Lee Daehwi adalah cerminan dari keinginan terdalam masa kecil Bae Jinyoung


WHO ARE YOU

Produce 101 Season 2 – Bae Jinyoung x Park Jihoon, Other. T. YAOI, AU, OOC, and Typo. Romance, Drama.

©baejinbaejin


CHAPTER 2

Lee Daehwi


Badan kurus kecil itu gemetar hebat sembari meringkuk didalam ruangan basah berukuran satu kali satu setengah meter. Pakaian tiga lapis yang dipakainya basah kuyup sampai ke kulit. Lelaki itu memeluk kakinya yang melipat dan membenamkan wajahnya disana.

Suara gigi bergemeretak sampai ke telinganya sendiri. Sesekali ia melenguh kedinginan, namun ia juga tidak berpikir untuk keluar dari ruangan sempit itu saat ini. Mungkin nanti, ketika semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing, sehingga tak ada yang melihatnya dengan kondisi seperti ini.

Sepertinya kesadarannya mulai tak mampu lagi bertahan.

Badan kurus itu tiba-tiba miring dan punggungnya bersandar pada dinding pembatas serta kloset duduk yang berada dibelakangnya. Mata itu menutup dalam benamannya. Ia sudah tak kuat lagi.

"Hei."

Dalam keadaan tidak sadarnya, Bae Jinyoung mengedarkan pandangannya. Ruangan itu gelap layaknya sebuah teater yang pertunjukannya telah usai, meskipun tidak ada kursi penonton dan panggung, tetapi ada sorot lampu disana yang mengarah ke seseorang dengan rambut pirang.

Wajahnya tak Jinyoung kenal.

"Kau tidak apa-apa, hyung?"

Kening Jinyoung mengernyit. "Hyung?"

"Hn, kau adalah hyung-ku," Sosok itu melangkah lebih dekat dengannya. Kali ini Jinyoung bisa melihatnya dengan jelas. Mata kanan yang lebih besar dari yang kiri karena perbedaan eyelid, hidung mancung, dan bibir merah muda merona. Sosok itu memeluk tubuhnya erat dan memberikannya sedikit tenaga dan keyakinan. "Bertahanlah, aku yakin kau bisa."

Terdengar suara dengusan Jinyoung. "Pft, aku tidak yakin aku masih bisa bertahan. Aku tidak ingin ada disini, di dunia ini."

"Suatu saat nanti ketika waktunya tiba, hyung akan pergi ke taman surga diujung pelangi sana. Namun tidak sekarang. Ini hanya batu kerikil yang melukai kakimu, suatu saat nanti kau akan menghadapinya dan menendangnya jauh dari hadapanmu," Bisiknya pelan, suaranya indah dan merdu meskipun ia hanya bicara dan tidak bernyanyi. "Aku belum mau mati, karena kalau kau mati akupun mati, hyung."

"Kenapa?"

Sosok itu melepas pelukannya dan menatap Jinyoung tepat dimatanya. "Karena aku adalah hyung, dan hyung adalah aku. Kita ini satu. Hyung pikir siapa yang selama ini bicara dengan hyung dipikiranmu itu? Siapa yang kau ajak berdebat? Siapa yang kau tanyakan tentang tampannya parasmu ketika kau bercermin? Aku, hyung. Lee Daehwi."

"Lee Daehwi?"

"Aku adalah dirimu yang lain. Yang kau inginkan," Senyum itu mengembang. "Aku yang menyeimbangimu. Ketika dirimu terpuruk, aku yang akan menggantikanmu untuk tersenyum. Mungkin saat ini kau masih belum mengerti, hyung. Tetapi kau akan. Suatu saat nanti."

Jinyoung bisa melihat sosok bernama Daehwi itu mundur tanpa melangkah, layaknya melayang. Lama kelamaan senyum itu pudar, bersamaan dengan seluruh pengelihatan Jinyoung diruangan gelap itu. Tidak lama kemudian sebuah cahaya terang layaknya jendela yang dibuka lebar mengagetkannya.

Dia melihat keadaan kloset tempat dia dirundung tadi, namun layaknya menonton televisi, Jinyoung melihat dari sisi lain kehidupannya.

"Aku akan mengembalikan tubuh ini ketika semua sudah baik-baik saja. Aku tidak akan pernah mengambil alihnya darimu, hyung."

Jinyoung mendengar suaranya sendiri –yang terdengar aneh seperti kau menonton dirimu bicara direkaman suara atau video, berkata dari balik jendela televisi yang super terang itu. Lambat laun dia mengerti maksud Daehwi.


