Tetap! 'Tokyo Ghoul' punya Ishida Sui
Peringatan sudah diberitahukan pada chapter sebelumnya. Author males nulisnya *plak
LAST CHAPTER...
"KITA SUDAH TELAT! AYO!"
'Jangan menangis, Kuro. Kumohon, jangan menangis. Tetaplah tersenyum. Aku baik-baik saja. Selama kau dan niisan berada di sisiku, aku akan baik-baik saja. Jadi jangan menangis, Kuro.'
'Shiro, kau kenapa?'
"...maaf, Shiro..."
Inside Me
FLASHBACK OFF - POV. NORMAL
"Hei Kuro, apa Haise-nii ada di rumah nanti sore?" seorang gadis beriris indigo duduk disamping Kuro.
"Ah, Touka-chan. Tidak. Niisan akan pulang malam," si surai hitam itu menjawab dengan tatapan yang masih tertuju pada buku bacaan didepannya.
"Huh... Tidak ada di rumah lagi ya?"
Gadis itu menunduk, menyatukan wajahnya dengan meja kayu panjang dihadapannya. Ia menghembuskan nafas kecewa.
"Oh, jadi begini? Setelah kau tidak berhasil mendapatkan aniki kau mengincar Kuro?"
Dari arah kantin terlihat si kembar bersurai putih berjalan menuju gadis itu lalu berhenti di sampingnya. Ia membawa dua buah kaleng minuman.
"Atau kau mau mengajak Kuro 'belajar bersama' agar dapat bertemu aniki di rumah?" Shiro bersedekap. Touka yang mendengar nada sarkatis keluar dari mulut si surai putih itu langsung mendongakan kepalanya.
"Huh! Kalau iya kenapa?"
"Jauhi aniki!"
"Hah?"
"Kau tidak dengar? JAUHI ANIKI!"
"Oh? Baiklah, aku akan menjauhi Haise-nii. Tapi jangan marah jika aku mendekati Kuro."
"JAUHI ANIKI DAN KURO, GADIS SIALAN!"
Shiro menggenggam salah satu kaleng sodanya sangat kuat, membuatnya sedikit penyok. Ia menatap gadis itu nyalang, menebarkan ancaman. Tapi sayang, hal seperti itu tidak akan membuat seorang Touka menjadi takut.
"Sudahlah, Shiro. Ayo kita pergi. Kami duluan, Touka-chan."
Kuro bangkit berdiri, membungkuk, lalu berjalan menuju bangunan besar dihadapannya diikuti Shiro dibelakangnya.
"Sampai jumpa, Kurooo.."
Touka tersenyum dan melambaikan tangannya kearah dua pemuda itu, walau sebenarnya yang dituju hanyalah Kuro. Bukannya senyuman si rambut hitam yang didapat gadis itu, tetapi justru tatapan horror dari sang kakak kembar!
"Jangan bersikap seperti itu, Shiro," Kuro menoleh pada orang disampingnya.
"Kau diam saja."
"Tapi kau tidak boleh bersikap seperti itu pada perempu–"
"Diam dan ikuti aku."
Kuro tersentak. Ia tidak berani membuka suara lagi. Jelas sang kakak kembar sedang dalam mood yang tidak baik. Dan jika Shiro sudah seperti ini, bahkan Haise sendiri sangat sulit untuk menangani adiknya yang satu ini.
Shiro membawa adiknya menuju sebuah taman. Tempat itu cukup sepi, tentu saja karena letaknya yang berada di belakang gedung utama dan lumayan jauh dari kantin. Shiro mengajak adiknya untuk duduk disalah satu bangku taman yang kosong, cukup jauh dari beberapa orang yang juga sedang bersantai disana. Shiro meletakkan kedua kaleng minuman yang sedari tadi ia bawa diatas meja.
"Ini milikmu."
Ia menyodorkan sebuah kaleng minuman yang masih utuh, sedangkan dia sendiri mengambil kaleng lain yang sudah penyok dan menegak isinya. Kuro hanya mengangguk lalu membuka tutup atas kaleng itu dan meminumnya. Shiro yang telah selesai dengan beberapa tenggaknya meletakkan kaleng itu diatas meja dan menatap Kuro yang masih sibuk menghilangkan hausnya.
"Kuro, dengarkan aku," wajahnya serius. Kuro berhenti dari acara minumnya, balas menatap Shiro.
"Jauhi Touka. Jangan pernah mengajak Touka kerumah. Dan jangan pernah mengatakan apapun tentang Touka didepan aniki."
Kuro menampilkan ekspresi bingung mendengar ucapan saudara kembarnya. Shiro tau adiknya tidak mengerti apa yang dia bicarakan, karena itu ia melanjutkan perkataannya.
"Jangan membicarakan hal yang tidak perlu pada aniki sampai aku mengizinkannya. Mengerti?"
"Tapi kenapa? Menurutku Touka-chan gadis yang baik," Kuro balik bertanya.
"Kau tidak ingat kejadian tahun lalu? Saat kau mengajak Touka kerumah untuk membantumu mencari contoh dokumen milik lulusan sebelumnya untuk kau jadikan referensi acara tak jelas itu?"
XXXX
FLASHBACK ON - POV. KURO
"Tadaima!"
"Okaerinasai. Oh, Kuro. Tumben kau pulang cepat! Dimana Shiro? Dia tidak bersamamu?"
"Aku hanya pulang sebentar, ada barang yang tertinggal. Niisan tidak ke kantor?"
"Hari ini niisan libur. Oh, ada temanmu ya?"
"Iya, namanya Touka. Aku minta tolong padanya untuk membantuku mencari barang itu. Touka-chan, ini kakakku namanya Haise."
Niisan melihat temanku sebentar lalu bangkit berdiri dari sofa empuknya di ruang tengah. Dia sedang membaca koran ditemani secangkir kopi favoritnya.
"Konnichiwa, Haise-san," Touka membungkuk.
"Ah, konnichiwa Touka-chan. Jangan terlalu berlebihan. Panggil saja aku Haise-nii," niisan tersenyum, dia juga ikut membungkukkan badannya.
