This story was a fiction, based on a movie, of course, it was for movie challenge fic.

Maybe some of you had already figured what movie I'd used for this fic, but, I may not telling until the end of the chapter..

Because it won't be fun anymore if I'm telling you all now..

The reason was just as simple as that.


Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei

Genre: Gore, Dark, Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Angst, Family, Drama, etc

Rate: T, well, for now, maybe it has a semi-M scene (and it's for the Gore part)

Pairing(s): PhinksPaku, slight KuroKura

Warning: OOC-ness, Typo(s), perhaps, Gloomy Scenery, Canon, Weird Plotting, Blood, etc

Do not flame me about the stuff I've mentioned, cause you've been warned

I accept no silent reader, you read, you review.


Night Colored Heart

Part 2 - End

K. Hiiyama

2012


Disebuah ruang sidang, tampak seorang hakim berambut hitam, sedang duduk di kursi yang berada ditengah-tengah hakim-hakim yang ada, sepucuk kertas berada ditangannya, dan ia sedang membacakannya,

"Untuk kesalahanmu, kau dikenai pidana 12 tahun", ujarnya lantang, dihadapannya, ditempat terdakwa, berdiri seorang anak yang terlihat belum berusia 12 tahun, pakaiannya terlihat usang, dan saat mendengar keputusan itu, ia hanya menunduk sedih, oh, betapa tidak adilnya hukum ini, seorang anak yang usianya bahkan belum mencapai 12 tahu, harus menanggung hukuman berat 12 tahun penjara hanya karena kesalahan kecil seperti mencuri.

"Hukuman yang kau berikan benar-benar sepadan", kata Sukuwara sambil berjalan disamping pria itu,

"Ya, seseorang harus menerapkan hukum, atau orang-orang tidak akan jera", jawab pria itu, kemudian merekapun berjalan lagi.

"Aku punya berita untukmu, Sukuwara", kata Dalzone memulai pembicaraan yang sempat terhenti itu,

"Apa itu?", tanya Sukuwara penasaran, ia pun mendekat pada sang hakim,

"Untuk melindunginya dari iblis yang ada di dunia ini, aku sudah memutuskan untuk menikahi Kurapika-ku tersayang", katanya dengan sebuah senyuman terukir diwajah kuyunya,

"Oh, itu berita bagus, Tuan!", pekik pria itu dengan nada suara yang menggambarkan kesenangannya, ia turut senang jika sang hakim merasa senang,

"Tapi ada yang aneh, kau tahu?", ujar pria itu tiba-tiba, nadanya terdengar gelisah,

"Apakah keanehan itu, Tuan?", sahut Sukuwara bingung,

"Saat aku menawarkan diriku padanya, ia tampak..enggan", Dalzone berkata sambil mengerutkan alisnya, Sukuwara pun menaikkan sebelah alisnya,

"Maaf, Tuan, kalau saya boleh bicara-", Sukuwara memulai pendapatnya, Dalzone pun berhenti didepan sebuah rumah tak berpenghuni yang kacanya gelap, sehingga ia bisa bercermin disana,

"Bukankah aku ini tampan?", tanya Dalzone,

"Ya, anda memang selalu terlihat tampan, tapi..tampak kurang sempurna dari anda yang biasanya, Tuan", Sukuwara berujar pelan,

"Oh ya?", tanya Dalzone heran,

"Ya, ada pangkal janggut di pipimu, dan Anda tahu, wanita itu..sangat sensitif", jawab Sukuwara dengan nada persuasifnya, Dalzone pun mendekat kearah kaca gelap serupa cermin itu, dan melihatnya sendiri,

"Pangkal janggut ya? Mungkin aku sering terburu-buru di pagi hari", ia berargumen,

"Tak perlu khawatir, Tuan, aku tahu sebuah tempat, seorang tukang berbakat, Tuan", ia berkata lagi,

"Ditambah cologne, Anda pasti akan membuat gadis itu terpesona sampai-", ujarnya dengan nada persuasif, Pria berwajah kuyu itu pun menaikkan sebelah alisnya,

"Sampai?", ia bertanya singkat,

"Sampai ia bertekuk lutut padamu..", kata Sukuwara lagi, sambil menunjukkan jalan menuju kearah barbershop milik Phinks Todd.


Hari itu, Kuroro, untuk kesekian kalinya, menghampiri taman didepan rumah Hakim Dalzone, sekadar untuk bertemu dengan Kurapika, yang selalu menunggunya ditepi jendela kamarnya.

