Baby In Me

By

QBee

a.k.a

Jung Jaemi

Disclaimer : Semua tokoh di sini bukan milik author, melainkan milik diri mereka sendiri. Kecuali YunJae, Yunpa adalah milik Jaema dan Jaema adalah milik Yunpa. Mereka saling memiliki.

Pairing : YunJae, YooSu, All member DBSK, member Suju, and others.

Rated : M (T or T+ for this chap)

Genre : Romance, Friendship, Fantasy (Little bit)

Wanings : Boys Love, Typos, NC (Belum muncul di chap ini), Possible to M-PREG, No flame, Don't Like Don't Read, OOC

"Plot ini punya Author. Murni dari imajinasi Author sendiri. Apabila ada kesamaan cerita, itu hanya unsur ketidaksengajaan.^_^

Chapter 2

.

.

.

Pintu masuk Jung Corp. yang berbentuk kaca itu terbuka. Masuklah dua namja tampan. Yang satu adalah Direktur perusahaan ini, Jung Yunho dan yang satunya lagi adalah orang kepercayaannya sekaligus sahabatnya sejak SMA Park Yoochun.

Semua orang dari cleaning service sampai karyawan sekalipun langsung membungkuk dan mengucapkan salam saat Yunho melewati mereka. Tentu saja, mereka harus hormat pada direktur sekaligus anak dari pemilik perusahaan ini bukan?

"Yoochun-ah! Apa jadwalku hari ini?" tanya Yunho pada Yoochun yang berjalan di belakangnya. Mereka sedang melewati lobi perusahaan yang megah itu.

Dengan tergesa-gesa Yoochun mengambil sebuah ponsel canggih dari sakunya "Pagi ini kita ada rapat dengan Lee Corp. Lalu, kita harus membahas pulau Neverland dengan Han Corp. Setelah itu ada jadwal makan siang dengan Mr. Takeshi dari Jepang."

Yunho mengangguk tanda mengerti. Dia sudah mencatat jadwal itu di dalam otaknya. Setelah menaiki lift, mereka sampai di sebuah koridor di mana ruangan Yunho dan Yoochun ada di sana.

Tak jauh dari mereka, nampak dua orang yeoja yang merupakan karyawan di perusahaan itu sedang bersolek. Meja kerja mereka berhadapan.

"Annyeong Yunho-sshi!" seorang karyawan mengucapkan salam pada Yunho. Langsunglah kedua yeoja itu berhenti bersolek dan berdiri dari tempat duduk mereka. Mereka bersiap menyambut direktur tampan mereka.

"Annyeong Yunho-sshi!" ucap yeoja itu bersamaan saat Yunho berhenti sejenak sambil menatap kedua yeoja itu. Sedangkan kedua yeoja itu saling menatap tajam. Terlihat sekali aura persaingan diantara mereka.

"Annyeong Ahra-sshi! Jessica-sshi! " ucap Yunho santai. Tanpa ekspresi. Hanya sebatas formalitas. Kemudian dia dan Yoochun kembali ke ruangan masing-maisng.

Ahra menatap kesal ke arah Jessica 'Dasar si wajah plastik! Aku tak akan kalah darinya. Aku lebih cantik darinya dan akan mendapatkan tuan Jung' batin Ahra sambil kembali duduk di kursinya.

Sedangkan Jessica menatap merendahkan pada Go Ahra 'Dia pikir dia siapa? Dasar bedak tebal! Badannya juga gemuk. Lihat saja nanti, akulah yang akan mendapatkan tuan Jung.' Batin Jessica.

.

.

.

Sluuuuurp… Sluuuurp…

"Aigoo! Joongie pelan-pelan makannya," ucap Junsu pada Jaejoong sambil mengelap meja. Mereka sedang berada di restoran tempat Junsu bekerja.

Jaejoong sedang makan mie China dengan lahapnya. Sepertinya dia menyukainya. Dia duduk di salah satu meja restoran yang sepi pelanggan itu.

"Manisnyaaaaa!" ucap Hyukjae tiba-tiba. Dia tidak tahan juga dengan ke-cute-annnya Jaejoong. Segera dia mencubiti pipi Jaejoong yang menggemaskan itu. Jaejoong yang sedang konsentrasi makan sedikit meringis. Langsunglah tangannya dipukul oleh Junsu.

