Title : Love Never Wrong
Author : Meyla Rahma
Rated : T to M
Pairing : HaeHyuk {Mungkin bisa nambah, tapi Main Pair tetep HaeHyuk }
Genre : Romance
WARNING…!
YAOI / Boy Loves / Boy X Boy
Miss typo(s)
Mature Content
DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!
And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY! I DON'T NEED YOUR BASHING or FLAME!
DON'T LIKE, DON'T READ..!
JUST CLICK [X] {close} OKE
Happy Reading…
.
.
Donghae Pov . . .
Haruskah aku masuk kedalam sana? Saat ini aku sedang berdiri di depan pintu Flower Shop yang aku yakini adalah milik hyung ku, Hankyung Hyung. Aaiisshh… Tentu saja aku harus masuk.! Bukankah tadi aku sudah memutuskan untuk kemari dan menemui Han hyung.
Akhirnya, ku putuskan untuk memasuki Flower Shop itu. Hmm.. Tempat ini benar-benar terasa nyaman banyak sekali macam bunga yang membuat tempat ini terasa sangat nyaman. Tapi tunggu, siapa itu? Siapa mahkluk Indah yang sedang merangkai tangkaian bunga itu? Aku tak yakin jika mahkluk Indah itu adalah mahkluk Fana – yang sama seperti ku. Tapi aku yakin sekarang Tuhan sedang resah. Kenapa? Tentu saja karena 'ia' sedang kehilangan salah satu malaikat manis-Nya. Tiba-tiba tubuh ku kaku dan tak bisa berpaling dari sosok menakjubkan yang ada di hadapan ku saat ini.
Kalian tahu kenapa? Di hadapan ku saat ini terlihat sebuah maha karya Tuhan yang teramat sempurna yang tak pernah ku lihat di seumur hidup ku ini. Seorang berambut Blode bewarna terang itu, memakai kaos V-neck rendah bewarna putih, yang memperlihatkan betapa mulusnya kulit seputih susu yang ia miliki. Ia sedang merangkai serangkaian Bunga yang tak ku tau apa namanya. Wajahnya yang sangat manis dengan onyx matanya yang lebih bening dari permata apapun di dunia ini yang di padukan dengan ketegasan rahang dan leher jenjang putih mulus yang berpadu dengan Apple Adam yang di milikinya.
Tunggu dulu.! Dia namja?
Ya, dia pasti Namja.! Ia bahkan tak memiliki 'gundukan' di dadanya. Tapi kenapa dengan diriku? Bukankah seharusnya aku risih, bukan malah tertegun bahkan tak mampu berpaling dari sosok itu seperti ini. Apalagi saat ini ia tengah tersenyum memamerkan Gummy Smile – yang terlihat Manis untuk ku. Oh God, dia benar-benar manis.! Jangan salahkan jika aku ingin 'memakannya' saat ini juga.
.
' Seperti inikah perasaan yang dirasakan Hyung ku selama ini? '
.
End Donghae POV . . .
.
.
Mengetahui ada seseorang yang telah memasuki toko, Sungmin segera menghampiri orang itu. "Anneyeong Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sungmin lembut. Namun Pria yang di sapa itu masih tetap tak bergeming di posisinya bahkan tidak mengedipkan mata sama sekali. Hal itu sedikit membuat Sungmin bingung. Akhirnya Sungmin mengikuti arah pandang namja di hadapannya itu. Sungmin baru sadar ternyata objek yang membuat namja itu seolah tertegun bahkan sampai enggan mengedipkan mata adalah dongsaeng kesayangannya – Hyukkie.
Senyum tipis terkembang di bibir Sungmin, sebelum akhirnya ia menepuk pelan pundak namja di hadapannya – yang seperti Mati Berdiri itu. "Mian Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya sungmin lembut. Merasa ada yang menepuk pelan bahunya, Donghae akhirnya sadar dari Dunia Lamunan yang memabukkan tentang Objek yang ia yakini sebagai Malaikat Tuhan yang hilang itu.
"Ah ne, Be..Benarkah ini rumah Lee Hankyung?" jawab Donghae setelah berhasil menemukan suaranya kembali. "Tentu tuan, ini Kediaman Lee Hankyung dan Lee Heechul." Jawab Sungmin senang. "Apa anda ingin bertemu dengan Hankyung hyung?" tanya Sungmin. Donghae hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya. "Baiklah, tunggu sebentar, ne. Akan Saya Panggilkan Han hyung." Ucap Sungmin kemudian dia membuka pintu disudut ruang – yang Donghae yakin menuju ke salah satu ruangan di rumah hyungnya, mengingat Flower Shop itu langsung terhubung dengan rumah pemiliknya yang bersebelahan.
'apa tadi dia bilang Lee Heechul?' batin Donghae.
Sepertinya ia harus terbiasa dengan marga keluarganya yang akan 'menghiasi' nama dari istri hyungnya itu. Donghae masih sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga dia tak menyadari seseorang yang beberapa menit yang lalu membuatnya melayang-layang ke Negri Khayalnya – sedang berjalan menghampirinya.
"Mian tuan, bolehkah saya menawarkan anda untuk duduk. Saya pikir Han hyung sedang 'sibuk' dengan Heechul hyung. Mungkin anda akan sedikit lama untuk menunggunya." Sapanya lembut sambil memamerkan Gummy Smile – yang sejak beberapa menit lalu telah menawan hati seorang Lee Donghae. Hyukkie mulai kesal, karna Namja yang diajaknya bicara sama sekali tidak memberikan tanda-tanda kehidupan – karna tak sama sekali membalas penawarannya tadi. Dengan segera ia menarik legan Donghae dan mendudukkan nya di salah satu kursi di ruangan itu.
.
' Tangannya halus sekali. Lebih halus dari tangan Yeoja sekalipun. ' batin Donghae.
.
"Tunggu disini ne, aku akan ambil kan minum untuk anda." ucap Hyukkie sambil memberi Senyuman yang mampu melelehkan es dalam hati Donghae, kemudian melangkahkan kaki-kaki rampingnya kesebuah ruangan yang hanya berbatas tirai hijau dengan tempat Donghae berada saat ini. Hanya ada satu hal yang ada di pikiran Donghae saat ini.
