I don't bother who loves most. The important thing is knowing that you're mine, and I'm yours.
.
.
.
.
.
Queen is King's © Jenny Kim
Super Junior © God, SMEnt, ELFs, Their Parents and of course Themselves
Rated: T semi M
Warning(s): Always Boys Love, MPREG, OOCness, Typo, etcetera-etcetera~
.
.
.
.
.
Semburat kemerahan menghias ruang luas yang terbentang di atas bumi. Menenggelamkan pusat tata surya ke dasar terdalam. Menyambut kedatangan sang dewi yang memantulkan cahaya surya bersama para pengikut setianya yang berpendar, mengedip nakal pada setiap mata yang memandang. Orion tetap berdiri angkuh dengan kerlipnya yang mendominasi. Seolah ingin menyaingi cahaya sang dewi yang sepucat susu.
Jongwoon menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ada beban berat yang mengganjal di hatinya. Ia belum bisa tenang jika pemuda manis yang terbaring di sisinya belum sadar juga. Namja karamel yang telah sah menjadi istrinya itu sudah 'tertidur' lebih dari satu putaran penuh bumi dalam porosnya. Dan itu membuat hati Jongwoon semakin kalut dan tak tenang.
"Cepat bangun, Wookie.. Jangan membuat hyung khawatir.." Namja bersurai hitam agak keriting itu menempelkan kain lembab yang baru saja diperasnya ke kening sang istri.
Seorang namja cantik berjuluk Afrodite bersandar di dinding kamar Jongwoon dengan satu kaki menekuk ke belakang dan menempel di dinding. Tangan kirinya terlipat di depan dada sedangkan tangan kanannya memainkan seekor hewan rodensia jenis tikus. Heechul mendongak, membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukkan tikus putih itu ke dalam mulutnya, hidup-hidup!
Suara gemeletuk tulang yang remuk terdengar dari dalam mulutnya. Jakunnya bergerak, menandakan tikus itu telah berpindah ke kerongkongannya yang berakhir di perutnya.
"Kekeke~ jangan berlebihan, Jongwoon-ah! Aku hanya memberinya gigitan kering, dia saja yang terlalu lemah," ujar Heechul sambil terkekeh.
JLEEEP!
"KING!" Heechul menjerit saat Yesung melemparkan sebuah pisau kecil ke arahnya dan menggores pipi kirinya sebelum menancap ke dinding. Betapa besar kekuatan namja berambut hitam lurus itu sampai sebilah pisau kecil yang dilemparkannya saja dapat menembus dinding.
"Aku sedang melaksanakan sumpahku," kata Yesung acuh dan kembali melempari Heechul dengan beberapa pisau di tangannya.
Heechul menghindar dengan gesit. Biar bagaimanapun, ular kobra sepertinya memiliki gerakan yang cepat. Berbeda dengan ular viper seperti Yesung yang gerakannya lambat saat berwujud ular sepenuhnya. Tapi jangan samakan wujud manusia Yesung dengan wujud ularnya. Dia justru berkali-kali lebih hebat saat menjadi manusia, berkebalikan dengan Heechul.
"Cukup, King! Aku hanya bercanda!" pekik Heechul gemas.
"Menyakiti Ratu-ku tidak termasuk dalam kategori bercanda, Afro," ucap Yesung datar. Ia melemparkan pisaunya lagi, namun Jongwoon segera mencengkeram pergelangan tangannya.
"Hentikan, King! Kau tahu bagaimana tabiat Heechul Hyung. Dia hanya tidak ingin kita bertengkar, dia ingin membuat salah satu dari kita untuk mundur," lerai Jongwoon. Sepertinya mereka telah 'berbaikan'. Sebesar apapun masalahnya, saudara kembar tetaplah tidak bisa bermusuhan dalam waktu lama.
"Kau berhutang pada adikku, Afro." Yesung menurunkan tangannya, kontan Jongwoon tersenyum lega mendengarnya.
"Untuk apa di sini?" Heechul menyeka darah di pipinya dan tersenyum nyengir.
Yesung dan Jongwoon mengerutkan dahi mereka. "Apa maksudmu?" tanya mereka bersamaan.
"Kalian mengatakan 'aku menyerah'secara bersamaan. Berarti kalian sudah melepaskan Queen Ryeowook. Pergi sana, dia milikku sekarang!" ucap Heechul seraya menyeringai jahil.
Aura hitam memenuhi kamar klasik tersebut. Yesung mendesis bagai ular sedangkan Jongwoon menggeram penuh amarah.
"Kau ingin menambah luka di wajah cantikmu, Heechul Hyung?"
"Adonis-mu sepertinya sangat lezat untuk kusantap, Afro."
