SASUHINA CHALLENGE GAMES
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Edited By Rikka (Admin)
.
Standart warning applied
.
Kumpulan Drabble buatan member dalam rangka merayakan jumlah likers yang genap 1500! :D
Tema: 1500/PDKT/Love at First Sight
.
.
PDKT
Hinata melangkah gontai keluar dari perpustakaan sekolahnya, matanya memburam karena genangan air mata yang menumpuk di sana. Hinata gagal mendapatkan buku yang ditugaskan Hatake-Sensei kepadanya sebagai hukuman karena tidak menyelesaikan pekerjaan rumah. Bukannya tidak mengerjakan, tapi tugas itu tertinggal di rumah.
Ah, padahal dia sempat membacanya kemarin. Namun karena Hinata melupakan kartu perpustakaannya dia memutuskan untuk meminjamnya besok, dan seingatnya buku itu -dengan judul yang sama- begitu banyak di rak kemarin. Hinata berjalan menunduk sambil menggigit bibirnya menahan tangis. Tugasnya harus diserahkan besok, dan ini sudah sangat sore. Hinata tidak bisa membayangkan jika harus pergi ke toko buku lagi, mau jam berapa ia pulang?
Hinata lantas menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap sepasang kaki yang berdiri menghalangi jalannya. Tidak lama kemudian sebuah buku di sodorkan padanya. Hinata masih menunduk, menatap buku tersebut. Ah, itukan buku yang sedang ia cari. Hinata lantas mendongak, melihat siapa gerangan pahlawan yang begitu baik memberi -atau meminjamkan, buku yang ia butuhkan.
"Se-Senpai..." Ujar Hinata gagap, tidak menyangka bahwa sosok yang dianggapnya pahlawan ternyata adalah Senpai yang paling galak dan ia takuti, Uchiha Sasuke.
"Hn," sahut Sasuke datar, sedikit sebal dengan mimik wajah Hinata yang kelihatan seperti sedang melihat hantu.
"Ambil!" Perintah Sasuke seraya menggoyangkan buku yang ada di tangan kanannya, ia tidak bermaksud memerintah dengan nada keras namun sudah seperti itulah kebiasaannya –yang tanpa sadar membuat Hinata semakin takut padanya."Bukankah kau sedang mencari ini?" sambung Sasuke kemudian.
"Aah, i-iya Senpai, te-terimakasih." Hinata membungkuk sebentar lalu mengambil buku itu dari tangan Sang Senpai.
"Sebagai ucapan terimakasih, aku akan mengantarmu pulang." Tiba-tiba saja Hinata merasa tangannya ditarik dengan tidak berperike-Hinataan oleh Sasuke/
"Tapi Senpai-,"
"Sasuke." Ujar Sasuke sedikit keras memotong perkataan Hinata. "Panggil aku Sasuke." Kembali kalimat dengan nada perintah yang keluar dari bibir Sasuke.
"Ta-tapi Sasuke-Senpai, a-aku-"
"Aku tidak menerima penolakan." kata Sasuke final. Hinata akhirnya pasrah dan menuruti kemauan Sasuke.
'Semoga Nii-san belum pulang.' Hinata memohon dalam hati, takut sang Kakak yang notabene sangat protektif melihatnya diantar pulang oleh Sasuke.
'eh? Sasuke-Senpai tau dari mana, kalau aku sedang mencari buku ini?' Batin Hinata bingung.
.
.
.
"Lihat saja, nanti aku minta traktir yang banyak." Seorang pemuda berambut pirang tampak menggerutu sebal. Mata safirnya memandang bosan pada tumpukan buku yang berjudul sama teronggok tidak berdaya di lantai dekat tempatnya berpijak. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi, dengan segera ia lantas mengangkat panggilan yang sudah lama ditunggunya itu.
"Ha-"
"Dobe, buku-buku itu ada padamu 'kan? Kembalikan ke perpus!"
Klik.
Dan sambungan pun terputus, membuat pemuda berambut pirang -yang di panggil Dobe- itu menggeram kesal dengan tingkah sahabatnya yang seenaknya itu.
