Bite (Versi Kaisoo)

Pairing : Kaisoo and other

Warning : Yaoi. OOC. OC. Bahasa kasar.

Rating : T ( akan naik ke M kalau terus lanjut)

Summary : Kyungsoo terpaksa menyamar menjadi kakak perempuannya yang baru saja meninggal untuk mendapatkan dana asuransi kesehatan yang dimiliki kakaknya. Bagaimana hari-hari yang dilalui kyungsoo selama masa penyamaranya? /Kaisoo/and other pair.

A/N : Fic ini milik Nymous senpai selaku author originally-nya, Je Ra Cuma mengubah castnya dan sedikit meng-edit aja dan Je Ra sudah mendapatkan izin untuk me-republish fic yang berjudul Bite ini ke Versinya Kaisoo jadi bagi Readers yang mugkin sudah pernah baca fic 'Bite' yang aslinya, Je Ra tegaskan ini bukan Plagiat ne ^^.


Balasan review untuk chap sebelumnya :

Yixingcom: Jongin nya udah muncul kok di chap ini . makasih ya udah review ^^

Sexyruu: untuk siapa yang membunuh para PSK itu akan terjawab di chap depan #nyengir gaje. Makasih ya udah review ^^

Kuku cantik: (O.O)a . Untuk anda saya NO COMMENT aja deh ^^

HeeKyuMin91: Yap, latar dan setting waktunya memang di Era Victoria :D . Makasih ya udah review ^^

Soonice: (O.O). Makasih atas pembelaan dan pujiannya . Hehe, ini udah lanjut kok. Makasih karena udah review ^^ .

Chapter 2

Angin malam semakin menggigit kulit lengan serta kulit leherku ketika berjalan pulang dari kedai itu. Suhu di desa ini benar-benar sangat dingin, lebih buruk daripada di kota. Mungkin karena pepohonannya yang banyak, bahkan bisa dikatakan desa ini berada atau lebih tepatnya ditemboki oleh rimba. Bukan hutan rimba belantara, tapi hanyak sekumpulan dari pohon pinus -atau mungkin cemara namanya- dalam jumlah banyak.

Kulangkahkan kakiku semakin cepat hingga deretan pohon berbentuk kerucut yang kini diselimuti kabut tipis mulai berjejer disisi jalanan berbatu yang tengah kulalui. Ketika jalanan berbatu yang kulalui itu berubah menjadi jalanan beraspal, aku mulai merasa tenang. Jalanan beraspal itu artinya aku sudah berada di pekarang rumahku.

.

Nafas lega keluar begitu saja dari mulutku ketika kasur empuk yang begitu hangat menyentuh punggungku. Gaun panjang berwarna coklat muda ini agak tipis, sepertinya cocok untuk kugunakan tidur malam ini. Aku sangat malas untuk melalukan apapun sekarang, bahkan untuk mengganti baju sekalipun. Aku begitu kenyang dan lelah. Juga sedikit khawatir … atau mungkin … takut?

Kata-kata wanita di kedai tadi tak bisa hilang dari pikiranku semenjak aku meninggalkan tempat itu. Membuatku terlihat begitu konyol, ketakutan saat berjalan pulang untuk sesuatu yang tidak jelas. Mana mungkin ada makhluk seperti manusia yang hidup dengan darah orang lain, berkulit pucat, terbakar jika terkena sinar matahari, takut akan salib, air suci dan bawang putih. Dan hanya bisa dibunuh jika jantungnya ditancap oleh kayu –setidaknya itu yang kuketahui tentang mereka sampai sekarang– eksis di dunia ini.

Jadi, apa sebaiknya aku memasang salib diseluruh penjuru rumah? Mandi dengan air suci? Dan menyiapkan senjata –paku dan palu– untuk berjaga-jaga? Apa itu tidak membuatku makin terlihat konyol? Oh God, yang benar saja?!

BRAAKK

Ketika tubuhku sedang dalam fase nyaman menuju tidur, suara gaduh tiba-tiba mengejutkanku. Terdengar seperti suara pintu depan yang ditendang dengan kasar dan menabrak dinding di belakangnya. 'perampok!' mungkinkah? Rumah ini jelas terlihat menggiurkan dari luar.

Itu pasti perampok! Tapi perampok bodoh dari planet mana yang menyantroni rumah dengan menendang pintu depan?

