A/N : Akhirnya bisa update juga! Aku sangat menyukai Threesome antara Levi/Eren/Jean, Eren sangat delicious dijadikan sandwich xD kalo ditanya skill menyodok antara Levi dan Jean siapa yang tinggi? Anda bisa menebaknya sendiri xD
Btw mohon maaf kalau alurnya jadi tidak jelas, semoga para pembaca menikmati pwp fanfic ini x3


The Wine

Setelah kejadian Ronde-Tak-Ada-Remnya Rivaille rela menambahkan waktu menginap di hotel tanpa sepengtahuan Eren, tentu membuat remaja labil itu bete.

Sudah kehabisan baju bersih, kehabisan tenaga dalam pula, mau sampai kapan dirinya dimabuki oleh sentuhan om – om itu sampai – sampai rela menginap? Orang tuanya bisa ngamuk kalau tahu anaknya dibawa pergi oleh pria berumur 30 tahunan.

Dengan nekat, Rivaille mengajak Eren keluar hotel sebentar untuk mencari pakaian ganti untuknya, alias membelinya, karena Eren sedang merenggut, akhirnya hanya Rivaille yang keluar dari kamar.

Eren merenggut bukan karena merasa dikengkang oleh pria itu, hanya saja… ia merasa Rivaille semakin posesif kepadanya hanya karena kebutuhan seks semata?

'Kenapa old man itu tidak pernah mengatakan perasaannya kepadaku? Apa karena ia orang dewasa? Terlalu tua untuk itu? Aku ingin kepastian yang jelas' Gerutu Eren, seorang diri dikamar Suite Room.

Ia pernah menanyakan soal ini sekali kepada Rivaille, tapi pria itu malah mengganti topic atau ditinggal tidur, Eren tak mengharapkan kalimat gombal dari mulut pria pendek itu, ia hanya cukup satu atau dua kata yang mencerminkan perasaannya, tapi bagaimana?

'Aaah, sudahlah!' Eren merasa bosan dikamar tiga hari, ia tak bisa berenang lagi karena bercak – cak merah masih menghiasi tubuhnya, ia memutuskan pergi ke lobby untuk menemukan sesuatu yang berguna.

Baru saja Eren keluar dari kamarnya, seseorang disampingnya juga keluar secara bersamaan, Eren tidak sadar sampai orang itu menyapanya.

"Yoo! Eren!" Eren terbelalak kaget ketika melihat mantan kakak kelasnya, Jean Kritschien.

"Ah, Jean, aku tak menyangka kau disini!" Ujarnya setengah kaget dan panik, Jean yang sudah lulus dua tahun yang lalu kini berada didepannya, ia merupakan anak orang kaya dan sepertinya ia bakal mewarisi perusahaannya.

"Hehe, sama kau juga, Aku disini karena ada urusan 'bisnis'," Ujarnya, sombong seperti biasa, "Bagaimana denganmu? Ngapain bocah sepertimu ada di hotel bintang lima ini?"

Eren menelan ludahnya, mencari jawaban. "Eng… Sedang berlibur disini, Haha, memangnya hanya kamu yang bisa berlibur di hotel, muka kuda?" Ledeknya, tak peduli bahwa Jean perna menjadi kakak kelasnya.

Jean tertawa lebar, niatnya untuk pergi batal ketika melihat Eren disini, ia menaruh hati kepada pemuda berambut coklat ini sudah lama. "Bagaimana kalau kau mampir ketempat ku dulu? Aku memiliki banyak minum yang mungkin kau suka,"

Eren yang tak memiliki rencana mengikuti kemauan Jean tanpa curiga. "Baiklah, aku sedang bosan ini…"

Jean menahan seringainnya, domba kecil masuk kedalam perangkapnya.

Rivaille yang sedang berbelanja tak tahu kekasihnya masuk ke perangkap laba – laba.


"Jadi itu orang engga jelas maunya apa-" Celoteh Eren dengan wajahnya yang mabuk gara – gara tidak biasa meminum minuman keras.

Jean tertawa mendengar celotehannya, menyeringai ketika tahu Eren lemah dalam minum alkohol, tinggal panasi api yang membara didalam Eren, lalu ia jatuh kedalam perangkapnya, kesadaran Eren kini hanya 40%, tidak, malah 30% karena pemuda itu sudah menghabiskan 3 gelas.

"Hik, Jadi aku tidak mengerti apa maunya, Hik…" Eren merasakan pusing yang berat dikepalanya, ia baringkan badannya di kasur, lupa siapa pemilik kamar itu.

Jean beranjak dari sofa, duduk disamping Eren yang merebah dirinya, Eren kembali duduk. "Hey, aku tak pernah menyangka kita bisa berbincang tanpa bertengkar, kau ingatkan kita sering bertengkar semasa sekolah…" Cerita Eren ketika mengingat awal SMAnya.

Jean terkekeh dan mendekatkan wajahnya. "Itu karena kau begitu menggemaskan sampai membuatku ingin menjahilimu…"

Eren merasakan nafas hangat dari orang lain. "Jean, jangan terlalu dekat…" Lirihnya, ia dorong Jean perlahan, Jean tidak bergeming karena ia tahu Eren sedang tidak ada tenaga, tubuhnya begitu lemah didepannya.

"Kau tak keberatan kalau aku menyentuhmu?" Bisiknya, Eren yang masih kelimpungan tidak sadar bibir mereka tinggal beberapa centimeter lagi.

"Huh-Humppfh!" Kecupan Jean yang hangat mengunci gerakannya, selagi otaknya bekerja, ciuman Jean membuat dadanya panas, bibir milik orang berdarah perancis itu kini mulai mengulum bibirnya yang manis itu, lidahnya ikut bermain nakal dan mencoba memasuki mulut Eren.

Eren tidak bergerak menolaknya, malah ia biarkan lidah hangat itu menginvasi mulutnya, Jean yang handal mengenai ciuman mengalahkan Eren telak yang diantara pusing dan kaget.

