Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 2 – Pengawal Kerajaan
Genre : Saeguk, Shounen-ai
Rating : T
Length : Chaptered with 3.703 words
Author : leenahanwoo
Pairing: Kid x Law
Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law and OC
Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !
Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.
NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!
Previous question bikin saya muter otak untuk menentukan umur Law dan Kid. So here are their ages.
Law = 20 y.o
Kid = 17 y.o
Glossary
Bin : Selir senior tingkat 1 (1st senior rank of Joseon King's concubine)
~untuk istilah lain yang tidak ada di glossary ini, bisa dilihat pada glossary chapter sebelumnya~
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Pemuda bermata keperakan itu sedikit gemetar. Dia tidak bisa berdiam diri, apalagi di tengah bahaya yang mengancam jiwanya. Law pun berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman itu terlalu kuat.
"Tenanglah, atau kita akan ketahuan," bisik orang itu tepat di telinganya.
Bisikan itu membuat Law terdiam dan berhenti bergerak. Bulu kuduknya meremang, bukan karena takut, tapi karena dia mengenali suara itu.
Orang itu menoleh ke arah pintu, memastikan bahwa penghuni kamar itu belum kembali. Perlahan, dia melepaskan cengkeramannya sembari memberi peringatan, "Jangan buat keributan."
Merasa tangannya telah bebas, dengan segera Law berbalik dan menoleh. Betul saja dugaannya. Si pengawal kerajaan kurang ajar berdiri tepat di hadapannya.
"Kau! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pemuda itu. Mata peraknya menyipit curiga.
"Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau mengikutiku?" Dia mendengus pelan.
"Kau patut dicurigai, Tuan Pengawal. Diam-diam kau memasuki ruangan utusan dari Qing, apa itu tidak aneh? Untuk apa seorang pengawal kerajaan memasuki kamar tamu kenegaraan tanpa izin? Aku bahkan berpikir, jangan-jangan kau ini bukan pengawal kerajaan, tapi mata-mata. Atau bahkan mungkin pembunuh bayaran."
Pengawal itu melotot karena mendengar semua tuduhan itu. "Apa? Enak saja. Aku ini betul-betul pengawal kerajaan. Kau bisa lihat tanda pengenalku." Dengan sebal, dia menunjukkan tanda pengenal berupa potongan kayu halus berhiaskan rumbai berwarna merah khas petugas kemiliteran. Sebuah nama dalam huruf hanja terukir indah di atasnya. Satu huruf saja? Law mengernyit bingung.
"Namamu … Kid?"
Dia mengangguk. Tapi Law malah makin menyipitkan mata.
"Kau mau mengelabuiku? Tidak mungkin namamu hanya ini. Nama yang aneh pula. Kau pasti bukan pengawal kerajaan, bukan? Kau mata-mata dari mana?" cecarnya.
Kembali, pengawal itu membekap mulut Law, membuat pemuda itu mengerang protes. Sayup-sayup, suara gerisik di luar kamar menyapa telinganya, membuat mereka terdiam kaku.
"Siapa di dalam?" Terdengar teriakan dalam bahasa Cina dari luar kamar.
Law kembali merasa sedikit ketakutan. Pengawal itu tampak tenang-tenang saja, walau pemuda itu merasakan telapak tangan yang membekap mulutnya itu berkeringat tanda cemas. Keduanya memastikan tak mengeluarkan suara sama sekali, berharap siapa pun di luar sana batal memeriksa kamar ini dan pergi.
"Tuan, Menteri Jin mencari Anda." Suara lain terdengar menghampiri si suara pertama. Jawabannya tak jelas, hanya berupa gumam. Namun suara langkah kaki menjauhi kamar cukup membuat kedua orang itu menarik napas lega.
"Dengar," si pengawal mencurigakan itu berkata pelan, "aku tidak tahu mengapa kau mengikutiku. Tapi sebaiknya kau segera pergi. Aku sedang melakukan tugas penting, dan kau tidak seharusnya berada di sini."
"Tugas apa? Tugas untuk mencelakai para utusan?" Law masih bersikeras dengan pemikirannya.