Sebuah pemukul bisbol yang entah kenapa ada berada di balik pintu kamar ini, segera kusambar begitu saja. Menuruni anak tangga dengan ekstra hati-hati adalah langkahku selanjutnya. Ruang makan dengan karpet merah terang terbentang memenuhi seluruh ruangan, yang berada dibawah meja panjang dengan enam jejeran kursi di sekelilingnya, terlihat tak tersentuh ketika aku sampai diujung tangga. Letak tempat lilin, serbet dan taplak mejanya tidak berubah sejak terakhir aku melihatnya. Ruangan di sebelah adalah ruang tamu, tempat yang kuyakini pintu tak berdosa itu didobrak.

Dengan pemukul bisbol yang ku siagakan keatas hingga sejajar dengan telingaku,, aku melangkah menempel di dinding layaknya penyusup, langkah kakiku terendam oleh karpet merah yang tebal diatas lantas. Setelah memastikan rambut panjang –wig– ku ini tidak menghalangi pandanganku, aku mencoba mengintip dari lubang tanpa pintu di dinding yang menjadi pemisah ruangan ini dan ruang tamu.

Lampu di ruang tamu menyala. Cahaya jingga dari lampu gantung besar ditengah ruangan membuat retina mataku berwarna kuning keemasan ketika aku mengintip. Jantungku seolah berhenti berdetak saat itu juga saat melihat sosok yang tengah berdiri didepan perapian yang dipagari.

Di balik meja tamu yang terbuat dari kayu oak yang berpelintur indah, seorang pria –setidaknya dari arah ini terlihat memakai jas– itu mematung membelakangiku. Siapa dia?! Apa dia berpikir kalau suara yang dapat membangunkan orang sekampung –jika jaraknya dekat– yang ia timbulkan tadi tidak akan cukup untuk membangunkan si pemilik rumah?

Atau mungkinkah ia tau kalau aku sudah terbangun dan tengah mengamatinya dari belakang? Kalau begitu kenapa ia tidak melakukan sesuatu? Menungguku untuk menimbang-nimbang apa harus menghantam belakang lehernya dengan tongkat bisbol atau mengajaknya minum teh dan makan biskuit dulu, begitu?

Kuangkat pemukul kayu itu tinggi-tinggi dan melangkah mendekat dengan perlahan. Tapi langkahku terhenti saat ia membungkuk, memungut sesuatu dari lantai dan kembali berdiri tegap. Diangkatnya tangan yang tadi memungut sesuatu dari lantai itu hingga sejajar dengan kerah jasnya. Katak besar berwarna hijau dengan salah satu mata yang terluka duduk dengan angkuhnya diatas tangan pria itu.

"Froog~" si makhluk lembab itu mengeluarkan suara dan membuka mulut besarnya, pria itu melemparkan kecoak kedalam mulut katak besar berwarna hijau itu.

Makhluk itu lalu melompat turun dan kembali masuk ke kedapur, meninggalkan si pria yang kembali mematung.

Siapa orang ini? Bagaimana ia bisa tau kalau katak itu selalu ada di sini menunggu pemiliknya memberi makan kecoak? Apakah ia teman Sookyung?

"Kau tidak memberinya makan beberapa hari ini. Dia mencari-carimu sejak kemarin, dan sekarang setelah kau pulang kau malah tidak menjamunya sama sekali" ujar sosok pria jangkung dihadapanku ini, membuatku hampir terlonjak mendengar suara baritonnya memecah kesunyian, ia membalik tubuhnya hingga menghadapku dan membuatku terpaku akan sosoknya.

Iri lebih tepatnya. Aku tidak punya wajah se-stoic itu, kulitnya tan eksotis dengan warna rambut dan matanya sekelam malam. Penampilannya rapi, jas tanpa lengan dan tanpa kerah membalut tubuhnya dengan pas diatas kemeja putihnya yang kusam. Kain celanannya juga bagus. Juga sepatunya, sepatu itu seharusnya bersih jika saja ia tidak harus melewati jalan berbatu untuk menuju ke tempat ini.

"Oh, a-aku, umm lupa" jawabku. Jadi dia memang teman Sookyung? Dari cara bicaranya… Tapi, kenapa Sookyung tidak pernah cerita? Oh baiklah, ia memang jarang pulang kerumah jadi kami jarang bertemu dan bercerita. Tapi paling tidak ia bisa menceritakannya saat kami punya kesempatan untuk bertemu bukan? Hal sepenting ini. Dan terlebih lagi, temannya ini belum mengetahui kalau ia sudah meninggal. Apa aku harus memberitahunya? Mungkin ia bisa menyimpan rahasia sampai urusanku dengan pihak asuransi selesai.

