Beyond Heavens
( and I think you're my whole universe )

.

©Alestie

.

Chapter I
Quasar

.

.

/'kweı.zɑ:/

"Unknown, unlike any other ones, brighter than billion suns, biggest puzzle from afar, I wonder what you are."

.

.

.

.

.


...

"Yoongi menanyakan kabarmu semalam,"

Jungkook menoleh sekilas ke arah pemuda yang lebih tua, lalu mendengus. Jemarinya kembali sibuk meringkus sleeveless sweater kelabunya di atas kemeja lengan pendek yang telah dikenakannya lebih dulu. Mengamati sosok pemuda itu yang baru saja selesai mandi. Helai rambut cokelat setipis karamelnya yang menggelayut karena basah, aroma elegan sabunnya yang maskulin, kemudian secarik handuk yang menutupi daerah pinggang hingga lututnya. Pemuda itu berujar sembari menggusak rambutnya dengan handuk kecil lainnya.

"Jika kau mengasihani aktivitasku sebagai mahasiswa Pasca, seharusnya kau lebih sering mengangkat telepon Yoongi, kau tahu." Timpalnya separuh terkekeh.

Jungkook memutar bola mata. "Aku justru yang berterima kasih apabila kau berhenti menyibukkan diri untuk menjadi mata-matanya setiap saat, Seokjin-hyung,"

Pemuda itu—Kim Seokjin—tergelak nyaring. Ia menyisir poninya ke belakang lalu memberenggut, "Tidak sopan," gerutunya. "Demi kau, aku rela berada di asrama kampus bobrok ini nyaris enam tahun, Bocah kurang ajar. Tidak bisa membawa pacar, harus diam-diam menyelundupkan NDS dan Xbox setiap saat, belum lagi piket mingguan, hukuman untuk setiap kesalahan kecil—semuanya demi kau. Andai saja ada penghargaan untuk ini, aku pasti sudah dinobatkan sebagai mahasiswa paling expert dan berhati mulia di sini," tukasnya setengah bergurau. Disambut dengusan malas dari pemuda di hadapannya.

"Jebal, jangan atas namakan aku untuk kerelaanmu sendiri mengorbankan kesenangan masa mudamu, Hyung," Jungkook menjeda seraya merapikan kerah kemejanya. "Kemarin aku ada di perpustakaan kota hingga larut. Ponselku habis baterai. Katakan pada Yoongi-hyung aku akan meneleponnya seusai mata kuliah pertama," tuturnya cepat.

Seokjin tersenyum simpul. "Jungkook-ah,"

Sekali lagi, Jungkook menoleh. Kali ini telah siap menggendong ransel hitamnya.

"Seharusnya apa yang Yoongi capai membuat segalanya lebih mudah bagimu, 'Saeng, bukan sebaliknya," Seokjin berujar dengan desah lirih, masih mengukir seulas senyum. "Jika kau terus berusaha berlarian mengekorinya, kau akan selalu menjadi bayang-bayang. Ketika kau terlalu bersikeras melampaui pencakar langit, kau tidak akan bisa melihat hal lain yang semestinya dapat kau taklukkan. Kau tidak akan sadar ketika segalanya singgah dan berlalu, sebab mungkin selama ini apa yang kau impikan bukan apa yang sesungguhnya kau cari," lanjutnya menatap lurus ke arah kedua obsidian Jungkook, penuh kepedulian. "Bahkan sekuntum bunga tidak hanya mampu tumbuh di atas satu daratan, Jungkook-ah."

Ucapan penuh implikasi Seokjin membuat Jungkook tercenung. Secara reflek membuang tatap matanya dan tanpa sadar menggenggam pegangan ranselnya semakin erat. Sisi dewasa Seokjin selalu mampu membekap seribu sangkalan dari egonya.

Kim Seokjin—mahasiswa Psikologi Pasca-sarjana Gyangbuk, sahabat SMA Yoongi, sekaligus teman sekamar Jungkook. Wajah bak pangeran dalam negeri dongeng, tutur kata yang lembut, perangai yang tenang dan dewasa, namun lebih peka dibandingkan siapapun yang Jungkook kenal selama ini. Yoongi adalah kakak kandung Jungkook; dan di hari ketika Jungkook resmi diumumkan bahwa dirinya lulus ujian masuk Gyangbuk, Yoongi adalah yang pertama menelepon Seokjin kemudian memintanya untuk selalu membantu adiknya jika mengalami kesulitan. Tak peduli betapa Jungkook mengeluh soal dirinya yang sudah dewasa untuk sanggup hidup mandiri di Seoul.

Hanya Seokjin satu-satunya hyung yang mampu menegurnya tanpa kesan menggurui. Seokjin sering berujar dengan analogi, implikasi sederhana, ataupun konotasi karena pemuda itu tahu persis bahwa Jeon Jungkook adalah orang cerdas yang mampu menangkap maksudnya tanpa cela. Jungkook memang orang yang konfrontatif; tidak menyukai pembahasaan yang berbelit-belit. Tetapi cara Seokjin memahami persis tabiatnya kemudian menghargai segenap egonya adalah yang menjadikan Jungkook begitu menghormati Seokjin walau ia tak pernah mengungkapkannya.

Senyuman di bibir Seokjin berubah menjadi cengiran usil.

"Dan kau serius harus membawa 'Si-Peringkat-Satu-Brengsek'-mu kemari lain kali. Aku penasaran makhluk seperti apa yang bisa membuat Tuan Besar Jeon Jungkook uring-uringan sepanjang malam setiap kali—"

"Sampai ketemu nanti sore, Hyung."

Lagi-lagi, Seokjin tertawa renyah.

.

.

.

Jungkook tidak mengerti bagaimana bisa.

"Saya diminta Prof. Choi untuk memimpin forum diskusi untuk pembukaan materi Massa dan Jarak Bintang hari ini," Kelas Astronomi 101—"Beliau berkata tidak bisa hadir karena dipercayai untuk menjadi panitia penyelenggara konferensi Sains di Cali siang nanti, dan beliau mengambil jam terbang pagi ini. Saya akan memberikan outline singkat beserta beberapa metode komputasi dengan algebra dan logaritma. Ini hanya akan menjadi semacam presentasi sederhana—inti dari pembahasan ini akan beliau sampaikan di pertemuan selanjutnya. Jika kalian memiliki pertanyaan seusai presentasi ini, saya akan mencoba menjawabnya. Dan apabila di luar kemampuan saya, maka akan saya alihkan kembali kepada Prof. Choi untuk kita bahas di pertemuan berikutnya."