Lee Daehwi, sosok pertama yang datang ketika Jinyoung masih duduk di bangku SD.

Layaknya superhero, Daehwi datang ketika Jinyoung membutuhkannya. Seperti setelah ia dirundung oleh sekelompok orang yang sama dan rasanya ingin mati saja, Daehwi akan datang membantunya berdiri dari kejatuhannya. Membuatnya percaya kalau dunia masih ada bagian marshmallow dan pelangi di kehidupannya yang serba tebing, jurang gelap, dan kerikil tajam.

Sangat aneh bagi orang yang membencinya –membenci fakta kalau Jinyoung bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan, Jinyoung berubah menjadi lebih tegar dan tetap tersenyum ketika orang-orang menghinanya secara langsung didepan matanya, bermain fisik dengannya. Jinyoung tetap tersenyum.

Karena bukan dialah yang saat itu menjadi user, tetapi Daehwi.

Daehwi akan segera menggantikannya ketika satu pukulan saja mendarat dibadan Jinyoung, sehingga Jinyoung tak sempat lagi merasakan sakitnya pukulan-pukulan tadi. Sedih memang hanya bisa melihat teman satu-satunya yang ia punya menggantikannya untuk merasakan sakit, namun saat itu Jinyoung tidak bisa mengambil alih tubuhnya karena masih belum mengerti caranya.

Kata-kata 'aku tak apa' jadi kata pertama yang Daehwi ucapkan ketika orang-orang yang memukuli tubuh Jinyoung pergi, namun Jinyoung tahu Daehwi tidak baik-baik saja. Jinyoung hanya bisa menonton dari balik teater pikirannya, tak paham bagaimana mengambil alih kembali tubuhnya.

"Daehwi-ya.."

Bibir itu mengangkat. "Aku baik-baik saja, hyung. Jangan khawatir."

"Aku tak sanggup menontonnya lagi. Aku akan mengadukannya pada orangtuaku."

"Pft, mereka sibuk, hyung," Daehwi mendengus. "Mereka hanya tahu kita sekolah di sekolah privat yang elit, sehingga mereka percaya kalau kita akan baik-baik saja bersama dengan orang-orang yang kekayaannya sederajat dengan kita. Padahal kekayaan tidak berbanding lurus dengan moral yang mereka punya."

"Apa aku minta pindah sekolah saja?"

"Hm.. itu adalah ide yang sudah kupikirkan sejak bertahun-tahun lalu," Jawab Daehwi sambil menghapus jejak darah yang keluar dari ujung bibirnya. "Dari SD sampai SMA ditempat seperti ini. Kenapa hyung tidak pernah kepikiran untuk pindah sih?"

"Uh.. tidak kepikiran."

Jinyoung bergidik ketika mendengar suara tertawa lonceng khas Daehwi yang berpadu dengan suaranya sendiri. "Kau pintar-pintar-bodoh, hyung."

"Ya! Kau juga tidak pernah mengusulkannya padaku."


Jinyoung yang menguasai tubuhnya itu memandang kedua orangtuanya yang duduk disebrangnya. Orang yang melahirkannya itu menunduk dalam, sedangkan disampingnya orang yang membiayai seluruh kebutuhannya itu memandangnya dengan tatapan aneh.

"Sejak kapan?"

"SD."

Ayahnya menghela nafasnya. "Sudah kuduga kau tidak waras."

"Yeobo!" Wanita disebelahnya menyelak marah, lalu ia memalingkan pandangannya pada Jinyoung. "Jinyoung, sayang. Apa sebaiknya kita ke psikiater?"

"Untuk apa? Daehwi adalah sisi lain dari diriku yang tidak bisa kuperlihatkan ke orang lain. Dia nyata, dia berperasaan, dia berpikiran. Kami hidup disatu tubuh yang sama tanpa ada masalah," Jelas Jinyoung. "Aku tidak perlu bertemu psikiater."

"Kami hanya ingin tahu sedekat apa kau –dan.. Daehwi. Dalam kata lain, kami hanya ingin menganalisa apa yang terjadi padamu, kenapa bisa kau memiliki kepribadian ganda seperti ini," Jelas ibu dari Jinyoung itu. Jinyoung baru saja mau menjawab namun wanita itu kembali membuka mulutnya. "Iya, ibu sudah dengar penjelasannya darimu, tapi ibu ingin tahu penjelasan dari orang yang lebih ahli."

"Siapa tahu bisa diobati." Lelaki yang lebih tua itu bicara asal.