Pengawal itu mendesah. "Tentu saja bukan. Ini tugas penting dari Kepala Pengawal Kerajaan. Aku sedang mencari … ah, mengapa aku harus mendiskusikan ini padamu?" Dia memijat pangkal hidungnya.
"Karena aku sangat mencurigaimu." Dari sejak awal kau memergokiku di paviliun biro musik, kau memang tampak mencurigakan, tambah Law dalam hati. "Jadi sebaiknya kau katakan siapa dirimu dan mengapa kau mengendap-endap masuk."
Kid, pengawal itu, bersandar pada salah satu dinding terdekat, menyilangkan kedua tangan dan memasang sikap mempertahankan diri. "Jika kukatakan siapa aku dan apa alasanku, apa untungnya bagi budak sepertimu?"
"Tidak ada," jawab Law seadanya. "Aku hanya ingin tahu, dan jawabanmu penting untuk menghilangkan rasa ingin tahuku."
Dia mendesah lagi, lelah berdebat dengan pemuda di hadapannya. "Baiklah, akan kukatakan sejujurnya. Tapi jangan kau bocorkan hal ini pada siapa pun."
Law mengangkat bahu. "Aku hanya seorang budak. Siapa yang akan mempercayai perkataanku?"
Pengawal itu menurunkan tangannya, lalu ia mulai berkata, "Seperti yang kau lihat, aku seorang pengawal kerajaan berpangkat rendah. Kepala Pengawal memerintahkanku untuk mencari informasi apa pun perihal maksud di balik kedatangan utusan dari Qing yang lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Yang Mulia Raja sendiri yang memerintahkan tugas ini. Karena itu prajurit Biro Investigasi tidak diturunkan menjaga Mohwagwan, melainkan pengawal kerajaan, agar tugas ini dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan kecurigaan dari para utusan itu."
"Kau bilang kau hanya pengawal kerajaan biasa."
"Aku memang hanya pengawal biasa. Kau sudah melihat tanda pengenalku, bukan? Aku hanya pengawal kerajaan tingkat terendah."
"Tapi Kepala Pengawal memberikan perintah kepadamu."
"Dan kepada beberapa pengawal kerajaan lainnya. Semakin rendah pangkatnya, semakin tidak mungkin orang mencurigai kami."
Law menilik orang di hadapannya, menilai-nilai apakah perkataannya dapat dipercaya. Sekalipun ruangan itu tak begitu terang, namun dia tidak melihat sorot mata dusta dari si pengawal. "Baiklah, aku rasa kau tidak berbohong."
"Tentu saja." Kid berdecak sebal. "Sekarang kau sudah tahu apa tujuanku berada di tempat ini. Jadi sebaiknya kau segera pergi dari sini sebelum benar-benar ada yang memergokimu."
Dia bangkit dan berdiri tegak, lalu menyusuri ruangan itu. Di atas meja dan lemari pajangan terdapat beberapa buah buku, dan dia mulai memeriksanya dengan teliti. Laci-laci pada lemari dan nakas pun diperiksa, namun hasilnya nihil. Sementara Law, sama sekali tak beranjak dari tempatnya meskipun telah diusir untuk yang kedua kali. Entah mengapa dia suka melihat apa yang dilakukan oleh pengawal itu. Mengendap-endap, mencari hal yang sulit ditemukan, melaksanakan perintah dari atasan; semua itu adalah hal yang baru baginya, dan dia menyukai hal tersebut. Bagai tantangan untuk diselesaikan dalam sanubari, dia pun ingin turut memecahkannya.
Ketika Kid selesai memeriksa seluruh ruangan dan tak menemukan bukti yang berarti, dia menoleh dan terkejut mendapati Law yang masih termangu di tempatnya. "Mengapa kau belum pergi?"
"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Joseon dan Qing." Bukannya menjawab pertanyaan, pemuda itu malah mengajukan pertanyaan baru.
Pengawal itu membuka mulut, terheran-heran. "Ini rahasia negara."
"Katakan padaku, dan aku akan memberitahumu apa yang aku ketahui." Ya, Law tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Jin daegam dan Jang yeonggam. Namun dia ingin tahu lebih jauh, lebih kepada akar permasalahannya.