.
.
' Dia jauh lebih manis saat Tersenyum. . . '
.
.
Diruangan yang lain . . .
"Hannie. . . Bisakah kau bawa kemari potongan Wortel di meja itu.? Sup nya sudah mulai mendidih nih.." kata Heechul sambil sesekali mengaduk Sup dihadapannya.
"Ne. . ." ucap Hankyung singkat. Lalu ia mendekati Istrinya sambil membawa semangkuk irisan Wortel. Heechul langsung meraih mangkuk yang dibawa Suami nya itu, kemudian memasukkan semua irisan Wortel itu ke dalam Sup yang tengah ia masak.
"Hmmm. . . Baunya wangi sekali ne." gumam Hankyung sambil memeluk Pinggang Heechul possessive –seolah tak ingin Namja cantik dihadapannya itu menghilang.
"Jinjja, Chagi? Apa kau sudah lapar?" tanya Heechul sambil membalikkan badannya menghadap sang Suami yang tengah memelukknya erat. Hal ini membuat Hankyung bisa langsung menatap wajah Cantik milik istrinya itu. Tak hanya itu, dia juga bisa melihat Kulit dada Heechul yang putih seperti susu dikarenakan 2 kancing kemeja Heechul yang tak terkancing – mungkin karna merasakan panas yang menguar dari kompor saat memasak tadi. Namun justru karna pemandangan itu lah, sebuah ide jahil meluncur di otak Hankyung – Ide untuk mengerjai tubuh istrinya itu.
Dengan segera Hankyung menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang Heechul, menghirup aroma manis yang menguar dari leher istrinya itu. Kemudian merambat kearah telinga Heechul, mengecupnya lalu berbisik "Aku sangat Laparrr Chagi. Dan aku Cuma ingin memakan mu, Sekarang. . ." bisik Hankyung dengan suara yang dibuat se-menggoda mungkin.
"Tapp. .mmhhmmpp" belum sempat Heechul mengatakan apapun, bibirnya sudah dilumat dengan intens namun lembut oleh Hankyung. Ciuman yang begitu lembut nan penuh cinta yang Hankyung berikan padanya, membuat Heechul terlena dan melupakan penolakannya tadi – dengan perlahan ia kalungkan lengannya pada leher sang Suami.
"Eummphh…" Heechul sedikit mendesah ketika Hankyung melumat bibir atas dan bawah Heechul dengan sangat lembut. Membuat Heechul serasa melayang dengan ciuman lembut Hankyung itu. Di saat Heechul mendesah Hankyung tak melewatkan kesempatan itu, dengan segera ia masukkan lidahnya ke dalam gua hangat nan manis milik istrinya itu. Menyesap semua rasa manis yang disuguhkan mulut sang istri, sesekali ia juga mengabsen sederet gigi putih nan rapi milik Heechul.
"Eumph! Eumph!" Heechul mulai kehabisan nafas dan menepuk-nepuk bahu Hankyung karna nafasnya sudah di ujung paru-paru nya. Mengetahui hal itu, Hankyung segera melepas pagutannya pada bibir Heechul. Bisa ia lihat saat ini wajah Heechul yang memerah, dengan nafas yang terengah-engah dan jangan lupakan bibir sensualnya yang memerah dan sedikit bengkak dengan terdapat sedikit saliva karna perlakuan Hankyung tadi.
Tak tahan untuk segera mengerjai tubuh istrinya lebih jauh, Hankyung segera mematikan nyala kompor yang berada dibelakang tubuh sang istri – setelah sebelumnya ia mengecek bahwa Sup itu telah matang. Lalu dia mendudukkan diri disalah satu kursi yang ada di dapurnya itu. Diseretnya dengan lembut lengan Heechul, dan didudukkan Heechul diatas pangkuannya. Heechul hanya menuruti perlakuan lembut dari sang Suami nya tersebut.
Perlahan tangan yang ia gunakan untuk memegang pinggang Heechul yang diatas pangkuannya –merambat kebagian dada Heechul, mencari sesuatu disana. Setelah menemukan apa yang dicari, dengan segera ia tekan dan pilin nipple milik sang istrinya. Karna perlakuan Hankyung itu, Heechul hanya bisa mendongakkan kepalanya kebelakang melampiaskan segala sentuhan lembut dari sang Suami dengan desahan – yang menurut Hankyung sangat merdu itu.
Hal ini tentu tak disia-siakan oleh Hankyung, dengan segera ia menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang nan Putih tak ternoda milik Heechul. Heechul hanya bisa menggerang ketika Hankyung mulai menjilati, menghisap bahkan menggigiti leher jenjang miliknya. Heechul serasa melayang dengan semua ransangan kecil yang diberikan Hankyung pada tubuhnya. Bagaimana tidak? Kedua nipple yang ditekan dan dipilin secara bergiliran dan Kecupan serta hisapan mulut Hankyung pada kulit lehernya diwaktu yang bersamaan, membuat Heechul melupakan segala hal dan yang ia ingin hanya satu, yaitu sentuhan lembut Hankyung pada tubuhnya.
Sepasang Suami Istri itu masih sibuk dengan kegiatan mereka, hingga tak menyadari kehadiran orang lain diruangan itu. "Aish.. Hyung.! Ini masih siang.! Jangan melakukan Hal 'ituí ' disembarang tempat.! Bagaimana kalau uri Hyukkie melihat kalian seperti ini.? Kalian ingin meracuni pikiran polosnya, eoh?" pekik Sungmin keras, saat ia tak sengaja melihat 'adegan suami istrií ' dihadapannya saat ini.
Kedua pelaku adegan itu hanya bisa memberikan cengiran sebagai balasan dari pekikan Sungmin tadi. "Kau ingin membuat telinga kami tuli, eoh? Ada apa tiba-tiba kau masuk kemari, heh?" tanya Heechul dengan nada sinis pada Dongsaeng kesayangannya itu. "Aish, aku hampir lupa. Ada seseorang mencari Han Hyung di toko. Sepertinya ia orang asing. Karna aku baru melihatnya hari ini." kata Sungmin.
