Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto semata
Nani kore?
Chapter 2
.
.
Aku terbangun setelah kepalaku sukses menghantam kaki tempat tidur. Dengan nyawa yang masih setengah, aku mengusap-usap kepalaku dan bangkit dari atas futon. Dengan posisi duduk aku merutuki diriku sendiri. Kenapa aku bisa berada di bawah?
Ckleekk!
Krieett…..
Aku menoleh kea rah pintu kamarku. Muncullah sosok berkulit pucat yang sedang mengenakan handuk mandi yang melilit di pinggangnya yang ramping.
Sebentar…..
Pucat?
Aku segera memukul jidatku karena kelupaan mengenai Sai yang memang akan menjadi anggota baru di asrama ini. namun ini kan masih jam setengah lima? Ngapain jam segini mandi?
"Kenapa tidak mandi Nii-san? airnya masih banyak lho…." Ucapnya watados. Kurasa aku akan segera melumat tubuhnya bulat-bulat karena ini. aku hanya menghela napas melihat kelakukan Sai. ya tuhan…. Sebenarnya apa yang telah Danzo-jiisan lakukan padamu selama kau tinggal disana?
"Kenapa kau mandi jam-jam segini? Apa kau mau membantu tukang kebun untuk membersihkan sekolah?" tanyaku seraya melipat futon. Seandainya dia tidak ada disini, mungkin aku akan terbangun pukul setengah enam pagi. Jarak asrama kan dekat. Ngapain mesti susah payah untuk bangun pagi?
"Gomen, ini sudah kebiasaan. Aku sebenarnya ingin membangunkan Nii-san tapi tidurnya pulas banget melebihi kucing yang di jalanan. Jadi aku biarin aja deh," ucapnya seraya tersenyum.
Ctak!
Kucing jalanan?
Dia berjalan untuk mengambil kopernya. Lalu dengan sigap dia berganti pakaian. Dalam hitungan menit, dia sudah siap dengan pakaian sekolahnya. Setelan lengan panjang hitam dan juga celana panjang hitam. Seperti orang yang akan menghadiri upacara pemakaman saja.
"Tadi aku lihat orang di dekat pintu masuk kamar mandi. Rambutnya kuning. Terus pas mau kusapa, eh…. Dia malah lari…" ucapnya dengan nada yang agak sedikit kecewa. Kurasa orang itu adalah Naruto Uzumaki. Tapi tumben sekali dia takut pada orang baru.
Aku kembali menggelar futonku dan segera berbaring. Dia kembali duduk di atas tempat tidur dan mulai membuka-buka sesuatu di balik resleting kopernya. Sedikit mengintip, aku melihat dirinya yang sedang sibuk menggambar di atas buku sketsa.
"Aku mau tidur, jadi jangan ganggu aku."
Dan aku kembali ke alam mimpi.
.
.
.
.
Kkrriiiiingg!
Aku menoleh ke arah jam weker yang masih saja berbunyi. kurasa sekaranglah saatnya untuk bangun dan membersihkan diri. Kulirik ke atas tempat tidur dan menemukan Sai yang masih sibuk dengan buku sketsanya. Dengan 'perjuangan',akhirnya aku berhasil untuk mematikan jam weker yang dari tadi terus meraung-raung tak terkendali.
Aku segera bangkit dan menuju ke kamar mandi. Kulihat Naruto yang berjalan dengan langkah gontai menuju ke arahku. Lee, Chouji dan Kiba terkejut melihat bulatan hitam di sekitar matanya.
"Woi! Kamu semalam begadang ya?" Tanya Kiba. Naruto menggeleng lemah.
"Tadi subuh aku ketemu hantu dan akhirnya enggak bisa tidur," ucapnya datar. hantu? Yang benar saja, kurasa yang disebut sebagai hantu oleh Naruto adalah Sai. khekheke
"HE? Di asrama ini ada hantu?" ucap Lee dengan antusias. "Wah…. Seandainya aku yang diberi penampakan….." ucapnya kecewa.
"Memangnya kamu mau ngapain kalau udah ketemu dia?" Tanya Chouji.
"Mau nanya nomor lotere biar menang."
"NANI?!"
.
.
.
"Sai, ayo keluar. Ku kenalin sama teman-teman," ucapku seraya menarik tangannya. Spontan dia mengikutiku.
