Sakura lebar-lebar.

Sakura menghirup udara dengan hidungnya, lalu tersenyum diam-diam. Ia menyandarkan tubuhnya dan membuka mata. Kakashi sedang memperhatikannya dengan wajah kesal, membuat senyuman yang ada di wajah Sakura segera hilang dan gadis itu kembali cepat-cepat menundukkan kepala.

"Kenapa kau keras kepala sekali?"

Sakura menoleh, lalu kembali menunduk. "Maafkan aku."

"Kau benar-benar merepotkan. Semuanya sudah terlihat dari wajahmu." Kata Kakashi dingin, memutar tubuhnya dan memandang Sakura dengan telunjuk teracung. "Sekarang, keluar dari mobilku dan kembalilah ke kantor dalam diam. Pergilah naik taksi, tunggu laporan dari Asuma dan yang lainnya."

"Aku––"

"Jangan membantah."

Sakura menutup mulutnya kembali dan berdecak pelan. Ia keluar dari mobil Kakashi dan tanpa basa-basi pria itu segera pergi dari hadapan Sakura.

.

.

tbc. r&r? yeah orait.