Kali ini mata Kid menyipit, bukan curiga, tapi seakan memberitahu bahwa salah satu pemikirannya terbukti benar. "Sudah kuduga kau mengetahui apa yang tidak kuketahui."
"Jadi?" Senyum Law melebar. Pertukaran informasi ini akan sangat menarik.
Dia tampak menimbang-nimbang, memilih informasi apa yang harusnya ia bagi. Hingga akhirnya dia menyetujui pertukaran ini dan berkata, "Baiklah, akan kukatakan sedikit dari apa yang kuketahui. Sebagai gantinya, kau harus memberitahuku apa yang kau ketahui."
"Cukup adil." Senyum penuh kemenangan menghiasi wajah Law.
Kid menarik napas satu kali, lalu mulai berujar, "Utusan dari Qing datang lebih cepat ke Doseong, dan mereka membawa plakat pengakuan Putra Mahkota. Plakat ini memang telah ditunggu-tunggu sejak tahun lalu. Namun kedatangan utusan Cina yang tiba-tiba membuat Yang Mulia Raja curiga, karena utusan Qing datang jauh lebih cepat dari kunjungan tahunan yang mereka rencanakan. Oleh karena itu, Yang Mulia memerintahkan pengawal kerajaan untuk menyelidiki. Dan lagi, saat ini Joseon sedang membangun benteng di Gunung Ganghwa. Bisa jadi mereka merasa resah karena hal itu."
Mendengar pertahanan kerajaan Joseon disebut membuat Law membelalakkan mata. "Kau bilang apa? Membangun benteng?"
Kid melirik Law, melihat perubahan raut wajah si pemuda bermata keperakan. "Iya, Joseon sedang membangun benteng baru di sekitar Gunung Ganghwa. Tentu benteng itu dibangun di atas tanah Joseon, jadi seharusnya tidak akan menjadi masalah besar bagi batas kedua negara. Tapi tetap saja kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh kerajaan tetangga."
Tentu saja. Semuanya hampir jelas saling berhubungan di dalam pikiran Law. Dinasti Qing mungkin merasa terancam dengan benteng yang sedang dibangun itu. Bisa jadi mereka berpikir Joseon tengah mengumpulkan kekuatan yang jauh lebih besar daripada mereka. Oleh karena itu mereka datang membawa plakat pengakuan Putra Mahkota, dan itu pula yang mendorong mereka untuk menukarnya dengan Arsip Registrasi yang berisikan peta kekuatan prajurit Joseon secara diam-diam. Mereka ingin bersaing, atau mungkin menghancurkan …
"Hey, apa yang kau pikirkan?" Suara Kid menghentikan rentetan hal dalam pikiran Law.
"… Arsip Registrasi …." Law bergumam.
"Huh? Bagaimana kau …?" Pengawal itu mengernyit heran. "Ada apa dengan Arsip Registrasi?"
"Di mana Arsip Registrasi disimpan?" Law mendekati Kid dengan mata memancarkan ketakutan dan wajah panik. "Apa … apa arsip itu ada di Kantor Arsip Kerajaan?"
"Tidak," jawab si pengawal singkat.
"Tidak?"
"Arsip Registrasi ada di tangan Yang Mulia Raja. Karena isinya yang sangat rahasia, Yang Mulia sendiri yang menyimpannya."
"Bagaimana … kau tahu?" Law merasa pengawal di hadapannya ini bukanlah pengawal biasa. Dia mengaku sebagai pengawal kerajaan berpangkat rendah, dan tanda pengenalnya pun menunjukkan hal yang sama, tapi dia mengetahui hal-hal bersifat rahasia seperti ini. Bagaimana bisa?
"Karena aku sendiri yang mengambil salinan arsip itu secara diam-diam dari kantor di Pyongyang. Atas perintah Kepala Pengawal Seo, tentu saja. Dan beliau mengatakan bahwa sekarang arsip itu sudah disimpan dengan aman oleh Yang Mulia sendiri."