"Well, terima kasih atas pintunya." Sindirku .

Ia berbalik menoleh ke arah pintu yang daunnya sudah nyaris putus dengan engselnya itu.

"Aku memang sengaja ingin membangunkanmu." Katanya kemudian.

"Kau bisa mengetuk, kalau boleh kusarankan. Itu sudah lebih dari berisik untuk bisa membangukanku dari dalam rumah yang sepi ini"

Ia menatapku dengan dahi berkerut. Oh tidak, apa kata-kataku membuat aku terlihat sangat berbeda dari Sookyung yang seharusnya? Ia mendekat perlahan.

"Apa kau sedang sakit?" tanyanya.

"Aku baik-baik saja." Tepisku berusaha menjauh dan mengangkat tongkat bisbol yang kupegang kedepan tubuhku, matanya melirik kearah benda itu dengan heran.

"Err, kupikir tadi ada perampok. Masalahnya kau datang sambil mendobrak pintu, jadi kupikir…" ujarku kemudian berusaha menjelaskan.

"Mana ada perampok yang masuk sambil membuat kegaduhan?" tanya balik memotong penjelasanku.

"Aku hanya kaget…"

"Aku akan membantu memperbaikinya seperti yang sudah kulakukan sebelumnya."

"Terima kasih" jawabku sambil tersenyum getir, aku tidak tau apa yang haru kulakukan sekarang, apa yang biasa Sookyung lakukan jika sedang bersama orang ini.

Eh? Tu-tunggu dulu…Mungkinkah alasan Sookyung tidak pernah menceritakan orang ini karena hal itu terlalu privasi dan ia terlalu malu untuk menceritakannya? Apa mungkin..apa mungkin pria ini kekasihnya? Oh tidak!

"Eh,um…" aku harus memanggilnya apa? "…hei, pria aneh.." ujarku canggung, ia berbalik menatapku heran.

"pria aneh?"

"I-iya! Itu nama julukanmu. Itu julukanmu mulai hari ini. Kulitmu warnanya tan, rambut dan juga matamu bewarna hitam,kau aneh tau. Aku akan memanggilmu begitu."

"Kenapa kau harus memberiku nama julukan? Kau biasanya memanggil namaku tanpa protes."

"Se-sekarang beda!" jawabku gugup.

Dia tidak boleh melihat kegugupanku ini dan curiga. "terserah saja, sekarang, apa kau mau kubuatkan teh?" aku berusaha mengalihkan perhatiannya, untuk saat ini aku hanya bisa bersikap biasa saja, aku belum tau dengan pasti dia ini siapanya Sookyung.

"Aku tidak minum teh."

"Kopi?"

"Tidak."

"Bagaimana dengan lemon tea?"

"Aku tidak suka dengan yang manis."

"Kalau susu?"

"tidak, terima kasih."

"Lalu kau ini maunya apa…?!" tanyaku dengan suara yang kutekankan karena kesal.

"Kau tau sendiri apa yang bisa aku konsumsi. Kenapa kau menawariku minuman?"

Matilah aku! Bagaimana ini, memangnya apa yang biasa konsumsi? Tembakau atau apa? Kalau begini terus dia bisa mencurigaiku. "Yah, kupikir kau mungkin mau mencoba yang lain?" kataku sambil berbalik kearahnya sambil memasang senyum bodoh.

Ia kembali melangkah mendekatiku, kali ini ia mendekatkan wajahnya kearahku. Mencoba membuat kontak mata denganku yang berusaha untuk tidak menatapnya. Berkali-kali ia mengikuti arah wajahku dengan wajahnya agar mata kami saling bertemu, tapi aku terus menghindar hingga akhirnya ia mundur.

"Apa kau sakit?" tanyanya untuk kedua kalinya.

"Mu-mungkin iya…" jawabku dengan wajah yang masih kutundukkan. Kurasa ia memang kekasih Sookyung, kalau tidak mana mungkin ia membuat jarak sedekat ini denganku dan berusaha melakukan kontak mata. Seorang teman biasa tentunya akan berada di jarak beberapa meter bukan?

"Kalau begitu pergilah beristirahat, biar aku mengantarmu."

"Ti-tidak usah, terima kasih. Aku bisa sendiri…" tepisku sopan, "Tapi kalau bisa, maukah kau memperbaiki pintu itu sekarang? Aku akan jauh merasa lebih tenang jika pintu itu sudah terpasang kembali."

