Title: I Don't Give A Damn
Author: Annannnn
Chapter: 1/3
Starring: Huang Zitao, Wu Yi Fan, Wang Darren, Wang Li Kun, Xi Luhan, Zhang Yixing, etc
Pairing: YifanTao, slight MyunXing, slight Hunhan
Rating: M
Genre: romance, angst, humour
Disclaimer: I have a great power upon my fanfic and this story undeniably mine to post and edit. You have no rights to copy and change the storyline under any circumstance. I choose to ignore their real age gaps or hometown and create my own timeline. Yes, I'm that kind of people. Deal with it.
Warning: AU. Contemptuous!Kris, Sassy!Tao, Pedo!Kris
This story contains GAY THINGS. Man and man making out, and being sweet to each other. There are some cursing and Pokémon Go reference because I just like it. You've been warned.
.
Chapter 1— Go Catch 'Em All!
.
Seorang pria berkemeja Giorgio Armani hitam berusia hampir kepala tiga melangkah keluar dari Porsche hitamnya, menapaki tangga rumahnya dan membuka kunci rumahnya. Ia melenggang memasuki ruang TV yang simpel dan modern dengan warna hitam dan putih tanpa adanya banyak pigura selain lukisan abstrak hadiah dari salah seorang kliennya. Sebuah sofa kulit hitam terlihat bersih dari debu tempat ia menyarangkan tas kerjanya, beranjak menuju dapur untuk meminum sekaleng bir dingin dan bersandar di pantry yang mengkilap sehabis dibersihkan weekly cleaning service yang dibayarnya. Dia memang tidak suka bersih-bersih, jadi setidaknya ia menyewa weekly cleaning service yang datang seminggu 3 kali untuk membersihkan rumah besarnya yang hanya ditinggali olehnya seorang diri.
Sebagai seorang yang bekerja di sebuah firma hukum, pria pirang ini merupakan orang yang sangat terorganisir dengan agenda yang padat setiap harinya. Ia orang yang ambisius dan cenderung workaholic hingga terus-terusan mengambil jatah lemburnya meski atasannya sudah melarangnya. Hingga hari ini atasannya memaksanya untuk pulang tepat waktu, jika tidak ia tidak diizinkan memegang kasus-kasus selama sebulan ke depan dan hanya mengerjakan pengumpulan data yang menjemukan tanpa ada tantangan berarti. Hal ini membuatnya mendesah kesal dan patuh untuk pulang ke rumahnya yang sepi tanpa ada hal yang harus ia kerjakan.
Sebenarnya selain karena ambisinya untuk sukses dan bersikap profesional, ada hal lain yang memicunya untuk terus-menerus bekerja lebih tanpa henti. Memicunya untuk mengalihkan perhatian dan pikirannya kepada hal lain yang lebih berguna dan produktif. Sudah dua tahun belakangan ini ia menahan diri tanpa berkata pada siapapun. Tidak kepada orang tuanya yang begitu khawatir akan kondisinya saat ini, tidak juga kepada sahabatnya sesama pengacara di firma yang sama maupun kepada psikiater yang pernah ia kunjungi dua tahun yang lalu. Tapi tanpa perlu ada sepatah kata yang meluncur dari mulutnya, semua orang bisa merasakan perubahan drastis pada dirinya. Senyum benar-benar tak pernah terulas di wajah tampannya yang begitu dingin dengan sorot mata angkuh tak terjamah. Menyedihkan.
Pria itu merasakan IPhone-nya bergetar di saku celananya, ia merogohnya dan melihat caller ID yang sangat dikenalnya. Memutar kaleng birnya perlahan, ia mengangkat panggilan tersebut. "Kris, kau sudah sampai rumah?" suara Yixing, teman sekantornya yang seharian mengurusi persiapan persidangan untuk sebuah perusahaan yang terbukti mencemari lingkungan. pria yang dipanggil Kris itu meneguk habis birnya.