Jinyoung menggeleng dengan yakin. "Aku tidak mau diobati. Aku tidak punya teman, aku hanya punya Daehwi. Aku tidak mau."

"Well, kalau dengan cara dibujuk kau tidak mau. Ayah pikir ini jalan terakhir."

Lelaki itu berdiri dan berjalan menuju ruangan lain dan tak kembali. Jinyoung menatap ibunya untuk meminta jawaban maksud dari kata-kata ayahnya, namun wanita itu tak bisa menatapnya balik. Tiga lelaki dewasa dengan tubuh besar memasuki ruang keluarga rumahnya. Mereka mendekati Jinyoung dan memegangi tubuh kurusnya.

"Tidak! Ibu –tolong!"

Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tak mampu melihat anak semata wayangnya yang saat ini berada ditangan suruhan ayahnya.


Jinyoung menunduk dalam.

Kita benar-benar seperti orang gila, hyung.

Lelaki yang diajak bicara Daehwi itu hanya bisa menghela nafasnya berat. Setelah diseret untuk masuk ke dalam mobil dan dibawa ke psikiater di rumah sakit jiwa, Jinyoung sudah tidak bisa berbuat banyak. Orang tuanya sudah benar-benar percaya kalau dia gila.

Semua karena Daehwi yang memaksa untuk memberitahu kalau dia nyata ke ibunya Jinyoung ketika Daehwi sedang menjadi user ketika Jinyoung tidur. Daehwi sangat mengagumi kebaikan ibu Jinyoung, jadi dia pikir wanita itu akan menerimanya dan percaya padanya.

Jinyoung tidak bisa marah pada Daehwi karena meskipun dia melakukan kesalahan, lelaki pirang itu sudah membantunya sejak kecil sampai sekarang. Justru Jinyoung pikir kebaikan Daehwi selama ini tidak akan bisa ia bayar, jadi dia juga tidak berhak marah.

Hyung, apa kita akan dikurung disini?

"Aku tidak tahu, oke? Berhenti bicara, Daehwi."

Seseorang masuk ke dalam ruangan tempatnya duduk saat ini. Lelaki dengan jas putih layaknya dokter pada umumnya itu menyapa Jinyoung ramah dan berdiri membelakangi cermin besar. Tidak bodoh, Jinyoung tahu kalau itu adalah cermin dua arah yang dimana orang tuanya memperhatikan gerak-geriknya.

"Jadi, kudengar kau memiliki teman didalam pikiranmu itu yang juga bisa mengambil alih tubuhmu. Boleh aku mendengar penjelasannya darimu, Jinyoung-ssi?"

"Aku di-bully ketika SD, sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri dan bertemu dengan Daehwi dipikiranku. Dia yang menggantikanku ketika mereka memukuliku dan membuatku kembali ceria. Semua berlangsung dari SD sampai SMA saat ini," Jelas singkat Jinyoung. "Daehwi tidak mengganggu dan tidak mengancamku sama sekali, bahkan dia terlalu baik –dan manis, aku baik-baik saja. Sungguh."

"Bagaimana caramu bertukar posisi?"

"Awalnya Daehwi yang punya kendali penuh atas tubuhku karena aku tidak tahu bagaimana mengontrol untuk bertukar posisi, tetapi sekarang aku hanya memintanya untuk kembali menjadi user dan dia akan memberikannya padaku," Jawab Jinyoung. "Biasanya kalau aku tidur, Daehwi akan bangun terlebih dahulu sehingga aku tidak pernah telat bangun. Lebih mudah bertukar posisi ketika aku sedang bersandar karena bertukar posisi user akan membuat kami tidak sadar terlebih dahulu, kalau kami bertukar posisi ketika sedang berdiri, aku akan jatuh tersungkur."

Jinyoung tersenyum kecil ketika mengingat ketika dulu ia memaksa untuk mengambil alih karena ada lelaki yang ia taksir dan ia tidak mau Daehwi mengacaukannya. Keduanya memperebutkan posisi user dan akhirnya bertukar posisi user ketika berdiri didepan lelaki yang Jinyoung suka. Yep, Jinyoung jatuh tersungkur layaknya orang pingsan.

Setelah itu Jinyoung tidak pernah bertemu dengan lelaki itu lagi.

"Jinyoung-ah, apa yang kau alami saat ini bernama Dissociative Identity Disorder. Mungkin kau tidak merasa terbebani, tetapi ini tidak baik untukmu. Bisa jadi suatu saat nanti akan ada kepribadian lainnya yang tercipta dipikiranmu dan berusaha mengambil alih tubuhmu. Mungkin tidak dengan Daehwi, tetapi kemunculan pribadi baru yang kita tidak tahu sifatnya baik atau buruk itu sangat beresiko."