Entah kenapa aku merasa aneh….. apa jangan-jangan karena tangan ini ya?
Aku segera melepaskan tangan Sai dan berjalan di depannya. Dia hanya mengikutiku. Aku penasaran, kenapa dia tidak berkomentar mengenai tadi ya? Atau mungkin, dia tidak tahu?
Ckleekkk!
"Hua… Kakashi-sensei! Itu tuh hantunya! Sasuke! Cepetan lari kesini!"
Aku hanya bisa menutup telingaku ketika Naruto sibuk menunjuk-nunjuk Sai yang ternyata hanya memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti. Matanya mengerjap bingung.
"Tenanglah Naruto," ucapku seraya berjalan menuju ke meja makan. aku duduk di samping Kakashi-sensei dan disamping kananku adalah Sai yang masih memandang Naruto dengan tatapan serius.
"Jadi ini saudaramu yang bernama Sai? Namaku Hatake kakashi. Yoroshiku ne," ucap Kakashi-sensei dengan tersenyum. Sai tersenyum balik.
"Ja… jadi…. Dia bukan hantu ya?" Tanya Naruto seraya melihat Sai dari dekat. Sai hanya menatap ke bawah. kurasa dia risih juga. "Kalau kupikir-pikir, kau cute juga ya?" komentarnya. Aku segera melepas sandalku dan berniat untuk menggeplak (?) Naruto namun akhirnya dia menyerah dan kembali ke tempat duduknya lagi.
"Hey Sasuke. Biar kuberi nasehat," ucap Kakashi-sensei seraya mendekatkan bibirnya yang tertutup masker ke telingaku. "Kurasa adikmu itu tipe uke. Dia cukup manis dan polos. Biar kutebak, dia masih virgin kan? Jagalah dia dengan hati-hati, karena aku yakin para siswa tidak akan melepaskan dirinya di sekolah," ucap Kakashi-sensei. Aku memandangi sai dari atas ke bawah. kurasa dia memang benar.
"Kamarmu tepat di sebelah kamar Sasuke. Kau tidak keberatan kan?" Tanya Kakashi-sensei. Sai yang sedang memakan sashimi mengangguk.
"Karena ada satu lagi penghuni baru, maka roling memasak makanan bakalan berubah. Sekarang ayo kita undi," ucap Shikakaru seraya membawa lintingan kertas yang bagian dalamnya telah diisi angka. Kami segera mengambilnya satu persatu. Dan tanpa diduga, roling pertama jatuh di tangan Sai.
"Yak! Karena Sai yang dapat, maka hari ini kita makan masakan Sai," ucap Shino. Okelah…..
"ano…. Bahannya ada dimana?" Tanya Sai.
"Barangnya ada di dalam kulkas. Kau boleh bereksperimen tapi makanan yang dihasilkan cukup untuk sepuluh orang. Makanannya juga harus enak," ucap Kakashi-sensei menggurui. Enak saja, dia sendiri tidak pernah mendapat giliran memasak.
"Hai! Wakarimashita!" ucap sai antusias. Wow, padahal itu merupakan tugas yang menurutku berat. Tapi kalau Sai yang mau, mau gimana lagi?
.
.
.
"Ruang kepala sekolah ada disana, kau mau kutemani tidak?" Tanyaku seraya menunjuk ruang kepsek di ujung koridor. Sai menggeleng.
"tidak usah Nii-san, aku bisa kesana sendirian kok," ucapny dengan tersenyum. Dia segera berjalan ke arah koridor. Beberapa siswa sudah mulai menghampirinya dan bertanya-tanya padanya. dengan senang, Sai membalas pertanyaan-pertanyaan mereka. Kalau begini, kapan dia 'laporan' sama kepsek?
Aku segera berlari ke arahnya.
"Awas, ada Tsunami-san,"
Aku bisa mendengarkan bisik-bisik dari arah kerumunan yang mengerumuni Sai. mattaku, aku sudah bukan 'Tsunami' lagi. Titel itu sudah aku buang jauh-jauh sejak kelas tiga SMP. Sekarang aku bukan petarung terkuat kota ini lagi alias Tsunami.
Sai menoleh ke arahku. Sedangkan kerumunan tadi segera bubar melihat kedatanganku.
"Onii-san?"