"Awas kau, Sasuke!"
.
.
.
END
(Created by Kirra riva Amakusa)
.
.
.
When A Cops in Love
Tak jera, Hinata tetap mengikuti detektif tersebut bahkan sampai di depan kantornya. Ia penasaran. Sungguh penasaran. Hinata yakin ada yang kurang dari artikelnya, maka dari itu ia ingin sekali mendapatkan informasi.
Herannya. Si detektif itu membuka pintu namun ia tak kunjung masuk. Hingga sebuah suara mengganggu konsentrasi Hinata. "Kau mau ikut masuk atau tidak?"
Hinta menyadari suara itu datang dari sang detektif. Tubuhnya mendadak tegang karena takut ketahuan.
"Kau mendengarkanku tidak sih, hei wartawan?"
Hinata beringsut keluar dari persembunyiannya. Apa yang harus ia pertahankan jika sudah ketahuan?
Sasuke menghampiri si wartawan dan memaksanya masuk ke dalam. Awalnya Hinata menolak, namun mungkin saja di dalam ada petunjuk mengenai yang ia cari. Atau mungkin syukur-syukur si detektif sombong ini mau berbagi informasi padanya.
"Jadi, apa maumu?" Sasuke membuka pembicaraan sesaat setelah mereka memasuki ruangan itu.
"Saya hanya ingin mencari kebenaran." Jawab Hinata mantap.
Sasuke mempersilahkan Hinata duduk lalu mengambil tempat di seberangnya. "Aku tidak mengerti maksudmu."
"Anda tahu maksud saya." Hinata mengeluarkan bolpoin dan notebook dari dalam tasnya. "Sa-saya ingin anda mengatakan yang sebenarnya, tanpa ada yang anda tutup-tutupi."
"Apakah penting?" tanya Sasuke dengan nada meremehkan.
"Penting!" Hinata berseru. "Saya tidak bisa menjual artikel ini jika belum ada informasi yang saya butuhkan. Dan informasi itu dari anda."
Sasuke terlihat menimbang sebentar sebelum akhirnya berkata, "Baiklah. Kau menginginkan sebuah cerita, 'kan?"
Hinata mengangguk. Sasuke memulai. "Ada seorang detektif yang dengan bodohnya jatuh cinta pada seorang gadis."
Tunggu.. itu awal yang aneh untuk sebuah kasus kan? Tapi karena tidak berani menginterupsi, Hinata hanya mendengarkan saja kelanjutannya.
"Ini cinta pertamanya dan dia tidak tahu harus bagaimana."
'Jadi kasus ini diawali dari sebuah cinta?' pikir Hinata. Ia mencatat tiap kata Sasuke ke dalam notebooknya.
"Akhirnya dia mengikuti gadis itu dan menjadi stalkernya. Setelah tau banyak hal tentang gadis itu dia mulai melakukan banyak hal supaya mereka dekat. Dia bahkan meminta agar menjadi anggota humas biarpun ia benci repot dan tidak bisa bersikap ramah."
Hinata mengernyit heran. Humas? Bukankah kasus ini tidak ada hubungannya dengan humas?
"A-ano.. bu-bukankah.."
Sasuke tidak peduli dan tetap bercerita. "Dia sengaja tidak terbuka soal masalah-masalah yang terjadi di kepolisian agar gadis itu mendekatinya."
"I-itu.." Hinata benar-benar ingin berbicara. Bukannya dia terlalu percaya diri atau apa, tapi yang jelas ia yakin kalau cerita ini melenceng. Dan melenceng ke..
"Dan kau tahu apa yang lucu? Gadis itu ada di hadapan dia sekarang dan.." Sasuke melirik Hinata lalu tersenyum. ".. dan dia sedang merona."
Hinata kini kehabisan kata-kata. Sanggahan dan komentar yang ingin ia ucapkan tadi tertelan begitu saja semenjak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh detektif Sasuke. Benar, dia merona.