Law bernapas sedikit lega. Berarti Jang yeonggam tidak akan menemukannya dengan mudah. Dan pertukaran itu sendiri adalah sebuah kejahatan besar, pengkhianatan terhadap tahta kerajaan, dan jelas akan merusak hubungan diplomatik antara kedua kerajaan besar itu. Bila benar pejabat itu akan menukarkan plakat pengakuan Putra Mahkota dengan Arsip Registrasi, maka harus ada yang mengetahui hal ini dan melaporkannya kepada yang berwenang. Tapi … apa pengawal di hadapannya ini bisa dipercaya? Sekalipun pemuda itu cukup percaya dengan semua perkataannya, tapi bagaimana jika itu hanyalah tedeng? Jangan lupakan dua faksi politik yang saling bersaing di Majelis Dewan Kerajaan. Bagaimana jika dia adalah seorang pengawal kerajaan yang digerakkan oleh salah satu faksi yang akan memanfaatkan keadaan ini untuk menjatuhkan faksi lainnya?
"Sekarang giliranmu memberitahuku apa yang kau ketahui."
"Jika aku memberitahumu tentang hal ini, apa kau akan menyampaikannya langsung kepada Kepala Pengawal?"
"Apa kau pikir aku salah satu orang bawahan faksi di Majelis Dewan Kerajaan?" Tampaknya dia mampu membaca apa yang Law pikirkan. "Aku memang pengawal kerajaan rendah, tapi aku taat hukum dan pada perintah atasanku. Dan aku tidak memihak pada faksi mana pun, jadi kau tenang saja."
Mata keperakan pemuda itu menatap mata Kid lekat-lekat. Mata itu tetap memancarkan kejujuran, tapi baru sekarang ia menyadari ada yang berbeda pada kedua irisnya. Itu bukanlah warna mata kecokelatan khas penduduk lokal. Sayangnya ruangan itu tak mendapat cukup cahaya untuk bisa mengetahui warna iris si pengawal, membuat Law sedikit kecewa.
Namun dia segera menepis pikirannya yang berkelana, fokus pada apa yang harusnya dia lakukan sebagaimana perjanjian di antara mereka. Menarik napas satu kali, Law pun mulai menceritakan apa yang terjadi ketika dia mengantarkan gisaeng ke kamar Jin daegam, percakapan yang dia dengar di antara Jin daegam dan Jang yeonggam, hingga perjanjian mereka untuk menukarkan plakat pengakuan Putra Mahkota dengan Arsip Registrasi. Kid mendengar semua itu dengan wajah kaku, dan Law dapat melihat pancaran kemarahan dari ekspresi itu.
"Kau … yakin dengan apa yang kau dengar?" tanyanya.
Law mengangguk. "Walaupun mereka berbicara dengan nada pelan, tapi aku yakin betul Jang yeonggam sedang mencari Arsip Registrasi untuk diberikan sebagai ganti plakat pengakuan dari Qing."
Lama pengawal itu terdiam, memproses informasi yang baru saja dia dengar. Tangannya mengepal kuat, agar amarah yang terpancar tidak membabi buta dan menggelapkan pikiran. Tarikan napasnya dalam, berusaha mengenyahkan emosi yang membuncah. Setelah dirasa pikirannya telah cukup tenang, barulah dia berdiri tegak dan berkata, "Ikut aku."
Mata Law membulat mendengar reaksi singkat si pengawal kerajaan. "Ikut denganmu? Ke mana?"
Tak banyak bicara, Kid menarik lengan Law dan keluar
dari kamar itu tanpa mengindahkan protes dari si pemuda beriris perak.
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Area yang menjadi kantor untuk Pengawal Kerajaan berada pada salah satu kompleks istana tak jauh dari pintu gerbang kerajaan. Terlihat beberapa orang pengawal menjaga area kantor dengan ketat, karena tidak sembarang orang mempunyai akses untuk masuk ke sana kecuali keluarga kerajaan dan pejabat tingkat 5 teratas. Kid membawa Law ke kantor tersebut bukan tanpa alasan. Setelah mendengar pengakuan pemuda itu di salah satu bilik milik utusan dari Qing, dia memutuskan bahwa informasi ini sebaiknya tidak dia sampaikan sendiri pada Kepala Pengawal Kerajaan. Jika apa yang dikatakan budak bermata perak itu benar, bahwa ada pertukaran rahasia yang sedang dilakukan oleh pejabat pemerintah dengan utusan Qing, maka hal ini akan menjadi kasus yang amat sensitif, mengancam kedaulatan dan tahta Joseon. Akan sangat baik jika semua informasi ini disampaikan langsung kepada Kepala Pengawal Seo oleh si pemberi informasi itu sendiri, agar sang kepala pengawal dapat menyampaikan informasi yang absolut kepada Raja Joseon.
