Ada perbedaan antara chapter pertama sama yang ini. Mulai dari penulisan, gaya bahasa. Jadi harap maklum.


Love?

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

WARNING! TYPO BERTEBARAN

"Kau percaya dengan cinta pandang pertama? Tidak, atau bagaimana dengan cinta karna terbiasa?"

Hari sudah semakin malam, keduanya sepakat untuk kembali kerumah. Rumah mereka. Tuan kim sudah menyiapkan sebuah rumah yang tak kalah mewah dari rumah Wonwoo atau rumah tuan kim sendiri.

Sepi, mereka berdua hanya diam selama perjalanan pulang. Terlebih setelah kejadian di altar pernikahan dan ciuman pertama mereka. Bahkan sekarang mereka berada didalam satu kamar.

"Kau mandilah duluan", Mingyu memulai percakapan. Percakapan? Sepertinya tidak, mungkin lebih tepatnya prolog. Karna perkataannya sama sekali tidak dijawab oleh Wonwoo. Wonwoo hanya melepas tuxedonya, menaruh di sofa dan segera menuju ke kamar mandi.

Mingyu hanya menghela nafas panjangnya. Melepas tuxedo dan membuka beberapa kancing atas kemejanya. Sambil menyandarkan diri ke pungunggung sofa. Hari yang cukup panjang dan melelahkan baginya.

"Aku sudah sel-", belum sempat Wonwoo menyelesaikan perkataannya matanya melihat seorang sedang tertidur di atas sofa. Tentu itu Mingyu memang siapa lagi?

Titt tit titt...

Ponselnya berbunyi setelah dimatikan sejak tadi pagi. "Yeobseyo?", Wonwoo menerima panggilan.

"Oh, ye. Anda bisa mengantarkan kemari sekarang"

"Oh, ye. Khamsa hamnida", ucap Wonwoo mengakhiri pembicaraannya dengan orang disebrang sana.

Selang beberapa saat,

Ting tong, Ting tong

Suara bel tersebut berhasil membuat Mingyu terbangung. Tidak ada suara dikamar mandi, tidak ada di dalam kamar. Kemana dia? Tanpa memikirkannya, Mingyu segera bergegas masuk kekamar mandi.

'Klik', suara pintu terbuka. Itu Mingyu yang baru saja selesai. Menoleh untuk memastikan? Untuk apa, Wonwoo sudah tau itu Mingyu. Wonwoo kembali fokus dengan setumpuk dokumen didepannya. Bahkan disaat tadi pagi dia baru saja melakukan pernikahan.

"Kau tak lelah?", tanya Mingyu sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.

"Belum", jawab Wonwoo singkat tanpa menoleh ke arah Mingyu.

Diam. Mingyu hanya duduk di sofa dekat jendela sambil melihat kota Seoul dari kamarnya. Menurutnya tak ada bedanya setelah menikah atau belum menikah dengan keadaan dan sikapnya sendiri.

Wonwoo hanya berfikir 'Ini harus segera selesai hari ini, agar aku tak memiliki tangungan di masa depan'. Mengurus surat pemindahan pemegang saham dari ayahnya ke dirinya sendiri. Bahkan itu bisa diurus oleh sekretarisnya besok, asalkan dia bersabar ingin menunggu. Bukan Wonwoo jika tidak CEPAT dan SEGERA. Itu prinsipnya.

Tidak seperti tadi yang berusaha keras untuk segera menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Sekarang? Wonwoo malah tertidur di meja dekat tempat tidurnya. Mungkin karna jendela yang dibuka Mingyu membuatnya terlalu nyaman dan memilih untuk tidur. Mingyu yang baru tersadar ketika dirinya mulai kedingingnan melihat Wonwoo sedang tertidur.

