Background Music untuk chapter ini:

1. High School DxD – Fuan wo Idaki Kakaeru

2. High School DxD – Zutto Osoba ni Imasukara

.

.

.

Rise of Human I

-Cerita ini murni fanfiction, saya tidak mengambil apapun dari cerita ini-

.

.

.


Volume 1: Ninja Dari Elemental Nation

Chapter 2

Misi Pertama Berjalan Sukses

(Play! High School DxD – Fuan wo Idaki Kakaeru)

Underworld adalah tempat hidup bagi para iblis dan malaikat jatuh. Di sini tidak ada manusia, semua yang hidup di sini adalah makhluk supernatural. Sebuah lingkaran teleportasi muncul tiba-tiba dan mengeluarkan 5 orang bertopeng, mereka adalah anggota ANBU. Indra memindahkan mereka ke tempat yang jauh dari pemukiman. Naruto dan yang lainnya sekarang berada di kawasan bukit bebatuan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini bahkan satu pohon tidak ada. Benar-benar kawasan yang tidak terjamah makhluk hidup.

"Jadi ini Underworld, benar-benar berbeda dengan Elemental Nation." Kata Sakura dari balik topeng bermotif rajawali sambil melihat langit Underworld yang berwarna ungu kemerahan.

"Apakah mereka tidak memiliki matahari dan bulan?" Tanya Hinata, entah pada siapa. Perkataannya lebih tepat dikatakan gumaman. Hinata memakai topeng dengan motif kucing.

"Siang dan malam tidak ada bedanya di sini." Jawab Shisui. "Sebelum melakukan operasi ayo buat rencana dulu." Lanjutnya kemudian.

"Siap Kapten!"

Mereka lalu mencari tempat untuk bersembunyi sekaligus dijadikan markas sementara sampai misi selesai. Shisui menjelaskan rincian dan kondisi di Underworld berdasarkan pengalaman pribadi. Selanjutnya ia menyusun rencana yang akan melibatkan semua anggota.

"Hinata, tugasmu adalah mengawasi daerah sekitar dengan kekuatan Byakuganmu. Sakura, bersiaplah di barisan belakang sebagai ninja medis. Sasuke, kau bertugas untuk membuat pengalihan dan sisanya, Naruto akan menjadi eksekusi. Kalian mengerti?"

"Kami mengerti."

"Bagus."

"Kapten, bagaimana dengan tugasmu? Apa kau hanya akan diam melihat kami beraksi?" Tanya Sasuke.

Shisui terkekeh pelan, "Tentu saja aku memiliki tugas sendiri. Setelah kalian selesai membunuh target, aku akan menghapus seluruh jejak kita sampai tidak ada orang yang tahu bahwa fraksi Manusia adalah dalangnya. Kalian pasti pernah belajar bagaimana menghapus jejak 'kan? Dan sekaranglah waktu yang pas untuk kalian mempraktekkannya langsung. Misi ini bukan hanya sekedar membunuh, tetapi melatih kalian dengan nyata." Jelas Shisui.

Sasuke mengangguk pelan.

"Kapten, menurutku lebih baik kita menggali informasi dari target sebelum mengeksekusinya. Karena informasi lebih berharga dari nyawa seseorang. Tim kita memiliki 2 orang pengguna Sharingan, sangat mudah menggali informasi hanya dengan tatapan mata." Usul Naruto.

Shisui menggeleng pelan, "Target kita bukanlah orang penting bagi fraksi iblis. Percuma menggali informasi darinya. Alasan kenapa misi ini dibuat karena target kita pernah membunuh beberapa manusia di bumi. Kejahatan tersebut tidak bisa dimaafkan. Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa."

Naruto mengangguk mengerti, dia tidak bersuara lagi sampai Shisui berdiri. Semua mendongkak menatap sang pemimpin tim.

"Sudah saatnya kita menjalankan misi. Ikuti aku dan lakukan tugas masing-masing saat kuperintah!"

"Baik."

Mereka lalu pergi berlari menuju tempat target.

