Ya tebya lyubyu = I love you

.

.

Matahari terik di tidak menyurutkan hawa dingin yang cukup menusuk. Untuk itulah pria itu kini duduk sambil memainkan ponselnya, dengan setengah wajahnya di benamkan pada syal tebal warna merah miliknya. Wajahnya begitu sendu menatap kea rah layar ponselnya, membaca kata demi kata yang kini terlihat disana. Namun kegiatannya harus dihentikan saat seorang perempuan berlari kecil menghampirinya dengan dua buah kantung plastic di tangannya dengan tulisan 'Blinnaya' di masing masing permukaan.

"kau ini jelmaan kura kura. Lama sekali." Gerutu Sasuke. Hinata meletakan kedua plastic tersebut di samping pria yang baru saja mengatainya. Kedua tangannya bertumpu lutut sambil mengatur nafas.

Hinata kini duduk di samping Sasuke. Sungai Neva yang membeku tampak berkilat kilat diterpa matahari muram. Tampak juga beberapa pengunjung di sekitar mereka, tidak terlalu ramai.

Pipi Hinata tampak penuh dengan kunyahannya sendiri. Kali ini ia mirip hamster, batin sosok di sampingnya sambil ikut ikutan menggigit Blini miliknya.

"toko Blinnaya disana, kau lihat? Aku beli Blini Tsarkie disana. Ini adalah yang terenak!" oceh Hinata sambil menyeruput latte hangatnya. Selanjutnya tak ada percakapan yang begitu berarti, mereka hanya ingin menikmati waktu santai mereka.

"Sasuke-kun… bagaimana jepang?" Hinata menatap kea rah kilatan es.

"suhunya tidak seburuk rusia." Jawab Sasuke menerawang tatapannya jauh ke depan, Hinata terkekeh pelan. Ini adalah candaan pertamanya setelah pulang dari Jepang.

"kau betah disana? Apa kau punya banyak teman?"

Tanpa jawaban, Sasuke menoleh kea rah Hinata. Entah bagaimana ada yang ganjil di nada bicaranya barusan. Dan kini Hinata balas menatapnya tampak tak mengerti.

"uh… lalu bagaimana denganmu?"

Tersirat… namun ada yang salah pada sahabat kecilnya. Semacam… luka.

"apa kau punya banyak teman?"

"bagiku Itachi-kun sudah cukup."

"kau tidak punya teman?"

Satu gelengan Hinata entah bagaimana membuat rasa pedih di dirinya begitu jelas. Namun dari pernyataannya dan dari semua yang ia lihat sejak kemarin, rasa sepi Hinata… terlihat tanpa paksaan.

Sasuke bersandar menutup matanya, menikmati semilir yang menusuk permukaan pipinya. Jemarinya tampak memilin milin ujung rambut Hinata. Gadis itu ingat, waktu SMU Sasuke juga seringkali melakukan ini.

"tenanglah… Hinata."

Hembusan angin menghempas kencang menerbangkan semuanya. Rasa sedih yang memupuk, digantikan dengan semburat bahagia yang begitu menyenangkan.

"aku ada disini…"

.

.

.

Hinata POV

Aku sangat mencintai Itachi Uchiha. Sangat…

Aku menghormatinya. Sebagai siapapun ia akan menjadi di sampingku…

"Hinata-chan, Itachi sedang rapat"

Sehari saja… tidak bisa tanpa memikirkannya…

"Hinata-chan, kurasa aku akan lembur… maafkan aku."

Tidak bisa... dan terus selalu…

"dia sangat sibuk hari ini,"

.

.

Aku hanya mencintainya…

Dan menunggunya…

Menunggunya pulang dan berkata… hari ini kita akan kencan…

Satu kali saja…

Satu kali saja seperti itu…

.

Itachi-kun… belum bisa… ya?

.

.

.

Tak ada yang lebih terpukul melebihi Hinata kala mendengar tanggal pertunangannya diundur hanya karena pekerjaan Itachi.

Semua orang tahu sikap workaholic pria itu. Tuntutan kerja mengharuskan pria itu untuk terbang ke Guang Zhou, China untuk 3 hari. Itu artinya ia melewatkan tanggal pertunangannya. Tapi itu semua bukan berarti Itachi sendiri tidak kecewa. Bahkan sama frustasinya dengan Hinata –atau mungkin lebih?.