"Tentu." Jawabnya, "Um, kau tidak keberatan 'kan kalau siang ini aku menginap lagi di sini? Sejak kau pergi kerumah keluargamu aku tidak berani masuk ke dalam karena takut membuat warga curiga jika melihat rumahmu berpenghuni saat kau tidak ada."

Apa dia bilang? Apa aku tidak salah mendengar, menginap? Lagi? Sookyung menampung seorang pria di dalam rumah yang ia huni sendiri? Berdua di dalam satu rumah? Oh, Dear God! Apa saja yang sudah terjadi pada saudariku diluar pengawasan kami?!

"Tentu" kataku. Untuk saat ini aku hanya bisa mengikuti harus. Meminimalkan kecurigaan orang ini sembari aku mencari tau siapa dia sebenarnya.

Ol======*BVKS*======lO

Esoknya aku bangun kesiangan , kamar ini sangat terang. Sekarang matahari pasti sudah sejajar dengan bayangan tongkat yang ditancapkan ketanah.

Sambil merenggangkan tubuh, aku melihat ke sekeliling ruangan. Aku menggaruk-garuk kepalaku, membuatku tersadar kalau aku belum melepaskan wig aneh ini. Oh iya aku lupa. Wig ini tidak bisa dilepas dalam beberapa hari.

Saat aku turun dari ranjang, aku kembali teringat dengan pria semalam dan segera turun untuk mencarinya dan memastikan sesuatu.

Setelah sampai di ruang tamu, kulihat pintu depan sudah terpasang rapi tanpa cacat. Dia sudah memperbaiknya. Pria aneh itu…yang tidak mau ditawari minum apapun. Sookyung tau apa yang bisa ia konsumsi. Kulitnya yang tan namun terlihat pucat. Dia bilang mau menginap siang ini. Siang? Kenapa dia bilang siang?bukannya seharusnya malam?

"Ehehehhh…", aku tertawa nervous tidak jelas, entah kenapa cirri-ciri itu mengingatkanku akan…

.

Tik tok

"Vampire!" Teriakku dengan bodohnya, yang dengan cepat pula kusumbat mulutku dengan kedua tangan rapat-rapat. Aku melirik ke sekeliling ruangan takut kalau-kalau ada yang mendengar.

"fyuuhhh…" Alangkah leganya saat tak kudapati satupun makhluk yang merespon teriakanku siang ini.

"Froogg~"

"HYAAA"

"K-kau membuat jantungku nyaris copot, tau!" gerutuku sambil menunjuk-nunjuk si 'hijau besar' yang tiba-tiba muncul dan bersuara di sisi kakiku.

"Nah, ngomong-ngomong kau lihat kemana pria tadi malam itu, hah?" tanyaku lebih kepada diriku sendiri. Aku celingak-celinguk ke seluruh ruangan dengan ditemani si 'hijau besar' –nama katak peliharaannya Sookyung– yang setia melompat-lompat mengikuti kemana pun langkahku hingga membuatku sedikit tidak nyaman dengan suara dan kehadirannya itu. "Berhenti mengikutiku! Atau kau akan kujadikan dompet! Lebih baik kau menunjukkan dimana tempat orang itu biasa tidur di rumah ini kalau kau ingin sedikit mendapat sikap baik dariku, makhluk hijau!" cercahku.

Binatang lembab bertotol-totol itu lalu melompat masuk ke dalam dapur. Awalnya kukira dia ngambek karena kumarahi terus –aku memang tidak pernah bisa akur dengan dia semenjak saudariku itu memperkenalkan makhluk hijau itu padaku, aku rasa dia juga sudah tau kalau aku bukan Sookyung meskipun aku tidak memperdulikan soal itu– hingga akhirnya hewan itu melompat kedalam sebuah lubang persegi di lantai yang ada di ujung lorong dapur.

"Eh?" sebuah lubang di lantai yang memang di buat sejak awal itu terbuka dan menunjukkan jejeran tangga mengarah ke gudang bawah tanah yang gelap.

"Siapa yang membukanya?"

Karena penasaran aku pun menyisingkan gaun coklat panjang yang kukenakan dan mulai menuruni tangga yang lebih kokoh dari yang terlihat saat ini. Setelah sampai di bawah aku pun menerawang isi ruangan tersebut. Ruangan bawah tanah yang seingatku terakhir kali aku kunjungi saat aku berusia tujuh tahun itu terlihat suram, gelap dan angker. Saat itu aku dengan Sookyung menemukan tempat ini ketika sedang asik bermain petak umpet dengan paman Kris, dan waktu itu ruangan ini masih terlihat seperti tempat tidur yang layak untuk pembantu.

