Disclaimer :
All Characters and Setting Belongs To JK. Rowling
Plot and OOC Story By : Petite Veela
(Timeline : Tahun ke 6. Dumbledore, Cedric, dll, masih hidup. Voldemort mati sajalah(?))
Chapter 2
Gryffindor Girl's Dormitory
Hermione ternganga membaca surat yang baru diterimanya dari Prof. Mc Gonnagall. Matanya semakin melebar ketika ia hampir mencapai akhir surat.
Masih tidak percaya akan apa yang sudahdibacanya, gadis itu membacanya lagi.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Dan Lagi.
Tapi isi suratnya masih tetap sama.
Gadis berambut cokelat lebat itu menyambar jubah yang telah dilepaskannya setengah jam lalu, ketika ia memutuskan untuk membaca surat yang dikirimkan orang tuanya melalui Dumbledore, meletakkan surat itu dalam sakunya. Memakai jubahnya sambil menuruni anak tangga kamar anak perempuan.
Harry, Ron, Ginny, Fred, George dan anggota tim Quidditch Gryffindor yang lain masih berkumpul di Ruang Rekreasi membicarakan pertandingan mereka yang menyedihkan hari itu.
Ginny sepertinya melihatnya karena Hermione mendengar suara gadis Weasley itu meneriakkan namanya ketika ia keluar dari lubang lukisan Fat Lady. Tapi Hermione tak menjawab.
Dia terlalu bingung dan takut akan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya sehingga mereka mengirimkan surat mengerikan itu kepadanya.
'Apa mereka terkena imperius?' pertanyaan pertama yang terlintas dalam pikiran gadis berotak cemerlang itu.
'Apa mereka diancam?' pertanyaan kedua mengikuti pertanyaan pertama.
'Apa mereka disuap?' pertanyaan ketiga menerobos benaknya
'Apa mereka ditipu?' pertanyaan keempat menyeruak.
Dan beribu pertanyaan lain muncul sementara ia terus melangkah. Kemudian tanpa disadari sampailah ia didepan Dua Patung Gargoyle yang menunggu kata kunci darinya.
"Permen Jeruk" Tukas Hermione mantap.
Kedua patung gargoyle pun melompat melangkah ke anak tangga spiral yang meluncur keatas membawanya tepat kedepan Pintu Ek mengetuk pintunya dengan ragu.
'Merlin, aku lupa sama sekali ini sudah larut, semoga Professor tidak marah.' Pikirnya.
"Masuk"
Terdengar suara lelaki tua dari balik pintu kayu.
Hermione mendorong pintu yang lumayan berat itu dan melihat Professor Dumbledore sedang duduk diatas meja kerjanya, membuka sebungkus permen yang diambilnya dari stoples berwarna emas didekatnya, laki-laki tua itu tersenyum padanya dan berkata riang.
"Ah, sudah kuduga kau akan datang nak. Bagus sekali, kurasa kita akan segera tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukanbegitu, Mr. Malfoy dan Miss. Granger?"
Draco menoleh begitu cepat, lebih cepat dari New Firebolt yang baru dibelikan ayahnya 2 Hari lalu, ketika mendengar Si Tua Dumbledore menyebutkan nama orang lain yang sepertinya baru datang setelah dirinya itu.
Dan disitulah dia, cewek sok pintar berambut cokelat lebat jelek itu, berdiri didekat Pintu Kayu Ruangan Kepala Sekolah. Sama kagetnya seperti dirinya.
Setelah membaca surat dari kedua orang tuanya yang dikiranya mustahil terjadi tadi, Draco memutuskan untuk menanyakan bulshit thing ini kepada kepala sekolahnya yang mungkin saja tahu karena namanya juga disebut dalam surat itu.
Cepat-cepat ia berlari menuju kantor Dumbledore, dan seolah sudah menduga akan kedatangannya, Dumbledore duduk santai berbicara dengan Fawkes –Si Phoenix- setelah menyuruhnya duduk dengan tenang (kayak Draco bisa tenang saja setelah berita 'manis' dari orang tuanya tadi), Dumbledore duduk dimejanya dan menawarkan permen yang tentu saja ditolak Draco, Ayolah dia tidak atang kesini untuk makan permen bersama Dumbledore, kan? Ia lebih memilih duduk sambil mendengarkan penjelasan Dumbledore.
Alih-alih langsung menjelaskan duduk persoalan yang langsung ditanyakan Draco tanpa henti setibanya ia disini, Dumbledore menyuruh Draco duduk sebentar sementara ia memakan permen-permen itu.
Seseorang mengetuk pintu ketika Dumbledore membuka permen keempatnya.
