**Disclaimer : I do not own Avatar TLAB
almost all characters in this story belongs to Mike D Martino and Bryan Konietsko
im just a fan .. writting my own fiction ..
Chapter 1 : Crossroad of Destiny
"Selamat pagi, Pangeran Zuko. Kau tampak lebih bebas setelah sembuh dari demam." Sapa Iroh saat Zuko memasuki dapur.
"Hari ini adalah hari bahagiamu, paman. Akhirnya kau memiliki kedai teh sendiri. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau buat?" tanya Zuko.
"Oh, ini hanya bubur, tapi tampaknya kau tidak akan suka." Kata Iroh pesimis.
"Minta semangkuk sini." Kata Zuko dan ia segera melahap bubur itu. "Aku masih penasaran dengan mimpiku kemarin. Kenapa aku menjadi botak, luka bakar di wajahku hilang, dan memiliki anak panah di kepalaku?"
Iroh tersenyum, ia duduk di depan Zuko kemudian bercerita cukup panjang mengenai kakek buyut Zuko, avatar Roku. Begitu mendengarnya, Zuko merasa terkejut. Ia kembali teringat akan pesan ibunya, untuk selalu mengingat siapa dia dan darimana ia berasal. Kini ia mengerti bahwa maksudnya pasti adalah ia cucu dari avatar, dan ia bukanlah orang yang sama dengan Ozai dan Azula.
Dan kini setelah dipikir-pikir kembali, Zuko merasa begitu bodoh karena terus berusaha membuktikan pada ayahnya bahwa ia mampu mengungguli Azula, dan bagaimana Azula selalu berbohong dan memanipulasi keadaan. Saat ia mempertaruhkan hidup dan mati demi mendapatkan perhatian ayahnya, ia malah hampir membuat Zhao membunuhnya, setelah mengetahui bahwa ia selamat, ayahnya bukan memberinya selamat, malah hendak memenjarakan dia dengan Iroh.
"Kini aku mengerti, paman." Kata Zuko.
Tak lama undangan pun datang ke tempat mereka. Berasal dari Earth King yang meminta mereka untuk menyeduhkan teh untuknya di istana. Mereka berdua pun datang dan menunggu Earth King. Namun yang datang bukanlah kaisar Earth. Melainkan Azula.
"Akan kuberitahu kenapa aku dijuluki sang naga …" Iroh meminum tehnya. Dan kemudian ia menyemburkan api seperti naga pada orang-orang di sana dan memberi jalan bagi Zuko dan dia untuk kabur.
Ada sebuah lubang menganga di dinding, Iroh melompat dan terjatuh di atas semak. Ia melihat Zuko masih berdiri dan berseru padanya. "Ayo! Kau bisa!"
Namun Zuko menolak. "Tidak, paman, aku capek lari terus. Ini saatnya aku menghadapi Azula."
Azula mentertawakannya. "Ada apa ini? Kau menantangku Agni Kai?"
Zuko memasang kuda-kuda kung fu nya, Northern Shaolin style. "Ya. Aku menantangmu!"
Namun Azula menolak. "Sayang sekali, aku gak mood untuk Agni Kai."
Kemudian dua Dai Li pun menyerang Zuko dan menangkap kedua tangan dan kakinya. Dengan demikian, tertangkaplah Zuko. Azula menyuruh para Dai Li untuk memenjarakan dia. Namun mereka hanya berputar-putar saja, karena penjara ternyata penuh sesak.
"Baiklah kalau begitu kita penjarakan bersama gadis water tribe itu." kata Azula.
Zuko termangu. "Gadis Water tribe? Jangan-jangan.."
Zuko dilempar oleh para Dai Li ke Crystal dungeon. Saat terbangun, Zuko berlutut di hadapan Katara yang menatapnya shock. "Zuko?"
Zuko, kau telah berdosa pada Katara.
Di book 1, kau menyerang desanya,
Mengikat dia dipohon,
Pokoknya kau menyakiti Katara.