Sudah 1 jam sejak perpindahan dimensi. Naruto dan yang lainnya kini sedang bersembunyi sambil mengamati target misi. Kali ini yang menjadi target pembunuhan adalah seorang iblis perempuan berambut pirang panjang. Gadis iblis itu berasal dari salah satu clan yang termasuk dalam 72 pillar iblis. Namanya adalah …,

"Alexia Bune, target pembunuhan telah terkonfirmasi. Menunggu perintah untuk menyerang." Kata Naruto melalui saluran komunikasi radio intercom yang terpasang di telinganya.

"Tunggu sampai target menjauhi pemukiman. Hinata, awasi daerah sekitar! Kita harus menekan chakra sekecil mungkin dan menggunakan jutsu paling efektif untuk membunuh." Perintah Shisui. 5 menit yang lalu Shisui menyuruh anak buahnya menekan Chakra sekecil mungkin sampai tidak bisa dirasakan.

Selang beberapa menit kemudian, mereka terus mengawasi Alexia dari jauh. Tempat mereka berada di luar jangkauan pengamatan Alexia. Gadis iblis itu memasuki hutan karena ingin mengambil sesuatu. Sekaranglah saatnya operasi pembunuhan Alexia Bune dimulai.

"Mulai serangan! Sasuke, kau buat pengalihan! Dan Naruto bersiaplah dengan jutsu pamungkasmu!"

"Hn."

"Siap!"

Srek!

Alexia menoleh ke atas, dedaunan jatuh dengan tiba-tiba. Dia juga heran kenapa daun-daun itu bisa jatuh padahal sekarang tidak ada angin. Tidak memperdulikan hal itu, Alexia kemudian menatap ke depan lagi dan mendapati sebuah senjata tajam melesat padanya dengan cepat.

Alexia berhasil menghindar di waktu kritis. Dia memiliki refleks yang cukup bagus. Namun, senjata tajam yang disebut kunai berhenti melesat karena seseorang tiba-tiba muncul dan menangkap kunai itu.

"Hiraishin"

Alexia kaget karena merasakan tekanan energi besar di belakangnya secara tiba-tiba. Dia melirik ke belakang dan mendapati seseorang bertopeng rubah yang sedikit lebih pendek darinya menghunuskan katana ke lehernya.

"Target akan segera mati." Gumam Naruto dingin.

Alexia Bune menatap sebilah katana yang melesat cepat hendak memutus lehernya. Ia sekarang sangat shock karena tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak seperti ini. Tidak ada pembuka, tidak ada percakapan, langsung main serang seperti ini bukan gaya bertarung seorang iblis. Alexia sadar bahwa yang menyerangnya bukan dari pihak iblis.

Sedikit lagi, katana itu akan menggorok leher Alexia sampai putus.

Trank!

Keberuntungan ternyata berada di pihak Alexia, ia masih bisa membuat sihir pertahanan untuk melindungi dirinya. Laju katana yang dihunuskan Naruto terhenti, ia mendecih kesal karena gagal membunuh secara cepat target misinya. Akibatnya Naruto harus menjalankan rencana cadangan.

"Taka!" Seru Naruto memanggil Sasuke menggunakan code name.

Seseorang yang menggunakan topeng bermotif elang muncul di samping Alexia yang tidak terlindungi oleh sihir pertahanan. Sasuke siap mengunuskan katananya. Alexia melihat seorang muncul di sampingnya langsung merentangkan satu tangan, dari tangan tercipta lingkaran sihir kecil yang mengeluarkan sejumlah Demonic Power.

"Demonic Bune"

Sasuke yang berada di udara tidak bisa menghindar serangan cepat dari jarak sangat dekat itu. Akibatnya dada Sasuke berlubang karena terkena serangan Alexia. Gadis iblis itu tersenyum, lebih tepatnya menyeringai sombong. Tapi seringaian itu segera musnah setelah melihat tubuh orang yang diserangnya berubah menjadi kepulan asap putih.

'Apa yang terjadi dengan tubuhnya?' Batin Alexia.

"Jangan mengalihkan pandanganmu pada musuh yang berada di depan!" seru Naruto sambil menghunuskan katana menuju dada kiri Alexia.