Namun, hari ini, gadis itu terlihat lebih bersemangat dan ceria, wajahnya berbinar-binar, Kuroro menatapnya agak heran, namun ia membalas senyuman manis gadis berambut pirang itu.

Kurapika kemudian menggesturkan pada Kuroro untuk mendekat, pemuda itu kembali mengernyitkan dahinya, ia agak khawatir kalau-kalau Hakim Dalzone melihatnya, sungguh, ia tidak ingin mengulangi kesalahan persepsi itu, namun, kesungguhan yang terpancar dari mata biru gadis itu membuatnya tidak tega untuk menolak ajakannya.

Iapun mendekat kearah jendela itu, dan sampai dibawahnya, gadis itu lalu membuka jendelanya,

"Ini", katanya sambil melemparkan sebuah kunci pada pemuda itu, yang kebetulan jatuh disampingnya, pemuda itupun lantas mengambil kunci itu dari tanah, bersamaan dengan Kurapika yang kembali menutup kaca jendelanya.

Ia terdiam sambil terus memandangi gadis itu dari tempatnya, sementara Kurapika sudah kembali duduk dan menyulam seperti sebelumnya, namun diwajahnya yang pucat terlihat semburat merah muda disamping senyum tipisnya, sungguh, untuk pertama kalinya, gadis itu tersenyum malu-malu.

Kuroro masih terdiam beberapa saat, tapi kemudian ia memutuskan untuk mengunjugi seorang sahabat, atau mungkin satu-satunya kenalannya di kota itu, untuk mendapatkan bantuan.


"Tuan Todd!", seru pemuda berambut hitam itu sambil membuka pintu barbershop itu dengan penuh semangat, tentu saja kedatangannya mengusik Phinks, dan tamunya, Hakim Dalzone. Pria itu terkejut dan menoleh,

"Ah! Lihat siapa temanmu!", serunya dengan nada geram, ia segera bangkit dan mengelap sisa-sisa krim cukur dari wajahnya,

"Aku tidak akan pernah kembali lagi kesini!", ia berseru lagi, Phinks terlihat gusar, apalagi mendengar sumpah itu, tapi ia hanya diam, sementara Kuroro masih diam karena bingung dan tidak menyadari situasi yang sebenarnya ia usik,

"Tuan Todd, kau harus menolongku", pinta pemuda itu,

"Keluar", sahut Phinks,

"Tuan Todd?", tanya Kuroro lagi, kali ini Phinks menghela nafas berat,

"KELUAR!", serunya, yang membuat pemuda itu segera pergi,

"Semua teriakan dan perlarian ini, ada apa?", tanya Pakunoda saat ia menghampiri ruangan Phinks.

Todd:
I had him!
His throat was bare beneath my hand.
No! I had him!
His throat was there and he'll never come again!

Pakunoda:
Easy now!
Hush, love, hush!
I keep telling you-

Todd:
When?!

Pakunoda:
What's your rush!

Todd:
Why did I wait?
You told me to wait!
Now he'll never come again!

There's a hole in the world like a great black pit
And it's filled with people who are filled with shit
And the vermin of the world inhabit it
But not for long!They all deserve to die

Tell you why, Pakunoda
Tell you why
Because in all of the whole human race, Pakunoda
There two kinds of men
And only two

There's the one staying put in his proper place
And the one with his foot in the other one's face
Look at me, Pakunoda
Look at you
Though we all deserve to die

Even you, Pakunoda
Even I

Because the lives of the wicked should be, made brief!
For the rest of us, death will be a relief
We all deserve to die!

And I'll never see Kurapika
No, I'll never hug my girl to me
Finished!

Alright!
You, sir!
How about a shave?
Come and, visit
Your good friend Phinks
You, sir! Too, sir!
Welcome to the grave!

I will have vengeance!
I will have salvation!

Who sir?! You sir?
No one's in the chair!
Come on! Come on!
Phinks's,
Waiting
I want you bleeders!

You sir, anybody!
Gentlemen, now don't be shy!

Not one man,
No nor ten men
Nor a hundred can assuage me!
I will have you!

And I will get him back even as he gloats
In the meantime I'll practice on less honorable throats

And my Melody lies in ashes!
And I'll never see my girl again!
But the work waits!
I'm alive at last!
And I'm full of joy!