"Baiklah, niisan. Kami keatas dulu ya."
Aku segera mengajak Touka ke kamarku dan niisan langsung pergi menuju dapur. Mungkin dia membuatkan kami teh? Ya, tentu saja. Itu 'kan kebiasaan niisan. 'Memperlakukan tamu dengan baik', itulah salah satu kebijakan niisan di rumah ini.
Aku membukakan pintu kamarku dan mempersilahkan Touka masuk terlebih dahulu. Sengaja kubiarkan pintu kamarku terbuka agar niisan tidak perlu repot-repot menggedor pintu dengan nampan berisi teh diatasnya. Huh, yakin sekali ya niisan akan membuatkan kami teh? Ahaha..
"Jadi Kuro, seperti apa rupa dokumen itu?" Touka bertanya padaku sambil mengacak meja belajarku.
"Aku letakkan di map merah, sampul depannya tertulis 'Prospek Acara Tak Jelas Kuro'," aku menjawab sambil ikut mencari.
"'Prospek Acara Tak Jelas Kuro'? Kok namanya begitu?" Touka menoleh padaku.
"Itu kerjaan Shiro," aku menjawab enteng.
"Ooh... Sepertinya menyenangkan punya saudara kembar ya? Kenapa kalian tidak satu jurusan?"
"Yaaahh... Selera dan hobi kami sedikit berbeda."
"Saudara kembarmu itu... yang berambut putih bukan? Aku pernah melihat seseorang yang sangat mirip denganmu di gedung sebelah timur."
"Ya, itu dia. Namanya Shiro. Gedungnya memang disana."
Touka mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Kami banyak mengobrol sambil mencari map itu.
"Oh iya Kuro, kalau dilihat Haise-nii cukup tampan ya!"
"Eh? Kau bilang apa, Touka-chan?" aku berhenti dari pencarianku.
"Yaah... Aku bilang, Haise-nii tampan," dia mengatakannya dengan malu. Aku terkekeh.
"Mau aku kenalkan lebih dekat dengan niisan?"
"Kau serius, Kuro?!" dia langsung mendongakkan kepalanya menatapku, semangat.
"Huwwaaaaahhh... Ada apa ini? Apa niisan mengganggu kencan kalian? Ahaha..."
Tiba-tiba saja niisan muncul dari pintu dengan nampan berisi dua buah cangkir, persis seperti dugaanku. Dia berjalan masuk dan meletakkan nampan itu diatas meja kecil disamping ranjangku sambil tertawa.
"Kuro, carilah barangmu dan cepat keluar. Seorang pemuda dan gadis tidak boleh berada dalam satu kamar jika belum sah. Ahaha.." niisan kembali tertawa, aku dibuat kesal.
"Apa sih niisan? Kalau tidak percaya kami mencari sesuatu, lebih baik niisan duduk dan lihat kami saja!" aku menggerutu.
"Oh, tak apa nih niisan mengganggu kalian?"
"Tidak. Malah lebih bagus lagi kalau niisan ikut membantu kami."
"Tidak terimakasih, Kuro. Niisan disini hanya mengamati saja."
Aku mendecak sebal. Niisan kembali tertawa. Ia berjalan lalu duduk di sisi ranjangku. Aku melirik Touka disamping. Ah, wajahnya merona! Sepertinya dia benar-benar menyukai niisan!
"Hey, Touka-chan! Apa pendapatmu tentang niisan?"
Aku bertanya padanya, ingin tahu apa dia tadi hanya bercanda atau tidak. Touka langsung menatapku, wajahnya terlihat bingung dan malu. Ah, malu!
"Hooo... Ada apa denganmu, Kuro?" kini niisan yang bertanya padaku.
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu pendapat Touka-chan tentang niisan. Apa sama denganku atau tidak," aku menjawab.
"Memang kau melihat niisan itu seperti apa?" dia kembali bertanya.
"Niisan itu menyebalkan! Tingkahnya seperti anak-anak! Aku sempat berfikir kalau niisan itu sebenarnya adikku dan Shiro!"
"APA?!"
"Ya! Niisan bertingkah seperti anak-anak. Tapi disisi lain, niisan seperti okaasan dan otousan bagiku dan Shiro. Selalu membuat kami tertawa. Selalu bekerja keras untuk kami."
Niisan yang semula berwajah masam karena aku mengatakan bahwa dia seperti anak-anak kini tersenyum.
"Terimakasih, Kuro."
"Ya, tak masalah. Niisan memang seperti itu bagiku. Sekarang Touka-chan. Apa kesan pertamamu saat melihat niisan?" aku membalas senyum niisan lalu beralih menuju Touka yang kini semakin memerah.
"Ah? Aku?" Touka menunjuk dirinya sendiri dengan kikuk.
"Ya. Apa kesan pertamamu saat melihatku? Mungkin bisa menjadi referensi agar aku bersikap lebih baik lagi nanti," niisan ikut membantuku, tersenyum ramah pada Touka.
"Aah...menurutku...kesan pertamaku...anda orang baik..." dia menjawabnya gugup. Niisan tertawa.
"Maksudku bukan yang seperti itu. Misalkan, Touka-chan menganggapku seorang yang pekerja keras, bijaksana, pelit, atau semacamnya. Baik itu banyak jenisnya, yang lebih spesifik," niisan menjelaskan. Dia memang orang yang teliti dalam segala hal.
"Oh, maaf. Kesan pertama saya terhadap anda itu...ramah...sopan...ceria... Mungkin itu."
"Wow! Terimakasih banyak, Touka-chan!" niisan tertawa. Touka menunduk malu. Aku langsung mengambil alih pembicaraan.
"Apa menurutmu niisan tampan?"
Touka tersentak. Begitupun niisan. Keduanya langsung menatapku. Aku yang merasa menjadi tujuan pengamatan mereka menjadi resah.
"Apa? Aku hanya bertanya."
