We're Perfect Fools

[Part I]

.

Fiction | Rate M | BTS | KookV and VKook

.

WARNING!

Male Slash. Dubious Role. Strong and Explicit Language (like, everywhere). Mature Content.
DON'T LIKE, DON'T READ!

You've been seriously warned!

.

.

© Alestie.

.

Written with gratitude, much love and respect; for my best authorbabe ever, Eclaire Delange
for always being there and everything priceless you've shared with me unconditionally.
MAKASIH BUAT HARI SABTU GILANYA BEBEPS~! *lotsa hearts*

.

.


Story:

.

"Primadona kampus?"

Jeongguk mengangkat sebelah alis tak menyangka. Kedua matanya masih terpaku gusar ke arah lima majalah Hanyeong yang baru saja disuguhkan kepadanya. Mengamati bagaimana lima edisi berturut-turut memakai cover boy yang sama membuat Jeongguk tak habis pikir.

"Hoseok-hyung," dengan nada parau, Jeongguk mengulang pertanyaannya, "Kau bilang—Kim Taehyung primadona kampus…?"

Pemuda yang ditanyai mengangguk mantap.

"Dengar, Jeongguk-ah," Hoseok mengeja, menopangkan tubuhnya sedikit ke depan sehingga kursi kantor yang didudukinya berjengit ringan, "Aku tahu kau mantan penyanyi Pop populer, tapi—get real, Man. Kau itu naik daun di kalangan cewek-cewek ingusan SMA—dulu. Sekarang kau hanya pensiunan—"

"Vakum, Hyung, vakum." Ralat Jeongguk kesal.

"Apapun." Sahut Hoseok tak peduli, membuat Jeongguk mendengus malas. "Dan di Hanyeong," Hoseok meneruskan, "Kami ber-'Taehyung-oppa' ria ketimbang ber-'Jeongguk-oppa', jika kau paham maksudku." suara Hoseok mencicit dibuat-buat dengan bibir nyinyir ketika memperagakan panggilan 'Taehyung-oppa'-nya.

Jeongguk memutar bola mata tak terpukau, mendengus, "Dia, kan, hanya pemandu tur tak tahu sopan santun." Sergahnya masam.

"Pemandu tur—exactly." Anggukan Hoseok membenarkan, "Pemandu tur seksi dengan rating 4.96 dan menduduki peringkat popularitas pertama selama tiga bulan berturut-turut," tandasnya kemudian, menikmati bagaimana ekspresi di wajah Jeongguk yang semakin membelalak.

"Kau pasti bergurau." Jeongguk mendecih dengan napas tertahan.

(Bahkan Jeongguk tidak tahu jika angka 4.96 sungguh-sungguh ada dalam ranah per-tour guiding-an di Korea Selatan. Kapitalisme, Jeongguk bersikeras).

"Sayangnya tidak," Hoseok menggeleng cepat, justru semakin menggebu, "Yang kau pegang itu, adalah majalah interim kami," Ia mengacungkan jempol ke arah dirinya sendiri, "Dan bayangkan ini, Bung. Lima kali menjadi cover boy artinya dia populer sinting selama—uh, lima dikali tiga—lima belas bulan! Satu tahun lebih, Jeon!" Hoseok membeo heboh, kedua manik kelamnya membulat lebar karena antusias.

Jung Hoseok adalah kepala Ikatan Pers Hanyeong. Seluruh aktivitas jurnalistik, sastra, reportase internal dan eksternal kampus, elektronik maupun cetak—nyaris semuanya berada dalam genggam tangannya. Berita dan gosip seremeh apapun masuk ke gendang telinga Hoseok secepat angin ribut; tak ada yang terlewatkan. Koneksi berkerabatnya seluas jaringan internet yang tanpa batas; ia hampir mengenal semua orang penting di luar dan dalam Universitas. Selain sebagai mahasiswa semester tujuh Studi Komunikasi, Hoseok adalah teman Jeongguk sejak lama.

Kilat di mata Hoseok mencercah, mengacungkan telunjuknya ke udara, "Ah, satu lagi. Dalam satu tahun, followers instagram Taehyung dua juta."

"Holy—"

"—dan user-ID nya 'kim95taetaexyz', jika kau ingin tahu."

"—shit." Suara Jeongguk turun satu oktaf lalu menyeret. "Tunggu sebentar, Hyung." Merasa ada yang janggal sejak tadi, akhirnya Jeongguk mendesis, "Jangan bilang—jangan bilang kau salah satu dari fanboy menjijikkannya!" Tuduhnya telak.

"Hei, hei, santai, Kawan," Hoseok mengangkat kedua tangannya defensif, "Kim Taehyung itu tipe orang supel yang disenangi semua orang. Dia 'anak pesta', jika seorang Kim Taehyung datang di pestamu, berarti kau orang beken. Bocah itu tahu persis bagaimana cara bersenang-senang, bagaimana cara menjadi loyal dengan semua orang. Berbeda dengan seseorang playboy tenar yang selalu punya comfort zone-nya sendiri," Hoseok melirik singkat ke arah Jeongguk, menyindir, "Pokoknya Taehyung itu punya semua idol material," imbuhnya, kemudian mengedikkan bahu ringan sebelum berujar dengan entengnya, "—well, lagipula siapa yang tidak ingin masuk ke dalam celananya?"

Pernyataan terakhir Hoseok nyaris membuat Jeongguk tersedak.

"K-Kau—" Jeongguk menggeram, matanya menyipit jijik, "—lakukan sesuatu pada Demam Taehyung-mu yang memuakkan, Hyung. You're beyond help." Racaunya frustasi.

"Jangan munafik, Guk-ah," terkekeh tak peduli, Hoseok menghela napas, "Kau lebih miring dariku. Yoongi-hyung sudah begitu baik padamu memberikan pelayanan tur kampus one-on-one dengan pemandu paling panas saat ini," decaknya culas, "—dan kau malah mengincar bokongnya dengan kurang ajar—"

"Hyung, stop."

"—dan kemudian kena tinju iPad-nya—"

"Hoseok-hyung, jebal."

"—kemudian mendeklarasikan perang idiot dengannya." Hoseok mengakhiri cercaannya dengan hembusan napas panjang, berlagak prihatin tetapi penuh cemooh, "Kurang bodoh dan kekanakan apa, kau, ini?" tukasnya dengan intonasi diplomatis yang terdengar begitu menjengkelkan di telinga Jeongguk.

Jeongguk mendengus, "Berisik," halaunya malas, "Aku hanya berniat membungkamnya saja. Dia cerewet sekali, sih." Bantah Jeongguk membela diri.

"Dilihat dari manapun, kau yang salah, Jeon," vonis Hoseok sambil mengacungkan ujung penanya ke arah Jeongguk penuh tuduhan, "Dia tidak cerewet, memang begitu pekerjaannya. Dia bocah yang pandai bicara, kau tahu? Frontal dan teguh dengan setiap argumennya."

Jeongguk mencibir, "Itu hanya penghalusan dari kata 'ngotot', Tuan Jung,"

(Dan Jeongguk berani bersumpah bahwa Hoseok saat ini terdengar seperti sasaeng fan yang mati-matian melindungi idol-nya dari hujatan haters),

Sebelum Hoseok sempatmenyahut lagi, Jeongguk buru-buru menimpali, "Jadi maksudmu adalah," Jeongguk menjeda, menjilat bibir bawahnya sejenak, "—yang bisa masuk ke celana Kim Taehyung adalah orang yang sangat sangat hebat, begitu?"

