BTS as FFN Author

.

Title:

BTS as FFN Author

Author:

Elixir Edlar

Disclaimer:

All cast belong to God, their parents and Bighit. Ent. I do not own the characters.

.

Just a gesrek story about BTS

Anak-anak Bangtan sedang berkumpul bersama di sebuah ruangan untuk mendengarkan Papa Bang Hitman memberikan tanggapan dan saran mengenai fanfiksi karya mereka.

Urutan duduk mereka dari kiri ke kanan adalah Namjoon, Seokjin, dan Taehyung di barisan pertama. Sedangkan di belakangnya, dari kiri ke kanan ada Hoseok, Yoongi, Jimin, dan Jungkook.

"Pertama, Kim Namjoon. Papa bangga sama kamu, Namjoonie. Karya-karya kamu selalu masterpiece. Dikemas apik dan rapi dalam balutan diksi yang presisi, pengembangan karakter yang mumpuni, tata bahasa yang baik dan benar, ide cerita yang disajikan selalu berbeda dan luar biasa; serta dilengkapi dengan trivia-trivia yang oke punya. Nyaris sempurna! Papa kasih nilai sembilan puluh lima untuk author genius macam kamu! Congratulation."

"Terima kasih banyak, Papa Bang" Namjoon mengangguk kecil seraya tersenyum tipis. Manis sekali seperti gula jawa.

Kalau kata Habibie ke Ainun sih, gula jawa sudah berubah jadi gula pasir. Dan gula pasir sudah berubah jadi gula batu. Kemudian gula batu pun berubah jadi gulali. Lalu gulali berubah juga jadi gulaku. Dan kini, gulaku sudah tersedia di supermarket dan minimarket terdekat di sekitar rumah anda. Hahaha.

"Satu lagi Namjoonie. Karena nilai kamu tinggi, nanti kamu Papa belikan pulsa lima ribu won buat sms-an sama layanan pesan-antar makanan buat member Bangtan, okay?" tambah Papa Bang.

Seketika Namjoon langsung melongo membentuk huruf O. Cengo.Tapi tetap mengangguk-angguk sambil memaksakan senyumannya.

"Hyung, buat apa puas dengan nilai sembilan lima kalau kamu bisa dapat nilai, SERATUS! Mirip iklan shampoo? Hahaha, emang aku lagi niruin iklan shampoo kok, kikikikik," Taehyung sedang jadi kompor, mencoba memanas-manasi Namjoon. Kedua sudut bibirnya ditarik mendekati telinga, nyengir kelewat lebar sambil goyang-goyang alis naik turun secara bersamaan.

"Jangan dengerin Taehyung deh. Seenggaknya kamu bakal dapet nilai paling tinggi di antara kita bertujuh di sini," Hoseok menepuk-nepuk pundak Namjoon yang duduk di depannya.

"Kedua, Kim Seokjin. Well, apa yang harus Papa katakan padamu ya? Hiks hiks, begitu melihat wajahmu, entah mengapa aura di sekitarku berubah angsty. Suram, muram, dan temaram. Kamu adalah author terbaik dengan genre hurt-comfort yang menguras hati dan air mata sekaligus. Cocok sekali untuk para pembaca yang lagi galau supaya mereka sadar bahwa ada orang yang jauh lebih menderita hidupnya dari mereka. Setelah baca fanfiksi kamu, Papa harap para pembaca bisa lebih bersyukur karena hidupnya tak sesuram fanfiksi kamu. Papa suka baca fiksi kamu! Papa kasih kamu nilai sembilan puluh, selamat ya!"

"Hai, arigatou gozaimasu!" Seokjin menjawabnya dengan semangat 45. Berbanding terbalik dengan ekspresi Papa Bang ketika memberikan tanggapannya kepada Seokjin. Seokjin nyengir pepsoden dan gigit-gigit bibir bawahnya yang tebal itu sambil meringis. Dia kelewat senang sepertinya.

"Hyung, jangan gigit-gigit bibir bawah deh.." Taehyung memasang ekspresi datar kepada Seokjin yang duduk di tengah Namjoon dan Taehyung.

Seokjin sontak menghentikan aktivitasnya dan menukikkan sebelah alisnya. Tanpa memandang ke asal suara yang menyapanya, Seokjin menjawab, "Memangnya kenapa? Kamu tergoda dengan bibirku yang seksi ini, huh?" Seokjin kepedean.