"Bisa kau bertanya yang lain, Kuro?" sepertinya niisan tidak suka aku bertanya seperti itu pada Touka.
"Aku 'kan hanya iseng saja. Kalau Touka-chan bilang niisan tampan, berarti aku dan Shiro juga tampan!" aku berusaha mengelak, padahal sebenarnya aku senang sekali mengerjai Touka seperti ini. Dia salah satu teman yang cukup akrab denganku di kampus.
"Oohh... Niisan pikir apa. Kalau begitu, apa menurut Touka-chan aku tampan?"
Apa? Niisan bertanya seperti itu pada Touka? Apa niisan tidak lihat wajah Touka yang semakin memerah itu? Oh, aku lupa. Niisan 'kan orangnya tidak peka! Dia 'kan tidak mengerti gadis! Ahaha... Niisan sungguh mirip seperti anak-anak, terlalu polos!
"Touka-chan? Kau baik-baik saja? Kuro, apa temanmu sakit?"
Niisan mengibaskan tangannya didepan wajah Touka. Oh, aku baru sadar! Touka tidak bergerak sejak niisan bertanya! Apa dia benar-benar malu sampai seperti ini?
"Hei, Touka-chan! Kau kenapa?" aku mengguncang tubuhnya.
"Eh? Oh! Maaf, aku tadi melamun," dia gelagapan. Gugup ya? Lucu sekali.
"Ah, sudahlah. Lupakan pertanyaan tadi."
Niisan yang tadi cukup khawatir kini kembali santai. Touka tersenyum, sepertinya dia lega tidak harus menjawab pertanyaan niisan. Ah, aku gagal mengerjainya!
"Oh iya Touka-chan, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tiba-tiba saja niisan bertanya sesuatu yang menurutku dan Touka aneh. Kami sontak menghentikan pencarian dokumen itu.
"Apa maksud Haise-nii? Kita baru saja bertemu hari ini," Touka terlihat bingung.
"Benar. Tadi niisan sendiri yang berkenalan dengan Touka-chan," aku juga ikut menyahut.
"Tapi rasanya niisan pernah melihat Touka-chan sebelumnya. Dimana ya?" niisan terlihat sedang berfikir. Aku menautkan alis.
"Mungkin cuma perasaan niisan saja."
"Tidak, Kuro! Niisan yakin pernah melihat Touka-chan!"
"Mungkin seseorang yang mirip Touka-chan?"
"Mungkin. Tapi siapa ya?"
Aku hanya mengangkat bahu, tidak tahu. Touka tidak henti-hentinya menatap niisan dengan bingung. Niisan sendiri nampaknya masih berusaha keras mengingat sesuatu.
"Uugghhh.."
"Niisan? Kau baik-baik saja?" tiba-tiba niisan memegang kepalanya.
"Hanya sedikit pusing," dia menjawab.
Matanya nampak seperti orang yang mengantuk dan tubuhnya bergerak tak stabil. Aku berdiri dan berjalan kearahnya, memegang lengannya lalu membantunya berdiri.
"Biar aku antar niisan ke–"
BUGGHHH..!
"NIISAAAAANNNN...!"
"HAISE-NIIII...!"
Tiba-tiba saja niisan terjatuh kedepan, menimpaku. Niisan pingsan! Aku dan Touka langsung menjerit histeris. Ada apa dengan niisan?
"ANIKIIIIIIIIII...!" mendadak Shiro muncul dari arah pintu. Ia langsung melempar tas yang dipakainya ke sembarang arah lalu menerjang kearahku dan niisan.
"KURO! APA YANG TERJADI PADA ANIKI?!" dia terlihat panik. Aku membenarkan posisiku untuk memangku niisan sementara Shiro langsung menempelkan telapak tangannya pada kening niisan.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja niisan pingsan."
"Memangnya apa yang sedang kau lakukan?!"
"Aku hanya mencari sesuatu yang tertinggal."
Aku menjawab sambil melirik Touka disampingku. Shiro ikut memandang kearah mana aku melihat. Dia menatap Touka sebentar lalu mengeluarkan jari telunjuknya, menunjuk Touka dengan tidak sopan, menurutku.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!" dia terlihat marah.
"PERGI DARI SINI! SEKARANG!" lanjutnya. Shiro berdiri lalu menarik paksa lengan Touka, menyeretnya keluar kamar.
"SHIRO, KAU KENAPA? DIA TEMANKU!" aku berusaha membela Touka.
"Aku tidak melakukan apapun..!" nampaknya Touka juga berusaha membela diri.
"AKU BILANG KELUAR! APA PERLU AKU MENYERETMU SAMPAI PAGAR?!"
"ADA APA DENGANMU, SHIRO? TOUKA-CHAN BAHKAN TIDAK MELAKUKAN APAPUN!" aku berteriak. Lupa bahwa niisan masih berada di pangkuanku.
"KAU DIAM, KURO!" dia membentakku.
"LEBIH BAIK KAU BARINGKAN ANIKI DI RANJANGMU! JANGAN MELAWAN!"
Dia melanjutkan kalimatnya dengan tatapan garang kearahku. Aku takut. Shiro tak pernah bersikap seperti ini padaku. Walau dia berubah, dia tidak pernah memarahiku. Sekarang, bahkan dia sungguh-sungguh menyeret Touka keluar rumah! Kenapa Shiro tidak menyukai Touka? Bukankah mereka bahkan belum saling kenal? Dan niisan... Kenapa niisan tiba-tiba pingsan?
XXXX
FLASHBACK OFF - POV. NORMAL
"Tadaima."
Haise mengucap salam. Ia baru saja pulang dari tempat kerjanya. Syukurlah Haise memiliki otak yang cerdas sehingga diusianya yang masih muda ia dapat bekerja pada sebuah lembaga pemerintahan. Dan lebih beruntung lagi, posisi Haise dalam lembaga itu cukup untuk menghidupi dirinya dan kedua adiknya.
"Okaerinasai, niisan."
