Chapter 2

"My First (Endless) Love"

Cast : NaruSasu

Rated : T

Warning : bahasa tidak sesuai EYD, banyak typo, OOC Naru, OOC Sasu, yaoi, shounen-ai, dipersembahkan untuk merayakan anniversary OTP saya :* Happy NaruSasu Days!

Pesan dari kutang: FF ini terinspirasi sama manga Orange. Tapi ff ini seluruh cerita ini murni dari saya.

Happy reading genk~

..

..

..

..

[Sasuke POV]

Matahari mulai muncul dari ufuk timur. Suara burung nan merdu mengalun indah ditelingaku. Aku memandang jam yang bertengger manis di dinding. Huh? Jam 7? Hmm, sebaiknya aku membuat sarapan untuk si pirang bodoh itu.

Aku beranjak dari ranjangku yang empuk dan pergi menuju kamar mandiku. Kuputar keran air lalu ku basuh air itu ke wajah ku. Sensasi dingin menyapa kulit wajahku. Setelah menggosok gigi aku membuka laci kecil disamping tempat tidurku. Ku ambil amplop berwarna coklat dan mulai membaca buku harian tersebut.

Senin, 25 september 2015

Naruto memintaku untuk membangunkannya pukul 8 pagi, aku mangangguk menyetujuinya. Setelah membangunkannya kami makan pagi bersama. Setelah itu Naruto berpamitan padaku untuk pergi kuliah. Namun tidak berapa lama kemudian ia kembali lagi. Ia terlihat kesal padaku karena ternyata kampusnya sedang libur. Hanya karena hal sepele seperti ini kamipun bertengkar.

(*) jangan bangunkan Naruto. Bangunkan dia tepat pukul 9 pagi. Jika ia mengomel diamkan saja. Jangan pernah meladeninya.

Aku mengangguk setelah membaca buku harian itu. Ah, tidak terasa sudah seminggu aku tinggal disini. Aku tinggal disini tentu saja tidak gratis. Aku bekerja disini untuk membersihkan rumah. Yeah kurasa begitu.

Aku beranjak untuk pergi kedapur, memasak telur goreng dan memanggang beberapa roti untuk sarapan. Seminggu? Ah benar juga. Sudah seminggu juga aku melakukan perintah yang ada dibuku harian itu. Pengirim buku itu meminta tolong padaku, agar aku melakukan permintaannya. Yeah, tulisan tebal yang ada dibuku misterius itu adalah perintah si pengirim dan kurasa takdir sedikit demi sedikit mulai berubah.

Setelah merapikan meja, aku hendak mambangunkan Naruto. Namun ketika aku ingin membangunkannya tiba-tiba ia berlari terburu-buru kearah ku. Tampangnya sangat berantakan. Ia hanya mengenakan bawahan piyama saja. Bajunya? Entahlah kurasa ia sudah melepasnya. Si pirang bodoh itu berdiri didepanku. Kulihat wajahnya yang sedikit cemberut. Ah aku yakin kalau ia ingin marah padaku.

"teme! Kenapa kau tidak membangunkan ku? Kau pikir ini sudah jam berapa hah? Aku harus pergi kuliah!" katanya sambil menatapku tajam. Aku hanya memandangnya dengan ekspresi datarku.

"aku lupa. Lagi pula aku bekerja disini untuk membersihkan rumah bukan untuk membangunkan mu" jawab ku seadanya. Naruto hendak protes namun ia hanya menghembuskan nafasnya. "haahh.. percuma aku marah-marah. Toh sekarang aku memang sudah telat" katanya.

Naruto duduk dibangkunya dan mengambil roti panggangnya. Ia mengunyahnya cukup kasar sehingga remah-remah roti itu mengotori meja dan lantai. Aku sedikit kesal melihat cara makannya yang menjijikan itu.

"hei dobe! Bisakah kau makan pelan-pelan? Kau mengotori meja dan lantainya!" kataku. Naruto hanya mendengus tak peduli. Sial! Tenang Sasuke, bukankah buku harian itu bilang kalau aku harus sabar.

Akhirnya kami pun makan dalam diam. Tiba-tiba handphone Naruto berbunyi.

