Disclaimer: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto semata

Twins chapter 2

.

Di chapter ini semuanya memakai Sai POV….

.

.

"Sai, kenapa kau tidak cepat-cepat berangkat? Nanti keburu telat. Hari ini kan hari pertama tahun ajaran baru.."

Aku hanya bisa mengangguk ke arah Shizune-basan. Dia yang masih sibuk dengan anak-anak panti yang lain hanya bisa menghela napas melihat tingkahku. Aku pun dengan ogah-ogahan berjalan menuju ke kamar mandi. Disana aku melihat banyak yang antri. Tahu begini aku akan pergi ke kamar mandi pukul enam.

"Hey Sai! Lesu amat! Ini tahun ajaran baru!"

Aku hanya bisa tersenyum ke arah Lee, teman sekamarku di panti asuhan ini. dia memang terkenal dengan semboyan semangat muda-nya. Aku menghadap ke arah kaca dan menyadari kejanggalan.

Aku bisa melihat wajahku yang lebih pucat dari biasanya. Entah kenapa sejak awal libur semester aku merasa sangat lemah. Aku pun mudah sekali merasa lelah. Bahkan aku sering tertidur di saat belajar bersama yang lain.

Ataukah ada yang salah denganku? Apakah aku sedang sakit?

Tidak! Mungkin aku hanya kelelahan. Aku sudah banyak merepotkan para pengurus panti. Tidak mungkin aku harus mengeluh sakit sementara adik-adik yang lebih kecil dariku membutuhkan mereka. Tidak, aku tidak ingin menyusahkan mereka semua.

"Hey! Kau ini melamun melulu! Ayo cepetan mandi! Nanti kita telat masuk sekolah!" ucap Lee yang sudah berdiri di depan pintu salah satu dari lima kamar mandi yang ada disini. aku pun hanya mengangguk.

.

.

.

Setelah sibuk dengan berbagai macam barang bawaan ke sekolah, kami berdua segera berjalan (lebih tepatnya berlari) menuju ke sekolah yang berjarak sekitar seratus meter dari panti asuhan tempat kami tinggal. Jam pertama akan dimulai sepuluh menit lagi.

Aku berhenti di tengah jalan ketika merasa sangat lelah. Apa aku anemia?

Lee yang berlari lebih dulu segera berbalik dan menghampiriku. Aku yang sedang membungkuk seraya memegangi lututku hanya bisa mendongak.

"Wajahmu pucat sekali. kau sedang sakit?" Tanya Lee. Aku hanya menggeleng.

"Iie, aku hanya merasa tidak enak badan sejak kemarin."

"Ayo kita berjalan cepat saja."

"Itu tidak mungkin. Kita berdua bisa telat. Lebih baik kau duluan saja."

"Tidak, aku akan bersamamu."

Kami pun berjalan cepat hingga akhirnya kami berhasil mencapai gerbang sekolah. Dengan cepat (pula) kami menuju ke deretan kelas-kelas untuk kelas sebelas. Di depan pintu terpampang nama-nama penghuni kelas yang baru. Aku hanya berharap agar aku bisa masuk ke kelas dengan 'penduduk' yang mayoritas adalah 'kelas' menengah ke bawah.

Namun harapan itu sia-sia belaka ketika aku melihat namaku terpampang di lembaran kertas dengan judul 'kelas sebelas IPA 1'. Aku hanya bisa menghela napas. Kelas IPA 1, kelas yang terkenal dengan siswa-siswanya yang pintar (ssstttt…. Dan juga kaya). Bagaimana mungkin aku bisa menyaingi mereka?

Aku menghela napas dan berjalan menuju ke dalam kelas. Benar saja, mereka semua terlihat kaya. Sedangkan aku? aku Cuma siswa yang namanya secara tak sengaja (aku harap demikian) masuk ke dalam daftar kelas favorit.

