Pergi Dari Hatiku

Pairing: SasukeXSakura slight other pairing

Gendre: Romance, Hurt comfort, friendship

Disclaimner: Masashi Kishimoto

Rated: T+ - M (saya simpan di M, tapi bagi pencinta lemon, dan sejenisnya jangan terlalu berharap akan mendapatkan yang benar-benar asam di fic ini)

Warning: terinspirasi dari kisah nyata seseorang(sekitar 40% adalah kisah nyatanya) , don't like don't read.

Kadang aku menyesal sudah jatuh cinta padamu, aku menyesal karena sudah terjerat hubungan yang tidak bisa kuakhiri seperti ini. Kadang aku berfikir, seandainya aku tidak bertemu dan jatuh cinta padamu… aku tidak akan merasakan penderitaan yang sesakit ini, kan?

Sasuke, apa kau tau? Kau menyakitiku dengan semua sifatmu, kau membuatku tertekan dengan semua aturan, janji dan kata cinta yang kau ucapkan.

Kadang aku berfikir, sebenarnya disini aku berperan sebagai apa dalam hidupmu? Sebagai seorang pacar yang sangat kau cintai ataupun sebagai… Gadis pemuas nafsu yang bisa kau pakai kapanpun kau mau tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.

Sasuke… aku sedih, aku tidak mau seperti ini terus? Jika kau tidak benar-benar mencintaiku, jika benar kau hanya menganggapku sebagai pemuas nafsumu… aku mohon pergi dari hatiku, hidupku dan biarkan aku bebas. Aku mohon…

Pergi Dari Hatiku

"Sasuke-kun, bangun… ini sudah pagi."

Terlihat dengan jelas bagaimana pria tampan yang baru saja kuusik tidurnya itu tersenyum lembut meski matanya tetap terpejam saat aku mencoba membangunkan tidurnya.

"Pagiku benar-benar sempurna jika sudah mendengar suaramu," kata Sasuke yang sudah mulai membuka matanya bangkit dan duduk bersandar pada dinding yang berada tepat disamping kasur.

Wajahku pasti memerah setiap kali melihatnya wajah baru bangun tidurnya.

"Cepatlah mandi, jam Sembilan nanti kau ada kuliah kan? Ini sudah pukul tujuh lewat tiga puluh." Aku mengingatkan Sasuke yang terlihat masih sangat malas untuk beranjak dari kasur. Kuambil selimut tebal yang masih membungkus hangat tubuh bagian bawah Sasuke dan kemudian melipatnya rapi.

Sasuke memperhatikan setiap gerak-gerikku dan kemudian mengambil ponselnya, mengecek sendiri pukul berapa sekarang.

"Aku akan mandi, selamat pagi Honey." Pria tampan yang usinya lebih muda satu tahun dariku itu mengecup pipi sebelah kananku sebelum pergi ke kamar mandi.

"Selamat pagi Sasuke…" kataku. Aku benar-benar menikmati bagaimana rutinitas pagi yang tidak bisa setiap hari kulakukan ini.

Sasuke kadang menginap di apartment kecilku saat dia malas untuk pulang ke rumah megahnya, tapi kami tidak pernah benar-benar tidur didalam satu kamar. Meskipun apartment yang kutinggali ini adalah apartment kecil, kumuh yang sudah mulai usang dimakan usia, tapi apartment ini memiliki dua kamar.

Aku tidak akan pernah membiarkan Sasuke tidur denganku dalam satu kamar, selalu otak ku masih bisa dibuat untuk tetap waras… aku akan berusaha untuk tidak melanggar batasku.

Sudah dua tahun aku menjalin hubungan dengan Sasuke, pada awalnya semuanya terasa begitu indah, aku benar-benar bahagia karena bisa dicintai oleh orang sebaik Sasuke yang menerima bagaimana keadaanku yang benar-benar apa adanya.

Sebelumnya aku benar-benar tidak terpikir bahwa aku bisa mendapatkannya, yang kutahu dulu dia itu hanyalah anak dari pemilik perusahaan dimana aku bekerja sampai sekarang.

Beberapa kali aku bertemu dan tidak sengaja bertatapan dengannya, kadang dia memintaku untuk membuatkannya coffee saat dia sedang mengunjungi ayahnya di kantor.

Oh, ngomong-ngomong jika ingin tahu, aku bekerja sebagai petugas kebersihan di perusahaan milik keluarga Uchiha, keluarga terkaya nomor satu di Konoha. Ahh… sepertinya bukan hanya di Konoha, tapi juga di Jepang.