"iya ada apa?" tanyanya

"hei Naruto kau ada dimana? Kau tidak ke kampus kan?"

"tidak. Aku kesiangan. Ini gara-gara seseorang yang tidak membangunkan ku—" ia melirikku tajam. Aku hanya terdiam tak peduli. "—Memang kenapa?" lanjut Naruto.

"baguslah, sepertinya kau harus berterima kasih pada orang yang tidak membangunkan mu. kau tahu, kampus diliburkan. Haaahh.. kalau seperti ini lebih baik aku bermalas-malasan dirumah"

"eh? Kau serius? Astaga mungkin aku sedang beruntung ya hahahaha" Naruto tertawa cukup keras.

"hei, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?"

"aku tidak bisa. Ada hal yang harus aku selesaikan. Sudah ya, bye Kiba!" kata Naruto sambil menutup sambungan teleponnya. Aku hanya memandangnya bingung. Naruto kembali memainkan handphonenya. Sepertinya ia sedang menegtik sesuatu.

"hei Sasuke. Untung kau tidak membangunkan ku. Kau tahu, kampus sedang diliburkan hahahaha, akhirnya aku bisa liburan" ia tersenyum kearah ku.

Huh? Jadi buku harian itu benar ya?

Setelah menghabiskan sarapannya Naruto bersiap-siap untuk pergi.

"kau mau kemana?" tanya ku. "kencan dengan Hinata! Aku pergi dulu, bye teme!"

Blam! Naruto menutup pintunya. Aku terdiam. Apa dia bilang? Hinata? Apa itu pacarnya?

Kupegang dadaku yang terasa sakit. Apa? apa yang terjadi dengan ku? Kenapa aku tidak suka dengan orang yang bernama Hinata itu? Ku gelengkan kepala ku untuk menepis pikiran negatif itu. Oh ayolah aku baru saja bertemu dengan Naruto seminggu yang lalu mana mungkin aku menyukainya? Lagi pula aku yakin kalau aku itu normal. Daripada memikirkan hal itu lebbih baik aku pergi kuliah.

..

..

..

..

Jam menunjukan pukul 4 sore. Ah aku lupa jika bahan makanan dirumah sudah habis. Akupun pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Tentu saja aku memakai uang Naruto. Ia yang memberiku uang bulanan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Entah kenapa aku merasa seperti err— istrinya mungkin?

Aku memasukan beberapa sayuran ditroli belanjaan ku. Hm? Makan malam nanti kira-kira masak apa ya? Aku melihat tumpukan tomat segar disalah satu etalase sayuran. Sup tomat? Tidak buruk juga. Sudah lama aku tidak makan sup itu. Saat hendak memilih tomat tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"seperti ada yang terlupa?" gumanku. Ah! benar! Buku harian itu! Kubuka isi amplop itu dan membacanya.

Senin, 25 september 2015 (20.00)

Aku memasak sup tomat untuk makan malam. Kuharap Naruto tidak akan protes. Lagi pula apapun yang aku masak pasti akan dimakannya. Aku memasak sup itu dengan sangat telaten agar rasa sup itu pas dilidah. Namun saat Naruto pulang, ia terlihat sangat lesu. Saat aku mengajaknya untuk makan ia menolak. Aku sedikit kesal karena ia menolak masakanku. Aku bertengkar cukup hebat sampai-sampai Naruto membanting mangkuk berisi sup tomat yang aku buat.

(*) jangan memasak sup tomat. Masaklah semangkuk ramen untuk makan malam.

"huh? Bertengkar karena hal sepele? Astaga apa 'aku' yang dimasa depan itu selalu bertengkar dengan Naruto? Kenapa aku sangat kekanak-kanakan sekali?" aku bergidik heran. Hahh terpaksa aku harus memasak ramen untuk si dobe itu. Aku berjalan menuju rak berisi ramen instant.

"ramen instant ya?" guman ku.

..

..

..

..

"nah sudah selesai" guman ku ketika selesai menata meja. Tiba-tiba pintu terbuka dan benar saja Naruto pulang dengan keadan lesu. Matanya terlihat kosong dan wajahnya terlihat berantakan.

"kau sudah pulang?" tanyaku. Naruto hanya terdiam tak membalas pertanyaanku.