"Ya kali. Itu loh, Hyung, bibir udah dower mah jangan digigit-gigit begitu. Nanti tambah dower lho. Kalau sampai persis sama bibir kuda laut jontor kan gawat, kekeke," tanpa rasa bersalah Taehyung menggoda hyung tertuanya, yang seketika dihadiahi sebuah tatapan membunuh oleh seorang Kim Seokjin.

"Sudahlah Jin hyung, jangan pedulikan Taehyung. Mungkin dia lapar, lapar kan mengubah orang—jadi super menyebalkan. Nah, kalau dia lapar kita perlu ambil sneakers! Semacam converse atau adidas buat ngeganjel mulut lebar si Alien ceriwis itu," Namjoon mengelus-elus paha Seokjin, membuat empunya gusar di tempat duduknya karena kegelian.

"Aw, waw, aw. Aish! Kim Namjoon, tangan dikondisikan please!" Seokjin mendelik ke arah Namjoon seraya menunjukkan senyum khas psikopatnya. Bibirnya tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya dengan kedua bola matanya yang di-zoom in maksimal.

"A-ampun, Jin hyung. Kelepasan hehehe," Namjoon hanya terkikik sambil kebat-kebit canggung. Perlu diakui bahwa tatapan mata Seokjin yang menampilkan senyum psikopatnya memang benar-benar menyeramkan. Sangat out of character!

"Sshh! Berisik tahu nggak! Papa Bang mau ngomong nggak jadi-jadi karena kalian semua pada berisik tahu!" Suga menghardik dari belakang, membuat tiga orang di kursi depan mendadak kehilangan pita suaranya dalam kejap.

Hening. Dan Suga pun nyengir karena hardikannya berhasil mendiamkan ketiga Kim yang duduk di deretan depan.

"Oke semuanya, sekarang Papa Bang akan mengomentari karya-karya Suga," Papa Bang tersenyum manis ke arah Yoongi yang dibalas dengan senyum marshmallow olehnya.

"Min Yoongi, sebagian besar genre yang diusung adalah petualangan dengan berbagai macam genre. Entah mystery, suspense, thriller, horror, supernatural, fantasy, crime, dan science-fiction. Papa perhatikan, kamu satu-satunya author yang jarang sekali mengusung tema percintaan. Benar begitu, Suga-ssi?" tanya Papa Bang.

Yoongi mengangguk, "Benar sekali, Papa Bang. Aku memang sengaja membuat cerita bertema petualangan karena dengan menulis tema petualangan, aku bisa mengeksplor imajinasiku sampai ke level yang paling tinggi yang bisa kubayangkan; dan kurasa akan sangat menyenangkan apabila para pembaca bisa ikut merasakan petualangan yang kutulis dalam sepotong fiksi." Jelas Yoongi.

"Very well, Suga-ssi. Aku sangat menghargai dan mengagumi karya-karyamu karena kau memang konsisten dengan genre ini sehingga di luar sana kau terkenal sebagai penulis fiksi petualangan yang jarang sekali memercikkan bumbu percintaan, akan tetapi masih dapat meraup jumlah pembaca yang jumlahnya luar biasa banyak! Hebat! Kau adalah one-of-a-kind, kalau boleh kubilang," Papa Bang menunjukkan kedua jempol gempalnya kepada Yoongi sambil mengedipkan sebelah matanya. Sangat bangga.

"Ah, Papa Bang terlalu berlebihan. Aku hanya menulis fiksi sesuai dengan imajiku saja kok. Masih kalah jauh dibandingkan Namjoon dan kawan-kawan, Kebetulan saja yang banyak menulis genre ini hanya aku sehingga menjadi lumayan terkenal di luar sana hehe," Yoongi garuk-garuk lehernya yang tidak gatal. Sejujurnya ia sangat senang dipuji seperti itu, apalagi yang memujinya adalah orang sekelas Papa Bang.

"Wah, selamat ya Yoongi hyung. Aku tahu kalau kau memang the one and only," Jimin menampilkan aegyonya sambil tersenyum sehingga kedua matanya membentuk bulan sabit, manis sekali.

Semanis gulali leleh yang baru diangkat dari tungku pengolahan. Hmm, nyummy tapi masih panas. Jadi, hati-hati! Kalau langsung dimakan, bibir anda taruhannya! Jontor!

"Ah, Jiminnie bisa saja," Yoongi menarik pipi Jimin yang putih dan kenyal seperti mochi, membuat empunya meringis kesakitan karena cubitan Yoongi memang cukup keras.