Cleb!

Katana Naruto sukses menembus jantung Alexia bahkan ujung pedangnya keluar dari punggung. Gadis iblis itu mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Mungkin sebentar lagi nyawanya akan terlepas dari raga.

Naruto lalu mengambil sebuah botol kecil dari kantung ninjanya, botol itu ia buka lalu diarahkan menuju bilah pedang yang meneteskan darah merah Alexia Bune. Ya, Naruto akan mengambil beberapa tetes darah Alexia karena ini merupakan bagian dari misinya.

"A-apa yang ka-kau lakukan?" tanya Alexia terbata, menahan sakit yang teramat. Tubuhnya sekarang telah ditahan oleh Sasuke dan satu bunshinnya. Alexia tidak bisa bergerak dengan bebas.

Naruto menatap wajah pucat Alexia dari balik lubang topengnya. "Sudah jelaskan, aku mengambil darahmu."

"Untuk apa-"

"Untuk ukuran iblis yang akan mati sepertimu lebih baik diam dan berdoa pada Tuhan agar kau tidak disiksa di Neraka." Sungut Sasuke cepat, memotong perkataan Alexia.

"Cih. Bu-bukannya ini adalah Neraka? Tempat hidup para iblis. Dasar bocah!" marah Alexia Bune sambil meronta. Ia berjuang sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kekangan Sasuke namun tidak bisa karena semakin banyak bergerak tenaga yang tersisa dalam diri gadis iblis itu semakin berkurang. Ia juga telah banyak kehilangan darah.

"Aku kagum padamu, meskipun jantungmu sudah ditusuk tapi kau masih bisa bernafas." Kata Sasuke.

"Dari aura yang kurasakan … mungkinkah kalian manusia rendahan?"

Naruto terpancing emosinya, ia semakin memperdalam tusukan katananya yang berakibat pada Alexia. Gadis iblis itu menjerit kesakitan. Sasuke menutup mulut Alexia agar suaranya tidak didengar oleh iblis lain. Semua ANBU tahu bahwa iblis memiliki kepekaan indera lebih tajam dari manusia.

"Diamlah dasar jalang!" hardik Sasuke.

"Yosh, proses pengambilan sampel darah sudah selesai. Matilah dasar iblis jalang! Ratapilah dosa-dosamu yang sudah membunuh banyak manusia!" Kata Naruto. Ia menyabetkan katana yang masih tertancab di tubuh Alexia menuju lehernya.

Alexia Bune mati dengan luka sayatan dari dada kiri menuju lehernya. Beberapa saat kemudian tubuhnya mulai berubah menjadi butiran-butiran hitam yang beterbangan ke atas. Itu adalah proses akhir saat seorang iblis mati. Tubuh mereka tidak diterima di tanah manapun, bahkan tempat tinggalnya sendiri. Menyedihkan.

Shisui, Sakura, dan Hinata muncul. Mendekati Naruto dan Sasuke.

"Kerja bagus. Aku terkejut melihat kerja sama kalian yang cukup apik. Meskipun kalian baru berusia 12 tahun, tapi kemampuan dan insting kalian setara dengan anggota senior." Puji Shisui.

"Tidak masalah. Kami hanya melakukan apa yang kami pikirkan."

"Jadi, bagaimana Kapten? Bagaimana cara kau menghapus seluruh jejak kita di Underworld?" tanya Sasuke.

"Dengan sebuah jutsu." Jawab Shisui singkat.

ANBU berambut raven itu sedikit tidak mengerti. Cara yang akan dilakukan Shisui berbeda dengan cara yang ia pelajari di pusat pelatihan militer. Apakah fraksi Manusia sudah menemukan cara yang lebih efektif untuk menghilangkan jejak?

"Apa maksudmu?"

"Aku akan menghapus semua jejak kita dengan sebuah jutsu. Jutsu ini pertama kali diciptakan oleh Tobirama-sama yang kemudian dipelajari oleh hampir seluruh anggota ANBU. Kalau tidak salah 4 tahun yang lalu jutsu ini diciptakan. Sebagian besar para pemimpin sudah menguasai penuh jutsu ini."