"J-Jean…" Eren mencoba mengedipkan matanya yang perih, tahu – tahu Jean sudah menindihnya dari atas, tangan miliknya sudah masuk kedalam bajunya, perlahan melucuti pakaian milik Eren dan dirinya selagi Eren masih belum sadar.

"E-Engh…Uhn…" Suara lembut itu mulai terdengar dari bibirnya ketika merasakan sepasang tangan hangat meraba ditubuhnya, rangsangan terasa ketika Jean menciumi dan menghisap lehernya, titik lemahnya.

Jean mulai bernafsu memiliki adik kelasnya yang sedang lengah ini, meski ada sebersit perasaan bersalah, ia tak akan melewati kesempatan ini, ia mainkan kedua puting Eren yang sudah berdiri akibat pijitan ajaibnya, lidahnya yang tadi membasahi lehernya kini membasahi tonjolan merah milik Eren, berhasil membuat Eren mendesah.

"A-Aahn, J-Jangan…" Lirihnya pelan, tapi badannya tidak menunjukan adanya perlawanan.

Permainan terus berlanjut, tangan Jean kini sampai di bagian bawahnya, menekan sesuatu yang menggumpal di balik celana dalamnya, perlahan ia tarik celana putih itu keluar dari kakinya.

Eren mendadak terbangun ketika merasakan tangan Jean menyentuh organ reproduksinya, sentuhannya hampir membangunkan pikirannya, Jean langsung memberinya ciuman panas untuk memabukkan sementara.

"Hmmngh…Henghh…" Eren terlihat menikmati ciumannya, perlahan tangan Jean memijit punya Eren sampai milik berdiri tegak, miliknya perlahan – lahan pun ikut berdiri melihat betapa manisnya Eren yang sedang mabuk dan bergairah sekaligus, ia tidak memasukan apa – apa dalam minuman Eren, pemuda Yaeger itu memang lemah terhadap alkohol

"Eren, sentuh punyaku seperti ini…"Ajak Jean, menarik tangan Eren yang berkeringat dan menaruhnya di barang miliknya, Jean duduk didepannya, kejantanan mereka saling bersentuh, degupan jantung Jean semakin cepat ketika merasakan sentuhan tangan Eren.

"Hnghh…Seperti ini?" Tanya Eren dengan polosnya sambil menggesek barang Jean yang lebih besar darinya, Jean mengurut punyanya Eren lebih cepat dari sebelumnya.

"Anghh, Anghh" Eren merasakan sensasi paans yang familiar ditubuhnya, keduanya merasakan aliran cairan sperma yang ingin keluar dari kejantanan milik mereka.

"Hengh….Eren… Lebih cepat, Argh…"

"Ahhhn, Jean, A-aku bisa-"

SPLURT

Kedua tangan milik mereka basah karena cairan yang tertukar, Jean sengaja menaruh jari basahnya kedalam mulut Eren.

"Coba hisap.." Tantang Jean dengan ragu, Eren menghisap jari – jari Jean dengan perlahan, pengalaman sebelumnya membantu dia membersihkan tangannya lebih cepat.

Jean terkejut dengan skill Eren yang begitu hebat, jangan bilang ia pernah disentuh oleh orang lain sebelumnya? Pikir Jean, badannya sudah kebawa nafsu dan kini ia tak sabar ingin menginvasi lubang milik Eren.

Eren pasrah saja ketika Jean mendorong badannya, matanya terkatup karena sensasi setelah ejakulasi, tapi kini matanya terbuka lebar ketika merasakan benda asing yang memasuki lubangnya.

"Hengh! J-Jean!" Pekiknya kaget, memang benar pemuda yang berumur 20 tahun itu kini tengah memasukan jarinya yang sudah dilumuri cairan lube yang ia simpan, ia terbawa sensasi kerapatan Eren ketika memasuki dalamnya, begitu ketat sampai tak ada ruang tersisa.

'Urgh, sial, dia terlalu…' Pikiran Jean dipenuhi berbagai kata vulgar, ia tambah jarinya untuk membuka lebar, tak sabaran ingin masuk.

"Aaah!" Rasa sakitnya mulai membakitkan pikiran Eren, meski kepalanya masih dikuasai oleh mabuknya alkohol, tapi rasa sakit yang ia rasakan memberi dorongan.

"Jean…Jangan…Hentikan…" Protes Eren selagi mencari alasan kenapa ia menolak Jean, beberapa ingatannya terlupakan karena anggur sialan.

Jean mencabut jarinya, diganti oleh lidah miliknya, soal jilat menjilat, Jean ahlinya, ia dekatkan muka kuda itu ke permukaan anal Eren.

"Aaahn!" Rasa sakit langsung berganti rasa nikmat, sensasi familiar lagi yang kembali menidurkan pikirannya, ia remas seprai kasur milik Jean sambil mendesah kembali.

"Aahn, Jean, J-Jangan disitu, Aah! D-Disana, Uuhhn," Bisikannya seakan mengundang Jean untuk menginvasi dirinya lebih dalam lagi, sayang lidahnya tak sampai ia tarik lagi lidahnya dan menyiapkan kejantanannya.

Antara perasaan buruk dan dikelabui nikmat, tubuhnya meminta untuk diselesaikan semua rasa ini, sedangkan hati Eren merasakan sesuatu yang tak enak sampai membuatnya membuka mata lagi.

Kini Jean sudah tak dibaluti sehelai pakaian pun, miliknya yang lumayan besar kembali menegang, menepuk bagian permukaannya.

"J-Jean…" Kekawatiran Eren pun terjadi, miliknya akan diinvasi oleh seseorang yang bukan kekasihnya, lagi – lagi pikiran Eren kabur, ia tak bisa mengingat siapa kekasihnya.

Selagi Eren lengah, Jean menggesekkan barangnya cincin otot itu, menyundul – nyundul ingin masuk.