Mendengar pertanyaan telak dongsaengnya, Hoseok membelalak dan berjengit dari sandaran kursinya, "Wow," Hoseok menahan napas, "Tak kusangka dari semua penjabaranku soal Kim Taehyung, kau mengambil kesimpulan yang paling kotor, Jeonggukie." Intonasi Hoseok antara terpana dan tak habis pikir.

"Jawab saja pertanyaanku, Hyung." Jeongguk mendengus.

"Well, sebenarnya Taehyung tidak se-eksekutif itu," Hoseok menjawab kalem, "Dia masih pria normal usia 21 tahun yang punya kebutuhan biologis, penuh gejolak anak muda, dan hormon yang menyala-nyala." Ungkapnya seolah begitu memahami Taehyung lebih diri siapapun. Menyaksikan alis Jeongguk yang mengerut, Hoseok menambahi, "Tapi jika kau bisa melakukannya—Jeon Jeongguk anak baru kurang ajar yang mendapat tampol iPadnya di kali pertama bertemu—Bingo. Lain lagi ceritanya, Bung." Hoseok menyelingakkan wajah angkuh seakan menantang dongsaengnya.

Mendengar ucapan Hoseok, Jeongguk memutar bola mata, "Why do you even assume that I want to bang him?" Jeongguk membuang napas kasar, menyedekapkan kedua tangan di depan dada seperti menuntut penjelasan.

"Because Jeon Jeongguk bangs every hot guy," Hoseok menjawab cepat, "—and girl," timpalnya segera, "Jangan berlagak seperti aku baru mengenalmu kemarin, Jeongguk-ah—Kim Taehyung. Absolutely. On your. 'Wanted' list." Ejanya dengan penuh penekanan. Hoseok menangkup sebelah tangan di samping wajah, kemudian berbisik, "Dan kau mau tahu kabar baiknya? Kau bisa percaya rumor jempolan dari Jung Awesome Hoseok. Kim Taehyung luar biasa panas saat di ranjang."

Apa yang baru saja dikatakan Hoseok membuat Jeongguk tergelak, "Apa-apaan," tandasnya kemudian mengangguk sepintas, "Perlu diverifikasi."

"Playboy bajingan," walau mencela, Hoseok setengah terkekeh. Ia kemudian menghela napas, "Kau omong besar soal ingin menidurinya. Tapi percaya padaku, kau tak akan bisa bahkan mendekat satu milipun ke libidonya jika Kim Taehyung membencimu setengah mati. Kau seharusnya mulai dengan meminta maaf."

"Hell no." Cepat, Jeongguk menggeleng kuat, "Dia mengataiku kampungan, enak saja. Mananya dariku yang pantas disebut 'kampungan'?" urainya menelantangkan kedua tangan, seakan menunjukkan bukti bahwa pakaiannya serba branded dan jauh dari deskripsi 'kampungan', "Belum lagi hantaman iPadnya—ya Tuhan, lebamnya bahkan belum hilang!" Jeongguk menelengkan wajahnya sedikit, menunjukkan kepada Hoseok rahangnya yang masih membiru karena pukulan anarkis Taehyung tempo hari, "Dan dia meludahiku, Hyung. Kuulangi. Dia me-lu-da-hi-ku." Geramnya mendesis marah.

"Aku juga akan menampong wajah tampanmu jika kau—"

"—jangan lupakan bagian meludah-nya," Jeongguk memberi penekanan ekstra.

"—well, meludahi memang sedikit berlebihan," Hoseok mengedikkan bahu, "Tetapi aku akan tetap menampongmu jika kau mengatakan hal yang sama padaku," dan Jeongguk ingin menggerus kepala Hoseok dalam cengkeramannya sekarang juga. "Self-defense mechanism, Dude. Tetap kau tersalahnya." Hoseok bersikeras.

"Kalau begitu aku selesai bicara denganmu."

Jeongguk beranjak dari sofa di ruangan Hoseok, melipat wajahnya sebal karena tidak mendapat dukungan dari hyungnya. Ia mengabaikan gumaman penuh tawa Hoseok yang mengatainya 'bocah' dan menarik kenop pintu dengan kasar.

Langkah Jeongguk terhenti sebelum menginjakkan langkahnya ke luar ruangan.

Hoseok menaikkan sebelah alis heran, "Apa lagi?"

Hening sejenak. Sebelum Jeongguk berbisik lirih, tetapi cukup kencang untuk dapat Hoseok dengar dengan jelas.

"T-Tadi—" Jeongguk menjilat bibir bawahnya canggung,

"—tadi apa nama instagram Taehyung…?"

Dan Hoseok harus mati-matian menahan pingkal tawanya untuk membuncah.

ェェェェ

Taehyung hanya mengatupkan bibirnya jengah, sorot matanya mengalih ke sudut ruangan; berdiri dengan malas dan kedua tangan di belakang punggungnya saling bertaut. Sudah hampir satu jam ia 'disetrap' di Ruang Karier Pelayanan Mahasiswa; disidang langsung oleh sang ketua, menunjukkan evaluasi kerja Taehyung selama seminggu terakhir dengan raut terlipat. Sudah seminggu semenjak insiden 'artis-brengsek-Jeon', dan Taehyung nyaris lupa jika konsekuensinya, cepat atau lambat, pasti akan datang mencekiknya.

"Taehyung-ah," Yoongi mendesis dengan mata memincing penuh peringatan, "Sudah kubilang, trademark-mu itu imut, manis dan ramah!" tukasnya garang, membuat Taehyung meringis ngeri, "Aku sudah cukup bersabar ketika kau menindik labret sialan itu—"

"Labret-ku seksi, Hyu—"

"Jangan memotong bicaraku," Yoongi semakin menyipit dengan death-glare yang mampu membuat seluruh bulu kuduk Taehyung bergidik. Taehyung hanya nyengir dengan tampang tanpa berdosa, penuh isyarat maaf. "Daripada seksi," desahnya frustasi, "Kau terlihat seperti anggota sindikat kokain, yang kerjaannya taruhan ketika pertandingan tinju, dan beternak babi untuk memakani mayat orang-orang yang berkredit macet denganmu." Yoongi melipat jemari di bawah dagunya dengan tatapan menuntut. Penuturannya begitu blak-blakan sehingga Taehyung hanya mengerjapkan mata kikuk mendengarnya. (Dan Taehyung berani bersumpah jika Yoongi harus berhenti menonton film British bertema underworld dan penuh black jokes di dalamnya).

Taehyung menggaruk ceruk lehernya gusar, "Tapi aku tidak imut, Hyung," ujarnya menggerutu. "Ubah saja trademark ku menjadi cool, seksi, dan keren."

"Pemandu berbeda dengan host, Bodoh. Manis dan ramah adalah kualitas wajib. Kukira kau sudah tidak butuh briefing?" sindiran Yoongi penuh racun dan kerlingannya tampak mencekam. Taehyung hanya bisa membalas dengan cengiran—lagi. Yoongi kembali mengangkat iPad raksasa 12.9 inchinya, mengetuk layarnya kasar dengan telunjuknya, mengindikasikan Taehyung untuk mendekat dan melihat apa yang terpampang di dalamnya.