"Jadi, jutsu apa yang Kapten pakai?" tanya Hinata. Ia masih terus mengawasi daerah sekitarnya. Hinata sangat cocok diposisikan di unit pengintai. Dengan Byakugan yang mampu melihat jarak sampai sejauh 10 km, Hinata mungkin akan menjadi Ninja pengintai paling handal.

"Nama jutsu ini adalah Hidden: Fuin Michi."

"Nama yang sedikit aneh." Komentar Sakura.

"Meskipun begitu, jutsu ini sangat penting khususnya untuk divisi ANBU yang berada di garis paling depan. Jutsu ini akan membuat keadaan sekitar mengalami pembalikan waktu. Seperti ini," Shisui langsung memperlihatkan cara kerja jutsu yang ia maksud.

"Hidden: Fuin Michi"

Shisui menyentuh tanah menggunakan telapak tangan kanannya, sesaat kemudian aksara-aksara rumit muncul dari balik telapak tangan yang merambat ke daerah sekitar dengan cepat. Daerah yang menjadi lokasi pertarungan tadi mengalami pergerakan mundur. Seperti film yang diputar ke awal lagi. Segala sesuatu baik itu bekas cipratan darah atau batang pohon yang berlubang karena serangan kembali normal seperti sebelum pertarungan.

Keempat bawahan Shisui baru mengerti cara kerja jutsu ini. Justu yang dilakukan Shisui masih ada hubungan dengan jutsu ruang dan waktu.

"Hebat. Daerah ini kembali seperti semula. Tidak ada bekas pertarungan seperti tadi. Semua orang pasti tidak akan menyadari apa yang terjadi di sini." Kagum Sakura.

"Ya. Meskipun begitu jutsu ini cukup banyak menguras chakra."

"Target misi sudah dimusnahkan dan sampel darah sudah didapat. Pekerjaan kita yang terakhir adalah menghapus jejak kita selama perjalanan dari atas gunung menuju ke sini. Bukan begitu Kapten?" kata Naruto.

"Kau benar. Setelah semuanya selesai kita akan kembali ke Elemental Nation dari posisi yang sama saat kita tiba di sini. Ayo, sebaiknya kita segera bergegas."

Mereka semua lalu menjalankan kegiatan akhir dari serangkaian rencana pembunuhan diam-diam. Beginilah kehidupan ANBU yang sebenarnya. Meskipun begitu, Naruto dan teman-temannya masih bisa menahan emosi yang entah kenapa ingin meledak dalam diri mereka, terutama untuk Naruto. Hari ini adalah pertama kalinya ia mencabut nyawa seseorang, sebagai seorang manusia ia juga merasakan emosi yang tidak menentu seperti marah, gelisah, takut bercampur menjadi satu. Bukan namanya top peringkat sepuluh kalau tidak bisa mengendalikan emosi saat misi berjalan. Naruto mati-matian berusaha tenang dan fokus.

1 jam kemudian semua jejak yang pernah dibuat oleh mereka sudah hilang entah ke mana. Seluruh keadaan kembali seperti saat mereka belum menginjakkan kaki di Underworld. Pihak dari fraksi iblis tidak akan bisa mendeteksi mereka meskipun dengan sihir golongan tinggi karena apa yang mereka selidiki adalah kondisi saat anggota ANBU belum menginjakkan kaki di sini.

Cara untuk kembali ke Elemental Nation cukup sederhana. Shisui mengambil kertas yang diberikan oleh Indra sesaat sebelum memasuki portal. Kertas itu adalah alat untuk membuat portal dimensi. Cara kerjanya sama seperti kertas teleport yang sering digunakan oleh para iblis. Shisui menjatuhkan kertas itu, sesaat kemudian portal dimensi muncul di depan mereka.

Shisui dan yang lainnya lalu memasuki portal itu. Kini, misi sudah benar-benar selesai. Tinggal membuat laporan dan diserahkan pada atasan.


