Disc:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Sabtu, 1 April 2017
.
.
.
OC PENDUKUNG YANG BERMAIN DI FIC INI:
Yukika Aoi
.
.
.
Fic request untuk Rindian
.
.
.
WHO ARE YOU, NARUTO?
By Hikasya
.
.
.
Chapter 2. Seseorang mencari Rias
.
.
.
Menjelang pagi, mobil Mercedes Bens hitam yang dikendarai Naruto berhenti juga di sebuah halaman luas, tepatnya di depan mansion mewah dengan warna kuning yang menantang. Lantas Naruto keluar dari mobil sambil menggendong Rias ala bridal style. Berjalan santai menuju ke dalam rumah dengan perasaan yang begitu senang.
"Aku pulang..."
Naruto berseru keras seperti itu, lalu pintu rumah pun terbuka dan perkataan Naruto tadi dibalas oleh orang yang membuka pintu itu.
"Selamat datang...," wanita berumur sekitar 30-an menyambut kedatangan Naruto dengan senyumannya yang ramah."Rupanya Tuan dan Nyonya sudah pulang."
"Ya, begitulah, Aoi-san."
"Hmmm... Pasti tuan capek sekali."
"Benar. Aku ingin segera beristirahat di kamarku."
"Apa tuan mau kubuatkan teh hangat?"
"Tidak, terima kasih."
Naruto tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Langsung pergi bersama Rias yang digendongnya ala bridal style, menuju ke kamar mereka yang ada di lantai dua. Wanita yang dipanggil Aoi itu, mengangguk dan berkata.
"Baiklah."
Ditutupnya pintu itu dengan pelan. Kemudian kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Namanya Yukika Aoi. Wanita yang berambut coklat gelap panjang melewati pinggang. Bermata ungu. Bertubuh tinggi sekitar 168 cm. Kulitnya berwarna putih. Mengenakan pakaian maid selutut berwarna biru tua dengan apron putih berenda. Sepatu datar membungkus kedua kakinya. Merupakan pelayan pribadi Naruto yang bertugas untuk mengurus rumah.
Dia pernah menikah tapi sudah menjadi janda sekarang dan sudah bekerja di rumah Naruto selama setahun ini, sejak Naruto dan Rias menikah. Naruto menerimanya sebagai pelayan yang terpercaya dari hasil rekomendasi dari Manager Naruto. Dia adalah teman dari Manager yang selama ini membantu Naruto untuk menjadi penyanyi yang terkenal. Dia setia, baik, dan patuh serta rajin. Tidak pernah mengecewakan Naruto maupun Rias sedikitpun.
Dia termasuk manusia biasa. Selalu bekerja dengan baik dalam mengurus rumah tangga Naruto dan Rias. Dia juga tidak tahu bahwa Rias adalah iblis. Selalu memperlakukan Rias seperti adiknya sendiri.
Berkat adanya Aoi di keluarga Uzumaki ini, beban Rias sedikit berkurang. Di samping harus menjalani perannya sebagai istri, Rias harus sekolah dan belajar dengan rajin agar bisa lulus sekolah tahun ini. Dia tidak perlu memikirkan untuk mengerjakan semua tugas rumah tangga seperti memasak, menyapu, dan sebagainya. Semua tugasnya itu dikerjakan oleh Aoi, Rias cuma tinggal duduk manis dan memikirkan tentang sekolahnya. Juga harus memikirkan Naruto yang sudah menjadi suaminya. Ditambah kehadiran si buah hati, membuat bebannya semakin menumpuk karena harus menyembunyikan kehamilannya ini dari orang-orang sekitarnya. Tidak ada yang boleh mengetahui pernikahannya ini.
Sudah sepuluh bulan, usia pernikahannya dengan Naruto. Sudah selama itu, dia tinggal bersama Naruto dalam satu atap. Tapi, semua orang di sekitar mereka, belum ada yang mengetahui status hubungan mereka yang sebenarnya. Orang-orang hanya mengetahui bahwa Naruto dan Rias berpacaran. Hanya itu, fakta yang beredar di Akademi Kuoh tersebut.