"Perhatikan tanganmu HyukJae-ah! Kau menyakiti Joongie," Junsu memberikan death glare pada Hyukaje.

Jaejoong menatap sekeliling. Dia mengerutkan dahinya menghadapi pemandangan yang ada di hadapannya. Sejak pertama kali datang ke restoran ini, pasti hal ini terjadi. Dia selalu dikelilingi oleh seluruh pekerja restoran yang gemas akan keimutannya. Ada Shindong, Hyukjae, Donghae, Heechul, dan si bunny Sungmin.

"Apa benar dia adalah keponakanmu hyung?" tanya hyukjae yang menatap Junsu dan Jaejoong bergantian "Kau tidak ada mirip-miripnya dengan Joongie."

Aura membunuh keluar dari diri Junsu. Sedetik kemudian lap meja melayang ke wajah Hyukjae.

Mereka kembali memperhatikan gerak-gerik Jaejoong yang dengan lahapnya makan. Dia benar-benar menggemaskan bak boneka porselen.

"Hyung!" panggil Sungmin tiba-tiba pada Junsu "Apa tidak papa dia makan mie China terus? Sudah tiga hari ini dia selalu sarapan mie China, makan siang juga. Aku khawatir itu tidak baik untuk kesehatan dan pertumbuhannya hyung."

Junsu nampak terdiam. Dia berpikir sejenak. benar juga apa yang dikatakan Sungmin. Bagaimanapun Jaejoong harus makan makanan yang sehat dan bergizi. Selalu makan mie China tak baik untuk kesehatannya.

"Ne! kau benar Sungmin-ah. Sepertinya mulai besok Joongie harus makan makanan yang bergizi. Umm, mungkin kimchi lebih baik." Junsu mengangguk-angguk.

"Celecai! Joongie cudah kenyang," ucap jaejoong tiba-tiba yang sudah menghabiskan mie Chinanya. Dia tersandar di kursinya lalu menepuk-nepuk pelan perutnya.

"Sekarang Joongie main sama Shindong ahjusshi, ne? Junsu ahjusshi sedang sibuk." ucap Shindong sambil menggendong Jaejoong. Jaejoong menggeleng pelan.

"Chilleo! Joongie ingin nonton kaltun, ahjucchi!" Jaejoong menunjuk televisi kecil yang ada di sudut ruangan. Shindong mengangguk.

"Ne! Joongie ingin nonton kartun apa?"

"Cpongebob cqualpant…" ucap Jaejoong penuh semangat sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Shindong mengangguk lalu menyalakan televisi.

.

.

.

"Arrrgghhh! Sial! Aku kalah lagi!" seorang namja berambut cokelat mengerang frustasi sambil mencengkeram PSP-nya di dalam mobil yang sedang melaju pelan.

"Kyuhyun-ah! Apa kau tidak lelah juga? Kau habis melewati perjalanan jauh dari Jepang tapi kau masih bisa main PSP? Setidaknya istirahat dan tidurlah dulu!" ucap seorang namja berwajah tampan dan bertubuh atletis yang sedang fokus menyetir pada namja yang duduk di sebelahnya.

Aku tidak lelah Siwon hyung. Bagiku main game adalah cara mengisi ulang energiku. Justru tidak main game yang membuatku lelah," jawab Kyuhyun dengan polosnya.

Siwon menggeleng pelan. Dia hanya bisa diam. Cukup susah juga berdebat dengan sepupunya yang keras kepala ini.

"Kita mau kemana hyung?" tanya Kyuhyun yang menyadari jalan yang mereka lalui bukan jalan pulang.

"Ke restoranku sebentar. Sudah lama aku tidak ke sana."

"Ke restoran Chinamu itu hyung? Aish! Bukannya restoran Chinamu itu sepi pelanggan? Kenapa tidak kau tutup saja restoran itu? Lalu kau bisa membuka restoran Prancis yang mewah,"

"Ani! Kasihan pekerja di sana kalau restoran itu ku tutup. Mereka akan kehilangan pekerjaan mereka, Kyu."

"Aish hyung. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu." Ucap kyu kesal sambil memainkan PSP-nya. Sementara Siwon kembali fokus ke jalan raya.

.

.

.

