Café Rouge
Pairing: Kise x Reader
Genre : Friendship, mystery (maybe)
Rated : T (buat jaga-jaga aja)
Warning : AU, Gaje, OOC, Typo(s), Vampire!Kisedai (kecuali kise untuk sekarang)
Summary : Kamu hanyalah gadis biasa yang bekerja di Café Rouge. Di siang hari kafe itu memang terlihat normal tapi jika sudah malam kafe itu akan berubah menjadi restoran bintang lima dengan live stage performances dan para pelanggan kelas atas.
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Café Rouge © Farway Studio
IF YOU DON'T LIKE DON'T READ OKAY
DON'T FLAME PLEASE~^_^
~HAPPY READING~
Sebelumnya : reader masuk ke kafe dan bertemu seorang pemuda
Chapter 2
.
..
…
Reader POV
"Selamat datang di café Rouge, nama saya Aomine. Ada yang bisa saya bantu?". Tanya pemuda tersebut.
"Um, iya, aku ada interview kerja disini" jawabku santai.
Wajahnya terlihat kaget dan…masam mungkin?
"Maaf, aku tau aku telat tapi aku masih ingin interview kalau bisa."
"….Oh."
Setelah itu, ada keheningan melanda kami berdua karena dia menatapku dari atas kebawah.
"Saya rasa anda berada ditempat yang salah" ucap Aomine setelah selesai menatapku.
"Tapi ini Café Rouge kan? Di jalan xxx" Tanyaku memastikan. Seingatku tempatku interview kerja itu berada di café ini. Masa sih aku salah tempat.
"Tapi Nona, kami mencari orang yang professional, bukan seoarang gadis kuliahan yang berusaha mencari uang untuk membeli make-up dan baju bagus" jawabnya sarkastik. "Apalagi sudah telat di hari pertama kerja…sebenarnya bukan hari pertama kerja juga sih dan Anda tidak memenuhi standar untuk bekerja disini." sambungnya lagi. Baru pertamakali aku ketemu cowok yang menyinggung perasaan perempuan seperti itu padahal baru ketemu.
Oke, sekarang boleh gak aku ambil korek terus bakar cowok ini biar makin gelap kulitnya?(author dikejer fans aomine)
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Semua karyawan disini paling tidak mempunyai pengetahuan dasar tentang kuliner sementara kau, aku bahkan meragukan kau bisa membuat teh" ucapnya sambil tersenyum meremehkan kepadaku.
"Kenapa kamu gak lihat saja dulu seberapa 'profesional' aku sebelum kamu ngomong?" tantang diriku. Beraninya kau menantang diriku, lihat saja nanti. Huft
Setelah selesai membuat teh, Aomine langsung mencobanya dan berkomentar.
"Hmm….tidak buruk, tetapi tetap saja kau masih belum memenuhi standar Café ini. Sebenarnya bukan masalah kau profesional atau tidak tapi masalahnya itu kau." Hah? Aku? memangnya ada apa dengan diriku?. Melihat wajah bingungku Aomine melanjutkan lagi perkataannya. "Kami disini membutuhkan orang yang spesifik dan-"
"Ada masalah apa disini?" dibalik tirai merah yang ada di stage, ada pemuda bersurai merah yang memiliki wajah ganteng nan rupawan /tjiah tetapi memiliki tinggi dibawah rata-rata *gunting melayang*.
"Ada masalah apa disini Daiki?" tanyanya kembali. Mata heterochromenya mengobservasi diriku dari atas kebawah sama seperti apa yang Aomine lakukan tadi.
"Gadis ini bilang dia ada interview kerja disini, dan seperti yang sekarang kau lihat aku menunjukan pintu keluar untuk dirinya." Jawab Aomine sambil berseringai karena dia berpikir bahwa pemuda tersebut akan melakukan hal yang sama terhadapku.
"Begini ya, kalau aku tidak akan mendapatkan pekerjaannya, lebih baik aku pergi saja dari sini….maaf telah membuang waktu kalian." Ucapku seraya berjalan menuju pintu keluar café itu. Sebelum aku bisa menyentuh gagang pintu keluar, ada sebuah tangan yang menahanku.
"Tunggu, sepertinya kau melupakan bahwa kau mempunyai interview kerja." Ia tersenyum..tidak lebih tepatnya menyeringai sementara aku dan Aomine hanya bisa kaget atas tindakannya.
Setelah melepaskan tangannya dariku ia mulai bertanya.
"Apakah kau mempunyai pengalaman bekerja di restoran atau café?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Apakah kau pernah bekerja sebelum melamar kesini?" tanyanya lagi.
Aku pun menggeleng lagi.
Ia membuka amplop yang kupersiapkan untuk interview di café ini dan mulai mengobservasinya.
"Kau diterima" ucapnya datar. Hah? Serius nih? Aku gak salah dengar? Aku dan Aomine dibuat kaget kedua kalinya.
"Maaf tadi Anda bilang apa?" tanyaku memastikan.
