Shingeki No Kyojin bukan milik saya.
Saya tidak mendapat keuntungan apa pun dalam menulis fanfiksi ini.
Jika ada kesamaan dalam cerita lain, itu hanyalah unsur tidak sengaja
Maaf, bahasa tidak baku, typo dan OOC.
.
"E-eren?"
Bayi munyil nan menggemasan di hadapan Levi mengusap matanya pelan. Mengusir rasa kantuk dan mengembalikan kesadaran seutuhnya. Pipi tembam merekah kemerahan serta bibir tipis dimanyunkan. Astaga, Levi menunggak saliva. Pasalnya, ini malaikat kecil kepalang.
Kelopak mata terbuka perlahan, iris senada permata hijau bergerak melirik seseorang di hadapannya. Si bayi mendongkrak, tatapan polos dilempar, tersirat makna kebingungan. Tersadar oleh rasa bingung, tiga detik kemudian wajah polos berubah menjadi kilatan bening serta bibir yang bergetar.
Bayi itu menahan isak. Perlahan air mata jatuh dari pelupuk mata. Bingung. Rasa takut akan tatapan Levi mendominasi alasan ia menangis.
Tatapan Levi kaget, namun wajah yang tak tersirat ramah menampilkan kesan horor bagi anak kecil.
Levi bingung. Ia masih mematung dengan wajah 'WTF'. Segelas jus yang dibawa ia taruh di atas nakas. Menjajarkan tingginya dengan bocah yang duduk di atas ranjang Eren. Kedua telapak tangan memegang pipi gembil bocah itu, mengamati setiap lekuk wajah. "K-kau! Eren, kan?"
Bayi menangis, bukannya ditenangkan, Levi malah menggoyangkan pundak bocah itu dan terus bertanya. "DI MANA EREN?! SIAPA KAU?"
"HUWEEEEEEEE!" tangisan bayi itu semakin kencang, merasakan tubuhnya digonjang-ganjing, seakan ia disiksa.
Kenapa?! Kenapa bisa-bisanya Eren menjadi bayi lagi?! Sebenarnya bayi ini Eren atau bukan?! Levi frustasi sesaat. Napas dibuang.
"Bocah, kalau kau Eren berikan aku petunjuk dan kenapa kau bisa menciut begini. Nah, siapa namamu?"
Levi itu bujangan kaya raya, belum punya pacar, apa lagi istri. Terus, interaksi sama bocah cem ini belum ada pengalaman. Levi belum pernah melihat Eren versi chibi seperti ini; karena saat mereka dipertemukan, saat itu Eren duduk di bangku SD.
Si bayi menghentikan tangisnya. Menatap mata Levi dengan sorot bergetar.
"Siapa namamu?!"
Duh, Dedek bayi itu tidak boleh dibentak, Levi.
"E-elen," jawab bayi itu; setengah terisak.
Bocah kecil seperti ini tidak mungkin berbohong. Kepolosan terlihat jelas di wajahnya.
Levi membulatkan mata sypytnya. Jelas, itu adalah adik tirinya. Rasanya seperti dihantam batu meteor.
Bocah itu adiknya.
Bocah itu adiknya.
BOCAH ITU ADI-- STOP! Levi mengerang, memegang kepalanya. Apa yang harus ia katakan pada orang-orang?! Terlebih, bagaimana cara mengurus bocah macam ini. Levi yakin, kedua orang tuanya tengah tersenyum di nirwana sana.
Apakah ingatan Eren hilang seutuhnya?
"Bocah, kau tahu 'kan, aku siapa?"
Bayi itu menggeleng, Levi tepuk jidat. Anju.
"Panggil aku Abang Levi. Ya, biasanya kau memanggilku begitu."
"Ugh... Ba-bang Lepi."
"Serah lo," Ini salah dialog kayaknya. "Bagus, sekarang apa yang harus kulakukan?"
Ketakutan memudar. Si bayi berpikir sosok di hadapannya tidak terlalu menyeramkan. Kedua tangan ia rentangkan. Meminta untuk digendong.
Levi mengernyit. "Apaan?" Bingung.
"'Endong."
"Hah?"
"'Endong! Babang!"
"Apaan, sih?"
"Endong!!!" Eren kecil merajuk, menangis lagi.
Oh. Levi mengerti sekarang. Awalnya Levi kira ini bocah minta dipeluk. Tak apa, sih, Eren versi chibi jauh lebih menggemaskan. "Oh, minta digendong, toh. Bilang yang jelas, dong."
Kedua tangan kokoh Levi mengangkat tubuh mungil Eren. Mendekap tubuhnya dalam dekapan hangat. Repotin, batin Levi.