"Ergh-Jean-" Eren terheyak ketika merasakan sebongkahan daging yang hangat ingin masuk, ia tak bisa membohongi dirinya kalau ingin dimasuki, tapi rasa 'tidak sreg' menahan pintaannya.

"Eren…" Desah Jean ketika hendak masuk, Slip. Dalam hitungan detik, milik Jean masuk ke dalam sampai sepenuhnya.

"Aaaaaaahn!" Aliran listrik menyengat seluruh badannya ketika penis milik Jean menabrak prostatnya saat itu juga.

Jean berdiam dulu sampai deru nafas Eren kembali normal, lalu mulai menggerakan barangnya dengan perlahan.

Eren tidak bisa mengeluarkan penolakannya ketika merasakan sensasi nikmat meski berbeda, yang ia rasakan saat ini hanyalah nafsu belaka, ia tahu itu, tapi ia tak bisa menolaknya.

"Engh, Jean…" Panggilnya tak sengaja, yang dipanggil tambah semangat dan mulai menggerakan miliknya lebih cepat, tubrukan kepala penisnya memberi sensasi tambahan yang tak bisa Eren tahan.

"Aaahn! Aah Aah," Tak sadar dirinya sedang ditiduri oleh orang lain, ia terus mendesah sambil meremas barang yang tak segemuk dulu tapi rakus menghujam didalamnya.

"Engh, Eren…Eren…" Geram Jean sambil menghentakan pinggulnya untuk menghujamnya lebih dalam.

Eren pun hampir memanggil namanya, tapi semua buyar ketika kesadarannya mulai kembali.

"Hengh…Argh! Ack! J-Jean!? Apa yang kau-Aaahn! L-Lepaskan!" Eren mulai memberontak meski diselingi beberapa desahan.

'Shit!' Jean yang sudah terlanjur tak menyerah ditengah jalan, ia pacukan kecepatannya, membuat Eren berhenti memberontak ketika merasakan hantaman bertubi – tubi.

"Arhhhnn, J-Jean, Stop! Aaaahn!" Ia merasa dirinya semakin mendekati puncak, ia akan ejakulasi karena sodokan dari Jean, tentu ia tidak mau, tapi tubuhnya tak bisa berbohong.

"J-Jean, jangan di d-dalam, Ahhn! Diluar, kumohon,Ahhn!" Pinta Eren, Ia tak memberontak lagi, tapi kini memohon kepada Jean.

Jean cukup tergiur mendengar suaranya, tapi gerakan pinggulnya sudah tidak bisa dihentikan, ia bungkam mulut Eren dengan mulutnya.

"Hmmnghhh!" Eren dicium dan disembur secara bersamaan, membuat pemuda itu kelimpungan, Eren berbaring sementara untuk beberapa menit, mengumpulkan tenaga, lalu mulai memukul wajah Jean.

"Ugh! Dasar, semua seme sama saja," Gerutu Eren , kepalanya mulai pusing, tak sadar dirinya masih diisi oleh organ tubuh milik Jean.

Jean merasakan benjol mencuat keluar di kepalanya, tapi tak apalah, ia rela disiksa seperti apa demi merasakan Eren.

"Engh..." Tubuh Eren masih lelah meski kesadarannya sudah kembali penuh, suara lembutnya membuat Jean melupakan minta maaf dan ingin melahapnya sekali lagi.

"Hey, karena sudah terlanjur, bagaimana kalau kau nikmati saja?" Ujar Jean bertampang modus dengan ekspresi bego, tak tahu Eren memiliki kekasih seganas macan.

"Herg, kau ini mesum atau bodoh!? Aku tidak bisa diperlakukan seperti ini, ugh!" Eren yang hendak bangkit ditahan oleh kedua tangan Jean.

"Argh, Lepaskan! Jangan-Ahn! Jean! Dengarkan aku!" Jean tenggelam dalam lezatnya tengkuk leher Eren, usaha Eren memberontak sia - sia.

"Henghh!" Ia tahan desahannya, kepanikan menerjangnya ketika mengingat kamarnya ada disebelah ruangan ini, pengandaian Rivaille sudah pulang mendorongnya untuk memberontak lebih.

Bruuk. Dagu Jean sukses di lukai oleh lengan Eren, mantan kakak kelasnya mendecih kesal karena tak sengaja menggigit lidahnya sendiri.

"Tch! Sakit, Eren!" Keluhnya, masih tak ingin melepaskan uke-nya (menurutnya).

Eren frustasi Jean tidak kunjung mengerti apa maksudnya. "Lepaskan, Jean! Aku memiliki pacar tau! Dia akan ngamuk kalau ketahuan-"

Jean merasa tidak terima dengan pernyataan Eren barusan. "Hah? Jangan mengarang, mana kekasihmu? Bawa sini kalau bisa-"

"Jean!"

BLAAAAAMMM!

Bantingan pintu terkencang yang pernah mereka dengar, rupanya seseorang membobol masuk ruangan kamar yang dibayar oleh Jean.

"Sepertinya bintang kelima hotel ini penuh dengan tipu belaka, sampai – sampai aku bisa mendengar kekasihku mendesah karena orang lain."

Suara baritone itu membuat Eren ingin bunuh diri ditempat, sudah ketangkap basah, ia mendengar dari awal pula, mau ditaruh mana muka Eren sekarang?

"Kau siapa-BUUUUGH!" Belum sempat Jean protes, muka kuda itu sudah kena jotos dari kepalan tinju Rivaille, pemuda prancis itu jatuh tergeletak di samping tempat tidur dengan tubuh telanjangnya.

Eren yang sudah tidak ada sesuatu dibokongnya, bergerak mundur, takut dengan aura kegelapan milik Rivaille yang semakin dekat, perlahan Rivaille melepaskan busana formalnya satu persatu.

"Uhhh..."

"Bisa jelaskan kenapa kau bisa disini? Seingatku aku tidak menyuruh keluar..." Desisnya dengan muka super gelap seperti hantu.

