"Solar dan Thorn? Mungkin mereka sudah balik." Jawab Ice dengan nada datar.
Sang kakak tertua hanya menghela nafas pendek.
"Ayo Ice." Perintahnya dengan singkat. Pemuda beriris biru muda itu segera memegang tangan Halilintar.
Gempa bisa merasakan mereka seakan akan sudah berjalan sangat jauh hingga ia tak bisa melihat semuanya dengan jelas, hanya merasakan angin dingin yang menerpa tubuhnya serta aliran listrik kecil yang permukaan kulitnya rasakan.
Di kedipan berikutnya, Gempa sudah tiba di depan sebuah istana yang besar dan megah. Terdapat banyak taman bunga di halaman depan dan air mancur berukir ukiran yang indah di tengahnya. Istana ini terlihat sangat bercahaya karena lampunya yang terang benderang. Terlihat sangat cantik karena membelakangi bulan purnama yang besar dan bercahaya.
Wajah Gempa tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
"WOAAHHH! INIKAH DIA?!"
Tiba tiba Gempa merasakan angin bertiup kencang di sekitarnya. Ia menoleh ke sumber suara yang berada di atas mereka. Terlihat seorang pemuda dengan jaket berwarna biru tua dan topi yang dimiringkan ke samping kanan. Iris birunya terlihat sangat senang.
Pemuda itu pun melompat dari tempat yang cukup tinggi itu dan mendarat dengan mulus. Ia langsung memegang bahu Gempa dengan senyuman lebarnya.
"WAHHH! ADIKKU GEMPAAAA!"
Tanpa basa basi lagi, ia langsung memeluk tubuh Gempa dengan erat dan tertawa."Aahh~ Aroma tubuhmu sungguh enak~ Sungguh menenangkan~" gumam pemuda itu yang membuat Gempa sedikit takut, seakan akan ia akan di terkam sekarang juga.
Halilintar langsung menjitak kepala orang itu cukup kuat hingga ia sontak meringis."Apaan sih kak?!" bentaknya dengan kesal sambil mengelus bekas jitakan penuh kasih sayang itu.
"Kau membuatnya takut. Setidaknya perkenalkan diri dulu, bego."ucap Halilintar dengan dingin dan tangan yang terlipat di dadanya. Gempa menanamkan dalam hati bahwa pemuda itu cukup pemarah dan temperamental.
"Iya deh iya. Namaku Taufan, anak kedua. Dan kau harus memanggilku kakak sekarang!" ucapnya dengan nada riang serta senyuman lebar.
Gempa hanya menyengir pelan sambil menggaruk garuk pipinya.
"Ayo masuk. Masih ada 3 saudara lagi yang harus kau kenali, Gempa."ucap Halilintar dengan nada dingin dan berbalik masuk ke dalam istana yang megah itu.
Taufan tak henti henti memeluk dirinya dari belakang, dan Gempa baru menyadari bahwa 'kakaknya' yang satu itu sejak tadi sedang melayang di udara. Mereka benar benar bukan manusia biasa.
Aula istana itu sungguh besar dan mewah. Pernak pernik yang terlihat mahal. Jendela dengan ukiran ukiran elemen elemen yang ada di alam semesta ini. Karpet merah yang terbentang ke seluruh penjuru istana ini. Dan Gempa bisa mendengar musik dari biola yang merdu, walau sedikit samar.
Matanya spontan tertuju pada seorang pemuda yang tengah asyik memainkan 3 bola. Dan itu bukan bola biasa, itu bola api yang berkobar kobar. Orang itu memakai jaket berwarna merah marun serta celana hitam selutut dengan motif api. Serta topi hitam yang menghadap keatas tertupi oleh tudung jaketnya.
"Blaze, sudah berapa kali aku bilang? Jangan bermain di dalam istana. Kau mau membakar istana ini lagi?" tegur Halilintar dengan tangan yang terlipat di dada serta alis yang turun. Pemuda yang bernama Blaze itu menoleh dan seketika bola api di tangannya langsung menghilang ke udara.
Ia menyengir sambil menggaruk garuk kepalanya. Blaze seketika terfokus pada Gempa, matanya langsung berbinar."WAAHHH! KAK GEMPA?! KAU SUDAH SAMPAI?!" ucapnya dengan sangat kuat dan nada yang senang. Blaze langsung melompat untuk memeluk pemuda beriris emas itu, dan mereka sama sama terjatuh ke lantai dengan Gempa yang merasakan sakit di punggungnya.
