Sweet Revenge
By:Hikary_Cresenti
Disclaimer :Bleach punya Tite Kubo
Rated :T(sewaktu-waktu bisa menjadi M)
Warning :OOC(s), Bloody,Mistypo(s)
Hope you Enjoyed it
.
.
.
"Hai! Pagi!" ujar seorang gadis berambut ungu dengan mata amber, Senna Shihoin.
"Pagi," ujar seorang pria berambut blond kuning yang masih asik membaca novel, Tesla Lindocruz
"Pagi Sen," ujar seorang pria berambut hitam dengan mata kuning keemasan, Ggio Vega seraya tersenyum.
"Ne, Tesla, bisa ajari aku bahasa Inngris?"tanya Senna lagi.
"Bisa kog," ujar Tesla seraya tersenyum.
"Makanya, waktu belajar jangan dengerin mp3," ujar Ggio lagi.
"Enak aja! Jangan asal nuduh!" bantah Senna seraya menatap tajam Ggio yang malah tertawa cekikikan itu.
"Sudah-sudah, pagi-pagi jangan dimulai dengan perkelahian seperti ini," ujar Tesla menengahi pertarungan Senna dan Ggio ini.
"Oh ya, ngomong-ngomong katanya kau terpilih ikut olimpiade Fisika ya, Tes?" tanya Ggio.
"Ya, begitulah. Padahal, fisikaku hanya pas-pasan,"ujat Tesla lagi.
"Tes, nilai A itu bukan pas-pasan namanya," ujar Ggio keki dengan sahabatnya yang terlalu merendah ini.
"Wah, selamat ya, Tesla. Selamat berjuang," ujar Senna lagi.
"Ah, ya terimakasih, Senna," ujar Tesla lagi seraya tersenyum.
"Kalau nggak salah, kau juga kan Gi? Terpilih untuk mengikuti olimpiade Biologi?" ujar Senna lagi.
"Pasti lah, professional gini," ujar Ggio seraya menepuk dadanya.
"Dasar Kucing garong, kerjaannya mengeong mulu," ejek Senna seraya menjulurkan lidahnya.
"Enak aja, tampang kayak Jerry Yan gini dibilang, kucing garong," ujar Ggio bernarsis ria.
"Jerry Yan nggak salah tuh? Elo sama dia kayak langit dan tanah," ujar Senna lagi.
"Enak aja, dia itu abang gue," ujar Ggio lagi.
"Iye gue tau, dalam mimpi elo kan?" ejek Senna lagi.
"Aduh, udah-udah jangan berkelahi lagi," ujar Tesla yang hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan kedua sahabatnya yang kayak kucing ketemu anjing.
Seperti inilah, keseharian tiga sekawan ini, dimulai dengan perang mulut dan ejek-ejekan. Namun meskipun begitu mereka sangat kompak.
"Ngomong-ngomong kau di suruh ikut lomba matematika kan, Sen?"ujar Tesla lagi.
"Ya, begitulah. Agak kurang percaya diri sih sebenarnya," ujar Senna lagi.
"Udah, loe pasti bisa kog. Kalkulator di emut mulu," ujar Ggio lagi.
"Enak aja, gue nggak serakus itu!" ujar Senna yang kalau nggak di tahan Tesla sudah menyakar Ggio itu.
Senna tau persis dengan kebiasaan Ggio yang ingin menyemangatinya, tapi dengan penambahan embel-embel belakang yang nggak berguna dan tidak bermanfaat, hanya ingin membuatnya melayangkan tinju ke wajah pria yang mirip kucing itu.
"Udah, percaya diri aja Sen, aku yakin kau pasti bisa," ujar Tesla lagi.
"Terimakasih, Tes," ujar Senna lagi.
Berbeda dengan Ggio yang suka memancing amarahnya hingga ke ubun-ubun, Tesla cenderung berbicara lebih sopan dan terpola. Setiap kata yang di ucapkannya telah di pertimbangkan dengan baik, tidak seperti Ggio yang selalu berbicara tanpa berfikir terlebih dahulu itu. Dia juga bukanlah orang yang suka membanggakan diri seperti Ggio, ia cenderung merendahkan diri. Jika dalam bidang pengetahuan umum Tesla memang lebih unggul karena hobinya membaca berbagai buku tentang pengetahuan, namun dalam bidang Seni Ggio jauh lebih unggul, karena pola berfikirnya yang out of the box itu, sehingga membuatnya mampu memikirkan sesuatu yang aneh namun menarik. Senna masih ingat, saat kelas satu SMA, mereka bertiga di suruh membuat sebuah karya seni, dan Ggio lah yang memberikan ide untuk membuat miniature kuil Kyoto dengan bahan dari kertas dan kayu bekas, sehingga kelompok mereka mendapatkan nilai tertinggi dalam pelajaran kesenian. Kreatifitas itulah yang membuat Senna salut pada sahabatnya satu ini. Meskipun sikap kedua sahabatnya ini bertolak belakang, Senna merasa nyaman berada di sekitar mereka.