Naruto meregangkan tubuhnya yang sedikit sakit. Mengalami pertarungan secara nyata ternyata membangkitkan adrenalin yang berbeda dari hanya sekedar sparring biasa. Saat ini ia berada di kamarnya. Semua personel yang tergabung ke dalam resimen tempur 4 mempunyai kamar masing-masing. Untuk anggota biasa atau terendah seperti Naruto ditempatkan di ruang bawah tanah lantai paling dasar. Kebanyakan kamar dibangun di bawah tanah. Istana digunakan sebagai kantor tempat bekerjanya para petinggi dan tempat rapat penting.

Meskipun berada di dasar tanah, ruangan yang dibuat sebagai tempat istirahat ini masih tetap menggunakan dekorasi khas ruang-ruang kerajaan. Arsitekturnya sangat teliti dan bagus. Beberapa jam lalu Naruto sudah menyelesaikan misinya, kini ia sedang beristirahat.

Naruto mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia lalu membuka pintu dan mendapati Shisui berkunjung ke kamarnya. "Kapten, tidak biasanya anda berkunjung ke mari." Kata Naruto.

"Jangan sebut aku kapten lagi karena misi kita sudah selesai. Aku ke sini untuk mengambil sampel darah Alexia Bune yang ada padamu."

"Ah benar juga. Memang untuk apa sampel darah seorang iblis? Dalam gulungan misi tidak dijelaskan dengan rinci." Kata Naruto sambil mengambil tabung kecil berisikan darah Alexia, tabung itu lalu ia berikan pada Shisui.

"Kau ingin tahu?"

Naruto mengangguk.

"Ikuti aku!"

"Baiklah. Memang kita mau ke mana?"

"Ke tempat penelitian yang berada di Konoha."


Mereka berdua sudah sampai di tempat penelitian yang dimaksud Shisui. Tempat ini hampir mirip gabungan laboratorium dan penjara. Naruto dan Shisui memakai seragam ANBU, ini juga termasuk tugas resmi. Banyak orang mundar-mandir di sepanjang lorong minim cahaya. Sekarang mereka sedang berada di penjara bawah tanah. Samar-samar Naruto melihat beberapa orang yang berada di balik jeruji besi dengan tangan dan kaki yang terborgol.

"Sertu. Shisui, sebenarnya tempat apa ini? Aku merasakan aura yang berbeda dari kita." Tanya Naruto.

"Tempat yang kita kunjungi adalah pusat penelitian di bawah komando langsung divisi Penyerang. Tempat ini bertujuan untuk menambah daya tempur fraksi manusia juga sebagai tempat meneliti tubuh-tubuh makhluk supernatural." Jelas Shisui tanpa mengalihkan pandangan dari jalan setapak yang mereka lalui.

"Menambah daya tempur, apa maksudnya? Aku tidak mengerti."

"Sebentar lagi kau akan mengerti. Jadi ikutilah aku!"

"Baiklah."

Mereka berjalan dalam diam. Beberapa menit kemudian mereka melihat siluet 2 orang dari depan. Dua siluet itu semakin menampakkan seseorang. Semakin mendekat hingga akhirnya Naruto dan Shisui berpapasan dengan dua laki-laki. Satu memiliki rambut hitam panjang dan satunya lagi berambut putih yang diikat.

"Aku tidak menyangka kau mampu menyelesaikan misi secepat ini. Bagaimana dengan pesananku?" Suara serak yang keluar dari mulut laki-laki berambut hitam itu ditujukan pada Shisui. Matanya melirik pada salah seorang anggota ANBU yang berdiri di samping Shisui. "Dan kau siapa?"

"Perkenalkan, namaku Namikaze Uzumaki Naruto. Anggota baru divisi ANBU."

"Namikaze? Begitu, kau adalah anak dari Kiiroi Senko yang terkenal itu ya?"

"Ya. Kenapa anda bisa tahu tentang Ayahku?"

Laki-laki itu terkekeh pelan. "Aku pernah melakukan misi bersamanya. Perkenalkan namaku Kolonel Orochimaru. Pemimpin unit penelitian di bawah komando langsung divisi Penyerang. Dan yang disebelahku adalah Letnan Satu Kabuto, asisten pribadiku."

