Hurt
By Cendy Hoseki
Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : KakaSaku
Genre : Romance/Hurt
Warning : Canon, Maybe OOC
Keterangan : yang di Italic merupakan potongan ingatan
-KakaSaku-
Hujan masih terus mengguyur desa Konoha. Meskipun kadarnya tidak sebanyak kemarin. Seolah memberi kesempatan pada sekumpulan manusia yang berkumpul di pemakaman Konoha untuk lebih berlama-lama di sana. Wajah mereka tampak sayu. Beberapa dari mereka bahkan tak sanggup membendung air matanya lagi. Di tangan mereka tergenggam setangkai mawar putih. Tujuan mereka datang ke sana hanya satu, yaitu memberi penghormatan terakhir pada pahlawan Konoha. Ahh, tidak… Bukan hanya pahlawan bagi Konoha, tapi juga pahlawan bagi dunia ninja. Berkat mereka, perang besar yang melanda dunia ninja hanya menjadi sebuah kenangan.
Dari wajah-wajah sendu yang ada di sana, tampak wajah para Kage yang juga menyiratkan duka yang mendalam. Wajah Gondaime Hokage yang biasanya selalu menyiratkan ketegasan, kini menampakan kesedihan yang luar biasa. Air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya. Di sampingnya nampak Kazekage yang menatap kosong ke arah foto-foto yang berderet. Pemimpin Desa Suna itu sendiri nampak tidak menyangka hal ini akan terjadi. Hal yang paling ditakutinya kini sudah terjadi. Dan dia tidak tahu apakah harus senang atau sedih. Senang karena perang telah berakhir dan itu berarti korban jiwa dari Suna dapat dikurangi. Atau sedih karena perang ini telah merenggut sesuatu yang sangat berharga darinya. Entahlah, ini seperti buah simalakama baginya. Ingin sekali dia menangis dan berteriak. Tapi, bila ia menangis, siapa yang akan memberi contoh pada teman-teman dan rakyatnya untuk tetap tegar? Biarlah kini ia berpura-pura tegar untuk mereka yang tengah rapuh. Biarlah kesedihan ini hanya ia yang merasakan.
Para Kage boleh lega karena perang sudah berakhir. Namun tak ada yang mengira bahwa pengorbanan yang di lakukan harus sebesar ini. Perang ini mengambil para shinobi terbaik mereka, menghancurkan desa mereka, bahkan memaksa mereka bertarung dengan para leluhur. Mereka boleh saja berpikir bahwa mereka semua sama-sama rugi. Tapi bagi Gondaime Hokage, Konoha-lah yang paling merugi. Karena sasaran musuh utama musuh adalah Konoha. Mereka adalah mantan shinobi Konoha dan mereka melmpunyai dendam yang sangat besar pada Konoha. Maka tak heran, bila Konoha-lah yang dibuat paling babak belur. Desa mereka kini hampir rata dengan tanah. Konoha juga telah kehilangan beberapa shinobi harapan mereka. Shinobi yang dicanangkan akan memimpin Konoha di kemudian hari. Ironis memang. Tapi apa boleh buat?
Gondaime Hokage maju ke depan, ia meletakkan setangkai bunga di hadapan foto-foto itu. Di tatapnya dua foto yang terletak di tengah-tengah. Ia tersenyum kecil menatap foto pemuda berambut pirang yang tengah tersenyum lebar, "Dasar bodoh! Kau mengingkari janjimu padaku, anak nakal."
Tatapannya beralih ke arah foto yang satu lagi. Foto seorang missing-nin. Wajah datar tanpa ekspresi itu membuat sang Hokage tersenyum lembut, "Terima kasih, bocah."
Hokage mulai berbalik, memberikan kesempatan pada yang lain untuk memberikan penghormatan terakhir.
.
.
"Pokoknya aku ingin berlatih agar bisa membawa Sasuke pulang"
"Dasar bodoh! Lebih baik kau menjalankan misimu lebih dulu! Berlatih bisa kapan saja, bocah!"
"Dasar nenek-nenek cerewet!"
"Apa katamu?"
"Waaa… Nenek Tsunade mengamuk."
"Kemari kau, bocah nakal!"
.
.
Tsunade tak dapat lagi membendung air matanya yang makin deras ketika sekilas ingatan tentang Naruto muncul, "Dasar bodoh!"
"Kakak… Kak Tsunade tak apa kan?" Shizune nampak cemas melihat sang gondaime hokage yang tiba-tiba terisak makin keras."
Tsunade menarik nafas dalam-dalam sambil terus menunduk, "Ya, aku tak apa."
