TITLE : SLEEP WITH DEVIL

A REMAKE STORY

FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL

DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.

.

.

.

.

Warning : Genderswitch


Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!

Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini


BAB 2

Perjalanan itu terasa menyiksa dan panjang. Tubuh Hyukjae dilempar begitu saja dengan kasar oleh bodyguard Donghae ke bagasi dan dikunci dari luar. Hyukjae berusaha menendang, berteriak, meronta, tetapi pada akhirnya dia kelelahan dan kehabisan oksigen. Menyadari bahwa ruang bagasi ini begitu sempit dan pengap dengan asupan oksigen yang makin menipis, Hyukjae terdiam. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah dirinya ?

Lama sekali Hyukjae menunggu, sampai akhirnya mobil itu melambat. Terdengar suara pintu gerbang yang berat dibuka, lalu mobil itu melaju lagi, melambat, dan kemudian berhenti. Suara pintu mobil dibanting. Dan syukurlah, ada gerakan membuka bagasi. Hyukjae bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur. Ah ya Tuhan, semoga semudah itu.

Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.

"Hyukjae," itu suara Donghae dan lelaki itu memanggil namanya. Wajah Hyukjae langsung pucat pasi. Lelaki itu sejak awal sudah mengetahui penyamarannya!

"Aku akan membuka pintu bagasi ini, tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak," Ada seberkas senyum di suara Donghae. Kurang ajar. Lelaki itu pasti dari tadi sudah menertawakan kebodohannya!, "Kau ada di rumahku, dan perlu kau tahu, para pengawalku sangat tidak ramah. Kusarankan kau turun dengan sikap penurut dan tenang, demi dirimu sendiri, karena para pengawalku mungkin akan melukaimu kalau kau bertindak bodoh"

Rumah Donghae. Hyukjae memejamkan matanya frustrasi. Dari informasi yang dia dapatkan, rumah Donghae yang terletak di atas tanah begitu luas di kawasan elite pinggiran kota. Rumah itu dipagari dengan pagar tinggi di sekelilingnya dan setiap akses masuk dijaga oleh pengawal-pengawal Donghae. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke area rumah ini tanpa sepengetahuan Donghae. Begitupun, tidak akan ada orang yang bisa keluar dari rumah ini tanpa seizin Donghae.

"Bagaimana Hyukjae? Apakah kau berjanji untuk bersikap baik, dan aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi. Atau kau memilih bertindak bodoh lalu mungkin aku akan mengikatmu dalam karung dan kusekap di gudang," suara Donghae di luarmenyadarkan Hyukjae dari lamunannya.

"Kenapa kau membawaku kemari?," gumam Hyukjae penuh keberanian. Terdengar suara Donghae terkekeh di luar sana, "Menurutmu kenapa Hyukjae? Apa kau pikir aku semudah itu diracuni di tempat umum? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau selama ini mengendus-endus mencari kesempatan untuk membalaskan dendammu?" Suara Donghae terdengar dekat, "Kau sudah bermain api," bisiknya, "Sekarang saatnya kau untuk terbakar."

Pintu bagasi itu terbuka tiba-tiba dan Hyukjae belum siap meronta. Lagipula, percuma meronta. Di belakang Donghae yang berdiri dengan pongahnya, ada beberapa bodyguard dengan tubuh kekar bertampang seperti batu. Dan melihat tampang dan penampilan mereka, Hyukjae tahu, mereka tidak akan segan-segan melukainya kalau Hyukjae berbuat sesuatu yang sekiranya akan mencelakakan majikan mereka. Donghae mundur selangkah, lalu mengulurkan tangannya setengah membungkuk, "Silahkan tuan puteri, biarkan aku membantumu keluar," gumamnya mengejek.

Hyukjae menatap tangan itu lalu menggeram marah. Kurang ajar sekali iblis yang satu ini!

Dengan marah, ditepiskannya tangan Donghae dan dia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat di ruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo. Akhirnya Hyukjae berhasil berdiri keluar dari bagasi, dengan sepenuh harga dirinya. Donghae mengamati Hyukjae dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan, lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya,

"Mari, silahkan masuk. Selamat datang di rumahku," setengah memaksa lelaki itu mencengkeram lengan Hyukjae yang kaku lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya. Bagian depan ruang tamu Donghae sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.