"mau makan malam?" tanyaku lagi. Kali ini Naruto menggeleng. "tidak, aku sudah kenyang" katanya. Aku sedikit mendengus.

"kau yakin tidak mau makan setelah aku memasakan ini untuk mu?" kataku sambil meletakan semangkuk ramen panas dimeja.

"eh? Ramen? Kenapa hari ini kau memasak ramen?" tanya Naruto. Wajahnya mulai terlihat bersinar lagi. "entahlah aku hanya sedang ingin makan ramen saja. Bukankah ramen adalah makanan kesukaan mu?" ucapku. Naruto mengangguk senang. Ia tersenyum bodoh kearahku.

"sudahlah cepat makan ramen mu sebelum mie nya lembek" kataku.

"haahh.. pasti ini ramen instant" Naruto mengeluh dengan cekatan aku memukul kepalanya dengan sendok yang ku pegang. "ini bukan ramen instant. Aku memasaknya sendiri. Lagi pula aku benci makanan instant" kataku. Naruto hanya terkekeh.

"itadakimasu!" katanya semangat. Ia mulai menyeruput kuah ramen itu.

"huoohh! Ini enak sekali!" pujinya. Aku hanya tersenyum tipis saat melihat tingkah bodohnya.

"hei Sasuke, bagaimana kau tahu kalau makanan kesukaanku adalah ramen? Setahu ku, aku tidak pernah memberitahu mu" tanyanya.

Aku terdiam. Benar juga, bagaimana aku bisa tahu kalau makanan kesukaannya adalah ramen? Dibuku harian itu juga tidak tertulis kalau Naruto suka pada ramen. Ughh.. kepalaku sedikit pusing memikirnya.

"Sasuke—" ucap Naruto. Ia memandangku dengan tatapan yang serius. Aku hanya terdiam.

"sudah lama aku ingin mengatakannya padamu tapi aku selalu menahannya." Katanya lagi. Ia makin menatapku dengan serius. Disentuhnya pipiku oleh tanganya yang hangat. Degh! Jantungku berdetak kencang.

"Sasuke— apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Naruto. Aku menaikan sebelah alisku. Bingung? Tentu saja, aku baru bertemu Naruto sekitar seminggu yang lalu. Tapi kenapa Naruto berpikir pernah bertemu denganku sebelumnya? Tapi, kenapa aku merasa sangat mengenal sosok Naruto?

"aku, tidak tahu—" kataku. "—aku baru bertemu dengan mu seminggu yang lalu. Mungkin kau salah orang" kataku. Naruto terdiam. Ia terlihat memikirkan sesuatu.

Suasana menjadi sedikit canggung. Kami sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. "ah! benar, mungkin aku salah lihat" Naruto mengusap belakang lehernya. Aku menghela nafas lega.

"Naruto, kenapa kau terlihat sangat murung tadi?" tanyaku. Ia terdiam. Mencoba tersenyum walau aku tahu hatinya kini sedang bersedih.

"yeah hanya masalah kecil. Aku dan Hinata bertengkar. Hinata bilang padaku kalau ia ingin melanjutkan S2 nya di Amerika. Aku melarangnya dan menyuruhnya untuk melanjutkan S2nya ditokyo. Hinata sedikit kesal dengan keegoisan ku dan kau taulah, aku dan dia akhirnya bertengkar" katanya mencoba untuk tersenyum. Aku memandangnya dengan mata sayu ku.

"apa kau mencintai Hinata?" tanya ku. Naruto tersedak kuah ramen ketika aku bertanya seperti itu.

"hahaha, tentu saja. Hinata adalah wanita yang paling aku cintai. Aku dan dia mulai berpacaran saat kami SMA sampai sekarang. Rencananya setelah aku lulus kuliah, aku akan melamarnya—" Naruto sedikit tersipu malu. "—bahkan aku sudah membeli cicin berlian untuknya. Yeahh walau cincin itu aku angsur selama 6 bulan" Naruto terkekeh geli. Aku hanya terdiam.

"jadi karena itu kau tidak ingin Hinata pergi ke amerika?" tanya ku. Naruto mengangguk. Ia menyeruput habis kuah ramen yang tersisah didalam mangkuk.

