Kesempatan

.

Disclaimer lihat chapter 1

.

"Sugarcube akan datang, Adrien!"

Demi semua keju bau Plagg, Adrien baru melihat kwaminya seantusias itu karena balokan gula, atau sesuatu yang lain? Seperti kilatan cahaya merah kecil yang menyambar dari langit dan menembus kaca kamarnya tanpa menghancurkannya. Wajah sengak Plagg yang sumringah itu langsung terpental beberapa meter ke belakang saat cahaya merah itu menampakkan seekor kwami. Merah bulat dengan beberapa titik hitam besar di kepalanya dan juga dua antena, serta tiga buah ekor merah di pantatnya. POOOOUCH!

"Demi apa kau mengganti pemilik Miraculous-mu Stinkyshoes?"jerit tertahan penuh amarah dari suara imut si kwami merah, Adrien menonton saja.

"Kau memukulku, Sugarcube.." Plagg melayang mendekati Tikki yang masih bersedekap marah. "T-Tikki... apa yang terjadi?"

"Gadisku bilang sesuatu tentang priamu yang..."

Tikki, kwami itu menggulirkan kedua mata ungu lucunya kearah Adrien yang masih kebingungan. Plagg mengerang frustasi "priaku masih dia, oke! Berhenti mengoceh dan berikan aku sesuatu lalu cepat kembali pada gadismu yang menyebalkan itu!"

"Oh, hahaha... im blind, omg. Maaf untuk keributan yang tadi nak, namaku Tikki, dan kau dapat salam dari gadisku. Hihihi..." dia mengusap-ngusap kepala Plagg lalu melesat keluar.

Plagg kembali pada kepribadian malas dan menyebalkannya saat Tikki menghilang dibalik awan kota Paris. "Kutebak tadi itu kwami nya Ladybug, kau ada masalah dengannya Plagg?"

"Seperti ratusan dan ribuan tahun yang lalu dia menemuiku, astaga, lagi-lagi dia selalu tak percaya kalau aku bisa menjaga temanku dengan baik tanpa bantuannya. Hah, perempuan itu lebih merepotkan dari chamembert!"

"Lalu, apa maksudnya kau yang kupaksa mandi tak mau tiba-tiba saja mandi sendiri heh?"

Plagg yang hendak memakan keju baunya menoleh gugup, "apa sebelumnya kau juga ditendang Tikki saat bertemu dengannya? Kutebak kau habis makan chamembert juga, atau jangan-jangan karena itu pula dia menyebutmu Stinkyshoes, heh? Kau sangat bermasalah dengan perempuan daripada aku Plagg.."

"Shut up Adrien!"

.

Pagi hari diakhir pekan adalah hal yang paling dinanti Adrien Agreste. Sekembalinya patroli rutin dini hari bersama Ladybug, tidur selama lima-enam jam, bangun dan langsung berlari ke kamar mandi dengan semangat. Mengabaikan ocehan Plagg tentang bersantai dan makan keju diakhir pekan, tentunya.

Dia bilang pada Nathalie kemarin sore, untuk memajukan jadwal pemotretannya hari ini, jadi dia punya waktu malam nanti untuk jalan-jalan santai bersama teman-temannya sampai senja. Adrien benar-benar menikmati mandi paginya. Mencuci rambut pirangnya dan menyikat giginya sampai tiga kali, oh, juga berendam sambil bernyanyi.

"Damn Adrien! " Plagg menghindari cipratan air beraromaterapi dari battub si pirang, "aku tau kau bodoh tapi sejak kapan kau jadi idiot, super idiot, oh tidak!"ledeknya sembari melayang keluar.

Pintu diketuk dari luar, Plagg masuk ke salah satu lemari keju di kamar Adrien. Bersembunyi.

"Adrien?" suara wanita terdengar dari luar, Adrien sudah memakai jubah mandinya langsung membuka pintu.

"Pagi Natalie, " sapanya, "hehe.. kebetulan aku sedang butuh bantuanmu, Natalie, silahkan masuk.."

Natalie, asisten ayahnya yang selalu terlihat muram tanpa semangat itu mengerut heran melihat sang tuan muda. Biasanya Adrien sudah dalam baju khasnya – kemeja putih terlipit dan kaos hitam bergaris horizontal enam warna- dan sekarang baru kali ini dalam jubah mandi. Dan sebelum dia bertanya kenapa, Adrien langsung cerita.