Apalagi saat bersekolah, hubungan Naruto dan Rias berjalan layaknya sepasang kekasih. Tidak menunjukkan bahwa mereka sudah menikah. Tapi, kehamilan ini, membuat Rias harus berhati-hati terhadap keadaan sekitar. Dia tidak ingin masalah besar menimpanya dan Naruto, hanya karena orang-orang mengetahui pernikahannya dan kehamilannya. Pasti hal itu akan membuat semua orang gempar, termasuk keluarganya sendiri.
Untuk itu, biarlah ini menjadi rahasia di antara dia, Naruto dan Aoi. Rahasia besar yang harus ditutup serapat mungkin.
Tiba di kamarnya sendiri, Naruto langsung membaringkan Rias di atas tempat tidur. Dia tidak membangunkan Rias saat mematikan mesin mobilnya lalu memutuskan untuk menggendong Rias ala bridal style. Rias tidak terbangun juga meskipun Naruto telah membawanya ke kamar. Dia masih terlelap dalam buaian mimpinya bersama sang janin yang dikandungnya.
Ditariknya selimut tebal untuk menutupi tubuh Rias sampai sebatas dada, Naruto tersenyum sambil berdiri di samping tempat tidur dan membisikkan sesuatu yang lembut pada Rias.
"Tidurlah sampai pagi. Aku ada di sampingmu untuk menjagamu dan anak kita. Aku sangat menyayangimu."
Dikecupnya lembut kening Rias, kemudian dia menjauhkan wajahnya dari Rias. Tersenyum sekali lagi dengan perasaan yang senang.
Diedarkannya pandangannya ke seluruh sudut kamar itu. Kelihatan rapi dan bersih karena hasil kerja keras Aoi yang berperan sebagai pelayan pribadinya. Aoi selalu membuat kamarnya menjadi sedap dipandang, tidak berantakan sehingga orang pasti akan betah jika tinggal di kamar ini lama-lama.
Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual yang santai berupa kaos putih berlengan pendek dan celana hitam selutut. Lantas dia berbalik dan ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Rias. Berbaring terlentang dan menerawang jauh ke langit-langit sana. Memikirkan sesuatu yang sangat penting.
'...'
Dia memikirkan tentang kehidupan yang dihadapinya sekarang. Kehidupan yang baru saat dia mulai mengenal Rias. Merasakan namanya sekolah karena Rias yang mendaftarkannya masuk sekolah di Akademi Kuoh. Lalu mengenal semua orang yang ada di sekolah itu. Hingga berbagai peristiwa sudah dilewatinya dengan baik. Dari pahit sampai termanis. Semunya sudah dia rasakan selama setahun lebih ini.
Ya, dia dan Rias sudah menamatkan sekolah mereka di tahun ini. Tinggal menunggu ijazah keluar, yang diketahui akan diberikan seminggu lagi. Mereka akan terbebas dari yang namanya sekolah dan siap menjalani kehidupan baru bersama. Dalam satu keluarga yang utuh, itulah yang diimpikannya selama ini.
'Aku sudah menikah sekarang. Sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Aku juga sudah tamat sekolah dan tinggal menunggu ijazah kelulusan saja. Setelah itu, aku dan Rias akan bebas dari tugas sekolah. Kami berdua akan menjadi orang tua yang sesungguhnya dan merawat anak kami bersama-sama. Pasti hal itu sangat menyenangkan...'
Tersenyum manis saat membayangkan bagaimana sosok anaknya nanti. Apakah anaknya itu akan mirip dengan Rias atau mirip dengannya? Apakah sifat anaknya akan sama dengan Rias atau sama dengannya? Nama apa yang diberikan pada anaknya nanti? Beribu-ribu pertanyaan muncul di pikirannya secara bertubi-tubi sehingga membuatnya sulit untuk menutup mata sekarang. Padahal dia ingin tidur. Beristirahat untuk memulihkan kondisinya yang memang terbilang sangat lelah.