"haahhh, terima kasih atas makanannya. Ini enak sekali!" puji Naruto. "hei Sasuke, kenapa ramen mu tidak kau makan?" tanyanya. Aku terdiam.

"eum, aku sudah kenyang" jawabku.

"boleh untuk ku?" tanyanya. Aku mengangguk, Naruto terlihat kegirangan dan dengan semangat menghabiskan ramen milikku.

"Sasuke, aku punya 2 tiket untuk nonton bioskop. Bagaimana kalau besok kita pergi nonton?" ajak Naruto. "e—eh? Apa?" aku sedikit terkejut.

Tunggu tunggu tunggu! Pergi menonton dengan Naruto? Sepertinya itu tidak ada dibuku harian misterius itu. Kurasa takdir mulai berubah. Selama ini aku selalu mengikuti perintah dibuku harian itu secara berurutan. Setauku besok tidak ada peristiwa nonton bioskop bersama! Apa yang harus aku lakukan?

Naruto menatapku. Menunggu jawaban yang keluar dari mulutku. "err— besok aku harus pergi kuliah" kataku

"kuliah? Jadi selama ini kau kuliah? Ku kira kau hanya pengangguran" katanya terkekeh geli. Aku hanya menatap sinis kearahnya. Nyali Naruto pun menciut.

"ja—jadi kau selesai kuliah jam berapa?" tanyanya.

"jam empat mungkin" kataku seadanya.

"baiklah, ku tunggu kau distasiun jam 4" katanya semangat. "hei! Aku tidak bilang setuju untuk ikut dobe!" protesku. Naruto hanya tersenyum bodoh. Ia pura-pura tak mendengar protesan ku. Naruto masuk ke dalam kamarnya, sebelumnya ia mengucapkan selamat tidur kepadaku.

Ku pijat keningku dengan sedikit kasar. Bagaimana ini? Jika aku terima apa yang akan terjadi besok?

..

..

..

..

Selasa, 26 september 2015

Aku benar-benar tidak punya uang. Bahkan aku belum membayar uang kuliahku. Aku bekerja pada Naruto tentu saja tidak dibayar. Anggap saja gaji ku bekerja dengan Naruto untuk membayar sewa rumahnya. Sial! Aku harus cari kerja. Saat aku berhenti didepan toko roti, pemilik roti itu mengajakku masuk untuk mencicipi roti buatannya. Orang itu sangat baik walaupun penampilannya agak aneh. Pria pemilik toko roti itu mengajak ku untuk bekerja ditokonya. Tentu saja aku terima! Ini memang hari keberuntungan ku!

(*) jangan pernah pergi ke toko itu. Jangan pernah menerima tawaran pekerjaan itu. Dan yangb terpenting jangan pernah betemu dengan pemilik toko itu!

"bagus! Kejadian hari ini hanya itu saja. Buku ini tidak menuliskan kejadian saat nonton dibioskop." Aku mendengus kesal. Tiba-tiba handphone ku bergetar.

"kau dimana? Aku sudah distasiun" ucap Naruto.

"aku disamping konbini" balasku. Aku mengedarkan pandangan ku untuk mencari si pirang bodoh itu. Sampai akhirnya sosok pirang itu melambaikan tangannya ke arah ku dan berlari kearahku.

"apa kau lama menunggu?" tanyanya. Aku menggeleng "tidak, baru saja aku sampai" jawabku. Naruto merangkul ku dengan erat. Yeah ku akui jika tubuhnya lebih tinggi dariku. Tubuhnya juga berisi, oh jangan lupakan kulit tan nya yang begitu eksotis. Entah kenapa ketika berdiri disampingnya aku merasa seperti seorang perempuan. Lihatlah! Tubuhku begitu ramping seperti perempuan, kulitku juga putih seputih susu. Tak lupa rambutku yang sedikit panjang. Ughh aku benar-benar iri dengannya.

Kamipun sampai didepan bioskop. Naruto bilang kalau kami akan menonton film romantis. Astaga, tak adakah film lain selain film romantis? Sungguh aku mengantuk jika menontonnya.

"ini!" Naruto tersenyum sambil memberikanku popcorn ukuran super jumbo. Aku bergidik ngeri melihatnya. Aku yakin tak akan bisa menghabiskannya.