"Oh, Kuro. Kau belum tidur? Bukankah tadi pagi niisan sudah katakan untuk tidak menunggu niisan?" Haise cukup terkejut mendengar suara adiknya yang disangka telah tertidur. Ia tersenyum sembari melepas sepatunya, menggantinya dengan sepasang sandal rumah.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan niisan."
"Ingin bicara dengan niisan? Ooh.. Apa karena itu kau meminta niisan untuk pulang cepat?"
Pertanyaan sang pemuda dijawab sebuah anggukan kecil dari pemilik surai hitam itu. Haise berjalan memasuki ruang tengah yang redup, duduk disamping adiknya dan sedikit melonggarkan dasi yang dipakainya serta membuka dua kancing teratas kemejanya. Kuro memandang kakaknya dalam. Raut lelah terpatri disana.
"Kuro? Hei Kuro!" Haise mengibaskan tangannya didepan wajah Kuro. Ia bingung melihat sang adik yang menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Tak berapa lama, Kuro tersadar dari lamuannya.
"Aahh.. itu.. begini.. bisakah niisan tidak memaksakan diri? Aku selalu melihat niisan nampak kelelahan," jawabnya terbata.
"Niisan baik-baik saja. Terimakasih sudah mengkhawatirkan niisan, Kuro."
Pemuda itu kembali tersenyum. Kuro yang melihat itu menarik nafas panjang. Melihat senyum si sulung membuatnya tak rela untuk memulai percakapan serius yang berusaha ia katakan pada sang kakak. Ia tak ingin senyum itu lenyap.
"Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan pada niisan?" pemuda itu bertanya.
"Tidak, hanya itu saja."
"Apa Shiro sudah tidur?"
"Sepertinya begitu. Sejak jam 9 dia sudah berada di kamarnya."
"Begitu ya. Kau juga lebih baik cepatlah tidur. Niisan duluan ke kamar ya," Haise melirik jam yang tertempel di dinding, sebentar lagi tengah malam. Ia segera bangkit berdiri dan mengambil tas kerjanya.
"Ya."
Pemuda itu berjalan menuju kamarnya setelah sang adik membalas ucapannya, meninggalkan Kuro sendiri yang diam memandang punggung kakak tertuanya yang kini telah hilang di balik pintu. Ia pun juga lekas menaiki tangga menuju kamarnya.
"Shiro!" Kuro terkejut. Ia baru saja sampai di lantai dua ketika Shiro tengah bersandar pada daun pintu kamarnya.
"Masuk," perintahnya.
Kuro bingung, tapi menurut. Ia masuk ke dalam kamarnya, Shiro mengikutinya di belakang dan menutup pintu.
"Umm.. jadi Shiro.. ada apa?" Kuro duduk dipinggir ranjangnya, menatap kakak kembarnya yang kini kembali bersandar pada daun pintu.
"Kau mau mengatakan apa pada aniki?" suaranya rendah.
"Apa maksudmu?"
"Apa yang mau kau katakan pada aniki tadi?"
"Aku tidak mengatakan apapun pada niisan. Aku hanya memintanya untuk tidak memaksakan diri. Itu saja."
Hening.
Kuro dan Shiro memang memiliki suatu rahasia yang tidak dapat mereka ungkapkan kepada Haise. Mungkin tidak untuk sekarang. Tapi pasti suatu saat mereka akan mengatakannya. Dan itulah yang coba ingin dilindungi Shiro. Jangan sampai adik kembarnya membocorkan rahasia itu pada kakaknya. Biarkan rahasia itu terungkap seiring berjalannya waktu. Begitu pikirnya.
Shiro tau adiknya berbohong. Ia melihat semuanya. Ada sesuatu yang disembunyikan Kuro. Ia kemudian berjalan menuju sisi ranjang sang adik, berdiri tepat di hadapan si surai hitam dan menatap iris kelabu itu.
"Katakan."
Kuro masih enggan bersuara. Jelas tersirat rasa takut yang cukup besar pada wajahnya. Melihat kakaknya seperti ini, pasti dia telah melihat semuanya.
"KA-TA-KAN," Shiro mengulang, mengeja sekaligus mempertegas setiap suku katanya.
Kuro masih bungkam. Tapi ia benar-benar sudah tidak tahan dengan perlakuan kembarannya. Berdiri di hadapannya dengan tatapan mematikan seperti sedang menginterogasi seorang pembunuh berantai. Ia gerah. Ya, sangat.
"...aku ingin membantu niisan mengingat semuanya..."
Akhirnya Kuro membuka suara. Suasana kembali hening. Shiro mundur perlahan. Dilihatnya sang adik menatapnya dengan heran, meminta penjelasan.
"Dengar Kuro..." Shiro menghela nafas sebentar lalu melanjutkan.
"Mulai sekarang, kalau kau mau membantu aniki mengingat semuanya, katakan saja padaku."
"Maksudmu?" Kuro tersentak mendengar ucapan Shiro.
'Apa mungkin kepala Shiro terbentur? Selama ini dia selalu melarangku. Bahkan tadi siang dia memperingatiku untuk diam. Tapi sekarang dia mau membantuku?'
"Aku baik-baik saja. Mulai sekarang aku akan membantumu. Maaf karena selama ini aku mencegahmu menolong aniki. Aku hanya tidak ingin melihatnya menderita."
Shiro menunduk sebentar. Selanjutnya ia kembali mengangkat kepalanya, menatap Kuro hangat.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu dan aniki. Aku sangat menyayangi kalian."
Kuro tersentak. Sepertinya Shiro bisa membaca pikirannya! Dan bukan hanya itu. Yang membuatnya lebih terkejut adalah Shiro menunjukkan senyumnya! Senyum lembut yang telah hilang sejak 13 tahun lalu! Senyum tulus untuk melindungi keluarga tercintanya!
"Tapi Shiro, apa yang membuatmu berubah pikiran?" Kuro masih tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
"Saat tadi siang kita bertemu Touka di kampus, aku jadi merasa bersalah padanya. Seharusnya aku tidak mengusirnya waktu itu. Dia tidak salah, aku memang bodoh..."