Heechul sedikit mengeriyitkan alisnya. "Memang siapa yang mencari ku, Minnie.?" tanya Hankyung lembut. "Entahlah Hyung, aku juga tak tahu. Tapi aku pikir wajahnya sedikit banyak mirip dengan Han Hyung lloh.." ucap Sungmin senang. Mendengar hal itu, Heechul dan Hankyung saling bertatapan kemudian tersenyum satu sama lain. "Temuilah dia Hannie, nanti aku akan menyusul kalian ke toko." ucap Heechul lembut sambil merapikan kerah kemeja sang Suami yang sedikit berantakan karena 'acara' mereka tadi.
Hankyung mengecup kilat bibir Heechul kemudian bergegas ke tokonya, menemui sosok yanga ada disana – yang diyakininya merupakan Dongsaeng yang selama 12 tahun sudah tak ditemuinya. Mendapat kecupan kilat dari Hankyung seperti tadi membuat wajah Cantik Heechul bersemu merah, apalagi di hadapan sang dongsaeng.
"Aish.. 'Neomu kyeopta'… tak pernah kusangka ne, hyung ku yang Galak nya minta ampun ini bisa langsung memerah hanya dengan Kecupan kilat ala Hankyung hyung, ne.?" goda Sungmin pada sang Hyung. "Yah.! Bocah..! kau itu tidak sopan..! Ikut campur urusan orang lain.!" Pekik Heechul pada sang dongsaeng – yang sudah kabur sebelum terkena pukulan dari segala macam benda yang dipegang oleh sang Hyung.
.
.
Di dalam Shop. . .
Di dalam ruangan yang penuh dengan wana-warna indah dan wangi harum bunga itu, kita disa melihat seorang Lee Donghae tengah mengaduk-aduk segelas Orange Jus yang ada di genggamannya. Sessekali senyum tipis terlukis indah di kedua belah bibir tipisnya. Mungkin kalian bertanya kenapa seorang berhati Dingin bak Es Kutub Utara, bisa tersenyum lembut seperti itu?
.
.
Flashback Pov . . .
"Minuman Datang. . ." pekik sebuah suara lembut dengan riang. Donghae mengalihkan padangannya yang semula memandang halaman depan yang asri melalui kaca jendela kepada sumber dari suara yang riang dan menentramkan itu. Seulas senyum terukir manis dibibir Donghae. Asal kalian tahu, Donghae bukan lah orang yang suka mengumbar senyumannya. Ia lebih cenderung bersikap Dingin pada siapapun yang berhadapan dengannya. Tapi entah mengapa sejak bebearap saat yang lalu seorang Lee Donghae mulai merubah Tabiat aslinya.
.
' Hanya untuk Sesosok Namja Manis yang telah menyentuh Hatinya '
.
"Silahkan diminum tuan,.." ucap hyukkie lembut tanpa melepas senyum menawannya. Donghae hanya memberikan senyum tipisnya. Setelah itu hyukkie beranjak untuk meninggalkan Donghae – untuk melanjutkan pekerjaan merangkai karangan bunga. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan menggenggam lengannya dan sebuah suara lembut namun tegas mengintrupsinya.
"Kau mau kemana?" tanya Donghae pelan. Hyukkie berbalik hingga Onyx hitamnya menatap dalam pada obsidian kecoklatan milik Donghae. Entah tak kuat akan Pesona Hyukkie yang terlalu tajam, Donghae segera mengalihkan tatapan matanya dai onyx hitam milik Hyukkie.
"ah, tentu saja melanjutkan pekerjaan saya. Memang nya ada apa lagi, tuan?" tanya Hyukkie sambil mengerjap-ngerjapkan matanya imut. Tak tahu kah kau Hyukkie, bahwa saat ini Donghae sedang mati-matian mengatur degup Jantungnya yang seolah akan meledak karena tatapan polos mu itu.
"ah, aniyo. .. Aku hanya sekedar bertanya saja. Ya sudah silahkan kau lanjutkan pekerjaan mu." Kata sedikit gugup sambil melepas pegangan tangannya pada lengan Hyukkie – yang tanpa ia sadari menggenggam lengan Hyukkie dengan erat sedari tadi.
End Flashback . . .
.
.
Donghae masih saja tersenyum lembut sambil melamun, hingga tak menyadari seseorang yang menjadi tujuannya kemari – sedang menghampirinya dengan tatapan bingung. "Yahh..! Ikan..! Kenapa Kau tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila begitu.?" Tanya Hankyung dengan nada sedikit Khawatir. "Aniyo hyung, aku hanya sedang merasa sedikit . . ." ucapannya terhenti saat ia baru menyadari keberadaan Hyung kesayangannya. Segera ia tatap hyungnya yang tengah tersenyum lembut padanya. Dengan segera ia menghambur memeluk sang hyung kesayangan yang sudah 12 tahun lamanya tak ia temui.
Sesekali Hankyung mengelus kepala Namdongsaeng kesayangannya itu. Ya, setidaknya Hankyung tak perlu lai sedikit menunduk untuk sekedar memeluk Namdongsaengnya itu. Harus ia akui, dongsaengnya itu telah berubah total secara fisik. Bayangkan saja, seingatnya dulu Donghae itu bertubuh pendek, berwajah kekanakan dan selalu bersikap Aegyo dihadapannya.
Tapi sekarang lihat, Dongsaengnya itu sedah tumbuh tinggi hingga ia tak lagi perlu sedikit menunduk untuk membalas pelukannya. Tak hanya itu, ketegasan garis rahang yang berpadu dengan pelipis serta tatapan mata tajamnya mempertegas aura kedewasaan yang menguar dari dirinya. Walau Hankyung tahu, masih ada aura Childish yang tersembunyi dibalik Kegagahan sang Namdongsaeng.
Pelukan mereka perlahan melonggar, dan kemudian Hyung dan dongsaeng itu saling menatap satu sama lain. Tak berapa lama kemudian, suara gelak tawa menggelegar di dalam Flower Shop itu. "hahahaha… tak ku sangka Namdongsaeng ku yang dulu Pendek dan kekanakan ini sekarang sudah menjelma menjadi sesosok Pangeran Ikan yang Tampan dan gagah, ne?" tanya Hankyung menyudahi Gelak tawa mereka. "Ck, kau itu hyung. Kalau mau memujiku bilang saja. Tak usa membahas tinggi badan ku dulu. Aish.." ucap Donghae sinis.