"kau harus makan yang banyak! Maka dari itu aku membelikan mu popcorn ukuran jumbo" ucapnya girang. Aku hanya mendengus malas.

"badanmu itu terlalu kurus untuk ukuran seorang lelaki! Kau harus makan yang banyak ya!" ia mengacak-acak rambutku. Kami menjadi pusat perhatian dibioskop ini. Astaga aku sangat risih melihatnya.

"Na—Naruto-kun" ucap seorang gadis bermata silver. Naruto terdiam. "Hinata? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto. Aku memandang sosok wanita yang berdiri dihadapan kami. Wanita itu berambut panjang, matanya sangat indah, tubuhnya sedikit mungil serta kulitnya yang putih seputih susu. Ah? jadi ini orang yang bernama Hinata.

"a—aku ingin bicara padamu. Aku sudah menelpon mu berkali-kali tapi kau tidak mengangkatnya" katanya.

"jika kau ingin bicara, lebih baik bicara disini saja" ucap Naruto. Wanita yang bernama Hinata itu menggeleng. "tidak, aku ingin bicara 4 mata dengan mu Naruto-kun. Kumohon" ucap Hinata. Naruto terdiam, ia menggigit bibirnya.

"baiklah, Sasuke bisakah kau pergi sebentar? Aku ingin bicara berdua dengan Hinata." Ucap Naruto dengan serius. Aku mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua. Entah kenapa aku sedikit tidak senang dengan kehadiran Hinata.

Aku berjalan tak tentu arah mengitari toko-toko ini. Naruto bilang padaku untuk menunggunya. Aahh rasanya aku ingin pulang saja. Kurogoh isi dompetku. Dan ternyata tak ada uang yang tersisah disana.

"bagus, sepertinya aku memang harus menunggunya" gumanku. Hmmm.. selagi berkeliling lebih baik aku mencari lowongan pekerjaan.

Aku kembali berkeliling mencari toko yang membuka lowongan perkerjaan. Sudah 1 jam aku berkeliling namun hasilnya tetap nihil. "Ahh.. aku benar-benar lelah, perutku juga lapar. Kenapa sibodoh itu lama sekal?" guman ku.

Aku mencium aroma khas roti yang dipanggang. Hmm.. seperti roti melon. Aku menghampiri toko roti tersebut. Disana terpampang roti-roti hangat yang baru saja keluar dari oven. Kruuyuukk.. perutku kembali berbunyi.

Tiba-tiba seorang pria menghampiri ku. Sepertinya ia pemilik toko roti tersebut. "ma—maafkan aku, saat ini aku tidak punya uang. A—aku akan pergi" kataku. Tiba-tiba pria itu mengenggam tanganku. Mencegahku untuk pergi.

"bisakah aku minta tolong padamu? Aku baru saja membuat variasi roti yang baru untuk toko ku. Aku ingin kau mencicipi roti buatanku ini" kata pria itu. Aku berpikir sejenak. Bagaimana jika ternyata dia adalah orang jahat? Lagi pula tampangnya juga mencurigakan. Ia mengenakan sebuah masker. Masker itu menutupi hidung dan mulutnya.

Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku setuju. Lagi pula perutku benar-benar lapar. Pria itu memberikanku sebungkus roti berbentuk bulat. Ku buka bungkus roti itu dan ku belah rotinya. Tiba-tiba krim keju dan coklat melumer dari roti itu. Aku sedikit takjub dengan roti ini. Dengan perlahan aku memasukan potongan roti tadi ke mulutku.

"i—ini enak! Ini sangat enak tuan!" kataku. Pria itu tersenyum. "baguslah jika kau suka"

"tapi, roti ini akan jadi lebih enak jika diganti dengan krim tomat" kataku. Pria itu terlihat bingung. "kau suka tomat?" tanyanya. Aku mengangguk.

"hahahaha, baiklah lain kali akan kuganti dengan krim tomat" kata pria itu. "hei nak, sejak tadi aku melihat mu berkeliling mengitari toko-toko ini. Memang kau sedang mencari apa?" tanya pria itu.

"aku sedang mencari pekerjaan. Aku sedang membutuhkan uang untuk membayar kuliah ku" kataku. Pria itu berpikir sejenak.