Donghae membawa Hyukjae menuju ke sebuah tangga besar melingkar berwarna putih dan sekali lagi setengah menyeretnya menaiki tangga. Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih, "Kau akan tinggal di kamar ini mulai sekarang," gumam Donghae datar.

Hyukjae membelalakkan mata, marah pada Donghae, "Atas dasar apa kau memutuskan aku harus tinggal di mana. Aku mau pulang" Bibir Donghae masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak. Mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin, "Kau tidak bisa pulang. Sekarang, ini adalah rumahmu. Bersamaku"

Dengan cepat lelaki itu merengkuh pundak Hyukjae, dan detik itu Hyukjae menyadari bahwa lelaki itu akan menciumnya. Secepat mungkin dia memalingkan muka, mencoba memberontak, hingga bibir Donghae hanya mendarat di pelipisnya. Cengkeraman Donghae di pundaknya makin kuat sehingga terasa menyakitkan, "Aku sudah memutuskan untuk memilikimu. Dan satu-satunya cara kau lepas dariku adalah ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu, atau ketika kau… Mati,"

Dengan kalimat penutupnya yang begitu kejam, Donghae membuka pintu putih itu, dan mendorong Hyukjae masuk. Lalu menguncinya dari luar, meninggalkan Hyukjae yang menggedor-gedor dan menendang-nendang pintu itu dari dalam dengan histeris.

.

.

.

.

"Menurutmu apakah dia sudah siap untukku?," Donghae mengenakan jubah tidurnya, sutera hitam, dan duduk di sofa di dalam kamarnya. Hidangan lengkap tersedia untuknya di meja. Dengan tenang, lelaki itu menyesap anggurnya, lalu menatap Hangeng, pengawal pribadinya sekaligus orang kepercayaannya yang berdiri di depannya dengan wajah khasnya yang tanpa ekspresi.

"Saya pikir dia sudah siap, bukan untuk menyerah kepada Anda, tetapi siap membunuh anda. Tatapan matanya adalah tatapan pembunuh yang penuh kebencian" Donghae tersenyum tipis mendengar jawaban Hangeng itu, "Ya, tatapan matanya membakar, penuh kebencian.," Donghae menyesap anggurnya lagi, memejamkan matanya, "Tapi kau tahu bagaimana aku sangat ingin memilikinya malam ini"

"Ya saya tahu," jawab Hangeng tenang, "Apakah Anda akan memaksanya…?"

"Aku tidak suka memaksa perempuan, kau tentu tahu" Donghae terbiasa dikelilingi perempuan yang menyerahkan diri padanya. Tidak ada seorang perempuanpun yang mampu menolak pesona Lee Donghae . Dengan rambut hitam legam yang sedikit acak-acakan, mata cokelat pucat dan wajah aristrokatnya hampir bisa dikatakan sempurna seperti malaikat…

Kalau saja matanya tidak begitu dingin, tanpa perasaan dan menyimpan kebencian mendalam, menakutkan. Donghae bagaikan iblis yang terperangkap dalam raga malaikat.

"Aku ingin dia menyerahkan dirinya padaku dengan sukarela" Tentu saja. Gumam Hangeng dalam hati. Kata-kata Donghae bagaikan perintah baginya.

Obat ini sangat keras, dan tidak bisa digunakan untuk main-main. Hangeng mengamati bubuk putih dalam wadah kecil di depannya. Sangat keras, sekaligus sangat efektif. Dan kalau perempuan itu meminumnya, maka perempuan itu akan menyerah pada Donghae, dan menyenangkan tuannya.

Dengan gerakan pelan penuh perhitungan, Hangeng mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman Hyukjae. Obat ini akan membuat perempuan tersiksa, meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, perempuan itu akan merasa seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan. Dan Hangeng yakin, Hyukjae akan meminta, bahkan memohon-mohon pada tuannya malam ini.

Malam ini perempuan itu akan menyerah dalam tanganmu, Tuanku.

Hangeng tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi.