"Sekarang kau tahu kebenarannya kan, Hinata?" Hinata menggeleng. Dia tidak tau harus bagaimana. Dia juga tidak tahu kenapa dia menggeleng. "Yang ku sembunyikan adalah…. perasaanku kepadamu."
Owari
(Created By Nivellia Neil)
.
.
.
-Ingin Tomat-
Sore yang sangat melelahkan terutama untuk pemuda emo bermata onyx, Uchiha Sasuke. Hari ini adalah hari pertama les sekolah untuk UN. Bagaimana tidak melelahkan kalau 'katanya' lelaki paling most wanted di sekolah ini dipercayai para guru untuk menggantikan guru matematika –kakashi sensei- yang tidak bisa mengajar pelajaran tambahan yang -lagi lagi-katanya membantu anjing tetangga melahirkan(?)
Pastinya bisa dibayangkan kalau murid most wanted menjadi pengganti dosen, para 'muridnya' bukannya memperhatikan apa yang disampaikan malah sibuk foto-foto dan pada saat sesi tanya jawab malah nanya hal yang jauuuuuh dari pelajaran, misalnya saja 'Sasuke kun suka cewe kaya apa?', 'Sasuke kun alamat email mu dong,' dan lain lain yang pasti bisa bikin kepala meledak -tentu hanya Sasuke yang merasakannya-.
"Dasar cewe barbar." Gerutu Sasuke saat dalam perjalanan menuju mansionnya.
"Hhhh… panas panas gini aku mau makan tomat yang dingin tapi sepertinya jus tomat lebih baik," khayal Sasuke untuk mengurangi rasa jengkelnya. Namun sepertinya Sasuke terlalu serius dengan lamunanya sehingga tidak menyadari seseorang yang tengah berdiri di hadapannya, alhasil keduanya pun sukses bertabrakan.
Brukk!
"Ittai.."
"Harusnya kau cukup sadar untuk tidak berdiri di tengah jalan dan menghalangi orang lain," Sasuke berujar dingin seraya membersihkan pakaiannya, hey! Yang salah Sasuke kan? Dia yang jalannya sambil melamun kan? Kok dia yang marah-marah sih? Mungkin karena dia-nya lagi bad mood kali ya? Tapi marah juga liat-liat dong, kan kasian yang ditabraknya tadi, padahal tidak bersalah, dapat marah pula. Lihat tuh, yang ditabrak saja masih sibuk mengaduh kesakitan karena tabrakan tadi.
"G-gomenasai, gomenasai," Tubuh mungil yang Sasuke tabrak tadi tampak menunduk dalam seraya meminta maaf, padahal dia-nya gak salah.
Sasuke memandang tubuh yang lebih rendah darinya tersebut, rambut biru lebih tepatnya indigo sepunggung, kulit putih mulus bak susu, serta poninya yang terlihat rata. Kesan pertama yang Sasuke tangkap… biasa banged! Tapi saat liat apa yang sedang dipegang oleh si gadis -walaupun tinggal sedikit- pikiran yang sedang kalut tiba tiba sirna. Tanpa babibu Sasuke lantas bertanya.
"Apa itu?" Tanyanya seraya menunjuk apa yang sedang dipegang oleh si gadis. Si gadis yang masih tampak takut dan kesakitan itu menjadi kebingungan saat pria asing itu menunjuk-nunjuk tangannya. Dengan takut takut ia memberanikan diri untuk mengangkat kedua wajahnya menatap wajah pria asing yang menabraknya itu.
"I-ini?" Tanya si gadis memastikan.
"Iya lah, emang kamu pegang yang lain lagi?" Sasuke jawabnya ketus, sama sekali tidak punya sopan santun!
"Mmh..." Sang gadis bersurai indigo itupun lantas melihat apa yang sedang di pegangnya, wajah imutnya lantas memandang Sasuke heran sesaat setelah mengatahui apa yang menjadi pertanyaan Sasuke .
"To-tomat?"
"Hn."
Siiinggggg…
Dan beberapa menit pun terlewat tanpa ada yang membuka suara.