Poni ungu pucat yang tampak basah hingga jatuh menutupi nyaris sebelah matanya, bibir kemerahan yang setengah terbuka karena kedinginan, kemeja hitam-merah marun yang mencetak postur rampingnya karena terguyur gerimis pagi tadi. Bahkan jins belel dan Nike merahnya. Memang kedekatan spesial antara Prof. Choi dan pemuda yang tengah berdiri di depan kelas adalah rahasia umum sebab kecerdasan luar biasa sang mahasiswa dalam ranah Astrologi. Namun untuk mengisi kuliah—wow. Dia memang jenius, tapi bukan asisten dosen. Demi Tuhan. Semua itu membuat amarah membumbung tak terelakkan di paru-paru Jungkook.

Senyum separuh yang tampak begitu sarkastis terukir di kedua belah bibir itu. Seribu kali lebih mematikan dengan sekujur tubuh pemuda itu yang sedikit basah dan sorot matanya yang penuh otoritas.

"Saya Taehyung Kim. Mohon kerjasamanya."

Suara berat dan dalam itu nyaris membuat Jungkook tersedak. Mendadak suasana sekitarnya menjadi intens dan mencekik. Pemuda di depan kelas itu seketika menjadi pusat perhatian. Poros yang mencekam. Ketika satu per satu slide presentasi terbuka, setiap silabel yang mengalun dari belah bibir Taehyung terdengar seperti sihir, yang secara magis membuat Jungkook terjerembab dan tuli dari segala yang lain. Ada pesona yang tak wajar dan berbeda ketika sosok berambut ungu itu menyampaikan kuliahnya. Bahkan langkah sempitnya yang mengedar dari sisi utara ke selatan, sorot mata penuh nyali dan kepercayadirian. Keberadaan yang bagaikan memaksa seluruh pasang mata untuk terpatri ke sosoknya, eksistensi yang memonopoli semua audiens untuk menyetujui gagas otaknya.

Penjelasan cerdas dari Taehyung berlalu bagai angin di telinga Jungkook (materi ini terlalu mudah baginya lagipula). Kedua onyx kembarnya justru terpatri pada sepasang hazel Taehyung yang sepintas tampak semerah darah tersiram bias cahaya matahari dari celah jendela. Hidung yang runcing, rahang tirus, dagu tegas, dan bibir sempurna yang sesekali tersenyum tipis di tengah presentasinya. Surai rambut yang jelas basah dan sedikit berantakan.

Maskulin.

Atraktif dan mengintimidasi.

Tetapi juga cantik dalam saat yang bersamaan.

Satu detik—ketika Taehyung tanpa sengaja melempar pandangan ke deret posisinya, kemudian kedua pasang mata saling bertemu. Statis. Bahkan Taehyung detik itu menghentikan untai katanya, menjadikan segalanya seolah Taehyung tengah menyaksikan isi kepala Jungkook sejelas dan semudah membaca buku yang terbuka. Jungkook menjadi yang pertama membuang sorotnya, kemudian kembali (berlagak) mengamati langit mendung di luar jendela.

Hingga suara seorang dari bangku belakang, dengan penuh cemooh, menginterupsi kelas.

"Pak dosen Kim~!"

Penggilan itu penuh sindiran. Namun wajah Taehyung masih sedatar sebelumnya. Raut bosan dan sorot menoton. "Silakan," ucapnya ringkas. Tatapan menganalisa yang tanpa gentar.

"Kau lupa menjelaskan latar belakang dari terciptanya rumus itu. Ayolah, jika hanya soal aplikasi perhitungan, anak sekolah dasar juga bisa mensubtitusi angka dan menemukan hasilnya dengan kalkulator saintifik." Pemuda di bangku paling belakang—yang Jungkook kenali sebagai seniornya di tahun ketiga, Kim Jongin, berujar dengan intonasi angkuh. Disambut oleh kikikan kecil dari kawan-kawan di gerombolannya. "Yah, Tuan Jenius?"

Taehyung terdiam sejenak, kerlingannya seperti predator sehingga seisi kelas seketika senyap.

"Pengaruh gravitasi terhadap benda langit lainnya—gerak orbit," tukas Taehyung kalem. "Landasannya adalah hukum gravitasi Newton dan Hukum Kepler ketiga, untuk bintang ganda. Kemudian diagram Hertsprung untuk bintang tunggal. Pengukuran massa bintang dapat diketahui dari berkas cahaya yang ditimbulkan dengan metode mikro lensa gravitasi; termasuk luminositas, temperatur bintang, dan paralaks. Itu adalah dasar darimana para astronom menentukan rumus ini untuk melakukan komputasi magnitudo mutlak dan modulus jarak. Berdasarkan penelitian profesional serta observasi melalui teleskop," Taehyung menyelingakkan kepalanya kecil lalu berucap. "Seperti HST atau teleskop ground-based, semacam VLT."

Jongin berdengung keras. Menyandarkan tubuh dan melipat kedua tangan arogan.

"Maksudku adalah," pemuda itu berkata lagi. "Apakah Apollo 11 benar-benar berhasil mendarat di bulan empat dekade lalu?"

Taehyung hanya mengangkat sebelah alis. "Maaf?"

"Kembali ke dua slide sebelumnya, Kim," titah Jongin sembari memberikan gestur menggeser telunjuk. Begitu permintaannya dilaksanakan, Jongin kembali berucap. "Foto itu. Bendera United State yang ditancapkan di atas bulan oleh astronot. How can, dude? Tidak ada udara di luar angkasa—di bulan. Mustahil bendera dapat berkibar, kecuali apabila itu hoax."

Dalam hati, Jungkook berdecak. Sama sekali bukan isu hangat, terutama bagi pecinta astronomi. Meski sampai sekarang masih menjadi pro-kontra yang belum seutuhnya terbukti.

Helaan napas tipis terdengar dari Taehyung. "Kita tidak akan melanjutkan perdebatan ini, karena topik ini di luar pembahasan," sahutnya sembari berjalan pelan ke posisi tengah di hadapan audiens. Langkahnya terhenti, dan sudut bibirnya terangkat. "Tapi akan kurespon semaksimal mungkin, Sunbaenim," ada penekanan dalam cara Taehyung mengeja honorifiknya, seperti mencela.