Kakashi yang berdiri di dekat Hokage hanya mampu terdiam. Ia merasa gagal menjadi sensei bagi murid-muridnya. Seharusnya ia yang melindungi mereka. Seharusnya ia yang mati. Seharusnya kedua muridnya masih hidup. Andai ia yang mati, tentu orang-orang tak akan mengalami rasa kehilangan yang demikian besar. Sensei macam apa dia? Melindungi muridnya sendiri saja tidak bisa. Ia sudah gagal!
"Kakashi, ini giliranmu." Ucap Maito Gai pelan. Leleki nyentrik berambut bob itu menatap rekannya dengan pandangan pilu. Bagaimanapun, ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pria berambut silver itu. Meskipun Kakashi terlihat tenang dan bersikap biasa saja, Gai dapat menebak bahwa di dalam hatinya pasti jounin kebanggan Konoha itu sedang menangis.
Kakashi mengangkat kepalanya, dengan perlahan ia melangkah menuju tempat dimana Sakura berdiri dengan di topang oleh Ino. Dengan sebuah anggukan, Ino melepas Sakura sehingga gadis bermata emerald itu kini berdiri dengan di topang oleh Kakashi.
"Sai, Yamato… Ayo." Kakashi tersenyum di balik maskernya, mengajak Sai dan Yamato agar ikut serta dengan mereka.
"Tidak. Kalian dulu saja. Kami akan menyusul nanti." Yamato menjawab ajakan Kakashi sambil tersenyum kecil. Ia tahu, ini adalah moment terakhir bagi team tujuh. Dan Yamato cukup sadar bahwa Ia dan Sai bukan anggota team tujuh, mereka berdua hanyalah pengganti. Karena itu ia tidak ingin mengganggu, biarlah ini menjadi moment bagi team tujuh yang sesungguhnya. Team yang terdiri dari Kakashi, Sasuke, Naruto, dan Sakura.
Kakashi mengangguk, lalu dengan perlahan ia menuntun Sakura untuk melangkah maju. Sakura sendiri sedari tadi pandangannya kosong. Seolah-olah, jiwa-nya tak ada di situ bersama raganya.
"Sakura, ayo kita sapa Sasuke dan Naruto."
"…" Sakura hanya diam. Tak menjawab dan tak juga merespon. Tentu saja ini membuat Kakashi tersenyum kecut.
"Hai, Sasuke… Naruto…" Ucap Kakashi sembari meletakkan dua tangkai bunga di depan foto kedua muridnya, "Apa kabar? Bagaimana keadaan kalian di sana? Aku harap kalian tidak sedang berduel di sana."
"…"
"Sakura, ucapkan sesuatu untuk mereka."
"…"
"Ini pertama kalinya kita berkumpul setelah sekian lama. Apa kalian senang?"
"…"
"Kalian tahu, sepertinya Sakura marah karena kalian pergi begitu saja."
"…"
"Ia bahkan mengacuhkan aku juga."
"…"
"Menurut kalian apa yang harus kulakukan?"
"…"
"Biasanya dalam situasi seperti ini, kau yang akan menggodanya habis-habisan, Naruto. Merayunya dengan bermacam-macam rayuan gombal. Dan akan berakhir dengan wajah babak belur karena dihajar Sakura."
"…"
"Dan Sasuke seperti biasa, hanya akan mendengus."
"…"
Kakashi menghela nafas, ia mulai putus asa menanti Sakura menimpali ucapannya, "Kalian baik-baiklah di sana. Jangan bertengkar terus."
"Naruto… Sasuke…"
Kakashi menoleh ke arah gadis berambut merah muda itu. Akhirnya gadis ini bereaksi juga.
"Kenapa? Kenapa kalian pergi meninggalkanku?" ucap Sakura begitu lirih. Air mata mulai mengalir lagi dari kedua mata emeraldnya
Kakashi merasa miris dengan keadaan anak didiknya. Sakura yang biasanya tegar, kuat, dan ceria kini tertunduk lemah. Sungguh mau tak mau ini membuat hati Kakashi bagaikan di hujani dengan seratus kunai secara bersama-sama, dimana kesakitannya benar-benar luar biasa terasa hingga ke sumsum.
"Sa… Sakura…"
"Kenapa? Apa kalian muak denganku? Apa kalian bosan dengan tingkahku? Atau kalian memang membenciku?"
"Sakura, sudahlah…" Kakashi mengeratkan genggaman tangannya yang saat ini menopang Sakura.