Shiro kembali menundukkan kepalanya. Kuro yang melihat itu merasa iba. Tak seharusnya kakak kembarnya merasa bersalah sampai seperti ini. Itu 'kan masa lalu. Bahkan tadi siang Touka tidak mempermasalahkannya. Kuro berdiri dan dengan lembut ia mengangkat wajah si surai putih, membuat mereka saling bertukar pandang, lalu meletakkan kedua tangannya pada pundak pemuda dingin itu.
"Kau tidak bodoh, Shiro. Kau hanya tidak ingin melihat aniki terluka. Itu tidak salah," Kuro berusaha menghapus rasa bersalah sang kembar.
"Tapi aku berlebihan," dia menjawab, kembali menundukkan kepalanya.
"Kau memang seperti itu 'kan? Selalu berlebihan melakukan sesuatu? Bahkan saat kita kecil, kau selalu bertingkah seperti pahlawan yang melindungiku sampai kau babak belur dan dirawat di rumah sakit. Padahal kau tahu sendiri, aku juga laki-laki, sama sepertimu. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau memang sangat menyayangiku dan niisan, karena itu kau bertingkah berlebihan."
Kuro berucap sambil terus memandangi kakaknya, walau tatapannya tidak dibalas oleh pemuda di hadapannya, itu tidak masalah. Ia hanya ingin sang kembar bisa merasa lebih tenang. Dan pada akhirnya, wajah itu kembali mendongak, memperlihatkan sedikit cairan bening di sudut matanya.
"...terimakasih, Kuro..."
XXXX
"JANGAN MENDEKAAAAAAAATTTTT...!"
"Aniki!"
"Itu suara niisan!"
Jam masih menunjukkan pukul satu pagi. Suasana tenang telah berganti dengan teriakan tak karuan dari sebuah rumah di pinggir distrik 20. Kedua kembar yang masih berada dalam satu ruang terkejut mendengar suara gaduh dari lantai satu. Mereka lantas bangkit menuju kamar sang kakak. Langkah kaki terdengar mengalun cepat menuruni tangga.
"ANIKI, ADA APA?!"
"NIISAAAN!"
Si kembar terlihat panik ketika memasuki ruangan sang kakak. Meja terbalik, tirai sobek, lampu pecah, kertas-kertas berserakan dan pakaian berhamburan menyambut mereka. Disana, disudut kamar, sang kakak tengah duduk meringkuk sembari menjambak surai abu-abunya dengan kasar. Suara aneh keluar dari mulutnya yang tidak berhenti membenturkan dua barisan gigi yang tak bersalah. Kedua matanya membola sempurna, seolah-olah hendak mengeluarkan sepasang iris kelabu itu dari dalamnya.
"AAARRGGGHHHH...!" Haise berteriak tak jelas sembari menjambak rambutnya.
"Niisan! Kau baik-baik saja?" Kuro berjalan menuju sang kakak dengan takut.
"JANGAN MENDEKAT! KELUAAAAAARRRRR...!"
Haise kembali berteriak. Matanya bergetar ketakutan menatap Kuro. Si surai hitam tercengang. Ia menghentikan langkahnya, menoleh pada kembarannya di belakang. Shiro hanya mengangguk lalu berjalan memutari ruangan untuk menahan amukan sang kakak dari belakang. Kuro yang mengerti instruksi itu kembali melanjutkan langkahnya mendekati Haise lalu berlutut disampingnya dengan takut.
"Ini aku, niisan. Ini Kuro," si bungsu berusaha tersenyum walau guratan cemas disertai rasa takut merayap dalam dirinya. Haise menggeleng kepalanya dengan sangat kuat. Tubuhnya kini semakin dirapatkan pada sudut tembok disana, benar-benar ingin menjauh dari sentuhan Kuro.
"Tenanglah niisan, tidak ada apa-apa. Aku Kuro. Aku tidak akan menyakiti niisan."
Ia mengelus lengan putih itu, berusaha menenangkan si pemuda yang kini wajahnya tersembunyi diantara dua kakinya yang hanya terbalut celana pendek putih sedengkul. Namun sayang, usapan lembut itu langsung ditangkis oleh Haise. Kuro terdorong cukup jauh ke belakang akibat ayunan kasar tangan sang kakak.
"TIDAAAAAKKK...!"
GRAP!
"Kuro, cepat ambil obat! Aku akan menahan aniki!"
Shiro memerintah adiknya. Ia telah berhasil menyergap Haise dari belakang yang sedaritadi hanya terfokus pada sang adik. Kuro mengangguk lalu segera menuju ruang tengah, mencari kotak obat yang tersimpan disana sementara Shiro dengan susah payah berusaha memegangi kedua lengan sang kakak yang kini sedang meronta hebat.
"LEPAS! JANGAN MENYENTUHKU!"
Haise berteriak tak terkontrol. Ia mendorong Shiro menjauh dengan kasar. Pemuda dingin itu kini terpental tak jauh darinya. Shiro segera bangkit berdiri dan kembali mencoba menahan sang kakak. Ia berhasil menangkap tangan pemuda bersurai abu-abu itu tak kala dia akan menyarangkan sebuah pukulan pada adiknya sendiri, memutar tangan itu kebelakang membuat sang empunya tak dapat bergerak bebas. Namun Haise tidak menyerah. Ia justru semakin meronta dengan ganas yang membuat adiknya menjadi kesal. Shiro yang sudah naik pitam juga akhirnya ikut berteriak.
"ANIKI, BERHENTI!"
Shiro memukul tengkuk kakaknya dengan keras, membuat Haise terjatuh ke lantai kamarnya. Ya, Haise pingsan.
"Shiro, ini obat– NIISAAAANNNN!"
Kuro yang baru kembali dengan beberapa bungkus obat di tangannya langsung berlari menuju Shiro dan Haise.
"Shiro, Niisan kenapa?" Kuro panik.
"Aku membuatnya pingsan. Setidaknya, ini bisa menghentikan aniki melukai dirinya sendiri."