"Ayo cepetan ke ruang kepsek! Aku anter!" ucapku pada Sai. entah kenapa aku merasa was-was dan agak kesal (cemburu mungkin?) melihat Sai yang dikerumuni oleh para siswa tadi. Sai hanya mengikuti langkahku.
Setelah berurusan dengan sang kepala sekolah, waktu masih kurang sepuluh menit sebelum bel masuk sekolah. Aku mengajak Sai untuk berjalan-jalan keliling sekolah dan mengenalkan padanya bagian-bagian sekolah. Dia begitu antusias.
Aku menunjukkan ruangannya. Dia segera masuk ke dalam kelas dan mengucapkan terimakasih padaku. Akupun merasa senang entah kenapa. Aku sendiri segera berjalan menuju ke kelasku dan mendudukkan diri di tempat dudukku (yaiyalah!).
Pelajaran berjalan dengan lambat, tiap beberapa detik aku menoleh kea rah jam dinding yang tepat berada di atas papan tulias dengan intens. Berharap agar kecepatan jam berubah menjadi enam puluh gerakan tiap satu menit. Namun kurasa itu mustahil.
Plukk!
Sebuah kertas melayang ke arah kepalaku. Sebenarnya aku berniat untuk mengambilnya, meremasnya, menambahkan sekitar tiga lembar kertas coretan matematika untuk melapisinya, lalu melemparkannya kepada yang punya.
Mataku membulat ketika aku menemukan pelakunya. Waraji dan Zouri, mereka berdua terkenal dengan berbagai macam tindakan kekerasan yang sering mereka lakukan di sekolah. Memeras, memalak, berkelahi, dan lain-lain (?). hanya saja, mereka sering menantangku untuk berkelahi. Mungkin menurut mereka, berkelahi dengan 'Tsunami' merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
Mereka menunjuk ke arah kertas yang kugenggam. Aku segera membuka kertas yang sudah keriting itu dan tulisa 'biasa' pun muncul.
'To the point, kapan bisa kita mulai?'
Aku segera menulis balasannya dan melemparkan ke arah mereka lagi.
Sasuke: Kau tetap jadi raja ataupun penguasa. Aku sudah tidak mau untuk melakukannya lagi
Waraji: Aku ingin kepatian mengenai kedudukan kita. Kali ini aku memaksa.
Sasuke: Aku tidak perduli.
Aku melemparkan ke arah mereka lagi untuk kesekian kalinya.
Plukkk!
"Itte!"
Aku mendongak ke atas dan mendapati sebuah tongkat menyentuh kepalaku. Aku menoleh ke kanan dan mendapati Yamato-sensei dengan aksen 'ruling with fear'-nya sedang memandangku dengan mata yang mengerikan. Aku hanya meringis dan mengusap-usap kepalaku.
"Uchiha, apakah ada yang menarik selain pelajaran fisika di samping kananmu?" ucap Yamato-sensei.
"Sumimasen," ucapku seraya mengalihkan pandanganku ke arah papan tulis. Yamato-sensei pun kembali menjelaskan sesuatu yang tidak kutahu di depan kelas (kembali). Setelah itu aku tidak menoleh ke arah mereka lagi.
Triiinnggg!
Ah! Akhirnya bel pelajaran selesai juga. Aku segera bergegas memasukkan buku-buku pelajaranku ke dalam tas hingga sebuah tangan melambai dari depan kelas. Yamato-sensei memanggilku.
Aku segera menghampirinya. Pandanganku setengah tertuju pada Waraji dan Zouri yang keluar kelas. Perasaanku tidak enak.
"Dengar, tolong bantu aku membawakan buku-buku ini ke ruang guru sebagai hukuman atas tindakanmu tadi," ucap yamato-sensei. Aku mengangguk.
"Onii-san…."
Aku terkejut. Yang aku dengar sekarang adalah suara Waraji dan Zouri yang menirukan suara Sai. aku segera membalikkan badan dan berniat untuk menghampiri mereka. Namun sebuah tongkat kayu mengenai kepalaku lagi.
Sial ! kalau sampai terjadi apa-apa pada Sai, aku akan mematahkan seluruh tulang-tulang kalian!
.
.
Tbc.
.
Author's note:
Yah, untuk kelanjutan cerita, rating fanfic ini Kasumi ubah jadi rate M . gomen ne…
Terakhir,Review please….