Kini kau berlutut di hadapan dia, saatnya penghakiman itu tiba.
Katara mengomel-ngomel dan curhat habis-habisan pada Zuko tentang bagaimana perasaannya pada Zuko. Ia tampak sangat gemas dan membenci lelaki yang kini sudah menumbuhkan rambut di kepalanya itu. Zuko hanya mendengarkan saja semua keluh kesah dan amarah Katara sambil sesekali berkata "Kamu ga tau apa-apa."
Dan akhirnya Katara menangis sendiri dan berkata. "Kamu ga tau apa akibat dari peperangan ini padaku…"
Katara menyentuh kalungnya. "…Perang ini sudah mengambil ibuku dariku.."
Mendengar itu, rasa kesal Zuko pun mencair. Kemudian ia merasa simpati pada Katara. "Maafkan aku…. Ternyata nasib kita sama."
Katara pun penasaran. Setelah itu gantian Zuko yang curhat tentang betapa ia kehilangan arah setelah ibunya secara misterius menghilang. Ayahnya tidak pernah memperhatikan dia, dan pilih kasih pada adiknya yang jenius. Membuat dirinya dikucilkan dan diremehkan sang adik. Untunglah ada sang paman, Iroh, kini ia sudah mengerti semuanya dan menganggap Iroh sebagai ayahnya sendiri.
"Maaf, setiap kali melihat wajahmu, aku selalu beranggapan melihat musuh. Eh, tapi bukan begitu maksudku .." Kata Katara.
Zuko memalingkan wajah dan menyentuh luka bakar di wajahnya. "Gpp. Sudah biasa."
Katara merasa bersalah karena telah salah bicara pada Zuko. Kemudian ia teringat akan air murni dari oasis yang diberikan Master Paku padanya sebelum berangkat pergi dari Northern Water Tribe. "Aku punya ini... katanya bisa menyembuhkan segala macam luka."
Zuko pesimis. "Ini luka parut. Ga bakal bisa sembuh."
"Coba saja dulu…" Katara masih membujuknya.
Akhirnya Zuko memejamkan matanya dan Katara menuang sedikit air oasis itu untuk Zuko. Tapi baru saja ia menyentuh wajahnya, terjadi ledakkan. Ternyata ada Aang dan Iroh.
Katara memeluk Aang, dan Zuko kebagian kakek tua gemuk, Iroh. Zuko terbengong. Yah.. sial! Baru saja ada cewek hot pegang muka gua, si Aang ganggu aja nih.
"Ngapain lu di sini?" tanya Zuko.
"Nyelametin elu!" jawab Aang sirik karena melihat Katara tadi begitu dekat dengan Zuko.
Melihat Katara memeluk Aang, Zuko memalingkan wajah, tidak mau melihat Katara. Saat Aang mengajak Katara pergi dari sana, Katara melirik Zuko dengan tatapan simpati. Seandainya masih ada waktu lagi bersama Zuko, barangkali Katara sudah bisa merasa nyaman bersamanya. Namun Zuko tidak mau menatapnya. Entah kenapa..
"Kenapa paman bersama si Avatar?" tanya Zuko.
"Buat nyelamatin kamu." Kata Iroh.
"Aku ga butuh di selamatkan. Bahkan tadi cewek itu deket banget sama gua! Sedikit lagi dan … boom!" Zuko merasa frustasi.
Iroh mentertawakan keponakannya habis-habisan. Lalu ia merangkul Zuko. "Begini, keponakan… kalau soal cewek, modal utamanya adalah sabar. Kamu ga boleh emosi, ataupun cemburu. Kamu harus malu kalau ketahuan cemburu. Yang penting jangan menyerah deketin dia dan tetap sabar, lama kelamaan cewek itu juga bakal sadar sendiri."
Zuko merenungkan nasihat Iroh saat para Dai Li menyerang mereka dan membuat Iroh terkekang. Zuko memasang kuda-kuda "Azula!"