"Ya, kau perlu apa lagi?" Kris meremukkan kaleng kosong tersebut dan melemparnya ke keranjang sampah, tangannya melonggarkan dasi merah tuanya selagi mendengarkan dengan seksama permintaan Yixing untuk menelusuri kembali tuntutan dari pihak organisasi aktivis lingkungan hidup. Tuntutan organisasi itu dirasa janggal dan Kris, sebagai salah satu partner Yixing mendapat bagian sebagai backing-nya sementara ia menangani pembuatan kontrak kerja antar dua perusahaan yang baru ia terima pagi itu. "Oke, aku akan memberikannya padamu besok pagi, sidangnya jam satu siang 'kan?" Di saat ia berjalan ke kamarnya, manik matanya menangkap sosok seseorang memanjat pagar belakang rumahnya dengan tergesa.
Mata Kris melebar dan perlahan ia mendekati sliding glass door yang memisahkan jarak antarnya dan penyusup yang memakai hoodie hitam itu. Telepon dari Yixing ia matikan, dimasukkannya kembali IPhone-nya ke dalam saku dan manik mata coklat keemasannya memperhatikan gerak-gerik sang penyusup yang mengendap ke salah satu sudut tamannya yang ditata indah penuh bunga mawar dan daisy yang menguncup di petang yang masih cerah ini. Pria itu membuka sliding door perlahan, memakai sandal karet yang selalu setia di beranda kemudian mendekati orang yang mencurigakan tersebut.
"Hei," serunya dengan suara dinginnya yang seperti biasa. Penyusup itu terlihat kaget dan menoleh, terima kasih atas sinar matahari yang masih begitu terang, ia bisa menangkap dengan jelas wajah orang itu, seorang remaja lelaki berambut hitam kelam dengan wajah Asia. "Apa yang kau lakukan di tamanku?" matanya menajam. Sebelum ia sempat berkedip, penyusup itu berusaha melompat kembali keluar dari tamannya dengan jalan yang sama. Kris berusaha menyambar loose hoodie yang dipakai penyusup tersebut. Tangannya menangkap hoodie-nya dan ia menariknya sekuat tenaga menyebabkan remaja itu jatuh terjerembab ke rumput hijau cukup keras.
Remaja lelaki itu mengerang dengan posisi tengkurap, ia mengaduh saat Kris berusaha menariknya bangun. "Bangun. Siapa yang mengizinkanmu masuk ke wilayahku, berandal kecil?" Pria itu melihat sebuah tas selempang dengan merk Gucci terlempar dengan isinya yang berserakan keluar. Sebuah tempat pensil berwarna biru, charger dan power bank, sekaleng jus semangka, dan dua buah modul Bahasa Inggris yang membuatnya mengernyitkan dahi. "Jawab aku," titah Kris pada remaja yang menunduk memegangi tangan membelakanginya. Kesabaran Kris mencapai puncaknya. Ia berjongkok, menyentak remaja itu hingga berhadapan dengannya.
Batin Kris tersentak mendapati mata remaja lelaki yang memiliki kantung mata lumayan gelap itu berkaca-kaca. Ekspresinya melunak, bagaimana pun kesalnya dia, tak seharusnya ia membuat seorang remaja ketakutan. Mata itu terlihat seperti mata putrinya ketika ia bersikap tegas padanya, memelas. Kris merasa sedikit bersalah. "Kau tidak apa-apa? Maaf aku terlalu kasar." Ia melepas pegangannya dan berhenti sejenak saat anak itu membuka mulutnya untuk menjawab.
"Aku… tanganku lu-luka," jawab remaja itu dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dengan aksen Mandarin yang kental menyadarkan Kris bahwa mungkin saja jika anak ini tidak terlalu menangkap bahasa yang ia gunakan. Kris terdiam saat melihat anak itu mengangkat tangan kirinya perlahan, menunjukkan luka menganga dengan darah yang membanjir menetesi hoodie-nya. Kris memang terkenal arogan dan dingin, tapi bukan berarti ia tidak punya hati.
Ia sempat terpaku melihat bibir merah berbentuk cupid bow anak itu bergetar. Pria itu terkesiap, sepertinya ia sudah terlalu lama berkutat dengan pekerjaannya tanpa bertemu seseorang secara normal. "Kau mau masuk ke rumahku?" ia menyesali perkataannya yang terdengar ambigu itu saat melihat mata anak itu melebar ketakutan, bulu matanya terlihat jelas dengan alis sempurna yang terangkat naik. Apa anak ini membentuk alisnya ya?