Kedua hazel kembar Taehyung menyipit. Terlihat gambar kurva fluktuatif, diagram lingkaran dan garis, tabel perhitungan tren yang tersusun rapih di dalamnya. Foto Taehyung dan biodata singkatnya tercantum di sudut layar; menunjukkan lima bintang dengan empat buah yang berwarna kuning mengkilap. Kemudian sebuah nominal satu digit dengan font merah raksasa terpampang di bawahnya.

"Setengah tahun ini," Yoongi menjeda, Taehyung mengangkat wajahnya, "—baru kali ini aku melihat ratingmu di bawah 4.25, Taehyung." Ujarnya mendesis, "Kau rangking tiga berdasarkan voting dwi-mingguan temporer. Jika sampai akhir bulan kau tidak bisa memperbaikinya—" dengan wajah sangat serius, Yoongi mengangkat tangannya dan menggesturkan gerak horizontal penuh ancaman di depan lehernya, "—kau tamat."

"Mampus," mata Taehyung melebar dan mengerdip beberapa kali, memucat, "Hyung, jangan mengatakan hal seram begitu dengan wajah serius!" dan Taehyung sekuat tenaga menahan ungkapan bahwa yang terlihat seperti mafia dengan hobi men-dispose mayat di perternakan babi justru hanya Min Yoongi orangnya.

Yoongi terkekeh, namun bahkan gelak tawanya penuh sarkasme, "Kim Taehyung, ingat ini," tandasnya dengan raut terhibur, "Kau, aset kampus, ambassador kampus. Kau representatif dari semua mahasiswa; simbol Hanyeong;tim sukses panitia admisi rekrutmen, dan kau—" Yoongi mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, "Kau tahu apa yang akan kulaporkan pada ayahmu yang dengan sangat cemas menitipkan anaknya jauh-jauh dari Daegu ke Seoul kepadaku?"

Seringai di sudut bibir Yoongi membuat Taehyung ingin limbung sekarang juga.

"Kau sendiri, Tae-ya, yang memutuskan untuk mendaftar menjadi tour guide," Yoongi menghela napas panjang dan tersenyum, "Jika kau melakukannya setengah-setengah; mungkin kau bisa berikan aku ide tentang apa yang harus kulakukan pada—" jemari Yoongi mengetuk meja kerjanya, menimbulkan suara retuk yang repetitif. "Foto selcamu dan Jimin yang sedang wasted di belakang kampus? Kau di night-club bersama kawananmu di Cheongdam? Kau yang memalsukan umur dan kalap di Seven Luck? Berapa ronde Blackjack kau main di sana?"

"Anjing bangsat," Taehyung menganga, "Jiminnie bilang dia akan menjaganya dari kau meskipun kalian sepasang kekasih! Dia mengkhianatiku?! Friend of crime paling setianya?!"

Lagi-lagi, Yoongi terkekeh, "Hei, jangan salahkan Jimin," sergahnya kembali menyandarkan tubuhnya di kursi tingginya, "Sanjung aku yang pandai merayu."

Taehyung memutar bola matanya culas. Ia tahu Jimin tidak mungkin mengkhianatinya; mungkin memang Yoongi yang pandai memanipulasi. (Dan Taehyung masih tidak bisa mengerti apa yang membuat Jimin jatuh hati pada senior predator di hadapannya. Mungkin memang Jimin seorang masokis, atau mungkin seorang pawang alligator dan mustang di kehidupan sebelumnya).

Frustasi, Taehyung menggasak poninya, "Adik kelasmu yang kurang ajar, Hyung," cetusnya dengan intonasi menggantung, "Selain mengatai guiding-ku basa-basi, masa dia juga ingin main perkosa-perkosaan denganku?" Wajahnya menyelingak, menembak tatapan meminta pembelaan.

"Main perkosa-perkosaan?" Yoongi mengangkat sebelah alisnya sambil mengulum tawa, "Seperti kau bisa diperkosa saja. Tubuhmu kerempeng; tapi tenagamu seperti badak baru sarapan dinosaurus. Dicekal tangannya saja tidak bisa diam—mulutmu apalagi, ya Tuhan. Mana tahan Jeongguk yang cinta ketenangan dengan speaker rusak 24/7 seperti Kim Taehyung," tukasnya tergelak keras, "Memang apa yang Jeonggukie lakukan padamu? Menggerayangi tubuhmu? Menciumi bibirmu? Menelisipkan jarinya ke celana—TAE! AKU BERCANDA!"

Yoongi terbahak melihat Taehyung dengan mata berkobarnya tengah melepas sebelah sneaker nya dan bersiap melemparkannya ke kepala Yoongi.

(Ini pernah terjadi sebelumnya; saat Yoongi menggoda Taehyung soal Dosen Human Science-nya yang berstatus duda mengajak Taehyung makan siang di Starbucks dengan Camry-nya).

(Dan mengingat itu membuat Taehyung ingin muntah).

Taehyung mendengus tidak senang, "Jika aku benar-benar menginginkannya—" penuh penekanan, Taehyung menggeram, "Celana adik kelasmu yang akan kumasuki, Hyung."

"Oke,berhentibicara soal siapa memasuki celana siapa," Yoongi menengahi, walau senyum jahil sama sekali tidak bisa pudar dari lekuk bibirnya, "Pokoknya, prestasimu menurun dan ini sama sekali bukan kabar baik. Kau harus memperbaikinya sebelum akhir bulan, atau kau tak akan menyukai endingnya," tandas Yoongi, merapatkan jemarinya di bawah dagu, "Walaupun Jeon Jeongguk menyebalkan, dia tamu istimewa kita. Rektorat sendiri yang memintaku memberikan Jeongguk pelayanan spesial, karena memang dia spesial. Kampus tidak akan berada di pihakmu jika kalian berdua berseteru. Lagipula dari sisi akademik, kau blackhole sejati."

"Cih," kesal, Taehyung mengalihkan pandangannya. Alisnya menukik jengah, "Masih zaman, ya, nepotisme." Kali ini suaranya menggumam, tidak cukup jelas untuk Yoongi dapat mendengarnya.

Mengabaikan racauan Taehyung, akhirnya Yoongi menghela napas panjang, "Hei, selama kau masih memakai seragam ambassador kebanggan kita, kau harus mengikuti aturannya, oke?" desaunya halus, "Aku berjanji akan membantumu. Dia tidak akan melakukan yang aneh-aneh lagi. Kalau Jeongguk berani kurang ajar lagi padamu, laporkan padaku. Aku sendiri yang akan menanganinya. Dimengerti?" tutur Yoongi pelan.

Taehyung memutar bola matanya muak, "Jebal, Hyung. Aku bukan wanita yang harus dilindungi ketika dilecehkan manusia tengik. Aku tidak butuh—"

"Taehyung-ah," intonasi Yoongi penuh peringatan, "Kau tidak tahu betapa syoknya aku saat mendengar kabar bahwa Kim Taehyung, pemandu teladanku, menghantam wajah Jeon Jeongguk dengan iPad-nya sampai jatuh tersungkur. Hargai aku—kumohon. Demi kau, aku haruslobi mati-matian dengan Jung Hoseok agar headline itu tidak bocor ke server utama," kilah Yoongi seraya memijit batang hidungnya ringan, "Pikirkan aku juga, Taehyung. Pegang mekanismenya baik-baik. Mau dibawa kemana Departemen kita dan tanggung jawabku sebagai ketua?" kali ini suara Yoongi sedikit melemah, namun sorot matanya masih terpatri di manik Taehyung

Hening sejenak.