Jendela sudah ditutup, bahkan penghangat ruangan sudah dinyalakan. Mingyu berniat untuk segera tidur. Namun, melihat Wonwoo yang tengah tertidur dimeja membuatnya tidak tega. Alhasil Mingyu menggendong Wonwoo dan menaruhnya ditempat tidur. Sembari melihat apa sofa itu cukup untuk tempatnya tidur? Cukup, dan dia memutuskan akan tidur di sofa saja.

Baru saja tubuh Wonwoo berada di tempat tidur, tangannya malah menarik Mingyu. Mingyu terjatuh tepat diatas Wonwoo, untung tangan kirinya berhasil menyangga berat badannya. Mingyu sesegera mungkin melepaskan tangan Wonwoo dari tangannya. Ketika Mingyu akan menuju ke sofa, tangannya kembali diraih Wonwoo. Entah dia mengigau atau apa.

Sekarang Mingyu tidur dengan keadaan duduk menyenderi lemari kecil yang berada disamping tempat tidur mereka. Dan tangan Wonwoo masih memegang Mingyu. 'Tidak Tega' melihat Wonwoo yang terlalu memforsir dirinya sendiri, Mingyu hanya menuruti kemauan Wonwoo.


Sinar matahari sudah menembus kaca kamar mereka berdua. Wonwoo membuka matanya pelan. Mencoba mengenali dimana dia sekarang berada. Dan spontan Wonwoo melepas tangannya yang berpegangan dengan tangan Mingyu. Berfikir apa yang terjadi tadi malam, sampai Mingyu tertidur disampingnya dalam keadaan duduk.

Tak mau memusingkan diri, Wonwoo segera bergegas mandi dan pergi berkerja. Mengabaikan Mingyu yang masih tertidur dengan posisi duduk.

Setelah selesai mandi, Wonwoo tak melihat keberadaannya dikamar. Terdengan suara seperti seorang sedang memasak. Mengeceknya? Untuk apa, Wonwoo sudah dapat menebaknya itu adalah Mingyu. Tidak ada orang dirumah ini selain mereka berdua.

Setelah merapikan diri, Wonwoo turun untuk segera pergi ke kantor. Mengabaikan orang yang sedang menyiapkan makanan didapur dan hanya memilih untuk segera melangkah keluar.

"Kau dirumah saja", langkahnya terhenti ketika orang itu mengatakan sesuatu.

"Apa maksudmu?"

"Kau tak usah pergi, tadi malam sekretarismu menelfon. Hari ini libur.", jawab Mingyu tanpa menoleh fokus kepada masakannya.

"Libur bagaimana?", Wonwoo tidak paham dengan perkataan Mingyu.

"Hari ini hari minggu. Apa kau sebegitu serius bekerja jika setiap besok hari minggu harus ada yang mengatakannya kepadamu?", jelas mingyu dengan singkat sembari menaruh beberapa masakan dimeja makan.

"Ah, aku hanya-", baru saja Wonwoo akan menjawab perkataannya harus terpotong.

"Kau makan saja. Tadi malam kita tidak makan apapun", Wonwoo hanya diam menuruti perkataan Mingyu.

Tak ada jawaban ataupun ucapan terima kasih yang diterima Mingyu. Setelah selesai dengan makanan, Mingyu segera masuk kekamar untuk membersihkan diri. Meninggalkan Wonwoo yang terdiam dimeja makan.

Mingyu menuruni tangga setelah mandi dan bersiap-siap sambil membawa sebuah koper. Perlahan menghampirin Wonwoo yang masih duduk dimeja makan dengan santainya.

"Kau ikut denganku", kata Mingyu sambil mendudukkan diri didepan Wonwoo.

"Ikut denganmu? Kemana?", tanya Wonwoo pada Mingyu.

"Ke Amerika. Menemui rekan bisnis", jawab Mingyu.

"Rekan bisnis? Siapa?", balas Wonwoo dengan wajah bingung.

"Kau tau Choi Seungcheol?"

"Choi Seungcheol? Aku tak tau"

"Kalau Choi Jisoo?"