Sebuah tepukan di bahu membuatku berbalik dan mendapati Yamato-sensei yang tersenyum ke arahku. Aku pun tersenyum balik. Aku segera mencari tempat duduk yang tersisa.

Waktu terus berjalan. Entah kenapa aku sering merasa pusing. Berkali-kali aku merebahkan kepalaku di atas meja saat pelajaran berlangsung.

"Kau sakit?"

Aku menoleh dan mendapati Neji (teman sebangkuku yang baru) menatapku dengan tatapan cemas. Aku hanya tersenyum palsu. Membuatnya mengerutkan dahinya.

"Aku Cuma merasa lelah."

Tiba-tiba Neji melihat ke arah guru yang sedang mengajar. Lalu dengan cepat dia menoleh ke arahku. Aku pun sedikit terkejut.

"Kau tidak ingin ke UKS?" tanyanya. Aku hanya menggeleng.

"Pelajaran biologi memang membosankan. Oh ya, kita belum berkenalan secara pribadi."

"Maksudmu apa?" tanyaku penasaran.

"Yah, mengenai alamat rumahmu,nomor telepon, atau apapun itu. setidaknya jika kita mendapat tugas kelompok dengan anggota teman sebangku, kita tidak perlu kerepotan."

"Tak kusangka kau seperti ini. apa kau benar-benar berasal dari kelas sepuluh satu?" tanyaku.

"Tentu saja. Bagaimana menurutmu? Kami terlihat egois ya?"

"Tidak juga," ucapku seraya melihat-lihat ke arah siswa-siswa yang lain. Neji menghela napas. Membuatku kembali mengalihkan perhatianku padanya.

"Mereka hanya mau berteman dengan orang-orang yang dulunya sekelas dengan mereka. Kau pikir aku tidak tahu mengenai dirimu yang berusaha membaur namun ujung-ujungnya kau diabaikan?" ucapnya. Mau tidak mau aku merasa tersinggung.

"Lalu, kau sendiri? Kenapa kau mau memilih kursi yang berdekatan dengan orang asing? Kenapa kau tidak duduk bersama teman-temanmu yang lain?" tanyaku.

"Karena aku tidak seperti mereka. Mereka sangatlah memalukan."

"Kau tidak boleh berbicara seperti itu. bagaimanapun juga mereka adalah temanmu."

"Yah, terserah."

Aku kembali merebahkan kepalaku di atas meja. Ajaran baru berarti buku tulis baru, buku paket baru dan aarrrghhhh,…. Semuanya baru. Bagaimana mungkin aku meminta uang untuk semua itu pada pengurus panti? Masalah uang SPP sudah kutangani dengan beasiswa. Sedangkan yang lain?

Tanpa sadar aku mengacak-acak rambutku sendiri. Neji yang mengetahui hal itu hanya bisa menepuk-nepuk bahuku.

"Kau ini. kenapa bertingkah seperti orang gila?" tanyanya seraya memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas. Aku hanya menggeleng.

"Aku hanya sedang pusing dengan berbagai masalah," ucapku tanpa sadar.

"Ceritalah kepadaku. Kita adalah teman hingga setahun kedepan. Lagipula, ada rumor bahwa jam setelah istirahat ini kosong."

Aku hanya menatap ke arah lain. Berusaha mencari alasan.

"Kau tidak percaya?"

"b-bukan begitu…."

Namun tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara dari depan kelas. Kurasa ada pengumuman penting. Kami berdua segera mengalihkan perhatian ke depan kelas. Terlihat ketua kelas yang baru (aku hanya mengikuti apa mau mereka karena aku satu-satunya siswa dari kelas sepuluh Sembilan) sedang sibuk menulis jadwal piket. Oke, karena aku tidak suka berurusan dengan wanita maka untuk yang kebeberapa kalinya aku ikut saja.

"Wanita memang mendokusei na….."