Setelah melewati pos penjagaan, pengawal itu sesekali melirik Law yang bersikap segan namun menikmati perjalanan menuju kantor Pengawal Kerajaan. Kid bisa melihat sinar cerah dari mata si budak, yang terlihat mampu memuaskan rasa ingin tahunya atas tempat yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Namun tentu saja, mereka tak punya banyak waktu untuk berkeliling. Dia harus menyampaikan informasi maha penting ini sesegera mungkin.
Di depan kantor, seseorang berpakaian gugunbok biru tua dengan baeja berwarna hijau pastel sedang berdiri tegak sembari membaca beberapa lembar laporan di tangannya. Tingginya sedang, perawakannya tegap khas prajurit militer, dan sikapnya terlihat bersahaja. Kid menunduk memberikan hormat ketika mereka menghampirinya.
"Wakil Kepala, saya sudah kembali," ujarnya.
"Oh, kau. Yeonggam sudah menunggumu. Yang lain telah kembali untuk melaporkan tugas mereka." Dia menyambut tanpa banyak bertanya mengenai orang yang dibawa Kid.
"Baik, saya mengerti." Kid baru akan melangkah kembali bersama orang itu ketika dia teringat hal penting lainnya. "Tapi, naeuri …"
"Ya?"
"… bisakah Anda membantu untuk menyembunyikan soal kedatangan budak ini ke kantor Pengawal Kerajaan?" Pengawal itu melirik ke arah Law, lalu melanjutkan. "Jika informasi yang dia berikan akan menimbulkan kejadian yang lebih besar, mungkin saja hal ini akan berakibat buruk untuknya."
Sang wakil kepala pengawal kerajaan melirik ke arah Law, yang berdiri di belakang Kid sambil menundukkan kepala ketika dia melihatnya. "Tentu saja," katanya singkat lalu berjalan ke dalam kantor tersebut. Kid mengikuti, disusul oleh Law di belakangnya.
Pemuda bermata keperakan itu terus dilanda kebingungan sejak Kid membawanya pergi dari Mohwagwan. Setidaknya dia cukup senang bisa meninggalkan tempat yang tidak dia sukai itu. Sayangnya pengawal itu tak banyak bicara ke mana tujuan mereka akan pergi, dan membuat Law merasa sebal di sepanjang perjalanan. Dia baru menyadari bahwa mereka berjalan kembali ke Doseong ketika gerbang istana telah tampak di depan mata. Ketika Kid membawanya memasuki area kantor Pengawal Kerajaan yang terbatas untuk umum, harus pemuda itu akui bahwa dia sedikit gentar. Dia menebak si pengawal akan memintanya menyampaikan informasi kepada Kepala Pengawal Kerajaan secara langsung, mengingat betapa sensitifnya hal yang akan dia beberkan. Untunglah rasa keingintahuannya yang besar mampu menutupi rasa takut dan cemas yang dia rasakan. Sepanjang perjalanan menuju kantor Pengawal Kerajaan, Law melihat ke setiap sisi, mengagumi aura militer yang kental di area tersebut, namun tak membuatnya tertekan. Dia menyukai ketenangan yang menyejukkan dari tempat itu, seolah memberinya perlindungan, sama seperti kesukaannya pada area Biro Musik Kerajaan yang ceria dan hangat. Perjalanan itu berlangsung cepat, dan sekarang dia telah berada di dalam ruangan kantor milik Pengawal Kerajaan Joseon, didampingi oleh Kid dan Wakil Kepala Pengawal Kerajaan.