Menyaksikan seringai di bibir Jongin, Taehyung memulai argumennya. "Astronot yang menancapkan bendera tersebut adalah Buzz Aldrin, apabila kalian tidak mengetahuinya. Secara saintifik, sekedar kelembaman cukup untuk membuat bendera bergerak saat penancapannya. Tergantung bagaimana cara Aldrin menancapkannya. Sebab bendera adalah kain, bukan material kaku dan keras seperti logam ataupun kayu. Ketika nantinya gravitasi mengambil alih, bendera itu tidak akan berkibar lagi kecuali pada saat peluncuran roket yang berinteraksi secara langsung dengan bendera," jelasnya lugas. "Anda bisa mengulang bagaimana bunyi Hukum Newton tiga—aksi-reaksi, dan Newton pertama—soal inersia, kemudian mengaplikasikannya ke fenomena ini untuk mempermudah pemahaman Anda."

Seluruh penjuru kelas semakin hening, bahkan rombongan belakang yang semula tertawa-tawa berisik, ikut bungkam. Namun Taehyung tak bergeming.

"Satu lagi," katanya diplomatis. "Ada yang ingat skandal Watergate atau masalah paper Pentagon di Amerika?" tatapan matanya beredar ke seluruh sudut kelas. "Banyak skandal mengenai kredit administrasi Nixon yang bocor ke publik, tetapi perihal keotentikan ekspedisi ke bulan bukan salah satunya. Apabila betul kongres menelanjangi seluruh data retensi Nixon, seharusnya berita soal kepalsuan Apollo 11 lah yang menjadi isu paling panas. Puluhan juta dolar dana eksplorasi untuk kepalsuan—lelucon untuk tertawaan masyarakat hingga akhir abad 22 jika memang itu hoax, apa saya salah?"

Hening.

Kemudian Jongin terkekeh kecil.

"Jadi," Jongin merapatkan jemarinya. "Jika memang benar, berarti penunggang Apollo, Neil Armstrong, adalah yang pertama kali meninggalkan spacecraft di angkasa?"

"Ke bulan—ya, secara umum, bukan," jawab Taehyung cepat. Jungkook mengerutkan kening, tatapan matanya kembali ke arah Taehyung, nyaris terkejut mendengar jawaban yang berbeda dari pemikirannya. "Seorang astronot Uni Soviet, Mayor Pilot—" Taehyung memejamkan matanya beberapa saat, usaha kontemplasi yang begitu tipis, lalu membukanya dan melanjutkan. "—Alexei Leonov, adalah manusia pertama yang melakukan ekspedisi luar angkasa selama dua belas menit. Keluar dari kapsul angkasanya pada Maret 1965. Armstrong, Aldrin, dan Collins menapaki bulan pada Juli 1969."

Jungkook bersumpah ia tidak tahu fakta yang satu itu. Bisikan 'Benarkah' lirih sayup-sayup terdengar dari forum kelas yang sempat sepi.

Taehyung tertawa kecil. "Jangan terkejut begitu, dulu USSR beberapa langkah di depan Amerika dalam perihal observasi kosmos," ujarnya ringan. "Mulai dari satelit pertama yang beredar di orbit, manusia pertama yang menjelajahi luar angkasa, penyelidikan pertama ke bulan—semuanya oleh Serikat Soviet pada tahun 1967. Mencuri kesempatan ketika NASA sibuk mengatasi musibah dengan kecacatan desain spacecraft milik mereka yang menyebabkan kematian tiga orang astronot andal," Suara berisik dari respon mahasiswa-mahasiswa lainnya kembali terdengar, "Namun hanya sampai di situ. Karena perencanaan ekspedisi ke bulan tidak dapat dimulai sebab Soviet kekurangan dana. Resiko terlalu besar, terlalu kompleks—terlalu mahal."

Ricuh kecil menguar di awan-awan, dan ketika Taehyung mengangkat sebelah tangannya mengindikasikan forum untuk tenang, seluruh audiens kembali diam.

Taehyung kembali berucap. "Apa diskusi soal ini boleh saya tutup, Sunbaenim?"

Jongin lalu menepuk tangan keras sambil menyeringai puas.

"Daebak," komentarnya terpukau.

Respon Taehyung adalah anggukan ringan satu kali pertanda ia akan melanjutkan pemaparan presentasinya. Seusai menutup slide terakhirnya, Taehyung membuka satu sesi tanya jawab singkat (dan Jungkook mengabaikan bagaimana ketiga penanya adalah wanita dan semuanya memanggil Taehyung dengan sebutan 'Oppa'—memanfaatkan momen Kim Taehyung yang bersedia berbicara panjang lebar; karena biasanya pemuda itu tidak banyak membuka suara dalam kelas), kemudian membagikan lembar soal evaluasi. Berkata bahwa mereka diizinkan untuk pulang begitu menyelesaikan soal tersebut dan meminta ketua kelas untuk mengumpulkannya ke kantor Prof. Choi.

Taehyung mengambil posisi duduknya di bangku pojok belakang dekat jendela dan ikut mengerjakan soalnya. Jungkook melirik sekilas mengamati figur pemuda itu yang sibuk mengisi lembar jawabnya, kemudian kembali menyibukkan diri dengan soal di hadapannya.

Lima belas menit ketika Jungkook berada dalam proses perhitungan algebra terakhirnya, suara debrak kursi terdengar nyaring. Dalam hati Jungkook merutuki bagaimana bisa ada makhluk yang sanggup menyelesaikan komputasi jahanam ini dengan begitu cepat, dan parahnya, akurat.

Kemudian ketika sosok tinggi berambut ungu pucat itu melenggang dari bangku paling belakang menuju paling depan, Jungkook seolah dapat merasakan aura yang menyesakkan perlahan menghimpit jalur pernapasannya. Kim Taehyung semakin dekat, dan Jungkook dapat merasakannya. Suara gesekan alas sneaker menghantam lantai keramik dalam tempo yang amat lambat membuat gendang telinga Jungkook berdenyut-denyut.

Tetapi apa yang di luar dugaannya adalah, begitu merasakan keberadaan pemuda itu yang semakin tipis, tiba-tiba langkahnya terhenti, tepat di sampingnya.