Restoran China itu masi sepi. Tak ada pelanggan. Entahlah, mungkin karena tempatnya yang kecil atau tempatnya yang kurang strategis. Hanya ada satu atau dua orang yang berkunjung. Hal itulah yang membuat pekerja di sana nampak santai. Kadang yang mereka lakukan hanya mendengarkan musik sambil menonton tv.

"Hahahahahahha," terdengar suara Jaejoong dan Shindong yang tertawa terbahak-bahak menonton film kartun. Mereka tertawa saat melihat tingkah lucu Spongebob.

Junsu yang sedang memainkan ponselnya hanya menggelengkan kepalanya. Dia memperhatikan mereka. Sebenarnya dia juga gemas dengan Jaejoong. Baru tiga hari bersama Jaejoong membuatnya sayang pada Jaejoong seperti seorang hyung pada dongsaengnya.

Drrrtttt… dddrrrttttt…

Ponsel Junsu kembali bergetar. Menampilkan pesan singkat dari sang kekasih. Siapa lagi kalau bukan si yadong tingkat dewa, Park Yoochun.

Kalau kau Dolphin, aku bersedia jadi lautannya…

Semburat merah muncul di pipi Junsu. Gombalan seperti ini memang sudah sering dilancarkan Yoochun untuknya. Tapi tetap saja dia senang. Ah! Sepertinya sepasang kekasih ini semakin lengket saja.

"Junsu-ah!" panggil Kim Heechul yang berdiri di tangga menuju lantai atas.

"Ada apa hyung?" tanya Junsu yang kembali memasukkan ponselnya ke sakunya.

"Apa kau sibuk? Ada pelanggan yang ingin pesanannya di anatarkan."

"Ani! Aku tidak sibuk. Biar aku saja yang mengantarnya hyung," Junsu beranjak dari tempat duduknya.

"Gomawo! Alamat dan pesanannya ada di meja sana. Kau bisa langsung mengatarkannya!" Junsu mengangguk. Dia melewati Jaejoong dan pekerja lain yang ikut menonton Spongebob.

'Pantas saja Heechul hyung menyuruhku. Ternyata mereka sibuk menonton kartun.' Batin Junsu sambil menggelengkan kepalanya.

"Joongie! Ahjusshi pergi mengantar pesanan sebentar, ne?" ucap Junsu sambil memakai jaketnya. Jaejoong yang mendengarnya menganggukkan kepalanya.

"Oke ahjucchi!" Jaejoong menunjukkan jempol mungilnya pada Junsu.

"Jangan nakal, ne? dan kalau ahjusshi- ahjusshi ini mengganggu Joongie, Joongie gigit saja tangan mereka sampai putus, arra?" Junsu sudah melotot saat Hyukjae ingin mencubit pipi Jaejoong lagi.

"Yah hyung! Kau kejam sekali! Mana mungkin kami menyakiti Joongie?" seru Hyukjae dengan tampang polosnya.

"Habisnya. Tatapan mata kalian seperti ahjusshi-ahjusshi mesum yang pedophile saat melihat Joongie!" jawab Junsu.

"Tenang saja Junsu-ah aku yang akan menjaga Joongie," ucap Heechul tiba-tiba yang disambut helaan nafas lega oleh Junsu. Tentu saja. Di sini yang waras hanya Kim Heechul.

"Ne, Heechul hyung, semuanya aku pergi dulu ne?"

Merekapun mengangguk. Setelah Junsu menghilang di balik pintu, semua kembali fokus menonton film kartun dan Heechul kembali masuk ke dapur.

"Sungmin-ah! Tolong tutup pintunya! Kalau pintunya terbuka kita tidak tahu ada pelanggan datang," suruh Shindong.

Sungmin mengangguk. Dia berjalan menuju pintu, lalu bersiap menutup pintu itu dan…

BRUUUGGHHHH…

"Arrrgghhhh…."

Sungmin terkejut. Saat menutup pintu dia tak sengaja menghantam wajah seseorang yang kebetulan ingin masuk. Semua orang menatap ke arah pintu. Sungmin yang merasa bersalah menunduk-nundukkan tubuhnya.

"Mianhae! Mianhae! Aku tidak sengaja," Sungmin panik sambil membungkukkan badannya tanda minta maaf.

"Kau! Apa kau tidak lihat aku ingin masuk, hah?" bentak Kyuhyun. Dia meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya. Oh, darah mengalir dari hidungnya.

