Marry U chap. 2
Pairing : Sasunaru
Genre : romance/gak yakin kalau genrenya romance/
Disclaimer : Masashi Kisimoto-sensei
-OOC, Typo(s), misstypo, others-
Saat ini Sasuke, Naruto dan Kakashi-sensei tengah merundingkan permasalahan Sasuke di kedai Ichiraku ramen favorit Naruto. Karena merasa itu adalah urusan para laki-laki terpaksa Sakura pulang dengan sedikit perasaan kecewa terselip di benaknya.
"Sasuke-kun, kalau kau ingin berpura-pura menikah kenapa tidak dengan Sakura-chan saja?" tanya Kakashi tanpa memalingkan wajah bermaskernya dari novel kegemarannya, Icha Icha Paradise.
"Sakura itu perempuan!" bantah Sasuke terhadap saran Kakashi-sensei.
Walaupun sebenarnya alasan utama kenapa tidak Sakura yaitu karena Sakura masih memiliki keluarga. Kalau hanya menipu Sakura memang tidak apa-apa, tapi kalau menipunya dan juga keluarganya itu akan membawa masalah yang lebih rumit lagi pada Sasuke.
"Jwaaadhii…kkahmu ma..ooo [Jadi kamu maho?]..?" kata Naruto setengah kaget—tanpa membiarkan terlebih dahulu ramen yang ada di mulutnya kosong.
Mendengar pertanyaan Naruto, Sasuke dan Kakashi hanya ber-sweatdrop saja. Namun Naruto terlihat tidak peduli dengan keduanya. Sebab hari ini Naruto mendapatkan penawaran ramen gratis sepuasnya dari Sasuke, makanya itu ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Hidupnya yang hanya sebatang kara dan mengandalkan uang dari misi tak akan mungkin bisa merasakan kenikmatan surga dunia seperti ini. Lain lagi dengan Sasuke yang hidup dari keluarga terpandang dan kaya raya, menyelesaikan sebuah misi hanya sebagai pelampiasan hobbinya saja. Mungkin keadaan itulah yang membuat Sasuke lebih memilih Naruto untuk menjadi pasangannya di depan kedua orang tuanya.
"Hei, Naruto-kun… bagaimana? Kau mau membantu Sasuke-kun?" tanya Kakashi-sensei yang mau tidak mau harus terlibat dengan masalah yang dihadapi muridnya itu.
Kali ini Naruto berusaha menelan ramennya dengan susah payah, "baiklah, akan aku pertimbangkan." Jawab Naruto santai, tidak peduli dengan ekspresi Sasuke yang terlihat sangat berharap.
"Tidak Naruto! Kau harus menentukan sekarang juga, ku mohon bantulah aku…" Sasuke terpaksa menanggalkan semua keangkuhannya untuk memohon kepada Naruto.
"Kau fikir aku bisa dengan mudah menentukkan sekarang, bodoh?! Kau mengajakku menikah bukan bermain-main!" sergah Naruto sedikit teriak, "Ya walaupun menikahnya juga main-main.." lanjut Naruto.
"Hei pelankan suaramu.." ucap Kakashi-sensei.
"Batas akhir waktunya hari ini, bodoh!"
"Hei Sasuke-kun, sudah kubilang kenapa tidak dengan Sakura-chan? Memangnya kenapa kalau dia perempuan?"
"TIDAK! AKU KEBERATAN SI JELEK ITU MENIKAH DENGAN SAKURA-CHAN!" Protes Naruto sambil menunjukkan jari telunjuknya tepat ke wajah Sasuke.
Pletaak..!—bunyi jitakkan telak Sasuke pada kepala Naruto.
"Bagaimana pun juga pernikahan yang akan aku laksanakan nanti hanya untuk mengelabuhi ayahku dan disamping itu aku juga akan mencari jodoh yang sungguhan. Ku pikir akan sangat mudah bila dengan Naruto yang sama-sama laki-laki. Jadi tidak ada yang akan sakit hati." Jelas Sasuke yang menunjukkan hati malaikatnya.