Aku hanya menatap ke arah shikamaru yang melipat kedua tangannya di belakang kepalanya. Duduknya tepat di depanku dan Neji. Aku hanya tersenyum saja mendengar komentarnya. Lalu datanglah seorang wanita berambut pirang yang duduk sebangku dengannya. Lalu tiba-tiba wanita itu melayangkan jitakan di kepala Shikamaru.

Dia melihatku sekilas dan mengalihkan perhatiannya ke arah papan tulis. Lalu dia tersenyum ke arahku. Aku tersenyum balik.

"Sai-kun ya? Wah, kita piketnya sama-sama di hari jumat. Oh ya, kita belum kenalan nih! Aku Yamanaka Ino. Kau?" ucapnya seraya memberiku jabatan tangan. Neji hanya melipat kedua lengan di depan dada karena mereka tidak mungkin berkenalan lagi. Mereka kan sekelas waktu kelas satu.

"Sai."

"Eh? Maksudku…"

"Hanya Sai."

Ino hanya tersenyum tidak enak. Aku tahu apa maksudnya. Hidup tanpa nama marga. Menyedihkan ne? kau tidak tahu siapa keluargamu. Atau malah tidak punya siapa-siapa? Namun itu semua memang ada. Buktinya adalah aku.

Aku tak habis pikir kenapa aku bisa berada di sini. Namun ini semua adalah usul dari pengurus panti. Mereka bilang aku cukup pintar dan mampu untuk masuk ke sini. Sekolah bergengsi dengan siswa-siswi yang kaya nan pintar. Sedangkan aku?

Sekolah dengan beasiswa plus sering tidak punya uang saku. Yah, kalau punya itu hasil dari kerja paruh waktuku saja.

"Hey! Shikamaru! Kau juga piket bareng kami! Awas kalau datang telat!"

Aku hanya memandangi Ino yang terus menerus menceramahi shikamaru. Aku hanya tersenyum saja. Memang benar, wanita memang mendokusai. Aku kembali berbaring di atas meja. Menunggu hingga waktu berakhir. Ingin rasanya aku segera pulang dan mengurus kamar lalu melakukan pekerjaan paruh waktuku.

Pelajaran terakhir adalah fisika dengan gurunya yang genit (itu kata anak yang dulunya kelas sepuluh satu. Aku tidak tahu karena guru itu tidak pernah mengajar di kelasku dulu). Dan muncullah guru yang sering membinaku ketika aku ingin belajar fisika. Guru yang 'mengasuhku' waktu aku kelas satu dulu.

Aku sering main ke rumahnya. Karena secara 'hukum hak asuh sekolah', aku adalah anaknya. Aku sering bermain dan belajar bersama Konohamaru, anaknya yang memiliki umur tiga tahun lebih muda dariku. Kurenai-sensei sering mengajakku untuk bepergian jika suaminya yang bernama Azuma-san sedang bekerja ke luar kota. Katanya sih buat bodyguard gitu. Tak sia-sia latihan karate-ku hingga ke sabuk hitam ^.^ .

Hari ini mempelajari mengenai turunan. Aku sudah belajar melalui Genma-senpai, jadi aku terbiasa dengan soal-soal yang 'menyengat' dari Kurenai-sensei. Soalnya ketika aku belajar fisika di rumahnya, aku sering disuguhi soal-soal yang seperti ini.

Dia berjalan ke arahku. Hari ini aku sedang tidak ada mood. Tubuhku terasa lemah dan aku tidak bisa memaksa otakku untuk perpikir. Ujung-ujungnya aku hanya menyalin jawaban dari Neji. Kurenai-sensei sebenarnya tidak genit. Cuma waktu itu ada rumor yang menyatakan hal itu. Dia suka mendekati anak cowok yang ganteng.

"Jarak jika diturunkan menjadi kecepatan. Kau sudah bisa Sai?" tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk. Dan terdengarlah bisik-bisik dari teman-teman sekelas. Ya Tuhan…

Berarti, aku ganteng dong? ^.^ hehehe.