Phinks berlutut sambil merentangkan kedua belah tangannya dengan pisau di tiap ujung-ujungnya, Pakunoda melihatnya dengan wajah bosan, iapun membantunya lagi,

"Ayo, kita minum dibawah", katanya mencoba meredam emosi pria itu.


Seiring berlalunya hari, Phinks mulai mempersiapkan segalanya, untuk bisa mengirim korban-korbannya, tepat menuju bakehouse milik Pakunoda dilantai bawah, dengan tangannya sendiri dan berbekal ketrampilan dalam memodifikasi, ia pun men-setting kursi pelanggannya, kursi itu dipasangi roda dan pedal dengan sedemikian rupa agar bisa membuat korbannya langsung meluncur kebawah.

Sementara itu, dirumah Hakim Dalzone, Kurapika tengah mempersiapkan barang-barangnya, untuk ia bawa dalam pelariannya bersama Kuroro, namun, tiba-tiba saja pintu kamarnya dibuka,

"Jadi benar, kau akan pergi bersama pemuda itu?", tanya Dalzone dingin, Kurapika mengerutkan alisnya dan menundukkan pandangannya,

"Tuan, seorang pria baik-baik, jika masuk ke kamar seorang lady, seharusnya ia mengetuk pintu", kata Kurapika beralasan,

"Hn, aku tidak melihat seorang lady disini", balas Dalzone lagi, ia terdengar tidak senang,

"Aku tidak menyangka, Kurapika kecilku yang manis akan mengkhianatiku", ia berujar lagi, Kurapika menggigit bibir bawahnya dengan penuh rasa takut, ia bahkan tidak berani menoleh pada pria itu,

"A..aku..", ujarnya ragu-ragu,

"Ah, anak nakal, aku sudah mempersiapkan tempatmu merenungkan kesalahanmu", pria itu berkata lagi, Kurapika pun menoleh, dan mendapati Sukuwara yang segera mengikat tangannya,

"Akh! Jangaaan!", jerit gadis itu, saat ia dimasukkan kedalam kereta kuda secara paksa oleh Sukuwara yang ikut pula, Kuroro, yang menunggunya diluar, melihat kejadian ini, dan segera berlari mengejar kereta itu,

"Kurapikaaa!", teriaknya sambil mengejar kereta kuda itu, namun ia berpikir kalau orang itu pasti tahu kemana gadisnya akan dibawa, sehingga iapun kembali dan langsung mengangkat kerah Hakim Dalzone,

"Kau bawa kemana dia? Kalau sampai terjadi sesuatu padanya aku akan..", hardiknya keras,

"Apa? Kau akan membunuhku nak? Bunuhlah!", seru pria itu sambil merentangkan tangannya dengan gestur menantang, Kuroro pun melepaskan kerah pria itu dan kembali mengejar kereta kuda yang membawa gadisnya,

"Kurapikaaa!", teriaknya.


Kuroro pun memulai hari esoknya dengan mencari keberadaan pujaan hatinya itu, ia mencari kemanapun, tapi sejauh ini hasilnya nihil, ia belum menemukan jejak gadis itu.

Sementara itu, di barbershop Phinks Todd, ia memulai operasinya, dengan menyayat semua orang yang datang untuk bercukur, lalu menginjak pedal didekat kakinya hingga orang tersebut jatuh ke bakehouse Pakunoda, yang mengolah mereka menjadi pie daging untuk kemudian ia jual.

Bisnis kedua orang itu mulai lancar, hingga akhirnya Pakunoda kembali mengadakan pembukaan kembali secara besar-besaran, ia sudah memasang pampflet dimana-mana dan mempekerjakan Killua sebagai asistennya.

Killua: Ladies and gentlemen
May I have your attention, please?
Are your nostrils aquiver and tingling
As well at that delicate, luscious ambrosial smell?
Yes they are, I can tell

Well, ladies and gentlemen
That aroma enriching the breeze
Is like nothing compared to its succulent source
As the gourmets among you will tell you, of course

Ladies and gentlemen
You can't imagine the rapture in store…
Just inside of this door!

There you'll sample Pakunoda's meat pies
Savoury and sweet pies, as you'll see
You who eat pies - Pakunoda's meat pies
Conjure up the treat pies used to be

Pakunoda: "Killua!"

Killua: "Coming!"

Pakunoda: "Ale there!"

Killua: "Right, Mum!"

Pakunoda: "Quick now!"