"Masuk"
Draco tidak peduli siapa yang datang, ia ingin sekali segera mendapat penjelasan tentang apa yang sudah terjadi.
"Ah, sudah kuduga kau akan datang nak. Bagus sekali, kurasa kita akan segera tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan begitu, Miss Granger dan Mr. Malfoy?"
Draco mendelik dan memutar kepalanya begitu cepat, mendapati si Mudblood itu berdiri disana.
Ia memamerkan seringainya, yang ditunjukkannya dengan tujuan musuh-musuhnya semakin terintimidasi. Walau ia tahu, Hermione Granger bukanlah termasuk salah satu dari orang yang mudah diintimidasi itu.
Draco melihat sekilas kebingungan diwajah Hermione, sepertinya gadis itu juga sama bingungnya dengannya.
Dumbledore menyuruh Hermione duduk disebelah Draco, tapi ia memilih duduk diujung sofa, sementara draco menggeser duduknya kearah ujung satunya.
Terkekeh, Dumbledore menjentikkan tongkatnya kemudian dua buah piala berisi minuman muncul didepan meja didepan Draco dan Hermione.
"Kalian mau penjelasan dariku kan? Silahkan minum dulu." Katanya masih dengan nada riang.
Ragu-ragu Hermione mengambil piala itu dan meminum isinya sedikit, dan ia merasakan kehangatan serta ketenangan disekujur tubuhnya.
Melirik kearah Hermione yang terlihat agak tenang setelah meminum - entah - apa - itu- Draco mengikutinya, diapun merasakan hal yang sama.
Merasa agak santai, Draco dan Hermione sama-sama menyandarkan tubuh mereka yang mulai rileks ke punggung sofa.
Dumbledore tersenyum melihat kedua muridnya itu.
"Mead terbaik madam Rosmerta, Anak-anak," Dumbledore mengangkat pialanya dan meminum isinya seteguk.
Kepala sekolah itu meletakkan piala di sisi stoples emas, kemudian memandang Draco dan Hermione dari balik kacamata bulan separonya.
"Nah, jelaskan padaku, apa tujuan kalian datang kemari sekarang? Bukankah ini sudah.. " Dumbledore melihat jam saku tuanya. "Hampir jam malam?"
"Tentang surat ini.."
Draco dan Hermione berkata dan menunjukkan suratnya hampir bersamaan.
Hermione menoleh dan memandang geram kepada lelaki pucat yang duduk diujung lain sofa.
Draco mengabaikan tatapan Hermione, tetap memilih melanjutkan pertanyaannya. Bagaimanapun juga hal ini akan terus mengusiknya jika ia tak menemukan jawaban sekarang juga.
"Orang tua saya mengirimkan surat ini kepada saya, Professor. Saya yakin sekali orang tua saya sudah.." Draco terdiam sebentar.
"Gila? Atau mungkin terkena mantra imperius?" Lanjutnya.
Hermione menyipitkan mata, masih memandang Draco dengan tatapan benci.
'Apa isi surat itu? Apa sesuatu seperti akhirnya ayahnya yang arogan itu masuk Azkaban?' Pikirnya.
Kemudian gryffindor berambut lebat itu menoleh ke arah Dumbledore, yang ternyata malah tersenyum senang. Sepertinya tertarik akan perkataan Draco. Lelaki berjenggot panjang itu menelengkan kepala, menunjukkan mimik bertanya kepada Hermione yang entah kenapa menjadi gugup
"Sa.. saya pun begitu, profesor. Saya juga ingin menanyakan perihal surat dari orang tua saya ini. Dennis Creevey -yang memberikan surat ini pada saya setelah makan malam tadi - memberitahu saya kalau Anda yang menyuruhnya." Jelasnya panjang dalam satu tarikan nafas.
Dumbledore, yang ekspresi wajahnya berubah dari tertarik menjadi amat sangat tertarik, mengulurkan tangannya seolah meminta surat-surat yang jadi masalah itu.
Draco dan Hermione maju cepat-cepat seolah berlomba untuk memberikan surat duluan kepada Kepala Sekolah mereka, saking cepatnya bereaksi, lutut Hermione terantuk meja berkaki besi yang ada di depan sofa.
Mendengar suara 'Dug' diikuti suara mengaduh, Draco -yang hampir sampai duluan ke arah Dumbledore- menoleh dengan kecepatan penuh sampai lehernya sakit, tapi sepadan dengan apa yang dilihatnya setelah itu, Gadis Gryffindor Sok Tahu sedang terpincang-pincang berjalan kearahnya.
'Benar-Benar turunan kotor, Bodoh dan ceroboh.' Draco menyeringai.