"Sebenarnya, hari ini aku ada janji dengan seseorang yang – kau tau Natalie – kurasa aku kurang percaya diri dengan bajuku yang biasanya, entahlah, aku hanya ingin berbeda saja hari ini. hm... "

Sebuah lemari tiga pintu dekat kamar mandi terbuka semua, menampilkan sekitar puluhan setel pakaian dengan model, warna, dan motif sama tergantung disana. Natalie tersenyum penuh arti sedangkan Adrien mengerut bingung. "Menurutmu aku harus pakai yang mana, Natalie?"

"Cepatlah Adrien, jam berputar dan kau bisa terlambat.." Natalie hanya menegur tanpa memberi solusi, berjalan keluar kamar luas dan luar biasa itu dan menutup pintunya. Gorila berjaga diluar.

Plagg keluar dari tempat persembunyiannya, "jangan alay deh Adrien, lu model. Pakai yang mana saja juga sama. Semua bajumu itu terlihat sama semua. Huh..." melayang –layang sambil mengoceh malas disekitar Adrien yang kini menyisir sembari mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, "toh ujung-ujungnya Hawkmoth berbuat ulah dan kau berubah jadi Chat Noir dan semua persiapan merepotkan pagi ini akan sia-sia, haha.."

"Diam Plagg, ini pertama kalinya aku akan mengajak Marinette hang-out, tak bisakah sekalipun kau mendukungku? Hei aku tak menyangkal soal pak tua obsessian itu. Bahkan Hawkmoth tak pernah memberiku kesempatan makan cemilan atau sekedar menikmati Monalisa. Astaga, nanti kutendang pantatnya jika dia mengacaukannya hari ini..."

Adrien selesai merapikan rambut dan memakai celana jeans biru mudanya, masih membandingkan kaus bergaris yang akan dipakainya saat ayahnya yang berwajah datar itu masuk tanpa suara. Sebagai kwami yang baik, Plagg memberi isyarat pada Adrien dan secepat kilat meluncur kedalam lemari tiga pintu yang terbuka. Bersembunyi diantara setelan Adrien yang menggantung.

"Ekhm.." deheman itu membuat Adrien yang sedang sibuk nyaris meloncat kaget. Cepat-cepat memakai kaos hitam enam garis nya.

"A-ayah.."

"Natalie bilang kau ada masalah dengan pakaianmu, nak?" Gabriel maju mendekati lemari Adrien yang terbuka, "apa kau punya rencana kencan?"

"I-itu... um, hehe.." Adrien salah tingkah. Wajahnya memerah sebentar lalu tangan kanannya mengusap tengkuknya. "Y-yaah.. hanya jalan-jalan bersama teman baikku melihat Monalisa setelah pemotretan, sebenarnya."

"Hm, apa 'teman baik'mu ini seorang perempuan Adrien? Kau tampak gugup sekali." goda Gabriel, dengan wajah datar tentunya. "kau bisa mengajaknya makan Andree Sweet Heart Ice Cream, itu bukan ide yang buruk. Tapi pastikan kau tidak banyak makan makanan manis, Adrien, berat badanmu bisa bertambah." tambahnya sembari memeriksa seluruh koleksi pakaian Adrien di lemarinya sekilat.

Beruntung Plagg berwarna hitam dan bisa bersembunyi dengan baik di suatu tempat.

"Ikut ke ruanganku Adrien!"

.

Hari ini Marinette keluar dari pintu jebakan kamarnya dengan riang gembira. Memakai pakaian terbaiknya, tas mungil yang terbuat dari kaos hadiah ulang tahun nenek Befana Dupain, sepatu balet pink, dan tas lainnya yang seperti keranjang piknik. Tikki mengekor dan masuk kedalam tas mungil, bersembunyi. Sementara Marinette memasukan sanwich isi buah-buahan, roti dengan sayuran, dan beberapa croissant serta biskuit coklat sepuluh keping ke dalam tas pikniknya.

"Susu soda..." Marinette mencari diantara botol-botol di kulkas, lalu memasukan dua ke dalam tas piknik cantiknya. "kurasa cukup, hm..."

"Marinette, kau berlebihan.." Tikki terkekeh, "ini mengingatkanku pada piknik kecil akhir pekan Ladybug dan Chat Noir, kau tau? Hihihi.."

"Kau benar Tikki, Adrien mungkin menyukai makanan tapi aku yakin dia tidak makan banyak seperti Chat Noir, astaga. Apa aku berlebihan? mungkin dia tidak suka susu soda? Atau mungkin dia alergi soda? Astaga aku akan membunuhnya, tidak, tidak!" gumam Marinette sembari memasukan kembali dua botol susu soda ke kulkas.

