Haloh Haloh!

Lama ga buka FFn coz ujian... (Reader : ga nanya!)

Rapotku bagus loh... :D (Readers : Dibilangin ga nanya!)

Okeh silakan nikmati FFn saya (Readers : Dari tadi, kek!)

Title : Sikat Gigi Malam bersama Ayah Honjo dan Taka II

Rated : K, tapi apa bisa dinaikin jadi T? ga bisaya? ya udah. #pasrah

Characters : Ayah Honjo yang rada Blo'on di sini sama Taka 6 tahun yang (sok) dewasa

Disclaimer : c bulet, Yuusuke Murata dan Riichiro Inagaki

Warning : Out of Characters! x)

.

.

.

Suatu malam Ayah Honjo dan Taka berada di depan kloset-#Salah-di depan wastafel dapur-#salahlagi!-Di depan shower-#lagilagisalah!

(Bokap Honjo & Taka : Author! Yang bener kenapa? Author : iya iya... Maap *nunduk nundukin kepala sampe natap lantai JDUAK!*)

Suatu malam, Ayah Honjo dan Taka berada di depan wastafel kamar mandi. Mereka siap-siap mau sikatan, tapi odolnya gak ada di situ. Ayah Honjo sama anaknya bingung nyariin odol.

"Di mana ya odolnya?" Tanya Ayah Honjo bingung.

"Ga tau. Cari aja yuk!" Kata Taka.

"Ya udah. Taka, kamu cari di rumah ini, trus Ayah mau ikut jaga malam sekalian nyari odol!"

"Ayah! Ga mungkin lah odolnya sampe keluar rumah gitu! Kalo Ayah mau keluar, kenapa ga sekalian beli?"

"Iya juga ya..." Kata Ayah Honjo blo'on.

"Ya udah, ayo cari!" Kata Taka.

"OK," Ayah Honjo pun mengeluarkan toa segede kepalanya sendiri.

"Odol mah gak mungkin punya kuping buat ndengerin Ayah manggil! Ah pusing aku kalo nyari bareng Ayah!"

"Ya udah deh Ayah masukin lagi toanya,"

Akhirnya bapak anak itu nyari-nyari odolnya di kamar mandi. Gataunya odolnya kecemplung di kloset.

"E gila bau banget!" Kata Ayah Honjo.

"Eits, Ayah! Nggak boleh ngeluh pake bahasa kasar!" Kata Taka memperingatkan.

"Lah trus ngeluh pake kata-kata apa?"

"...mendingan ga usah ngeluh, terima aja apa yang telah terjadi... Inilah takdir..." Kata Taka sangat berwibawa (aplus untuk Taka).

"Ya uda terima aja tuh odol nyemplung di kloset!" Kata Ayah Honjo sambil nunjuk-nunjuk kloset.

"Yah, kalau itu mah, laen lagi, Yah. Tuh odol harus secepatnya diambil!"

"Ya udah... Ayah deh yang ngambil..."

Setelah odol diambil, karena odolnya bau harum, salah, pesing, maka dari itu Ayah Honjo ngambil odol lain dari lemari.

"Kalo gini mah napa ga dari tadi?" Kata Taka.

"Iya juga ya..." Ayah Honjo ber-blo'on-blo'on (author nyiptain bahasa baru! Iyeeei! Tepuk tangan untuk au... #plak)

Nah, Ayah Honjo dan Taka sekarang siap-siap mau sikatan di wastafel kamar mandi.

"Taka," panggil Ayah Honjo. "Sekarang uda tau 'kan kenapa kita harus sikat gigi?"

"Tau dong Yah." Jawab Taka. "Kemarin 'kan Ayah udah ngasih tau!"

"Iya ya..." Lagi-lagi Ayah Honjo pasang muka blo'on. "Sekarang 'kan Taka uda ngerti, gimana kalau sekarang gantian Taka yang njelasin?"

"Boooleh!" Kata Taka.