"Untuk mengobati lukamu, itu terlihat cukup parah," jelasnya dengan bahasa Inggris yang sederhana membuat anak itu mengangguk mengerti. Pria itu bangkit berdiri sedangkan remaja lelaki itu memunguti barang-barangnya yang terserak, memasukkannya dengan sedikit kesulitan ke dalam tas. Sebuah garpu taman yang terletak di tanah tak jauh dari tempat anak itu jatuh berlumuran darah yang tak sedikit. Ah, Kris meringis sedikit akan luka di tangan anak tersebut.
"Duduklah." Kris mempersilakan anak itu duduk di sebuah bangku di dekat grand piano berwarna putih. Anak itu menurut, duduk diam dengan punggung tegak setelah melepas sneakers-nya, mengagumi grand piano yang berdiri dengan anggun, sedikit melupakan tangannya yang nyeri sementara tangan kanannya masih memegangi IPhone-nya. Ia beringsut sedikit saat Kris datang dengan kotak first aid di tangannya. Pria pirang itu menarik sebuah bangku yang senada dengan yang ia duduki dan duduk di hadapannya. "Kemarikan tanganmu."
Dengan ragu anak itu mengulurkan tangannya yang masih meneteskan darah segar. Ia meringis sedikit, menggigit bibirnya saat Kris membersihkan lukanya dengan alkhohol. "Pelan-pelan," ujarnya lirih, mukanya memerah sedikit menahan sakit. Pria itu membersihkan luka dengan cermat sebelum menyemprotkan bactine spray, menekan lukanya sampai darahnya membeku kemudian membalut luka tusukan itu dengan kain kasa sebelum menempelkan elastoplast untuk menahannya.
"Terima kasih." Remaja itu menunduk ketakutan, memegangi tangannya yang terluka dengan hati-hati sementara pria tersebut mengembalikan kotak ke tempatnya di dekat dapur. Kris kembali masih memasang ekspresi yang sama, mengamati postur tubuh anak itu yang sedikit membungkuk menyembunyikan wajahnya. Jika diamati lebih lanjut, anak itu terlihat terawat dan tidak seperti anak jalanan yang berniat mencuri, tas Gucci dan IPhone itu sudah mengatakannya dengan lantang, belum lagi rambut hitamnya yang berkilauan, sekilas Kris bisa mencium samar parfum Yves Saint Laurent yang ia kenali kadang berasal dari teman kantornya.
Kris membuka suara. "Kenapa kau berada di pekaranganku? Kau tidak mau mencuri 'kan?" tanyanya tajam.
Anak itu terlihat bimbang. "Pokémon…" sahutnya pelan. "Aku berburu pokémon, sir," jelasnya lagi.
Hening menyelimuti mereka. Kris masih mencerna perkataan anak itu. "Hah?"
"Aku mau menangkap Charizard di pekaranganmu. Charizard itu pokémon dari generasi satu," jelasnya membuat pria itu makin bingung. Maksudnya, pria itu tahu apa itu Pokémon, sebuah game keluaran Nitendo di awal milennium, Kris ingat dulu ia sempat memainkannya bersama, Billy, adiknya yang keranjingan game sebelum akhirnya ia tidak terlalu berminat dan serius belajar. Hanya saja ia tidak mengerti hal apa yang dibicarakan anak ini.
"Kau tidak tahu Pokémon Go?" tanya remaja itu setengah tidak percaya. Pria itu mengedikkan bahu sedikit kemudian remaja di hadapannya menunjukkan sebuah aplikasi di IPhone S6-nya. "Ini permainan Pokémon hunting seperti yang dulu pernah ada di Nitendo. Lihat, aku berhasil menangkap Charizard, aku mengejarnya sejak dari Oakridge. Ternyata dia berdiam di pekarangan rumahmu, maafkan aku, sir." Ia menunduk lagi.
Kris terdiam lagi. "Kau mengejarnya dari Oakridge? Sampai ke sini? Ke Shaughnessy? Memangnya kau tidak pulang ke rumah?" Hei, jarak dari Oakridge ke Shaughnessy cukup jauh, harus melewati dua jalan besar dan pertokoan serta perkantoran.