Sungmin menegakkan tubuhnya. Dia menatap Kyuhuyn dengan tampang polos khas kelincinya. Kyuhyun yang awalnya tidak peduli langsung tercengang melihat Sungmin. Wajah polos nan imut itu menghipnotis Kyuhyun. Bahkan dia tidak merasakan sakit lagi pada hidungnya.

"Omo? Tuan? Gwaenchana?" tanya Sungmin melihat darah dari hidung Kyuhyun.

"Ada apa ini?" seseorang datang dan berdiri di samping Kyuhyun. Dia adalah Choi Siwon pemilik restoran ini.

"Siwon-sshi?" semua langsung tercengang melihat kedatangan Siwon.

.

.

.

"Gwaenchana Kyuhyun-ah?" tanya Sungmin sambil menempelkan plester penutup luka ke hidung Kyuhyun. Sadangkan yang ditanya seperti orang mabuk, senyum-senyum sendiri.

"N-ne!" jawab Kyuhyun salah tingkah. Sungmin menutup kotak P3K lalu beranjak dari tempat duduknya.

"Mianhae Siwon-sshi! Kami tidak sengaja membuat sepupumu terluka," ucapHeechul. Siwon tersenyum tipis.

"Tidak usah dipikirkan! Kyu nya saja yang kurang hati-hati,"ucap Siwon lalu menatap Shindong "Shindong-ah! Aku rindu dengan mie china buatanmu. Masakkan dua porsi untukku, ne?"

Shindong mengangguk lalu pergi ke dapur. Kemudian tatapanya beralih ke sudut ruangan. Terlihat kepala kecil berambut cokelat kemerah-merahan muncul dari sandaran kursi.

"Siapa dia?" tanya Siwon saat melihat Jaejoong yang membelakanginya. Jaejoong saat itu tak menghiraukan sekeliling dan tetap menonton kartun kesukaannya.

"Oh! Dia itu keponakannya Junsu. Sudah tiga hari ini Junsu selalu membawanya ke sini. Tak apa kan?" tanya Heechul sedikit ragu.

Siwon mengangguk "Tak apa. Aku tidak pernah membuat peraturan untuk melarang membawa anak kecil di sini."

"Arrrrrrgggghhhhh huhwaaaa! Ahjucchi! Hiks hiks," terdengar suara Jaejoong yang tiba-tiba menangis. Semua pun langsung berhamburan dan langsung menghampiri Jaejoong. Tak terkecuali Siwon.

"Waeyo?" tanya Siwon lembut. Dia berjongkok di hadapan Jaejoong. Sepertinya dia juga terhipnotis dengan keimutannya Jaejoong.

"Hiks… hiks…" dengan mata yang berair Jaejoong menatap Siwon "Tangan Joongie beldalah kena paku. Cakit"

Tangis Jaejoong semakin membesar. Siwon menatap paku kecil yang ada di sisi kursi. kemudian dia menyuruh Hyukjae mengambil kotak P3K. Sambil menunggu Hyukjae, Siwon dengan lembut meniup telunjuk kanan Jaejong yang berdarah. Sontak tangis Jaejoong memelan.

"Jangan menangis ne? Namja tidak boleh menangis," ucap Siwon lembut sambil membelai rambut Jaejoong.

Jaejoong yang seenggukan menatap wajah tampan Siwon. Entah kenapa dia suka saat Siwon membelai rambutnya seperti itu. Tak lama tangisnya pun berhenti. Semburat merah muncul di pipinya. Aigoo, sepertinya dia menyukai seorang Choi Siwon.

"Gomawo Hyunkjae-ah!" ucap Siwon saat Hyukjae memberikan kotak P3K.

Dengan lembut Siwon membersihkan darah yang ada di telunjuk Jaejoong dengan kapas. Lalu dia menutup luka Jaejoong dengan plester penutup luka bergambar beruang.

"Hyung!" panggil Jaejoong pada Siwon. Semua tercengang. Apa-apaan ini? Jaejoong memanggil mereka dengan sebutan ahjusshi khas cadelnya. Tapi kenapa dia memanggil Siwon dengan sebutan hyung? Padahal kan umur mereka semua tidak jauh berbeda.

"Hm? Waeyo?" tanya Siwon lembut.

"Hyung tampan," jawab Jaejoong dengan tampang polosnya. Kemudian dia tertunduk malu. Siwon menampilkan senyum manis dengan lesung pipinya pada Jaejoong.