"Hei, hei, Adrien tidak mungkin begitu, kau berlebihan lagi Marinette.. tenanglah."

Handphone Marinette bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk, dibukanya, dan Marinette langsung heboh.

"Yahooooi! Adrien mengirimiku pesan Tikki! Dia , aduh, sepertinya aku bermimpi!"

"Apa kau mau aku menggigitmu seperti hari valentine waktu lalu?"

"Tidak, terimakasih!" Marinette mengambil langkah seribu keluar rumah melalui pintu belakang, "jika ini mimpi, aku tidak mau bangun lagi.."

Tikki benar-benar bersembunyi, Adrien dalam setelan seksinya ; jaket coklat kelam, kaos abu-abu gelap, jeans chakky, sepatu coklat senada, dan tatanan rambut pirang keemasan yang keren.. melambai sembari tersenyum dan berjalan mendekat. Marinette dibuat merona. Terpaku. Menahan nafas.

"Hi Marinette.."

"A, U.. I.. H-H-Hi..."

Tanpa ba, bi, bu lagi Adrien menarik tangan Marinette yang bebas. Tangan satunya lagi memegangi tas piknik, satunya lagi digandeng Adrien sampai ke dalam mobilnya. Gorila menyetir, dan Natalie menumpang untuk suatu urusan. Mobil mewah beserta bodyguard dan sang asisten hanya mengantar saja hari ini, perintah khusus dari ayah (yang tumben banget) pengertian, Adrien diberi waktu kencan sampai jam lima sore.

Tuan muda Agreste turun di tempat pemotretan bersama Marinette, taman dekat museum d'Reuve. Adrien berencana mengajak Marinette mengunjungi Monalisa sebelum pergi ke bioskop setelah pemotretan. Tapi mereka datang terlalu pagi. Photografer dan seluruh kru yang bertugas masih berbenah. Mereka berdua akhirnya duduk menepi di kursi dekat pohon.

"Wah Marinette, kau bawa makanan? Kebetulan loh, aku belum sarapan," Adrien basa-basi. Dia sengaja melewatkan makan pagi di rumah karena Natalie dan para koki bersekongkol menyajikan segala jenis sayuran dan makanan rendah kalori lainnya. Katanya dia gemukan.

"Ah, tentu.." Marinette yang pengertian, langsung membuka tas bekalnya dan mengeluarkan sanwich dan sebotol air mineral, Adrien menerimanya dengan senang hati. "aku membuatnya sendiri, jadi mungkin tak seenak buatan papa."

"Tenanglah, ini.. mh.." sanwich isi salad.. dan buah-buahan? "enak! Luar biasa.." kecewa sih, rasanya sama seperti sanwich buatan Ladybug yang biasa dia makan tapi yang ini tanpa daging. Jadi serasa ada yang kurang giitu.

"Adrien? Cepat ganti baju!"

Adrien yang sedang menikmati santapan paginya bersama Marinette merasa terusik, menyambar dua croissant dari tas Marinette lalu berjalan menuju mobil tempat pakaian. "Tunggu sebentar ya, aku akan segera menyelesaikan pemotretannya dengan cepat!"

"O-ok.."

Marinette menatap punggung Adrien yang menjauh itu seolah ingin menelannya jika Tikki tidak segera menginterupsi, "kau bisa bernafas sekarang, hahaha..."

"Aku tidak menahan nafas, kok..."

"So ridiculous!"

Kwami lain muncul dari dalam tas bekal Marinette, Plagg, mengunyah Chamembert bau. Marinette mengedarkan padangannya kesekitar, berharap menemukan seorang laki-laki yang sedang memata-matai, tapi dia menemukan dirinya sendirian disana. "Tenanglah manis, Chat Noir punya urusan sendiri dengan dunia lainnya yang membosankan, dan aku punya urusanku sendiri di sini."

"Plagg, bagaimana bisa kau muncul dengan santainya di sini? Bagaimana jika Chat tau identitas Ladybug, hah?" bisik Marinette.

"Kami kwami Marinette, jika kau tau siapa Chat Noir maka dia juga tau siapa kau."

"Yah, nyatanya aku tidak tau siapa Chat, yang terpenting bagaimana kalau dia sadar kau hilang Plagg? Bagaimana kalau Hawkmoth menyerang sementara kau bersamaku?"