"A-aku tidak sengaja bertemu dengan dia, alumni sekolahku saat aku keluar sebentar u-untuk ke lobby-"

"Ke lobby, huh? Siapa lagi yang mau kau temui disini selain bajingan ini, kau berniat selingkuh huh?" Dasi dan jas hitamnya sukses tergelepar diatas ranjang berlapis kasur putih.

Eren merasa sia - sia menjelaskan alasannya karena Rivaille sudah naik pitam, tapi tak ada salahnya membela diri bukan?

"D-dia mencoba memperkosaku! Aku tidak pernah menginginkan ini selain dengan anda! Ini hanya-"

"Kecelakaan? Kebetulan?" Potong Rivaille. "Lalu desahan yang kudengar apa? Dan ini-" Rivaille menunjukan cairan yang mengering di perut Eren. "Apa lagi selain sperma dari ejakulasimu, huh?"

Kalah telak. Eren tidak bisa membela diri, ia pasrah.

Rivaille yang selesai melepaskan kemeja putihnya, kini merangkak diatas tempat tidur untuk menangkap Eren.

Hap. Dengan tarikan kasar, Rivaille mencium Eren dengan ganas. Eren bisa merasakan betapa cemburunya Rivaille ketika mendengar desahannya Eren ketika Jean memasukinya, sungguh Eren menyesal karena lengah didepan orang lain.

Rivaille mulai menggigiti ujung bibir Eren sambil berdarah, lidahnya menyodok masuk ke area mulutnya sampai Eren tersedak, keduanya bisa merasakan rasa besi dari darah kental yang keluar di bibirnya.

"Enghh...Ahnn," Eren tak bisa menahan desahannya, meski sakit, ciuman Rivaille terasa begitu panas, membangkitkan gairah dalam penderitaannya.

Setelah sesi ciuman selesai, Rivaille mulai menjamah tubuh Eren, tangannya mencubit bagian sensitifnya dengan keras, membuat Eren mendesah keras.

"Aaaahn!"

"Bagus, Eren, perdengarkan aku irama itu..." Bisik Rivaille sebelum menggigit daun telinganya yang menggemaskan. "Aahnrh!" Eren merintih kesakitan.

Desahannya semakin intens ketika wajah Rivaille mendarat di bagian dadanya, lidah nakal itu kini mulai bermain dikedua puting milik Eren.

"Ahhn, Rivaille, jangan-Ngh! S-sakit! Ahnn!"

"Diam, Eren, terimalah hukuman dari aku, heh," Desisnya sambil memainkan kejantanan milik Eren lagi, dipaksa untuk mengeras lagi.

Tentu organ bawah paling susah diatur, sudah nyeri datang berkali - kali, kini ia dipaksa untuk datang lagi, dirinya sudah ditakdirkan untuk menjadi masochist.

Posisi mereka berubah, Rivaille tak lagi berada diatasnya dan menindihnya, kini pria berambut raven itu memangku Eren yang tak berbusana, tangan lihainya kini bermain diantara selangkangannya.

"Engh-Aahn-Ack!" Eren merasakan jari - jari Rivaille memaksa masuk lebih cepat dari biasanya.

"Aku tidak berniat memuaskanmu bocah, aku sedang menghukummu." Bisiknya sambil menjilati telinga Eren, disambungi gigit menggigit di lehernya.

Lubang dibawah Eren terasa semakin nyeri ketika merasakab dua jari milik Rivaille berusaha melemaskan otot - ototnya tanpa pelumas, didalamnya masih ada sisa cairan milik muka kuda.

"Eng, Rivaille ampuni aku! Aku berjanji tidak mengulang lagi-Ahn!" Eren yang sudah lelah dengan aktivitas seks ini mengangkat bendera putih, tak ada gunanya jika tak ada stamina meski tubuh tetap bereaksi ketika disentuh.

Rivaille tambah semangat menghukumnya ketika mendengar pintaannya, miliknya yang sudah mengeras bahkan berlumuran cairan pre-cum kini mulai menggesek dipermukaan analnya.

"Tak ada ampun bagi orang yang bersalah, Eren, nikmati hukumanmu." Rivaille menghujam anal Eren tanpa ampun.

"Aaaahnnnn!" Sengatan yang dibuat Rivaille memang tiada duanya, sekujur tubuh Eren langsung mulai bereaksi meski ia selemas orang puasa, pinggulnya otomatis memompa sundulan penis gemuk itu.

Ah, Rivaille merasakan kenikmatan tiada batasnya, ia tidak boleh lupa tugas pertamanya adalah menghukum Eren. Hujaman miliknya kini semakin kencang dan tiada ampun ke prostat Eren, dibantu oleh dua tangan miliknya yang mencengkram pahanya sampai berbekas.

"Aaahn! Ahhn! Aaah! Aahh! Ri-ah-Rivaille! A-ampunn! Aahn!" Desahan berirama dari bibir ranum itu membuat seseorang yang tadinya pingsan kini bangun.

"Huh!?" Jean terkejut ketika melihat Eren yang disodok oleh seorang pria berwajah seram saat ia membuka mata pertama kali, ia langsung berdiri, dalam arti mana pun.

Niatnya ingin membunuh Jean batal, ide yang lebih baik muncul di kepala pria posesif ini.

"Hey, muka kuda." Panggil Rivaille, Jean yang masih shock bingung dan tersinggung dengan panggilannya. "Bagaimana kita adu sodok siapa yang paling memuaskan Eren? Yang menang boleh menidurinya sepanjang malam ini."

Jean yang masih tidak menyerah soal Eren menerima tantangan itu tanpa pikir panjang, Rivaille berhenti menyodok Eren, kini ia ganti posisi dimana wajah Eren berada didepan Jean.

"Nah, hibur dia, Eren, selagi aku menyelesaikan masalah disini." Ujarnya sebelum kembali menghujam dengan kekuatan penuh.