.

.

.

.

Sudah hampir satu jam Hyukjae dikurung di dalam kamar ini, kamar mewah bernuansa putih, di karpet, di ranjang, di semua furniture-nya. Kamar ini dibuat untuk perempuan, dan Hyukjae merasa jijik membayangkan bahwa mungkin kekasih-kekasih Donghae yang sebelumnya juga ditempatkan di ruangan ini. Salah seorang pengawal Donghae yang bertampang paling dingin, setengah jam yang lalu masuk, membawa nampan makanan, meletakkannya di meja. Lalu tanpa berkata apaapa pergi dan mengunci kembali pintu itu dari luar.

Dan selama setengah jam yang panjang itu pula, Hyukjae mencoba setengah mati untuk tidak melirik pada nampan yang sangat menggoda itu. Perutnya keroncongan, dan dia merasa haus. Dia belum makan dari siang karena terlalu gugup merencanakan pembalasan dendamnya pada Donghae, dan sekarang dia kena batunya.

Aroma makanan itu terasa begitu menggoda, aroma manis dan gurih masakan yang masih panas.

Mungkin jika aku mengintip sedikit apa makanannya…..tidak!

Hyukjae menghardik dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak akan makan, lebih baik dia mati kelaparan daripada harus menyerah pada kekuasaan Donghae. Tapi jika hanya minum mungkin tidak apa-apa. Hyukjae melirik haus pada minuman di nampan itu. Sari jeruk segar yang tampak begitu menggoda. Akhirnya Hyukjae menyerah. Dia haus sampai terasa mau pingsan, dan dia harus minum, kalau tidak dia mungkin akan benar-benar pingsan. Hyukjae tidak boleh pingsan, dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari kamar ini, dari rumah ini.

Dengan cepat disambarnya gelas itu, diminumnya langsung berteguk-teguk karena begitu hausnya. Aliran dingin air itu terasa begitu segar ketika membasahi kerongkongannya. Tanpa sadar segelas minuman itu tandas sudah, Hyukjae meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah. Tapi bagaimanapun juga dia tidak menyesal. Dia merasa lebih baik. Sekarang dia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini.

Mata Hyukjae berputar, ke sekeliling ruangan, mencari cara untuk melarikan diri. Ada jendela besar di ujung sana, yang dilapisi gorden berwarna putih, mungkin Hyukjae bisa mencari cara keluar dari sana. Dengan hati-hati Hyukjae melangkah ke arah jendela itu untuk memeriksanya, tetapi seketika itu juga hatinya kecewa. Jendela itu sudah dilapisi kaca tebal, dan penuh dengan teralis besi yang sangat kuat. Lagipula Hyukjae baru menyadari bahwa dia ada di lantai dua, kalaupun dia bisa membuka jendela itu, dia harus mencari cara agar bisa turun dari lantai dua dengan selamat.

Hyukjae mencoba berpikir, dia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan. Dengan cepat dia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung. Entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya menggelenyar…. Kepanasan…

Ada apa ini? Hyukjae meraba dahinya sendiri, terasa panas, Apakah dia demam? Napas Hyukjae terengah, semuanya terasa panas….. terasa panas… Hyukjae sangat butuh….

Donghae membuka pintu kamar tempat Hyukjae dikurung dengan pelan. Sudah larut malam, dan Donghae tidak mengharapkan Hyukjae masih bangun. Kamar itu gelap dan remang-remang, tapi mata Donghae menangkap nampan makanan yang masih utuh, hanya minumannya yang habis.

Gadis keras kepala. Geram Donghae dalam hati, dia pikir dia bisa mengancam Donghae dengan membiarkan dirinya sendiri kelaparan.

Dia tidak tahu bahwa Donghae akan menggunakan segala cara untuk membuat Hyukjae menyerah padanya… Gerakan gemerisik di ranjang membuat Donghae menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, Donghae melihat Hyukjae terbaring di sana, gelisah. Perempuan itu belum tidur rupanya…. Dan dia tampak… tidak tenang.