"bagaimana jika kau bekerja disini? Toko ini masih baru, jadi karyawannya belum terlalu banyak. Kau mau kan bekerja disini?" pria itu tersenyum lembut sambil menyodorkanku secangkir capucinno hangat.

"be—benarkah tuan?" tanyaku memastikan. Pria itu mengangguk.

"a—aku, aku ma—" ucapan ku terhenti. Pria itu memandang bingung kearah ku.

(*) jangan pernah pergi ke toko itu. Jangan pernah menerima tawaran pekerjaan itu. Dan yang terpenting jangan pernah betemu dengan pemilik toko itu!

Aku terdiam memikirkan perintah dibuku itu. Apa yang harus ku lakukan? Aku harus menerima tawarannya atau tidak? Lagi pula pria itu terlihat sangat baik. Dan juga aku benar-benar membutuhkan uang. Aku tidak ingin bergantung pada Naruto.

Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku menyetujui tawaran pria itu. Hah, masa bodo dengan buku harian itu. Lagi pula tak ada untungnya bagi ku.

"baiklah, kau diterima disini. Mulai besok kau sudah bisa bekerja disini" kata pria itu. Aku mengangguk. "sebelumnya aku belum tahu nama mu" kata pria itu

"ah maafkan aku. Nama ku Uchiha Sasuke" kata ku sambil tersenyum.

"hmm.. Sasuke ya? Namaku Hatake Kakashi. Senang berkenalan dengan mu Sasuke-kun" pria itu tersenyum sambil berjabat tangan dengan ku.

Lihat? Tidak akan terjadi apa-apa jika aku melanggar perintah buku harian itu.

..

..

..

"aku pulang" kata Naruto sambil membuka pintunya.

"oh kau sudah pulang" kataku. Naruto menghampiriku. "teme! Bukankah aku menyuruhmu untuk menunggu ku? Kenapa kau pulang?" ia mendengus kesal

"dan meninggalkanku sendirian disana sampai malam? Seharusnya aku yang marah pada mu dobe! Apa kau pikir aku tidak kelaparan disana hah? Dari pada menunggumu lebih baik aku pulang dan memasakan makan malam untuk mu" kataku sedikit emosi. Naruto terdiam. Ia hanya menghela nafas dan duduk disofa sambil melepas jaketnya.

"jadi, rencana nonton bioskop kita gagal ya?" gumana Naruto.

"hng" jawabku malas. Aku meletakan semangkuk sup hangat diatas meja.

"maafkan aku, padahal aku yang mengajak mu tapi aku juga yang membatalkannya" kata Naruto. Aku hanya terdiam, tak mempedulikan ocehannya.

"aku mau mandi" katanya dan berjalan meninggalkanku. Setelah mandi, Naruto menghampiri ku yang sudah duduk dimeja makan.

"bisakah kau mengenakan baju dulu sebelum makan NA-RU-TO?" aku menatap tajam kearahnya. Naruto seakan tak peduli dengan omonganku. Ia mengambil air dingin dikulkas.

"memang kenapa? Lagi pula aku pakai celana panjang" katanya sambil duduk disampingku. Aku hanya mendengus kesal. Naruto mulai memakan dengan lahap. Tadinya aku ingin protes karena cara makannya yang berantakan namu akhirnya aku sadar, itu memang ciri khas Naruto.

"jadi, bagaimana hubungan mu dengan Hinata?" tanyaku

"yeah, dia meminta maaf padaku. Hinata bilang kalau ia akan melanjutakan S2 nya di Tokyo." Kata Naruto sambil meminum air dinginnya.

"aku kasihan dengannya, kalau di pikir-pikir sebenarnya ini salahmu karena terlalu egois, tapi kenapa dia yang meminta maaf padamu" komentarku. Naruto tersedak mendengar perkataan ku.

"uhuk— aku tau aku salah, tapi sebelum dia yang meminta maaf aku duluanlah yang meminta maaf! Hinata adalah wanita yang baik dan penyabar ia benar-benar mengerti sifatku. Maka dari itu aku sangat mencintainya" ucap Naruto memuji Hinata. Aku terdiam, sungguh hatiku rasanya sakit mendegarnya.