Melihat seringaian super menyebalkan itu, membuat Hermione ingin menonjoknya sekarang juga. Berhubung ia sedang dalam misi untuk segera tahu apa yang terjadi, Hermione menahan diri mati-matian untuk mengabaikan Pirang Keparat itu.
Hermione melakukan apa yang telah dilakukan Draco, menyerahkan suratnya kepada Dumbledore, kemudian terpincang-pincang menuju sofanya lagi.
Setelah beberapa detik yang sunyi dan menegangkan antara mereka bertiga ketika Dumbledore dengan serius membaca surat mereka berdua, dan membandingkan keduanya, akhirnya Dumbledore mendongak.
Diluar dugaan Draco dan Hermione, yang mengira Dumbledore akan menindak lanjuti secara serius hal yang paling tidakmasuk akal ini, Beliau justru malah terkekeh.
Kaget akan kelakuan kepala sekolah mereka, Draco dan Hermione berpandangan dan saling mengangkat satu alis mereka bingung.
Ekspresi bingung Draco beberapa detik digantikan oleh wajah kaget dengan mata melebar. Tak sengaja bertatapan dengan mata cokelat-hazel Hermione. Mata yang membuatnya terpaku beberapa saat sebelum akhirnya ia terkesiap kaget ketika Hermione, yang merasa Draco menatapnya, mengalihkan pandangan lagi kepada Dumbledore.
"Tetapi, maafkan saya kalau saya lancang, Professor Dumbledore, bukankah ini hal yang sama sekali tidak bisa ditertawakan? Maksud saya, tentang surat saya, bukankah ini hal gila dan tidak mungkin?" Kata Hermione tak sabar.
"Suratmu?" Suara Draco menginterupsi.
Tersadar beberapa detik setelah termangu mengidentifikasi keadaan yang terjadi beberapa saat lalu. Mata itu membuatnya seperti terhipnotis, Demi Salazar! Itu mata gadis lumpur kotor!
Hermione, yang merasa tidak perlu mengindahkan Draco, meneruskan penjelasannya kepada Dumbledore yang sekarang bergantian memandang mereka dengan geli. Tapi masih menyimak dengan tidak menyela mereka.
"Jadi, Professor yang baik," Hermione meneruskan. "Bisakah tolong dijelaskan kepada saya tentang apa yang sebenarnya terjadi? Anda sudah membacanya bukan? Dan saya yakin isi surat saya bukan bahan untuk ditertawakan. Mungkin anda menertawakan surat yang lain? Saya..."
"SURAT YANG LAIN?!"
Suara menggelegar datang dari ujung lain sofa yang didudukinya. Hermione spontan menoleh ke arah suara tersebut dan mendapati Draco Malfoy sudah berdiri dari tempatnya duduk beberapa saat lalu dengan wajah memerah. Mata Hermione melebar.
'Merlin! Apa dia mulai mabuk?' Hermione menggeser duduknya semakin ke ujung, takut tiba-tiba Draco melempar mantra -apapun yang diingatnya dengan otak yang kepenuhan memori tentang perempuan itu- kepadanya.
"APA KAU PIKIR KAU SAJA YANG MENGHADAPI MASALAH, EH, MU... GRANGER?" Draco hampir keceplosan didepan kepala sekolah, tapi mencoba menahan emosinya. Dia melirik ke arah Dumbledore sekilas tapi tidak melihat adanya kemarahan diwajah lelaki itu.
"APA KAU PIKIR SEBEGITU PENTINGNYA KAH DIRIMU SEHINGGA HANYA KAU LAH YANG MERASA PERLU DIUTAMAKAN, EH, NONA - TAHU - SEGALA?" Raung Draco kesal.
Merasa perlu menengahi, Professor Dumbledore turun dari mejanya, mengahampiri tempat dimana Hermione dan Draco -tadinya - duduk.
Hermione menunduk, malu akan penghinaan Draco yang di teriakkan tepat didepan Kepala Sekolah. Dan Draco mengalihkan pandangan ke arah lain, merasa terlalu melepaskan emosinya diluar kehendaknya.
'Salah si Darah Lumpur itu sendiri,' Pikir Draco. 'Memangnya siapa dia sehingga merasa dialah yang lebih penting?'
Dumbledore menghampiri Draco duluan, saat Draco pikir ia akan dihukum, lagi-lagi yang dilakukan Dumbledore diluar perkiraannya. Kepala Sekolah hanya mengembalikan suratnya. Kemudian dia menghampiri Hermione dan melakukan hal yang sama.
"Bacalah," kata dumbledore menatap mereka dengan sabar.
Hermione langsung memprotes, "Tapi Profesor saya sudah membacanya berulang-ulang. Saya hafal..."