Mereka pun bertukar posisi...

"Tadi 'kan kita makan ayam," Taka mulai menjelaskan. "Kalau kita nggak sikatan, ayamnya nanti nginep di gigi kita!"

"Hmm... Hmm... " Ayah Honjo mendengarkan dengan seksama.

"Ntar mereka memakan gigi kita hingga gigi kita berlubang!"

Ayah Honjo makin serius mendengarkan perkataan anaknya.

"Terus bunyinya... 'Petok! Petoook!'"

Sambil memegangi pipinya, Ayah Honjo mulai khawatir dengan giginya.

"Sebetulnya, ayam yang tadi kita makan itu adalah mayat ayam yang sudah mati!" Kata Taka menakut-nakuti Ayahnya sendiri.

Author nongol : Di mana-mana mah, semua mayat uda mati.

"Seorang pemilik peternakan ayam memaksa seekor ternaknya untuk disembelih... Tak peduli meskipun ayam tersebut meronta-ronta sekuat tenaga, peternak itu langsung menyembelihnya! JRASH!"

Ketika sang anak menirukan gaya peternak saat menyembelih ayam, Ayah Honjo bergidik ngeri.

"Ayam tersebut akhirnya terkulai lemas tak berdaya. Ia mati dengan mata melotot, dengan kepala terpisah dari tubuhnya, dan dengan paruh terbuka tanda bahwa ia sempat berteriak sebelum ajal menjemputnya." Taka menjelaskan panjang lebar.

"...Darah-darah berceceran, dan cairan kental anyir merah itu melebur di tangan sang peternak, membuatnya harus berlari ke keran air untuk mencuci tangannya... Tak hanya darah, tenggorokan serta kerongkangan terputus hingga mengeluarkan cairan-cairan putih kental yang aneh,"

"Mampukah engkau, membayangkan bangkai ayam tersebut, yang berlumuran darah dan nanah, berada di dalam mulutmu SEPANJANG MALAM?"

"...tidak..." Jawab Ayah Honjo dengan penuh ketakutan.

"Baguslah. Taka juga nggak bisa bayangin kok," kata Taka. Rupanya anak 6 tahun itu sudah kembali menjadi anak-anak (?).

"Ok Taka, sudah cukup. Ayah nggak mau ndenger cerita ber-rated M kayak ceritamu tadi. Lagian umurmu berapa, coba? Nggak seharusnya kamu bikin cerita serem kayak gitu!" Kata Ayah Honjo memperingatkan.

*Hash, dasar Honjo... Bilang aja takut sama cerita anaknya sendiri!*

"Yaudah... Taka nggak akan cerita horror lagi, kalau Ayah mau gosok gigi," kata Taka sambil memberikan sikat gigi Ayah Honjo pada Ayahnya.

"Taka ajarin caranya, ya..."

"Hmm..." Respon Ayah Honjo rada geje.

"Pertama, ambil odol barunya..." Kata Taka.

"Ambil odolnya..." Ayah Honjo meniru apa yang dilakukan anaknya.

"Taruh odolnya di atas sikat..."

"Taruh odolnya di atas sikat..."

"Gosok giginya..."

"Gosok giginya..."

"Diputer-puter..."

"Diputer-puter..."

"Anak pinter~" puji (baca : ejek) Taka sambil menepuk-nepuk tangan Ayahnya.

Ayah Honjo salting, dah.

...sejak malam itu, Honjo mulai bermimpi buruk tentang ayam dan bersumpah nggak akan makan daging ayam lagi, walaupun disogok uang miliaran sekalipun...

.

.

.

.

END

gaje... :(

Makasih buat Readers dan para authors yang telah mereview cerita saya sebelumnya... SAYA JANJI CHAPTER 3 NANTI NAMA-NAMA AUTHORS YANG MEREVIEW SAYA TULIS! Btw, saya bikin FFn ini sambil makan soto ayam lhooo (readers : GAK TANYA!) ^^

...Review?