Sasuke yang memang sejak awal sangat merindukan (?) tomat semakin ingin karena melihat tomat yang Hinata pegang walau tinggal satu gigit, pengen sih, tapi gengsi cuy! Tapi tapi, Sasukenya udah pengen banget, gimana dong?
Sementara itu sang gadis yang bingung harus ngapain tanpa sadar memasukkan gigitan terakhir tomat yang dipegangnya ke dalam bibir mungilnya. Sasuke yang lagi pengen bangeett makan tomat melihat tomat terakhir dimakan dan sudah tertelan oleh gadis tanpa sadar berteriak.
"Ka-kauuu!" Tunjuknya tepat di wajah gadis itu dengan tampang sangar.
"Y-ya...?" Jawab sang gadis dengan takut takut, si gadis tampak semakin heran namun juga takut disaat yang sama.
"Kenapa memakan tomatnya?!" Kedua alis si gadis lantas berkerut mendengar bentakan Sasuke. Loh, emang kenapa? Tomat tomatnya kok, dia yang punya, apa salahnya dimakan?
"E-eh? Ke-kenapa? Ti- tidak boleh?" Twich, gadis itu sukses membuat mood Sasuke jelek kembali.
"Aku lagi pengen makan tomat dan kau!" Sasuke tanpa segan mengarahkan telunjuknya di depan wajah gadis itu. "Kau menghabiskan tomat itu di depanku!"
Si gadis yang terlihat tambah bingung sekaligus ketakutan kini merasa bersalah. "Go-gome ne, tomatnya cuma ada sa-satu..."
"..."
"Go-gomen…"
"…"
Melihat pemuda yang menurutnya sangat menakutkan itu masih terdiam, si gadis lantas segera menambahkan kalimatnya. "Ka-kalau Anda ma-mau, a-aku akan membelikannya." Nah loh, emang gadis itu siapanya Sasuke? Lagian gadis itu gak salah apapun kan? Baik banget pake nawarin beli segala. Sasuke sih masih diam aja, tawaran yang cukup menggiurkan tapi...
"Aku pengennya sekarang!" Uwoo! Ni cowok resek amat, udah bagus pengen dibeliin. Nah, sekarang si gadis nan imut baik hati dan tidak sombong itu tambah bingung kan?
"Ta-tapi to-tomatnya udah ha-habis, a-aku gak punya lagi." Ujar si gadis dengan tampang hampir menangis. Sasuke yang melihat gadis itu hampir nangis pun merasa gak tega, tapi ekspresi imut gadis itu membuatnya bertahan, rasanya gemes banget liat gadis itu nahan tangisnya. Tiba-tiba saja kedua onyxnya menatap pada bibir si gadis yang memerah akibat buah tomat yang dimakannya, kontan saja ide absurd terlintas di otak jeniusnya.
"Aku bisa merasakannya sekarang..."
"E-eh ?"
"Begini..." Hoo! Secara dadakan Sasuke menjilat bibir si gadis terutama di kedua sudutnya dimana masih terdapat sedikit bekas-bekas sari tomat. Mungkin kalau dilihat orang lain keduanya di sangka ciuman. Singkat sih, tapi efeknya…
BRUKKK!
Yosh! Si cewek pingsan seketika.
Sasuke lantas merasa bingung dengan apa yang harus di lakukan sekarang, kan gak mungkin banget nelantarin si gadis begitu saja tergeletak tidak berdaya di jalan, gak bertanggung jawab banget.
Tiba-tiba saja ajaran mami Mikoto tentang 'Sikap yang Baik dan Benar plus Wajib Diterapkan Kepada Seorang Gadis' terlintas di kepalanya. Sasuke menghela napas putus asa membayangkan ia harus benar-benar melakukan ajaran coretsesatcoret yang diajarin mami Mikoto padanya sejak umur lima tahun itu. Sasuke lantas menggendong tubuh si gadis, biar gak disangka preman gendongnya ala bridal style dong, sadar gak tahu alamat si cewek, Sasuke pun mengobrak-ngabrik tas si gadis bersurai indigo tersebut demi mendapatkan kartu identitas yang mungkin saja ada alamatnya.