"BAIK, AKU KALAH! JANGAN BAWA-BAWA SIWON DALAM MASALAH INI!" bentak Heechul kesal. Ia menghentakkan kakinya dan menghilang di balik pintu.
Yesung menghirup nafas dalam-dalam dan mengembuskannya dari mulut. Mendeteksi perubahan suhu yang berubah semakin rendah. "Sudah gelap. Aku harus pergi."
"Kemana?"
"Sudah sebulan lebih, aku kelaparan, Jongwoon-ah," jawab Yesung. Ia bangkit dari tempat tidur dan mengusap perutnya yang keroncongan.
"Kodok? Tikus?" ejek Jongwoon sambil menyeringai jahil.
"Kau pikir aku akan menemukan capybara atau telicomys di sini?!" sungut Yesung. Ia melangkahkan kakinya menjauh dan menyingkap lengan panjang kemeja hitamnya sampai ke siku. Sisik-sisik berwarna hijau dan kuning mulai bermunculan di lengannya.
"Dasar ular," cibir Jongwoon pelan.
"Aku dengar itu!" ucap Yesung dari kejauhan. "Jaga Queen, aku tidak akan lama."
"Tidak akan kembali terdengar lebih baik," seru Jongwoon.
"Dalam mimpimu."
Dan sepertinya, mereka kembali bersitegang memperebutkan sang Sleeping Beauty.
.
.
.
.
Pertama kali ia bertemu dengan pemuda itu adalah saat ia melakukan perkemahan di hutan, kegiatan penutup dalam masa orientasi di sekolah menengah atasnya.
Ia dan sahabat satu regunya yang saat itu lupa membawa tali mendapat hukuman untuk mencari semaphore yang digantung di salah satu pohon.
Mereka tidak diperbolehkan mencari bersama, Sungmin, sahabatnya, ke barat, sedangkan dia ke timur. Dan hanya berbekal lampu senter dengan nyala redup.
Suara lolongan anjing hutan membuat Ryeowook bergidik, ia memasukkan tangan kirinya yang gemetaran ke dalam saku jaketnya. Tangan kanannya yang memegang senter berkeringat dingin.
Ia berjalan terus masuk lebih dalam ke dalam hutan. Menengadahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna mencari bendera semaphore yang tergantung di salah satu dari ratusan pohon yang ada di hutan tersebut.
Senyumnya terkembang saat matanya yang jeli menumbuk ke sebuah pohon tak jauh di depannya. Ia segera berlari cepat ke arah pohon tersebut. Tak peduli pada ranting kering yang diinjaknya yang membuat pemangsa hutan terusik.
Ryeowook mendongak ke atas, menatap nanar bendera semaphore itu sambil merengut kesal. "Uhh... tinggi sekali," keluhnya.
Dia melompat, mencoba menggapai bendera itu, namun tak berhasil. Batang pohon itu hanya bergetar sebentar, kemudian diam. Ryeowook tak mau menyerah, tanpa bendera itu, ia takkan bisa kembali ke tendanya.
HUP!
Namja manis itu meloncat lagi, menarik ranting itu sampai melengkung dan mendekat padanya. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang panjang meniban tubuhnya, jatuh tepat di bahunya.
"Sss... khhhrr..."
Ryeowook menjerit mendengar desisannya. Ia secara refleks menarik dan melemparkan ular di lehernya, senternya terlepas begitu saja, cahayanya menyorot tepat ke kepala dan 1/3 bagian leher ular tersebut. Ular berwarna hitam mulus dengan leher yang memipih dan melengkung seperti sendok.
Ryeowook berjengit. Kobra...
Merasa tak nyaman dengan cahaya yang menyilaukan matanya, ular itu melata dengan cepat dan menghilang di balik semak.
Ryeowook memucat merasakan nyeri di leher kirinya. Apa ular itu menggigitnya? Wajah dan tubuhnya berkeringat dingin, pernapasannya bertambah cepat sedangkan detak jantung di dalam dadanya justru semakin melemah. Matanya berkunang-kunang.
Ryeowook mengusap nyeri di lehernya. Ia dapat merasakan ada 2 lubang menganga di sana. Tubuhnya terduduk lemas seketika.
"To...long... tolong aku... hiks...t-tolong..." Suaranya mencicit, seperti kehilangan tenornya yang mampu mencapai oktaf tinggi.
"Kau tidak apa-apa?"
Entah darimana datangnya dan sejak kapan, dia sudah berlutut di depan Ryeowook dan menurunkan telapak tangannya yang menutup lehernya, lalu memalingkan wajah Ryeowook ke arah kanan.
Meski kesadaran Ryeowook menurun, ia tetap bisa melihat sepasang mata emas pemuda itu yang bersinar di malam gelap ini. Ia sangat tampan dengan senyumannya yang menawan dan rambutnya yang hitam lurus.