Azula datang dengan tenang. "Kakak, santai dong… sebenernya aku sudah lama merencanakan ini. Aku sudah lama merencanakan tentang memperbaiki nama baikmu dan membuat ayah jadi bangga padamu. Kau bantu aku merebut avatar, jadi aku bisa meyakinkan ayah bahwa kau memang anak berguna dan ia bisa memaafkanmu."
Iroh berseru pada Zuko. "Jangan dengarkan dia, Zuko!"
Azula menyeletuk. "Paman, biarin dia yang milih sendiri dong."
Lalu katanya pada Zuko. "Nah silahkan kau pikirkan baik-baik. Ini demi kebaikanmu sendiri juga."
Zuko memejamkan matanya. Sesungguhnya, alasan ia tidak tertarik pada Song dan Jun adalah karena mereka berkulit putih. Baru ia sadari saat melihat Katara pertama kali di Crystal Dungeon, bahwa sesungguhnya ia ternyata menyukai cewek berkulit gelap. Oke. Mungkin terdengar rasis, tapi selera orang siapa yang bisa menyalahkan?
"Zuko! Jangan dengarkan Azula! Lidahnya seperti ular! Kau sendiri berkata bahwa Azula selalu bohong." Kata Iroh.
Zuko menyuruhnya diam. "Argh! Paman! Aku hanya sedang pusing memikirkan gadis Suku Air itu. Kenapa aku jatuh cinta pada cewek orang…?"
Iroh pun berhenti memperingati. Kemudian ia berkata. "Ingat, keponakan…. Kuncinya adalah sabar dan pantang menyerah."
Zuko mengangguk. Kemudian ia melepas bajunya dan segera menyusul Azula. Saat itu Katara dan Aang sedang menghadapi Azula. Zuko menyeruak di tengah peperangan. Tadinya ia hendak menghajar Azula. Tapi setelah melihat Azula di keroyok, Zuko pun menyerang Aang. Terjadi sedikit pertarungan antara Aang melawan Zuko dan Azula melawan Katara.
Kuhajar dulu Aang karena telah duluan mendapatkan Katara! Hyahh! Demikian pikir Zuko. Agak lama, musuh pun berganti. Kini gantian Katara melawan Zuko dan Azula melawan Aang.
"Kukira kamu sudah berubah!" protes Katara dengan penuh kekecewaan. (I thought you've changed)
"Memang sudah berubah!" balas Zuko dengan penuh keyakinan. (I've changed bisa juga berarti, berganti baju)
Baru setelah Aang memasuki avatar state, banyak Dai Li datang dan menyerang Katara. Zuko kini baru berbalik ke pihak sesungguhnya. Ia membantu Katara melawan para Dai Li tersebut. membuat Azula terkejut.
Azula dan Katara pun dengan kompak bertanya pada Zuko penuh kebingungan. "Loe ini sebenernya berpihak ke siapa sehh?"
Zuko pun melemparkan bola api pada Azula. Azula menangkisnya dan menjadi kesal. "Cih! Tau gini gua suruh Dai Li cuci otak lu aja tadi."
Sekelompok Dai Li pun mengerubungi Zuko. Katara membantu Zuko. Zuko berterima kasih dan bekerja sama dengan Katara melawan para earth bender jagoan tersebut.
"Aang ngapain?" tanya Zuko heran.
"Ga tau." Kata Katara.
Jawaban mereka pun terjawab saat Aang keluar dari Crystal dalam bentuk avatar state. Semua mata terpesona dan takjub akan avatar state tersebut.
Apaan sih? Keluh Azula yang segera menyambar punggung Avatar sehingga Aang pun tidak sadarkan diri dengan sekarat.
Sementara Katara menangkap Aang, para Dai Li menyerangnya. Zuko menghajar para Dai Li yang hendak menyerang Katara. Ku lindungi kau, Katara!
Mereka bertiga terdesak oleh Azula dan para Dai Li. Pada saat itulah, Iroh muncul untuk menghadapi Azula. Ia berseru pada keponakannya. "Lari!"
"Paman?"
"Tidak apa-apa! Aku bisa menjaga diriku sendiri!" katanya.
Zuko menggendong Aang di punggungnya, dan Katara menciptakan balok es dan mereka bertiga naik ke atas. Iroh tertangkap setelah melihat ketiga orang itu selamat dan Katara menaiki Appa bersama Zuko sambil menggendong Aang.
Zuko mengambil nafas. "Gila bocah itu makan apa aja? Berat banget.."
Selagi Zuko terengah-engah, Katara mengeluarkan air oasis dan menggunakannya untuk menyembuhkan luka Aang. Zuko melihatnya dan kecewa. Sial… itu air yang tadi mau dipake buat sembuhin luka gua! Malah dikasih Aang.
Namun Zuko kembali teringat akan nasihat Iroh : sabar dan pantang menyerah.
"Bagaimana dia?" tanya Zuko.
"Selamat… sepertinya…" kata Katara dengan sedih.
Melihat Katara sedih, Zuko kembali bersimpati. Ia tak pernah belajar kedokteran dan bahkan membuat teh saja tidak enak. Namun demi menenangkan hati Katara, ia berbohong. Ia berpura-pura memeriksa Aang. Melihat lidahnya, mengecek lukanya, membuka kedua kelopak mata Aang, kemudian ia berkata. "Dia baik-baik saja. Hanya butuh waktu untuk memulihkan tenaga."
"Darimana kau tahu?" tanya Katara.
"Yah… dari…" Zuko sibuk berpikir keras mencari alibi. "…Memang begitu kok."
Katara tidak yakin, tapi itu cukup menghiburnya. "Terima kasih, Zuko."
Mereka bergabung kembali dengan Sokka dan Toph yang sudah kabur bersama Earth King. Begitu melihat Zuko, Sokka mengeluarkan boomerangnya. "Ada musuh, Katara! Kenapa dia naik Appa?"
Katara pun menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang ia alami barusan. Ia sangat sedih karena Aang tidak sadarkan diri. "Kalau sampai terjadi apa-apa pada Aang… aku.."
Katara menangis sedih, Sokka memeluknya dan menghiburnya. "Sudah, dia akan baik-baik saja."
Zuko cemburu dan melirik Aang yang tertidur pulas di sebelahnya. Zuko pun kesal dan tanpa sadar percikan listrik keluar dari tangannya. Tanpa pikir panjang Zuko segera menempelkan tangannya ke dada Aang untuk mengungkapkan kekesalannya. Namun kejutan listrik itu membuat Aang terbangun dan sadar.
"Ahh…? Apa yang terjadi?"
Semua orang menjadi senang melihat Aang terbangun. Mereka pun memeluk Aang.
Sokka menjadi senang "Zuko! Kau menyelamatkan Aang!"
Zuko mengangguk-angguk. "Haha…" Ia jadi serba salah. Rupanya ia malah membuat Aang siuman. "Yeah.."
Aang menghampiri Zuko dan mengulurkan tangannya. "Terima kasih, Zuko."
Zuko menjabat tangannya. "Ya, sama-sama."
Lalu ia menegaskan. "Jangan salah paham! Aku membantu kalian agar bisa menjadikan pamanku, Iroh sebagai Fire Lord dan menyingkirkan ayahku."
Namun mereka tidak keberatan. "Tidak apa-apa. Intinya, kita sama-sama ingin menggulingkan Ozai."
Mereka bergabung dengan Hakoda dan memperkenalkan Zuko. Kini Ba Sing Se telah jatuh ke tangan Fire Nation. Dan tidak aman bagi mereka untuk tetap tinggal di sana. Maka dari itu Zuko membantu mereka mencuri kapal perang Fire Nation dan membajaknya. Setelah melucuti pakaian mereka, mereka pun membuang para tentara tersebut ke lautan.