Shiro menjawab. Ia mengangkat tubuh sang kakak menuju ranjangnya, membaringkannya disana. Kuro masih berdiri dan menatap Haise dari jauh. Ia terdiam untuk beberapa saat melihat kakaknya terkulai lemas seperti itu. Selanjutnya si surai putih mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Kamar itu berantakan.
"Kuro, ayo kita bersihkan kamar aniki.."
XXXX
"Ohayou, Shiro."
"Ah, aniki. Ohayou."
"Kau sedang apa pagi-pagi begini? Kau lapar? Mau niisan buatkan makanan?"
Haise keluar dari kamarnya. Ekor matanya menangkap wujud sang adik yang membelakanginya sedang duduk di ruang tengah. Haise mengusap kedua matanya lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
"Kau juga sudah bangun, aniki?" Shiro nampak terkejut dengan kehadiran Haise.
"Huh? Bukankah niisan selalu bangun jam segini? Justru seharusnya niisan yang bertanya padamu, tumben sekali kau sudah bangun," Haise tersenyum, melirik jam di dinding yang menunjuk angka lima.
"Aku tidak bisa tidur," Shiro menjawab singkat.
"Mimpi buruk lagi, ya?"
"Ya. Sangat buruk."
"Mau menceritakannya pada niisan?"
"Tidak."
Haise hanya menganggukan kepalanya kecil. Ia paham betul adiknya yang satu ini sangat sulit untuk diajak mengobrol sesuatu. Sejak saat itu Shiro memang berubah, bahkan sekarang saja dia memanggil sang kakak dengan sebutan 'aniki', tidak lagi dengan kata 'niisan' seperti dulu. Meskipun begitu Haise tidak keberatan sama sekali. Pemuda itu lantas kembali tersenyum. Ia mengambil sebuah cangkir dari dalam lemari lalu meletakannya di atas meja makan.
"Niisan akan membuat teh hangat. Kau mau? Atau kau ingin yang lain?" Haise bertanya.
"Samakan saja dengan aniki."
"Baiklah."
Haise mengambil sebuah cangkir lagi, meletakannya di atas meja, dan mulai membuat dua teh untuk mereka.
"Jadi Shiro, kau sebenarnya mimpi apa?" Haise berucap sambil memasukkan gula kedalam cangkir-cangkir itu.
"Tidak. Bukan apa-apa."
Haise mengaduk teh itu lalu memindahkannya ke atas sebuah nampan dan berjalan membawa dua cangkir teh hangat itu ke ruang tengah kemudian duduk di sisi Shiro.
"Ayolah, Shiro..." Haise memberi sedikit nada permohonan. Ia meletakan salah satu cangkir itu dihadapan adiknya.
"Aku hanya khawatir pada aniki," ucapnya pelan.
"Apa maksudmu? Khawatir pada niisan?"
"Ya. Sejak kejadian itu, aniki selalu bertingkah aneh."
"Kejadian itu? Kejadian apa? Niisan bertingkah aneh? Apa maksudmu?"
Haise mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti. Shiro tersadar, kejadian itulah yang seharusnya tidak boleh ia ceritakan pada kakaknya. Tapi ia sudah bertekad untuk menolong pemuda itu, ia sudah berjanji pada adik kembarnya. Ia tak mungkin menarik kata-katanya lagi 'kan? Tapi ia juga tidak bisa membicarakan semua tanpa Kuro disisinya untuk membantunya. Yah, mungkin nanti saat Kuro sudah bangun mereka akan bersama-sama menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kakak mereka.
'Sepertinya aniki tidak sadar ia baru saja mengamuk tadi pagi'
"Shiro? Hei Shiro?" Haise mengibaskan tangannya tepat di wajah Shiro melihat sang adik yang menatapnya dengan pandangan kosong.
"Ah, iya aniki. Maaf."
Shiro terkejut. Ia mengambil salah satu cangkir teh lalu meminumnya, berusaha tampak normal agar tidak menimbulkan kecurigaan sang kakak. Haise tersenyum lembut. Namun selanjutnya raut wajahnya berubah menjadi serius.
"Oh iya Shiro, kenapa tirai di kamar niisan diganti? Bukankah tirai itu masih bersih? Dan lagi, kenapa kau menggantinya malam hari saat niisan sedang tidur? Selain itu, kau masuk ke dalam kamar niisan tanpa izin?"
Shiro nyaris tersedak dengan tehnya sementara Haise terkejut melihat reaksi sang adik yang menurutnya sedikit berlebihan. Shiro sendiri tidak menyangka kakaknya benar-benar tidak menyadari perbuatannya. Ia lantas meletakkan cangkir itu kembali diatas meja. Ia benar-benar bingung bagaimana menjelaskannya. Ditambah Haise yang memberondongnya dengan banyak pertanyaan jelas membuatnya gelisah.
"Aaah...itu...maaf aniki...aku tidak bermaksud...tirainya...maaf...aku salah..."
Shiro benar-benar bingung menjelaskannya. Tidak mungkin 'kan Shiro mengatakan kalau Haise yang lepas kendali merobek tirai kamarnya sendiri? Haise yang melihat perubahan aneh pada sikap Shiro lantas mengelus surai putih itu dengan lembut.
"Maaf Shiro, bukannya niisan melarangmu. Tapi kau tau 'kan di dalam kamar niisan itu ada banyak dokumen penting? Dan lagi, memasuki kamar orang lain tanpa izin itu tidak baik. Kau harus bisa menjaga privasi orang lain."
Haise menjelaskan dengan halus sambil tersenyum. Ia mengambil cangkir tehnya lalu menyeruput isinya. Shiro yang duduk disampingnya juga melakukan hal yang sama. Ia bersyukur sang kakak tidak curiga padanya karena tirai itu.
"Maaf aniki. Aku tidak akan mengulanginya lagi," Shiro meletakan cangkir tehnya diatas meja.
"Ya, tidak apa-apa Shiro. Niisan tidak marah padamu. Niisan tidak akan pernah memarahimu dan Kuro," Haise kembali dengan senyumannya, membuat Shiro menghembuskan nafasnya dalam.