"Yah.. ayyo lah, Hae. Aku hanya bercanda. Bagaimana keadaan Perusahaan mu.? Ku dengar kau sudah membangun 4 Cabang lagi di Luar Negri, ne?" tanya Hankyung seraya duduk disebelah sang dongsaeng. "Ck, ya seperti itu lah, hyung. Sudalah hyung, tak bisa kah kita bahas hal lain. Hari ini aku hanya ingin bebas dari segala kepenatan ku tentang pekerjaan." ucap Donghae lirih, tapi masih bisa didengar oleh Hankyung.
"ah, arraseo, arraseo.. " kata Hankyung singkat. Beberapa saat kemudian sesosok namja cantik yang tak lain adalah Heechul itu, menghampiri kedua kakak beradik yang sedang bercengkrama itu. "Waahh… Apa aku boleh bergabung dalam pembicaraan Hangat ini?" tanya Heechul lembut.
"Tentu saja, Chagi. Ah ya, Kenalkan hae, ini Kim Heechul, istri hyung yang paling cantik." kata Hankyung senang. Heechul langsung saja menghadiahi sang suami dengan cubitan sayang dipinggangnya. "Yah.. Appo, Chagi. . ." rengek Hankyung pada istri. Heechul hanya mempoutkan bibir nya tanda sebal pada sang suami.
Melihat hal itu hanya membuat Donghae tersenyum geli melihat tingkah laku Hyung dan kakak iparnya yang kekanakan itu. Beberapa saat kemudian Sungmin menghampiri mereka bertiga. Untuk berpamitan pada Heechul sebelum mengantar sebuah karangan bunga.
"Hyung, aku dan Hyukkie pamit mengantar pesanan lily putih ini dulu, ne. Apa Hyung mau titip sesuatu?" tanya Sungmin. "Ah ne, aku mau titip ambilkan beberapa pita dan bucket model baru yang sudah aku pesan di toko biasanya,ne." kata Heechul seraya mengantar Sungmin ke tempat dimana sebuah matic putih terpakir.
"Yah.! Hyukkie..! Cepat kemari. Kita harus segera berangkat." pekik Sungmin dari arah luar Shop. "Ne, hyung. Tunggu sebentar..!" balas Hyukkie sambil memakai hondie birunya. "Hyung, aku berangkat dulu, ne?" pamit Hyukkie pada Hankyung. "Ne, Hati-hati di jalan." Pesan Hankyung. Seulas senyum menawan terukir di bibir Hyukkie. Setelah itu ia bergegas menghampiri Sunmin yang telah menunggunya.
Tanpa Hyukkie sadar, ada seseorang yang terdiam dalam kekaguman karna senyum manis nan menawan yang bau saja Hyukkie tunjukkan. Senyum yang berhasil melelehkan sedikit demi sedikit es dalam hati seorang Lee Donghae.
Menyadari dongsaengnya hanya diam, Hankyung mambalikkan badan menghadap sang Dongsaeng yang ternyata tengah menatap dengan pandangan teduh sosok manis – yang baru saja berpamitan dengannya. Seulas senyum terkembang dibibir Hankyung kala dia mengerti apa yang tengah di pikirkan oleh Namdongsaeng kesayangannya itu.
"Apa Kau mulai Menyukai Hyukkie, Hae.?" Tanya Hankyung lembut pada Donghae. Donghae sedikit tersentak dengan pertanyaan sang Hyung. 'Jadi Namanya, Hyukkie ' batin Donghae. "Mana Mungkin aku terpikat pada Namja sepertinya Hyung. Kau pasti bercanda.." kata Donghae dengan senyum kaku. Hankyung hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia tahu pasti, bahwa Donghae masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang menjadikannya Dingin seperti ini. ' Suatu saat kau akan tahu apa yang telah aku rasakan, Namdongsaeng Ku' batin Hankyung.
Sementara itu Donghae masihberkutat dengan pikirannya sendiri.
'Apa Kau mulai menyukai Hyukkie, Hae.?' Perkataan Hyungnya tadi sedikit mengusik Hatinya.
.
.
Aku tidak Terpikat dengan Namja itu, hyung. Tapi mungkin aku . . .
' Sedikit Tertarik padanya '
.
.
Pagi yang cerah kembali menyapa kota Seoul dengan sinaran mentari yang mampu mehangatkan jiwa siapapun di dunia. Pancaran hangat mentari, memberi semangat dan ketentraman bagi yang akan membuka lembaran hari baru di hidupnya. Secercah sinar positif untuk mengawali hari.
Namun, kebaikan pagi sepertinya tidak berlaku untuk sebuah tempat ditengah perkotaan. Tempat dimana hiruk pikuk orang-orang yang sibuk dengan lembaran atau bahkan tumpukan berkas ditangan dan dimeja mereka. Tempat dimana Dingin hati seorang Namja yang memimpinnya.
.
' Aiden Company '
.
"Kami sarankan untuk memakai barang-barang tahun lalu sebagai fasilitas pengujung di Resource kita. Kami pikir konsumen takkan mengetahui jika fasilitas itu adalah barang kita tahun lalu jika kita mengubah peletakkannya. Dan tentunya Perusahaan akan mendapat Keuntungan besar. Apalagi mengingat saat ini adalah awal dari libur musim panas. Jadi ini pasti akan menjadi kesempatan emas bagi perusahaan kita, Presdir." ucap salah seorang Staff pada sebuah Meeting dihadapan sang Presdir –Donghae.
Donghae hanya memberikan tepuk tangan, menanggapi ide salah seorang Staffnya itu. Namun ada yang aneh, tanpa mereka sadarisang Presdir sama sekali tak memberikan senyum tanda kagum ataupun puas – melainkan sebuah seringai meremehkan diwajah datarnya. "Aku cukup Kagum dengan Idemu . . ." ucap Donghae. Staff itupun mengembangkan senyum bangga dibibirnya. Begitupun dengan beberapa orang diruang itu.