Ingin tahu, Donghae mendekat, dan menemukan Hyukjae berbaring disana dengan tatapan mata tersiksa. Tubuhnya menggeliat di atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan, "Tolong…panas….," suara Hyukjae mendesah, serak seperti kesakitan.

Mengernyitkan keningnya, Donghae duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Hyukjae, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Donghae makin dalam, lalu kenapa perempuan ini bilang kalau dia kepanasan?

"Kau mau minum?," dengan cekatan Donghae mengambil gelas air di meja pinggir ranjang, "Sini, aku bantu kau minum." Donghae bangkit dan mengangkat tubuh Hyukjae, lalu mencoba membuatnya berdiri. Tubuh Hyukjae menggayut lemah di lengannya, dan napas perempuan itu terengah, "Panas…. Tolong… panas sekali….," Sekali lagi Hyukjae mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti tersiksa. Donghae meminumkan air itu kepada Hyukjae, dan dengan rakus Hyukjae menghirup air itu. Tetapi napasnya tetap terengah, dan dia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.

Pasti ada sesuatu…. Jangan-jangan…. Donghae memundurkan tubuh Hyukjae yang bersandar padanya, supaya dia bisa mengamati Hyukjae dengan jelas. Wajah Hyukjae merona kemerahan, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh kepanasan…. Jangan-jangan…

Dengan cepat Donghae membaringkan Hyukjae di ranjang, dan melangkah keluar dari kamar bernuansa putih itu, membanting pintunya, dan berteriak, "Hangeng!" Sekejap, tanpa suara seolah menggunakan sihir, Hangeng muncul di depan Donghae,"Ya Tuan"

"Kau campurkan apa di minuman Hyukjae?" Hangeng sedikit membungkukkan tubuhnya, wajahnya tanpa ekspresi, "Saya mencampurkan obat milik saya, Tuan tahu itu obat apa" Wajah Donghae mengeras, "Ya. Aku tahu itu obat apa. Dan aku menolak memperalat wanita dalam pengaruh obat. Kau melakukan sendiri tanpa meminta izinku, kau tahu kalau aku marah aku bisa menghukummu" Hangeng tampak tidak terpengaruh dengan kata-kata Donghae,

"Anda memerintahkan saya untuk membuat perempuan itu menyerah. Dia sangat membenci anda, dan pasti akan berontak mati-matian. Obat itulah satu-satunya cara membuat dia menyerah," Hangeng menatap mata Donghae, "Anda bisa meninggalkan kamar ini kalau anda tidak ingin memanfaatkannya."

"Dia kesakitan, kau tahu itu," geram Donghae marah. Hangeng mengangkat bahunya, "Anda bisa meredakan sakitnya. Dan besok, setelah Anda memilikinya, mungkin dia akan menjadi lebih penurut"

"Berapa banyak obat yang kau berikan padanya?"

"Dosis biasa tuan, tetapi efeknya berbeda-beda tergantung orangnya"

"Jadi ini bisa berlangsung selama berjam-jam atau bisa juga sepanjang malam?"

"Ini bisa berlangsung selama Anda ingin bersenang-senang, Tuan"

Donghae terdiam. Kata-kata Hangeng terasa begitu menggoda.

Donghae kembali masuk ke dalam kamar, didorong perasaan yang kuat untuk melihat Hyukjae kembali. Hyukjae masih menggeliat dan mengerang-erang di atas ranjang, ketika Donghae duduk di ranjang. Hyukjae menatap Donghae dengan mata berkabut, seolah tidak mengenalinya.

"Aku sakit….tubuhku… panas…" Donghae tersenyum dengan kelembutan yang aneh. Hyukjae benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Hyukjae dari kesakitannya.

Dan Hyukjae membutuhkan Donghae untuk itu. Donghae mencondongkan tubuhnya dan menyapu lembut bibir Hyukjae, mendapati mata Hyukjae membelalak kaget. Donghae tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Sungguh luar biasa, perpaduan antara kepolosan dan gairah yang kuat sungguh-sungguh menggodanya. "Kau tidak menyukainya?," bisik Donghae lembut.