Jemari Jungkook yang menggenggam pena serasa bergetar kecil, seolah merasakan tatapan tajam itu menyobek isi kepalanya menjadi dua. Intenssangat intens. Bahkan tanpa mereka bertatap mata sekalipun, Jungkook dapat merasakan eksistensi mencekik dari hembus napas Taehyung yang mengintimidasi.

Mendadak, aroma parfum yang begitu maskulin merasuki—

"Ini," ujung jemari yang panjang menunjuk ke salah satu pohon perhitungan Jungkook ketika suara berat yang berbisik menggelayut di gendang telinganya. "Jangan gunakan rasio Pogson, ulang dengan faktor 2.5,"

Begitu saja. Kemudian pemuda itu berlalu.

Napas Jungkook seakan berhenti ketika menyadari bahwa Taehyung—si jenius Kim Taehyung yang dinobatkannya sebagai rival bebuyutan secara sepihak—baru saja memberikannya contekan. Dadanya terasa panas, matanya menyalang. Merasa dilecehkan karena saingannya dengan terang-terangan menganggap hasil pemikirannya salah dan Kim Taehyung selalu benar.

Jungkook merasa begitu marah. Sangat sangat marah.

Ego yang tinggi menjadikan Jungkook ikut beranjak dari kursinya, mengabaikan satu soal yang dibiarkannya setengah terisi, dan mengikuti langkah Taehyung yang telah terlebih dahulu meninggalkan kelas. Jungkook bahkan tanpa sadar sedikit membanting lembar jawabannya di atas meja dosen ketika menumpuk pekerjaannya. Amarah menyelubung di paru-parunya tak terelakkan.

Kemudian begitu menginjakkan kakinya ke luar kelas, Jungkook seketika menemukan pemuda bersurai ungu pucat itu tengah membuka lokernya. Kim Taehyung memiliki loker nomor 79, sedangkan Jungkook berada di 77—hanya terpaut satu bilik. Pemuda itu mengambil sebotol air mineral dari lokernya, lalu menyingkir ke ujung koridor dan menyiramkannya perlahan di puncak kepalanya sendiri sehingga rambutnya yang tadinya mulai kering, kini kembali basah. Menyibakkan rambutnya sekilas, kemudian membiarkan poni panjangnya menjuntai di keningnya dengan tetes-tetes air menggelayut di tiap helainya.

Jungkook masih bergeming di tempatnya berdiri ketika Taehyung kembali berkutat di hadapan lokernya. Dalam otak Jungkook sudah membadai begitu banyak hal yang ingin ia lontarkan kepada pemuda di hadapannya yang dengan kurang ajar menginterupsi tes evaluasi sakralnya dengan opini yang tak pernah Jungkook minta.

Akan tetapi, tiba-tiba Jungkook merasa goyah. Aura mencekam yang begitu aneh membuat jemarinya yang sudah terulur hendak menepuk pundak Taehyung menjadi urung. Pemuda itu masih sibuk dengan barang-barang di lokernya. Mungkin bahkan tidak menyadari bahwa Jungkook tengah berdiri di situ dan mengamatinya penuh ketidak pastian.

Jungkook menghela napas panjang, ia lalu membuka suaranya.

"Kim,"

Tidak ada respon; masih tak bereaksi mengobrak-abrik sesuatu di lokernya dengan tak sabar. Jungkook pun berdecak malas, kemudian sekali lagi berusaha memanggil Taehyung, kali ini sedikit menaikkan volume bicaranya.

"Kim."

Menyadari ada suara yang memanggilnya, Taehyung menoleh, tampak terkejut. Ia kemudian melepas sebelah earphone putihnya seraya menaikkan sebelah alis. Menunggu.

Mampus, Jungkook menahan napasnya. Sepasang hazel setenang samudera—begitu predatorik, dan berbahaya. Hanya terfokus menembus retina matanya, seolah mencabik-cabik pupil obsidian Jungkook dengan otoritas yang sulit dijelaskan. Tatapan mata Taehyung seakan menelannya hidup-hidup, mengonsumsinya mentah dalam sekali teguk. Tanpa sadar, Jungkook menggigit bibir bawahnya sekilas, kedua lututnya entah mengapa terasa lemas.

"Yang tadi," Jungkook memulai, mati-matian mengontrol oktaf suaranya. "Apa maksudmu?"

Bodoh—astaga. Rasanya Jungkook begitu ingin menimbuk kepalanya pada tembok sebab bukan hanya begini ia ingin menuntut penjelasan kepada Taehyung. Seharusnya Jungkook terdengar lebih marah, lebih penuh tekanan—lebih mengintimidasi. Akan tetapi, hanya aroma maskulin Taehyung yang bercampur dengan wangi petrikor hujan membuat segenap pergerakan otaknya macet. Dan begitu menyadari bahwa yang dibawa keluar oleh Taehyung adalah jersey Adidas yang mungkin akan digunakan untuknya berganti, Jungkook semakin menelan ludah.

Tak ada jawaban. Taehyung sibuk memasukkan handuk dan jerseynya ke dalam tas olahraga, kemudian menutup lokernya dengan sekali debrak tipis.

"Jeon," Taehyung—dengan suara dalam dan terendah yang pernah Jungkook dengar—memanggilnya tanpa menoleh, membuat Jungkook sedikit terlonjak. Taehyung mengunci lokernya seraya mendongakkan wajah ke arah lawan bicaranya, mengedikkan dagunya ke arah koridor. "Aku ingin mengganti pakaian di loker klub Basket. Bisa kita bicara sambil berjalan?"

Tidak, Brengsek—tidak a—

Namun anggukan adalah jawaban Jungkook yang begitu taat.

Taehyung lalu mulai berjalan lamban, melirik sekilas ke arah Jungkook, memastikan apakah pemuda itu mengikutinya atau tidak. Dan Jungkook dengan langkah ragu berjalan di samping Taehyung, otaknya tanpa lelah berusaha menyusun untai katanya nanti. Keduanya berjalan beriringan dalam hening. Dari sudut matanya, Jungkook dapat melihat Taehyung yang menyisir poni ungunya ke belakang dengan jemari rampingnya. Secara reflek membuat batin Jungkook ber-astaga-dewa-seks-turun-darimana-si-bangsat-ini ketika setitik percikan helai basahnya mengenai permukaan pipinya.