Ruangan ini dulunya adalah tempat tinggal para budak saat nenek masih seusia ibu. Dan sekarang sudah dirombak menjadi tempat penyimpanan jerami untuk kuda-kuda peliharaan nenek, yang kemudian mati karena suatu penyakit. Akhirnya gudang bawah tanah ini pun terbengkalai tapi dengan jerami menguning yang masih terlihat segar dan bertebaran dimana-mana.

Penerangannya sangat minim bahkan di siang bolong seperti ini. Sebuah ruangan dari jeruji besi masih terpajang kokoh di sisi kanan ruangan. Di sana tempat nenek biasa menyimpan tumpukan jerami yang sudah diikat. Sebenarnya ada pintu masuk lain ke dalam gudang ini yang akan tembus ke halaman belakang, tapi sekarang sudah ditutup rapat. Jadi satu-satunya jalur ke tempat ini adalah melalui lubang di dapur tadi.

Aku melangkah perlahan ke ruangan berjeruji besi itu, tempat dulu budak dikumpulkan. Tumpukan jerami yang bertebaran di lantai membuat langkah kakiku terendam, tapi membuatku harus menjinjing gaunku saat berjalan karena akan membuat suara berisik ketika kain panjang itu menyapu jerami kering di bawahnya.

Kenapa aku harus mengendap-endap di gudang bawah tanah yang sepi, gelap, berantakan terlihat seram ini…? Itu karena aku melihat sosok yang entah kenapa aku merasa adalah orang yang sama dengan pria yang datang tadi malam tengah tertidur dan terdengar mendengkur dengan tenang di dalam jeruji besi di sana, di atas tumpukan jerami yang telah diikat kotak-kotak. Sosok itu tidur terlentang namun dengan wajah yang menghadap tembok hingga aku tak dapat melihat wajahnya.

Eh, kenapa juga aku harus melihat wajahnya? Bodoh!

Ah! Aku kesini 'kan untuk memastikan dia ini manusia atau bukan…um, moodku jadi horror hanya dengan memikirkan itu.

Tu-tunggu dulu, biar kita susun dulu tuduhannya. Err, dia…Dia berkulit pucat? Oke, check list. Takut dengan matahari? Um, sejauh ini…melihat dari kondisi ruangan yang ia tempati tidur dan kata-katanya yang bilang ingin menginap siang, okeh, mungkin bisa di-check list juga.

Kudengar kalau vampir punya kulit yang sangat dingin…bagaimana dengan itu?

Apa aku harus memeriksanya…?

GLUP

Setelah aku berada didekatnya, dengan tubuh yang sedikit gemetar, aku mulai menggerakkan tanganku untuk menyentuh tangan kanan yang ia lipat diatas tubuhnya.

"Ada apa?"

"Eh?" gawat! Ia terbangun! Bagaima bisa aku baru menyadari pergelangan tanganku ternyata sudah ada dalam genggaman pria ini sekarang?!

"AH! Maaf aku tidak bermaksud untuk membangunkanmu…aku hanya..hanya..em, ingin mengajakmu sarapan!" seruku spontan dengan berniat sekaligus menepis tanganku darinya, tapi ternyata dia malah tidak melepaskannya.

Wuah! Oh God jangan matiin aku sekarang! Batinku dengan menutup mataku rapat-rapat.

"Sarapan, ya…?"gumam suara baritone itu lalu melepas genggaman tangannya. Aku terkejut mendengarnya dan membuka mataku.

Pria ini bangkit dari tempat tumpukan jerami yang digunakannya untuk tidur, ia berdiri dihadapanku dan menatapku datar. Kulitnya tan namun terlihat pucat dengan kelamnya helaian rambutnya masih terlihat mempesona sejak pertama kali aku melihatnya. Matanya pun masih tetap sehitam malam tapi..aku yakin, barusan..meski hanya sekejap aku sangat yakin iris mata itu tadi bewarna merah menyala..merah seperti darah. Aku tidak mungkin salah lihat.

Di dalam ruangan yang gelap seperti ini, cahaya kecil dengan warna semencolok itu pasti akan sangat melekat jelas dalam ingatan yang melihatnya walau sekejap apapun kemunculannya.

"Bisakah kau duduk? Tempatmu berdiri membuatmu terlihat terlalu bercahaya untuk mataku." Ujuarnya lagi padaku.