"Siap Kolonel. Mohon maaf atas ketidakhormatanku tadi."

"Tak apa."

"Sesuai pesanan anda, sampel darah Alexia Bune." Shisui menyerahkan botol berisi darah pada Orochimaru.

Laki-laki menyerupai ular itu menerima botol yang diberikan Shisui. Ia terkekeh pelan.

"Maaf sebelumnya, Kolonel Orochimaru. Aku penasaran apa yang akan anda lakukan dengan botol darah itu." Kata Naruto.

"Khu khu khu, kau ingin mengetahuinya?"

Naruto mengangguk, semakin penasaran.

"Baiklah. Lihat sel di sana! Bawa tahanan yang berada di dalam sel itu lalu ikuti kami!" Perintah Orochimaru.

"Baiklah." Naruto berjalan menuju sel yang dimaksud, Kabuto berada di sampingnya. Lelaki berambut putih itu lalu membuka sel. Naruto masuk dan melihat seorang gadis tertunduk lemas dengan tangan dan kaki diborgol. Serta terdapat kertas segel menempel di kepalanya.

Naruto sedikit terkejut melihat kondisi gadis itu. Bukan hanya tubuhnya yang penuh luka, gadis itu tidak memakai pakaian alias telanjang.

(Play! High School DxD – Zutto Osoba ni Imasukara)

Naruto melirik Kabuto, "Dia siapa?"

"Seorang malaikat jatuh yang beberapa hari lalu ditangkap oleh pasukan divisi Penyerang untuk wadah selanjutnya." Jawab Kabuto.

Wadah? Wadah untuk apa? Naruto benar-benar penasaran. Ia mengalihkan pandangannya lagi menuju gadis yang ternyata adalah malaikat jatuh. Anak berusia 12 tahun itu mendekati sang malaikat jatuh.

Srek!

Naruto buru-buru menghindar ke belakang karena gadis yang sedari tadi tertunduk tiba-tiba menyerang dirinya. Dengan mata tajam dan taring yang menyembul ke luar.

"Meskipun sudah diberi segel pengaman, tapi malaikat jatuh itu masih memiliki kesadaran. Benar-benar merepotkan. Aku sampai harus mengecek beberapa kali dalam sehari untuk memulihkan segelnya." Gerutu Kabuto.

Naruto mangangguk mengerti. Ia lalu melepas kertas segel yang tertempel di kepala gadis itu. Seketika malaikat jatuh itu meronta dan berteriak. Ia sudah memiliki kesadarannya secara utuh.

"LEPASKAN AKU DASAR MANUSIA RENDAHAN! MANUSIA SEPERTI KALIAN DITAKDIRKAN UNTUK MELAYANI KAMI!" teriaknya.

"Tenanglah, wanita!" Kata Naruto dingin.

"Lepaskan aku! Aku bersumpah akan membunuh kalian semua!" Gadis malaikat jatuh itu masih terus meronta. Berusaha untuk lepas dari borgol yang mengekang dirinya.

Naruto menoleh pada Kabuto yang berdiri di ambang pintu besi. "Bisakah aku tangani ini sendiri?" Pinta Ninja bersurai pirang itu.

Kabuto terdiam sebentar, berpikir. Ia lalu mengangguk. "Izin diterima. Panggil aku jika kau kesulitan karena gadis malaikat jatuh itu adalah tahanan yang paling sulit ditenangkan."

"Terima kasih, Lettu. Kabuto-san."

Kabuto lalu pergi dari ambang pintu, membiarkan Naruto sendirian menghadapi malaikat jatuh keras kepala.

"LEPASKAN AKU SIALAN!"

"Tidak mau."

"Sialan kau manusia rendahan! Aku benar-benar akan MEMBUNUH KALIAN SEMUA."

Naruto menghela nafas. Ia membuka topeng yang menutupi wajahnya. Mata gadis malaikat jatuh itu membulat sempurna, kaget melihat senyuman tulus yang ditujukan padanya. Naruto berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis malaikat jatuh.

Naruto membuka suara dengan nada tenang. "Kenapa kau sangat membenci manusia?" Perkataan Naruto sama sekali tidak mengandung unsur benci.