Saffir biru yang indah itu diarahkan untuk memandang bidadari cantik yang terbaring di sampingnya. Bidadari yang masih terlelap dalam balutan selimut yang hangat. Wajah tidur bidadari yang cantik, tetap menarik hatinya untuk tetap mendekati bidadari cantik itu. Sungguh mempesona dan membuatnya seperti patung hidup.
"Rias-hime..."
Suara lembut Naruto yang begitu menggetarkan, mampu membangunkan Rias. Perlahan-lahan, kedua mata lentik itu terbuka.
"Ng... Naruto-kun...," diedarkannya pandangannya ke segala arah dan mendapati Naruto yang terbaring di sampingnya."Kita sudah tiba di rumah ya?"
"Iya, Rias-hime."
"Ah, maaf. Aku malah ketiduran. Pasti kamu repot menggendongku sampai kemari."
"Tidak apa-apa kok."
Naruto tersenyum sambil membelai puncak rambut Rias. Rias juga tersenyum dan memilih mengambil posisi tidur miring ke kiri dan menatap wajah Naruto lebih dekat.
"Kamu tahu... Kamu adalah suami yang paling baik di dunia ini. Aku beruntung sekali mendapatkanmu."
"Aku juga. Aku juga beruntung mendapatkan putri secantik kamu."
"Hehehe... Manisnya."
"Manis? Maksudmu... Aku yang manis, begitu?"
"Ya."
Rias tertawa kecil sambil memeluk pinggang Naruto erat. Naruto juga membalas pelukannya itu.
"Aku ingin tidur bersamamu, Naruto-kun. Sekarang dingin sekali."
"Ya, di luar sana memang dingin. Tapi, di sini, sudah terasa hangat. Apalagi kita berpelukan seperti ini."
"Hm... Anak kita juga pasti merasa senang karena dipeluk oleh kita seperti ini."
"Benar sekali."
Sekali lagi, mereka tersenyum bersama dalam pelukan yang erat. Terbaring bersama di atas tempat tidur. Saling berbagi cinta dan saling berkomunikasi dengan calon bayi mereka.
Terjadilah pembicaraan yang serius di antara mereka. Bahkan adegan yang sulit untuk dilihat oleh mata, kita menjauh sejenak dari tempat itu. Sudut pandang diarahkan ke tempat lain. Begitulah kira-kira.
.
.
.
Sudut pandang cerita saat ini tertancap pada sebuah rumah bertingkat, yang ada di kota Kuoh. Rumah bertingkat yang dihuni oleh laki-laki berambut coklat, siapa lagi kalau bukan si Issei itu.
Pagi-pagi seperti ini, dia sudah bangun dan sarapan bersama seorang gadis. Gadis yang berambut pirang panjang dan bermata hijau. Namanya Argento Asia.
Belum sempat mandi, Issei yang langsung tancap gas dari bangun tidurnya, memutuskan sarapan dulu sebelum melakukan aktifitas sehari-harinya. Apalagi hari ini masih libur, dia hanya menghabiskan waktunya di rumah saja, tentu membosankan hanya berdua saja dengan Asia. Asia yang memaklumi itu, cuma tersenyum polos dan senang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Lalu Issei hanya membiarkannya dan duduk manis sambil menonton televisi seharian itu.
"Cobalah keluar rumah hari ini, Issei-kun," kata Asia yang melahap roti panggangnya. Dia duduk sambil berhadapan dengan Issei.
"Eh... Tapi... Aku tidak ada niat untuk keluar rumah sekarang. Tidak ada yang menarik. Apalagi tidak ada Rias-senpai. Kamu tahu, aku sedang patah hati sekarang."
"Patah hati? Maksudnya?"