Kebahagiaan terbesar yang pernah kurasakan jika dihitung dari saat aku mulai bisa mengingat adalah saat dimana seorang Uchiha Sasuke menyatakan perasaannya padaku dan memintaku untuk menjadi pacarnya.

Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana indahnya malam itu.

Sasuke tiba-tiba saja mengetuk pintu kamar apartementku dan kemudian memaksaku untuk ikut dengannya. Dia mengajakku jalan-jalan, membelikanku baju dan kemudian membawaku ke salon. Disana, dia benar-benar merubahkan menjadi seorang Cinderella… sama seperti kita cinta klasik pada umumnya, hari itu adalah hari dimana aku merasa jika diriku bukanlah si gadis miskin yang buruk rupa, hari itu aku merasa seperti putri raja yang sangat cantik dan Sasuke adalah pangeran berkuda putihnya.

Dia menyatakan perasaannya tepat disaat salju pertama turun dimalam natal, dan tentu saja aku langsung menerimanya. Pria tampan yang diam-diam kucintai ternyata juga memiliki perasaan yang sama denganku.

Kami memulai semuanya dengan sangat sempurna, dan aku berfikir mungkin dia adalah takdirku.

Tapi semuanya berubah saat tiba-tiba saja keluarga besarnya mulai mencium ada yang aneh dengan hubunganku dengan Sasuke. Tuan Fugaku mulai curiga bahwa anak kedua yang nantinya akan mewarisi perusahaan yang sekarang masih dibawah pimpinannya itu sedang menjalin hubungan denganku.

Hari itu, tepat enam bulan setelah kami perpacaran, tanpa sengaja aku mendengar obrolan singkat antara Sasuke dan ayah yang paling dihormatinya, meski sekarang mungkin pria itu menjadi salah satu orang yang paling dibencinya.

"Sepertinya kau semakin sering mengunjungi kantor, bukankah kau sedang sibuk dengan kuliahmu?" tanya Fugaku pada Sasuke saat mereka sedang menunggu lift terbuka.

"Apa aku tidak boleh berkunjung ke kantor milik Ayahku sendiri?" Sasuke balik bertanya pada Ayahnya.

"Jangan sampai aku mendengar gossip-gosip murahan disini. Kau penerusku… dan aku tidak akan mengijinkanmu mengikut jejak Itachi!"

"Memang kenapa jika aku mengikut jejaknya? Apa kau akan mengusirku juga dari rumah? Menurutku tidak ada salahnya jika nanti aku menjalin…"

"Berhenti berbicara omong kosong Sasuke! Jangan sampai kau menjalin hubungan apapun dengan gadis yang jauh dibawah kita, kau akan menyesal jika berani melakukannya!"

Air mataku pasti akan selalu menetes saat kembali mengingat kejadian itu…

Sampai kapanpun, aku sadar… sebesar apapun cintaku padanya, kami tidak akan ditakdirkan untuk bersatu.

Aku tidak terlahir di dunia yang sama dengannya, aku hanyalah gadis yang terlahir hanya dari ayah yang merupakan seroang petani dan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa.

Aku hanya gadis desa biasa yang dengan nekat memutuskan untuk pergi ke Konoha dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang cukup layak. Agar setiap bulan aku bisa mengirimkan sedikit uang pada orang tuaku di kampung, membuat kehidupan keluarga kami tidak lagi menyedihkan.

Aku benar-benar beruntung bisa bekerja di perusahaan milik keluarga Uchiha, meski hanya sebagai seorang cleaning service… tapi Uchiha Company atau biasa hanya di sebut dengan UC memberikan gaji yang lumayan besar kepada seluruh staffnya.

Gaji yang kuterima setiap bulannya mungkin adalah gaji paling mahal yang dibayarkan untuk seorang yang berkerja sebagai seorang cleaning service.

.

.

.

"Sasuke, bagaimana kalau kita putus saja?"

Brakkk…

Sasuke menghentikan makannya, menghempaskan sumpit yang dipegangnya dan kemudian mengebrak meja.

"Apa maksudmu?"Pria itu kini menatapku tajam

"Aku ingin mengakhiri hubungan ini," kataku penuh keyakinan, kutatap mata indah yang kini terlihat sedang menahan amarah.

"Kau tidak sedang sakit kan? Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu!"

.

.

.

Aku menunduk, tidak berani untuk mengungkapkan alasan kenapa aku memintanya untuk putus.

"Jawab aku Haruno Sakura!" Bentaknya, kupejamkan kedua matanya erat, tidak membiarkan airmata yang sejak tadi kutahan itu mengalir keluar.

Srekkk….

Terdengar suara kursi bergeser dan hangat tubuh Sasuke yang mulai menyapa tubuhku.