Taehyung terdiam; menatap dengan bibir terlipat kesal ke arah sepatunya, menyepak udara kosong beberapa kali.

"…iya, maaf." Akhirnya Taehyung membisik lirih, wajahnya masih menunduk sebal.

Yoongi mengukir senyum. Walau ia tahu ucapan maaf Taehyung hanya formalitas; bukan dari lubuk hatinya yang terdalam; namun semua itu cukup bagi Yoongi untuk menghentikan sesi penyidangannya hari ini. Membuat kalimat permintaan maaf keluar dari bibir Taehyung bukanlah persoalan gampang.

"Kalau begitu aku mohon kerjasamamu lagi, Tae-ya," kata Yoongi, mengalihkan pandangannya ke layar komputer flat di sisinya; meng-scroll mouse untuk melihat entry yang terdaftar, "Pukul dua, satu grup berisi delapan orang, prospektus dan usia paruh baya, tujuh puluh menit, AC-23770." Ujar Yoongi mendikte, Taehyung telah mengangkat wajahnya untuk menyerap informasi dari Yoongi.

Taehyung seketika tanggap, "Per lima belas atau per dua puluh?"

"Full set, tapi tidak ada permintaan khusus. Berikan per dua puluh saja." Yoongi menginstruksi.

Setengah tertawa, Taehyung mengangguk, "Oke, kau bisa percaya padaku, Hyung."

"That's my reliable ace," Yoongi berdecak dengan senyum bangga, "Karena kau sudah mengerti, kau boleh pergi." Tangan Yoongi terulur ke arah pintu, mempersilahkan pemuda di hadapannya untuk undur diri.

Menghela napas lega, Taehyung merundukkan separuh tubuhnya memberi penghormatan ringkas. Ia memutar tubuhnya dan menderap terburu keluar ruangan. Ada waktu empat puluh menit sebelum tugas guiding-nya; dan Taehyung ingin merokok sepuasnya bersama Jimin sebelum saatnya tiba.

Namun, sebelum melangkahkan kakinya keluar ruangan, Yoongi mencegah, "Taehyung."

Taehyung menoleh setengah hati, Yoongi berujar penuh penekanan, "Ingat," tandasnya, "Imut, manis, dan ramah—paham?" Dan Taehyung ingin meng-smack down Jimin lalu melemparnya ke ring basket sekarang juga. (Kenapa Jimin? Jangan tanya).

Mendengar tak ada respon dari dongsaengnya, Yoongi mendesak, "Taehyung-ah? Jawabanmu?"

Taehyung mendengus.

"Iya, Bawel."

ェェェェ

Taehyung berani bersumpah jika emosinya masih berantakan ketika keluar dari ruangan terkutuk Yoongi, berjalan di lorong sepanjang gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa lantai empat, belum lagi perutnya yang luar biasa keroncongan. Lalu bagaimana bisa ia justru melihat Jeon Jeongguk si laknat sialan baru saja keluar dari ruang Pers, sedang berjalan semakin mendekat ke arahnya?

Sesungguhnya Taehyung suka masalah; ia pembenci hidup datar dan tanpa euforia (terkadang ia malah menjadi provokator dan pembuat onar dengan gaya bicaranya yang gamblang). Taehyung selalu dikelilingi teman-temannya, diikuti dan disegani; belum lagi popularitasnya di kampus yang membuat dirinya diperlakukan seperti raja.

Tetapi kali ini, Taehyung terlampau penat untuk menanggapi Jeon Jeongguk dan segenap omong kosong kekanakannya.

(Lagipula, Taehyung belum mengenakan seragam Hanyeong-nya; jadi dia tidak harus berlagak 'imut, manis, dan ramah' seperti kesepakatannya dengan Yoongi beberapa saat lalu).

Taehyung mengangkat hoodie dari jaket HBA fleece kelabunya, menutupi puncak kepala. Sejak keluar dari ruangan Yoongi tadi, Taehyung terus mengenakan earphone-nya. Dan kini, ia tinggal bertingkah sok asing dan jauh-jauh dari sosok Jeongguk sebelum sneaker-nya yang melayang ke kepala mesum Popstar sialan itu lebih dulu.

Sebenarnya, jika boleh jujur, Jeon Jeongguk memiliki paras yang luar biasa atraktif. Rambut hitam legam yang terpahat rapih, poni panjang menyampingnya dengan beberapa hairline-nya yang memulas auburn kelam. Alis tajam dan obsidian kembar yang menikam. Rahang tegas dan pahatan wajah yang sempurna. Bahkan dari varsity-nya pun, Taehyung dapat melihat bisep pemuda itu yang kekar dan berotot; posturnya yang kokoh, tegap dan tinggi. (Jika Yoongi-hyung tidak berkata bahwa Jeongguk lebih muda dua tahun darinya, mungkin Taehyung tak akan menyangka).

Taehyung melempar sorot matanya ke luar jendela, memasukkan kedua tangannya ke saku jinsnya; berniat melenggang begitu saja melewati sosok Jeongguk dan cepat-cepat keluar dari bangunan ini.

Sebelum tiba-tiba Taehyung merasakan sebelah earphone-nya ditarik dengan begitu kasar, kemudian suara dalam yang bergemuruh membisik di telinganya penuh nada cemooh.

"—tarifmu satu malam berapa, Taehyung-ssi?"

Segenap ucapan Yoongi sepanjang satu jam penuh lenyap seketika dari kepala Taehyung. Angkara membumbung tak terelukan di dadanya. Sebelah kaki Taehyung bergerak dengan sigap untuk menjegal langkah Jeongguk sehingga pemuda itu kehilangan keseimbangannya dan sekali lagi, jatuh terjerembab. Namun kali ini di atas keramik. Suara gebrak keras menggema di sudut lorong yang sepi.

Tanpa membalikkan tubuhnya, Taehyung mengerling separuh, menyeringai dari pundaknya, "Tarifku satu malam?" ulangnya dengan nada jijik. Baru kali ini Taehyung diperlakukan seperti pelacur murahan, ayam kampus, dengan begini terang-terangan dan kurang ajar. Taehyung mencibir, "Kau, Jeon," ungkapnya terkekeh, "One-night stand denganku bayarannya adalah kau, menjadi jalangku seumur hidupmu." Senyumnya penuh kemenangan.

Tak mempedulikan apapun respon Jeongguk setelahnya, Taehyung melangkah meninggalkan sosok yang masih tersungkur di lantai. Ia membenarkan earphone-nya yang barusan dilepas, memasangnya lagi di kedua lubang telinga. Irama menghentak musik hiphop yang mendengung dari earphone-nya menggema seketika di kepala Taehyung; membuat bibirnya, secara naluriah menggumamkan lagu yang senada.

Namun tiba-tiba, Taehyung merasakan tubuh rampingnya ditarik dari belakang; pijakan kakinya melayang sejenak. Dan begitu tersadar, belakang kepalanya telah membentur dinding; sebelah pundaknya didorong kuat menghantam material solid di balik punggungnya. Taehyung merasakan pening mendera isi kepalanya seketika, nalarnya berkunang-kunang. Tapi melihat siapa pemuda yang baru saja membanting dan memojokkannya ke dinding, Taehyung cepat mengangkat wajahnya kembali dan memasang ekspresi keras, menantang—seakan rasa sakit di kepalanya tak pernah ada.

Jeongguk, sekali lagi, menarik paksa earphone Taehyung hingga terlepas dengan anarkis.