"KENAPA? JAWAB AKU! NARUTO! SASUKE! JAWAB!" Sakura berteriak makin kencang. Membuat semua orang yang ada di situ terkejut sekaligus miris. Mereka mengerti apa yang dirasakan gadis berambut merah muda itu. Setelah sekian lama dirinya menanti saat-saat dimana team tujuh bisa kembali lengkap seperti dulu, berharap bisa menjalankan misi bersama, latihan bersama, berkumpul bersama. Apakah ini hasil penantiannya selama ini? Apakah ini yang takdir berikan untuknya? Persetan dengan takdir! Dia hanya ingin kedua sahabatnya kembali! Dulu ia sudah pernah berhenti berharap. Dulu ia sudah lelah berangan-angan. Dulu ia sudah nyaris membuang mimpinya. Tapi apa? Takdir seolah memberinya harapan baru baginya. Seolah mimpinya akan segera jadi nyata ketika saat itu Sasuke tiba-tiba datang di hadapannya dan Naruto, ketika Sasuke membantu Naruto yang sudah terdesak melawan Madara dan Kabuto yang memakai edo tensei.
.
.
.
"Sa… Sasuke…?"
"Sasuke! Apa yang kau lakukan? Lawanmu mereka! Bukan aku!"
"…"
"Sasuke-kun. Kau kembali?"
"Pergilah Sakura! Kau hanya akan menghambat saja!"
"Sasuke? Ahh… Sasuke benar Sakura-chan. Carilah tempat yang aman untuk bersembunyi! Biar aku dan Sasuke yang mengurusnya!"
"Huhh… Seharusnya sudah ku duga kalau kau akan seperti ini, kau tak ada bedanya dengan kakakmu yang bodoh itu!"
"Jangan pernah menghina Itachi! Brengsek!"
"Sasuke!"
"Cepat pergi Sakura!"
"Tapi Naruto…"
"Kami akan kembali. Percayalah!"
"Naruto! Sasuke!"
.
.
.
BRAAAAKKK!
Dengan sekuat tenaga, Sakura membalikkan meja yang diatasnya terdapat foto-foto shinobi yang akan dimakamkan. Semua foto dan bunga-bunga yang terletak di atas meja itu berjatuhan. Semua yang hadir terkejut. Tidak menyangka kalau gadis ini akan bertindak sampai seperti ini.
"Kalian bohong! Kalian bohong padaku!"
Kakashi yang awalnya sempat tak berkutik beberapa lama karena terkejut segera sadar. Dengan segera ia berusaha menenangkan gadis itu, "Sakura… Sudah cukup." Ucapnya sambil menarik gadis itu dalam pelukannya.
"Lepaskan aku! Kau sama halnya dengan mereka. Kau juga seorang pembohong, Sensei!" Sakura meronta dalam pelukan Kakashi. Ia memukul dada bidang Kakashi sekuat tenaga.
"Sakura, tenanglah!"
"Kalian pikir kalian bisa seenaknya hah? Karena kalian pikir aku yang paling lemah?"
"Sakura…" Kakashi mendesis pelan, ia masih kewalahan menenangkan Sakura.
"Aku benci kalian! Aku muak dipermainkan seperti ini!"
"Sakura!" Kakashi memukul pelan titik kesadaran murid gadisnya, sehingga gadis itu kini jatuh pingsan dalam dekapan Kakashi.
Kakashi menghela nafas, antara lega dan sesak. Lega karena berhasil mencegah muridnya melakukan keributan. Dan sesak karena ia tak tega juga dengan keadaan gadis dalam dekapannya. Ia mengerti perasaan Sakura. Kecewa, marah, sedih pasti sudah menumpuk jadi satu dalam batin murid Tsunade ini.
"Maafkan aku, Sakura." Gumam Kakashi lirih sembari mengangkat Sakura yang pingsan.
Para pelayat nampak terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan Gondaime Hokage tak mampu mengambil tindakan apapun. Ia masih cukup terkejut dengan perlakuan muridnya itu. Beberapa shinobi tampak maju dan membereskan kekacauan yang tadi ditimbulkan oleh Sakura.
"Kakashi, cepat bawa Sakura ke rumah sakit! Aku akan segera memeriksa kondisinya!" Hokage kelima itu berkata dengan tegas, tampak sekali wanita paruh baya itu khawatir dengan keadaan Sakura.
"Kak Tsunade, Kakak tidak bisa pergi!" Shizune menarik tangan Tsunade yang hendak beranjak.
Hokage wanita yang pertama di Konoha itu menatap Shizune dengan tajam, "Aku akan memeriksa kondisi Sakura!"