"Tatap mataku saat aku sedang berbicara denganmu!" kata Sasuke sambil mengangkat daguku dengan kasar dan memaksaku untuk menatapnya. Tapi aku masih bersikeras untuk menutup mataku meski aku tidak bisa menghalang air mata yang sudah terlanjur mengalir keluar.

"Aku tidak pantas untuk menjadi k-kekasihmu, dunia kita berbeda…" kataku pelan, sepelan kedua bola mataku yang mulai terbuka dan memberanikan diri untuk menatap Sasuke.

Bisa kulihat bagaimana raut wajah Sasuke yang terlihat kaget.

"Oh… jadi kau menguping pembicaraanku dengan Si pria tua itu tadi siang?"

Aku tidak berani menjawab, air mataku sudah mengalir dengan sangat deras… jika aku memaksakan diri untuk mengeluarkan suara, aku tahu yang bisa keluar hanyalah sebuah isakan.

Ingin ku tundukkan kembali wajahku, tapi Sasuke tidak membiarkannya. Pria itu masih tetap memaksamu untuk menatapnya.

"Jangan pernah mengatakan kata-kata itu, jika hatimu tidak menginginginkannya!"

"Emmphhh…"

Sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu, Sasuke menciumku dengan kasar. Ini adalah ciuman pertamaku, dan dia benar-benar melakukannya dengan kasar.

Sejak saat itu juga, Sasuke mulai tertarik dengan tubuh yang tidak seberapa ini. Dan kontak fisik yang kami lakukan tidak lagi hanya sekedar pegangan tangan atau pelukan. Sasuke sering melakukan hal yang jauh lebih intim dari pada itu.

Dia bahkan akan melakukan hal itu dengan paksa, jika dia merasa aku mulai menjaga jarak dengannya.

Beberapa hari setelah dia mencuri ciuman pertamaku, sebenarnya aku kembali mengatakan kata 'Putus'. Tapi lagi-lagi hanya kemurkaan darinya yang kudapat… malah itu, dia bahkan hampir saja meregut mahkota terakhir yang ku jaga. Beruntung aku bisa memujuknya, merayu, dan memohon ampun padanya, agar dia menghentikan semua aksi gilanya. Dan dia benar-benar berhenti di detik-detik terakhir.

Terima kasih Tuhan… Engkau masih membiarkanku untuk memiliki mahkota itu lebih lama lagi. Aku tidak akan pernah berhenti bersyukur pada-MU.

Karena mengalami kejadian yang mengerikan itu, untuk beberapa bulan rasa ingin putus itupun seakan-akan menghilang dari pikiranku, karena aku sadar… aku tidak punya kekuatan apapun untuk menentangnya.

Tubuhku menginginkannya, Hatimu sangat mendamba padanya, tapi akal sehatku menolak untuk tetap bertahan dengannya.

Tbc…

Haiii…. Kira-kira masih ada dak ya yang tertarik dengan cerita ini. Saya tau, membaca fic saya tidak sebanyak fic-fic yang lain…

Menulis adalah hobi saya, dulu sempat vakum dari ffn karena saya harus focus dengan skripsi… dan setelah skripsi kelar… tanpa ada jeda untuk istirahat, alhamdulillah saya bisa langsung dapat pekerjaan, saya mulai sangat sibuk dan melupakan hobby saya ini.

Maaf jika fic ini benar-benar pendek, saya masih dalam tahap mengingat kembali ide dari semua fic-fic saya yang terbengkalai.

Saat saya ingin kembali menulis di ffn.. saya ngerasa ffn sekarang udah berubah ya?

:D

Oh iya…

Kalian ingin fic mana dulu yang mau di lanjut? Minta reviewnya ya, biar saya bisa semangat menulis untuk kalian…

Balasan review:

KatoNamiga29,Jamurlumutan462,Lightflower22,Tia TakoyakiUchia,MissHarunoCherry, Sayaka haruchan, Kakikuda, Ri, Salada98, SinB,Greentea Kim, Saki.

Balasan untuk pertanyaan di review :

Yang nanya apakah disini Sakura cuman jadi pelapiasan? Kayaknya gak deh.. tapi gak tau dah… untuk sementara sih kayaknya Si Sasu cinta banget kan sama Sakura? :D

Yang bilang, kasian ya.. kalau cerita ini benar cerita nyata : emmm.. sebenarnya cerita aslinya dan semenyedihkan seperti yang tertulis di ffn ini kok..disini saya lebih mendramatisir keadaan saja :3

yah walaupun inti masalah mereka dan di ff ini sama sih. Tapi di dunia nyata.. mereka bahagia tuh kayaknya sih. :D