Plagg pertama kali muncul ke depan Marinette dan memperkenalkan diri itu ketika Audrey Bourgeois menjadi penjahat super akibat ulah Hawkmoth. Adrien yang sedang berada diatas catwalk, tidak sempat menghindar ketika dia menyerang. Hari itu, bukan Chat Noir yang muncul melainkan Kwaminya.

Dan parahnya, Master Fuu mempercayakan sebuah Miraculous lagi pada orang yang lebih jahat dari Hawkmot, Chloe. Bahkan dia tidak butuh akuma untuk menyakiti orang.

"Halo Marinette.."

Marinette menoleh, seorang kakek sipit dengan setelan kemeja merah bunga-bunga dengan tongkat berdiri di belakangnya. "Master, sedang apa anda di sekitar sini?"

Master Fuu duduk disebelah Marinette dan Wayzz bergabung bersama Tikki dan Plagg di dalam tas piknik. Gadis twintail imut itu menawari camilan dan si kakek sakti mengambil sanwich isi, mereka berbincang santai seputar keadaan Paris. Mulai cuaca indah, jadwal pemotretan Adrien Agreste, antusiasme Hawkmoth membuat akuma, persediaan ramuan ajaib, sampai tingkah aneh Chat Noir akhir-akhir ini.

".. kemarin saja dia berinisiatif libur patroli. Katanya ada sesuatu yang 'sangat rahasia' yang akan dilakukan anak kucing itu di hidupnya yang lain. Aku sih tidak masalah, tapi bagaimana kalau seandainya Hawkmoth membuat penjahat super yang kuat? Aku tidak bisa mengatasinya sendirian!" protes Marinette, memancing tawa renyah Master Fuu.

"Akhirnya kau bergantung padanya?"

"Tentu saja –maksudku- dia sangat kuat, dan kami team yang bagus selama ini."

Hening kemudian, menyisakan kebisingan pemotretan musim gugur di depan sana, Adrien mondar-mandir ganti baju sementara Marinette dan Master Fuu menghabiskan makanan yang tersisa. Si gadis kuncir dua itu menerawang, memandang kosong tower megah lambang kota penuh kasih yang tetap berdiri tegak diantara puluhan gedung pencakar langit disekitarnya. Menghela nafas.

"Akhir-akhir ini dia mengurangi leluconnya, nyaris berhenti menggodaku, dan seperti memikirkan sesuatu. Kadang pipinya memerah dan senyum sendirian..."

"Ow, kau cemburu Marinette?" tanya Wayzz, kwami hijau dari miraculous kura-kura yang sampai sekarang Marinette tidak tau apa gunanya dia selain memotong curhatan orang.

"Apa? Aku? Pada Chat Noir? Hish!" mendesis tapi wajah gadis itu sedikit memerah.

Master Fuu tersenyum, menahan tawa. "Sepertinya percakapan kita tentang Chat Noir cukup sampai di sini Marinette.." bisik kakek tua penuh wibawa itu, karena Adrien Agreste dengan pakaian asalnya sedang berjalan kearah mereka dari kejauhan. Pemotretannya selesai sepertinya, para kru tengah bebenah. Para kwami bersembunyi serempak.

"Ma- um, Mr. Cheng?" sapa Adrien, setengah kebingungan kenapa Master Fuu ada di sana, tapi berhubung Marinette disitu juga jadi dia berbohong. Bisa gawat kalau orang lain tau dia Chat Noir.

"Hello Adrien, pemotretannya selesai?"

"Yah, haha.. senang melihat anda sehat dan jalan-jalan seperti ini. O ya, kami akan pergi ke D'Reuve dan akan senang sekali jika anda juga ikut."

Marinette memandang keduanya bergantian secara bersamaan dengan mimik wajah penuh kebingungan. Dalam benaknya, berbagai pertanyaan muncul ke permukaan, tentang bagaimana bisa Adrien kenal dengan Master Fuu? Bagaimana dan bagaimana bisa lainnya juga.

"Oh tuhan, maafkan aku. Marinette, kenalkan beliau salah satu guru bahasa China ku, Mr. Cheng. Dan gadis imut ini Marinette, kami teman sekelas."

Penjelasan Adrien membuat Marinette tersanjung sekaligus gondok secara bersamaan. Dia bilang dirinya imut tapi mereka hanya teman, huh. Inner Ladybugnya berteriak namun Marinette hanya bisa tersenyum mengiyakan. Astaga.