"hei hei, Sasuke. Aku belum pernah melihat pacar mu. Sesekali bisakah kau mengenalkan pacar mu padaku. Ah! bagaimana kalau kita kencan ganda! Bukankah itu ide yang bagus" lagi-lagi Naruto tersenyum dengan tampang bodohnya. Aku terkekeh geli.

"aku tidak punya pacar, dasar bodoh" jawabku. Naruto sedikit kecewa.

"kupikir kau sudah punya pacar. Kau itu tampan, manis, dan cantik. Pasti banyak perempuan yang menggilaimu" kata Naruto. "jangan gabungkan kata tampan dan manis secara bersamaan dobe. Aku ini laki-laki, mana mungkin ada laki-laki yang senang dibilang cantik" aku menatap sinis kearahnya. Naruto bergidik ngeri.

"tapi, kalau dilihat-lihat kau memang tampan tapi disisi lain kau terlihat sangat manis dan cantik" kata Naruto. Aku terdiam entah kenapa aku merasa pipiku memanas.

"sudahlah! Jangan membicarakan hal ini lagi!" kata ku sedikit kesal. Naruto malah terkekeh melihat tingkah laku ku.

"ada yang ingin aku katakan padamu Naruto. Aku baru saja mendapat pekerjaan baru. Aku bekerja disalah satu toko roti didekat stasiun. Mulai besok aku akan bekerja disana, jadi aku—"

"tidak boleh!" ucap Naruto. Aku memandangnya bingung.

"apa yang kau—"

"pokoknya tidak boleh! Kau tidak boleh bekerja ditempat lain selain bekerja dengan ku!" katanya sedikit egois. Aku sedikit kesal.

"apa maksud mu? memang kau siapa? Kenapa kau suka sekali mengatur hidup ku? Asal kau tahu aku juga butuh uang untuk biaya kuliah ku!" aku mengeluarkan semua amarahku

"jika kau butuh uang katakan padaku! Kau cukup meminta padaku Sasuke!" balas Naruto. Aku mengepalkan tangan ku kuat-kuat.

"aku bukan pengemis yang hanya meminta-minta padamu Naruto! Aku bisa hidup sendiri!" balasku. Naruto terdiam.

Aku menghembuskan nafasku. Menahan semua amarah ku. Tenang Sasuke, kau harus tenang. Aku beranjak dari ruang makan.

"kau mau kemana?" tanya Naruto. "tidur" jawabku dingin. Aku membanting pintu kamarku. Meninggalkan Naruto sendirian diruang makan.

"a—apa yang barusan aku katakan? Kenapa aku mengatakan hal seperti itu pada Sasuke?" guman Naruto

..

..

..

..

Aku terduduk disisi ranjangku. Kupijit kepala ku yang sedikit pening.

"ughhh.." lirih ku. Kenapa? Kenapa Naruto begitu egois? Kenapa ia senang sekali mengatur hidup ku?

Aku mengambil amplop coklat didalam tas ku. Apa mungkin aku bertengkar dengan Naruto hanya karena aku melanggar perintah dibuku harian itu? Dengan sedikit kasar aku membuka buku harian tersebut.

Selama ini aku selalu membuka buku harian itu secara urut. Pengirim itu bilang kalau dimasa yang akan datang aku akan mengalami penyesalan yang tidak bisa aku lupakan seumur hidup. Memang penyesalan seperti apa sampai-sampai membuatku 'aku yang dimasa depan' begitu ketakutan?

Aku terus membalik buku harian itu sampai akhirnya aku membaca tulisan yang ada dihalaman terakhir.

Minggu, 25 Desember 2015

Aku menyesal, aku benar-benar menyesal. Akhirnya akupun meninggal dengan penyesalan yang ada pada diriku.

Aku bergidik ngeri. Kulempar buku itu dengan kasar. Tubuhku bergetar hebat, keringat dingin membasahi tubuhku.

"a—aku meninggal?"

TBC...

Yeyyyy, chapter 2 udah selesai. Maap kalo banyak typonya. Btw makasih yang udah ngereview ff saya yang absurd ini.. akhir kata mohon maap.

Wasaallamualaikum *main marawis*