Law melihat Kepala Pengawal Seo sebagai sosok yang tenang namun cekatan. Ketika mereka masuk, dia tengah duduk tanpa suara di meja kerjanya yang rapi, dengan beberapa kertas laporan di tangan serta laporan lainnya di atas meja. Dia memakai gugunbok berwarna merah marun, namun dengan baeja berwarna hitam. Kepalanya dihiasi jeonrip bertahtakan bulu burung yang indah berwarna putih dan kelabu. Tangannya bergerak cepat memeriksa setiap laporan yang masuk, dan membacanya dengan cepat pula.
"Oh, akhirnya kau kembali." Sang kepala pengawal yang sedang duduk di meja kerja mengangkat kepalanya saat Kid mendekat. "Apa kau berhasil menemukan sesuatu di Mohwagwan? Pengawal lain pulang dengan tangan kosong, dan aku takut ini akan menambah beban pikiran Yang Mulia."
"Ya, yeonggam. Saya membawa seseorang yang memberikan saya sebuah informasi, dan Anda harus mendengar sendiri informasi darinya," jawab Kid.
"Begitukah?" Mata kepala pengawal itu menatap Law yang berdiri di hadapannya. "Siapa dia?"
"Dia adalah salah satu budak dari Biro Musik, yeonggam."
Kid ikut melihat ke arah Law itu, sementara Law melirik Kid dengan takut bercampur malu. Walaupun dia ingin sekali menyampaikan semua yang dia dengar, tapi ditatap sedemikian rupa oleh pejabat junior tingkat dua, siapa yang tidak akan segan? Apalah arti dirinya yang hanya seorang budak, yang selalu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Dia bahkan ragu apakah perkataannya akan didengarkan oleh sang kepala pengawal.
"Tenang saja, Kepala Pengawal Seo pasti akan mendengarkan semua kesaksianmu." Kid berucap, berusaha menenangkan Law yang tampak enggan.
"B-baik." Law mengangguk. Entah bagaimana, ucapan Kid mampu membuatnya lebih tenang.
"Katakan saja. Kesaksianmu akan kami catat dan disimpan dengan rapi. Tidak akan ada yang tahu dari mana informasi yang kami catat ini berasal, kecuali Yang Mulia Raja dan kami semua yang mendengarkan."
"Baik, yeonggam." Law memantapkan hati; dia harus menyampaikan semuanya. Pengawal Kerajaan berwenang untuk mengusut kejadian ini, karena Yang Mulia Raja sendiri yang memerintahkan, sebagaimana yang Kid katakan padanya. Dia tidak perlu ragu, karena mereka akan menyelesaikan semuanya. "Setelah pertunjukan tari dan musik diselenggarakan di Mohwagwan, Wakil Kepala Biro Musik memerintahkan Pengawas Budak dan Gisaeng untuk mengantar salah satu gisaeng kerajaan ke kamar Jin daegam, pimpinan rombongan utusan Qing. Ini memang melanggar peraturan, tapi Wakil Kepala Oh memaksa dan mengancam bahwa kami akan dihukum jika tidak menuruti perintahnya. Dengan berat hati, Pengawas Hwang membiarkan gisaeng yang mereka minta untuk dibawa ke sana, dan saya yang ditugaskan Pengawas Hwang untuk mengantar gisaeng itu ke kamar yang dimaksud. Di sana, Jin daegam sedang berbicara dengan Jang yeonggam dari Biro Perjamuan dan Pesta. Saya tidak bermaksud menguping, tapi Jin daegam mengatakan bahwa Jang yeonggam harus memberikan mereka Arsip Registrasi sebagai pertukaran atas plakat pengakuan Putra Mahkota yang mereka bawa lebih cepat dari kunjungan tahunan yang telah direncanakan sebelumnya."
Mirip seperti ekspresi Kid pada saat pertama kali mendengar pengakuan Law, Kepala Pengawal Seo memperlihatkan raut wajah terkejut namun lebih sulit untuk diartikan. Sang kepala pengawal tampaknya lebih mampu menutupi emosinya, dan Law tak bisa mengatakan apakah dia mempercayai ucapannya atau tidak. Di tengah harap-harap cemas, kepala pengawal itu berujar dengan nada amat hati-hati.
"Apa kau yakin dengan apa yang baru saja kau ucapkan? Yang kau maksud adalah Jang yeonggam, Kepala Biro Perjamuan dan Pesta? Dan dia serta Jin daegam akan saling bertukar dokumen kerajaan?"