Jean yang nervous terperangah dengan ekspresi wajah Eren sungguh jauh lebih kacau dari sebelumnya, Eren tidak protes, malah ia langsung melahap penis milik Jean.

Milik Jean memang tidak sebesar milik Rivaille, tapi ukurannya cukup besar dimulut Eren dan baginya termasuk memuaskan.

Ia kecup pucuknya milik Jean dengan lembut lalu ia mulai mencium setiap sisi lainnya, Jean mulai menikmati blowjob dari mulut sang uke idaman.

Eren mengulum miliknya hampir sepenuh, ia hisap bagaikan menghisap permen lollipop yang suka ia makan, Jean semakin terbawa ke awang - awang ketika mulut basah itu semakin menghisapnya dengan ketat.

"Hengh, mulutmu memang sesuatu, Eren..." Bisik Jean, entah pujian atau ledekan, Eren merenggut mendengar itu.

Merasa dilupakan, Rivaille mulai menabrak dinding prostat dengan kekuatan penuh , menyebabkan sekujur tubuh terang Eren bergetar dengan hebat. Rangsangan yang ia dapat membuat mulut Eren mengulum lebih dalam lagi.

"Henghh, lagi Eren, lebih dalam," Geram Jean.

"Mmmnghn," Sahut Eren, tak sadar dibelakangnya masih disodok oleh barang gemuk nan besar itu.

Rivaille yang cemburuan kini mulai menyerang titik kelemahannya, Eren melepaskan hisapnya sambil mendongak, merasakan rangsangan bertubi - tubi.

Jean tak mau kalah ia tekan kepala Eren, supaya ia kembali dalam acara hisap menghisap miliknya sampai keluar, Eren tak sempat mengambil nafas dan mulai menghisap miliknya sedalam - dalamnya, aktivitas mereka bertiga semakin cepat temponya ketika klimaks akan datang.

"Enghh, Eren" Geraman Rivaille membuat tubuh Eren bergetar, Jean menekan kepala Eren untuk tak lepas dari miliknya ketika klimaks.

"Argh, Eren!"

"Mnghhh!"

Spluuuurt.

Dari depan dan belakang, seluruh lubang Eren terisi penuh, Eren terbatuk - batuk ketika ia berhasil lepas, miliknya berdiri ketika merasakan kehangatan disela - sela lubang miliknya.

Rivaille melihat itu.

"Hengh!"Eren merasakan remasan hangat dari tangan Rivaille.

"Kau suka, huh? Disentuh seperti ini?" Bisik Rivaille sambil memberi senyuman sinis, jelas ia tidak suka reaksi Eren yang turn on karena disentuh dua lelaki, tapi ia masih berniat menghukum bocah ini.

Remasan Rivaille membuat milik Eren semakin mengeras, tubuhnya dipindahkan posisinya, kini ia telentang diatas tempat tidur.

Jean kini berada di selangkangannya, Rivaille duduk disampingnya.

Jean yang terkesima dengan wajah Eren setengah sadar dan mulai merintih kecil saat ia mulai mengocok milik pemuda bermanik indah itu.

Eren yang masih memiliki kesadaran tahu Jean menyentuhnya, jelas Jean senang melihat reaksinya yang tak protes tapi menikmati, ia merasakan sesuatu menekan bagian badannya yang masih berdenyut, oh itu jarinya.

"Eren, aku ingin masuk, kau tidak marah kan, kali ini?" Bisik Jean setengah malu, tapi ia tunjukan senyuman kuda itu.

Eren membuka mulutnya untuk protes, tapi diinterupsi oleh milik Levi yang gigantis, jelas Levi tidak membiarkan kuda jelmaan ini menganggu aktivitas mereka berdua.

"Bocah, untuk sekarang, mulutmu berfungsi untuk satu ini," Geram Levi, Eren tahu apa maksudnya, tak dapat berkelut, ia hisap miliknya.

Dimulai dari mengecup ujung merah miliknya sampai ke pinggir dan dua bola zakar miliknya, melihat wajah Levi yang begitu seksi dan bergairah menambah libidonya Eren, ia mulai mengulum ujung penisnya fengan sensual.

"Hnghh" desahan Eren mulai terdengar dari mulut rakusnya, hisapannya semakin lama semakin dalam, merasakan kerapatan mulut kekasihnya itu, membuatnya menjabak rambut Eren untuk mempercepat hisapannya.

Jean merasa tersinggung ketika Levi memberi tatapan sinis, membuktikan sang muka kuda tak mampu membangkitkan hasrat terpendam sang suicide brat ini.

Tak mau kalah, Jean menubruk postratnya dengan kasar, Eren hampir tersedak ketika dirinya bereaksi dengan tubrukan Jean, Jean menggoyangkan pinggulnya secepat pacuan kuda, menubruk setiap sudut didalamnya.

"Bagaimana, Eren? Kau menikmati ini, kan?"

"Henghh! Berhenti-Aaah! Aaaah aaah!" Momen ketika Eren mendesah nikmat, Jean menemukan spot favoritnya, Ia menyengir kuda lalu menubruk lagi.

Saliva Eren mulai keluar, meski ukuran Levi tidak tertandingi, Jean memiliki skill yang lumayan jago dalam tusuk menusuk, rupanya kemesumannya tidak bohong belaka.

Geram melihat Eren mulai lupa diri karena sodokan kuda jejadian, ia menarik kepala Eren untuk lebih dalam lagi, penis besar itu kini memenuhi kerongkongan remaja itu.

Eren tersedak lagi, kesadarannya mulai mengumpul, lalu berkonsentrasi menghisap paman yang tak sabaran ini, Saliva dan lidah hangat itu membukus miliknya, Levi mulai menggeram nikmat lagi.

Jean tidak bisa menahan libidonya, kerapatan Eren memabg tiada duanya, ia mulai menyodok Eren tanpa berpikir lagi dengan kecepatan lari kuda, memanggil nama Eren.