"Hyuuga Hinata," Sasuke bergumam pelan saat mengetahui nama gadis itu. Kalau dilihat sekilas sih biasa aja, tapi kalau udah nahan tangis, ketakukan sampai gugup itu loh, manissss bangeeett! Sasuke saja sampai terpesona.
'Menarik' batin Sasuke saat menyadari tempat tinggal gadis itu tidak begitu jauh dari rumahnya, mungkin ia bisa menjahili gadis Hyuuga itu lain waktu. Hoo, jangan senang dulu Sasuke, kau tidak tahu apa yang akan dilakukan anggota keluarga Hyuuga yang lain saat mengetahui apa yang telah kau lakukan pada Hinata mereka.
.
.
.
END
(Created By Widhyie SipoetriLoemoetmanhiez Shelawashe)
.
.
.
PDKT
Sore itu seorang pemuda bermata onyx terus berjalan mengitari taman yang ada di pertengahan kota, dengan tampang kesal ia menendang setiap benda yang ada di depan nya, entah itu kerikil, botol atau apapun yang menurutnya dapat di tendang, tidak peduli orang-orang di sekitarnya memandang aneh dan berbisik-bisik mengatakan "Apa dia gila?" atau "Apa dia sedang mabuk?" dan kalimat-kalimat lain yang keluar dari orang-orang sekitar yang tertuu padanya, dia tetap saja melakukan aktivitasnya tanpa mempedulikan sekitarnya.
Semua ini terjadi karena kakak coretyangdisayangnyacoret tidak bisa menemaninya pergi menonton pertandingan bola favoritnya karena alasan rapat dadakan yang sangat penting dengan seorangklien. Tentu saja hal tersebut membuat Sasuke kesal, padahal Sauske sudah sangat menantikan saat ini, yang lebih bikin kesal lagi, kejadian seperti ini bukan pertama kalinua terjadi.
"Cih…! Baka ainiki, kau selalu saja mengatakan lain kali, menyebalkan." Gerutu Sasuke geram seraya menendang botol kaleng yang ada di depannya. Kali ini tendangannya cukup keras sehingga botol yang menjadi korban tendangan maut itu mengenai seseorang yang sedang duduk di sebuah bangku taman, tepatnya seorang gadis.
Gadis bermata lavender itu sedikti meringis kesakitan di daerah keningnya sambil mencari-cari siapa pelaku atas "penganiayaan" secara tidak langsung itu. Sedang si pelaku akan Sasuke, pemuda berambut raven itu malah terpesona dengan keimutan gadis itu, terlebih dengan sikap anggun yang ia tunjukkan –biasanyanya kana kalau terkena lemparan nyasar langsung nyerocos tidak jelas.
Sasuke bahkan tidak dapat mengatakan apapun, kedua onyxnya seolah terpaku untuk terus memandangi sosok mungil yang sesekali meringis kesakita itu. "Jadi ini jatuh cinta pada pandangan pertama." Gumam Sasuke pelan seraya tersenyum.
Seolah sadar ada seseorang yang tengah memperhatikannya, si gadis tersebut lantas menatap ke arah Sasuke.
"Ma-maaf tuan." Si gadis bersurai indigo tersebut memanggil Sasuke dari bangku taman yang ia duduki, tanpa sadar hal itu sukses membuat Sasuke tersadar dari "hipnotis" sesaat yang disebabkan oleh sang gadis.
Sasuke menaikkan alisnya sebelah. "Tuan? Apakah aku setua itu?" Gerutu Sauske tak terima. Sasuke lantas berjalan menghampiri sang gadis dengan detak jantung yang semakin tidak terkontrol. Namun bukan Sasuke namanya jika tidak dapat menguasai keadaan, dia dengan gampangnya meyembunyikan kegugupannya di balik tampang stoic khas Uchiha. Tanpa persetujuan si gadis, Sasuke dengan seenaknya duduk di sampingnya dan menatapnya datar namun penuh arti serta memandangnya penuh kekaguman, sedang si gadis yang menjadi objek pengamatan Sasuke itu tentu terkejut sekaligus gugup atas perlakuan Sasuke yang tiba-tiba itu, dengan malu-malu gadis itu memulai pembicaraan.