"Aku tidak membawa serum, manual saja, ne?" kata pemuda itu. Ia menenggelamkan wajah tampannya di ceruk leher Ryeowook dan menghirup luka namja manis itu dalam-dalam. "Umh... neurotoksin. Ck, kau benar-benar kejam, Afro.." sambungnya yang tak dimengerti oleh Ryeowook.
Pemuda bermata emas itu menempelkan bibirnya ke permukaan leher Ryeowook, kemudian menghisapnya. Sekujur tubuh Ryeowook melemas meresponya. Apa yang pemuda itu lakukan padanya?
"Nggghh~" Ryeowook menutup manik karamelnya dan meringis merasakan cairan di dalam tubuhnya tersedot keluar secara perlahan namun terus menerus. Rasanya sangat sakit. Ia melilitkan tangan mungilnya ke leher pemuda asing tersebut dan meremas tengkuknya sebagai pelampiasan.
Suara kecipak terdengar saat bibir pemuda asing itu lepas dari leher Ryeowook. Tanda kemerahan berbentuk bibir tercetak jelas melingkari lukanya. Pemuda itu menandainya sebagai miliknyakah?
Pemuda itu memalingkan wajahnya dan meludahkan darah berwarna kehitaman.
"Hey, sudah... atau kau ingin aku berbuat lebih?" goda pemuda itu sambil mencolek pipi Ryeowook.
Ryeowook sontak menurunkan tangannya dengan cepat. Ia menunduk dalam dengan pipi memerah. Pemuda asing itu tersenyum kecil dan membelai leher Ryeowook.
"Citrus. Aku suka itu, selalu gunakan parfum itu, ne?!" suruhnya. Ia beranjak bangun dan menepuk-nepuk kepala Ryeowook. "Lain kali jangan mengusik ular yang sedang mencari mangsa. Apalagi ularnya punya moodswings. Sampai bertemu,... Queen.."
"Aku bukan perem—eh?" Ryeowook terdiam saat tak menemukan pemuda itu di manapun, namun ia tersenyum saat melihat lampu senter dan bendera semaphore yang dicarinya telah berada di sampingnya.
"Gomapseumnida, Tuan Mata Emas."
.
.
.
.
Ryeowook membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali agar penglihatannya tidak buram. Dan saat ia bisa melihat dengan jelas, ia dapat menemukan sosok tampan yang tertidur dengan wajah tegang di hadapannya.
Ryeowook mengangkat tangannya yang lemas dan membelai pipi namja itu. Suaminya ini... pasti sangat mencemaskannya sampai tidurpun tak nyenyak.
"Wookie!" Jongwoon terkesiap dan membuka matanya dengan cepat.
"Aku di sini, Hyung.." ucap Ryeowook sambil tersenyum menenangkan.
Nafas Jongwoon yang menderu perlahan berubah teratur. Ia tersenyum lega dan menarik pinggang ramping Ryeowook ke dalam pelukannya. "Aku benar-benar cemas, Caramel.."
Ryeowook menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya memanas dan penglihatannya mengabur. Kristal beningpun jatuh dari matanya.
"Yah... Ryeowookkie, waeyo?!" tanya Jongwoon panik. Ia mengusap pipi Ryeowook berkali-kali, menghapus airmatanya yang tak mau berhenti mengalir. "Ada yang sakit? Lehermu perih? Apa kau kedinginan? Katakan padaku, Caramel... uljima..."
"Hiks... hiks... mianhae, Hyung. Jeongmal mianhaeyo..." isak Ryeowook makin keras.
Jongwoon diam sejenak. Diusapnya punggung Ryeowook. "Ssst... gwaenchana. Walaupun kau melakukan 'itu' dengan kakakku, aku tahu kau hanya mencintaiku. Kau mencintaiku kan, Wookie?"
Ryeowook membisu. Ia menatap manik mutiara Jongwoon. Siapa sebenarnya yang ia cintai? Pemuda yang menyelamatkannya dari gigitan ular, atau suaminya yang memiliki paras persis dengan dewa penolongnya?
Si mata emas atau mata mutiara hitam?
"Aku... ak-aku..."
Jongwoon menaruh jari telunjuknya di bibir Ryeowook. Ia tersenyum dan mengecup bibir istrinya. "Tentu saja kau mencintaiku, untuk apa aku menanyakannya.."
Airmata Ryeowook kembali terjatuh. Ini pertama kalinya ia ragu untuk mengucapkan cinta pada pemuda bersurai hitam keriting itu. Apa benar ia telah berpaling dari Jongwoon?
Atau sejak awal dia memang sudah berpaling? Berpaling dari dewa penolong yang dicintainya. Tapi bukankah wajah mereka bagai pinang dibelah dua?
Jadi Ryeowook berpaling kepada siapa? Dia menghianati siapa? Dewa penolongnya atau suaminya?