"Gomawo!" Siwon mengacak-acak rambut Jaejoong dengan gemas.

"Siwon-sshi! Mie chinanya sudah siap!" teriak Heechul.

.

.

.

Junsu mengelap rambut Jaejoong yang basah sehabis mandi. Sedangkan Jaejoong sedang asyik menggambar dengan crayon-nya di lantai sambil tengkurap. Mereka sudah pulang dari restoran china itu dan berada di ruang tengah apartemennya Yunho. Menunggu sang pemilik apartemen dan Park Yoochun.

"Joongie sedang menggambar apa?" tanya Junsu tiba-tiba seteah selesai. Dia memandangi hasil gambaran Jaejoong.

"Ini, ahjucchi!" Jaejoong memperlihatkan gambarannya pada Junsu. Junsu mengernyitkan dahinya. gambaran Jaejoong aneh. Dia menggambar gunung, lalu ada ular besar, dan ada gajah juga manusia di sana.

"Ini gambar apa?" tanya Junsu lagi. Tiba-tiba Jaejoong tersenyum lalu menjelaskan.

"Ini Joongie, Junsu ahjucchi, Yoochun ahjusshi, Yunho ahjucchi," Jaejoong menunjuk satu-satu gambar orang yang ada di kertas itu "Dan ini Ciwon hyung."

"Siwon hyung?" kaget Junsu.

Jaejoong mengangguk "Ne!" dia melanjutkan "kita cemua cedang jalan-jalan ke gunung. Lalu ada ulal becaaal cekali. Ulal itu mau makan kita ahjucchi. Kayak di film-film itu lho!"

Junsu menganggu-angguk mengerti "Lalu?"

"Lalu ulal itu makan Junsu ahjucchi! Lalu makan Yoochun dan Yunho ahjucchi juga. Lalu caat ulal becal itu mau makan Joongie, Ciwon hyung datang dan menyelamatkan Joongie. Ciwon hyung beltalung melawan ulal becal itu. caat Ciwon hyung mau kalah, datang Changchang (nama boneka Joongie) lalu membantu Ciwon hyung dan ulal itu kalah! Tubuhnya telbakal dan jadi abu."

Jaejoong kembali bercerita "Kemudian Joongie dan Ciwon hyung pulang ke ictana yang becaaaal cekali naik Chang-chang."

Junsu mengangguk. Imajinasi anak-anak memang berlebihan. Tapi tetap Junsu merasa janggal. Kenapa dia harus mati mengenaskan dimakan ular coba? Memangnya tidak ada mati yang lebih anggun ya?

"Ne ne!" Junsu mulai menyadari sesuatu. Kenapa nama Siwon dibawa-bawa? "Kenapa ada Siwon hyung?"

Jaejoong tiba-tiba tersipu malu. Sedetik kemudian semburat merah menjalar di pipi Jaejoong "Kalena Ciwon hyung tampaaan cekali. Dia juga cangat baik."

"Mwo?" Junsu terbelalak "Joongie menyukai Siwon hyung?"

Jaejoong semakin tersipu malu. Dia membenamkan wajah merahnya di tumpukan kertas gambarnya. "Ne! Joongie menyukai Ciwon hyung. Cangaaaat cuka!"

"Ani. Joongie masih kecil. Suka sama Siwon hyung nya kalau sudah besar nanti saja, ne?" ucap Junsu.

"Waeyo ahjucchi? Joongie tetap cuka cama Ciwon hyung. Joongie mau menikah cama Ciwon hyung nanti."

"Aish?" Junsu mencengkram wajahnya "Ne ne! kalau Joongie sudah besar saja, arra? Tunggu badan Joongie tumbuh besar dulu seperti Siwon hyung baru kalian boleh menikah."

Jaejoong mengangguk. Dia tersenyum senang. Menunggu badannya tumbuh? Aish, bagi Jaejoong itu terlalu lama. Dia ingin menjadi dewasa secepat mungkin.

Ditengah keasyikannya menggambar, suara bel apartemen berbunyi. Tanpa pikir panjang Junsu beranjak dan membukakan pintu. dia yakin kalau itu adalah kekasihnya dan Yunho.