"Ngomong-ngomong, masih ingat nggak dengan rumor laboratorium terkutuk itu?" tanya Ggio lagi.
"Maksudmu laboratorium Kimia itu?" tanya Senna.
"Yep, tahun lalu katanya disana di temukan jasad seorang guru yang di mutilasi dengan sadis," ujar Ggio lagi.
"Mutilasi? Tau dari mana?" tanya Tesla kaget.
"Memang sih, cerita ini tidak di sebar luaskan, dan aku juga taunya dari Kaien-senpai, karena dialah yang menemukan jasad tersebut. " ujar Ggio lagi.
"Memangnya kondisinya bagaimana?" tanya Senna penasaran.
"Sampai saat ini, kepala mayat itu tidak di temukan, meskipun sudah dicari di ruangan tersebut. Sedang pelakunya bunuh diri dengan gantung diri di kamarnya, menurut temannya sih motifnya dendam. Tapi dalam hal apa, aku juga nggak tau," ujar Ggio lagi.
"Mengerikan," ujar Senna lagi.
"Dan menurut rumor yang kudengar sih, tahun ini laboratorium itu kembali digunakan," ujar Ggio lagi.
"Eh!" ujar Senna kaget.
"Dan kata penjaga sekolah, tengah malam… sering terdengar suara tangisan seorang perempuan yang mencari-cari kepalanya… " ujar Ggio lagi dengan penekanan pada setiap katanya.
"M-masa?" ujar Senna yang mulai ketakutan.
"Iya, kataya begini 'Kembalikan kepalaku… ' dengan suara nyaring dan menyayat hati, dan katanya ada yang pernah melihat. Kalian mau tau seperti apa?" tanya Ggio dengan tampang serius.
"Seperti apa?"tanya Senna penasaran.
"Tubuhnya cabik-cabik, ususnya terlihat lalu darahnya mengal-"
"Udah, kalau nonton film hantu itu jangan berlebihan," ujar Tesla tertawa ringan.
"Ini kenyata-"
" Hah kau nonton film Cannibal women kan? Udah nggak lucu deh," ujar Tesla lagi.
"Kog tau?"ujar Ggio kaget.
"Ya tau lah, kau kan penggemar film-film seperti itu," ujar Tesla lagi.
"Uhh! Dasar! Gue pikir beneran!" gerutu Senna.
"Hm… oh ya besok malam jumat ya," ujar Ggio seraya melihat kalender di hpnya.
"Malam Jumat?" tanya Tesla bingung.
"Iya, malam jumat tepatnya tanggal 13, besok pasti bulan purnama,"ujar Ggio lagi.
"Atau mungkin lebih tepatnya, seekor werewolf akan bangun dan meraung besok malam mencari mangsanya… " ujar Ggio lagi.
"Udahlah Ggio. Jangan menakuti Senna terus," ujarTesla lagi.
"Iya-iya, kan gue bercanda," ujar Ggio lagi.
"Senna!" panggil seorang gadis berambut cepol, Hinamori Momo.
"Ada apa Momo?" tanya Senna.
"Kau di panggil bu riruka," ujar Momo lagi.
"Ah, ya baiklah. Aku duluan ya," ujar Senna lalu pergi bersama Momo ke ruangan Bu Riruka.
"Hm… "
"Ada apa Tes?" tanya Ggio.
"Nggak, entah kenapa perasaanku tidak enak," ujar Tesla lagi.
"Sudahlah, tidak perlu berlebihan begitu deh, ayo ke kantin," ujar Ggio lagi.
"Kau benar," ujar Tesla.
'Bukan hanya kau, tapi aku juga merasa aneh. Ada apa ini sebenarnya?' gumam Ggio dalam hati.
Lalu mereka pun menuju ke kantin.
TBC
Minna! Makasih banyak karena sudah mau membaca cerita ini, mungkin konfliknya akan di mulai di chapter depan. Gommen m(_-_)m. Tapi akan saya usahakan untuk update kilat deh.
Balas Review
Rinelennix: Makasih reviewnya. Mau kasih kritik boleh kog maaf agak gaje.
Shirou Yagami: Makasih Reviewnya. Wah… kog tau? Oke nih udah update
Riri Seu :Hehe gommen masih prologue, hehe kalau itu kita lihat saja nanti. Oke salam kenal juga Makasih atas Reviewnya.
Bluegirl02. Reini : Yah, begitulah. Prologue gitu hehehe. Pasti akan dilanjutin kog, wah penggemar ggio ya? Kya! Sama-Dihajar
Tsubaki Haruno : Oke diusahakan deh. Makasih udah review dan salam kenal
Oke saya Ucapkan terimakasih banyak pada readers-tachi yang udah mau membaca, mereview dan ngefave dan ngefollow cerita ini. Kritik dan saran saya terima. Thank you all! And Mind to RnR? ^v^ V:
