Only U

Cast : HunHan, BaekYeol, Kaisoo, EXO Member

Genre : Yaoi, Romance, Comfort, AU, OOC

Length : ?

Rated : T

"Hosh... hosh..." Kyungsoo duduk menunggu bus. Ia menyeka keringatnya, lalu mengeluarkan Hpnya. Ia masih sibuk surfing di internet sampai busnya datang.

"Kyungsooo?" seorang namja berpipi bulat melambaikan sebungkus makanan, lalu berlari mendekat.

"Wah, Xiumin hyung, kau datang pagi sekali!" Namja itu, Xiumin, tertawa sambil menggigit sandwich. Ia adalah kakak kelas Kyungsoo saat SMA, lebih tepatnya sahabat Luhan. Kyungsoo mengenalnya saat mengikuti kelas vokal, dan Xiumin mengenalkannya juga pada Luhan. Mereka bertiga dekat, Luhan dan Kyungsoo memutuskan untuk menyewa kamar apartemen berdua, sedangkan Xiumin masih tinggal dengan orangtuanya. Ia berada di universitas yang sama, hanya saja, namja itu mengambil jurusan tata boga mengingat hobi makannya.

"Terpaksa. Aku ada tugas tambahan. Kau mau?"

"Ani. Gomawoyo hyung!"

"Apa yang kau cari?"

"Oh, aku mencari kumpulan sketsa wajah manusia dari samping. Waeyo?"

"Ah, tidak, aku melihatmu sangat serius!"

"Tentu saja! kumpulan sketsa ini membuat tanganku gatal untuk cepat melukis!"

"Yak, Kyungsoo-ya, siapa yang akan kau gambar?"

"Hm... mollayo. Ah, itu bisnya datang! Kajja hyung!"

Xiumin dan Kyungsoo duduk berdampingan di bus itu. Xiumin masih mengunyah sandwich yang untuk keberapa kalinya, sedangkan Kyungsoo sudah menyimpan smartphonenya.

"Oy Kyungsoo," Xiumin mengelap mulutnya untuk terakhir kali. Ia mencondongkan badannya kearah Kyungsoo dengan serius.

"Kau tahu? Aku... sudah punya... pacar!" ujar Xiumin riang. Alis Kyungsoo terangkat.

"Ah, jeongmalyo? Nuguya hyung?" Kyungsoo ikut merasa senang. Pipi bulat Xiumin memanas dan memerah.

"Namanya Kim Jongdae, jurusan vokal..."

"Omona, ceritakan padaku bagaimana kalian bisa berpacaran!"

"Geurae... yah, aku tak sengaja melihatnya rehearsal di ruang kelas kosong saat aku dihukum mengepel koridor gara-gara... ah, jangan... tak usah kuceritakan. Dia melihatku saat aku mengepel sambil terus menyanyi dan, ya ampun, aku merasa sangat bersemangat karena nyanyiannya. Setelah menyanyikan 2 lagu, ia membantuku, dan kami berkenalan. Lalu, kami mulai dekat, dan yah..." Xiumin tersenyum malu-malu.

"Aigo... kau harus mengenalkannya padaku!"

"Pasti! Ingatkan aku! Dan apakah kau sudah punya pacar Kyungsoo-ya?"

"Emmm... ani," ujar Kyungsoo pendek.

"Eh, wae? Aku kira kau dan Luhan mendapatkan pacar daripada aku yang hanya terus makan ini! Kau manis, pandai memasak dan melukis, sopan, menyenangkan,..."

"Ya ya, bukan seperti itu hyung!" Kyungsoo buru-buru memotong ucapan Xiumin.

"Aku hanya belum bertemu seseorang yang dapat meruntuhkan jiwa dan ragaku!" ujar Kyungsoo serius. Xiumin mendecih.

"Kenapa kau jadi ketularan Luhan yang sok-sok puitis?" Kyungsoo tertawa dan mengangkat bahunya.

Setiba di kampus, Kyungsoo langsung duduk di tempatnya, lalu mengeluarkan buku sketsanya. Tangannya benar-benar gatal untuk langsung menggambar. Tiba-tiba, ia bingung sendiri, siapa yang menjadi objek lukisannya?

Sementara itu, Luhan juga sedang membolak-balik novel Mandarin yang baru ia selesai terjemaahkan kemarin. Demi apa, ia merasa menjadi penerjemaah sungguhan. Tapi menurutnya itu lumayan, hanya menerjemaahkan dari bahasa Mandarin ke bahasa Korea. Yah, itu bahasa sehari-harinya. Ia hanya bingung karena bahasa buku begitu formal.

"Xi Luhan?" sebuah suara berat menginterupsinya.

"Ah ne? Oh, Nam seonsaeng!" Luhan bangkit, lalu bow.

"Kau sudah mencari buku yang kuperintahkan?"

"Belum, em... Nam seonsaeng, saya baru akan menyerahkan tugas akhir. Ini! Setelah makan siang, saya pasti akan mencarinya!"

"Geuraesseo, aku hanya ingin memastikan!" setelah Nam seonsaeng keluar, Luhan merutuki dirinya yang selalu menunda-nunda tugas. Hpnya berdering.

"Yeoboseo?"

"Hyung, eodisseo? Aku tak bisa menemukan apartemen yang kau maksud!"

Mwoya? Kalau kau tak tahu, kau bisa bertanya pada orang disekeliling! Bukannya kau bersama Yifan?"

"Eum... ani hyung... ia ada urusan mendadak. Aku tak mau merepotkannya terus, jadi aku..."

"MWO?! Kau kan... aisshh, bagaimana jika kau tersesat atau sekarang diculik! Demi tuhan! Aku selalu tak becus menjadi hyung!"

"Hyung, aku sudah dewasa!"

"Diam disitu dan aku akan menjemputmu! Kau dimana?"

"Tak usah menjemputku hyung. Katakan saja dimana rute selanjutnya. Aku pikir aku sudah di stasiun XX. Apartemen hyung dekat situ kan? Katakan saja aku harus kemana!"

"APANYA YANG TAK USAH JEMPUT!"

"Hyung, aku sudah merasa dekat dengan tujuanku! Percayalah denganku sekali saja, jebal! Aku hafal bentuk apartemenmu, sumpah!"

Luhan terdiam dan merasa sedih sekali. Ia menelan ludah.

"... aish... baiklah..." Luhan kemudian menerangkan dengan sejelas-jelasnya arah ke rumahnya.

"Arrasseo. Gomawo hyung karena sudah percaya padaku. Khanda!"

Luhan menghela nafas. Ia ingat sepupunya bakalan menumpang untuk sementara. Ia butuh tempat untuk melakukan hal-hal dan tak ingin diusik orang lain untuk sementara. Di rumahnya penuh dengan saudara, nenek, sepupu, keponakan. Sepupunya memang tinggal di rumah utama nenek dari ibunya. Dan ia buta. Ia bilang ini tugas agar ia bisa mengikuti ujian akhir. Dan ia butuh tempat yang sepi, namun tetap ada yang mengurusnya. Kyungsoo pasti senang ada orang lagi, pikir Luhan riang.

Ia memutuskan untuk mencari bukunya sekarang dan bertekad untuk tidak menunda-nunda. Biarlah ia bolos pelajaran Grammar dulu, toh Park ssaem selalu ramah padanya dan Luhan berasumsi kalau Park ssaem menyukainya. Etdah, Luhan menggeleng-gelengkan kepala dan bergegas ke perpustakaan utama.

Bau buku yang khas menyapa hidung Luhan. Ia menyatat namanya di buku penerimaan pengunjung. Perpustakaan agak lengang. Hanya ada beberapa orang sibuk membolak-balik buku dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Luhan merogoh sakunya, mengambil daftar buku yang harus ia cari.

Luhan menyusuri tiap rak dengan sabar. Walaupun sering kesini, Luhan masih belum bisa menghafal tata letak dan urutan susunan semua buku, karena perpustakaan ini adalah perpustakaan utama, amat besar, amat lengkap. Semua jenis buku ada disini, sampai banyak buku berbahasa asing turut menjadi anggota.

"Ah, Shakespeare!" gumam Luhan. Ia mengambil buku saduran drama Shakespeare dari tingkat keempat dari atas. Ia berseru lega sambil berusaha menghafalkan, disini tempat skrip drama disimpan. Tiba-tiba, pandangan Luhan teralihkan dan melihat di ujung lorong buku, seorang namja di atas kursi roda yang memandang tumpukan buku di rak yang paling kecil. Ia sepertinya sedang berusaha mengambil buku yang paling atas, namun ia bahkan tidak bisa bergerak, apalagi mengangkat pantat. Luhan mengernyit. Ia merasa simpati karena namja tersebut tak mau menyerah terhadap rak buku yang berukuran agak kecil. Ia menggenggam rak itu erat, yang tingginya kira-kira beberapa senti diatas Luhan yang memang bertubuh agak pendek. Luhan berjalan hendak membantunya, ia berjarak beberapa langkah lagi ketika tiba-tiba namja itu kehilangan kesabaran dan menarik rak itu ke arahnya. Luhan kaget karena rak tersebut akan jatuh menimpanya secepatnya. Ia berlari kencang dan membungkuk di depan namja itu, menahan rak tersebut jatuh.

BRUKK!

Punggung Luhan serasa akan patah saat rak buku itu jatuh bebas menimpa punggungnya. Rasanya ngilu sekali. Buku-buku yang ada di rak tersebut berjatuhan menimpa kepalanya dan kepala namja itu. Luhan menghela nafas lega melihat namja yang kaget setengah mati di hadapannya baik-baik saja. mata namja itu melotot, dan Luhan masih meringis. Sentuhan rak buku itu ternyata menghujam punggungnya dengan sempurna.

2 orang petugas perpustakaan bergegas datang ketika mendengar suara ribut, dan cepat-cepat membantu Luhan, memberdirikan kembali rak berukuran sedang tersebut. Ternyata rak tersebut amat berat, beberapa buku masih meluncur bebas ke arahnya.

"Gwaenchanayo?" Luhan meringis sambil membersihkan debu yang menempel di rambut dan kepalanya. Namja kursi roda itu masih terdiam menatapnya.

"Kau tak apa-apa? Apa yang terjadi?" tanya kedua petugas perpustakaan.

"Ah, aku rasa temanku tersandung rak ini. Jeoseonghamnida, kami akan menyusunnya kembali!" ujar Luhan dengan pandangan mata memelas, dengan jurus mata deer-nya.

"Ya sudahlah, kembalilah ke tempatmu. Kau harus mengobati punggungmu, tampaknya itu lebam atau semacamnya," ujar petugas perpustakaan itu. Luhan bow, meraih buku Shakespearenya, lalu bergegas mendorong namja kursi roda itu keluar perpustakaan. Petugas itu benar. Punggungnya seakan mau patah.

Luhan mendorong namja itu ke taman perpustakaan dan duduk di salah satu kursinya, sementara namja itu ia putar ke arahnya. sepi sekali. Semua siswa tampaknya sedang belajar.

"Gwaenchanayo?" Luhan kembali mengulang pertanyaannya. Ekspresi namja itu sulit ditebak. Datar sekali. Wajahnya lonjong, bahkan dagunya sedikit runcing menurut Luhan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, alisnya tebal dan tegas, raut dahinya keras, dan ia... amat putih. Kulitnya nyaris pucat. Dan Luhan tertegun saat bertatapan mata dengannya. Dia...

"Mmm... namaku Luhan, Xi Luhan..." tampan. Tanpa sadar Luhan berbisik di hatinya. Ia mengacungkan tangannya untuk bersalaman sambil memamerkan senyum manis.

Namja itu masih diam, tak meresponnya. Padangan matanya tajam sekali, bibirnya tidak ada bergerak sekalipun. Luhan jadi merasa canggung.

"Eee... apa kau masih butuh sesuatu? Apa masih ada buku yang mau kau cari? Aku akan mengambilkannya untukmu. Kebetulan ada beberapa buku yang harus aku cari. Oya, siapa namamu?" tanya Luhan ramah, berusaha menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba meningkat. Jangankan menjawab, namja itu malah mengalihkan pandangan matanya. Luhan merasa bingung.

"Apa kau..." ucapan Luhan dipotong namja itu.

"Mian," ucapnya singkat, lalu mendorong manual kursi rodanya, pergi menjauhi Luhan. Luhan merasa mulutnya menganga lebar. Ya tuhan! Apa yang manusia itu pikirkan?

"Ya! Chankanmaneyo!" Luhan berusaha bangkit dan melawan rasa sakit di punggungnya. Namja itu berhenti, lalu menoleh sedikit ke belakang.

"Gamsahamnida," Luhan hampir tak bisa mendengarnya, hanya sayup-sayup, tapi ia bisa menangkapnya.

"Apa-apaan," dengus Luhan. Ia meraba punggungnya, terasa amat ngilu.

"Persetan dengan seonsaeng!" Luhan berjalan tertatih-tatih menuju UKS, lalu bergegas menekan nomor Kyungsoo. Ia akan telungkup di ruang UKS sampai Kyungsoo datang dan mengobatinya.

"Yeoboseyo?" suara Kyungsoo hampir-hampir tak kedengaran saking pelannya.

"Eodiya?"

"Di kelas, hyung! Guruku sedang tertidur sebentar sementara kami disuruh melukis!"

"Ya, Kyungsoo, ke UKS, ppalliwa!"

"Wae geurae hyung? Mworaneun geoya?"

"Datang kesini cepat! Kalau kau masih ingin tinggal di apartemen itu!" suara Luhan terdengar menakutkan. Kyungsoo jadi khawatir terjadi sesuatu dan segera bolos meninggalkan lukisannya yang hampir jadi. Tanpa babibu, ia langsung menuju UKS dengan setengah berlari.

"Hosh... hosh... Luhan hyung?" Kyungsoo membuka pintu UKS dengan pelan. UKS terlihat sepi. Ia segera menuju tempat tidur yang terlindungi kain penutup, dan membukanya.

"Hyung!" Kyungsoo menepuk punggung Luhan.

"AWW! Appo!" Luhan mengangkat kepalanya sambil berteriak meringis. Kyungsoo kaget setengah mati. Ia kira Luhan tidur. Lagipula, ia hanya menepuk punggung Luhan pelan.

"Waeyo?"

"Kyungsoo-ya, tolong obati punggungku!" Luhan bangkit perlahan, ia membuka bajunya. Kyungsoo melotot dengan matanya yang bulat dan besar melihat luka lebam bergaris panjang, biru dan kemerahan sekaligus.

"Omona... tahan hyung. Aku ambil kotak P3K dulu!" Kyungsoo berlari panik, sementara Luhan hanya meringis. Ia merasa amat sakit kalau bergerak sedikit. Pikiraannya jadi melayang ke namja kursi roda. Jurusan apa dia? Kenapa aku belum pernah bertemu dengannya? pikir Luhan. Ia beusaha mengingat tiap detil wajah namja yang, ehem, tampan itu. Kyungsoo datang sambil berlari dengan ekspresi panik yang lucu. Detik berikutnya Luhan sibuk meredam teriakan dan ringisannya saat tangan Kyungsoo dengan cepat menari di atas punggungnya. Luhan tak tahu kalau punggungnya bakalan sesakit ini! Rak buku sialan! Dan seonsaeng sialan! (eh?!)

Baekhyun memasang wajah masam. Ia melirik setelan jas putihnya yang manis, amat berlawanan dengan wajahnya yang sengaja ia pasang sejelek-jeleknya. Ia dan ayahnya duduk berdampingan di sofa ruangan utama, menunggu keluarga Kim yang sebentar lagi datang. Ia tidak diperbolehkan memegang hp, sejak pagi tadi ia dipaksa bangun pagi, bolos sekolah, memakai sedikit makeup, menata rambutnya, setelah sebelumnya berendam. Entah, ia saja merasa semuanya gak berguna jika wajahnya kusut.

"Tuan Besar, Tuan Kim sudah datang!" seorang pelayan lelaki bow pelan.

"Ini dia. Bawa mereka kesini!" ujar ayah Baekhyun sumringah. Baekhyun mendelik.

"Perbaiki duduk dan wajahmu!" ujar ayah Baekhyun berat dan bernada mengancam. Baekhyun menegakkan duduknya kesal.

Mereka berdua berdiri saat Pak Shin datang. Dibelakangnya, seorang bapak dan istrinya, juga anaknya, mereka sama-sama mengenakan setelan putih. Ayahnya berdiri, dan Baekhyun ikut berdiri sambil merapikan jasnya.

"Sahabatku, Byun Daehyun!" Ayah Baekhyun, Daehyun, memeluk bapak itu erat. Istrinya tersenyum. Mereka benar-benar setara dengan abeoji. Setidaknya itulah pikiran Baekhyun.

"Kim Siwon! Bagaimana kabarmu?"

"Ahaha... selalu seperti ini kau tahu! Ini istriku, dan ini anakku. Oh, apakah ini anakmu?" pandangan Siwon teralih pada namja disamping Daehyun.

"Ah, annyeong haseyo, joneun Byun Baekhyun imnida. Bangapseumnida!" Baekhyun bow, lalu tersenyum dengan manis. Terpaksa.

"Aigo... manisnya... dan ini putra kami. Ayo, perkenalkan dirimu!" Istri Siwon merangkul seorang namja yang tampan.

"Annyeong haseyo, joneun Kim Joonmyeon imnida, tapi tolong panggil Suho saja. Bangapseumnida!" Suho bow, dan Baekhyun langsung mendecih malas. Kedua keluarga itu akhirnya duduk santai, lalu mengobrol. Sebenarnya, hanya para orangtua yang antusias mengobrol. Baik Baekhyun maupun Suho asyik melamun dan pikiran mereka tak fokus.

"Ah, yeobo... bagaimana kalau Suho mengobrol berdua saja dengan Baekhyun? Kita perlu memberikan mereka privasi sebelum mereka bertunangan minggu depan," usul istri Siwon."Ah, usulan yang sangat baik!" Yifan menyetujuinya.

"Geureom, Baekhyun, ajaklah Suho ke taman," ujar Daehyun sambil tersenyum manis pada Baekhyun. Baekhyun bergidik. Ia berusaha bersikap sopan. Bangkit, tersenyum, bow, lalu memberi kode ke namja yang tak dikenalnya untuk keluar. Suho mengikutinya. Mereka duduk di bangku taman, tak terlalu dekat.

Baekhyun langsung berpangku tangan melihat Suho.

"Ya! Dengar baik-baik, aku sama sekali tak berniat untuk menerima pertunangan ini!" ungkapnya to the point. Suho kaget. Ia kira Baekhyun namja yang manis.

"Aku juga tak berniat!" balasnya. Alis Baekhyun berkerut-kerut.

"Apa yang ada dipikiran orang tua itu, seenaknya saja menjodohkanku dengan namja yang tak jelas asal-usulnya!" celoteh Baekhyun pedas.

"Ya! Jaga bicaramu! Siapa juga yang mau bertunangan denganmu! Asal kau tahu, aku sudah mempunyai pacar!"

"Keunde, kenapa kau tidak menikah saja dengannya sekarang?" Baekhyun benar-benar kesal dan menghentakkan kakinya ke tanah. Suho langsung terdiam dan menunduk.

"Eh? Waeyo? Apa aku terlalu menyakiti hatimu? Biane!" ujar Baekhyun melihat Suho yang diam saja.

"Mmm... dia, bukan berasal dari kalangan atas... dia cuma seorang mangaka freelance. Appa tidak menyetujuiku dengannya..." ujar Suho pelan.

"Ow, jeongmal mianhae! Harusnya kau bercerita padaku, dan tahu kalau kau dipihakku!" ujar Baekhyun sambil menatap langit.

"Kau pasti sangat mencintainya!" lanjut Baekhyun.

"Bagaimana denganmu?"

"Eh?"

"Apa kau tidak punya orang yang kau cintai?"

"Aku belum pernah jatuh cinta, kurasa. Aku hanya ingin hidupku bebas dari abeoji!"

"Kalau begitu, kita dipihak yang sama! Bisa aku mempercayaimu?" ujar Suho sambil mengacungkan tangannya sungguh-sungguh. Baekhyun meliriknya sekilas sebelum ia dengan mantap menggenggam tangan Suho.

"Kau bisa percaya padaku!" ujar Baekhyun mantap.

"Geureom... apa yang bisa kita lakukan untuk saat ini?"

"Emm..." Baekhyun berpikir keras. Ia terharu juga melihat Suho begitu tulus padanya. Selama ini, ia jarang punya teman, karena mulutnya yang pedas, selalu diiringi bodyguard, dan dia pembangkang. Ia hanya punya seorang sahabat dari kecil, Jongdae, yang selalu berusaha agar dia bisa bergaul dengan layak. Menambahkannya ke grup chat, mengundangnya ke acara kampus, dan lainnya. Dan ia bersyukur Suho baik padanya.

"Nan molla..." ujar Baekhyun lemas. Suho mengangguk.

"Ah, kau bisa berakting? Berlakulah seolah kita mengikuti kemauan orangtua kita! Untuk kedepannya, aku akan mencari cara lain!" ujar Suho.

"Tentu saja aku bisa berakting! Yah... lumayanlah! Jeongmal gomawo!" ujar Baekhyun sambil tersenyum tulus. Senyum persahabatan. Suho balas tersenyum.

"Oh ya, ajak aku keluar!" ujar Baekhyun tiba-tiba.

"Mworago?"

"Iya. Aku ingin menenangkan pikiranku dan berjalan-jalan. Kau pergilah ke tempat kekasihmu. Dan pastikan tak ada yang mengikuti kita Suho-ssi!"

"Jeongmalyo?" mata Suho berbinar. Baekhyun mengangguk.

"Geurae! Kajja! Gomawo Baekhyun-sshi! Panggil saja aku hyung kalau begitu!"

"Ne, kau juga harus memanggilku Baekhyun-ah saja!"

"Deal!"

~TBC~

.

.

Annyeong! Jung Haneul disini! Aku benar-benar merasa excited dlm menulis ini. Ini fanfic pertama yg aku publish, biasanya aku hanya menulis dibuku. Baru pertama kali join FFN setelah selama ini jadi pembaca setia... gamsahamnida utk mau membaca dan mereview ceritaku, jika berkenan!

Butuh saran dan masukan juseyo!