Hyukjae menatap Donghae, atau setidaknya mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus, "Aku… apa yang terjadi pada diriku?" Donghae mengulurkan jemarinya, dan menyapukannya di pipi Hyukjae, membuat tubuh Hyukjae bergetar. "Anak buahku mengambil keputusan sendiri dan mencampurkan obat di minumanmu…"

"Obat…? Apakah aku diracuni?"

"Itu bukan racun Hyukjae, obat itu akan merangsangmu sampai hasratmu tak terkendali, dan kau akan kesakitan jika dirimu tidak dipuaskan" Hyukjae butuh waktu sesaat untuk mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata Donghae, sedikit kesadarannya meneriakkan peringatan akan bahaya. Dan tubuhnya langsung beringsut, susah payah mencoba menjauhi Donghae.

Tetapi Donghae merengkuh Hyukjae lagi dan berbisik lembut di telinga Hyukjae, "Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu," sambil berbicara, tangannya yang bebas turun ke dada Hyukjae. Erangan Hyukjae ketika merasakan jemari Donghae menyentuhnya terdengar begitu menderita, "Terlalu sensitif, sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?," Tangan Donghae bergerak ke pusat gairah Hyukjae.

"Tidak!," Hyukjae mencoba berteriak dan mencengkeram lengan Donghae, "Jangan! Kau tidak boleh melakukannya!"

"Ini satu-satunya cara agar kau tidak kesakitan lagi, Sayang," suara Donghae terdengar sedikit parau, "Biarkan aku membantumu" Hyukjae mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring

dengan sentuhan Donghae. Otaknya memberontak atas apa yang dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. Hyukjae membutuhkan jemari Donghae itu….

Ia membutuhkan….

"Aku akan menolongmu Hyukjae, tapi kau juga harus menolongku. Aku juga butuh pelepasan sendiri. Lihat aku Hyukjae, lihatlah tubuhku" Donghae membuka jubah sutra hitamnya, dan tubuhnya telanjang di balik jubah itu. Dan napas Hyukjae tercekat ketika melihat bukti gairah Donghae begitu keras. "Gunakan diriku Hyukjae, biarkan aku merasakan tubuhku ada di dalam dirimu dan menyembuhkanmu," Kata-kata itu adalah satu-satunya kata yang mirip dengan permintaan yang pernah Donghae gunakan pada perempuan, dan hanya dia lakukan kepada Hyukjae.

Donghae melakukannya karena dia sangat bergairah kepada Hyukjae, dia amat sangat bergairah, dan Hyukjae tidak dalam kondisi untuk menolak gairahnya. Tubuh Donghae sudah menindih Hyukjae, dan perempuan itu menggodanya dengan pinggulnya yang menggeliat dan mengundang. Donghae menyangga tubuhnya dengan siku, menjaga agar dadanya yang keras tidak menindih tubuh Hyukjae.

Donghae menunduk dan mencicipi bibir Hyukjae yang begitu menggoda dan menggairahkan, bibir itu begitu manis dan menggoda, "Tenang sayang, aku mungkin akan menyakitimu," Donghae menahan pinggul Hyukjae dengan tangannya, karena pinggul itu bergerak-gerak mendesaknya dengan mengundang. Hyukjae sudah sepenuhnya ada di bawah pengaruh obat itu, "Tapi aku berjanji, setelah rasa sakit itu, kau akan merasakan kenikmatan"

Detik itu juga Donghae mendesakkan dirinya ke dalam tubuh Hyukjae. Hati-Hati. Donghae menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya yang begitu kuat, mencoba meredakan dorongan untuk menerjang dan menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam ke dasar balutan sutera panas milik Hyukjae. Hati-hati, perempuan ini masih perawan. Donghae mencoba mengingatkan dirinya lagi. Penghalang itu ada, seolah mencoba menahan Donghae memasukinya, dan Donghae mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Hyukjae adalah miliknya!

To Be Continue

Xiao's Note :

Terima kasih untuk supportnya ya teman-teman^^ walopun begitu masih tetap sedih, padahal views-nya 160 tapi yang review cuma 5 tapi ga papalah... tenang Xiao tetep akan lanjutin cerita remake ini tapi ga janji bakal cepat... Jaa sampai ketemu lagi chap depan...

Want to review again?