"Ah, earphone, earphone!" Taehyung meringis, "Ini earphone milik Jiminnie, sial. Bahkan aku belum bilang kalau aku meminjamnya! Aku ingat dia membelinya jauh-jauh saat sedang berlibur di Osaka bersama Yoongi-hyung. Jadi ini earphone Jepang!" telinga Jeongguk berkedut mendengar racauan tidak jelas Taehyung yang sama sekali tidak penting baginya, "Jarak Seoul ke Tokyo satu jam empat puluh menit. Belum lagi shinkansen ke Osaka. Bagaimana kalo Jimin sampai tega menyuruhku membelikan produk yang sama persis, hah? Dia memang malaikat, tapi jika soal benda pribadi Jimin bisa—"

"Memang aku terlihat seperti peduli dengan masalahmu?" Jeongguk menyahut cepat. Nada bicaranya rendah dan berbisik, "Daripada itu, aku ingin kau mencabut kata-katamu barusan, dan yang tempo hari," intonasi Jeongguk begitu berbahaya, kilat matanya mencekam. Giginya gemeratak mengingat olokan Taehyung seminggu lalu yang teramat menginjak harga dirinya. Jeongguk tidak kampungan, dia tidak pantas diludahi. Seharusnya semua orang memujanya; termasuk Kim Taehyung si pemandu—yang sialnya merupakan primadona kampus juga—seperti bagaimana semua orang meninggikannya. "—karena kau, Kim Taehyung, yang akan menjadi jalangku seumur hidupmu."

Taehyung tergelak sinis, sorot matanya berpaling ke sudut lorong dengan tatapan malas. Tangannya yang semula bersembunyi di kantung jinsnya, sekarang naik untuk melipat di depan dadanya. Pongah, Taehyung mendongakkan wajahnya. Kedua pasang netra saling bersirobok dan membelenggu dalam tegangan intens, berusaha menemukan cela di gemilap pupil lawan bicaranya. Jarak di antara mereka begitu dekat. Bahkan aroma satu sama lain menusuk paru-paru keduanya dalam pesona yang teramat menyesakkan. Tatapan mata Taehyung begitu tajam dan mengintimidasi, alis tebalnya menukik membentuk gerut kebengisan. Tanpa ragu, dengan jarak yang begitu minim, Taehyung meludahi wajah Jeongguk sekali lagi.

Wajah Jeongguk mengeras sekilas, namun rautnya tak berubah. Keningnya mengerut singkat, memejamkan matanya ketika sebelah tangannya mengusap ludahan Taehyung dari pipinya. Sementara Taehyung, dengan wajah tanpa dosa, menyunggingkan seulas senyum lebar.

"Bajingan membosankan," Jeongguk menggeram, "Apa kau tak punya variasi lain selain membuatku jatuh kemudian meludah, hah?"

Taehyung mengedikkan pundaknya enteng, "Well, kau orang pertama yang mengataiku membosankan, by the way." timpalnya santai, "Dan apa ini? Kupikir kau suka jatuh dan diludahi?" celanya setengah tertawa. Cengkeraman di bahu Taehyung semakin menguat, membuatnya merintih kecil. Ia kemudian berujar dengan sorot yang berkilat tanpa gentar.

"Jika kau mau tahu pendapatku, wajahmu semakin cantik ketika bersandingan dengan tanah kemudian kotor karena ludahku-"

"—Jeonggukie."

Ucapan terakhir Taehyung mengantarkan pucuk kesabaran Jeongguk pada sulut lidah api lalu meledak kacau dalam jantungnya. Dengan kasar, Jeongguk meraih rahang pemuda yang lebih tua; mengangkat dan mencengkeramnya kuat. Taehyung menarik napas terkesirap, terkejut. Kepalanya mendongak terpaksa, mengerling tajam ke kedua obsidian Jeongguk yang berkobar penuh amarah.

Jeongguk menggertak serak, "Aku bisa menghancurkan mulutmu sekarang juga, Taehyung-ssi," Jeongguk mendesis, suaranya gemetar karena emosi, "Dengar, wajahku, aset berharga agensi, berbeda dengan wajahmu yang tak ada nilainya," geramnya marah. Mendengarnya, Taehyung terkekeh ringkas, hazel-nya justru berbinar terhibur. "Gara-gara kau, wajahku lebam dan begitu sulit dikamuflase dengan make-up. Kau pikir manajer dan produserku—"

"Memang aku terlihat seperti peduli dengan masalahmu?" walau dengan rahang dicekal, Taehyung tergelak pedas, mengutip kalimat dari Jeongguk dengan ekspresi angkuh. Rasa puas yang terperi membumbung di dadanya. Menyaksikan obsidian sekelam onyx milik adik kelasnya semakin merongrong terpendam amarah, membuat saraf Taehyung bagai disengat ribuan jejak adrenalin dan menyetrumnya pada ekstasi.

"Bangsat," Jeongguk mengaum tertahan, jemarinya bergetar penuh emosi di wajah Taehyung yang tirus (dan sialnya mempesona—tidak, Jeongguk mati-matian menafikkannya), "Sepertinya lidah brengsekmu perlu diajari tata krama, Taehyung-ssi," matanya memincing penuh kebencian.

Taehyung memutar bola matanya dengan gelak tak terpukau, "Demi Tuhan, aku sama sekali tidak tertarik mendengar kuliah tata krama dari seseorang yang bahkan tidak bisa menghormati orang yang lebih tua." sindirnya kalem, sengaja mengeraskan volume bicaranya.

"Setidaknya aku bijak dalam menggunakan lidahku. Tidak seperti kau yang cerewetnya bukan main," Jeongguk menyipitkan pandangannya, jengah melihat Taehyung yang bisa tampak begitu tenang walaupun posisinya di ujung tanduk. "Ah, bagaimana jika kau manfaatkan lidahmu untuk pekerjaan yang lebih baik, Taehyung-ssi? Bertanggung jawab dengan bekas hantamanmu sendiri yang menyisa di wajahku, misalnya?" seringai terukir di sudut bibir Jeongguk, penuh arti.

"Bekas hantamanku di wajahmu?" Taehyung menyelingakkan wajah, tatapan matanya menganalisa. Taehyung mengerjap kaget begitu baru menyadari bahwa memar yang cukup hitam menoreh di garis rahang Jeongguk yang putih dan tanpa cela. Taehyung meringis, "Wow, kelihatannya sakit," ungkapnya retorik, seolah-olah luka itu bukan berasal darinya. Jeongguk mendelik luar biasa kesal, tetapi Taehyung buru-buru menimpali dengan senyum tidak yakin, "—erm, jadi…., aku harus menjilati lebam di rahangmu, begitu?"

"Sudah sepantasnya, 'kan?" Jeongguk menyahut tak sabar.

"Di mimpi basahmu."

Sebelah tangan Taehyung terangkat untuk menepis cengkeraman Jeongguk dari rahangnya, berniat untuk melesat pergi. (Karena jujur saja, Taehyung serius merasa gerahamnya akan rontok jika Jeongguk terus mencengkeramnya dengan begini buas). Tetapi tangan Jeongguk yang lainnya cepat mencekal sebelah tangan Taehyung, meremas dan menyematkannya ke dinding. Reflek, Taehyung mengerang tertahan. Merasakan tulangnya seakan diremuk—seakan Jeongguk benar-benar berniat mematahkan persendian tangannya. Tanpa sadar, kedua kaki Taehyung setengah menjinjit walau posturnya sedikit lebih tinggi ketimbang pemuda di hadapannya.