Hush! Back to the topic.

"Saya sudah bisa Sensei," ucapku. Yang lain hanya menoleh ke arahku dan aku hanya menoleh ke arah Neji. Setidaknya itu kan 'hak cipta'-nya Neji. Bukan hak cipta-ku sebagai siswa yang pertama kali menyelesaikan soal-soal di depan kelas. Neji hanya mengangguk.

Sepulang sekolah…..

Yosh! Pulang, ganti baju dan melesat ke supermarket!

Aku segera berganti baju di kamar mandi putra. Beberapa siswa yang mengikuti ekskul basket sedang berjalan dengan pakaian bebas sepertiku. Bisa-bisa aku dikira anak basket lagi…

"Ano… kami anak kelas satu yang pengen ikutan ekskul basket. Kalau daftar sama siapa ya? Kami belum kenal siapa-siapa yang jadi pengurus ekskul basket."

Tuh kan?

"Ano, mungkin kamu temui saja Shion anak kelas IPS satu. Dia ketua ekskul basket. Sebenarnya aku bukan anak basket. Gomen," ucapku. Untung saja aku tahu siapa ketua masing-masing ekskul di sekolah ini.

"Bisakah Senpai tunjukin yang namanya Shion-senpai? Kami lupa wajahnya waktu perkenalan masing-masing ketua ekskul dulu."

"Ayo ikut aku."

Jadilah aku mengantar mereka menuju ke lapangan basket. Aku segera memanggil Shion yang sibuk melakukan gerakan lay up. Dia segera menghampiriku sambil mengelap keringatnya.

"Sai-kun? Ada apa?"

"Ada yang mau daftar ke ekskul mu."

"Kyaaa! Akhirnya ada tambahan orang juga nih! Arigatou ne Sai-kun."

Aku hanya mengangguk dan segera pergi meninggalkan mereka bertiga. Aku segera menunggu bis di halte (tentu saja!). Dan beberapa menit kemudian aku sudah berada di dalam bus. Namun kali ini bus penuh sesak dan aku harus berdiri.

Sial! Kepalaku pusing lagi!

Dan saat sang sopir mengerem,aku jatuh tersungkur. Benar-benar nasib yang sial hari ini. dan tanpa sengaja aku melihat seorang lelaki yang mencoba untuk mencopet dari seorang ibu-ibu. Lelaki itu berniat untuk turun dengan melewatiku. Wanita itu terlanjur tahu.

Lelaki itu melangkahiku. Aku segera memegangi kaki kanannya. Membuatnya jatuh tersungkur sepertiku. Dompet yang dicopetnya terjatuh dan diambil oleh penumpang lain. Sedangkan yang mencopet segera kabur sambil memandangku dengan tatapan tak suka.

Kurasa aku harus latihan lagi sebelum dia kembali dan membalas dendam -_-.

Penumpang itu segera menghampiriku dan membantuku berdiri. Hingga sebuah pelukan mendarat di tubuhku. Pelukan dari wanita yang kecopetan tadi. Aku hanya tersenyum.

Namun ada perasaan aneh dari ini semua. Entah kenapa aku hanya merasa nyaman di pelukannya. Bak aku pernah mengenalnya selama bertahun-tahun. Padahal aku yakin kalau baru pertama kalinya aku bertemu dengan wanita ini.

Dia segera melepaskan pelukannya.

Dan rasa sesal menyelimuti hatiku mengenai pelukan yang menurutku 'kurang lama'. Tapi aku juga harus tahu diri. Dia bukan siapa-siapa. Buat apa aku merasakan sesal?

.

.

.

.

To be continued.

.

Author's note:

Puah, sudah berapa abad fanfic ini enggak dilanjut-lanjut ya? *dibunuh* (reader: Ge-er amat ya nih orang?). gomen baru bisa update sekarang soalnya Kasumi lagi sibuk di bulan ramadhan ini.

Terakhir review please….