"Aw, sakit hyung!" Jimin memegangi pipinya yang terlihat kemerahan akibat dicubit Yoongi. Kemudian ia menoleh ke arah Jungkook, "Kookie, lihat pipiku. Merah tidak? Ini tadi dicubit Yoongi," rengek Jimin.

Jungkook meneliti pipi Jimin dengan saksama, "Merah sih hyung. Tapi warnanya kurang oke nih. Terlalu pinkish, kayaknya perlu ditambah tabokan biar tambah unyu deh," Jungkook nyengir lebar, menampilkan seringai liciknya.

PLAK!

Jungkook menampar pipi Jimin yang barusan dicubit Yoongi, menimbulkan rasa perih yang membakar di pipinya. Sialan, Jeon Jungkook! Batin Jimin murka. Namun Jimin hanya melotot unyu dan tidak memedulikan kedua 'setan' yang berada di kanan kirinya.

'Kampret bener dah! Padahal di ep-ep, biasanya gua disayang-sayang ama nih bocah tengil sama si gula. Sial, pada main cubit ama tabok aja ke muka gua. Awas lu berdua ya, tunggu pembalasan gua,' batin Jimin bersungut-sungut kesal. Asap imajiner mulai muncul dari kedua lubang hidung, lubang telinga, dan juga mulutnya.

Bultaoreunae!

FIREEEEEEEEEE!

"Nah, sekarang untuk peserta keempat. Jung Hoseok! Hahahaha! Hahahaha! Hahahaha! Oke maaf, Papa jadi agak sedikit OOC gara-gara ngeliat muka Hoseok. Jujur aja, Papa nggak bisa nggak ketawa setiap baca fiksi humor yang ditulis sama Hoseok. Entah kenapa, Papa juga nggak ngerti. Yang jelas, sejujurnya dari dasar palung hati Papa yang paling dalam—cerita humor Hoseok itu garing semua! Tapi Papa enggak bisa berhenti ngakak setelah baca fiksinya Hoseok. Nah, kalau begitu ceritanya, masih bisa dikatain garing nggak? Hahahaha, maafkan Papa ya Hoseoki. Papa cuma mau bilang kalau cerita Hoseok itu unik dan lucu. Cocok banget dibaca mereka yang lagi penat karena kerjaan atau sekolah-kuliah yang padat. Pelipur lara lah istilahnya. Semangat ya Hoseoki. Keep writing and fighting!"

"Siap, Papa Bang! Terima kasih sudah mau baca cerita-cerita gesrek buah karya otak gaje dari seorang Jung Hoseok. Apresiasi dari Papa dan para pembaca begitu berarti bagi Hoseok. Kalau begini, Hoseok jadi terharu dan Hoseok jadi kepingin nangis. Huwaaaaaa!" Lah kok malah nangis Hoseoki? Kamu sehat kan? Obatnya udah diminum belum?

"Duh, lebay lu. Kagak usah nangis nape? Biasa aja keles," Yoongi melirik malas pada Hoseok yang mulai mewek-mewek.

"Yoongi hyung jangan begitu. Kasihan Hoseok hyung. Dia kan hanya mengekspresikan perasaan terima kasihnya yang begitu dalam kepada para pembaca dan juga papa Bang. Kita nggak boleh bikin dia down, okay?" sang malaikat Jimin menasihati.

"Hahaha, gua cuma bercanda kok Chim. Soalnya Hoseok kalau nggak dibegituin, ujung-ujungnya bakal tambah gambreng. Kan tahu sendiri, penname-nya dia, Hopimpahalayhumgambreng. Menolak lupa atau pura-pura ingat hayoo?" kilah Yoongi.

"Pura-pura nggak ingat dan menerima lupa! Udah ah, hyung. Habis ini giliran daku nih yang mau dikomentarin," Jimin memfokuskan pandangannya kembali pada Papa Bang yang asyik cengar-cengir sendiri. Papa Bang, apakah anda sudah tidak waras?

"Park Jimin! Pertama-tama, Papa mau tanya ke kamu. Kenapa kamu selalu bikin konten ena-ena? Katanya kamu mau jadi penulis yang mengutamakan moralitas dan nilai-nilai pendidikan yang bisa dipetik oleh para pelajar sebagai bekal generasi muda di masa depan. Nah, coba jelaskan ke Papa, apa maksudnya dengan genre-genre fanfiksi yang kamu tulis itu," Papa Bang mengubah raut wajahnya menjadi serius.