"Nice tryTaehyungie." Jeongguk mengejek dengan seringai congkaknya, "Tapi aku benar-benar berpikir jika kau—" bola mata Jeongguk menelusuri Taehyung dari puncak kepala hingga separuh tubuhnya, menyadari gurat tulang selangka pemuda di hadapannya yang ceruk dan begitu kentara, "—sepertinya kurang olahraga."

Taehyung mengernyitkan kening dengan sudut bibir menukik, "Olahraga, kau bilang?" ulangnya mengeja, "Jika bagimu 2x70 menit setiap minggu mengelilingi seantero kampus bukan terbilang olahraga—" Taehyung mengedikkan bahu enteng, "—well, yeah, whatever."

Mendengar jawaban Taehyung, Jeongguk hanya tertawa sekilas. Namun gelaknya tersendat begitu merasakan tiba-tiba rambut di pelipisnya dijambak kasar oleh jemari Taehyung lainnya; membenturkan kening keduanya dan mengabaikan peningnya. Jeongguk mengerang spontan; merasakan pedih di akar rambutnya dan dahinya yang terhantam milik Taehyung tanpa aba-aba.

"Oke, tidak masalah." Taehyung berkata nyaris berbisik, suara seraknya terasa amat erotis menerpa permukaan kulit Jeongguk yang memanas, "Pukul dua tepat aku harus stand-by di Pusat Admisi Pasca-Sarjana. Kecuali jika kau mau Yoongi-hyung menjagal kepala kita berdua, lalu menjadikannya hiasan dinding di ruang kantornya," bisiknya bergemuruh, penuh ancaman, "Kau ingin jilatan? Aku ingin kau diam. Kau berhenti mengusik kehidupanku dan mampus digerogoti rayap." Taehyung mendesis dengan sorot mata yang begitu tajam.

"Aih, menakutkan sekali," dengan sepasang onyx yang berkilat terhibur, Jeongguk membalas tatapan Taehyung. Sudut bibirnya terangkat pongah.

Taehyung semakin meremas genggamannya di helai rambut Jeongguk, kasar dan kuat; mengabaikan bagaimana pemuda di hadapannya merintih protes karena cengkeramannya. Alis Taehyung menukik jengah, "Perhatikan kelakuanmu, Popstar keparat. Kita lihat saja nanti," gertak Taehyung bergemuruh, "—siapa yang akan memohon-mohon padaku, merengek seperti jalang murahan, mengemis mati-matian supaya aku menyetubuhinya tanpa kondom." Suaranya dalam dan serius, tak ada sedikitpun canda dan intonasi ramah di dalamnya. Seperti auman predator yang menaut mangsa; buas dan mencekam.

Ungkapan sugestif Taehyung seketika membuat sekujur tubuh Jeongguk terbakar oleh nafsu. Namun bukan Jeon Jeongguk namanya jika ia kehilangan kontrol diri. Jeongguk menelengkan kepalanya, tersenyum lebar, "Kelihatan seperti semua hal yang akan kau lakukan padaku, Taehyung-ssi."

Taehyung membuang tawa malas, "Sifat angkuh dan percaya dirimu ini," jeda Taehyung disertai seulas senyum samar, "—tidak akan bertahan lama."

"Menarik," kilat tertantang di obsidian Jeongguk semakin menyala, "I'd like to see you try, Kim Taehyung. Show me how you try." Jeongguk berujar dengan intonasi meremehkan.

"Lucu sekali. Do you really think that you worth my struggle? My time?" balas Taehyung nyaris berbisik, "Don't think so highly of yourself, Bitch." Taehyung mendesis dengan bibir terangkat, kalimatnya kuat penuh determinasi, "You'll fall apart—without me breaking a single sweat."

Jeongguk tergelak keras, sebelum binar onyxnya kembali mematri di manik Taehyung kemudian menantangnya lugas.

"Prove it then, Mr. Popular."

Seringai tipis terukir di bibir Taehyung, menjawab semua pancingan Jeongguk dengan sorot menikam. Tatapan keduanya kembali bersitatap seakan memangsa satu sama lain. Jemari Taehyung turun untuk menarik tengkuk Jeongguk sehingga wajah keduanya begitu berdekatan. Dalam jarak sedekat ini, segala aroma wax, parfum, bahkan pasta gigi Jeongguk menguar begitu kentara merasuki pernapasan Taehyung; membuatnya sesak dan mabuk. Wajah Jeon Jeongguk begitu cantik dan maskulin; dengan kulit resik dan terlihat begitu mulus, terawat seperti bayi. Dengan gerak lamban, Taehyung memiringkan kepalanya. Ia dapat merasakan pergerakan Jeongguk yang mati seketika, bahkan semua cekalannya melonggar begitu saja.

Ujung-ujung jemari Taehyung turun menyusuri dada bidang Jeongguk, mengetukkan satu per satu jarinya usil dan diam-diam merasakan debaran jantung pemuda di hadapannya yang memacu cepat. Dada Taehyung berdentum sama kencangnya; begitu cemas dan antisipatif—tetapi sensasinya begitu menggigit—ketika menyadari bahwa mereka berada di koridor umum; dan kemungkinan seseorang memergoki keduanya bukan suatu kemustahilan. Kim Taehyung bukan seorang exhibitionist, tetapi ia selalu menyukai adrenalin.

Menantang dirinya sendiri, perlahan, Taehyung menyusuri pulasan biru memanjang di rahang Jeongguk dengan bibirnya, sedikit menggoda. Taehyung dapat merasakan napas Jeongguk yang tersentak tertahan, tempo napasnya yang menderu tanpa ritme. Metal labret yang dingin begitu kontras dengan bibir hangat Taehyung yang menyapu kulit rahangnya; membuat Jeongguk mengernyitkan kening, memejamkan matanya merasakan sensasi terbakar dan membeku yang begitu membingungkan. Tanpa sadar, telapak lebar Jeongguk telah meringkus pangkal tengkorak Taehyung dan menekannya semakin dalam, seolah menuntut lebih banyak sentuhan Taehyung untuk bersemai di setiap pori-porinya. Keduanya hanya menelantarkan hening seakan takut setitik saja keributan akan menghancurkan keping kaca dan merusak segalanya. Bibir Kim Taehyung terasa begitu menyiksa, dan Jeongguk merasa bodoh karena terperangkap dalam pesonanya.

Sedikit terperangah atas bagaimana Jeongguk meresponnya dengan begitu agresif, Taehyung bingkas sejenak hanya untuk menjilat bibirnya sendiri. Jeongguk meremas tengkuk Taehyung tak sabar, mengisyaratkan protesnya atas kehampaannya dari segenap friksi Taehyung yang membuatnya haus dan tercandu. Taehyung tergelak pelan sejenak, maniknya keruh menyelami obsidian Jeongguk yang menuntut dominasi, tetapi binarnya kacau berpendar. Kemudian dengan gerak membuai, Taehyung menjejaki lebam keunguan di garis rahang Jeongguk dengan lidahnya; dari bawah ke atas, lamban dan begitu menyesakkan. Jeongguk terkesiap lalu menahan napasnya. Basah, kemudian panas, panas, sangat panas—ada perih ketika bengkak rahangnya dijubahi dengan saliva; namun bahkan rasa sakit yang begitu insignifikan itu, segalanya terasa begitu sensual dan adiktif.