Dagu bertopang pada bahu Levi. Tangan mungil mengusap mata sembabnya, sesekali menarik kembali cairan di hidung agar tak mengenai-- telat. Dengan kepolosan, cairan di hidung itu ia bersihkan dengan kain di pundak Levi.
"Yha, sepertinya kau harus dibawa ke kamarku."
Baru saja keluar ruangan, ia merasakan bahunya terasa basah. Apaan, nih? Oh, mungkin air mata Eren. Levi cuek melangkah menuju kamarnya.
Di rumah tidak ada siapa-siapa; setelah maid pergi. Sial. Levi harus membawa Eren ke kantornya dan memberi surat keterangan kepada sekolah.
Levi mengambil ponsel di saku, sembari berjalan menelusuri lorong. Ponsel pintar diraih, menghubungkan dengan pihak di luar sana.
"Selamat pagi, Levi-san," suara berasal dari telepon.
"Pagi," dingin seperti biasa, "aku ingin tahu jadwalku hari ini."
"B-baik. Etto..., Levi-san hari ini ada rapat--"
"Jam berapa?"
"Setelah makan siang, lalu dilanjutkan pertemuan sekitar jam lima sore."
Setelah mengatakan terima kasih, Levi menutup sambungan dengan sekretarisnya.
Eren menatap bingung Abangnya, serta barang yang digenggam.Penasaran. Tangan mungil mencoba menggapai benda persegi panjang itu.
Pegangan pada ponsel terlalu longgar, saat tangan mungil Eren tiba-tiba menyentuh permukaan kulit.
"W-woe!" Levi menjauhkan jangkauan ponsel dari Eren. "Ini bukan mainan bocah."
Sudut bibir Eren lagi-lagi bergetar. Matanya yang sembab mulai mengeluarkan bulir bening.
Mampus, nangis lagi.
"Yaudah iya, ini," Levi memberikan ponselnya--dengan amat sangat terpaksa; daripada nangis.
Senyum kemenangan merekah di bibir Eren. Jemari kecil sibuk mengotak-atik benda itu. Sibuk mengusap permukaan layar. Kernyitan alis terbentuk.
Mampus lo, kan udah gue password, batin Levi.
Eren kesal. Usap sana, usap sini hanya pemberitahuan kesalahan. Frustasi. Ponsel dilayangkan seenak jidat. Terbentur indah di atas lantai. Menghasilkan bunyi retakan.
"ADEK GOBLOOOG, NGAPA DIBANTING!" teriak Levi; ini OOC. Itu ponsel keluaran terbaru bulan ini. Walau menurutnya harga ponsel itu sangat murah, namun ponsel adalah penghubung kesuksesan dalam bisnis. Kalau bukan Adiknya, mungkin sudah Levi lempar keluar jendela.
Eren pasang wajah watados. Lalu, tertawa memeluk Levi. "Babang!"
Ini anak waras engga, sih?
Sesampainya memasuki kamar, Levi meletakan Eren di atas ranjangnya. Levi mondar-mandir tak jelas.
Eren masih berbalut baju kebesaran, artinya, Levi harus membelikan baju bayi. Oh sial, takut-takut disangka hamilin ceue di luar nikah. Apa lagi pembisnis muda nan tampan sepertinya harus menelan gosip receh semacam itu, tidak bisa dibiarkan!
"Babang Lepi, Elen kyuyuk-kyuyuk."
Levi menghentikan langkah. Melirik Eren dengan sorotan bingung. Kyuyuk-kyuyuk te nani? Alis diangkat satu.
"Ngomong tuh yang jelas, Dek. Abang mana ngerti," protes Levi.
Mau burung Eren kecil, atau pun sudah besar perlakuan Levi sama saja tak ada lembutnya.
Eren sebel, ia memegang perutnya. Membalas dengan raut wajah protes.
"Apaan, sih? Mau boker?"
Eren menggeleng cepat.
"Ya terus apa?" Kedua tangan dilipat di depan dada. "Tunggu." Levi mengeluarkan lagi ponselnya; LCDnya retak, btw. Mencoba menghubungi seseorang.
"Hallo, Zoe."
"Eh, Lev, tumben belum di kantor?"
"Ada masalah. Zoe, kalau bocah pegang perut terus bilang kyuyuk itu artinya apaan?"
Levi menelepon partner kerjanya, Hanji Zoe; tante kesepian. Karena Zoe itu wanita, mungkin saja dia lebih paham soal bocah.
"Hoho! Itu artinya laper."
"Kukira artinya dia mau boker. Yasudah, terima kasih."
"Oi! Anak siapa yang kauurus?!"
"Eren."
"Hah?"
Levi memutuskan sambungan. Sekarang ia sudah tahu jawabannya. Memasukan kembali ponsel ke saku, lalu perhatiannya kembali ke Eren. "Ho, jadi Dedek Eren laper?"
Eren mengangguk.
TBC...