Daddy Kink, Grandpa-Kink, Pedo, Eodipus Complex, Shota-con, Loli-con, BDSM, Dubious-consent, Non-consent, Rape, Fetish, Pathological love, etc.

"Umm, itu—aku hanya.. aku hanya.. mencoba genre baru Papi Bang! Hehehe, maafkan aku tapi.. hanya itu genre yang membuatku semangat menulis. Hiks, hiks, hiks, sejujurnya aku merasa sangat bersalah dengan menuliskan genre seperti itu. Pada mulanya aku hanya iseng-iseng saja tapi ternyata jumlah peminatnya membludak sampai ke gunung Himalaya. Jadi, aku tetap konsisten pada genre tersebut. Aku telah meracuni otak-otak para generasi muda hiks hiks. Aku pantas dihukum, Papi Bang! Huwaaaaaaaa!" Nah, sekarang malah Jimin yang menangis dengan suara lumba-lumbanya itu. Pengang tahu, Chim.

"Sudah jangan menangis, sudah telanjur juga. Mau diapakan lagi?" Papa Bang berusaha menghibur Jimin, "Mungkin begini saja Jiminnie, kalau misalnya kau memang hanya 'berminat' dan 'tertarik' dengan genre seperti itu; kau bisa mengkolaborasikannya dengan ilmu psikologi. Misalnya, apa latar belakang yang menyebabkan tokoh utama bisa memiliki kelainan seksual seperti itu? Lalu diterangkan juga dari sisi sosialnya, dari segi lingkungan pembentuk kepribadiannya, mungkin juga ditelusuri dari orang tuanya. Ya, intinya seperti itu, Jiminnie. Papa yakin kamu pasti bisa! Semangat ya? Papa mendukungmu!" Papa Bang membentuk gestur 'fighting' menggunakan salah satu tangannya yang diangkat tinggi-tinggi ke udara.

"Papa Bang, turunin donk tangannya. Papa Bang bukan patung Liberty kan? Lagian ketek Papa Bang bau apek! Asem-asem tengik gimanaaaa gitu.." bisa ditebak, ini Taehyung yang nyeletuk.

"Papa kan cuma nyemangatin Jimin, Tae," Papa Bang langsung menurunkan tangannya karena barusan dikatai 'bau ketek' oleh Taehyung.

"Ehm, Kim Taehyung! Papa akan memberikan tanggapan untuk kamu. Taehyungie, di antara ketujuh anggota Bangtan yang lain, kamu adalah author yang paling sedikit menelurkan karya. Karya-karya kamu itu jauh lebih sedikit dibanding yang lain. Kamu tahu kenapa?"

"PLOTBUNNIES! PAPA BANG! Julukanku kan emang The King Of Plotbunnies."

"Betul! Sejujurnya ide kamu itu brilliant dan lain dari yang lain. Papa juga nggak nyangka kalau kamu mau bikin ide cerita tentang kerajaan Api, Air, Bumi, dan Udara yang bakalan ketemu Megatron di gurun Sahara terus Power Ranger mau menyelamatkan dunia eh malah menyelam lalu tenggelam di Segitiga Bermuda! Edan! Tae, kamu kenapa sih kebanyakan mengkhayal? Kalau ada ide ya langsung ditulis aja. Jangan cuma diimajikan melulu. Kalau begitu, kapan kamu mau bikin fiksi baru?"

"Hm, tapi Tae kan orangnya cepat bosan. Taehyung hobinya nge-twist jalan cerita. Nah, ujung-ujungnya kebanyakan twists dan Taehyung gak tahu lagi gimana cara menyusunnya dari nol. Semuanya udah keburu rumit dan ruwet semacam benang kusut yang udah lama dimainin sama kucing garong, huhuhu," Taehyung mengerjapkan matanya, pura-pura sedih. Padahal tidak. Dia mah orangnya santai, woles keleus, dan bodo amat sejujurnya. Fiksinya tak ada yang baca pun dia masih cabutin bulu ketek dengan khidmat. Tak peduli sama sekali hahaha.

"Nah, itu Tae. Kamu perlu menyederhanakan pikiran kamu supaya bisa menghasilkan karya. Idemu itu sungguh dibuang sayang loh. Papa serius sama kamu. Kalau kamu bisa menulis sebaik gaya penulisan Namjoon, papa yakin kalau kamu bisa dapat nilai seratus dari Papa! Dari para pembaca juga!"