"Tapi, aku lebih Kagum dengan Keberaniaanmu. . ." tambah Donghae – masih dengan wajah Datar nan Dingin miliknya. Sontak hal itu membuat semua orang diruang itu mengeriyitkan dahi mereka – tak terkecuali Staff yang memberikan ide itu. Karena Bingun dengan apa yang baru saja Donghae ucapkan. "Maaf, Keberanian apa yang Presdir maksudkan?" tanya Staff itu bingung.
"Ya, Keberanian untuk menyampaikan Ide gila yang Sangat Menjijikkan itu." Ucap Donghae singkat. Seketika suasana ruang Meeting itu menjadi Hening dan sedikit mencekam – karna aura dingin yang menguar dari wajah Datar sang Presdir saat ini. "Dalam Kamus hidupku, takkan pernah ada kata CURANG pada siapapun." Kata Donghae dengan memberi penekanan pada kata 'Curang'. "Lebih baik aku rugi secara materi, daripada harus mengecewakan Konsumen dan Mengorbankan Nama baik Perusahaan yang sudah susah payah aku bangun." Jelas Donghae.
"Kau masih muda, Tuan Park. Tapi, pikiranmu sudah dipenuhi dengan Keculasan yang menjijikan yang aku yakin, suatu saat akan menjatuhkan mu." Ujar Donghae sambil menatap tajam ke arah Staff itu. "Segera ubah Konsepmu yang menjijikkan ini.! Atau kau lebih memilih mengemasi barang-barangmu dari Perusahaan ku ini." Kata Donghae dengan Nada Datar.
"Meeting cukup sampai disini, Silahkan Keluar." Tambah Donghae dengan nada dingin. Dengan segera para Staff keluar dari ruangan Donghae. Donghae memutar kursinya menghadap ke bagian belakang ruangannya itu. Pandangannya menatap kosong beberapa Bangunan Pencakar Langit dibalik kaca ruangan diruangannya. Pikirannya melayang menuju ke sebuah serpihan Memori masa lalunya yang menentramkan – bahkan membuatnya tenggelam dalam kepedihan diwaktu yang bersamaan.
.
.
"Hae, suatu saat jika kau jadi seorang pengusaha seperti appa, Appa mau Hae berjanji satu hal pada Appa, ne?" ujar Kang In lembut pada anak bungsunya itu.
"Ne, memang Hae harus berjanji apa, Appa?" ucap Donghae sambil menatap polos sang Appa.
"Appa mau kalau Donghae jadi Pengusaha, jangan pernah bersikap Curang apalagi mengecewakan orang lain siapapun itu. Arra?" Jelas Kang In.
"Ne, memang kenapa harus begitu, Appa?" Tanya Donghae bingung.
"Anak yang baik itu tidak akan pernah berbuat Curang dan membuat orang lain Kecewa. Tapi, harus selalu berbuat Jujur dan membahagiakan orang lain. Kepercayaan orang lain pada diri kita itu jauh lebih berharga dari apapun di Dunia ini, Chagi. Arraso?" ujar Kang In lembut.
"Arrachi, appa. Donghae janji tak akan pernah berbuat Curang dan mengecewakan orang lain. Kan Donghae ingin jadi anak yang baik." Ujar Donghae senang sambil menghambur kepelukan sang Appa.
"Ne, Donghae memang anak appa yang paling baik." Ucap Kang In sambil mengelus lembut surai halus milik sang anak Bungsunya itu.
.
' Sebuah janji kecil yang tak pernah ia sadari akan bertahan hingga menjadi Prinsip Hidupnya saat ini '
.
.
' apa aku masih menjadi bisa menjadi anak yang baik untuk mu, . . Appa ' batin Donghae pilu.
Donghae masih berkutat dengan pikirannya sendiri, hingga tak menyadari Sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi, Presdir. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda di luar." Ucap sang Sekretaris. Donghae yan tersadar dari lamunannya, segera membalik posisi duduknya dan memandang datar sekretaris dihadapannya.
"Bilang saja aku sedang sibuk . . . Memang siapa orang itu?" ucap Donghae sambil meraih secangkir kopi diatas mejanya. "Dia bilang namanya, Hyukkie. Katanya dia disuruh mengantarkan sesuatu dari Hyung anda, Presdir." Jelas sang Sekretaris. Nyaris saja Donghae menyemburkan kopi yang tengah ia minum saat sekretarisnya menyebut nama Namja yang beberapa hari lalu berhasil menawan Hatinya hanya dengan seulas Gummy Smile – milik seorang Lee Hyukjae.
"Su. .Suruh dia masuk." Ujar Donghae sedikit gugup. Sekretarisnya hanya mengangguk kemudia bergegas keluar dari ruangan sang Presdir, meninggalkan Donghae dengan Kegugupan yang tengah melanda diri sang Presdir.
Selang beberapa saat, terbukalah pintu ruangan Donghae tersebut. Menampakkan Sesosok Namja Manis dengan balutan Kaos V-Neck putih keabuan berpadu dengan jeans Biru cerah yang sedikit ketat sehingga menampilkan dengan jelas kaki-kaki Jenjang nan Ramping miliknya, serta Hoodie dengan warna senada dengan Jeansnya. Sejenak mata Donghae terpaku dengan Keindahan dihadapannya, namun dengan segera ia kembali memasang wajah Dingin nan Datar miliknya. 'Berusaha terlihat Dingin, eoh?'
Sosok yang menawan hatinya itu, perlahan mendekat kearah Donghae. Tak tahu jika setiap langkahnya semakin membuat Jantung Donghae berpacu tak terkendali. "Maap Donghae –sshi, saya mengganggu waktu anda." Ucapnya lembut. 'Mengganggu? Ya, kau mengganggu jalannya Degup jantung ku. Kau tahu?' batin Donghae. "Saya hanya ingin mengantarkan titipan dari Hankyung Hyung." Tambanhya lagi sambil menyerahkan sebungkus kotak kecil kepada Donghae. Hyukkie sedikit gugup, mungkin karena tatapan Donghae yang memandangnya dengan tajam.