(Bangsat, lagi).

Segenap aura membingungkan Taehyung sekilas menjadikan Jungkook bisu.

"Jadi," Taehyung mengeluarkan sesuatu dari tas olahraganya—kotak Pocky berwarna merah. "Barusan kau bilang apa?" tanyanya dengan sorot mata tak beralih, sibuk membuka kemasan Pockynya.

Napas Jungkook tercekat.

Kau brengsek, mati sana. Pengganggu, pembuat onar, orang sepertimu tidak pantas memiliki kecerdasan seperti itu. Kau tidak pernah berjuang, kau tidak pernah berkeringat, kau—

Pikir Jungkook begitu berkecamuk, namun terhenti ketika sekotak Pocky yang sudah terbuka terulur kepadanya. Dan begitu mendongak, Taehyung tengah melemparkan tatapan datar ke arahnya dengan bibir yang menjepit sebatang pocky, seolah hal ini adalah pemandangan paling wajar yang pernah ada. Membeku. Jungkook mematung walau kakinya masih berjalan mengimbangi derap langkah pemuda di sampingnya.

"Tidak suka Pocky?"

Pertanyaan yang sangat tidak tipikal Kim Taehyung membuat Jungkook tercengang sekilas. Akan tetapi, Jungkook kemudian menggertak, separuh mendesis, "Aku tidak ingin basa-basi, Kim," ucap Jungkook tajam, kedua tangan di sisi tubuhnya mengepal. "Aku ingin bertanya, apa maksudmu mengoreksi jawaban post-testku seolah aku pernah membutuhkannya? Apa kau menghinaku?" todongnya mulai merasakan dasar perutnya terbakar, "—pikirmu kau sehebat itu? Seluar biasa itu hingga kau bisa seenak jidat menyalahkan caraku menyelesaikan pekerjaanku?"

Jungkook menggeram di antara gigi-giginya yang rapat.

"Jawab aku, Tuan Jenius."

Taehyung tidak langsung menjawab. Dengan acuh, ia mengambil dua batang pocky sekaligus dan memasukkannya ke dalam mulut, menggerus dengan gerahamnya rakus. Suara kemeratak dari batang pocky yang hancur dalam mulut Taehyung membuat Jungkook—entah mengapa—merinding. Napasnya sedikit tersengal setelah meluapkan secuil kefrustasiannya.

Sesungguhnya Jungkook amat sangat membenci esensi Kim Taehyung. Segenap eksistensinya yang selalu menjadi pemenang benar-benar tidak adil. Taehyung bahkan tidak pernah belajar, tidak pernah mendengarkan kuliah dosen, mengenakan earphone dalam kelas seolah dirinya tak membutuhkan ilmu apapun, hanya berbicara ketika menginterupsi forum diskusi atau ketika presentasi. Penampilannya sangat tidak elegan, benar-benar memalukan untuk sosok yang mengaku peringkat pertama dalam sains. Fisika, biologi, astronomi, kimia—Taehyung menguasai segalanya tanpa cacat. Bagaimana bisa preman itu dengan tanpa keringat berdiri dengan angkuhnya di jenjang paling atas, meremehkan strata di bawahnya, sementara di seluruh Seoul—atau bahkan Korea Selatan—masih jauh lebih banyak sosok yang lebih layak untuk memegang status peringkat pertama Program Studi Ilmu Sains Gyangbuk. Mereka yang belajar mati-matian, mereka yang selalu serius dalam mata kuliahnya, mereka yang menghargai dan mencintai ilmu pengetahuan dan berusaha mengkajinya. Setidaknya bukan Kim Taehyung.

Jungkook harap, bukan Kim Taehyung orangnya.

Jungkook membenci prodigi—terutama seorang pemalas tanpa usaha seperti Kim Taehyung.

"Aku tidak menghinamu."

Suara monoton Taehyung membuat Jungkook kembali pada situasinya—dan baru saja tersadar bahwa kini keduanya telah berada dalam loker klub Basket yang kosong dan tertutup. Jungkook menelan ludah bulat, menyadari betapa terpojoknya posisi dirinya dan Taehyung saat ini. Matanya mengamati lamat-lamat Taehyung yang melepas satu per satu kancing kemejanya dengan begitu kasual.

"Kupikir kau tidak memahami materi presentasiku dan meminta bantuanku, well, sepertinya aku salah mengartikan," Taehyung mengambil secarik handuk kecil dari tas olahraganya, kemudian menggusak rambut ungunya yang basah dengan kasar. "Aku tidak akan berkomentar soal teori formulamu tentang magnitudo bintang. Tapi harus kukatakan, gunakan karangan observasimu pada hal selain post-test, Jeon. Kau membahayakan nilaimu."

Telinga Jungkook berkedut marah mendengar ucapan Taehyung—tersinggung. Si brengsek ini bicara soal hasil jawabannya barusan, dan Taehyung mencercanya dengan implikasi yang begitu cerdik. Jungkook merasa harga dirinya sebagai siswa emas diinjak-injak, kerja keras belajarnya semalam suntuk diludahi, oleh seorang Kim Taehyung yang bahkan tak pernah sedetikpun membaca buku ilmiah.

"Tutup mulut, Kim," geram Jungkook, gerahamnya gemeratak. "Jangan memberiku petuah. Aku tidak pernah membutuhkan bantuan dari orang sepertimu. Bagimu astronomi hanya teori yang begitu mudah dihafal, bukan? Tahu apa kau soal menghargai ilmu pengetahuan—soal mencintai sains?" tudingnya tak tanggung-tanggung, rasa takutnya berubah menjadi amarah, terlalu lama menyimpan kebencian tersendiri kepada pemuda di hadapannya. "Semua orang takut padamu, bahkan kau disegani para dosen—tapi tidak ada yang menyukaimu. Karena kau bajingan tanpa usaha yang tak menghargai ilmu, yang beruntung karena terlahir dengan kemampuan menghafal di atas rata-rata—dan kau tahu, suatu hari kau akan menyaksikan bahwa seluruh dunia nyatanya tidak berputar dengan kau sebagai porosnya, Kim. Suatu hari kau akan jatuh di bawah."