Kuarahkan mataku ke arah ventilasi kecil yang berada tepat berada diatas jeruji besi ini. Tempat satu-satunya cahaya matahari berhasil masuk berhasil merembes masuk kedalam ruang bawah tanah yang gelap ini. Bias cahaya dari luar itu jatuh tepat di tempatku berdiri, membuatku terlihat bercahaya bak malaikat bermandikan cahaya. Menyadari betapa terangnya diriku, aku pun mengikuti sarannya untuk duduk di atas tumpukan jerami tempat ia tidur tadi, dan ia pun ikut duduk di sampingku.

"Sookyung.." gumamnya pelan namun masih terdengar olehku.

Aku menoleh, masih dengan wajah bingung dan alisku yang berkerut karena belum benar-benar yakin dengan apa yang kulihat tadi.

"Kau baik-baik saja kan? Kau bertingkah seperti baru pertama kali bertemu denganku. Apa kau mau cerita sesuatu?" tanyanya kemudian. Ia mengarahkan tangannya kewajahku dan menyentuh pipiku dengan lembut membuatku terhenyak di tempat.

Awalnya kupikir saat ia menggenggam tanganku tadi suhu dingin yang kurasakan itu berasal dari diriku sendiri yang sedang sangat gugup. Tapi, setelah tangan yang sama menyentuh wajahku aku jelas tidak bisa membodohi diriku lagi. Tangannya..sedingin lantai marmer di malam hari, kokoh namun dingin. Seolah tidak ada darah yang mengalirinya berjam-jam, membuatku semakin bergidik saat ia mulai mengelus pipiku pelan.

"H-hei..pria aneh, kau.." sahutku berniat menepis tangannya itu, tapi sebelum aku melakukannya ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke depan wajahku sampai aku bisa bercermin di permukaan iris matanya. Jarak ini terlalu dekat….

"Kai, Kim Kai…berhenti memanggilku pria aneh, Sookyung.." bisiknya lembut. Benar-benar membuatku semakin menggigil apalagi ditambah tangannya yang sedingin es itu masih menempel di pipiku.

"K-kai..okehh aku mengerti, ehehe, baiklah." Sahutku berusaha 'menghangatkan' situasi. Ia menjauhkan tangannya yang seperti 'balok es' itu dari wajahku setelah mendengar perkataanku.

"Sookyung, tadi kau menawariku sarapan, bukan?" gumam Kai yang lalu menempelkan tangan dinginnya ke pipiku. Lagi?!

Dan lagi-lagi ia mendekatkan wajahnya berbisik dengan lembut nyaris seperti desahan, "Aku lapar karena kau membangunkanku dari tidurku.."

Aku meneguk ludahku dengan sangaaat susah saat kurasakan ibu jari dari tangannya itu mengelus-elus pipiku. Sumpah ingin rasanya ku tendang si 'orang aneh' ini sekarang juga kalau saja itu tidak akan membuat penyamaranku terbongkar.

Keterkejutan dan kegugupanku bertambah parah karena si Kai di hadapanku ini mulai mengelus-elus leher dan bahuku dengan santainya tanpa melepaskan pandangannya dari wilayah-wilayah yang dilewati oleh telapak tangannya itu. Dan tiba-tiba kemudian ia menarik lengan bajuku dengan kasar hingga kini bahu kiriku terekspos menggoda.

"H-hei! Apa yang kau lakukan" protesku sambil berusaha menjauhkan tubuhnya yang mulai merapat ke arahku.

Tapi apa daya tubuhku yang tidak terlalu kekar menjadi kelemahanku dan membuatku dengan mudah didorong begitu saja hingga terbaring setengah duduk di atas tumpukan jerami.

"Kai apa yang mau kau lakukan?!" tanyaku dengan panik saat sosok yang berwajah dingin itu mulai bergerak ke atasku.

"Kau sudah terlalu lama pergi, aku sudah tidak bisa menahannya lagi sekarang," gumamnya lalu mulai mendekatkan wajahnya lagi ke arahku.

Aku tidak yakin dengan situasi apa yang sebenarnya kuhadapi sekarang ini. Setelah untuk yang kedua kalinya aku melihat kilat berwarna merah menyala dari matanya, aku tidak bisa melihat apa-apa lagi selain…taring.

TBC

Ah, maaf ya readers kalau Je Ra kelamaan update-nya, padahal fic ini hanya fic remake doang T^T. Makasih buat reader yang mau reaview di chap sebelumnya.^^

Untuk chap ini adakah yang bersedia untuk member reviewnya lagi? ^^