"Ya, patah hati itu maksudnya aku tidak punya harapan lagi untuk mendapatkan Rias-senpai. Aaah... Pokoknya aku benar-benar tidak bersemangat sekarang."
Issei menghelakan napasnya yang panjang. Sehingga dia merasa tidak nafsu makan lagi. Padahal Asia sudah bersusah payah membuatkan sarapan untuknya. Tapi, karena perutnya memang sudah keroncongan, mau tidak mau, dia harus melahap makanannya sampai habis. Dia berpikir dengan cara makan banyak seperti ini bisa mengurangi kesedihannya karena patah hati.
Ada suatu kebenaran yaitu dia tidak tahu bahwa Asia menyukainya. Asia yang selama ini menumpang tinggal bersamanya. Asia sudah jatuh cinta padanya sejak dia berusaha menyelamatkan Rias dari serangan para malaikat jatuh. Asia berharap sekali ingin mendapatkan cintanya meskipun itu sangat sulit.
Di dalam hati Issei, hanya ada satu gadis yang sangat dia cintai yaitu Rias. Bahkan dia sendiri yang sudah mengetahui bahwa Rias sudah menikah dengan Naruto. Dia sudah membeberkan semua itu pada teman-temannya, tapi tidak ada seorangpun yang mempercayainya. Semua orang menyangka kalau Rias dan Naruto berpacaran. Itu saja, fakta yang masih berlaku sampai saat ini.
Dengan lesu, Issei berusaha menghabiskan roti panggangnya. Asia terus memperhatikannya dengan wajah yang kusut. Kedua mata Asia menyipit sayu.
'Andai kamu tahu bahwa aku menyukaimu, Issei-kun. Pasti kamu bisa melupakan Rias-senpai. Aku akan membuatmu bahagia jika kamu mau belajar menyukai aku. Aku akan menunggu saat itu tiba. Hari di mana kamu menyatakan cinta padaku,' batin Asia yang menggema di dalam hatinya.
Kedua pipinya merona merah seiring terus memperhatikan Issei. Issei sudah melahap habis roti panggangnya dan meminum segelas susu sampai tandas. Lalu dia memandang ke arah Asia lagi.
"Oh ya, Asia."
"Hm... Apa, Issei-kun?"
"Aku dengar dari Akeno-senpai kalau klub penelitian ilmu gaib akan dibubar ya?"
"Hmmm... Soal itu ya?" Asia memegang rambutnya dan mengangguk cepat."Iya, soalnya Rias-senpai dan Akeno-senpai sudah tamat sekolah tahun ini. Jadi, tidak ada yang bisa mengurus klub itu. Makanya Rias-senpai memutuskan untuk membubarkan klub itu."
"Oh, begitu ya? Tapi, sayang sekali jika klub itu dibubarkan. Setidaknya kita bisa meneruskan klub itu."
"Bisa sih, tapi harus mencari pengurus yang baru. Kamu tahu hal itu sangat susah dicari."
"Benar juga. Kalau aku yang mengurus klub itu, aku rasa tidak bisa. Soalnya aku belum punya pengalaman cukup untuk mengurus sebuah organisasi. Lagipula aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan Rias-senpai di sekolah. Huhuhu... Sayang sekali..."
Mendadak Issei menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya dengan lengan kanannya. Asia hanya tersenyum maklum.
"Jangan sedih... Kita pasti akan bertemu dengan Rias-senpai lagi. Percayalah padaku, Issei-kun."
"Rias-senpai... Huhuhu..."
Tangisan Issei semakin keras saja sehingga membuat Asia iba melihatnya. Asia turut sedih dengan apa yang dirasakan Issei sekarang.
Tiba-tiba...
TOK! TOK! TOK!
Terdengar suara orang yang mengetuk pintu. Membuat Issei berhenti menangis. Asia pun menyadarinya.
"Eh? Ada orang yang mengetuk pintu?" sahut Issei yang bengong.