Remaja itu menggeleng, "Belum, sir, aku habis dari sekolahku, ada English summer course."
Pria itu mendesah, kesal karena anak zaman sekarang melakukan perbuatan ilegal hanya demi sebuah game. "Memangnya di mana sekolahmu juga rumahmu? Dan bagaimana kau bisa sampai di sini?"
Anak itu menggigir bibir bawahnya lagi. "Ung… aku bersekolah di Sir Winston Churchill. Aku tinggal di Oakridge dan aku ke sini berjalan kaki." Mendengar itu Kris terpaku lagi. Kris meralat ucapannya, anak zaman sekarang luar biasa. Hanya demi sebuah game mereka rela menempuh jarak lumayan jauh dengan hanya berjalan kaki, dan memasuki kawasan pribadi tanpa izin. Sungguh luar biasa generasi muda kini.
"Kau rela berjalan kaki dari Oakridge sampai Shaughnessy demi menangkap Pokémon?" anak itu mengangguk lemah mendengar nada suara Kris yang meninggi. "Kau waras tidak sih? Kau bahkan melakukan perbuatan ilegal dengan masuk ke rumah orang lain tanpa izin, aku bisa melaporkanmu ke pihak berwajib." Anak itu berjengit dan menunduk makin dalam. Salahnya sendiri terlalu berkonsentrasi pada jumlah pokéball yang menipis hingga ia terburu-buru melompat masuk tak memperdulikan akibatnya, niatnya untuk mampir ke Pokéstop di sebuah restoran yang sempat ia lewati pupus sudah.
"Hei aku bicara padamu, kau punya mulut untuk menjawab, bukan?" sergahnya lagi.
"I-iya, sir, maafkan aku. Aku mohon jangan melaporkanku, aku tidak bermaksud begitu," suaranya mengecil menyiratkan nyali pemuda itu makin menciut. Tangannya berkedut-kedut menyakitkan lagi. Sepertinya ia menggenggamnya terlalu keras saking takutnya.
"Siapa namamu? Biar kuantar ke rumahmu dan kuberi tahu orang tuamu atas perbuatanmu," Kris meraih kunci mobil yang ia taruh di nakas.
"Aku Tao," cicitnya memandangi pola lantai putih bersih tempat kakinya menapak penuh minat.
Tak sampai setengah jam setelah melewati kemacetan yang tak terlalu panjang, mereka sampai di kawasan Oakridge yang hampir setengahnya penghuninya memakai bahasa Mandarin. Kris membelokkan Porsche-nya memasuki sebuah pekarangan indah yang dikelilingi rumpun poeny, dan mawar mini berbagai warna. Pria pirang itu menekan bel yang terpasang di sebelah pintu sementara Tao bersembunyi di belakangnya dengan takut-takut. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah kakak sepupunya mendapatinya memasuki rumah orang lain yang jaraknya hampir lma kilometer dari rumahnya.
Pintu dibuka, dan Tao makin mengkeret di belakang tubuh jangkung Kris. "Selamat malam, saya Wu Yi Fan dari Shaughnessy," pria itu memperkenalkan diri. "Saya menemukan anak Anda di pekarangan saya dan berbaik hati memulangkannya dengan selamat," ujarnya sarkastik.
"Kris?" sebuah suara mengagetkan ketiga orang di ambang pintu tersebut dan mereka melihat kea rah dua orang pria yang terlihat sama terkejutnya. "Sedang apa kau di rumahku?" Kris melihat seseorang yang sangat dikenalnya memegang sebuah kantung coklat yang penuh bahan makanan sementara seorang pria berambut cepak di belakangnya memegang dua kantung lain dan menutup pintu mobil dengan lututnya. Rasanya Tao mau lari dari sana.
"Yixing?" Kris menatap seorang wanita Asia paruh baya yang membukakan pintu dengan linglung kemudian balas menatap pria berambut coklat tersebut. "Aku… ini Tao, ia anak yang kutemukan di pekaranganku petang ini dan sekarang aku mengantarkannya ke rumah." Wanita itu membantu mereka membawa barang belanjaan ke dalam sementara Yixing membawa mereka ke ruang tamu dengan aksen krem dan coklat yang apik dengan setangkai lili segar di meja.