Kim Yesung..
...atau..
Kim Jongwoon..?
"Mmhh..." Ryeowook melenguh tertahan saat bibir Jongwoon mendarat di bibir mungilnya. Ia kembali menatap manik mutiara hitam Jongwoon dan mengerjapkan matanya berkali-kali.
Jongwoon memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir manis Ryeowook. Menggetarkan hati namja mungil itu dan menaburkan benih rumput liar di sana. "Saranghae, Kim Ryeowook. Kim dari Kim Jongwoon. Jong...woon..." Jongwoon mengeja namanya dengan penuh penekanan. Seolah mengingatkan Ryeowook dengan tamparan yang keras.
Ya... Ryeowook adalah seorang istri dari pria bermarga Kim. Kim Jongwoon, bukan Kim Yesung. Seseorang yang dicintainya, haruslah Kim Jongwoon.
"Nghh~ Jongwoonnie Hyuungh~" Ryeowook memejamkan matanya, menikmati lumatan-lumatan Jongwoon. Dikalungkannya kedua lengannya di leher jenjang Jongwoon dan menekan tengkuknya. Menariknya mendekat.
Bukankah ini yang seharusnya? Seorang istri hanya boleh menerima ciuman dari suaminya. Seorang istri hanya boleh menyerahkan hati dan tubuhnya untuk suaminya.
Tak peduli siapa dewa penolongnya, siapa pria yang dicarinya, siapa yang sebenarnya dicintainya, Ryeowook sepenuhnya hak Jongwoon. Dia mutlak milik Jongwoon, bukan orang lain.
"Ammh... nghh... hyuunghh~"
Jongwoon memagut bibir Ryeowook yang bagai candu baginya. Ia menghisap bibir bawah dan bibir atasnya secara bergantian. Menggigitnya pelan dan langsung menerobos masuk ketika Ryeowook membuka belahan bibirnya.
"Angh... ahh..." Ryeowook memiringkan kepalanya, lidahnya bergelut dengan lidah Jongwoon, saling menekan kemudian melilit satu sama lain. Tubuhnya meremang sewaktu Jongwoon membuka satu per satu kancing piyamanya.
Jongwoon mengusap dada Ryeowook, lalu naik ke bahu dan melepaskan piyama tipis yang melekat di tubuh istrinya. Kemudian ia mengusap titik di dada kanan Ryeowook dan memelintirnya.
"AKKHH...!" Ryeowook memundurkan kepalanya, namun Jongwoon malah mendorong tengkuknya dan membuat bibir mereka menempel sangat erat.
Namja manis itu tak dapat menahan lenguhan nikmatnya saat Jongwoon mengabsen deretan giginya dan menggelitik langit-langit rongga mulutnya.
Saliva mereka bercampur menjadi satu dan tercecer di pipi serta dagu Ryeowook. Jongwoon menyeringai dalam ciumannya. Tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai menurunkan celana Ryeowook, namun—
—BRUUUKK!
Ryeowook mendorong dada Jongwoon dengan kuat sampai kepala suaminya terantuk meja nakas dengan cukup keras. Namja cantik itu buru-buru turun dari ranjang pengantin mereka dan berlari tergesa-gesa ke kamar mandi.
"AARGHH!" Jongwoon memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Dengan cepat ia mengejar Ryeowook ke kamar mandi.
"Hoek... huegh... hoooekh...!"
Jongwoon mematung di depan pintu, untuk sejenak ia lupa akan rasa sakit di kepalaya. Tubuhnya mati rasa. Ia menatap nanar istrinya yang terus memuntahkan cairan tak berarti di wastafel. Istrinya tak bisa mengeluarkan apapun lagi karena seharian pingsan dan tidak mendapat asupan apapun.
Dunia Jongwoon seolah berhenti berputar. Istrinya... hamil..
...dan itu bukan anaknya..
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Annyeong^^ yang galau SMTOWN, saia kasih fic biar mengurangi rasa galau XD
Pada bingung ya kenapa YeWoon kembar tapi beda spesies[?]. Muehehehehe… itu karena bapaknya YeWoon ular sedangkan ibunya manusia. Dan ntar bakal dijelasin [mungkin] tentang kenapa Yesung jadi siluman ular dan Jongwoon jadi manusia sempurna. Penjelasannya nunggu Wookie lahiran yaaaa~ XXD
Wookie hebat ya, baru satu hari bikin udah menampakkan tanda2 kehamilan, ga perlu nunggu mingguan XD
Kalau ada yang tanya kenapa bisa gitu, bakal aku jawab lewat PM aja kayaknya yaaa~ *kalau bisa*
REVIEW-nya ditunggu ya^^
Yesung's Concubine
—Jenny Kim—