"Iya, sepagi ini," Asia juga bengong.
"Mungkin teman-teman yang datang...," Issei segera bangkit berdiri dari duduknya dan langsung berjalan cepat menuju ke ruang tamu."Biar aku yang membukakan pintunya."
"Baiklah..."
Asia mengangguk cepat sembari menyaksikan kepergian Issei sampai hilang dari pandangannya. Lantas dia melanjutkan makannya yang tertunda.
TAP! TAP! TAP!
Langkah Issei terayunkan cepat. Dia penasaran siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini. Hingga menariknya untuk memegang gagang pintu dan membuka pintu dengan perasaan yang berdebar-debar.
KLAK!
Pintu depan pun terbuka. Menampilkan seseorang yang berdiri di depan pintu, tepatnya membelakangi Issei.
"...?"
Issei keheranan dan mengerutkan keningnya. Merasa tidak mengenal sosok pria berpakaian rapi itu. Dia pun berkata.
"Siapa ya?"
Pria itu menjawab pertanyaan Issei dengan nadanya yang datar.
"Apa kau tahu di mana Gremory Rias sekarang?"
Kening Issei semakin mengerut.
"Gremory Rias?"
"Ya, kau mengenalnya, bukan?
"Iya, aku mengenalnya."
"Kalau begitu, katakan di mana Rias sekarang?"
Seketika kedua mata Issei menajam karena merasa orang ini terkesan memaksanya untuk memberitahukan di mana Rias sekarang. Apalagi dia tidak mengenal orang ini. Mana tahu orang ini adalah musuh yang sedang mengincar Rias. Karena itu, dia harus melindungi Rias dengan cara tidak memberitahukan di mana Rias tinggal.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanku, aku ingin bertanya padamu. Sebenarnya siapa kau?"
Pria itu terdiam sejenak. Sedetik kemudian, dia berbalik dan menunjukkan wajahnya yang sebenarnya pada Issei.
"Namaku Gremory Sirzech. Aku adalah kakak kandungnya Gremory Rias. Aku datang ke sini untuk mencarinya dan mengajaknya pulang kembali ke dunia bawah."
Saat itu juga, Issei benar-benar terkejut setengah mati mendengarnya. Kedua matanya membulat sempurna.
"A-Apa!? Ka-Kau kakak kandungnya Rias-senpai!?"
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
BALASAN REVIEW
Medusa-Sama: peerage rias belum tahu kalau rias udah nikah. Ya, nggak akan digantung kok. Dilanjut terus.
christian: iya, ini lanjut.
Fahzi Luchifer: Ya, naruto punya kekuatan. Itu akan terjawab di beberapa chapter berikutnya. Dirahasiain dulu ya.
arifkarate: oke, lanjut.
ShifuMastah: terima kasih. Oke.
3430N: ya, naruto punya kekuatan.
666-username: hmmm... Kapan-kapan ya saya buat fic narutsunade. Ditunggu aja.
Deckard Shaw: oh, benar juga. Udah saya perbaiki. Terima kasih atas kritikannya ya.
shinachiku: oh, ntar deh. Kapan-kapan aja saya buat narutsunade ya. Ditunggu aja.
FFN: terima kasih. Eh, salah, iblis nggak bisa nikah di gereja. Makanya saya ganti nikahnya di kuil.
light: terima kasih. Ini udah update. Ya, mudah-mudahan nggak hiatus.
Kim Ami282: terima kasih ya.
.
.
.
A/N:
Hei, jumpa lagi!
Chapter 2 up!
Kali ini, konflik pertama mulai datang yaitu Sirzech yang mencari Rias dan mengajak Rias pulang kembali ke dunia bawah. Apakah Issei akan memberitahukan di mana Rias tinggal pada Sirzech? Untuk cerita selanjutnya, baca saja di chapter 3 yang akan lama diup.
Sampai jumpa lagi dan terima kasih.
Minggu, 2 April 2017