Itachi membiarkan tangan tangan halus milik kekasihnya merapikan pakaian kantornya. Wajah keduanya tampak muram kecewa. Terutama Hinata.

Itachi mengelus kepala Hinata, mengecup keningnya pelan. Sangat pelan, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang amat dalam. Itachi tersenyum menatap Hinata dalam.

"aku pergi,"

"hm" Hinata mengangguk lemah kemudian mengikuti Itachi sampai gerbang depan sampai akhirnya mobil Itachi tak terlihat di perempatan jalan. Hinata menghela nafas begitu berat. Ia ingin sekali menangis dan bercerita pada Neji jika saja kakak sulungnya kini ada di rumah, mengingat sekarang Neji sudah menikah, ia urungkan niatnya tadi.

"sepertinya aku akan menunggu sedikit lebih lama…"

.

.

.

Sasuke menangkap sosok Hinata yang kini tengah asyik mengurusi kebun ibunya di pekarangan. Seketika itu juga Sasuke ingat tentang perkataan tentang ibunya di malam malam yang lalu bahwa sejak mereka berdua di restui, Hinata lebih sering menghabiskan waktunya disini –sesekali membantu pekerjaan Mikoto, hanya untuk menunggu Itachi pulang.

Ia juga ingat wajah ibunya berubah iba saat berkata bahwa Itachi tak jarang lembur dan menemukan Hinata pulang dengan perasaan begitu hampa.

Dan kini pria ini memperhatikan Hinata dari kejauhan membayangkan tentang rasa sepi dan bosan Hinata yang ia pikul selama ini.

Dalam hidupnya begitu banyak pilihan, kenapa ia tidak memilih untuk bahagia secara normal?

Tepat saat pergunjingan di kepalanya berakhir, ringtone Coldplay di ponsel Sasuke berbunyi.

"privet"

'Sasuke, sedang apa?'

"tidak tahu. Ada apa aniki?"

'kau ini, kalau ditanya jawab yang jelas, bodoh'

Sasuke mendengus pelan. Kenapa kakaknya bertele tele sekali?

"ya ada apa?"

'aku sedang di airport sekarang. Hari minggu mungkin baru pulang. Sementara aku tidak ada, tolong temani Hinata-chan… kau tidak keberatan kan?'

Sasuke melempar pandangannya pada Hinata yang tampak bersenandung sambil mengairi pohon tomat. Tanpa disuruhpun sebenarnya ia punya niat –ragu- seperti itu.

"aku mengerti."

'terima kasih, Sasuke. Sudah dulu ya'

PIP

Sambungan terputus dari pihak Itachi. Dan setelah itu, keraguan Sasuke menguap begitu saja. Sasuke kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan turun lagi tak lama kemudian menemui Hinata.

"oh, Sasuke-kun… selamat pagi"

"cepat ganti baju."

"e-eh? Me-memangnya kenapa?"

"cerewet sekali, aku hitung mundur sampai 5 menit atau kusentil kau!"

"HAH?!"

.

.

.

Sejak pagi tadi hingga siang kini pria ini benar benar berhasil membuat Hinata bingung. Pasalnya, saat ini mereka berdua tengah duduk di sebuah kereta api peluru. Dan ini menjelaskan bahwa mereka sudah bukan berada di Petersburg. Hinata ingat betul saat di papan stasiun tadi bahwa kereta ini akan membawanya ke Moscow.

"jadi sebenarnya aku dibawa kemana?" Hinata melirik kea rah Sasuke. Sialnya, pria itu malah tertidur dengan earphone menyumbat lubang telinganya. Hinata mendengus pelan dan kembali menikmati pemandangan dari jendela di sampingnya.

'Moscow, Moscow. Poyezd seychas v Moscow, diya passazhirov, kotoryye sobirayutsya v Moskwa, pozhaluysta, vykhodite zdes'

Sasuke dan Hinata berjalan beriringan keluar Stasiun. Hinata masih menerka nerka kemana mereka akan pergi? Sasuke memang sulit ditebak.