"Terima Kasih. Duduklah dulu." Jawab Donghae datar. Segera ia buka bingkisan dari Hyungnya itu. Dalam kotak berukuran kecil itu, berisi beberapa Botol Vitamin yang beberapa hari yang lalu ia pesan pada Hyungnya dan terdapat selembar kertas – yang ia yakin adalah pesang dari sang Hyung.
.
' Yah, Ikan. Aku mengirimkan Vitamin yang kau pesan kemarin. Minumlah denan teratur dan jaga pola makan mu. Selain itu jangan terlalu Stress memikirkan pekerjaan mu. Itu tak baik untuk kesehatan. Ku suruh Hyukkie untuk mengantar ini, agar kau tak perlu lagi Curi-curi pandang padanya. Hitung-hitung Bonus dari ku. Aku Hyung yang baik, kan? Selamat memandangi Hyukkie, ne.
- Hankyung –
.
"Ck, dasar . ." gumam Donghae. Sontak membuat Hyukkie memandangnya sehingga tatapan merekapun bertemu. Entah karena tak kuat dengan tatapan Tajam Donghae padanya, akhirnya Hyukkie lebih memilih menunduk dan meremas kedua tangan di pangkuannya. Melihat hal itu hanya membuat Donghae terkekeh dalam hati. Ya, hanya dalam hati. Keegoisan Donghae lebih besar, sehingga mengalahkan suara hatinya.
"Umm. . Kalau begitu aku pamit untuk kembali ketempat kerja, Donghae –sshi. Aku . ."
"Biar ku antar." Balas Donghae singkat dan memotong kalimat Hyukkie yang belum selesai. "Heh..?" sahut Hyukkie bingung. "Ya, aku antar kau kembali ke toko. Kebetulan aku juga ingin bertemu dengan Hankyung Hyung." Kata Donghae datar. "Apa tidak merepotkan mu Donghae –sshi?" tanya Hyukkie. "Ani." Jawab Donghae singkat.
"Aish . . sikapnya dingin sekali sih." Gumam Hyukkie lirih – namun masih dapat terdengar oleh Donghae. "Kau bicara apa barusan?" tanya Donghae hingga Hyukkie sedikit kaget. "Ah, Aniyo. Aku tak bicara apapun." Ucap Hyukkie dengan cengiran menghiasai wajah manisnya. Donghae hanya menghela nafas kemudian beranjak dari mejanya dan keluar dari ruangannya – diikuti Hyukkie yang berjalan dibelakangnya.
.
.
Di dalam Mobil . . .
Suasana di dalam Mobil Donghae begitu hening. Mungkin itu hal yang biasa bagi Donghae. Tapi, hal itu sama sekali bukan hal yang di sukai oleh seorang Lee Hyukjae. Hyukkie yang pada dasarnya tidak suka berdiam diri, mulai menyibukkan dirinya dengan berbagai hal. Mulai dari memainkan Ponsel yang ada ditangan nya, memandang keluar jendela mobil sambil bersiul, hingga meremas tangannya seperti saat ini karena ingin menanyakan sesuatu pada Donghae.
"Umm. . Donghae –sshi, kata hankyung hyung dulu kau pernah bersekolah di Amerika. Apa itu benar, ne?" tanya Hyukkie –berusaha membuka pembicaraan. "menurut mu?" tanya Donghae singkat. "Aish, aku kan tanya. Tinggal jawab kenapa sih. Dingin sekali jadi orang." Gumam Hyukkie kesal –sambil mempoutkan bibirnya lucu. Donghae hanya melirik Hyukkie dari sudut matanya – mengingat Hyukkie Duduk disampingnya yang sedang mengemudi.
Donghae menghela nafas berat –mungkin sudah bosan diam sedari tadi. "Aku dulu memang pernah melanjutkan kuliah di Amerika." ujar Donghae membuka pembicaraan. Hyukkie yang tadi kesal dan sedang menatap keluar jendela segera memandang Namja tampan disampingnya. "Jinjja? Berapa tahun kau berada di Amerika, Donghae –sshi?" tanya Hyukkie yangmulai tertarik dengan cerita Donghae –hingga merubah posisi duduknya menjadi menghadap kearah Donghae.
"Emm. , mungkin 7 tahun. Ya, 4 tahun aku tempuh untuk melanjutkan Pendidikan ku. Dan sisanya ku gunakan untuk memulai karir ku disana." Jelas Donghae dan Hyukkie hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan. "Waahh, kau hebat Donghae –sshi. Memulai karir pertama mu di Negri Orang, tapi mencapai hasil yang sehebat sekarang." Ujar Hyukkie dengan Nada kagum.
Senyum tipis kini terukir indah dibibir Donghae. "Hankyung Hyung bicara apa saja tentang ku?" tanya Dongahe penasaran – mungkin takut Hyungnya mengatakan yang tidak-tidak pada Namja Manis itu. "Ani, Han Hyung tak bicara apa-apa. Cuma sekedar memberitahu ku bahwa kau adalah Dongsaeng kesayangannya dan pernah bersekolah di Amerika." ujar Hyukkie dengan tatapan Polos kearah Donghae.
Sepanjang perjalanan mereka isi dengan banyak bertukar Cerita tentang kehidupan masing-masing. Harus Donghae akui, bahwa ia mulai tertarik dengan Namja Manis disampingnya ini. Tak jarang Donghae tertawa karna tingkah lucu ataupun lelucon yang ditunjukkan Hyukkie. Perlahan tapi pasti, Es dalam hati seorang Lee Donghae mencair. Meski akan butuh waktu yang lama untuk mengembalikkan kehangatan hatinya, namun semua itu pasti akan terjadi.
.
'Karna takdir tak kan pernah berhenti menggoreskan tintanya'
.
.
Pemandangan sejuk nan menetramkan menyambut kedatangan Mobil Audi A5 8T bewarna putih yang baru masuk kedalam pelataran sebuah Flower Shop. Sesaat kemudian terbuka pintu pengemudi dan menampilkan sesosok Namja Tampan dengan Setelan Jas kerja yang membuatnya tampak Gagah. Tak berapa lama kemudian disusul terbukanya pintu penumpang bagian depan yang menampilkan sesosok Namja Manis dengan balutan Hoodie biru cerah yang semakin memancarkan Aura Keindahaan dalam dirinya. Sekilas jika diperhatikan, mereka berdua seperti sepasang kekasih ataupun Suami Istri.