"Ma-maaf Tuan-"
"Sasuke, Uchiha Sasuke." Potong Sasuke datar seakan tidak rela disebut tuan.
"Ah! A-ano, ma-maf Sasuke-san, ta-tapi apakah kau yang menendang ini?" Si gadis bertanya gugup sseraya menunjuk ke arah botol kaleng yang beberapa saat lalu mendarat dengan sukses di kepalanya.
"Hn." Sasuke menjawab datar, bahkan tanpa ekspresi bersalah di wajahnya.
"La-lain kali tolong lebih hati-hati, ti-tidak baik kalau mengenai oran lain." Ujar si gadis sedang Sasuke hanya menatap wajah lembut itu datar.
"Kau menasehati ku?" Sasuke berujar tiba-tiba, dengan nada dingin dan tatapan tajam yang dilontarkannya untuk si gadis bermata bulan di sebelahnya. Mendapati tatapan tajam dari Sasuke, si gadis lantas menundukan kepalanya seakan-akan dia telah mengatakan sesuatu yang salah.
"Ma-maaf." Ucapnya lagi. Sasuke tersenyum tipis melihat ekspresi gadis itu, bagi Sasuke ekspresi ketakutan si gadis beraroma lavender tersebut sangat lucu dan menggemas kan. Beberapa saat kemudian ketika Sasuke lebih intens menatap sang gadis, Sasuke baru menyadari kalau ada sedikit luka memar di keningnya, mungkin akibat kejadian tadi.
Perasaan bersalah lantas menghampiri Sasuke. "Tunggu sebentar disini." Ujar Sasuke dengan nada memerintah, sedangkan si gadis hanya diam tak mengerti dengan maksud ucapan lama kemudian Sasuke kembali dengan sebuah handuk basah dan plester. Tanpa izin dari si gadis yang bersangkutan, Sasuke lantas mengangkat wajah mungil itu dengan jemari kekarnya agar posisi wajahnya sejajar dengan Sasuke, kontan saja hal tersebut sukses membuat pipi gadis itu memerah karena perlakuan Sasuke.
Perlahan Sasuke mengusapkan handuk basah itu di luka yang ada pada kening si gadis, mengusapnya sangat pelan dan lembut seakan tidak mau menyakiti si gadis.
"A-ano, Sa-Sasuke-san-"
"Diamlah." Potong Sasuke cepat seakan tidak mau mendapat protes dari si gadis .Selesai mengusapnya, Sauske lantas menempelkan plester di kening si gadis yang terlihat memar akibat perbuatannya, saat Sasuke melakukannya, jarak di antara keduanya semakin dekat dan hal itu sukses membuat jantung Sasuke berdetak semakin tak beraturan. Sasuke yakin gadis itu pun merasakan hal yang sama dilihat dari wajahnya yang semakin memerah.
Setelah semuanya selesai, Sasuke lantas merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel hitam yang kemudian disodorkan pada si gadis.
"Tulis nomor ponsel mu!" Perintah Sasuke tanpa sadar. Si gadis lavender tersebut hanya sedikit terkejut dengan kalimat bernada perintah yang Sasuke tujukan padanya.
"A-ano untuk apa, Sasuke-san?"
"Aku tidak mau disebut sebagai orang yang lari dari tanggug jawab karena telah membuatmu terluka, jadi aku perlu nomor telponmu agar bisa menghubungimu setiap saat untuk memastikan luka di kening mu itu sembuh."
"Ta-tapi ini kan..."
"Tulis saja, cerewet." Tahu tidka bisa menolak, si gadis pun menuliskaan nomor hpnya di ponsel itu.
"I-ini…"
"Hn, namamu?"
"Ah iya, na-namaku Hinata, Hyuuga Hinata. Sa-salam kenal." Si gadis bernama Hinata itu tersenyum serara mengulurkan tangannya ke arah Sasuke yang tentu saja disambung hangat oleh pemuda raven itu.
"Salam kenal juga, Hinata-chan."