Namun mungkin pertanyaannya terjawab saat gedung besar berwarna merah bata terpampang raksasa di hadapan Hinata.

"kita akan ke Gum?" Tanya Hinata senang. Dan semakin senang saat mendapat anggukan Sasuke sebagai jawaban.

"kudengar perempuan suka berbelanja." Kata Sasuke sambil memasang kacamata hitam miliknya.

"pacarmu pasti banyak sampai mengerti seperti itu."

"aku tidak punya pacar"

Keduanya melanjutkan berkeliling melihat lihat apa saja yang menarik di sana. Mulai dari menerima dengan pasrah tarikan tangan Hinata saat melihat toko baju, bermain di game center, makan siang dan minum vodka –walaupun Sasuke langsung menyeret Hinata karena takut mabuk-, dan berakhir dengan bersantai di sebuah bench di red square, menikmati angin sore yang masih dingin.

Hinata tertawa kecil mengingat ingat apa saja yang telah ia lewati seharian ini bersama Sasuke. Keduanya tampak berdiam lelah menikmati beberapa musisi jalanan memainkan balalaika mereka sesuka hati.

"aku belum pernah kencan dengan Itachi-kun" kali ini Hinata berkata. Sasuke menoleh memilih menunggu apa yang akan ia katakana selanjutnya.

"kenapa mengatakannya padaku?"

"aku… hanya merasa harus mengatakannya. Kau keberatan?"

Keduanya bertatap cukup lama tampak sekali antusias Hinata dari mata amethyst kelabunya. Dan Sasuke baru ingat percakapan mereka beberapa hari lalu, Hinata tidak punya teman, dan tidak mungkin mengeluarkan uneg uneg seperti ini pada Mikoto. Dan saat itu juga Sasuke merasa seperti satu satunya sosok yang bisa Hinata percaya kala itu.

Sasuke melipat kakinya dan menghadap Hinata, menatapnya tajam.

"cerita padaku"

Hinata tersenyum sekilas, pandangannya mencari cari sesuatu yang kosong, apapun selain mata Sasuke yang kini mengarah tajam ke arahnya.

"…aku tidak pernah kencan dengannya sejak kami pacaran. Pernah satu kali aku mengajaknya… saat itu 'Malam Putih'… dan alasannya sama seperti hari sebelum sebelumnya… ia tidak bisa, ia bekerja." Nada sendu begitu kentara di ucapannya. Sasuke masih disana setia mendengar keluh kesah sahabat kecilnya.

"kemudian saat umur hubungan kami memasuki bulan ketiga, kami berjanji bertemu di katedral keluarga untuk berdoa bersama. Tapi 5 menit sebelum aku berangkat, ia berkata ada masalah serius di kantor…"

Hinata berhenti berkata, mengusap pelan sudut matanya yang mulai lembab. Ia tahu ini tidak akan berhasil kalau ia meneruskan ceritanya.

"Itachi… Itachi sangat hebat bukan…"

"aku… selalu menunggunya di pekarangan… atau di ruang tamu… atau, atau di dapur… hh…"

"hiks… menunggunya pulang… kapan ia akan pulang… kapan kami akan berbincang dengan begitu leluasa…"

"tapi demi tuhan… aku mencintainya… sangat mencintainya… tapi semua itu membuatku takut! Hiks…"

Tanpa gadis itu sadari lelehan Kristal di matanya tumpah begitu banyak. Sasuke yang sedari tadi tertunduk focus mendengarkan curahan Hinata. Bagaimana ia bisa tahan lebih lama?

Wanita yang ia sayangi kini menangis?

Dan sedetik kemudian yang mereka berdua ingat adalah, Sasuke memeluk Hinata. Pelukan yang begitu hangat. Hinata sedikit terkesiap dngan sikap Sasuke. Namun sebelum Hinata protes…

'bagaimana bisa kau keras kepala dan sok tegar?'

"bodoh,"

'bagaimana harusnya aku memperlakukanmu?'

"kau bodoh, atau bagaimana?"

'bagaimana agar kau berhenti menangis?'

.

.

'bagaimana sementara kau menangisi Itachi di pelukanku?'

.

.

.