"B-blaze.. Sesak.." gumam Gempa, mencoba memberanikan diri untuk berbicara. Blaze menatap kakaknya dengan tatapan kosong sejenak, seketika ia langsung memeluk dengan erat hingga Gempa tercekik."UWAAHH! KAU MENYEBUT NAMAKUU!"
Taufan yang kasihan melihat wajah Gempa mulai membiru karena kekurangan pasokan oksigen, segera menepuk bahu Ice dengan pelan."Urusi kakakmu yang satu itu." Ucapnya dengan senyuman jahil, tak sabar melihat apa yang akan terjadi.
Ice yang ternyata sedari tadi sudah tertidur mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba memproses perkataan Taufan. Berikutnya ia segera memegang kepala Blaze dengan kedua tangannya.
"Membeku." Ucapnya dengan singkat. Seketika Blaze membatu di tempat sebelum ia terjatuh kebelakang, memegangi kepalanya."OTAKKU MEMBEKU! ICEEEE!"
"Uh oh..." Ice langsung kabur keluar istana, tentunya lewat jendela, setelah melihat wajah Blaze berubah menjadi merah karena amarahnya.
Gempa hanya melihat dengan bingung mereka berdua yang kini sudah hilang dibalik jendela megah itu.
"Pfftt.. BWAHAHAHAHHA! MUKA BLAZE SUNGGUH LUCU! HAHAHAHAHAH!" Taufan sudah tertawa terpingkal pingkal di lantai, berguling kesana kesini seperti orang kesurupan.
Halilintar hanya menghela nafas berat, sedangkan Gempa malah menyengir."Pasti berat ya, mengurusi mereka semua." Ucapnya disusul tawa kecil. Pemuda beriris merah itu memutar bola matanya."Yah, memang. Ingin rasanya membuang mereka semua ke lautan listrik." Gumam pemuda itu dengan tangan yang sudah dialiri oleh listrik berwarna merah, membuat Gempa jaga jarak.
"Ah.. Kalian sudah sampai ternyata."
Mereka bertiga sontak menoleh pada sumber suara. Pemuda lain yang memakai jaket lengan pendek berwarna putih dengan topi senada yang menghadap kanan agak kedepan. Ia memakai kacamata oranye yang menutupi iris kuningnya.
"Kau... Bukankah kau anak kecil itu..?" Pemuda itu tersenyum tipis.
"Kau sadar ya? Ah, maaf. Seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan kakak sekarang."balas pemuda itu sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Namanya Solar. Anak terakhir."ucap Halilintar dengan singkat. Solar hanya tersenyum."Dan yang dibelakangmu adalah Thorn, anak ke 6."
Gempa menoleh dengan cepat kebelakang, dan mendapati seorang anak kecil sedang menatap polos kearahnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan bahwa yang ia lihat sekarang ini tidak salah.
Anak yang sama saat di festival. Hanya saja ia memakai jaket berwarna hijau muda serta topi senada yang menghadap ke kanan.
"Peluk?" pintanya dengan mata yang berbinar, membuat hati Gempa luluh. Ia langsung memeluk bocah kecil itu dengan gemas."Kalian tak bilang kalau ada anak kecil disini!" ucap Gempa dengan nada senang sambil menempelkan pipi mereka berdua.
"Dia bukan anak kecil juga sih.." gumam Halilintar sambil menarik lidah topinya agar lebih kebawah. Gempa menoleh ke arahnya dengan wajah horror, memikirkan segala kemungkinan dari kalimat itu.
Taufan menyengir licik. Segera ia rampas kacamata Solar dan tertawa lepas.
Dan saat itu juga, Gempa merasakan anak yang dalam pelukannya mengeluarkan aura seram hingga ia dengan spontan menjauh. Seketika anak itu di lilit oleh akar akar yang keluar dari tanah tanpa meretakkan lantai. Seluruh badannya tertutupi dan perlahan sosok tubuh itu membesar seukuran Gempa. Beberapa saat kemudian akar akar itu kembali ke tanah dan menampakan pemuda tampan dengan topi hitam yang masih menghadap kanan serta jaket hitam hijau dan sepasang celana hijau. Iris hijaunya meruncing serta tangannya mengepal.
"A-ah.. T-thorn, aku hanya bercanda.. Aku hanya ingin menunjukkan hal ini pada Gempa.." ucap Taufan berkeringat dingin sambil kembali memasangkan kacamata Solar dengan senyuman kaku. Sedangkan pemuda yang memiliki kacamata itu hanya menatap datar sebelum tersenyum miris.