Levi dan Jean yang berlomba membuatnya nikmat, membuat Eren ingin menyembur sekarang juga, cairan putih dari miliknya yang terlupakan kini menyembur ke perut Eren dan juga Jean, disusul milik Jean yang kini menabrak prostatnya.

"Henghh! Eren!"

"Hmmnffhh!"

Miliknya Levi pun ikut menyembur, Eren merasa tubuhnya penuh dari atas sampai bawah, kedua penis itu masih menancap sampai sejumlah cairan keluar merembes dari sela - sela.

Levi dan Jean mencabut secars bersamaan, Jean yang masih bernafas tersengal - sengal, berdebar - debar ketika melihat Eren yang berwajah yang penuh dengan cairan, tergeltak lemas diatas tempat tidurnya.

Levi tidak diam, ia sibuk mrngangkat badan Eren kepangkuannya, punggung Eren menyender di badan Levi, lalu tangan Levi membuka selangkangannya.

"Kau siap untuk final?" Bisik Levi, entah bertanya ke Eren ataupun Jean.

Jean berdiri dengan dungunya, masih bingung dengan intruksi Levi, tangan dingin itu nulai menjamah bagian vital Eren, rasa nyerinya membuat Eren membelalak.

"Aah, L-Levi...Mmhhhh.." Desahan Eren terhenti ketika bibir dingin itu mengulum bibir ranumnya dengan penuh nafsu, lidahnya langsung menginvasi tanpa permisi, suara berdecak saliva terngiang di telinga Jean.

"Nggh..Aahhh.." Eren menjulurkan lidahnya ketika Levi menarik mulutnya, menatap Levi dengan mata sayunya, saliva mereka masih tersambung.

Jari Levi mulai menekan disela - sela bokong Eren, beberapa cairan keluar, membasuhi jari Levi dan juga penisnya.

Nyeri mulai menerjang badan Eren selagi milik Levi yang besar masuk lagi, Eren terkejut sambil mendongakkan kepalanya. "Aaahh, Leviii~"

Milik Jean mulai berdenyut melihat ekspresi Eren yang membuka mulutnya , saliva dan air mata membanjiri wajahnya, ditambah kedua kakinya yang terbentang didepannya, sungguh lezat.

"Apa yang kau tunggu, hey kuda," Ledek Levi. "Eren menantimu,"

Antara kesal dan bingung ditambah sensasi ingin mengocok miliknya, Jean melemparkan wajah dungu. "M-maksud anda?"

Levi tidak melanjutkan ucapannya, tangannya kembali menyentuh lingkaran permukaan analnya, miliknya masih menancap.

Eren mengerang keras ketika Levi menarik lubangnya.

"Eren ingin dimasuki satu lagi..." Bisik Levi dengan seringaiannya, mulut Jean menganga, Eren sanggup 'memakan' dua sosis besar ini?

Ada sebersit rasa bersalah dan kasihan di hati Jean, tapi semua sirna ketika Eren membuka suara. "Henghh… Ayo Jean, jangan membuatku menunggu…" Bisiknya dengan suara yang membuat Jean kembali berdesir.

Tak berpikir dua kali, milik Jean langsung menghujam maksud tanpa permisi, Eren mendongak lagi, kini lidahnya sampai menjulur keluar, para pria yang menanam benih di tubuh Eren berhenti bergerak sampai nafas Eren kembali normal, tidak baik terus – terusan membuat jantungnya berdenyut terlalu cepat.

Jean memulai gerakan awalnya, liang milik Eren semakin sempit karena kehadiran Roti prancis milik paman dingin itu, cairan yang ia semburkan tadi membuat kedua penis ini bergerak lebih leluasa, disusul gesekan dari milik Levi.

Eren kembali mengerang, menahan, menggigit bibirnya sampai berdarah, bukannya ia ingin menolak sensasi yang sudah tertancap di tubuhnya, rasa nikmat dan gairah itu membuat pikirannya semakin tenggelam, ia tidak ingin tenggelam dalam kesesatan itu, rasa sakit satu – satunya membuat pikirannya sadar dari rangsangan hasrat.

Levi tidak diam seperti Jean yang menggoyangkan pinggulnya untuk masuk lebih dalam, bibirnya mulai bermain di tengku leher yang sudah penuh dengan bercak – bercak merah, tangannya yang menahan tubuh Eren kini bermain di kedua putingnya, Eren tak sengaja menggigit lidahnya.

"Hnghh! Aaaah…Aaah..Ahhh…" Rasa darah dan saliva bercampur menjadi satu, Eren pasrah mendesah karena sentuhan Levi, ia akui Levi tahu cara membuat Eren terbawa aliran kecanduan rasa nikmat, Levi mendekatkan bibirnya ke pipinya. Otomatis Eren ikut menengok kearahnya dan merasakan bibir Levi.

"Mnghhh…" Ia birkan Levi mengecap lidahnya yang berdarah dengan bermain dengan lidahnya, saling menggigiti bibir bawah dan melanjutkan cumbuan mereka yang panas, sampai tangan Eren mulai bermain di miliknya.

Jean cemburu melihat Eren begitu menikmati cumbuan dari seorang pria yang mengaku sebagai kekasihnya, ia tak mau kalah, ia gigit tengkuk leher Eren, sang pemuda yang dijadikan sandwich itu pun teralih perhatiannya.

Eren menarik bibirnya dari Levi, benang salivanya masih tersambung sampai Jean memutuskan benang saliva mereka, ia langsung menginvasi bibir Eren dan mengajaknya bermain lidah, Eren yang esadarannya mulai menipis, menyambut lidah Jean dan kembali terbawa aliran permainan Jean, muka kuda itu sungguh puas dapat menciumnnya sampai kecepatan sodoknya bertambah.

"Mmmnghh-Aafmmh-Hnghh…." Desahan Eren masih tedengung keras, Levi menambakan kecepatan miliknya, sampai ujung epalanya yang besar itu menabrak prostatnya duluan.