Pria itu terlentang di ranjangnya. Hembusan nafas berat yang entah keberapa kali menciptakan kepulan asap dari mulutnya. Matanya melirik kea rah jendela, menjelaskan bagaimana udara bisa begitu dingin hari ini. Bahkan pukul 8 pagi langit sangat gelap dan ribuan titik salju, cuaca hari ini sangat buruk.

Dia ingat betul pemanas ruangan sudah dinyalakan dan tubuhnya masih kedinginan.

Tangannya meraih sebuah ponsel flip di nakas sebelah ranjangnya. Ia menekan menu message lalu mengarah pada folder draft. Begitu banyak pesan berjudul No Number yang seingatnya ia tulis sudah lama sekali sejak ia di jepang. Dan pesan pesan itu tidak pernah sampai pada orang yang dimaksudnya. Rasa takut, dan cemas, dan takut lagi.

Sasuke menutup ponselnya dan memejamkan matanya.

.

.

Seperti tanah Rusia… yang dihujani bergerombol salju hari ini…

Perasaan ini tiada ampun menghujamku… dengan tidak tahu malu…

Aku adalah adik dan sahabat terburuk yang mereka punya…

.

.

TRRRR~~

Pagi yang baru di kediaman Uchiha yang lagi lagi sepi. Fugaku dan Itachi tidak usah ditanya, dan kini Mikoto harus menyusul Fugaku ke kantornya karena ada sesuatu entah apa itu. Tinggalah Sasuke dan maid panggilan yang biasanya datang pukul 8 dan pulang pukul 1 siang itu.

"privet"

'Sasuke-kun…'

Suara Hinata?

"Hinata-chan?" diam diam Sasuke tersenyum. "ada apa?"

'kau sedang apa? Mikoto-baa san ada?'

"tidak ada yang special. Ibu sedang keluar. Kau sendiri?"

'Kamchatka, ayah mengajakku kesini. Tapi malah meninggalkanku dan asyik memancing di laut.' Kekeh Hinata pelan. 'jadi aku menelpon… syukurlah kau mengangkatnya'

Sekali lagi pria itu kini tersenyum mendengar penuturan Hinata. Lagi lagi Hinata sendiri, dan ia disini untuk menemaninya setidaknya mengobrol. Sasuke sendiri tidak berniat untuk mengejar Hinata.

Tidak selamanya ia membutuhkanku, terkadang aku harus membiarkannya sendiri…

'Sasuke-kun…'

"…"

'apa Sasuke-kun punya pacar?'

Sasuke diam sebentar.

"aku pernah bilang aku tidak punya Hinata…"

'…tidak pernah?'

Karena aku menunggu…

Sasuke diam. Namun diartikan sebagai 'ya' untuk Hinata. Detik detik selanjutnya yang terdengar hanya nafas pelan dari masing masing. Tak satupun memulai percakapan, tak satupun mengakhiri sambungan. Dengan kecemasan, kekusutan dan kegalauan hati masing masing.

Sasuke menggenggam telponnya cukup keras. Perlahan tubuhnya beringsut, memeluk lutut masih dengan telpon genggam di telinganya.

Aku menunggu, Hinata…

Aku menunggumu…

.

.

.

Untuk pertama kalinya aku tak pernah yakin pada diriku sendiri…

Memikirkanmu… mulai menjadi kebiasaan burukku…

Menghilangkan jejak dengan pergi ke Jepang ternyata kurang berhasil…

Hinata… apa jatuh cinta padamu terlihat normal?

.

.

.

TBC

Author's note:

Apa cerita ini cukup di perhatikan? Haha aku harap gitu karena aku cukup suka dengan latar2 dan konfliknya^^

Biarpun konfliknya sederhanaaaa sekali sejauh ini. Ga ada meledak meledaknya ._.

Ada beberapa istilah dari Russia yang mungkin ngga semua orang tahu (saya juga baru research kemarin2 kkk). Contohnya yang 'malam putih'. Katanya pas hari malam putih itu di Russia waktu siangnya sampai 18 jam, dan selama malam putih banyak sekali festival^^ saya Cuma tahu sejauh itu.

Terima kasih buat yang sudah tertarik sama fanfic saya^^ sampai jumpa chapter depan~