"Lelahnya," Jaejoong melihat Yoochun yang meregangkan otot-ototnya. Dia masuk ke ruang tengah diikuti Junsu dan Yunho. Dengan lemas Yoochun merebahkan diri di sofa lalu Junsu duduk di sampingnya. Sedangkan Yunho dengan langkah cepat langsung masuk ke kamarnya. Jaejoong kembali fokus menggambar.

"Chagi, aku rinduuuu," ucap Yoochun manja sambil memeluk pinggang Junsu. Dengan jahilnya dia merebahkan kepalanya di paha Junsu.

"Junsu-ah! Apa kau melihat dokumen bermap biru di meja kerjaku?" Yunho tiba-tiba muncul dari kamarnya.

Junsu menggeleng "Ani. Aku bahkan tidak masuk ke kamarmu hyung."

"Aish!" YUnho menggerutu sambil mencari sesuatu di sofa.

"Apa yang kau cari Yunho-ah?" tanya Yoochun yang jengah juga melihat Yunho yang panik mencari sesuatu.

"Dokumen penting dari Mr. Takeshi! Aku menaruhnya di meja kerjaku tadi malam. Dan sekarang tidak ada," ucap Yunho sambil mengacak-acak meja di depan sofa "Yoochun-ah! Junsu-ah! Bantu aku mencarinya!"

Merekapun mulai mencari dokumen itu. sedangkan Jaejoong mengabaikan mereka. Dia masih asyik menggambar. Tiba-tiba Junsu tak sengaja melihat sebuah map biru di samping Jaejoong, lalu memandang horor ke kertas gambar Jaejoong. Ragu-ragu dia menarik lengan kemeja Yoochun yang masih asyik mencari.

"Waeyo chagi?" tanya Yoochun lembut. Dia mengikuti pandangn Junsu ke arah Jaejoong yang sedang menggambar dan ikut memandang horor ke sana.

Yunho yang melihat Junsu dan Yoochun berhenti mencari malah ikut berhenti. Dia penasaran apa yang mereka lihat. Perlahan Yunho membalikkan badannya dan…

"Omooo?" Yunho langsung merampas kertas gambar Jaejoong. Jaejoong tersentak kaget karenanya.

"Apa yang kau lakukan, hah?" bentak Yunho yang panik melihat dokumen pentingnya dicoret-coret oleh Jaejoong. Jaejoong yang mulai ketakutan barsembunyi di balik kaki Junsu.

Ternyata Jaejoong menjadikan bagian belakang kertas dokumen yang polos itu sebagai alas gambarnya. Kertas itu juga kumal. Tatapan Yunho juga seperti ingin memakan Jaejoong hidup-hidup. Dia sungguh marah. Tak pernah Yoochun ataupun Junsu melihat Yunho semarah ini.

"Apa-apaan kau Jaejoong-ah? Kau telah mencoret-coret dokumen pentingku! Kau tahu dokumen ini mempertaruhkan uang jutaan dolar hah?" bentak Yunho penuh amarah. Dia tidak peduli lagi Jaejoong itu anak kecil atau bukan.

Terdengar suara isak tangis dari Jaejoong. Junsu langsung berjongkok dan menenangkan Jaejoong. Dia memeluk namja kecil itu.

"Hiiksss… hiksss! Ahjucchi hikss…" Jaejoong menangis di pelukan Junsu. Junsu membelai punggungnya dengan lembut.

"Huuusssss…. Jangan menangis ne?" ucap Junsu. "Hyung! Aku rasa kau terlalu berlebihan memarahinya. Dia kan anak kecil yang tidak tahu apa-apa hyung."

"Ne! Su-ie benar Yunho-ah! Daripada kau memarahinya lebih baik kita mencari jalan keluarnya," Yoochun mencoba menahan amarah Yunho. Kemudian dia mengisyaratkan pada Junsu agar membawa Jaejoong ke kamarnya. Junsu mengangguk dan membawa tubuh kecil Jaejoong yang sedang terisak.

Yunho megusap keras wajahnya. Dia frustasi. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dokumen penting ini bisa membuat perusahaannya rugi jutaan dolar. Dia pun menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil memandangi dokumen penting yang acak-acakan itu.

"Apa yang harus kulakukan Yoochun-ah? Besok dokumen penting ini harus sampai pada Mr. Takeshi. Kalau aku yang membuat dokumen ini sih tdak masalah. Tapi yang membuat dokumen ini adalah Mr. Takeshi sendiri. Masa aku menyuruhnya membuat dokumen ini lagi untuk meeting besok?" ucap Yunho yang agak tenang saat Yoochun duduk di sampingnya.