"Aaaahn!" Eren langsung melepaskan ciuman Jean dan mendongak, saliva mengalir dari permukaan bibirnya, kepalanya terasa seperti berputar – putar, mengagetkan tetapi nikmat, Levi menyeringai kepada Jean, mengklaim kemenangannya.

Si Kuda tidak mau kalah, ia tambahkan kecepatan miliknya sambil bergesek dengan milik Levi didalam anal Eren sambil mendesah dan berkeringat, ia rentangkan kedua kaki Eren untuk menghujamnya lebih dalam, Eren merasakan kakinya mulai keram.

Levi pun tidak mau kalah, penis gigantis itu mulai begerak cepat, menyundul sana sini, mencubit puting Eren dengan kasar, dan melupakan fakta kekasihnya masih remaja yang tubuhnya masih rentan untuk di kasari.

Rasa sakit mematikan indera perasanya, tuubhnya dipenuhi desakan hasrat dan rangsangan secara langsung lewat prostatnya, Eren tak peduli lagi siapa yang nikmat dan siapa yang benar, yang ia inginkan cairan kental yang mengisinya sampai ia tidak bisa bergerak lagi, ia ingin dipenuhi.

Kedua seme itu merasakan klimaks mereka yang akan datang, sedangkan milik Eren akan datang kesekian kalinya, desahan dan erangan Eren memicu mereka untuk berlomba siapa yang akan membuat Eren puas.

"Hnnh…Eren…"

"Henghh… Eren!"

"Aaaahn! Aaaah! Aaaah! E-Ennnh, d-datang, a-aku datang!" Desah Eren dengan erotisnya, lidahnya masih menjulur keluar dengan ekspresi ambigunya, kedua sosis besar itu akhirnya memuncratkan mayonnaise penuh dengan kental itu.

SPLRUUUUT.

Tak ada yang menarik penisnya dari lubang Eren selama mereka berhenti dan mengumpulkan oksigen setelah kilmaks bersamaan, Eren pun terkulai lemas dengan tarikan nafasnya yang pelan, Jean yang pegal dengna posisinya akhirnya mencabut pertama kali dari Eren, lalu cairan keluar dari bukaan itu.

"Hnghhh!" Sensasi rasa panas dan lengket keluar dari lubang analnya membuat Eren mendesah kecil, ia tidak bisa merahasiakan rasa nikmatnya dari kekasihnya yang menompang tubuhnya.

Levi menghela nafas, ia cabut miliknya dan merebahkan tubuhnya Eren di temapt tidur Jean, keluarlah cairan dalam jumlah yang lebih dari normal dari bukaannya Eren, Levi mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya yang tergelatak di lantai dan membersihan sela – sela kaki Eren seperti biasa, Jean speechless melihat mereka.

"Kalau kau sudah bisa jalan, ambil barangmu di kamar." Ujar Levi, seakan aktivitas yang mereka lakukan tadi tidak apa – apanya, celana jeans hitamnya langsung terpakai dengan cepat

Eren dengan energy tersisanya menarik tangan Levi ketika pria itu beranjak dari kasur, Jean masih berdiri dengan tampang bingungnya.

"J-jangan tinggalkan aku sendiri disini…L-levi…"

"Hm? Bukannya kau ingin bercakap dengan teman alumnimu lebih lama lagi?"

"Kau bicara apa…. Aku membutuhkanmu, Levi…" Ucapan terakhir Eren merubah pikiran Levi, ia kumpulkan pakaian Eren yang sudah lebih lama berserakan di lantai dari miliknya dan memakai kemejanya, ia angkat tubuh Eren dengan gaya bridal style.

"Semoga harimu menyenangkan, Kristchien," Ujar Levi dengan tampang datarnya, Jean tidak bisa mengelak lagi fakta bahwa Levi benar – benar kekasihnya,harapan Jean pupus, di ganti rasa bersalah karena secara tidak langsung ia sudah memperkosa temannya sendiri.

Apakah Eren akan memaafkannya?


"Levi, kau masih marah?" Tanya Eren setelah selesai membereskan packing pakaiannya di koper kecil berwarna merah, Levi tengah melototi lemari mini di sudut kanan, mengecek berulang kali supaya tidak ada yang ketinggalan.

Levi yang lelah ditanyai pertanyaan yang sama akhirnya membuka suara. "Menurutmu?"

"A-Aku telah melakukan kesalahan yang fatal…. Maksudku, mana ada pacar yang langsung tidur dengan orang lain ketika pacarnya pergi setelah ditidurinya…. Ah, aku sungguh kacau…"

Levi duduk di samping Eren, membuat pemuda itu bergetar ketakutan, telapak tangan yang dingin itu menepuk punggungnya. "Lupakan Eren…"

"Eh?"

"Lupakan kesalahanmu, sudah kumaafkan."

"Eeeh!? Se-Serius!?" Eren menganga tidak percaya dengan ucapan Levi yang sangat jarang berbaik hati kepadanya. "B-Bukannya kesalahanku tidak bisa dimaafkan?"

"Eren, kau sudah dihukum, kau tahu kan bagaimana rasanya memiliki selingkuhan? Kau harus sanggup menampung barang kami berdua atau kau pilih salah satu, sudah cukup jelas?"

Eren mengangguk, meski masih sedikit bingung. "T-Tapi aku masih tidak sreg karena aku masih merasa bersalah…" Levi menepuk jidatnya dalam hati.

"Sebenarnya apa yang membuatmu datang ke kamar muka kuda itu? Aku yakin kau pasti diiming – iming sesuatu sampai bisa lengah seperti itu."

Eren terdiam sebentar, pikirannya flashback dan mencari jawaban, ah! Ia ingat. "Uhm, ini masalah spele, semoga kau tidak marah ya…" Eren memainkan jarinya. "A-Aku bingung dengan perasaanmu…"

"Perasaanku?"