"Ya, yeonggam. Saya yakin sekali bahwa beliau adalah Jang yeonggam. Mereka membicarakan hal itu di depan kamar Jin daegam, saya secara tidak sengaja mendengarnya. Dan beliau berjanji akan berusaha keras mencari dan menyerahkan Arsip Registrasi itu kepada utusan Qing."
Bukan hanya kepala pengawal itu yang terkejut, tapi sang wakil kepala pun menunjukkan ekspresi serupa. "Yeonggam," ujarnya dengan raut wajah khawatir, "jika benar Jang yeonggam mengadakan transaksi pertukaran ini, apakah … apakah Yang Mulia Ratu terlibat?"
Semua orang di kerajaan telah mengetahui betapa berambisinya Ratu Kerajaan Joseon saat ini agar Putra Mahkota Hwiso mendapat pengakuan resmi dari Qing. Bahkan ketika sang ratu masihlah seorang Hee Bin, dia terang-terangan meminta Faksi Selatan yang mendukungnya untuk mengirimkan petisi berulang kali kepada sang raja, supaya permintaan untuk menjadikan Pangeran Hwiso sebagai Putra Mahkota Joseon diluluskan. Bukan tidak mungkin Jang Hee Jae, Kepala Biro Perjamuan dan Pesta, kakak kandung Ratu Jang sekaligus paman dari Putra Mahkota Hwiso, melakukan berbagai cara agar pengakuan dari Qing dapat mereka peroleh, untuk memantapkan posisi putra mahkota baik di mata Joseon maupun kerajaan tetangga.
"Kita tidak bisa berasumsi sembarangan. Mendapatkan bukti yang lebih kuat dan nyata adalah fokus utama kita saat ini, Wakil Kepala Nam." Kepala Pengawal Seo berkata tajam. "Yang terpenting, informasi ini harus segera disampaikan kepada Yang Mulia Raja."
"Baik, yeonggam. Maafkan saya." Dia menunduk meminta maaf.
"Aku akan pergi ke Istana Dalam menemui Yang Mulia. Wakil Kepala Nam, tolong buatkan laporan tertulis mengenai hal ini, dan simpan dengan hati-hati di ruang arsip," perintah sang kepala pengawal, yang dipatuhi oleh wakilnya itu. "Dan Kid …"
"Ya, yeonggam?" Kid bersiap menerima perintah.
"… setelah Wakil Kepala Nam selesai membuat laporan, bawa budak ini kembali ke Biro Musik dengan hati-hati. Akan sangat berbahaya baginya jika ada yang sampai mengetahui bahwa dialah yang menyampaikan informasi ini. Mengerti?"
Pengawal itu menunduk hormat. "Baik, akan saya laksanakan."
Sang kepala pengawal bangkit dari kursi kerjanya, mempersiapkan diri untuk pergi ke bagian dalam istana dan menemui Raja Joseon, sementara Wakil Kepala Nam segera duduk di bangku area rapat dan mencatat kesaksian dari Law dengan cepat. Pemuda itu hanya diminta memberikan nama lengkapnya, dan semua kesaksian dicatat dengan rapi. Kid memandangi semua proses itu dengan perasaan puas, karena telah berhasil melaksanakan salah satu tugas yang dia emban. Namun pertanyaan Kepala Pengawal Seo menyapa telinganya.
"Bagaimana kau bertemu dengan budak ini?"
"Ya?" Pengawal itu menoleh ke arah sang kepala pengawal.
"Kau tidak menemukannya secara sengaja, bukan? Ceritakan padaku," ujarnya lagi.
Kid merasa tidak ada gunanya berbohong kepada Kepala Pengawal Kerajaan Joseon. Dia pun menceritakan detail bagaimana dia dan Law bertemu di salah satu kamar milik utusan Qing, mengatakan bahwa dia menyesal ketika pada akhirnya dia harus membeberkan urusan rahasia kerajaan kepada seorang budak demi informasi penting yang mereka peroleh saat ini. Namun Kepala Pengawal Seo hanya tersenyum, dan berkata dia memaklumi tindakan yang Kid ambil.