"Haha, baiklah. Tapi maaf Adrien, aku baru saja dari sana dan berencana pulang ke rumah saja. Duh, punggungku mulai keram.."

"Apa anda butuh bantuan? Kami bisa mengantar anda..." tawar Marinette dan Adrien secara bersamaan, raut khawatir mereka kompak sekali.

"Tidak, tidak, aku tidak mau mengganggu waktu muda kalian. Bersenang-senanglah, rumahku tak terlalu jauh dari sini, lagipula aku masih ingin sedikit berkeliling." Kakek dengan ras China murni itu pamit, "dan terimakasih untuk kudapannya, Marinette.."

Mereka akhirnya hanya bisa memperhatikan Master Fuu pergi dan menghilang di belokan gedung. Adrien melirik Marinette yang sedang menampilkan muka sebal, sedikit terkekeh, dia punya sedikit keinginan mencubit pipi kemerahan putri pattissier terbaik di paris.

Pria blonde itu sudah tau, sadar, dan memperhatikan sejak lama betapa imutnya gadis kuncir dua yang selalu duduk di belakangnya di kelas. Betapa lucu tingkahnya saat dia ada di dekatnya. Setiap ucapan yang keluar dari bibir merah mudanya, kadang lelucon konyol lucu, dan kadang tegas. Dia suka itu. Semua tentang Marinette Dupain-Cheng, beberapa diantaranya mengingatkannya pada Ladybug, dan dia suka.

Namun Adrien tidak suka pada kenyataan Marinette yang mungkin membencinya. Gadis itu kadang panik, terlalu panik saat dia didekatnya. Satu pengalaman dia menyapa Marinette yang sedang mencari buku di perpustakaan dan satu rak buku jatuh bersamaan menimpa gadis itu.

Satu pengalaman berdansa dengannya di pesta Chloe, dia ingat sampai sekarang, berharap sangat Hawkmoth tidak mengirim akuma saat itu agar Adrien bisa mengatakan 'suka' padanya. Yah, Adrien kehilangan satu kesempatan. Dan dia bersumpah tidak akan melewatkan kesempatan yang ini.

Butuh perjuangan agar hari ini dia bisa jalan-jalan bersama Marinette memasuki musieum dengan puluhan sampai ratusan karya seni di dalamnya, D'Reuve. Mulai dari mengontek Nino soal pacarnya, menginterogasi Alya soal jadwal Marinette, menanyai kemungkinan rute jalan-jalan ratu Iblis Chloe pada Max, mengatur dan menego jadwal dengan Nathalie, terakhir membujuk ayahnya yang selalu berwajah datar.

Its No Way dia melewatkannya kali ini.

Chloe pernah menggagalkan dirinya mencium Marinette untuk film pendek kelasnya, dan dia pastikan hari ini bahkan Hawkmoth pun tidak berani mengganggu mereka. Semua orang akan membayar jika mengacaukan satu kesempatannya bersama Marinette. Dia punya banyak kesempatan untuk Ladybug namun bagi Adrien, hanya ada satu dari seratus kesempatan dengan Marinette.

"... garis catnya terlihat realistis dan terjaga walau usianya sangat tua, kan?"

Lamunan Adrien yang masih memandangi Marinette terhenti, dia tersenyum kikuk. Pernyataan gadis itu tentang lukisan 'a woman of gold' di dinding membanting Adrien kembali menapaki bumi. Dia melihat lukisan yang dimaksud Marinette tadi, "ya, lukisan ini.."

"Aaa, um, Adrien, lihat!"

Belum kelar Adrien mengomentari lukisan yang sekilas mengingatkannya pada lukisan besar ibunya di ruang kerja sang ayah berwajah datar, Marinette sudah membawanya pada sisi lain ruangan itu. Mereka memandangi masing-masing lukisan dan berhenti cukup lama di depan mahakarya Monalissa yang melegenda.

Berpindah pada sisi lainnya, bagian museum yang dikhususkan pada peninggalan masa papyrus dari peradaban tua Mesir kuno, dimana puluhan peti berjejer. Satu peti mumi ditengah ruangan terlihat seperti pria dengan rambut sebahu dan punya telinga kucing bersedekap. Peti itu tak lain adalah peti yang pernah digunakan Ladybug menyembunyikannya dari penjahat super yang mengincar nyawanya beberapa bulan silam. Namun bukan peti itu yang mereka tuju, tapi selembar papyrus lusuh yang di bingkai di sebelahnya. Koleksi baru museum. Itu yang didengarnya dari Alix kemarin.