.
.
.
END
(Created by UMie Solihati)
.
.
.
PDKT
Hinata berjalan lamat-lamat menyusuri trotoar. Rambut indigo panjangnya melambai nakal tertiup angin sore. Liburan kali ini diisi Hinata dengan memberikan privat kepada salah satu cucu rekan bisnis ayahnya, Uchiha corp. Mau tak mau Hinata menyetujuinya, tentu saja demi menyenangkan ayahnya.
Kaoru Uchiha , bocah berumur 7 tahun yang merupakan putra dari Itachi Uchiha, bocah yang pintar dan menggemaskan. Hinata menyukainya tentu saja, Kaoru selalu bisa membuatnya tersenyum dengan tingkah lucunya. Meski demikian terkadang Hinata kewalahan juga menghadapi kekeras kepalaan dan keinginan Kaoru. Khas keluarga Uchiha.
Hinata membuka pagar kediaman Uchiha. Aneh. Biasanya Kaoru selalu menunggu dan menyambut kedatangannya. Mungkin dia ada di dalam menyiapkan materi hari ini, pikir Hinata. Baru saja Hinata hendak mengetuk pintu, pintunya mansion mewah itu sudah terbuka lebih dulu, memperlihatkan sosok Kaoru kecil yang seakan menahan tangis. Hinata terkejut, Kaoru langsung menubruk dan memeluknya.
"huwaaaaa! Nee-chan!" Tangis Kaoru meledak begitu saja, Hinata lantas berlutut, berusaha menyamakan tinggi tubuh mereka.
"Kaoru-chan kenapa?" Hinata mengelus punggung Kaoru, mencoba menenangkan bocah yang masih sesenggukan tersebut.
"Hiks… hiks… Ji-Jii-Jii-san ja-jahat!" Ujar Kaoru terbata karena berusaha menahan isakannya. Bocah itu berkali-kali nerusaha menghentikan tangisnya namun selalu gagal.
"Jii-san? Maksud Kaoru-chan Sa-sasuke-san?" Kaoru mengangguk mengiyakan.
"Sasar cengeng." Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar dari belakang kaoru, Sasuke Uchiha. Bungsu keluarga Uchiha.
"Kaoru nggak cèngeng, Jii-chan yang jahat!" Kaoru menyilangkan kedua tangannya di depan dada, pipinya yang tampak merah akibat tangis menggembung kesal.
"Se-sebenarnya a-apa y-yang Sa-sasuke-san la-lakukan pa-pada Ka-kaoru chan?"
Hinata mencoba mencairkan adu death glare mereka.
"Tch, aku tak melakukan apapun," sangkal Sasuke.
"Jii-chan bohong! Jii-chan menyembunyikan boneka beruang yang akan Kaoru berikan pada Hinata-nee!" Sasuke melengos, memalingkan wajahnya dari tatapan heran Hinata.
"Be-benarkah i-itu sa-sasuke-san?" Sasuke masih bergeming, tidak berniat mengatakan apapun.
"To-tolong kem-kembalikan, ka-kasihan ka-kaoru chan..." Hinata memohon, tapi Sasuke tetap pada posisinya. "Sasu-Sasuke-san?" Hinata kembali membuka mulutnya. Sasuke menatapnya tajam, membuat Hinata mengkeret. Uchiha memang mengerikan, kecuali Kaoru tentunya.
"Boleh, tapi…" Sasuke menyeringai. Hinata menelengkan kepalanya, menunggu apa yang akan diucapkan Sasuke selanjutnya. Sasuke semakin mendekat ke arah Hinata, membuat gadis itu merona hebat dengan jantung yangberdetak semakin cepat.
"Hari minggu kau harus menemaniku. Aku tidak menerima penolakan, Hyuuga." Bisik Sasuke tepat di telinga Hinata. Hinata terduduk lemas, wajahnya semakin memanas. Kaoru cengo, tidak mengerti apa yang dibicaran dua remaja itu. Sasuke menegakkan kembali tubuhnya, berlalu dari hadapan Hinata dan Kaoru dengan seringai kemenangan terpampang d wajah tampannya. Uchiha memang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya kan?