"JADI KAMU FIKIR AKU LAKI-LAKI GAMPANGAN HA…!" Protes Naruto lagi kali ini dengan bogeman tangan yang hampir saja melukai wajah tampan Sasuke.
Pletaak..!—bunyi jitakan lagi.
"Bagaimana dengan keinginan orang tuamu soal cucu?" tanya Kakashi.
"Ya aku akan memberikan berbagai alasan mengapa Naruto tidak hamil. Aku juga tidak akan santai-santai dan akan mencari jodoh sungguhan secepat mungkin." Jelas Sasuke lagi.
"Waahh kau bisa berfikir sejauh itu ya, memang darah Uchiha." Kakashi menepuk-nepuk pucuk kepala Sasuke dengan bangga.
"Baiklah-baiklah, walaupun Sasuke menyebalkan dan aku tidak menyukainya tapi dia tetap temanku yang mengakuiku… aku bersedia dengan 1 persyaratan." Ucap Naruto membuat hati Sasuke benar-benar lega.
"Apa itu?"
"Penawaran ramen gratis sepuasnya itu berlaku selama aku menjadi pasangan bohonganmu. Aku yakin kau tidak keberatan."
"Ah ya, itu hal yang mudah… kalau begitu kau harus ke rumahku nanti malam. aku akan mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Terima kasih Naruto dan Kakashi-sensei. Aku duluan." Pada akhirnya Sasuke menyibak kain penutup kedai ramen itu dan melangkah pulang ke rumahnya dengan perasaan lega.
Sebenarnya alasan lain kenapa Sasuke memilih Naruto itu karena Naruto cukup manis untuk ukuran seorang laki-laki. Matanya yang berkilau kebiruan dan rambut blondenya begitu serasi. Dan satu hal penting lainnya, Naruto tidak punya orang tua. Keadaan itu tentunya tidak akan membuat Sasuke repot.
Kediaman Sasuke tampak sedikit sibuk mempersiapkan makan malam istimewa. Bagaimana tidak, kedua orang tua Sasuke sangat menanti-nanti kehadiran wanita cantik yang akan menjadi pendamping hidup putranya yang tampan tiada tanding. Di sisi lain Sasuke hanya terpaku di depan cermin yang menempel di pintu lemarinya. Ibunya memberikannya sebuah tuxedo berwarna hitam yang sangat cocok dengan rambut raven hitam Sasuke. Memang sangat tampan luar biasa, akan tetapi Sasuke sedikit gugup dan cemas memikirkan Naruto. Bagaimana kalau Naruto ketahuan kalau dia laki-laki oleh kedua orang tuanya?
"Fuuuuuuh." desah Sasuke berat.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam akan tetapi belum ada tanda-tanda kehadiran Naruto di rumahnya. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk menunggu Naruto di teras depan rumahnya yang cukup luas.
Lima menit kemudian tampak sebuah siluet menyerupai perawakkan Naruto tengah berjalan menghampiri kediaman Uchiha. Sasuke mengelus dadanya lega karena Naruto menepatinya juga.
"Oy Sasuke.." sahut Naruto dari kejauhan sambil melambaikan tangannya pada Sasuke.
"Ya." Sasuke hanya membalasnya dengan mengangkat sebelah tangannya dengan cepat.
Malam itu angin musim dingin bertiup cukup kencang walaupun tidak disertai dengan turunnya salju. Di desa Konoha memang biasa bila musim dingin salju hanya akan turun 2 minggu setelah musim dingin dimulai.
"Saat cuaca dingin seperti ini kau hanya menggunakan kaos?" tanya Sasuke heran sambil menaikkan sebelah alisnya tanda ia bingung.
"Hehe, habisnya aku tidak mempunyai baju hangat yang seperti perempuan." Balas Naruto sambil menyapu-nyapu rambut bagian belakangnya canggung.
"Lalu, kau sendiri kenapa berpakaian rapih seperti itu? Menggelikan hehe.." lanjut Naruto membuat Sasuke hanya melengos dengan perkataannya.