'Namun sebuah Keegoisan masih mengalahkan segala Jerit Suara Hati . . .'
Sang namja manis segera memasuki toko tempatnya itu, diikuti sang Namja Tampan yang berjalan dibelakangnya. "Hyung, aku kembali. Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Hyukkie ketika melihat Sungmin dan Heechul sedang berbicara dimeja tamu. "Ah, aniyo Chagi. Kami hanya ngobrol biasa. Kau sudah sampai? Cepat sekali?" kata Heechul sangsi. "Ah, itu. Aku diantar oleh Donghae-sshi tadi." Jawab Hyukkie sekenanya sambil meneguk segelas Lemon Tea dimeja.
"Yah, kenapa kau minum Lemon Tea ku, Hyukkie?" teriak Sungmin kesal. "Mian, Hyung. Aku benar-benar Haus soalnya." Kata Hyukkie sambil memberi Puppy Eyes miliknya. "Sungmin hanya mendecak kesal karna selalu kalah jika Hyukkie sudah mengeluarkan Jurus Andalan nya itu. Sedangkan Heechul hanya terkekeh geli melihat tingkah kedua Namdongsaeng kesayangannya itu.
"Eh, ngomong-ngomong kalau Donghae mengantarmu pulang, lalu sekarang dimana ia, Chagi?" tanya Heechul penasaran. "Umm, itu dia ada dibelakang Hyung." Jawab Hyukkie santai. "Ah, Jinjja?" kata Heechul sambil membalik badannya. "Anneyeong, Hyung." Sapa Donghae dengan Nada datar –walau seulas senyum tipis terlukis dibibirnya. "Anneyeong, Hae-ah. Kau mengantar Hyukkie pulang, ne?" ujar Heechul. "Ne, Hyung. Kebetulan aku sedang tidak sibuk. Sekalian aku juga sedang ingin bertemu dengan Hankyung Hyung. Hankyung Hyung ada, Hyung?" tanya Donghae.
"Aku disini, Hae. Ada apa?" ujar Hankyung –yang baru saja masuk kedalam toko itu. "Aku ingin ngobrol sesuatu dengan mu, Hyung. Bisa kita keluar sebentar?" tanya Donghae pada Hyungnya. "Ne, baiklah. Chullie, aku pergi sebentar, ne?" kata Hankyung singkat lalu menyambar {?} bibir sang Istri Kilat. Heechul hanya bisa mempoutkan bibirnya, saat menerima Ciuman singkat dari sang Suami.
"Yah, hyung. Jangan lakukan itu disini.! Apa kau tak lihat disini ada Hyukkie.?" Pekik sungmin marah –sambil menutup mata Hyukkie dengan telapak tangannya. Sedangkan Donghae hanya tersenyum melihat kehangatan Keluarga Kecil Hyungnya itu. Namun jauh di relung hatinya, ia sangat ,erindukan art sebuah Keluarga yang sesungguhnya.
"Aish, baiklah. Aku pergi dulu, ne." ucap Hankyung singkat. Kemudian bergegas pergi bersama Donghae –yang sebelumnya membungkukan badan untuk berpamitan sengan semua orang dalam toko itu –termasuk Namja Manis kita.
'Ketika suara Hati terkalahkan oleh Emosi . . .'
.
.
Di Sebuah Caffe . . .
.
"Kau ingin berbicara apa, Hae?" tanya Hankyung membuka pembicaraan. "Emm, aku hanya ingin brtanya, Kenapa Hyung menyuruh Hyukkie datang ke kantorku? Maksud ku, Hyung kan bisa saja menelpon ku untuk mengambil Vitamin itu dan tak perlu menyuruh orang lain hanya sekedar untuk mengantarkannya padaku." Ujar Donghae panjang. Sedangkan Hankyung hanya mengeriyitkan Dahinya, mendengar penjelasan sang Dongsaeng.
"Kau Khawatir pada Hyukkie, Hae?" tanya Hankyung sambil memasang Seringai diwajah tampannya –sekedar untuk menggoda Namdongsaeng nya itu. "Ah, aniyo. Aku. . Aku hanya tak ingin orang lain direpotkan karena masalah ku." Ujar Donghae mencari alasan –padahal kenyataannya memang benar ia mengkhawatirkan Namja Manis itu.
"Ketahuilah Hae, terkadang apa yang kita Pikirkan tak pernah sama dengan yang Hati kita Inginkan. " ucap Hankyung bijaksana sambil menyeruput secangkir Coffee Latte pesanannya. Donghae hanya bisa diam mencerna apa yang telah diucapkan Hyungnya. "Tapi, aku tidak mau dianggap sama dengan 'mereka', Hyung." Kata Donghae datar –setelah beberapa saat lalu dia baru 'ngeh´ dengan arah pembicaraan Hyungnya.
"Kau memang pintar, Hae. Buktinya tanpa aku 'perjelas' kata-kata ku, kau sudah mengerti maksud ku. Anyway, kau tak perlu lagi memandang rendah 'statusmu' ah, tidak maksud ku 'status kita'. Kau, aku dan Yesung, kita sama. Sama – sama lahir dari Rahim seorang Namja. Sekeras apapun kita menolak, semua itu tak akan pernah berubah, Hae. Dan asal kau tahu, 'Cinta takkan pernah Salah'." Jelas Hankyung panjang lebar.
"Oh ya, aku baru ingat sesuatu.!" Seru Hankyung tiba-tiba. Donghae hanya mengeriyitkan Dahi bingung. "Lusa nanti, Yesung akan datang ke Korea. Beberapa hari lalu aku memberitahunya, jika kau sudah kembali ke Korea. Nanti dia akan tinggal di rumah ku bersama Ryewook Istrinya." Jelas Hankyung. "Omo, benarkah, Hyung? Bukankah dia masih sibuk bernyanyi sekarang? Walau tak sesering dulu sih." Ujar Donghae.