Nice to see you, dearie
How are you been keeping
Cor, my bones is weary
Killua! - One for the gentleman
Hear the birdies cheeping
Helps to keep it cheery

Pakunoda melihat seorang wanita pengemis yang terlihat familiar, matanya langsung terbelalak kesal, ia segera berseru pada Killua,

Killua! - Throw the old woman out!

What's my secret
Frankly, dear, forgive my candor
Family secret
All to do with herbs
Things like being careful with your coriander
That's what makes the gravy grander!

BOTH: Eat them slow and feel the crust, how thin I (she) rolled it
Eat them slow cause every one's a prize
Eat them slow cause that's the lot and now we've sold it
Come again tomorrow!

Hold it!

Pakunoda melihat seorang pria datang dan menuju kelantai atas, tempat Phinks bekerja.

Bless my eyes
Fresh supplies

Pakunoda: How about it, dearie
Be here in a twinkling
Just confirms my theory
Killua! - God watches over us
Didn't have an inkling
Positively eerie

Killua: Is that a pie fit for a king
A wondrous sweet and most delectable thing
You see, Mum, why there is no meat pie

Pakunoda: Killua! - Throw the old woman out!

Killua pun segera mengusir wanita tua itu.


Bisnis pun berjalan lancar, dan pada suatu siang, yang terasa cukup nyaman, Pakunoda mengajak kedua orang itu, Phinks dan Killua, pergi berpiknik.

Disana, dihamparan padang rumput yang luas, mereka duduk dibawah sebatang pohon besar, beralaskan sebuah kain sekadar agar tidak langsung duduk diatas rumput, Killua terlihat sedang asyik bermain-main sementara Pakunoda sedang duduk bersama Phinks,

"Ah, bisnis kita berjalan lancar, menyenangkan sekali, iya kan Tuan Todd?", tanya Pakunoda sambil menoleh dengan wajah ceria,

"Bagaimana cara membuat hakim itu kembali", gumam Phinks tanpa menoleh sedikitpun, Paku memutar bola matanya lelah, kemudian ia menghela nafas,

"Hakim, ya, hakim itu lagi, bisakah kau sedikit saja meluangkan waktumu untuk berpikir tentang masa depan?", tanya wanita itu dengan nada gelisah, iapun mengubah posisinya, hingga seperti orang yang mau merangkak, lalu menciumi pipi pria itu.

Ooh, Mr. Todd! *kiss*
I'm so happy! *kiss*
I could *kiss*
Eat you up, I really could!
You know what I'd like to do, Mr. Todd? *kiss*
What I dream *kiss*
If the business stays as good?

Where I'd really like to go,
In a year or so?
Don't you want to know?

Todd: Of course.

Do you really want to know?

Todd: Yes, I do.

By the sea, Mr. Todd, that's the life I covet,
By the sea, Mr. Todd, ooh, I know you'd love it!
You and me, Mr. T, we could be alone
In a house wot we'd almost own,
Down by the sea!

Todd: Anything you say...

Pakunoda: Wouldn't that be smashing?

Think how snug it'll be underneath our flannel
When it's just you and me and the English Channel!
In our cozy retreat kept all neat and tidy,
We'll have chums over every Friday!

By the sea!
Don't you love the weather?
By the sea!
We'll grow old together!
By the seaside,
Hoo, hoo!
By the beautiful sea!

It'll be so quiet,
That who'll come by it,
Except a seagull
Hoo, hoo!
We shouldn't try it,
though 'til it's legal for two-hoo!

But a seaside wedding could be devised,
Me rumpled bedding legitimized!
My eyelids'll flutter,
I'll turn into butter,
The moment I mutter I do-hoo!

Down by the sea,
Married nice and proper!
By the sea,
Bring along your chopper!
To the seaside,
Hoo, hoo!
By the beautiful sea!


Mereka pun pulang dari piknik itu, dengan Phinks yang masih saja diam memikirkan bagaimana caranya ia bisa mendapatkan hakim itu kembali, sambil merenung di tempatnya,

"Kau masih memikirkan hakim itu?", tanya Pakunoda,

"Ya, aku harus mendapatkannya kembali", ujar pria itu,

"Sudahlah, berhenti berpikir tentang masa lalu dan lihat kedepan, hidup adalah bagi mereka yang masih hidup, dan terus berjalan, kalau seperti ini terus, kau bisa menyia-nyiakan waktumu", protes wanita itu, Phinks tetap tidak bersuara.