Alih-alih menjawab racauan Jungkook, Taehyung—yang telah menanggalkan kemeja luarnya—berdeham kecil. "Hei," kedua tangan Taehyung menyilang di depan tubuhnya, jari-jarinya menaut di ujung tanktop hitamnya bersiap melepaskannya. Ia mendongakkan wajah ke arah Jungkook. "Kau keberatan?"

Bangsat, apa maumu—nalar Jungkook terus merutuk frustasi. Logikanya runtuh dan ia merasa tolol karena tak mampu menjawab pertanyaan Taehyung dengan seketika. Yang dilakukannya justru termangu seperti orang bodoh. Jungkook mengalihkan tatapannya sekilas ketika ia berbisik.

"…silakan,"

Dengan enteng, kemudian Taehyung melepaskan pakaian dalamnya dalam sekali sentak. Tanpa sadar Jungkook menahan napas.

Semua pemandangan ini nyaris terlalu banyak untuk dirinya. Walau Taehyung berdiri menyamping darinya, Jungkook dapat dengan jelas melihat postur ramping dengan tulang selangka yang menonjol begitu kentara dari bentuk tubuh Taehyung yang kurus. Dada tegap dan kokoh walau punggungnya sempit. Warna tan eksotis di sekujur tubuhnya yang merata, otot-otot perutnya yang kencang dan membentuk samar. Poni ungu pucatnya yang lembab jatuh di sebagian keningnya, bulu mata yang tampak begitu panjang dari sisi samping, belah bibirnya yang merah dan separuh terbuka. Kemudian Taehyung menunduk untuk mengobrak-abrik isi tas olahraganya, kemudian mengeluarkan satu undershirt putih polos. Wajah pemuda itu masih tampak datar dan tenang, seolah tak menyadari betapa setiap pergerakan meregang dan mengencang dari setiap otot di bisep Taehyung membuat Jungkook menelan ludah, dasar perutnya bagai teraduk.

Seakan benar-benar berniat menyiksa kewarasan Jungkook, pemuda itu kemudian mengambil botol mineralnya yang terisi setengah, berdiri sambil menegak cairan bening di dalamnya hingga habis. Kedua obsidian Jungkook membulat menyaksikan bagaimana jakun Taehyung naik-turun tatkala cairan itu memasuki kerongkongannya dengan suara deguk yang menggema. Garis-garis arteri di leher jenjang Taehyung tampak berdenyut-denyut samar. Mendadak Jungkook merasa tubuhnya panas, napasnya tercekik, tenggorokannya kering—otaknya kosong. Bahkan ketika pagutan bibir Taehyung terlepas dari mulut botol, mata tajamnya mengerling ke arah Jungkook sembari punggung tangannya menggusak sudut mulut yang basah. Jungkook benar-benar tak berkutik.

"Tiga hal, Jeon."

Adalah ucapan yang keluar dari bibir Taehyung ketika bola matanya lurus menatap obsidian Jungkook; seolah mengeruk dan mencungkil korneanya hingga terkuak.

Jungkook menelan ludahnya bulat-bulat, menjaga ketenangannya ketika Taehyung berjalan mendekat ke arahnya dengan aura memangsa. Ia mengernyitkan kening terhadap pernyataan pemuda di hadapannya.

"Maaf?"

Sudut bibir Taehyung terangkat sebelah, dan Jungkook bersumpah ia tidak pernah menyaksikan seringai yang begitu mencekam tetapi teramat mempesona dalam detik yang bersamaan.

"Ada tiga hal yang membuatmu tidak akan pernah bisa mengalahkanku di dalam kelas."

Jarak keduanya hanya terpaut beberapa inchi, dan pemandangan Taehyung mengenakan jersey marun Adidasnya sambil berjalan, lalu menaikkan resletingnya hingga dada, dengan sama sekali tidak melepas kontak netra antar keduanya, membuat edaran eritrosit seolah rontok dari sirkulasi darah Jungkook. Mulutnya terbekap oleh apapun yang menguar dari aura Taehyung yang membingungkan.

"Duduk di bangku paling belakang membuatmu mengetahui segala yang terjadi di dalam kelas, kau tahu." Taehyung mengedikkan bahu ringan, kedua tangannya masuk ke saku jerseynya kasual. Pemuda itu menyelingakkan wajah ke sisi kiri, tatap matanya mencemooh lalu terkekeh sinis.

"—termasuk bagaimana kau selalu menelanjangiku dengan tatapan mata lancangmu nyaris di setiap kesempatan, Jeon."

Pernyataan Taehyung membuat Jungkook tersedak, matanya menyalang tidak terima.

Jungkook menggeratakkan giginya marah, "Jaga bicaramu, Brengsek. Aku tidak pernah melakukan hal serendah itu. Kau mungkin saja digilai wanita seantero kampus dengan gaya sok premanmu seolah kau rajanya di sini—tapi aku tidak," sergah Jungkook penuh penekanan, menata emosinya sebaik mungkin. Hell, ia memang sesekali memerhatikan Taehyung; tetapi itu jelas karena si rambut ungu sial ini adalah kompetitornya. Bukan karena hal lain.

(Mungkin).

"Well, aku menduga akan ada satu atau dua pembelaan diri," ucap Taehyung dengan intonasi diplomatis.

Jungkook menggeritkan giginya, tatapan matanya menukik tidak suka.

"Heh, lucu sekali, Kim." Elaknya malas.

Seringai di bibir Taehyung semakin melebar. Kedua bola mata pekatnya menelusuri pemuda di hadapannya dari atas ke bawah dengan gerak lamban. Dari setiap helai rambut kelam Jungkook yang tampak begitu halus diterpa tiupan angin lembut, poni miringnya, lalu kedua obsidian indahnya yang berwarna senada. Wajah terawat, kulit putih yang kontras dengan warna alisnya, bahkan hidungnya yang sesekali mengerut dan rahang tegasnya yang maskulin. Jeon Jungkook adalah pemuda yang memikat, Taehyung mengakuinya. Kedua bibirnya yang selalu tampak kemerahan tak peduli seberapa sore Taehyung menangkap sosoknya, deret gigi depan menggemaskan yang membuat tampang Jungkook akan selalu terlihat kekanakan setiap kali tersenyum. Andai saja pemuda itu lebih sering tertawa.

Taehyung tergelak sinis ketika netranya selesai memindai, kembali memusatkan sorotnya ke bola mata Jungkook berusaha membelenggunya terkunci.