Lidah Taehyung berhenti. Tepat di depan telinga Jeongguk, Taehyung menggigit pelan piercingnya, lalu membisik.

"—are you this easy to please?"

Jeongguk membuka matanya dan menggeritkan giginya penuh amarah.

Tiba-tiba, Taehyung merasakan belakang kepalanya membentur dinding dan kembali berkunang-kunang. Hoodienya disingkap jatuh dengan gerak terburu, dan umpatan Taehyung hanya tersendat ketika merasakan kepala Jeongguk kini begitu dekat di sisinya. Ia nyaris menahan napas, namun seringai sama sekali tidak memudar dari lekuk bibirnya. Jeongguk menjambak helai oranye kakak kelasnya dengan kasar, membuat kepala pemuda itu terjulur ke belakang dan spontan mengeluarkan suara tercekik.

"Mau membuktikan siapa yang gampangan di sini?" pertanyaan Jeongguk penuh sarkasme, menyaksikan Taehyung yang meresponnya dengan tawa mengejek.

Taehyung bahkan masih bisa tertawa, melipat kedua tangan di depan dadanya seperti juri penguji ketika oral Jeongguk menjamah leher jenjangnya yang tan, gigi yang menggigit jakun dan kulit lehernya dengan berbahaya. Kasar. Bahkan ketika Jeongguk menarik kepala kakak kelasnya untuk mempermudah akses sentuhannya; ketika menanamkan ujung giginya nyaris setiap inchi di kulit leher Taehyung, mengesapnya, kemudian menyapu bekasnya dengan jilatan rakus.

Raut Taehyung tenang, sorotnya tak terpukau seperti mengetes. Ia hanya akan sekilas memejamkan matanya menahan sakit ketika gigitan Jeongguk terlalu kuat, ketika jambakan di rambutnya begitu perih dan menyiksa—namun tak sedikitpun menyelipkan desahan. Bibir Taehyung setengah terbuka, tetapi suara yang begitu ingin Jeongguk dengar tak setitikpun tumpah dari kerongkongannya. Jeongguk merasa amarah yang tak masuk akal merasukinya. Bibir dan lidah Taehyung membuatnya gila; dan menyaksikan Taehyung yang mengamatinya seolah-olah Jeongguk hanyalah bocah ingusan yang berusaha memenangkan catur dari pakarnya; membuat Jeongguk benar-benar terbakar oleh murka.

Menyadari bagaimana tatapan Jeongguk seakan membuat lubang di wajahnya, Taehyung memiringkan kepala berlagak polos.

"Anything wrong, Babe?" pertanyaan Taehyung retorik dan menyindir, sudut bibirnya terangkat, "You need to try harder to get me riled up."

Manik Jeongguk berkobar, "Bajingan," geramnya mendesis. Sekali lagi, Jeongguk memindai leher terekspos Taehyung dengan kulit eksotisnya yang telah penuh dengan bekas gigitannya, membiru. Bahkan Jeongguk peduli setan jika lebamnya berada di wilayah terbuka Taehyung dan bekasnya akan sukar hilang. Jeongguk menggeritkan giginya, "Jalang kampus. Berapa kali kau ditiduri sampai tak punya lagi titik sensitif, hah?"

Taehyung menjawab kalem, karena ia tahu semua ucapan Jeongguk adalah provokasi. "Masalahnya ada padamu, Tuan Popstar." Kelitnya tersenyum, "Hanya segini semua yang kau bisa? Mengecewakan sekali."

Mendengarnya, Jeongguk semakin menggertakkan gerahamnya. Tangan lebarnya mengangkat wajah Taehyung kasar, kemudian tanpa aba-aba, bibirnya meraup belah bibir kakak kelasnya yang terbuka dan menggigit labret dinginnya dengan kuat. Taehyung menyalangkan matanya terkejut. Semua ini di luar perhitungannya. Bibir bawahnya memantul kembali begitu Jeongguk melepaskan gigitannya, terasa perih dan menyakitkan. Menyaksikan bagaimana akhirnya ekspresi Taehyung berubah, kepercayaan diri membahana di nalar Jeongguk. Mengosongkan isi kepalanya dari seluruh kewajaran, Jeongguk mengkekang bibir Taehyung kemudian mengulumnya sekali lagi. Kontras antara dinginnya labret dan mulut Taehyung yang luar biasa panas membuat Jeongguk tak lagi bisa berpikir lurus. Taehyung mengerang pelan, naluriah; membuat jantung Jeongguk semakin memacu karena suara yang sejak tadi dinantikannya akhirnya menggema di rongga mulutnya. Seksi dan berat. Bagaimana bisa suara dalam ini mampu membuatnya begitu kalap dan sinting dalam sekejap saja?

Akan tetapi, Jeongguk merasakan perih yang luar biasa ketika mendadak Taehyung menyikut ulu hatinya dengan begitu kuat. Kedua matanya menyalang. Seluruh pergerakannya mati seketika; bagai disetrum hingga mati rasa dan segenap pucuk sarafnya berhenti menyirkulasi. Pagutannya lepas dan Jeongguk batuk tersiksa beberapa kali.

Di depan matanya yang berair karena rasa sakit, Jeongguk menyaksikan Taehyung yang menggusak bibirnya dengan kasar. Alisnya menukik marah, hazel kecokelatannya begitu bengis, dan ia berujar dingin.

"Siapa bilang kau boleh menciumku, Bajingan?" geram Taehyung dengan suaranya yang bergetar karena emosi, giginya bergemeletuk karena amarah yang meletup di paru-parunya, "We're not a lover. So don't fucking act like one."

Mendengar pernyataan Taehyung, Jeongguk terpaku sejenak. Kemudian, ia hanya mengukirkan senyum di sudut bibirnya. Ia mengangkat kedua tangannya defensif, "—wow, aku tidak tahu kalau kau segitu sentimen." Ucapnya dengan wajah tanpa dosa, menyahut ringan.

Taehyung menata napasnya yang masai. Cepat, ia mengontrol emosinya kembali. Marah pada Jeon Jeongguk tak akan ada gunanya. Manusia di hadapannya sudah rusak rasionalitas sopan santunnya.

Tiba-tiba, Jeongguk sudah merapat di hadapannya kembali dan tersenyum.

"Taehyung," panggilan Jeongguk membuat telinga Taehyung berkedut karena sebutan akrab yang terdengar begitu asing baginya. Jemari Jeongguk sudah berada di sebelah pipinya, "—kau cantik saat sedang marah."

Mata Taehyung membelalak. Bukan karena pernyataan Jeongguk barusan. (Bahkan Taehyung tidak sempat membersit sejenak saja untuk memproses sanjungan palsunya). Tetapi karena napasnya tercekat merasakan sesuatu dari bagian bawah tubuh Jeongguk yang menggasak paha terbalut jinsnya sebab minimnya jarak.

Oh, shit.

Taehyung menahan napas.

Tetapi kemudian menyeringai.

Jemari kurusnya menarik lembut rambut di pelipis adik kelasnya dan mengeliminasi jarak di antara mereka. Tepat di telinga Jeongguk, Taehyung mendikte satu per satu kalimatnya, suaranya serak dan dalam. Jeongguk memasang tampang antisipatif.