Lalu pintu tempat itu dibuka secara tiba-tiba oleh seorang pemuda berambut hitam,

"Tuan Todd, aku menemukan Kurapika di Fogg's Asylum (asylum = rumah sakit jiwa), kumohon, bantulah aku", ujarnya memohon, Phinks segera bangkit,

Aku tahu cara mendapatkan hakim itu, pikir Phinks, ia pun segera menyambut Kuroro, sementara Pakunoda hanya memutar bola matanya kesal,

"Kau tahu darimana para pembuat wig mengambil rambut?", tanya pria itu,

"Tidak, kenapa?", sahut pemuda itu setengah bertanya,

"Mereka mendapatkan rambut dari asylum, jadi malam ini, menyamarlah menjadi pembuat wig, dan ambillah gadis itu", usul Phinks,

"Terima kasih Tuan!", ujar Kuroro bersemangat, iapun segera pergi untuk bersiap-siap.

"Ya, kali ini aku akan mendapatkan hakim itu!", seru Phinks,

"Tapi..", kata Pakunoda,

"Keluar-", perintahnya,

"Dan panggil Killua kesini", ia melanjutkan, Pakunoda pun segera keluar dan melaksanakan perintahnya.


"Pakunoda bilang Anda membutuhkanku,Tuan, ada apa?", tanya Killua sopan,

"Ini", ujar Phinks sambil menyodorkan sebuah gulungan dari kertas,

"Bawa ini ke gedung peradilan dan serahkan pada Hakim Dalzone, hanya padanya, mengerti?", ujar Phinks,

"Ya", sahut Killua,

"Ulangi", kata pria itu lagi,

"Bawa ke gedung peradilan, serahkan pada Hakim Dalzone", ujar Killua mengulangi perintah yang diberikan pria itu,

"Baiklah, sana pergi", balas pria itu sambil mendorong pelan tubuh bocah berambut putih itu.


Kuroro pun mendatangi tempat itu dengan penyamaran sempurna,

"Ah, kau mencari rambut seperti apa?", tanya pria pemilik rumah sakit jiwa itu,

"Pirang, aku butuh rambut pirang", katanya mantap,

"Oh, sebelah sini", katanya sambil memimpin jalan.

Keduanya pun sampai disebuah kamar yang berisi perempuan-perempuan gila berambut pirang, mereka terlihat ketakutan, lalu pria itu bertanya,

"Kau ingin corak seperti apa?", pada Kuroro, melihat Kurapika yang duduk sendirian, Kuroro segera menunjuknya,

"Dia, aku ingin yang seperti itu", katanya,

"Ah, ayo kesini cantik-", pria itu menarik Kurapika dan membawanya kedekat Kuroro,

"Nah, mau dipotong seberapa banyak?", ujar sang pria sambil memegangi rambut Kurapika, Kuroro pun segera merangkul gadis itu dan menodongkan benz-nya kearah pria tersebut,

"Mundur!", serunya,

"Sekarang, aku meninggalkanmu, dalam belas kasihan anak-anakmu", ujarnya sambil melangkah mundur dan membawa serta Kurapika bersamanya, kemudian pria itu segera menutup pintu ruangan itu, dan yang terdengar dari sana hanyalah teriakan minta tolong dari pria itu.


Killua baru kembali setelah jam makan malam, ia melewatkan waktu buka toko, dan saat ia kembali, ia melihat Pakunoda sedang tertidur disofa, mendengar suara pintu yang terbuka, wanita itupun bangun,

"Ah, kau, darimana saja? Kau melewatkan jam makan malam", kata perempuan itu dengan nada lelah dan mengantuk,

"Tuan Todd menyuruhku mengantarkan pesan", jawabnya singkat, Pakunoda hanya mengangguk,

"Tolong dengarkan aku-", kata Killua lagi, ia mendekat pada wanita itu,

"Kau tahu tidak ada yang tidak akan kulakukan untukmu, jadi, adakah seseorang disekitarmu, yang jahat? Hanya..kau tidak mengetahuinya", lanjutnya, Pakunoda mengernyitkan dahinya, mulai bingung,

"Ada apa ini? Apa maksudmu?", tanya wanita itu.

Nothing's gonna harm you, not while I'm around.
Nothing's gonna harm you, no sir, not while I'm around.

Demons are prowling everywhere, nowadays,
I'll send 'em howling,
I don't care, I got ways.

No one's gonna hurt you,
No one's gonna dare.

Others can desert you,
Not to worry, whistle, I'll be there.