"Sudah, sudah.. Tenanglah Thorn." Pemuda beriris hijau itu terlihat sudah siap menerkam, namun mengurungkan niatnya melihat Solar yang memohon padanya. Ia pun mendecak pelan.
Gempa masih menatap tak percaya pada apa yang barusan ia lihat. Badannya spontan terlonjak saat Thorn menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam, sebelas dua belas dengan Halilintar. Seketika senyumannya melebar, hingga membentuk seringaian.
"Jadi kau Gempa? Heh, kau terlihat lemah dan penakut."ejeknya dengan wajah yang terlihat psikopat. Sangat berbeda dengan anak kecil tadi, seakan akan mereka adalah kebalikan.
Tetapi tetap orang yang sama.
Thorn pun menatap datar dan berjalan ke atas tangga.
"Mau kemana?"
"Nyiram tanaman."
Dengan begitu, Thorn pun berlalu setelah menjawab pertanyaan kakak tertuanya. Tunggu, bukankah dia ke atas?
"Dia memiliki ruangan sendiri untuk tanaman kesayangannya."jelas Taufan seakan akan sudah membaca pikiran Gempa.
Ia pun menghampiri adiknya dan tertawa miris."Maaf ya, dia selalu seperti itu. Umurnya mempengaruhi pola pikirnya. Saat dia anak kecil, dia akan bertingkah polos dan lucu. Saat dia besar, yah, seperti yang kau lihat. Tak berbeda jauh dengan kak Hali." Orang yang disebut langsung mendelik, merasa tersinggung.
"Baiklah! Akan kutunjukkan dimana kamarmu! Ayo!" ajaknya dengan senyuman yang merekah sambil menarik tangan Gempa.
"Berarti.. Aku anak ketiga?"tanya Gempa dan dibalas anggukan oleh kakaknya yang sepertinya jahil itu. "Kau punya 2 kakak dan 4 adik."tambahnya dengan tangan yang membentuk angka dua serta senyuman lebar mendampinginya.
Gempa hanya tersenyum miris. Berarti dia akan mulai tinggal di dunia aneh ini? Bersama dengan saudara saudaranya ini? Siapa mereka sebenarnya? Masih banyak penjelasan yang Gempa butuhkan agar ia paham. Namun untuk sekarang, mungkin ia bisa berbaur dengan mereka. Mereka sepertinya memang bukan orang jahat, walau sifat mereka aneh aneh.
"Kau punya pertanyaan? Setelah ini, kita semua akan berbicara sebentar ya." Gempa terlonjak akibat Taufan tiba tiba berbicara saat ia sedang melamun.
"Daann, kita sampai! Ta-daaa!"
Gempa menatap kagum ke kamar barunya. Kamar yang bernuansa coklat serta emas, luas, penuh dengan buku buku. Sempurna. Ini seperti kamar yang sering ia idamkan.
"Kami tahu kau suka membaca, makanya kami memberikan semua buku yang kami punya padamu. Kami tak mempunyai hobi sepertimu." Taufan menggaruk garuk kepalanya dengan senyuman canggungnya. Gempa hanya terkekeh pelan."Tidak apa apa. Aku suka kamar ini."
Taufan tertawa pelan."Baiklah! Kau lelah bukan? Mandi dan tidurlah. Setelah kau bangun baru kita berbincang." Anak ketiga itu hanya mengangguk kaku sebagai responnya. Pemuda beriris biru itu tersenyum tipis sebelum meninggalkan Gempa seorang diri.
Pemuda beriris emas itu menghelakan nafas berat. Ia menatap jendela yang memantulkan cahaya bulan ke kamarnya. "Saudaraku.. ya?" gumamnya pelan dan kembali menunduk. Gempa terdiam di posisi itu sebelum akhirnya menuju kamar mandi dan langsung tepar di atas kasurnya.
Lengan tangannya menutupi sinar lampu yang menyilaukan matanya. Matanya terbuka sedikit, menunjukkan tatapan yang datar dan tak terlukis emosi apapun disana.
"Huh.."gumamnya dan menutup mata, menunggu mimpi menjemput dirinya.
To be continued.
Terima kasih sudah membaca.
Maaf jika ada typo, karena saya malas untuk mengecheck ulang /slap.
Mohon reviewnya~