Selama Kris menjelaskan perihal Tao kepada Yixing dan seorang pria yang ia ketahui sebagai tunangannya bernama Suho itu, sang anak yang disebut-sebut hanya menunduk membisu di sebelahnya. Satu-satunya pria berambut coklat di ruangan itu menatap Tao dan mendesah sedikit. "Maafkan sepupuku, Kris, dia terlalu larut dengan game itu sejak kemarin. Awalnya aku merasa ia akan baik-baik saja dan paham untuk tidak melanggar hukum, ternyata aku berharap lebih," nadanya sedikit menuduh pada remaja yang terlihat ingin membela diri. "Sebagai permintaan maafku, bagaimana dengan makan malam? Bibi Martha sedang memasak kaserol dan chicken buffalo, itu kesukaanmu 'kan?" bujuknya.
"Tapi dia membuat tanganku terluka, gege," protes Tao mengacungkan tangannya yang diperban, darah terlihat membasahi tangannya.
"Kau tetap salah, Tao," tukas Suho tajam dan remaja itu menunduk lagi, menggigiti bibirnya dengan cemas. Bagaimana jika mereka menyita NDS-nya? Handphone-nya? Atau mengurungnya selama musim panas kecuali ke sekolah? Ia takut tidak bisa memainkan Pokémon Go lagi.
"Ma-maafkan aku, sir." Tao membungkuk ke arah Kris kemudian kembali menelusuri pola taplak meja di hadapannya.
"Kau cukup memanggilku, Kris, dan aku memaafkanmu. Tapi apa yang kau lakukan itu berbahaya, bisa saja pemilik rumah yang kau masuki benar-benar menyeretmu ke kantor polisi," Kris menasihati. Ada saja hal yang menguji kesabarannya, mendobrak rutinitasnya yang hanya berkisar kerja, bertemu klien di restoran, dan sesekali ke gym atau club yang sekarang rasanya sudah tak pernah ia lakukan lagi semenjak orang itu pergi dengan anaknya.
Pria pirang itu berakhir dengan makan malam di rumah yang ia ketahui milik Suho dan Yixing yang baru pindah dari kawasan Yaletown dan memutuskan untuk tinggal bersama di Oakridge di jantung kota. Tao adalah adik sepupu Yixing yang datang dari Qingdao sejak dua bulan yang lalu dan akan masuk ke Sir Winston Churchill musim gugur ini.
Ia pulang melewati lampu jalan yang mulai menyala dan langit senja kemerahan sementara jam di dashboard mobil menunjukkan pukul tujuh malam. Sesampainya di rumah pria itu mandi, memakai t-shirt hijau pupus dan sweat pants. Mengambil notebook, ia mengerjakan kasus yang akan disidangkan besok pagi dan mengoreksi kontrak yang akan ia berikan besok. Jika badannya lelah, vitamin tersedia di kulkas untuk membuatnya terjaga, besok pagi ia akan mampir ke Starbucks membeli bagel dan latte untuk sarapan. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang.
~†~†~†~
Chaos. Satu kata yang melambangkan hari itu. Yixing tidak berhasil memenangkan kasusnya meski perusahaan yang ia bela telah memiliki bukti otentik jika mereka memiliki izin untuk membuang limbah yang telah diproses. Mereka terpaksa mengeluarkan dua belas juta CAD untuk pembangunan fasilitas pengolahan baru yang lebih canggih dan sesuai dengan standar internasional yang diperbaharui awal tahun ini. Wajah Yixing suram, sedangkan Kris memerah marah memaki pekerjaan karyawan magang yang tidak becus mengurus berkas yang berujung hampir hilangnya koneksi dengan sebagian klien penting. Kerjaan Kris seharian itu menyumpahi orang, dan sebagai kepala divisi, tidak ada yang berani menyanggahnya. Berulang kali Kris mengoreksi pekerjaan setiap orang yang dinilainya kurang. Dibentaknya seorang karyawan yang teledor meninggalkan berkas yang baru di-copy hingga menumpuk, dicacinya pengacara baru yang gagal menyelesaikan kasus hanya karena gugatan sepele. Hari itu semua orang tegang dan bisik-bisik tak terdengar sedikit pun. Lorong terlihat sepi dari karyawan yang biasanya berlalu-lalang untuk bertemu klien atau ke divisi lain untuk memberi hard copy.