Demons'll charm you with a smile, for a while,
But in time...

Nothing can harm you
Not while I'm around...

Not to worry, not to worry
I may not be smart but I ain't dumb

I can do it, put me to it
Show me something I can overcome
Not to worry, Mom...

Being close and being clever
Ain't like being true
I don't need to,
I would never hide a thing from you,
Like some...

Killua melirik keatas, Pakunoda tentu mengerti apa yang dimaksud oleh anak itu, tapi ia tidak ingin anak itu sampai membocorkan semuanya,

"Killua, daripada kita bicara tidak penting seperti ini, bagaimana kalau aku mengajarimu cara membuat pie?", tawar perempuan itu,

"Tentu!", balas bocah berambut putih itu penuh semangat, iapun segera mengikuti wanita itu menuju bakehouse-nya, lalu wanita itu mengajarinya cara menggiling (tanpa memperlihatkan asal daging itu) dan cara memanggang yang melalui panggangan api besar,

"Tiga lusin sekali panggang", ujar wanita itu mengingatkan, iapun kemudian memperbolehkan bocah itu untuk mencicipi pie-pie itu, selama ia pergi sebentar, namun, tanpa diketahui bocah itu, Pakunoda mengunci tempat itu, lalu naik keatas.

"Phinks, tadi Killua mengancam akan memberitahu Sukuwara, aku tidak tahu lagi harus bagaimana", ujar Pakunoda dengan nada panik,

"Dimana dia sekarang?", tanya pria itu,

"Di bakehouse, aku mengurungnya disana", kata Pakunoda lagi, lalu ia dan Phinks pun bergegas turun untuk menemui Killua.


"Tuan Todd!", seru Kuroro dengan membawa Kurapika bersamanya, gadis itu sudah memakai penyamaran sebagai anak laki-laki, sayangnya kenalannya itu tidak ada sedang tidak ada ditempat,

"Kau tunggulah dia disini, aku akan kembali dengan kapal layar kurang dari setengah jam lagi-", ia berujar halus pada gadis itu,

"Jangan khawatir, tidak ada yang mengenalimu, kita aman", ia melanjutkan, Kurapika menatap mata hitamnya dengan pandangan yang penuh arti,

"Aman? Jadi kita melarikan diri dan semua mimpi kita akan terwujud?", tanya gadis itu dengan nada ragu,

"Kuharap begitu", sahut Kuroro singkat,

"Aku tidak pernah punya mimpi, kecuali mimpi buruk", Kurapika berujar lagi, nadanya terdengar begitu sedih,

"Kurapika, saat kita sudah bebas dari sini, semua mimpi burukmu akan sirna", Kuroro mencoba meyakinkan gadis itu,

"Tidak, Kuroro, mereka tidak pernah benar-benar hilang", Kurapika menjawab dengan nada sedih,

"Aku akan kembali untuk menjemputmu, setengah jam dan kita akan bebas", ujar pria itu sebelum ia berlari keluar dan menuruni tangga rumah itu.

Kurapika masih terdiam, ia sebenarnya agak takut, dan untuk mengusir rasa takut itu, ia berjalan-jalan disekitar ruangan itu, tanpa menyadari bahwa tempat ini adalah rumahnya dulu, tempat ia menghabiskan sedikit masa kecilnya bersama kedua orangtuanya.

Tak lama berselang, ia mendengar sebuah suara,

"Sukuwara, tidak baik bersembunyi, aku melihatmu! Apa kau masih didalam sana? Sukuwara?", itu adalah wanita pengemis yang waktu itu memberitahu Kuroro tentang rumah Hakim Dalzone, juga yang datang mengganggu toko pie Pakunoda, dan kini ia datang dan masuk kedalam barbershop Phinks, mendengar suara orang asing, Kurapika terkejut dan buru-buru bersembunyi dalam peti yang dulu menjadi tempat Phinks menyembunyikan Nobunaga dari Killua.


"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan disini?", tanya Phinks datar, ia menatap wanita itu dengan sorot tajam,

"Iblis ada disini Tuan, bau aneh dari bawah, dari wanita itu! Dia itu pendamping iblis Tuan, hati-hati, dia tidak punya rasa kasihan dihatinya!", pekik wanita pengemis itu, Phinks tetap tidak bergeming, namun ia terus memperhatikan gerak-gerik wanita itu, yang kemudian menatapnya, dengan wajah bingung,

"Hei, apa aku mengenalmu, Tuan?", tanya wanita itu dengan nada hampir bersenandung, Phinks berniat menjawab, 'tidak', namun sebuah suara menghalanginya,

"Tuan Todd!", Phinks pun bagai tersadar dari kebingungannya, dan ia langsung menebaskan pisaunya ke leher wanita itu, kemudian menjatuhkannya ke bakehouse.