"Tidak usah dibahas. Cepat masuk!" Tangan Sasuke yang dingin menarik pergelangan tangan Naruto yang malahan hampir beku karena hembusan angin malam yang kuat.
Sasuke dan Naruto jalan bersampingan menuju meja makan keluarga Uchiha. Ayah dan Ibu Sasuke sudah siap menunggu di meja makan dengan hati yang berdebar-debar menanti rupa sang calon menantu. Seperti biasa, Naruto berjalan tanpa beban sedikitpun, sedangkan Sasuke diselimuti aura kekhawatiran yang berlebih. Semoga saja malam ini Tuhan menghendakki agar orang tuanya menjadi bodoh atau apapun itu agar tidak menyelidiki Naruto dengan berlebihan. Apalagi dibalik kaos yang dikenakan Naruto tidak ada tanda-tanda kalau ia perempuan seperti dada yang sedikit menonjol ataupun tubuh yang meliuk seksi.
"Gyaaaaaaaaa…" Mikoto memegang kedua pipinya dengan kedua tangannya sambil menatap Naruto shock.
Deg
Deg
Deg
Perasaan Sasuke kali ini sudah berada di puncak kegelisahannya. Mikoto menghampiri Naruto yang hanya tersenyum canggung sedari tadi.
"Ini wanita pilihanmu, Sasuke?" tanya Mikoto sambil memandangi penampilan Naruto dengan sorot mata berbinar.
Deg
Deg
Deg
"Hn ya." Hanya dua kata itu saja yang mampu keluar dari bibir tipis Sasuke.
"Hontouni hontouni kawaii… Namamu siapa gadis manis?" tanya Mikoto sambil sesekali mencubit dan juga mengelus rambut blonde Naruto.
Di sisi lain Sasuke yang benar-benar gelisah kini sangat lega begitu melihat ibunya sangat terkagum-kagum pada keimutan Naruto. Ya Sasuke mengakuinya, Naruto memang laki-laki yang imut seperti gadis belia. Pilihan yang sangat tepat, Sasuke!
"Mmmmm… Naruto-desu ." Lagi-lagi Naruto hanya tersenyum canggung sambil menyapu-nyapu bagian belakang rambut blondenya.
"Ah nama yang manis.. cocok sekali denganmu yang tomboy, Naruto. Oh ayo duduklah, kita akan segera memulai acara makan malamnya." Mikoto menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Naruto duduk di sana.
Sasuke pun ikut duduk di sebelah Naruto. Ah perasaan apa ini? Ini seperti perasaan yang sangat merdeka, aku bisa menghirup oksigen lebih banyak dari biasanya, batin Sasuke senang. Ia dan ketiga lainnya pun menikmati makan malam yang sangat damai dan hangat. Sedikitnya penerangan di dalam ruang makan keluarga Uchiha menambahkan kehangatan sinar bulan yang menyusup masuk melalu jendela besar yang sengaja terbuka. Naruto juga tampak menikmati hidangan yang disiapkan sendiri oleh Mikoto dan sesekali memuji rasa makanannya yang enak.
Namun karena terlalu bersemangat makan membuat jalan tenggorokannya tersedak, "uhukk..!"
"Ah minum ini Naruto." Sasuke segera memberikan gelasnya yang berisi air putih untuk Naruto agar tenggorokannya membaik.
"Arigatou, Sasuke-kun." Jawab Naruto sambil sebelah tangannya mengambil minum yang diberikan oleh Sasuke.
"Kalian pasangan muda yang sangat serasi dan romantic." Puji Mikoto dengan bangga melihat perlakuan Sasuke yang memanjakan Naruto.
"Ti..tidak juga." Jawab Naruto grogi.
"Oh ya, apakah orang tuamu sudah mengetahui hubungan INTIM kalian berdua?" tanya Mikoto dengan menekankan kata 'Intim' pada Naruto.
"Mikoto…" tahan Fugaku sambil memegang punggung tangan Mikoto karena menurutnya pertanyaan tadi terlalu berlebihan.