"Aku tidak suka mengulang lagi perkataanku" jawabnya dingin.
"A-akashi kau tidak berpikir untuk mempekerjakan seoran-" dengan sekali tatap, Pemuda itu membungkam mulut Aomine. Dan Aomine pun langsung kembali bekerja.
"Nama saya Akashi Seijuurou. Saya adalah pemilik dan manager dari Café Rouge. Nama kau siapa?" tanya Akashi datar.
"(Name)….(reader full name)." jawabku.
"Kalau begitu, Selamat datang di Café Rouge (name)." ujar Akashi.
Pekerjaan pertamaku. Di Café yang berkelas.
Mungkin bekerja di café ini tidaklah buruk. Yah setidaknya aku mendapat seragam yang bagus dan cukup sopan walaupun hanya aku yang bisa melihatnya sih. Tentu saja semua karyawan disini mengabaikanku tapi mungkin karena aku masih baru.
Tapi..
Kenapa aku hanya didapur dan mencuci piring!? Semuanya melayani tamu sementara aku disini memegang sabut cuci piring.
"Meemboosaannkaaan" tapi jika aku berhenti sekarang pasti dipecat. 'istirahat dulu deh capek'. Lagipula, beristirahat sebentar gakpapakan?. Aku berjalan menuju pintu keluar dapur. Aku mengintip dari sela-sela pintu yang terbuka. Tidak ada hal menarik yang terjadi hanya pelanggan yang sedang makan.
Tunggu!...apa itu? Apa yang pelanggan itu lakukan?!
Banyak noda darah disana. Aku melangkah mundur dan kesadaranku pun mulai berkurang. Makin lama bau itu makin tercium olehku dan akhirnya aku pingsan.
"Apakah dia baik-baik saja?"
"Siapa yang tahu, dia sangat pucat ….apakah dia sudah mati?"
"Siapa yang peduli, cepat pindahkan dia sebelum 'dia' datang."
"Terlambat"
Masih terlalu pusing untuk membuka mataku atau berbicara. Kugeser kepalaku dan kesadaranku hilang kembali.
.
..
...
Kubuka mataku dan sinar lampu yang terang menyambutku. Aku tertidur di sofa merah. Dimana aku?
"Sudah bangun." Tanya seseorang yang suaranya terdengar familiar. Ia berdiri didekat meja sambil menatap keluar jendela.
"Jadi sekarang kau tau rahasia kami" ujar Akashi seraya mendekat kearahku.
Keheningan melanda kami berdua.
"Rahasia apa?" tanyaku polos. Sebenarnya, aku tau rahasia apa yang dimaksud Akashi. Mulai dari darah, minumanya, dan taring para pelanggan yang menancap di pelayan mereka. Tetapi tetap saja aku tidak bisa mempercayainya.
Akashi menghela nafas.
"Ya, Nona (name). Café ini adalah Café vampire." Jawab Akashi seolah-olah mengetahui bahwa aku tidak percaya apa yang tadi aku lihat.
"Disiang hari kami memang malayani tamu 'biasa' tetapi jika malam sudah tiba, kami hanya melayani tamu 'spesial' kami." ucap Akashi yang cukup membuatku kaget. Bisa dipastikan yang dimaksud tamu 'spesial' oleh Akashi adalah vampire. Ia menatapku sambil menyeringai yang membuatku merinding.
"Takut, hm?" bulir keringat turun dari dahiku. Tentu saja aku takut!(Miyu sih nggak malah seneng apalagi klo vampirenya Akashi~ | Reader: komen mulu lo! )
"Tapi sayangnya, sekarang kami dalam keadaan yang sulit. Aku tak bisa membiarkan kau pergi dengan rahasia kami tanpa ada kepastian bahwa kau tidak akan bilang ke siapapun." Ucap Akashi.
"A-aku janji gak akan bilang ke siapapun."
"Ohh..benarkah." ia tertawa pelan "Bagaimana aku bisa tahu kau menepati janjimu?." Sambungnya lagi. Lidahku kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Melihat reaksiku, Akashi berbicara kembali.
"Kalau begitu hanya ada satu cara…kau akan menjadi karyawan disini. Kau akan menjadi karyawan tetap disini sampai aku putuskan sesuatu. Sampai waktu itu tiba, kau akan menjadi milikku." Akashi menatap mataku intens sampai membuat aku tidak bisa bergerak dari tempatku.
"Selamat datang di Café Rouge Nona (reader full name)."
.
..
…
~TBC~
…
..
.
A/N : Konnichiwa minna-san~ makasih ya yang udah review, fav, follow dan juga silent reader nun jauh disana^^. Mungkin chap depan Miyu bakal ngaret updetnya soalnya Miyu masih pelajar jadi harap maklum ya~ paling nggak nanti Miyu usahain deh update seminggu 1x. Oh iya maaf yak lo Miyu gk konsisten dalam manggil orang a.k.a campur- campur misalnya kamu jadi kau atau sejenisnya.
Terakhir…
Mind to Review^^