"Apa kau bercanda?! Bukannya manusia adalah makhluk terlemah? Yang lemah sudah pasti menjadi budak yang kuat. Aku membenci manusia? Ya, aku sangat membenci manusia! KALIAN HARUSNYA TUNDUK DI BAWAH PERINTAH KAMI!" Kembali malaikat jatuh itu meronta. Naruto berusaha menenangkannya.

"Tenanglah! Kau tidak perlu marah-marah seperti itu." Kata Naruto.

Malaikat jatuh yang memiliki perawakan seperti gadis berumur 17 tahun itu –padahal usianya lebih dari 100 tahun menatap tajam Naruto. Menggertakkan gigi. "Jangan pernah berani memerintahkau!" katanya dengan sombong.

Naruto tersenyum simpul. "Aku tidak memerintahkanmu. Aku memohon padamu."

Gadis itu membelalakan matanya. Kaget dengan perkataan lelaki di depannya serta raut wajah yang menunjukkan ketulusan. Malaikat jatuh itu tertunduk. Naruto semakin mendekat, merentangkan tangan, lalu memeluk tubuh telanjang gadis malaikat jatuh itu. Ia lalu membisikkan sesuatu di telinga gadis dalam pelukannya sambil mengelus lembut surai hitam panjang itu. "Jika seandainya kita tidak memiliki konflik masa lalu. Mungkin, kita akan dipertemukan dengan cara berbeda. Mungkin saja, kita ditakdirkan untuk bersama. Saling menghargai satu sama lain, melindungi satu sama lain, dan mencintai satu sama lain. Bukannya itu jauh lebih indah daripada keadaan kita sekarang?"

Naruto menyudahi pelukannya, melihat raut wajah apa yang ditunjukkan oleh gadis malaikat jatuh itu. Mata membulat, shock, tidak percaya, membeku, itulah yang Naruto lihat.

"Maukah kau ikut bersamaku?" Tanya Naruto sambil memegang kedua pipi gadis di depannya, mendekatkan kepala sambil menatap langsung matanya.

"A-apa yang akan kudapatkan jika aku mengikutimu?" Masih dalam keadaan terkejut, gadis itu bertanya.

"Cinta, kasih sayang … serta kebahagiaan. Kau ingin merasakannya 'kan?"

"Ya … sejak dulu aku ingin bersama Azazel-sama. Tapi dia sama sekali tidak pernah melihat diriku." Wajah malaikat jatuh itu berubah muram.

"Tenang saja. Kalau kau ikut denganku, aku tidak akan mengacuhkanmu."

"Benarkah?"

"Ya."

"Benarkah?" Malaikat jatuh itu mengulangi perkataannya.

"Ya."

"Kalau begitu aku akan ikut denganmu."

"Baguslah. Ngomong-ngomong, siapa namamu?"

"Rea."

"Nama yang cantik seperti orangnya. Aku Naruto."

"Aku ingin hidup bersamamu, Naruto-kun." Rea dengan tiba-tiba memeluk erat Naruto. Perasaan dan pikirannya berubah 180 derajat.

Naruto mengelus surai pirang Rea. "Kalau begitu ayo ikut aku. Jangan berontak seperti tadi!"

"Baiklah. Aku janji aku tidak akan berontak. Tapi sebagai gantinya aku ingin Naruto-kun selalu berada di sisiku."

Naruto tersenyum. "Bahkan, aku ingin berada di sisimu sampai ajal menjemput."

Naruto mulai melepaskan borgol yang mengekang tangan dan kaki Rea. Setelah itu ia lalu melepaskan armor ANBU yang dipakaianya. Rea menatap heran Naruto. Apa yang ingin anak pirang itu lakukan Rea tidak tahu. Naruto menyodorkan armornya pada Rea. Gadis malaikat jatuh itu tambah bingung.

"Pakailah! Tidak baik gadis cantik sepertimu bertelanjang bulat seperti itu. Setidaknya tutupi beberapa bagian tubuhmu."