"… yang terpenting sekarang kita memperoleh informasi yang diinginkan Yang Mulia Raja," ucapnya. "Walau caramu mendapatkan informasi itu sedikit kurang terpuji, tapi terkadang kita memang perlu melakukan tindakan semacam itu. Jadi aku tidak akan menghukummu karena hal itu."
"Baik, maafkan saya, yeonggam."
"Tapi tindakan Wakil Kepala Biro Musik yang mengirimkan gisaeng Kerajaan selain kepada Yang Mulia Raja, aku pun harus turut melaporkannya, karena apa yang dia lakukan termasuk pelanggaran tingkat menengah."
Kid cukup terkejut mendengarnya. "Apa … si pengawas dan budak ini juga akan dihukum karena menuruti perintah atasannya?"
"Kita lihat saja nanti. Aku memperkirakan Kepala dan Wakil Kepala Biro Musik sedikit banyak terlibat di dalam hal ini, karena mata-mata kita mengatakan bahwa kedua orang itu beberapa kali terlihat bertemu dengan Jang Hee Jae secara rahasia di salah satu gibang di luar Doseong. Jika terbukti mereka benar-benar terlibat, aku mungkin bisa menggunakan keterlibatan mereka untuk menutupi pelanggaran mengenai gisaeng ini, serta menghindarkan hukuman bagi si pengawas dan budak itu."
Pengawal itu menarik napas lega. "Saya mengerti."
Kepala Pengawal Seo pun bersiap melangkah keluar ruangan ketika Wakil Kepala Nam telah selesai menulis laporannya. Kepala pengawal itu sempat menoleh ke arah Law, menatap pemuda itu dengan penuh minat. Budak di hadapannya ini cukup tangguh, memberanikan diri untuk mengikuti Kid hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya atas tindakan Kid yang menurutnya mencurigakan. Dan entah apakah dia mengatakan sejujurnya bahwa dia tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua pejabat dari kedua kerajaan, ataukah memang dia sengaja mencuri dengar, namun dengan mantap dia memutuskan untuk memberikan informasi ini kepada pihak berwenang. Tindakan itu tentulah sangat dipuji dan dihargai oleh sang kepala pengawal. Tiba-tiba rasa penasaran melingkupinya, membuatnya berucap dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Pada saat kau mendengar pembicaraan Jang yeonggam dan Jin daegam, apakah mereka berbicara dalam Korea atau bahasa Cina?"
"… Ya?" Law menatap Kepala Pengawal Seo dengan raut wajah bingung.
"Apa mereka berbicara dalam bahasa Korea, ataukah …
dalam bahasa Cina?"
"Dalam bahasa Cina, yeonggam." Pemuda itu menjawab ringan, seolah-olah itu adalah hal yang lumrah.
Seorang budak tak berpendidikan tapi mampu menerjemahkan bahasa Cina? Sudah dia duga, pemuda ini bukanlah budak biasa.
TBC
Author's Note
Holaaaaa. Chapter kedua update ^o^.
Kuucapkan banyak terima kasih bagi para reader yang telah menyukai dan meluangkan waktunya untuk memberikan review bagi fic ini. Semoga kalian semua tetap menyukai dan menikmati setiap alur cerita yang tersaji.
Mungkin para reader merasa bosan membaca chapter 2 ini karena alurnya kelewat datar. Tapi penjelasan di chapter 2 ini penting untuk menjelaskan situasi yang tengah dihadapi Law. Jadi harap maklum jika ada yang sampai menguap saat membaca chap ini XD
Anyway, last but not least, would you mind to leave any review?
Review Reply
Rames : Dah dilanjut ini Rams XD
Vira D Ace : Ini sudah dilanjut ^^ pertanyaannya kujawab di Note atas ya ^^
M4R5ce : Ya, pengawal kerajaan itu Kid ^^ Sudah saya jawab di chap ini. Apakah dia raja yang menyamar? Well, silakan menebak-nebak ya.
ChoYeongie : Pfffttt. Mana berani aku nulis rated M XD Awas beneran keriting otaknya. Dan makasih sudah suka ceritanya ^^