Shizune menarik nafas dalam-dalam, "Kakak tidak bisa pergi! Sebentar lagi kakak ada rapat dengan para Kage dan para Daimyo," Shizune menatap kakak sekaligus sensei-nya dengan tegas, "dan kakak tidak bisa membatalkan rapat ini, karena besok para Kage dan Daimyo harus sudah kembali ke tempat mereka masing-masing."
Tsunade berdecak kesal, "Ino, segera kau periksa kondisi Sakura di rumah sakit. Periksa seluruhnya. Kau mengerti?"
Ino mengangguk paham, "Baik. Ayo Kakashi-Sensei."
Tsunade hanya mampu melihat kepergian mereka dengan tatapan khawatir, "Semoga kau baik-baik saja, Sakura."
Dan hujan kembali turun dengan deras membasahi bumi. Seolah turut menangis melihat gadis berambut merah muda yang kini terlihat lemah dan tak berdaya dalam dekapan sensei-nya.
.:TBC:.
Catatan Author :
Halo minna-san… Gomen kalo fict ini telat banget update-nya. Kebetulan saya sedang banyak kegiatan di dunia nyata. Jadinya fict ini agak terbengkalai deh. Yosh, semoga masih ada yang berminat untuk membaca.
Oya, di chapter ini belum kelihatan KakaSaku-nya ya? Saya memang berencana untuk membuat alurnya sedikit agak lambat. Saya ingin perasaan yang mengalir di keduanya tidak terjadi secara instant, tapi melalui proses yang agak panjang.
Lalu mengenai adegan fighting SasuNaru vs MadaKabu akan saya selipkan di beberapa flashback. Jadi para reader sekalian bisa tahu bagaimana pertarungan mereka dan mengapa SasuNaru bisa meninggal begitu saja. Tenang saja, akan saya jelaskan satu persatu kok.
Oke, saatnya balas review yang gak login dulu.
~ Kaguya : Halo Kaguya… Hooo… Yupz di sini Sasuke memang di buat udah meninggal duluan. Ini semua demi kepentingan cerita. Hohohoho… Arigatou udah mau baca and review…
~ Mokochange : Halo Moko… Aduh maaf ya kalo dah buat Moko jadi sedih gitu. Awalnya gak rela juga kalo buat KakaSaku jadi menderita gitu. Tapi mau gimana lagi… #nangis sambil meluk Kakashi#... Emm… Tentang happy ato sad ending, saya belum bisa jawab sekarang. Kalo Moko maunya gimana? Oya makasih udah baca and review
~ Ichaa Hatake Youichi ga login : Halo Ichaa… Iya ini udah update. Apa chapter 2 ini masih kurang panjang? Makasih udah baca and review
~ Rizu Hatake-hime gak login : Halo Rizu… Ini udah update. I love KakaSaku too… Makasih udah baca and review
~ Cyrax : Halo Cyrax… Iya udah update nih… Makasih udah baca and review
~ Fire Knight17 : Halo Fire… Iya saya memang sengaja ambil setting canon. Makasih udah baca and review
~ HarunoZuka : Halo Zuka… Duh maaf chap 2 nya telat banget. Makasih udah mau baca and review
~ Rie HanaKatsu : Halo Rie… Aduh maaf ya udah buat Naruto tercinta meninggal. Hmm… Rie mau tau keadaan jasad Sasuke? Nanti akan saya cantumkan kok bagaimana kondisi SasuNaru saat meninggal. Di sini KakaSaku gak akan ada pengganggu kok. Tenang aja. Cerita ini hanya milik mereka berdua. Makasih udah baca and review
Yang login, akan saya balas via PM aja ya?
Jujur saya nggak mengira kalo fict ini akan dapat tanggapan yang positif begini. Awalnya saya menulis fict ini karena memang ingin menyalurkan imajinasi saya yang abal ini. Dan saya sangat senang fict ini bisa diterima para KakaSaku lovers.
Oke, chapter 2 ini saya persembahkan untuk :
Kaguya, Mokochange, Lavin-chan, Ichaa Hatake Youichi ga login, Pitophoy, Rizu Hatake-hime gak log in, winter sky blossom, Cyrax, Fire Knight17, HarunoZuka, HakuZuka, Rie HanaKatsu, dan tentu saja untuk para pecinta KakaSaku.
Silakan sampaikan kritik, saran, dan uneg-uneg reader sekalian melalui review atau PM. Maaf kalo chapter dua ini mengecewakan.
Arigatou,
.Cendy Hoseki.