Namjoon manggut-manggut, "Aku setuju sama Papa Bang! Taehyung kekuatan utamanya ada di ide. Orisinal banget dan antimainstream. Tapi ya itu dia, plotbunnies-nya udah stadium akhir, ck ck ck."

Taehyung garuk-garuk kepala, ekspresi wajahnya kosong. Blank as usual.

"Hm, iya deh. Taehyung nanti belajar dari Namjoon hyung, Jin hyung, Suga hyung, Hoseok hyung, Jiminnie, sama Jungkookie," katanya sambil menunjukkan cengiran kotak andalannya.

"Gitu donk! Itu baru namanya Kim Taehyung! 90% idiot, 10% jenius. Sudah saatnya kau menggunakan 10% kegeniusanmu untuk mengembangkan kemampuanmu!" Yoongi menendang-nendang kaki panjang Taehyung dari belakang.

"Well, semuanya. Jadi, siapa yang belum diberi komentar?" Papa Bang bertanya, menggoda Jungkook saja sebenarnya.

Semua orang diam. Ikut-ikutan menggoda Jungkook.

Jungkook angkat tangan tapi tak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Hahaha Maknae! Aku hampir lupa! Nah, Jeon Jungkook—ASTAGA! ASTAGA! ASTAGA! SIAPA YANG MENGAJARIMU MENULIS CERITA SEPERTI INI JUNGKOOKIE?" Papa Bang, caplocks jebol tuh.

"Astaga, maknae! Kukira kau hanya menulis fluff manis dengan tema cinta monyet ala anak sekolahan! Ini apa kookie?! Dari mana kau belajar menulis fiksi mesum NC-25 begini? Kau ini bahkan baru dua puluh tahun bulan ini! YA AMPUN! KATAKAN PADA PAPA, SIAPA ORANG YANG TELAH MERACUNI OTAK SUCI DAN POLOSMU ITU!?"

Jungkook nyengir lebar, telunjuknya ia arahkan pada makhluk pendek yang duduk di sampingnya, Park Jimin.

"Hah?! Aku? Tidak kok! Bukan aku yang mengajarinya! Aku bahkan tak tahu kalau dia menulis cerita porno seperti itu! Apa lagi Hardcore, aku tidak separah itu kok! Lagi pula, mana tega aku meracuni otak murni anak kecil macam si Kookie?" kilah Jimin.

"Nah, Jungkook, apa pembelaanmu. Apakah yang dikatakan Jimin itu benar? Atau kau memang sengaja mengkambinghitamkan Jimin?" Namjoon buka suara. Sementara yang lain hanya menatap Jungkook lekat-lekat, menanti sebuah jawaban.

"Hehehe, sebenarnya bukan Jimin hyung yang mengajariku. Tapi... V hyung! Dia suka sekali menceritakan tentang ide-ide cerita mesumnya yang hanya melantun indah melalui kedua belahan bibirnya tapi tak pernah jadi sebuah karya. Pada akhirnya, aku yang baru saja dapat inspirasi dari V hyung pun menulisnya. Sayang kan kalau ide-ide sekeren itu menguap begitu saja? Hihihi. Maafkan aku ya V hyung, semuanya itu terinspirasi darimu.." Jungkook menampilkan tanda V-sign pada Taehyung.

"Hah? Kau benar-benar menulisnya? Astaga Jungkookie, ternyata kau ini lebih mesum dari manusia paling mesum di Bangtan Boys ya!" seloroh Taehyung.

"Siapa yang paling mesum di Bangtan Boys?!" keenam anggota Bangtan seketika bertanya pertanyaan yang serupa pada saat yang bersamaan. Kepo maksimal katanya.

"YA, AKULAH! MEMANGNYA SIAPA LAGI?! HUWAHAHAHAHAHA!" Taehyung terbahak keras sekali.

Keenam anggota yang lain pun hanya menepuk dahi mereka masing-masing dan geleng-geleng kepala.

Tidak habis pikir.

Makhluk satu itu, polos sekali ya pemirsa.

End, dengan tidak elitnya.

10:00 am

Minggyu, 18 September 2016

NON-EDIT – typos dan bahasa rancu bertebaran.

Nggak lucu.

Review, kalo mau.

.

.

PS. Lagi gak mood untuk melanjutkan FF mana pun. Ini bikinnya gak sengaja juga.

Tiba-tiba nulis... dan ya.. entah apa ini.. jelek sekali..