"Sebagai pemandu tur baik hati, kuberi dua alternatif. Kamar mandi pria di lantai tiga sebelah selatan, seratus meter dari Ruang Penyiaran. Atau ruang tak terpakai di sudut lorong, seratus lima puluh meter dari Ruang Staff," terdapat intonasi kemenangan dalam ucapan Taehyung, dan Jeongguk mengernyitkan kening antara gusar dan antusias, "—dan cobalah untuk jangan menyebut namaku terlalu keras saat mengerjakan 'urusan'-mu yang ada di 'bawah sana'." Sorot mata Taehyung turun ke setengah tubuh bawah Jeongguk penuh isyarat dan implikasi. Sudut bibirnya terangkat menyimpan makna. Hembus napas Taehyung menerpa daun telinga Jeongguk dan segalanya begitu menggelitik merangsang setiap pucuk sarafnya tanpa ampun.

"Till next time—

"—Tuan Gampangan."

Taehyung sepenuhnya beringsut dari segala kontak fisik dengan pemuda di hadapannya. bibirnya mengukir senyum separuh. Kemudian berlagak sopan, Taehyung menundukkan kepalanya undur diri. Dengan santainya, Taehyung melenggang dari himpitan Jeongguk.

"Minggir, Jeon Keparat," penuh kesengajaan, Taehyung menubruk sebelah pundak Jeongguk keras hingga pemuda yang lebih muda mundur beberapa langkah dari posisinya semula. Jeongguk masih tak bergeming.

Taehyung kembali menaikkan hoodie-nya yang sempat jatuh, kemudian memasang earphone ke lubang telinganya sekali lagi. Tangan Taehyung merogoh sakunya, mengeraskan nyaris maksimum volume musik hiphop-nya. Ibu jari Taehyung naik untuk mengusap bibir bawahnya sendiri. Dengan gigi taringnya, Taehyung menggigit kukunya sambil menyeringai.

"Mendominasi Kim Taehyung?" gigi Taehyung bergemeletuk, bergetar ketika gelaknya membisik menahan gejolak di dadanya yang bertalu-talu, "—yang benar saja. Lelucon garing macam apa itu? Pikirmu kau siapa, dasar bocah gampang." lagi-lagi Taehyung mengulum tawa penuh cemooh, "—bahkan hanya dengan ujung lidahku, aku bisa membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku, Jeon Jeongguk."

Sementara itu, Jeongguk terpaku beberapa saat; sebelum kemudian kepalanya menoleh ringkas ke wujud Taehyung yang perlahan pudar dari pandangan matanya. Netra kembar Jeongguk menggelap mengamati segala detil pemuda itu dari kejauhan. Kim Taehyung. Posturnya yang ramping dan kurus, tampak begitu pas untuk diremuk dalam dekapannya. Punggungnya yang pepat, sepasang kaki jenjang dan helai oranyenya yang begitu menantang. Aroma rokok bercampur parfum maskulinnya yang mengosongkan segala rasio dari sel otaknya. Setiap inchi kulit mulusnya yang tan dan tampak begitu mengundang untuk ditandai. Rahang tirus dan gurat leher yang sempurna. Ujung-ujung jemarinya yang mengantarkan setrum memabukkan, satu per satu jarinya yang panjang dan kurus membelai permukaan kulitnya dengan menggoda. Kedua belah bibirnya yang tebal dan kemerahan dengan labret melingkar kurang ajar di bibir bawahnya.

Lalu sensasi lidah panasnya yang begitu gila.

Gila.

Secara literal—gila. Harfiah, leksikal. Tanpa konotasi apapun.

"Kim Taehyung, liar sekali." Jeongguk mengeja, merasakan geranyam aneh di pangkal lidahnya ketika menyebut nama itu dan tersenyum separuh, "Aku tidak sabar melihat tampang kalahmu ketika kau takluk dan jinak di hadapanku," karena Jeon Jeongguk selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan; termasuk jika ia menghendaki Kim Taehyung untuk menari di bawah kendalinya dan mematuhi segala perintahnya. "Sayang sekali, Taehyung, kali ini kau masuk di permainan yang salah."

Keduanya meninggalkan satu sama lain dengan seringai yang sama lebar terukir di bibirnya. Memiliki kecamuk nalar yang berbeda; tetapi entah mengapa terasa begitu serupa.

Menjadi musuh di kali pertama bertemu mungkin bisa bermakna banyak hal.

Mungkin.

.


TBC


Author's Note:

Annyeong agaaain~! (≧◡≦)彡

WHAT THE ACTUAL FU IS THIS, LOL!
Ada yang nunggu ff kotor(?) ini apdet?wkwk. Ini konsep yang ane punya dari awal tentang Taehyung-Jeongguk musuhan, apa sesuai sama ekspektasi kalian? :")

ENIWEI makasih gila buat respon positifnya ke prolog 'We're Perfect Fools' sebelumnya!
You guys rock, the best, and love you so much~! *lotsa hearts*

And of course, big thanks for Eclaire Delange! Jangan kapok ngesinting sama aku yaa, dan jangan sampe kamu waras duluan(?). Entar aja kalo udah tua bareng aku WAHAHA /sesat/
kutunggu janji apdetmu, awas aja lu. *siapin abang2 beje(?)*

Also for ichizenkaze; yang masih kutunggu fic blindfold!Taehyung nya! X"D
Thanks for cheering me up kmaren pas lagi down kena kasus(?) ini ituu, nemenin bacot gajelas dan ngayal ngalor-ngidul! FF rate M kamu masih lebih asdfahsghdjkl, dan ane menanti kelanjutannya juga~ :"D /gataudiri/

Yes, ane naikin ratingnya karena banyak konten inappropriate yang mungkin terlalu sugestif buat masuk rate T, lol. Ini bentuk kefrustasian ane dan pengen ngabur dari dua fic chaptered abal yang nguras batin ngetiknya :"D /dan dibantai readersnim rame-rame/

Dan beberapa bahasan asik(?).

.

First, ini bottom!Taehyung atau bottom!Jungkook?

For God's sake, tau nggak sih review kalian udah semacem perang dunia ketiga! x"D tapi gapapa, ane cekikikan bacanya. Silakan menjunjung tinggi ship favorit kalian, tapi just remember, we're ARMYs and not enemies. Salaman aja kali VKook ama KookV shipper :"D Ane sih both stands, suka dua2nya dan capable buat nulis dua2nya. Don't take it too seriously! Sesama nyampah V ama Kook homo berdua aja kok ;p /eludoangkaliyangnyampah

Daaaan, like I said, fic ini dubious role. Ini possibly KookV or VKook. Kemungkinan yang jadi seme V atau Jeongguk sama besarnya; karena ane pasang tag ini berdasarkan tension fic secara overall; bukan cuman dari main scene atau apapun. Dan ane nggak menjanjikan ending ato canon apapun. Jadi resiko kedepannya ditanggung penumpang. /apaan

Second, Tae and Kook's Personality.

DUA-DUANYA MENLI MAMPUS, tolong dicatat! /plak/ di sini dua-duanya seksi, wild, nyolot, ego segede titan, ngerasa paling seme sedunia(?)—dan GAADA BLUSHING VIRGIN DI SINI :"D Bagi yang kesini nyari uke maksimal yang kinyis2, kalian gak akan nemu, fyi aja.
That's why this is KookV slash VKook, rite?

.

Have I made everything clear? :")

As always, thanks for reading and reviewing! XD
Daripada langsung cabut, gimana kalo review dulu?
Jadilah readers dan shippers yang baik.

.

Gratefully,

Alestie.
[ find me on twitter! :) – alestierre ]