"Dimana dia? Dimana gadis itu?", tanya Dalzone ketika ia membuka pintu dengan tergesa-gesa,

"Dibawah, Tuan, dengan tetanggaku", ujarnya ramah,

"Syukurlah, pemuda itu tidak melakukan apapun padanya, dan syukurlah, ia telah menyesali kesalahannya", ia berkata lagi,

"Benar kah?", tanya Dalzone memastikan,

"Oh ya, pelajaran yang kau berikan benar-benar berharga, dia terus membicarakanmu, berharap kau memaafkannya", jawab Phinks sebisanya, ia benar-benar mengarang semua jawaban itu, sementara Kurapika sendiri masih takut-takut dan bersembunyi, ia belum memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya,

"Dan dia akan mendapatkannya! Dia akan segera berada disini?", jawab hakim itu setengah bertanya, Phinks menghela nafas,

"Ya", ujarnya singkat, sembari mencoba menahan diri untuk tetap bersabar dan menjawab semua pertanyaan dengan tenang, ia ingin membuat semua ini berkesan, sebagai acara puncak dari semua pembalasan dendam ini,

"Bagus, teman!", puji Dalzone sambil tersenyum,

"Bagaimana kalau Anda bercukur dahulu, Tuan? Ayo, duduk", katanya menawarkan dengan nada ramah, tanpa curiga, Dalzone pun menyetujuinya.

"Ah, sungguh jarang, bertemu dengan kawan yang sepikir", gumam Dalzone, yang membuat Phinks tersenyum licik,

"Dalam urusan wanita, setidaknya", jawabnya dengan nada miris,

"Maksudmu?", tanya Dalzone penasaran,

"Tahun-tahun yang sudah lewat ini, sungguh mengubahku, Tuan-", ia memulainya, Dalzone hanya diam memperhatikan,

"Tapi kemudian..wajah seorang tahanan, tidak begitu...memorable", ia berujar lagi, mendengar hal ini, mata sang hakim pun terbelalak ngeri,

"Benjamin Barker?", serunya kaget bercampur syok,

"BENJAMIN BARKER!", balas pria itu lebih keras sambil mengacungkan pisaunya dan melesatkannya tepat keleher hakim itu, ia pun menusuk-nusukkannya keleher itu berkali-kali, membuat darah segar terpancar dari sana, begitu kuat pancarannya, hingga sampai pada sebagian lengan bajunya, wajahnya, dan permukaan kaca jendelanya yang terletak tak jauh dari tinggi kepalanya, lalu setelah merasa puas menusuk raga tak bernyawa itu, lalu ia pun menebaskan pisaunya, dan menginjak pedal untuk menjatuhkan raga itu.

Rest now, my friend
Rest now forever
Sleep now, the untroubled sleep
Of the angels—

Sebuah suara berdecit terdengar dari salah satu sudut ruangan itu, Phinks pun kembali meraih pisaunya yang sempat ia letakkan kembali di dalam kotaknya, dengan penuh kewaspadaan, ia berjalan menuju peti yang terbuka sedikit itu, dan mengangkat tutupnya sampai terbuka lebar,

"Datang untuk bercukur, anak muda?", tanya pria itu sinis, sambil menodongkan pisau itu pada anak muda itu, menggiringnya ke kursi pelanggannya, tanpa tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan putrinya sendiri,

"Hnn...itu..", Kurapika menjawab dengan ragu, ia takut sekali melihat pisau itu, yang hampir saja mengenai lehernya,

"AAAAAAKKH!", terdengar suara Pakunoda berteriak dari lantai bawah, Phinks pun tersentak, dan mengacungkan pisaunya kehadapan gadis yang sedang menyamar itu,

"Lupakan wajahku", katanya singkat, sebelum ia berlari dan meninggalkan gadis itu disana,

Kuroro..cepatlah datang..aku takut.., batin gadis itu tanpa beranjak dari tempat ia duduk.