Kris melewati sebuah restoran kecil di ujung jalan besar. Restoran keluarga dengan masakan rumahan khas Italia dengan suasana hangat yang menenangkan. Ia memesan jalapeno calzone dan pasta alfredo yang menjadi menu favoritnya, selagi menunggu ia menenggak martini yang baru diantar. Satu persatu pengunjung mulai meramaikan restoran, tentu saja, ini sudah memasuki jam makan malam. Kris menikmati calzone berisikan lembutnya mozzarella dan gurihnya ricotta bercampur dengan pedasnya paprika serta potongan daging berlumur jalapeno dan pasta tomat. Sebuah suara mengusik ketenangannya, ia meneguk martini-nya, meminta segelas air kepada seorang pelayan yang tengah lewat. Telinganya menangkap suara yang ia kenal.
"Aku sudah mendapat Raichu," seru suara yang baru ia dengar kemarin sore. "Restoran ini memasang lure jadi aku ke sini dan voila, Raichu menungguku," jelas suara bersemangat itu pada seorang pria bertopi hijau yang tengah memandangi ponselnya. Kris tak mau ambil pusing tapi ia penasaran dan menoleh ke arah mereka. Ia menemukan Tao, remaja yang kemarin sembarangan menyambangi pekarangan rumahnya kini sedang duduk bersama tiga orang remaja lain dan dua orang pria yang saling berbagi mengenai jenis pokémon apa saja yang sudah mereka tangkap dan evolusi. Mau tidak mau Kris membuka kenangannya akan adiknya, Billy yang sekarang bekerja di Quebec, dulu mereka sama-sama sering memainkan Pokémon di Nitendo dan memimpikan petualangan seru seperti di dalam game. Mimpi yang terdengar menggelikan, tapi kini di tahun 2016, mimpi itu terwujud. Sungguh perkembangan zaman yang membuat Kris kagum, pasti di Quebec sana Billy melakukan hal yang kurang lebih sama, bermain Pokémon Go.
Pandangan mereka bertemu dan wajah Tao memucat, ia menunduk menyibukkan diri memakan gelato-nya hingga berantakan menempel di pinggir bibirnya. Tangan Kris berhenti mengaduk pasta alfredo dan menyaksikan sebuah tangan milik seorang pemuda menyekanya pelan. Pemuda Asia dengan rambut hitam legamnya sedikit berantakan, kulit tan, mata tajam seperti rubah dan bentuk wajah yang familiar. Kris kenal wajah pemuda itu dan seember air dingin terasa disiramkan ke atas kepalanya. Wang Darren, adik dari mantan istrinya, Wang Likun.
Dengan cepat Kris menghabiskan makanannya, membayarnya kemudian meninggalkan tip. Ia tergesa terpaksa melewati meja tempat Wang Darren duduk yang berada tepat di dekat pintu masuk. Bisa dirasakan tatapan menusuk punggungnya itu membuatnya merinding. Setengah sadar pria itu melajukan mobilnya hingga sampai di rumahnya yang masih saja sepi dan lengang tanpa ada lagi suara tawa putrinya yang ceria, tanpa ada dentingan piano yang menyemarakkan sorenya, tanpa ada suara langkah kaki menyambutnya pulang. Tanpa ada kehangatan sebuah rumah yang sempat ia raih.
Langkahnya membawanya mendekati grand piano yang dulu sering dimainkan Sophie, putri kecilnya, permatanya yang paling berharga yang kini tidak ada di sisinya. Ia menunduk, mencoba memainkan sebuah lagu yang pernah Likun ajarkan padanya dan Sophie, Dance of the Sugarplum Fairy gubahan Tchaikovsky dari pertunjukan balet The Nutcracker. Sophie menyukai balet dan sudah melakukannya sejak duduk di taman bermain, darah seni dari Likun yang seorang aktris mengalir di tubuhnya. Suatu kali mereka menonton pertunjukkan The Nutcracker yang digelar di Vancouver dan putri kecilnya yang polos jatuh cinta teramat dalam. Putrinya memohon pada Likun untuk memainkan gubahan itu selagi ia menari dengan anggun dan lincah mengikuti tempo musiknya, benar-benar malaikatnya yang cantik.