"Aku…. Aku sudah tidak punya orang tua lagi." Naruto yang sedikit sensitive bila membahas soal orang tua hanya bisa menjawab pertanyaan Mikoto dengan perasaan sedih yang tertahankan.
Melihat Naruto seperti itu Sasuke hanya menatap lurus pada meja makan namun hatinya dapat merasakan kesedihan Naruto. Masih ingat kan, walaupun Sasuke dingin seperti es berjalan tapi ia juga memiliki hati malaikat.
"Maafkan aku Naruto-chan…" Mikoto juga tampak sedih, tangan lembutnya mengusap-usap punggung tangan Naruto yang sedikit gemetar.
"Ah tidak apa-apa aku kuat!" sentak Naruto tidak ingin terlihat sedih sedikitpun.
"Huh, berlagak kuat seperti biasanya." Batin Sasuke sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Makan malam pun selesai, Mikoto membereskan piring-piring kotor dan meletakannya pada tempat cucian piring. Sedangkan Fugaku sang ayah dan Sasuke serta Naruto masih menikmati hidangan dessert di meja makan.
"Lalu bagaimana dengan jadwal pernikahan kalian? Apa sudah kau tentukan, putraku?" tanya sang ayah pada Sasuke.
Sasuke dan Naruto hanya tertegun.
"Kalian akan menikah dalam waktu dekat kan?" Mikoto kini kembali bergabung di meja makan.
"Iya." Jawab Naruto dengan spontan.
"Hei?" Sasuke tampak tidak senang dengan jawaban Naruto.
"Hohohoho, Sasuke lihatlah calon istrimu saja bersemangat. Sebagai laki-laki kebanggan ibu harusnya kau juga bersemangat sepertinya. Apalagi calon istrimu sangat manis.." ucap Mikoto.
"Jadi, kalian belum menentukkan kapan kalian akan menikah?" tanya Fugaku lagi.
"Begitulah." Jawab Sasuke singkat.
"Daijobou…daijobou…" Mikoto mengambil sebuah calendar kecil kemudian mengamati deretan angka yang menunjukkan tanggal, "kalian akan menikah 3 hari lagi, lihat tanggal yang bagus." Ucap Mikoto sambil menunjukkan calendar pada Fugaku.
"Ah ya, memang tanggal yang bagus."
"EH?"
"Kenapa Sasuke? Kau keberatan? Apa kau ingin menikah malam ini juga saking tak sabarnya?" tanya Mikoto dengan wajah cemas pada Sasuke.
"Tidak, apa tidak terlalu cepat ibu? Bagaimanapun juga menikah butuh persiapan yang merepotkan."
"Oh ya aku juga butuh waktu untuk memanjangkan rambutku." Ceplos Naruto polos, niatnya hanya ingin membantu Sasuke agar pernikahannya tidak dilakukan terburu-buru seperti itu.
"Ya betul!" dukung Sasuke mantap.
"Gyahahahaha…. Apa kalian lupa? Uchiha dapat melakukan segalanya dan memiliki banyak uang. Kalian tidak perlu khawatir tentang persiapan, serahkan saja pada ibu dan ayah. Satu lagi Naruto-chan, kau bisa memakai rambut palsu yang sangat mahal dan bagus, aku akan mempersiapkannya." Jelas Mikoto sambil memberi kerlingan pada Naruto karena gemasnya.
"Mikoto aku baru ingat sesuatu." Tiba-tiba saja raut wajah Fugaku berubah menjadi cemas.
"Apa sayang?"
"3 ada acara, berbenturan dengan acara itu pasti sangat merepotkan. Sasuke dan Naruto tidak bisa menikah 3 hari lagi."
Fuuuuuuuuuuuuuh. Sasuke dan Naruto sangat lega mendengarnya.
"Ah kalau begitu kalian akan menikah lusa." Ucap Mikoto memberikan keputusan akhirnya.
"AAAAAAAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaa….?" Sasuke dan Naruto, keduanya saling bertatapan tak percaya.
-tbc-
Mind for review? Sekalian kritik dan saran yah.. Arigatoou gozaimasu *kiseu satu1*