"Kenapa kau berteriak?", tanya Phinks gusar ketika ia menghampiri Pakunoda di bakehouse-nya,

"Tidak, dia tadi memegangi rokku, tapi jangan khawatir, aku sudah membereskannya", ujar Pakunoda, suaranya terdengar gugup, ia mulai menyeret jasad wanita pengemis itu, dan tampaknya kesulitan,

"Biar aku saja, kau, bukalah oven itu", ujar Phinks dingin, Pakunoda terlihat enggan namun ia tetap melaksanakan permintaan pria itu, iapun membuka oven panas itu, nyala apinya membuat ruangan itu terlihat terang, dan menampakkan sebuah kalung yang melingkar dileher wanita pengemis tua itu, Phinks mencoba menajamkan penglihatannya, lalu ia berjalan kesisi wanita itu dan melihatnya lebih dekat,

"Ia bertanya, 'apa aku mengenalmu?'", gumam Phinks pelan,

"Kau tahu dia masih hidup..", ia berujar pelan, dengan nada sinis dan geram,

"Aku hanya memikirkanmu", sahut Pakunoda dengan nada yang terdengar cemas,

"Kau membohongiku..", desis pria itu lagi.

Pakunoda:
No, no, not lied at all
No, I never lied, said she
Played the sonata, she did
Never said that she died

Poor thing, she lived, but it left her weak in
The head, all she did for months
Was just lie there in bed
Should've been in hospital,
Wound up in bedlam, instead

Poor thing, better you should think
She was dead, yes,
I lied, because I love you
I'd be twice the wife she was!
I love you!

Could that thing have cared for you like me?

Todd:
Melody, I've come home again
Melody, oh my God!
Melody, what have I done?

Todd:
Pakunoda, you're a bloody wonder
Eminently practical, and yet
Appropriate as always
As you've said, repeatedly,
There's little point in
Dwelling on the past

Phinks bangkit dari sisi Melody dan berjalan menuju Pakunoda yang terlihat ragu dan takut.

Now come here, my love
Not a thing to fear my love
What's dead, is dead

Pakunoda:
Do you mean it?
Everything I did, I swear,
I thought was only for the best
Believe me, can we,
Still be, married?

Kini Phinks mendekat pada wanita itu dan mengenggam tangannya, mereka pun berdansa waltz mengelilingi bakehouse itu.

Todd:
The history of the world, my pet
Is learn forgiveness, and try
To forget
And life is for the alive, my dear
So let's keep living it,
Just keep living it
Really living it!

Pakunoda:
Oh Mr. Todd, ooh Mr. Todd,
Leave it to me
By the sea Mr. Todd,
We'll be comfy cozy, by the sea
Mr. Todd, where there's no one nosy
Just keep living it,
Really living it—

Tapi semua tidak seperti yang diharapkan oleh wanita itu, karena, begitu mereka berdekatan dengan oven yang terbuka itu, Phinks melemparnya masuk, dan menutup pintunya, membiarkan wanita itu terbakar habis, dan mengabaikan jeritan-jeritannya yang terdengar begitu menyakitkan.

Pria itu lalu berjalan kembali kearah wanita itu, istrinya yang telah mati ditangannya sendiri, ia duduk bersimpuh dan memeluknya, airmatanya jatuh menatap wajah cantik itu, sungguh ia ingin sekali mengulang saat dimana ia menebaskan pisaunya, dan membatalkan apa yang ia lakukan dalam ketidaktahuan itu, tapi..semua sudah terlambat.

Dalam keheningan itu, ia dapat mendengar suara dibukanya saluran air dibelakangnya, ia tahu, ada seseorang sedang keluar dari dalam sana, matanya menyimpan sorot dendam yang dalam, namun, ia membiarkan saja pemuda itu keluar dan mengambil pisaunya, untuk kemudian digunakan olehnya, ya, pemuda itu adalah Killua, dan dengan penuh amarah, ia mengambil pisau Phinks yang berada di lantai, dan menyayat leher pria itu, hingga darah mengalir dari sana, membasahi wajah wanita dalam dekapannya, kemudian ia keluar dari ruangan tersebut, dan membiarkan apa yang ada tetap seperti itu.


A/N: gyaaaaaa it ends!

I know, I know, perhaps all of you would like to asked,

"What happened to Kuroro and Kurapika after that?"

well, let's just imagined that they had the happy ending, only them.

and, for your information, this fic was made, based on a movie

titled, Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street

yeah, I've told you the movie that inspires me...

and, like the chapter before, I only wants to say..

Don't forget to review!