"Kau sudah mengatakannya, mungkin tidak dengan Daehwi. Done, saat ini hanya Daehwi yang ada disini bersamaku. Kalau suatu saat nanti ada pribadi lainnya yang mengancam, baru aku akan bertemu lagi denganmu untuk mengusirnya jauh-jauh."

Dokter dengan nametag bermarga Park itu tersenyum. "Andai semudah itu untuk mengusir pribadi yang tercipta didalam sana. Akan lebih baik kita mencegah pribadi lainnya datang dengan cara menyembuhkan akarnya, Jinyoung-ah."

"Jadi kau akan berusaha melenyapkan Daehwi?"

"Itu yang terbaik."

"Haha," Jinyoung tertawa kesal. "Lalu kalian mau aku kembali menjadi Jinyoung yang tak punya semangat hidup lagi? Jinyoung si mayat hidup?" Mata penuh amarah itu memandang sang dokter dan cermin yang berada dibelakangnya.

Hyung..

"Aku tidak akan membiarkan kalian mengambilnya dariku."

Seketika pintu ruangan terbuka dan menunjukan tiga lelaki besar yang tadi menyeretnya dari rumah. Semua memegangi Jinyoung yang meronta-ronta layaknya orang kemasukan iblis. Teriakan Jinyoung menggema ke seluruh ruangan tiga kali tiga itu. Membuat kedua orang tua Jinyoung dibalik cermin mundur dari posisi berdiri mereka dan memandangnya khawatir.

"Kumohon –ugh, jangan sakiti Jinyoung hyung!" Suara itu terdengar lembut, berbeda dengan suara yang sejak tadi bicara dengan sang dokter.

Dokter itu mengambil suntik berisi cairan putih pucat dan mencoba menyuntikkannya pada Jinyoung. Kepala Jinyoung tertunduk, lalu tak lama mendongak kembali. Mata berkantung milik Jinyoung itu menatapnya tajam, iris milik Jinyoung menggelap layaknya sisi hidup Jinyoung hilang digantikan dengan monster.

"You dare put it into my fcking body, I'll kill you." Lagi, suara yang berbeda. Lebih berat dan dalam.

Entah kekuatan darimana, Jinyoung melepaskan kedua tangannya dari pegangan dua orang besar tadi dan mengangkat salah satu kakinya untuk menendang satu orang yang memegangi kakinya. Tangannya lalu menyikut dua orang yang tadi memegangi tangannya.

Jinyoung menyeringai. "Oh, well. You succeed waking me up."

"Siapa kau?" Tanya sang dokter yang berusaha tetap tenang.

Mata Jinyoung memandang cermin, melihat bayangan dirinya yang sangat berbeda. Tangan Jinyoung kembali diraih orang suruhan ayahnya itu, namun lagi, dia menepisnya kencang. Dia tersenyum mengejek sambil menyisir poninya ke belakang.

"Guanlin. Lai Guanlin," Sosok baru muncul ditubuh Jinyoung. Ia kembali tersenyum miring. "Pleasure to meet you."


WHO ARE YOU

-TO BE CONTINUE-


A/N: Halo lagi! Hehe.

Ini adalah update tercepet yang pernah aku lakuin selama aku jadi author. Mungkin karna masih hype, jadi aku dapet banget feelingnya buat lanjutin ini. Dan aku seneng lagi-lagi dapet review yang memuaskan –ffku memuaskan reader dan review kalian memuaskan aku hihi.

Di chapter sebelumnya, aku bikin kesalahan karna ngga sempet read ulang. Dimana Daehwi lagi ngasih tau lemari Jinyoung dikamar Jinyoung tapi malah mapahnya ke ranjang Daehwi haha. Kalo kalian ngeh, kalian keren! Kalo ngga ya gapapa juga sih haha.

Maaf belum ada Jihoon karena aku pengen ngejelasin tentang Jinyoung dulu, tapi aku yakin 2 chapter kedepan bakal ada Jihoon lagi. Chapter besok aku jelasin Guanlin dulu. Btw aku suka banget ngebayangin Guanlin tuh anak nakal, suka ngerokok dan suka nempeleng pala anak orang wkwk. Auranya itu loh, padahal dia aslinya manis tapi gatau aku suka bayangin dia thug semenjak Boys In Luv lol.

Udah gitu aja deh. Makasih banyak yang udah review, favorite, dan follow!