"Whoah, ini sudah sangat-sangat tua. Hebat sekali masih utuh." komentar Adrien. Dia tersenyum, namun terpaku saat menoleh pada Marinette, perasaan bersalah merebak di hatinya saat melihat setetes air mata meluncur di pipinya. "Mari, are you okay?"

Dia menghapus air matanya dengan gugup, entah kenapa melihat gambar pudar kecil-kecil yang mungkin menceritakan pertempuran Ladybug dan Chat Noir melawan sesuatu di masa silam dalam papyrus itu, membuatnya merasa hal itu juga menjadi bagian darinya. Tapi saat ini yang lebih dia khawatirkan adalah pendapat Adrien yang mungkin akan menganggapnya aneh kali ini, menangis tanpa sebab.

"Maafkan aku, mungkin kau bosan jalan-jalan denganku? Ayolah, Marinette. Aku akan memanggil Nino dan Alya jika kau.."

"Apa? Tidak, jangan Adrien, aku tak apa, sungguh. Ini menyenangkan, percayalah, hehe..." Marinette menjauhkan hanphone pintar putih mahal Adrien kembali ke dalam kantung jaketnya, "lagipula Alya bilang padaku tadi pagi bahwa dia akan menghabiskan waktu seharian bersama Nino, kau tak mau mengganggu mereka, bukan?"

"B-baiklah.."

Mereka akhirnya memutuskan mengakhiri tour museum dan mulai mencari tempat Andree si tukang eskrim mangkal. Ada banyak titik romantis di kota Paris yang memungkinkan Andree memarkirkan gerobak warna-warninya, termasuk wilayah di sekitar menara Eiffell. Tempat yang Adrien dan Marinette tuju dan disanalah Andree Sweetheart Ice Cream berada.

"Hei Prettie Marinette!" sapa pria gemuk itu, "ow gracias, hari ini kau datang bersama sang pangeran, oh sir Agreste, gracias!" godanya

Pipi Marinette memerah seperti pipi Adrien sekarang, apalagi lengan model seksi itu di pundak putri sang Pattissier, aroma musk dan Chamembert tercium tipis dan memabukan. "Blueberry untuk mata indahnya yang memandangmu, melon segar untuk mata hijaunya yang menatap lembut kearahmu, dan mint segar untuk langit cerah Paris saat kalian bersama." dan rasa baru eskrim Andree untuk mereka berdua.

"Mercy Andree.." kata Marinette dan Adrien bersamaan.

"A, tunggu dulu, kunjungan pertama harus diabadikan.." Andree mengeluarkan kamera dan memotret mereka, "ok, semoga cinta kalian tetap abadi!"

Setelah Adrien mendapatkan selembar dan Marinette juga selembar foto yang diambil Andree barusan, mereka duduk menikmati eskrim itu di tepian tangga Secret Garden. Tempat penuh inspirasi Marinette. Mereka bisa berteduh sambil memandangi menara Eiffell yang kokoh menjulang tinggi tepat di depan. Waktu yang menyenangkan.

Setelah setahun setengah lebih menjadi Chat Noir, atau tidak dengan kekuatan supernya pun, aroma segak dari jenis parfum yang dia benci bisa tercium. Pemakainya sekitar lima meter jaraknya kira-kira bisa muncul dari mana saja. Dan tentu saja, itu adalah hal paling buruk dari penjahat super manapun yang dirilis Hawkmoth. "Oh tidak!" dia dan Marinette mendesah bersamaan.

"ADRIKIIIIIIIIIIIIIIIIINDS!"

Adrien terpaku dan Marinette terjungkal ke depan saat terjangan besar Chloe Bourgeouis menimpa bagian belakang tubuh tegapnya. Tangan lentik Adrien berusaha menjauhkan perempuan itu dari aksinya berusaha mencium bagian manapun di wajahnya. "Hei manisku, kenapa kau bisa jalan-jalan dengan Mari-trash bau itu hem? Kalau kau mau, aku bisa menemanimu kemanapun. Vougue? Channel? Doucle n Gabana? Dior?" dan Adrien benar-benar muak.

Pria itu mengabaikan Chloe yang masih menggantung di salah satu lengannya, bangkit lalu menghampiri Marinette dan membantu gadis itu berdiri, tepat saat langit kota Paris menjadi gelap seketika. Beberapa polisi dan petugas taman melakukan evakuasi.

Serangan Akuma.

Lagi.