"Ada dua cara YUnho-ah! Kau tetap memberikan dokumen itu besok. Dokumen itu masih bisa dibaca karena hanya bagian belakangnya saja yang dicoret. Kedua, kau jelaskan yang sebenarnya pada Mr. Takeshi." Jawab Yoochun.

Yunho menghela nafas panjang. Dia nampak berpikir sejenak. "Hubungi Mr. Takeshi dan jelaskan yang sebenarnya."

"Ne!" Yoochun beranjak dari sofa dan mencari tempat yang tenang untuk menelpon. Sedangkan Yunho menenangkan dirinya. Perlahan dia memejamkan matanya.

.

.

.

Udara malam yang dingin membuat jaejoong menggeliatkan tubuhnya di atas kasurnya. Walaupun badannya telah tertutup selimut tebal dia tetap saja menggigil. Dengan perlahan dia bangun dari tidurnya dan mengusap-usap matanya yang bengkak. Dia nampak habis menangis.

Kamarnya yang gelap tak membuat Jaejoong takut. Yang justru ditakutinya adalah ekspresi kemarahan Yunho tadi sore. Apa dia melakukan kesalahan yang besar sampai Yunho semarah itu? Dia sungguh tak tahu apa-apa soal dokumen itu.

Dengan langkah pelan Jaejoong menghampiri jendela kamarnya. Dia sedikit membuka jendela kamarnya lalu menatap ke langit yang penuh bintang. Tak lama dia terisak pelan.

"Umma… Appa… Joongie ingin ikut…" gumam Jaejoong ditengah isakannya.

Jaejoong menautkan jari-jarinya. Dia memejamkan matanya sambil berdoa. Wajah lembut Siwon dan ekspresi kemarahan Yunho kembali berputar di otaknya.

Tuhan! Joongie ingin cekali bica menikah dengan Ciwon hyung dan tidak merepotkan Yunho Ahjusshi lagi…

Selesai berdoa Jaejoong kembali ke kasurnya dan memejamkan mata. Entah kenapa dia merasa lega setelah selesai berdoa. Tanpa dia sadari, bintang jatuh melesat di langit.

.

.

.

Pagi yang cukup cerah di Seoul. Setidaknya seperti itulah prakiraan cuaca yang ada di berita televisi pagi ini. Yunho menaikkan volume suara televisinya sambil merapikan kemejanya. Dia menghela nafas sejenak.

Dengan langkah pelan Yunho berjalan ke kamar Jaejoong. Dia berdiri di depan pintu kamarnya. Dia terdiam sejenak memikirkan kemarahannya semalam. Benar apa yang dikatakan Junsu, dia memang berlebihan. Jaejoong hanyalah anak kecil yang polos dan tak mengerti apa-apa. Tidak seharusnya dia memarahi Jaejoong seperti itu.

Krieeeeettt~~

Dengan pelan Yunho mendorong pintu kamar Jaejoong. Dia tidak ingin membangunkan Jaejoong. Dia akan berusaha bersikap lembut pada Jaejong mulai sekarang. Rasa bersalah membuatnya tidak bisa tidur tadi malam.

Terlihat gundukan besar di balik selimut. Jaejoong menutupi seluruh tubuhnya. Dengan perlahan Yunho berjalan ke arah jendela kamar Jaejoong lalu membuka tirainya.

"Iroena Jaejong-ah! Sudah pagi," ucap Yunho sedikit lembut dari biasanya. Cahaya matahari masuk ke kamarnya.

Jaejoong nampak menggeliat pelan di dalam selimut. Dengan perlahan dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya sambil mengusap-usap matanya. Yunho nampak merapikan tirai jendela dan membelakangi Jaejoong.

"Joongie masih mengantuk ahjusshi," rengek Jaejoong yang terduduk di kasurnya.

Yunho terdiam sejenak. Aneh? Kenapa Jaejoong tidak cadel lagi?

Yunho berbalik dan menatap Jaejoong.

"Omo!" mata Yunho terbelalak mendapati seorang namja (bukan anak kecil) tanpa pakaian sedang duduk di atas kasur.

"Waeyo ahjusshi?" ucap namja itu.

TBC