'...terimakasih aniki...'
XXXX
"Shiro! Kau sedang apa di kamarku?!"
"Berisik."
Kuro terlonjak dari ranjangnya. Punggung tangannya kini menyapu kedua matanya yang masih nampak sayu. Ia duduk di sisi kasurnya, menatap pundak sang kembar yang kini tengah membelakanginya di sebuah kursi putar miliknya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?"
"Aku tidak bisa tidur, jadi aku kesini."
"Sejak kapan kau di kamarku?"
"Mungkin dua jam yang lalu."
"Sekarang jam berapa?"
"Tujuh."
"Dan kau hanya duduk seperti itu selama dua jam?"
"Ya."
"Kenapa tidak membangunkanku?"
"Tidurmu pulas. Aku tidak ingin mengganggumu."
"Kau berlebihan."
"Maksudmu?"
"Tidak ada."
"Oh."
Jawaban singkat ala Shiro membuat pembicaraan terputus. Suasana hening. Shiro masih membelakangi Kuro, menghadap meja didepannya, tak bergerak. Hanya diam. Kuro nampak heran. Keadaan canggung ini juga membuatnya tidak nyaman. Sungguh aneh.
"Mau ke bawah?" Kuro membuka suara.
"Ya."
Shiro menjawab singkat. Ia menggeser kursinya ke belakang, berdiri, lalu berjalan menuju pintu sementara Kuro masih duduk di tepi ranjangnya. Shiro berbalik dan menghadap Kuro.
"Apa yang kau tunggu?"
"Ah, tidak. Ayo."
Kuro bangkit berdiri, merapikan kasurnya lalu menyusul sang kembar turun ke lantai satu. Sesampainya di bawah, Kuro langsung mengedarkan pandangannya, mencari seseorang.
"Dimana niisan?"
"Kamar?"
Si surai hitam berjalan menuju kamar sang kakak. Ia mengetuk pintu itu dengan perlahan.
"Niisan, kau sudah bangun?"
Tidak ada jawaban.
"Niisan, apa kau di dalam? Ini Kuro."
Masih tidak ada jawaban.
"Coba kau buka saja."
Shiro memberi saran dari jauh. Kuro mengangguk. Tangannya menyentuh gagang pintu dan mendorongnya ke bawah.
"Niisan, aku masuk ya."
Pintu terbuka. Kuro mengintip ke dalam, mencari sosok sang kakak.
'...tidak ada...'
Ia menutup pintu. Di kejauhan, Shiro menunjukkan raut bertanya. Kuro hanya menggeleng.
"Mungkin aniki sedang duduk di teras sambil membaca sebuah koran. Itu kebiasaan paginya saat libur 'kan?" Shiro mengeluarkan pendapatnya.
"Ah, benar juga."
Kuro tersenyum, lupa dengan keseharian sang kakak. Ya. Saat libur seperti ini, Haise selalu bersantai di rumah. Ia benar-benar menikmati liburannya.
"Kau mau kemana?" Kuro memanggil sang kakak yang berjalan pergi meninggalkannya sendiri.
"Dapur. Minum."
Shiro kembali menjawab singkat. Kuro mengekor di belakangnya, ia juga belum membasahi kerongkongannya pagi ini dan ia sungguh merasa haus. Mereka berjalan bersama menuju dapur hingga akhirnya..
"ANIKIIIII..!"
"NIISAAAAANNNNNN..!"
Keduanya terperanjat. Di lantai dapur, sesosok tubuh bergelimang cairan merah tergeletak. Haise disana! Sebuah pisau dapur tertancap di lengan kirinya.
"NIISAAAAAANNNNNN..!"
Kuro berteriak sejadinya. Ia langsung berlari memeluk sang kakak, tak peduli pakaiannya mulai memerah akibat darah yang diciptakan pemuda itu. Haise sendiri tak bergeming.
"Niisan...apa yang terjadi..." suaranya bergetar. Ia menarik kepala sang kakak ke dalam pangkuannya, memeluknya dengan sangat erat. Haise sama sekali tidak bergerak, matanya terpejam rapat.
"CARI KUNCI MOBIL, KURO!"
Shiro langsung mengangkat tubuh sang kakak dari pangkuan adiknya, menggendongnya menuju mobil hitam yang terparkir di halaman. Kuro yang melihat itu langsung bergegas menuju kamar sang kakak, mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja lalu berlari menuju halaman.
"Berikan kunci itu. Aku menyetir, kau menjaga aniki dibelakang."
Shiro memerintah adiknya untuk masuk kedalam mobil lalu meletakan Haise di pangkuannya dengan perlahan. Ia munutup pintu itu dan duduk di depan. Ia menyetir mobil hitam sang kakak, mengendarainya dengan cepat menuju sebuah rumah sakit di pinggir distrik 20 yang tak jauh dari rumah mereka.
Shiro memperhatikan keadaan sang kakak dari cermin yang tergantung di langit-langit bagian depan mobilnya. Lihat pisau itu. Lihat mulut sang kakak yang mengeluarkan darah segar. Entah apa yang membuat Haise melukai dirinya sendiri, kedua kembar tidak tahu. Sesekali Shiro melirik ke belakang lagi, nampak Kuro yang tak berhenti menangis. Shiro bingung dan takut. Ia tak dapat melakukan apa-apa.
'Sebenarnya ada apa denganmu, aniki?'
XXXX
"Dokter! Bagaimana keadaan niisan?" Kuro segera bangkit dari kursinya menuju sang dokter yang baru saja keluar dari ruang perawatan.
"Lukanya memang tidak begitu dalam. Tapi saya melihat ada masalah yang cukup serius pada otaknya."
"Masalah?" Shiro angkat suara.
"Ya. Tampaknya saudara Haise memiliki cedera pada otaknya," dokter berlabel nama Kanou yang tertempel di seragamnya itu menjawab.
"cedera pada otaknya? Apa maksudnya, dokter?"