"Iya, aku tidak tahu apa maksudmu mengajak kesini dan meniduriku seperti salah satu mantan wanitamu, A-Aku memang tidak berpengalaman…. Aku hanya penasaran apa Sir mengajaku berpacaran ditempat seperti ini karena-"

"Perasaan yang disebut cinta?" Gulp. Tepat sasaran. Eren merasa ia baru saja mengatakan hal yang memalukan. "Uhm, lupakan! Aku tidak bermaksud-" Tangan Eren yang sedari tadi mengepal dan berkeringat dingin kini di genggam oleh tangan Levi.

"Kau tahu, alasan karena aku memacari macam bocah yang masih dibawah umur dan rela dianggap kriminal karena sudah menyetubuhimu-" Eren menatapnya lekat – lekat meski malu, wajah Levi yang begitu serius berbicara sanggup membuat jantung Eren berdetak cepat.

"-Karena aku tidak bisa melepaskanmu sejak awal kita bertemu." Manik hijau beradu dengan manik kelabu, mereka bertatapan selama beberapa detik tanpa suara. Uh oh, Eren baru sadar pria didepannya ini seorang posesif.

"Sekarang jelas, bocah, masih ada pertanyaan?" Levi mendekatkan wajahnya kepada Eren, memberi pandangan sabar nan tampan kepada remaja itu, Eren tambah gugup, tatapannya seakan ingin memakan tubuhnya.

"Apa aku bisa melakukan sesuatu untuk membuatmu memaafkanku sepenuhnya?"

"…..Kurasa ada." Rivaille menyeringai, dan menyelusupkan tangan dibalik kaos tebalnya, lalu kedua insan ini tenggelam di balik selimut sampai waktu check out dari hotel mendatang.

FIN

Omake

Eren mengerti ia telah menjalin hubungan dengan orang yang lebih dewasa dan berbahaya dengan hubungan yang sangat beresiko ini, tapi ia tahu Levi bukanlah orang yang memacari anak remaja untuk kepuasan sendiri, meski ia memang seks maniak.

Semenjak kejadian di hotel itu, Levi tidak pernah absen dari kehidupan Eren, ia sering menjemput, mengantar bahkan bertemu dengan orang tuanya beberapa kali, seperti pria itu berencana mau melamarnya ketika umur Eren sudah legal.

Antara bahagia dan was – was, Eren masih tidak nyaman dengan keberadaan Levi, alasannya ia takut ketahuan oleh teman – teman sekolahnya, apalagi Mikasa, sahabat yang memiliki kesamaan dengan pacarnya, rambut hitam, ganteng dan posesif, dan juga, Eren takut mengulangi kesalahan fatal seperti di waktu hotel itu.

Fakta atau bukan, Eren memiliki feromon yang mengundang kepada sesama jenis, jadi meski status Eren dimiliki Levi, bukan berarti ia aman tidak disentuh oleh pria – pria mesum, maka dari itu Levi tidak pernah lepas dari Eren kalau ia sedang sendiri.

Eren pun mulai tidak nyaman dijagai terus – terusan, pacaran saja seperti ini, bagaimana kalau sudah menikah? Bisa – bisa Eren dikurung selamanya seperti hewan ternak, protes pun Eren masih kalah ngotot dari Levi.

"Levi, sampai kapan anda menjaga saya seperti ini?" Tanya Eren dengan berat hati, disampingnya, seorang pria yang melepas jas hitamnya, kepanasan menemani Eren pulang dengan jalan kaki, mobilnya sedang dibengkel dan Levi rela jalan kaki hanya untuk menemani kekasihnya, romantis bukan?

"Sampai kau hamil,"

"Levi! Aku serius!"

"Shuush, berisik bocah, segitunya kau ingin selingkuh dariku, huh?"

"Jangan berprasangka buruk, Levi..." Eren menghela nafas, berjalan berdua dengan Levi serasa ia diberi kalung berantai yang tidak akan dilepas dari genggaman Levi, ia perlu berpikir ulang kalau pria mesum melamarnya beneran.

"Eren, kau lebih milih Threesome, atau denganku?" Tanya Levi tiba – tiba.

"Heh!? Kok anda bertanya seperti itu?" Panik menerjang Eren, masalah aib yang sudah dikubur dalam – dalam, digali lagi.

"Di handphonemu ada nomor Jean."

"Ah, si muka kuda i-itu... Dia hanya mengirimku pesan minta maaf karena soal itu..."

"Dan kau memaafkannya?"

"Uhm... Memangnya tidak boleh?"

"...Baiklah." Levi langsung menarik ponsel dari saku celana di bokong Eren. "Eh! Mau kau apakan handphoneku!?"

"Mau telpon dia."

"Eh? Buat apa?" Eren bingung melihat sikap Levi yang aneh ini, biasanya ia langsung menghapus nomor yang berpotensial menjadi saingannya.

"Mengajaknya dia Threesome lagi."

"EH!? JANGAAAAAAAAN!"

"Kenapa? Kukira kau menyukai-"

"Tidak mau! Aku hanya milik Levi seorang!"

Levi tak bisa menahan wajahnya untuk tersenyum, Eren terkena panah cupit yang ke sekian kali melihat wajah tampan itu.

"Good boy, Eren." Levi mengusap kepalanya, Eren malu diusap kepalanya seperti anak kecil di tengah jalan.

Hari mereka diakhiri oleh perbincangan serius ketika Levi mampir lagi ke rumah Eren, Eren langsung menerima lamaran Levi tanpa berpikir dua kali, ia akui seanehnya Levi, ia tidak mungkin bisa lepas darinya.

THE END

A/N : Halooo! Terima kasih membaca sampai akhir, maaf kalau masih ada typo dan penempatan kata yang salah x'3 dan maaf sekali kalau saya sadis kepada Eren, toh Eren menikmati ini kok, namanya juga pwp hehehe xD Semoga Omakenya juga menghibur ya xD
Sekali lagi, mohon maaf kalau cerita ngawur, inilah hasil imajinasi seorang fujo yang lagi demen Threesome xD senang bisa berbagi dengan kalian x3