"Bacalah," Dumbledore menyuruh sekali lagi, kali ini dengan suara tegas.
Hermione, dengan sedikit kesal, menunduk akan membaca suratnya untuk yang ke -entahlah - semilyar kalinya malam itu.
Beberapa menit kemudian, Draco dan Hermione sama-sama tercenung.
Ternyata Dumbledore tidak mengembalikan surat mereka masing-masing, Ia menyuuh mereka saling membaca surat satu sama lain. Draco membaca surat dari orang tua Hermione. Dan Hermione membaca surat dari orang tua Draco.
'Cerdik sekali,' Pikir Hermione
'Betul juga, dengan begini si tua itu tak perlu bersusah-susah menjelaskan siapa yang benar dan salah,' Pikir Draco.
"Sudah baca?" Tanya Dumbledore, kembali ke tempat duduknya semula, diatas meja.
"Professor.." Hermione mulai paham.
"Ya, Miss Granger?" Dumbledore meneguk mead-nya lagi.
"Apa ini artinya surat ini benar?" Kali ini Draco yang menyela. "Hal sinting tentang Peraturan Pernikahan.."
"Undang-Undang Kementrian Sihir Inggris, Bab Pernikahan Pasal 763 ayat 26, Mr. Malfoy," Dumbledore mengoreksi.
"Tidak mungkin!" Hermione menjerit.
"Apanya yang tidak mungkin, Miss Granger?" Lagi-lagi Dimbledore tersenyum geli.
"Ini melanggar hak asasi pemyihir! Pernikahan tidak bisa diatur oleh siapapun!" Draco berteriak.
Dumbledore menurunkan piala yang dipegangnya, menatap serius kepada mereka berdua.
"Tentu tidak diperbolehkan mengatur Pernikahan, Mr. Malfoy. Kementrian hanya memberikan peraturan tentang hal umum, bukan khusus. Secara umum, Penyihir Berdarah Murni, dilarang menikah dengan sesama Penyihir Berdarah Murni. Tentu mereka punya alasan untuk mengesahkan undang-undang itu. Tak tahukah kalian - ah, kuduga Miss Granger pasti sudah tahu (Hermione memerah pipinya karena kata-kata yang dianggap pujian itu, sementara Draco hanya memutar bola matanya, sebal) - bahwa Penyihir semakin berkurang populasinya dikarenakan Penyihir Darah Murni terlalu membatasi diri dengan menikah dengan sesama saja?"
Hening. Dumbledore meneruskan.
"Dengan demikian, Mr. Malfoy dan Miss Granger, bukankah jumlah penyihir akan berkurang karena para Muggle-Born (Dia menoleh ke arah Hermione) hanya mungkin menikahi Muggle atau beberapa Half-Blood -yang tentu sebagian besar dari mereka juga berhasrat untuk menikahi Pure-Blood juga - saja. Jadi paling tidak jika para Muggle-Born menikahi Pure-Blood mereka akan menghasilkan keturunan Half-Blood yang akan meneruskan keturunan-keturunan Pure-Blood yang teramat minim."
Hermione menelan ludah,. "Jadi, menurut anda, kami harus menikah?"
Draco mendengus. Hermione menyipitkan mata kepadanya dengan pandangan - Kau Pikir Aku Mau Menikah Dengan Keparat Sepertimu?- kepada si Slytherin.
Dumbledore meraih stoples emasnya, mengambil sebutir permen dan memasukkan isinya kemulutnya.
"Tidak ada peraturan tentang siapa harus menikahi siapa, Miss Granger, itu terserah kalian." Kata Dumbledore dengan pipi sebelah kanan membenjol karena permen.
Tbc
Dear Readers,
Halo, Author senang bukan kepalang(?) ketika melihat Review dari para pembaca. Author merasa Fic ini masih sangat jauh dari kata bagus. Meskipun demikian Author mencoba membuat suatu karya karena kecintaan Author dengan DraMione. Mohon Bantuannya dan terus Review ya.. m(_ _)m
Balasan Review:
To - Luluk Minam Cullen, Nisa Malfoy, Uchiha Cherry Rania17, miss GAMB, novy greengrass, Aurum, bae :
Ini Chapter kedua sudah terbit(?). Semoga suka
To - Ms. Loony Lovegood, selvinakusuma1, ZeeMe, nong :
Terimakasih buat semangatnyaaaa~ '-')9
To - Lilyan Florence :
Iya biar lebih aman saja, Miss. Takutnya nanti jadi kebablasan(?). Terimakasih Reviewnya
To – rhencitachoi :
Ini sudah dipanjangin. Kalau lebih panjang lagi takutnya kepanjangan. Hehehe..