"Choi Jisoo? Maksudmu Hong Jisoo?"

"Ya, Hong Jisoo. Kau kenal?"

"Tentu aku kenal dengannya. Dulu sewaktu eomma masih hidup, setiap seminggu sekali aku selalu pergi kerumahnya."

"Kau mau ikutkan?", tanya Mingyu meyakinkan.

"Jadi Jisoo hyung sudah menikah?"

"Kau ikut atau tidak? Satu setengah jam lagi penerbangan kita.", jawab Mingyu sambil melihat jam dipergelangan tangannya.

"Hah? Apa maksudmu? Aku ikut. Tapi, aku belum mengemasi barang-barangku"

"Cepat kau bersiap. Dan barang-barangmu sudah kumasukkan kedalam koper."

Wonwoo segera keatas, berganti baju. Sementara Mingyu langsung menuju ke mobil. Menunggu Wonwoo disana.


Wonwoo segera membuka pintu mobil dan berlari menghampiri pria yang sedang menyirami bunga dihalaman rumahnya. Mengabaikan Mingyu yang baru saja memarkirkan mobil mereka.

"Jisoo Hyung~", sapa Wonwoo sambil memeluk Jisoo yang terkejut mendapat perlakuan tersebut.

"Wonwoo ya~", balas Jisoo sambil membalas pelukkan Wonwoo.

"Hyung, aku merindukanmu", kata Wonwoo melepas pelukannya.

"Aku juga. Duduklah", Jisoo mematikan keran air dan mendudukkan dirinya di kursi yang berada ditaman depan rumahnya. Wonwoo kemudian duduk disampingnya.

"Bagaimana bisa kau datang? Kau tau aku tinggal disini?"

"Hyung. Kenapa kau tidak bilang jika pergi ke Amerika? Aku kesepian tanpamu."

"Ah, itu a-aku-"

"Jisoo-ya masuklah. Udara hari ini tidak baik untukmu.", kata Seungcheol saat keluar dari rumahnya. Yang hanya dijawab oleh anggukan. Dan Jisoo meninggalkan Wonwoo sendiri.

"Mingyu? Kau sudah datang?", Seungcheol menghampiri Mingyu yang berada disamping mobilnya.

"Ah, ne. Aku baru saja sampai", jawab Mingyu sambil tersenyum.

"Masuklah. Dan dia siapa?"

"Dia Wonwoo, istriku?"

"Istrimu? Kapan kau menikah? Ah, sebelum itu lebih baik kau masuk dan ajak istrimu juga"

Seungcheol masuk bersama Mingyu yang diikuti Wonwoo dibelakang.


Wah. Ini beneran lanjut. Maaf karna updatenya lama. Mengabaikan dateline. Tugas sekolah yang seumbruk padahal baru masuk satu bulan. Inspirasai yang sering muncul disaat yang tidak tepat merupakan salah satu faktor kenapa fanfic ini agak gimana gitu/?

Terima kasih banyak yang udah ngereview tulisan gak jelas ini. Maaf jika tidak sesuai harapan/?. Yang masih kurang menarik. Yang udah ngasih nasehat juga. Untuk chap selanjutnya masih gak tau kapan mau update. Masih dalam tahap penulisan. Karna ff ini satu chap post, baru bikin chap selanjutnya. Mungkin ff ini akan jadi beberapa chapter, karena bagian endingnya udah selesai.

Dan minta doanya semoga laptop ha kyo cepet pulang. Biar bisa ngpost chap yang selanjutnya.

Eh, panggil Ha Kyo aja. Jangan authornim atau sejenisnya.

Semua cerita diatas murni pikiran ha kyo sendiri. Jadi, jika ada kesamaan dalam hal apapun harap dimaklumi. Dan buat Jeje disebrang sana. Aku merindukanmu~ *abaikan please

NEXT? REVIEW ya...