"Apa sebelumnya saudara Haise pernah mengalami kecelakaan yang cukup parah?" dokter itu bertanya.
"Ya, aniki memang pernah mengalami kecelakaan," Shiro menjawab.
"Dan apa saudara Haise sering bertingkah aneh seperti sekarang?"
"Saat niisan kecil ia memang suka bertingkah aneh lalu sempat berhenti. Entah mengapa sekarang kebiasaan itu kembali lagi. Sebenarnya apa yang terjadi pada niisan, dokter?" kali ini Kuro yang menjawab.
"Saya rasa kecelakaan itu yang membuat otaknya menjadi kacau, sebut saja saudara Haise sering berhalusinasi sehingga bertingkah aneh. Saya juga tidak mengerti karena penyakit seperti tidak pernah saya tangani."
"Bisa tolong dijelaskan lebih rinci, dokter?"
"Seharusnya kecelakaan parah tidak membuat seseorang berhalusinasi sampai seperti ini. Kalaupun berhalusinasi, tentu tidak akan sampai mencelakakan diri sendiri. Kecelakaan parah dapat menimbulkan hilang ingatan, jadi seharusnya halusinasi yang dimaksud adalah memorinya yang terhapus sebelum kecelakaan itu terjadi dan sifatnya tidak mendestrutifkan pemilik tubuh."
Shiro dan Kuro saling bertatapan. Penjelasan sang dokter justru semakin membuat dua kembar itu bingung. Jika kecelakaan yang menimpa si sulung itu seharusnya tidak berefek pada halusinasi yang bersifat mencelakakan diri sendiri, jadi bagaimana kakak mereka itu bisa melukai dirinya sendiri? Namun untuk sekarang itu tidak penting. Bagaimana kondisi sang kakak adalah prioritas mereka.
"Baiklah. Jadi, apakah kami boleh melihat aniki sekarang?" Shiro bertanya.
"Saudara Haise sedang beristirahat. Kalian diperbolehkan masuk setelah ia siuman. Saya permisi," sang dokter pergi meninggal kedua kembar itu sendirian.
Shiro memandang sang adik yang kini duduk di sampingnya. Raut cemas terpampang jelas di sana. Shiro menghela nafas lalu duduk di samping sang kembar.
"Tenang saja, Kuro. Aniki tidak apa-apa," suaranya lembut. Kuro mendongakan kepalanya, menatap Shiro dengan iris kelabunya.
"Jangan bohong padaku. Apa penyakit itu sangat parah? Apa niisan bisa sembuh? Apa niisan akan baik-baik saja?" ia terisak.
"Jangan menangis, Kuro. Aniki baik-baik saja. Percayalah padaku."
Shiro terlihat serius, berusaha meyakinkan sang adik bahwa kakak mereka dalam keadaan baik. Tentu saja itu bohong. Mana ada orang yang melukai dirinya sendiri disebut 'baik-baik saja'? Syukurlah Kuro sangat mempercayai kakak kembarnya, dia tidak pernah meragukannya. Ya, Kuro dibohongi kakaknya sendiri.
"...aku percaya..."
Shiro memeluk adiknya yang masih menangis. Dia sadar bahwa dirinya salah. Penyakit seperti itu tidak bisa dibilang 'baik-baik saja'. Tapi dia tidak mau melihat Kuro menangis lebih dari ini. Dia merasa menjadi kakak yang buruk jika terus-menerus melihat Kuro menangis. Dia tidak bisa melindungi adik dan kakaknya. Dia lemah.
Sudah 10 menit Shiro berusaha menenangkan sang adik yang akhirnya berhenti menangis. Dan beberapa jam kemudian Haise sudah sadar dan keadaannya baik. Lengan kirinya masih terlilit perban putih. Kedua kakak beradik yang identik itu masuk.
"Niisan, bagaimana keadaanmu?" Kuro berjalan menuju sisi ranjang rumah sakit tempat Haise berbaring.
"Yaaah.. Sudah lebih baik," Haise tersenyum. Bahkan saat terbaring di rumah sakit-pun pemuda ini masih tampak ceria. Apa mulutnya tidak lelah tersenyum terus? Shiro ingin sekali bertanya seperti itu.
"Niisan tidak mengerti. Kenapa niisan ada dirumah sakit ya? Apa niisan tiba-tiba pingsan?" pemuda itu melanjutkan kalimatnya sambil menatap kedua adiknya. Kuro melirik Shiro.
"Begitulah. Aniki terpeleset di dapur kemudian pingsan. Gelas kaca yang aniki pegang jatuh lalu pecah dan belingnya mengenai lengan aniki."
Shiro berusaha mencari jawaban yang masuk akal, walau jelas pernyataannya tadi sama sekali tidak rasional. Namun coba perhatikan pemuda dengan warna rambut abu-abu itu! Berikan aplaus yang meriah pada si surai putih ini karena sang kakak yang terlalu kekanak-kanakan itu berhasil tertipu! Dengan ekspresi serius, tatapan yang tajam, serta kalimat yang terucap dengan lancar tanpa cacat sedikitpun sukses membuat sang kakak percaya. Shiro sanggup membuat kedua saudara kandungnya tertipu! Berterimakasihlah kepada Seidou-nii yang sungguh luar biasa tekun mengajari Shiro bagaimana cara berbohong yang baik dan benar ketika si kembar masih kecil. Dia memang memiliki bakat berbohong yang luar biasa!
"Oh, begitu ya. Niisan hanya ingat terakhir kali niisan berada di dapur untuk memasak," jawaban polos disertai tawa kecil dari sang kakak membuat kedua adiknya terdiam.
"Niisan benar-benar tidak ingat, ya?"
"Aku tidak akan membiarkan aniki melukai dirinya sendiri lagi!'
To be continue...
Yaaahhh... Chapter dua sudah di update, semoga tidak mengecewakan ya! :D
Sekali lagi bagi yang berkenan mungkin bersedia meningggalkan jejak pada fic ini(?)
Akhir kata, arigatou untuk kalian semuaaaa :)