"Kalau begitu, bisakah kau jelaskan mengapa kau mengamatiku seperti serigala kelaparan dalam kelas barusan," ucap Taehyung dengan nada menyelidik, "Tetapi kau sebenarnya paham persis dengan isi presentasiku," Jungkook merasakan posturnya terperangkap, napasnya tersengal hanya dengan seringai elok Taehyung yang membuat sarafnya macet. "—tidak juga membutuhkan bantuanku dalam post-test," Taehyung menghela napas hiperbola. "—lalu tidak juga menginginkan Pockyku," Taehyung semakin mengeliminasi jarak di antara keduanya, sementara jemari Jungkook di balik tubuhnya gelagapan mencari penopang. "—karena kau salah jika berpikir bahwa aku adalah orang dungu yang tidak bisa membedakan antara sorot kebencian dengan sorot nafsu, Jeon. Kau tidak menganalisa, kau tidak mengobservasi—you were eyefucking me the whole freaking time. Bukan hanya hari ini—selalu, setiap saat."

Sepintas, seringai pudar dari lekuk bibirnya.

"Dan jika aku salah, coba kau jelaskan dengan ilmiah dalam tiga kata, Jeon. Sekarang."

Skakmat.

Lalu hening yang menyiksa. Detak jantung yang menggema.

Jungkook tidak pernah mendengar Kim Taehyung berbicara hal-hal yang sifatnya personal sebanyak ini, dan segenap ucapan Taehyung yang memojokkan membuat kilah katanya terkekang. Bibirnya mengatup tanpa suara, keringat dingin mengalir dari pelipisnya dan entah mengapa Jungkook merasakan temperatur di ruangan ini mendadak meningkat drastis.

Jungkook bisa saja menghajar Taehyung, mendorongnya, atau apapun. Tetapi semua hal itu tidak menyelesaikan apapun. Bukan dengan kepal tangan Jungkook dapat merasa menang dari otak licin seperti Kim Taehyung. Kehilangan temper artinya kalah, menyalak artinya kalah, dan Jeon Jungkook selalu membenci kekalahan.

Tawa renyah Taehyung tiba-tiba menggaung di awan-awan, menjadikan Jungkook sedikit tersentak dibuatnya.

"Wae? Kau menggigit lidahmu, Sayang?" desisan di suara Taehyung penuh oleh sarkasme, sinis dan tak menerima sangkalan. Senyum separuh kembali terukir di bibirnya, "Kau barusan saja sangat vokal. Kemana Jeon Jungkook si Anak Emas dengan kuliah panjang lebarnya di kelas setiap hari?"

Bola mata Jungkook memindai satu per satu hazel kembar Taehyung dengan kening mengerut, berusaha menata respirasinya yang masai. Jantungnya berdegup luar biasa kencang hingga tulang rusuknya nyaris terasa nyeri. Kemudian pandangannya turun untuk menghindari tegangan intens dari sorot mata Taehyung lebih lama. Segalanya nyaris tak beralasan ketika mendadak otaknya mengosong. Ini adalah kali pertama Jungkook berbicara dengan Taehyung di luar perihal akademik, dan jarak yang sempit ini bukan sesuatu yang telah diantisipasinya.

"Oh, maaf. Kuharap kau tidak salah paham, Jeon. Aku tidak bermaksud mengintimidasimu. Hanya sedikit mengklarifikasi," Taehyung mengambil langkah mundur, beringsut perlahan sembari mengangkat kedua tangannya defensif. "Jangan pucat begitu, astaga. Aku bahkan belum melakukan apapun," timpalnya dengan nada bergurau—lebih seperti menggoda.

"Bangsat," Jungkook menggeram, namun gestur Taehyung yang penuh oleh kemutlakan membuat desisnya tertahan.

"Bukan panggilan yang akan kugunakan untuk orang yang kusukai, omong-omong." Tukas Taehyung dengan sebelah alis mengangkat usil, ketenangannya membakar emosi dalam urat jantung Jungkook hingga hangus.

"Aku tidak menyukaimu, Kim, hentikan asumsi menjijikkanmu," gertak Jungkook, obsidiannya berapi-api. "Aku mengamatimu hanya untuk menyeret kaki sialmu turun dari tahta—tidak kurang, tidak lebih. Jangan sombong hanya karena kali ini kau berada di posisi teratas. Keberuntunganmu akan habis, Kim. Dan kau tidak akan bisa tersenyum lebar seperti sekarang lagi," geramnya, merasakan rahangnya mengeras.

Mendengarnya, Taehyung tertawa lepas, sejenak membuat Jungkook bergidik ngeri. Pemuda berambut ungu itu kembali melirik ke arah Jungkook. "Tidak ilmiah," ucap Taehyung, "Lebih dari tiga kata," lalu pemuda itu menggelengkan kepalanya, "—argumen ditolak."

Ketika Jungkook sudah membuka mulut untuk melayangkan protes lainnya, Taehyung segera menyela.

"Dengar, Jeon," ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku akan mengambil Astrobiologi setelah penjurusan. Tebakanku kau mengambil Biomedis, benar?"

Perubahan topik mendadak ini membuat Jungkook mengernyitkan kening. Apa-apaan.

"Biomedis, eh—tipikal Jeon Jungkook sekali." Taehyung menyahut sendiri, "Mudah sekali dibaca—transparan," timpalnya sinis. "Sampai kapanpun kau tak akan bisa mengalahkanku, Jeon—terus di bawahku, terus menjadi nomor dua." Entah mengapa, tak ada nada cemooh di dalamnya. Taehyung mengeraskan rahangnya, berujar kembali. "Ingin aku mendiktekan untukmu tiga alasan mengapa kau selalu kalah? Seperti bayi, karena kau terlalu fokus pada peringkat tak berguna itu dan melupakan segenap yang lainnya?"

Jemari kurus Taehyung tiba-tiba telah melingkar di kerah kemeja Jungkook, membuatnya menarik napas terkesirap walau tatap matanya masih menantang, berusaha membalas sorot menikam Taehyung dengan ketangguhan.

"Dan kau mau tahu apa pendapatku?" Jungkook dapat mendengar geraham Taehyung yang bergemeletuk di depan wajahnya.

"Kau yang tidak memahami sains, Jeon."