.
.
.
END
(Created By Michael Hafez Alfarizi)
.
.
.
PDKT
Tangannya yang pucat berkeringat dingin menggenggam sebuah jam pasir kecil. Gadis bersurai indigo itu terlihat sedang bermain main dengan anak-anak kecil di taman yang ramai ini. Sudah dua kali ini Sasuke melihatnya di taman dan melakukan hal yang sama.
Pertama kali mereka bertemu, Sasuke tidak sengaja terpleset di hadapannya sehabis mengumpat-ngumpat kesal pada aniki-nya. Betapa malunya dia, dia bahkan tak berani menatap orang yang membantunya berdiri. Ketika ia tahu, ia lebih memilih memandang sang penolong yang tengah digelayuti beberapa anak kecil. Rambut indigo panjangnya, mata ametyhstnya, dan parasnya yang menggemaskan. Bagaimana bisa ia mengalihkan pandangannya?
"Kau tidak apa-apa?" Aaa,bahkan suaranya pun terdengar begitu lembut.
"Hn, terimakasih." Sasuke harus mendapatkan rekor untuk ini, karena selain ibunya, gadis ini satu-satunya yang mendengar ucapan terimakasih dari sasuke. Dan saat itulah Sasuke tau bahwa ia telah jatuh ke dalam pesona gadis itu.
Tanpa bertanya nama, Sasuke segera berlalu pergi.
Dan kembali datang keesokan harinya.
"Hai, kau yang kemarin bukan?" Gadis itu tersenyum lembut sebelum kemudian tertawa renyah karena tingkah salah satu bocah yang menggemaskan menurutnya.
"Hn, siapa namamu?" Sasuke bertanya setenang mungkin, tapi tangannya yang gemetar tak akan berbohong.
"Aaa, namaku Hinata Hyuuga" Sasuke menunjukkan jam pasir kecilnya, membaliknya hingga butiran halus tersebut jatuh ke bawah. Mereka berdua diam memperhatikan sang jam pasir.
"5 menit"
"eh?"
"Baru lima menit sejak aku memandangmu, aku jatuh hati padamu."
Sang gadis tersenyum, seolah membalas kalimat singkat Sasuke yang sarat akan makna.
.
.
.
Tak perlu waktu lama, aku mencintaimu.
OWARI
(Created by Rochi Oktaviana)
.
.
.
Love at first sight
Awal sasuke bertemu Hinata di sebuah taman kota, Sasuke langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Semenjak saat itu, Sasuke selalu pergi ke taman kota hanya untuk sekedar melihat gadis bersurai indigo tersebut. Dan tanpa sasuke sadari kakinya melangkah sendiri untuk mendekati sang gadis.
Ketika akhirnya keduanya saling berhadapan, sang gadis bersurai indigo dengan nama Hinata itu jelas tak tau mengapa pria brmata onxy tiba-tiba saja berada di hadapannya saat ini,
"Ma-maaf A-anda si-siapa?" Tanya gadis itu ragu, suaranya yang lembut seolah mengalihkan dunia Sasuke. Tentu saja Sasuke senang mendengar kata-kata yang keluar dari bibir sang gadis, terlalu senang karena si gadis menyapanya duluan.
"Aku Sasuke, Uchiha Sasuke" Hinata ber 'O' ria mendengar jawaban Sasuke. "La-lalu a-apa ada hal ya-yang ingin kau katakan pa-padaku, Uchiha-san?" Sasuke tersenyum tipis mendnegar kalimat Hinata yang terdengar gugup, mungkinkah gadis itu gugup karenanya?
"Aku menyukaimu" Ujar Sasuke tegas, kontan saja membuat gadis cantik itu bersemu merah karena ucapannya.
Sasuke menyeringai licik melihat Hinata yang semakin gugup dengan wajah yang memerah karena malu. "Jika kau hanya diam saja berarti kau juga menyukaiku."
"E-eh?!"
.
.
.
OWARI
(Created by Aisanoyuri)