Rea tersadar dengan keadaannya dan langsung menutupi alat vital miliknya. Dengan gerakan patah-patah tangan Rea menerima armor dari Naruto. Ia lalu memakainya. "Te-terima kasih."

"Tidak apa. Sekarang ayo kita keluar dari sel yang mengekangmu selama ini." Kata Naruto. Memakai topeng rubahnya lagi. Berjalan ke luar diikuti oleh Rea yang berada di samping Naruto sambil terus menggenggam tangan hangat anak pirang itu.

Shisui, Orochimaru, dan Kabuto kaget melihat Naruto yang bersama Rea. Tidak mau pemperpanjang ini Orochimaru segera memimpin jalan menuju ruang tempat ritual. Ruangan yang dituju cukup jauh. Kira-kira membutuhkan waktu 10 menit.

"Kita sudah sampai." Kata Orochimaru.

Semua menghentikan langkah, menatap pintu besar yang ada di depan. Rea mengeratkan genggaman tangannya. Perasaannya tidak enak. Seperti akan mengalami sesuatu yang buruk. Rea menatap Naruto. "Aku takut."

"Tenang saja Rea-chan, tidak ada yang perlu ditakuti. Aku akan selalu berada di sampingmu." Kata Naruto sambil mengelus surai hitam Rea. Lagi.

Gadis malaikat jatuh itu tersenyum. Pipinya bersemu merah. Mengangguk. Percaya sepenuhnya pada laki-laki yang telah mendapatkan hatinya. Inginnya Rea mencium bibir Naruto tapi topeng yang dikenakan laki-laki pujaannya menghalangi. Tapi tenang saja, Rea akan mendapatkan lebih setelah keluar dari sini.

"Semuanya, ayo masuk!" Kata Orochimaru.

Mereka semua masuk ke ruang yang cukup luas dengan beberapa lilin menyala di sudut ruangan. Di tengah, terdapat altar untuk ritual. Entah ritual apa. Pintu besar itu tertutup otomatis. Shisui, Orochimaru, dan Kabuto menatap Naruto. Anak pirang itu mengangguk tanda mengerti. Rea yang melihat interaksi 4 laki-laki di sekelilingnya heran. Perasaannya kini semakin tidak enak.

Naruto dengan cepat memukul tengkuk Rea sampai terjatuh ke bawah. Gadis malaikat jatuh itu tidak sempat menghindar, bahkan sekedar sadar pun tidak sempat. Pandangan Rea mulai mengabur, sekarang ia mengerti bahwa semua perkataan Naruto adalah dusta. Suatu kebohongan untuk menggerakkan hatinya agar menurut. Rea menatap Naruto.

"Tenang saja Rea-chan. Aku akan selalu berada di sisimu sampai ajal menjemputmu. Bukannya sudah kukatakan beberapa menit lalu?" Kata Naruto dengan nada merendahkan, dingin, dan datar.

Pandangan Rea semakin menggelap. Sebelum kesadarannya hilang ia berkata, "Sialan kau … manusia pendusta."

"Khu khu khu … sungguh drama yang begitu indah. Nah sekarang saatnya memulai ritual jutsu Edo Tensei." Kata Orochimaru, menyeringai sadis sambil menjulurkan lidah panjangnya. Seperti ular.

Bersambung


Catatan penulis:

Sebelumnya terima kasih kepada kalian semua. Untuk perilaku Naruto di chapter ini, akan dibahas chapter depan. Saya tidak akan menjelaskan apapun di sini kecuali profile Uchiha Shisui;

Name: Uchiha Shisui

Nickname: -

Affiliation: Human Faction, Uchiha clan

Rank: Ninja Soldier – First Sergeant

Divisi: ANBU – Regiment 4

Detail Finish Mission: 41 rank-A, 10 rank-S

Awards: -

Killed: 10 Pure-Blooded Devils, 14 Fallen Angels

Bagi mereka yang merasa fanfic ini menarik tolong kasih pendapat, saran, dan kritik. Apapun itu akan saya terima mulai dari kritik ide sampai tata cara menulis.

Terima kasih sudah membaca karangan saya.

[11/10/2017]