"Kau bisa saja peringkat dua Ilmu Sains Gyangbuk, tapi kau datar—membosankan. Kau tidak mencintai sains sebanyak yang kau kira—"

"—karena tak ada seorangpun yang mencintai sains melebihi aku di kelas keparat itu."

Taehyung menarik kerah Jungkook sekali sebelum melepaskannya, tatapan matanya garang dengan raut dingin dan tajam. Kedua obsidian Jungkook menyalang, sebab Kim Taehyung yang marah bukan satu dari ribuan ekspektasinya. Apa selama ini ia salah memandang Taehyung? Lalu bagaimana dengan sifat tanpa usahanya setiap kali berada di dalam kelas? Bagaimana dengan dirinya yang selalu tertidur ketika kuliah umum? Tidak pernah membaca buku ataupun mendengar penjelasan dosen?

Yang benar saja.

Masih dalam minimnya jarak, Taehyung mendesis.

"Beritahu aku berapa GPA yang kau inginkan dariku, Jeon. Jika peringkat begitu penting bagimu, ambil dan nikmatilah." Geramnya dengan oktaf terendah yang tak pernah Jungkook dengar sebelumnya. "Pikirkan baik-baik berapa yang kau inginkan—lalu datanglah padaku dan bawa saja peringkat satu sialmu dariku, jika itu membuatmu senang."

Segenap ucapan Taehyung membuat Jungkook menganga; dan ia merasa bodoh karena sempat terpesona karena wajah beringas Kim Taehyung begitu cantik. Namun satu per satu tutur kata yang jatuh dari bibir pemuda itu seratus-delapan-puluh derajat kebalikannya. Berbahaya dan mengerikan, tanpa keraguan setetespun sehingga Jungkook nyaris merasa bahwa bukan Taehyung yang bajingan di antara mereka.

Tetapi dirinya.

Tak menunggu Jungkook menyaring impuls sel di otaknya, Taehyung mundur beberapa langkah, jemarinya turun ke jins hitamnya. Ia membuang napas kasar. Kemudian dengan gerak cepat, Taehyung melepas sabuk yang melingkar di pinggangnya yang ramping, menarik dan mengeluarkannya dalam satu gerak kasar dan serampangan. Jungkook merasa isi kepalanya benar-benar kacau balau karena setiap tindakan Kim Taehyung amat sangat jauh dari perkiraannya, amat sangat berbeda dari yang apa dapat diprediksinya.

"Jeon," panggilnya dengan wajah mendongak ke arah Jungkook, rautnya sedikit melunak. "Aku tidak keberatan jika kau masih ingin tinggal, tapi aku akan mengganti celanaku sekarang. Kau bebas jika ingin melihat. Lakukan sesukamu. Terserah."

Bahkan Jungkook tidak sempat memproses nalarnya untuk mempertimbangkan penawaran Taehyung. Karena detik berikutnya, insting membawa Jungkook untuk menarik kenop pintu secepat-cepatnya, keluar dari ruang loker Klub Basket, dan menderap pergi setengah berlari.

Sejauh-jauhnya dari manusia kompleks bernama Kim Taehyung.

.

.

.

Jungkook membanting tubuhnya di atas ranjang begitu masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya mendebuk bantal dan ia mengerang kecil. Kepalanya terasa luar biasa pening. Mengabaikan Seokjin yang tengah berbincang-bincang dengan seorang pria berkulit tan yang belum pernah Jungkook lihat sebelumnya. Kemudian ucapan Taehyung kembali berputar-putar dalam nalarnya. Ia bahkan kehilangan nafsunya untuk mengunjungi perpustakaan. Tak dapat mengusir segenap tutur kata Taehyung dalam ingatannya.

"Jungkook-ah," suara lembut Seokjin memanggilnya dan Jungkook tak bergeming.

Ada helaan napas tipis, dan Jungkook tahu bahwa Seokjin begitu dekat dengannya.

"Jungkook-ah, tamumu," ujar Seokjin dengan intonasi yang begitu sabar.

Mendengarnya, Jungkook mengerutkan kening. Ia memiringkan kepalanya untuk menemukan Seokjin yang berdiri di samping ranjangnya dengan senyum tipisnya, kemudian seorang lagi pria tinggi dengan setelan kemeja rapih tengah tersenyum sopan kepadanya. Jungkook berusaha memutar otak berusaha mengingat siapa pemuda itu. Tampak familiar. Apakah Jungkook pernah bertemu dengannya atau sekedar melihatnya di kampus, atau menyaksikannya di majalah bisnis—

"Namjoon Kim," pria itu mengangguk santun.

—majalah Fortune yang pernah Jungkook baca di perpustakaan sebagai salah satu entrepreneur muda dari Korea Selatan, seorang milyader, dan—

"Kakak dari Taehyung Kim. Salam kenal."

—bukan seseorang yang Jungkook ingin berurusan dengannya.

.


TBC


Author's Note:

HALO BAEBAES!

Anyone miss meh :") /ketawa watados/

Iyaa, tau, lama apdetnya because RL has been a bitch recently. Ane serius sebulan lebih enggak utak-atik folder fanfiksi sama sekali, jadi yah, maafin kalo masi lacking dimanamanaaa ;;_;;
But thanks a lot lot buat review prolog kemaren yang mindblowing, seriously! /nangesbahagia.

Ini didedikasikan buat readersnim2 yang kemaren mewek ke ane bilang kangen seme!tae katanya, yang ngegalauin Vkook sampe jam tiga pagi sama ane, yang curcol di PM, DM, dan review, juga yang liat TL bangtan pundung mulu, lmao. Sini sini semuanya, come to mama :") /dibuang.

Shoutout buat Eclaire Delange (yang katanya cintak ama lilac-haired kaktae, gws sayangku, ayo meetup lagi!) dan ichizenkaze (yang kemaren abis maen ke jogja teros nyampah bangtan ama aku sampe bebusa lols), dan yang kemaren pada galau, cheer up, gals!

Last, I love all of you guys so much, you know it. Tapi tolong banget, don't tell me about fast update buat fiksi ane yang manapun. Kalo ane belom apdet, berarti lagi super sibuk, I'm not even lying. So please, just understand :)

Thanks for reading and reviewing! ^^

.

Luv y'll to the moon and back,

Alestie.
[
twitter – alestierre ]