"Dia sudah tak lagi menyanyi, Hae. Dia hanya mengurus Akademi Vokal yang beberapa tahun lalu ia rintis dan juga sebuah Caffe. Aku dengar juga darinya, kalau dia akan membuka Cabang d Korea setelah sebelumnya membuka Cabang di Paris, China dan Thailand." Jelas Hankyung sambil menyeruput (lagi) Coffe Latte-nya. "Wooahh, Yesung Hyung jadi pengusaha Sukses sekarang ne, Hyung? Ku pikir hanya kepalanya saja yang besar, tak ku sangka pemikiran tentang usaha yang dimilikinya juga besar." Ucap Donghae sambil terkekeh.
"Yah, dia itu Hyung mu. Walau dia sedang tak berada disini, jaga juga ucapan mu." Ujar Hankyung sambil memukul dengan 'sayang' majalah ditangannya keatas kepala Donghae. "Appo, Hyung. Aish, iya aku tahu hyung. Tapi aku ada benarnya kan?" kata Donghaemencoba membela diri. "Tapi, ngomong-ngomong kenapa Yesung hyung kemari? Aku yakin tujuannya tak hanya ingin bertemu dengan ku kan Hyung.?" Tanya Donghae Curiga.
"Hem, kau memang Dongsaeng 'Ikan' kesayangan ku yang paling pintar, ne." kata Hankyung yang sukses membuat wajah tampan Donghae merengut –mendengar penuturan sang Hyung. "Memang awalnya dia hanya ingin bertemu dengan Kau dan aku, tapi kemudian dia memberikan ku ide." Kata Hankyung yang semakin membuat Donghae penasaran.
"Yah, hyung. Cepat katakana lah.! Kau membuat ku penasaran. !" seru Dongahe kesal. "Hahaha, Ne ne. Kami hanya merencanakan untuk berkunjung kerumah kita saat Yesung ada di Korea." Ujar Hankyung singkat. Seketika itu juga air muka Donghae berubah menjadi datar dan Dingin. Menyadari perubahan mimik wajah sang Dongsaeng, Hankyung mulai cemas.
"Ayo lah, Hae. Apa kau tak rindu dengan rumah kita? Halaman luas dan apa kau juga tak rindu dengan Rumah Pohon mu yang ada di halaman belakang?" tanya Hankyung sekaligus mencoba merayu Donghae –walau ia tahu itu hanya sia-sia. "Aku memang rindu dengan Rumah, Hyung. Tapi jika aku harus bertemu 'mereka' itu hanya akan membuat ku merasa marah dan 'bersalah'." Gumam Donghae pelan namun Hankyung masih bisa mendengarnya –apalagi untuk kata yang terakhir.
"Dengar Hae, bagaimana pun juga mereka berdua adalah orang tua mu juga orang tua ku. Memang 'status keberasalan' boleh dibilang aneh. Tapi, kau harus ingat. Mereka berdua yang membesarkan kita. Apalagi umma yang telah bertarung dengan maut saat melahirkan kita ke dunia. Kita bisa hidup karena mereka, Hae. Seberapapun kita menolak mereka, tapi pada kenyataannya mereka lah yang membesarkan kita dan menjaga kita sebagai orang tua." Jelas Hankyung serius.
Donghae hanya bisa terdiam dan merenungkan apa yang baru saja Hyungnya sampaikan. "Aku harus pergi, Hae. Ada pertemuan Dokter se-Korea. Dan aku harus datang." Kata Hankyung sambil beranjak dari kursinya. "Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan. Jangan sampai Kau menyesal nanti." Kata Hankyung sambil menepuk bahu sang Namdongsaeng. "Satu hal lagi Hae." Donghae hanya mengeriyitkan Dahi bingung.
"Bahwa Cinta takkan pernah Salah" ujar Hankyung sambil beralu dari Caffe itu –meninggalkan Donghae yang masih mencerna ucapanya barusan. Jujur saja, tak dapat dipungkiri bahwa Donghae memang sangat merindukan rumahnya. Apalagi dengan sosok Namja Cantik berhati lembut yang setiap pagi menyirami taman depan rumahnya. Sosok yang selalu menjaganya saat tidur sewaktu masih kecil dan menangis saat dirinya didiamkan oleh Donghae. Ya, sosok yang telah melahirkan dan merawatnya dari kecil, yakni sang Umma – Leeteuk.
'Aku memang membenci status ku, tapi aku tak pernah membenci . . . mereka' batin Donghae. Dia masih terlalu Egois untuk kembali mengakui 'status nya' yang telah membuatnya terpuruk dalam kepedihan. Tapi, di sisi lain dia juga ingin kembali merasakan Hangatnya sebuah Keluarga yang telah lama ia tak dapatkan. Bahkan sukses merubah karakternya menjadi sedingin Es. Ia bahkan masih terlalu Egois untuk mengakui perasaannya pada Namja yang beberapa hari lalu sudah berhasil menawan hatinya. Tapi, ia tak mau kehilangan kesempatan untuk kembali ke masa lalunya –yang mungkin akan membuatnya bahagia.
.
.
'Apa yang Kini harus aku Lakukan?' batin Donghae miris.
.
.
To Be Continued . . .
.
.
Anneyeong. . .!
Buat yang uda mau mereview di chap 1 kmren, author ucapin makasi banget ne. #bungkuk badan
scara tidak langsung chingu uda memberi saiia semangat buat ttep nglajutin nie FF.
hari nie saiia update lagi.
sekedar pengumuman :
1. Chapter 1 kmren sebenernya gabungan dari Chap 1 ma 2 dari chapter FF yg saiia pubish di rate M.
2. Nie chapter jga gabungan dari chap 3 ma 4.
3. saiia mau memberi pilihan sama para reader's :
* Nie FF 'End' waktu Haehyuk uda bersatu atau mau berlanjut ampe mereka punya anak? #plak
* klo minat mereka ampe punya anak, pke konflik pa ndag?
* terus konflik.x yg rumit atau yang kayak gimana..?
.
.
author ngasi kesempatan reader's buat request alur klanjuttan nie FF.
soalnya saiia masi butek mkirin alur buat nie FF.
maklum Shock saiia masi belum ilang. #plak
.
.
Jangan lupa review klo uda slesai bca, ne...
Review mnentukkan klanjutan FF yg anda baca #Plak
Gomawo... -_-