Kris memejamkan mata melarikan jemari panjangnya di atas tuts hitam dan putih, menciptakan bunyi yang indah menggema memenuhi ruangan yang sepi. Putri kecilnya yang memakai sepatu balet berwarna soft pink dan baju balet berwarna biru tua untuk pemula menumpukan kakinya pada posisi en pointe, berputar anggun di atas lantai putih mengkilap dengan senyum cantik yang terpatri di wajahnya. Rambut sepinggang sewarna mahoninya berkibar indah meski itu bukanlah hal yang lumrah dilakukannya saat latihan maupun tampil, tapi Sophie membiarkannya seperti itu jika sudah pulang ke rumah. Tangan Kris membeku, matanya nyalang memandangi pantulan wajahnya di permukaan mulus grand piano. Wajahnya yang sendiri. Likun melarangnya menemui Sophie, satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya setelah Likun memutuskan ikatan pernikahan mereka dan pindah ke Inggris membawa Sophie bersamanya.
Ia ingat saat dirinya nelangsa menangis mengemis kepada Likun untuk membiarkan Sophie bersamanya. Pria itu selalu memanjakan Sophie dan berusaha membahagiakannya di sela kesibukannya. Membawanya ke Historical Museum di hari Sabtu, taman bermain di hari Minggu, membelikannya satu set Barbie and The Nutcraker, menghadiahinya gaun-gaun indah, setidaknya dua kali seminggu membawanya pergi ke restoran keluarga dengan berbagai macam gelato dan strawberry shortcake favoritnya. Kris ingat ia hampir menabrak seorang pejalan kaki ketika dirinya pulang dari persidangan perceraian antaranya dan Likun, melihat wajah putrinya—darah dagingnya untuk terakhir kalinya tanpa mengucapkan perpisahan yang pantas sebelum benar-benar tak ada kontak secuil pun selama dua tahun ini.
Apakah Sophie masih mengikuti kelas balet yang ia cintai? Bagaimana sifat Sophie sekarang? Seberapa tingginya Sophie sekarang? Masihkan ia menangis ketika tidak mendapat es krim kesukaannya? Masihkah ia memilih pink untuk semua pakaian dan aksesoris yang ia kenakan? Masihkah ia takut akan gelap dan tidur memeluk Mr Carrot, boneka kelincinya? Masihkah ia ingat akan dirinya, daddy-nya?
Perlahan Kris menutup grand piano tersebut, memasuki kamarnya yang luas tanpa ada sentuhan koleksi personal selain sebuah pigura di mana ia memeluk Sophie, mereka berdua sama-sama tersenyum lebar ke kamera, dan satunya adalah foto Sophie di depan gerbang China Town dengan cheongsam pink-nya. Senyum terulas tipis di wajah Kris. Pria itu menyegarkan diri, memakai t-shirt hitam dan sweat pants-nya kemudian menyalakan notebook-nya. Malam masih panjang, masih banyak pekerjaan yang dapat dilakukan untuk mengentaskan pikiran liarnya mengepak koper dan terbang ke London mencari Likun dan Sophie yang jelas-jelas akan menolak kedatangannya. Dia butuh espresso dengan sedikit susu, maka kerjaannya akan selesai dan ia dapat tidur jam dua pagi sebelum bangun kembali jam setengah tujuh, bersiap dan beranngkat masuk ke kantor pukul delapan kurang lima belas, mengulangi lagi rutinitasnya selama dua hari ke depan kemudian mengurung diri di rumah selama akhir pekan. Terdengar menyenangkan.
.
.
To be continue…
.
.
Note: Iya, sayamau main Pokémon Go tapi handphone tidak memungkinkan jadi dilampiaskan ke fanfic. Saya mah gitu orangnya.
Seperti yang kita dengar, ada masalah antara China, Filipina, dan Vietnam tentang wilayah negara dan berdampak pada sebagian besar Vietnam dan Filipina fans unstan Tao dan Yi Fan. Keep strong Tao, because I think Yi Fan already got enough back up. And for Taochan's recent incident in RO3, it's not a pretty sight to behold, I hope he's doing fine. : (
