Doesn't simple
Jungkook tahu ini tidak akan berjalan sesederhana itu. Mungkin jalannya akan banyak kerikil, atau justru akan halus tapi licin. Atau mungkin akan benar-benar buntu tidak dapat ia lewati. Vkook. Taekook.
Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung.
...
Jungkook mematung, tidak berhenti mengalihkan pandangannya pada laki-laki muda yang muncul di depan pintu rumahnya. Otaknya mengirim berjuta-juta sinyal yang membuat efek bunga-bunga sakura menjatuhinya. Begitu indah.
"Jungkook." Mama melambaikan tangannya di depan wajah Jungkook. Menyadarkan putranya dari lamunan indah yang tengah ia nikmati.
"A-ah iya Mom?" Jungkook tergagap lucu. Semburat merah jambu tergambar dipipi chubbynya. Mengingat dirinya baru saja terpesona pada seseorang yang tadinya ia tolak mentah-mentah untuk dijodohkan dengannya. Malu sekali.
"Masuk dulu yuk, nak Taehyung ayo masuk." Mama mempersilakan Taehyung masuk. Jungkook sedikit bergeser memberi jalan pria yang Mama Panggil Taehyung tadi. Jungkook mengikuti dari belakang.
"Jungkook temani Taehyung ya, Mama buatkan minum dulu." Jungkook mengangguk patuh. Tidak tahu kenapa, Jungkook juga tidak berani bersuara. Dirinya menimang apakah menjaga image perlu dilakukan saat-saat seperti ini? Apa dirinya harus bersikap cool atau manis. Entahlah.
Canggung sekali.
Keduanya tidak ada yang bicara. Jungkook sendiri tidak tahu mau bicara apa. Dia tidak mengenal pria di hadapannya ini, jadi tidak tahu harus mulai dari mana untuk mencairkan suasana.
"Eum Taehyung-ssi." Pihak yang dipanggil menoleh, melekatkan netra pada yang mengajak bicara.
"Ya?" Suaranya berat sekali. Batin Jungkook.
"Maaf sebelumnya, kalau aku lancang. Aku bertanya karena penasaran saja. Apakah kau tidak keberatan dipaksa berkenalan denganku?" Jungkook menunggu, begitu penasaran. Maksudnya Taehyung itu pemuda tampan dan sepertinya tidak mungkin kalau tidak punya pacar kan? Kenapa dia mau saja dikenalkan padanya.
Tapi mungkin saja sih. Aku juga tampan tapi belum punya pacar. Aku juga menurut saja pada Mama untuk dijodohkan.
"Tidak. Eommaku bilang kau anak yang baik." Jungkook merengut bingung. Nonsense sekali, Ibunya saja belum pernah bertemu dengan Jungkook bagaimana bisa dia bilang Jungkook orang baik?
"Tapikan..." Ucapannya terpotong. Mama datang dengan dua buah gelas minuman dan beberapa camilan.
"Silakan diminum Taehyung-ah." Jungkook bisa lihat Taehyung mengangguk, bibirnya juga menggumamkan terimakasih pada Mama.
Mama sedikit melirik Jungkook memberi tatapan seolah menyuruh Jungkook menjaga sikap.
Jungkook berdecih.
"Mama tinggal ya, kalian bisa ngobrol dulu." Mama sudah akan melangkah sebelum Taehyung menyela.
"Ah maaf tante, bisakah aku membawa Jungkook keluar nanti?" Mama tersenyum.
"Tentu saja. Taehyung panggil Mama saja. Seperti Jungkook." Taehyung mengangguk lagi.
...
Jungkook tahu satu hal. Bahwa pria bernama Taehyung ini adalah seseorang yang sangat dingin. Sejak tadi mereka hanya diam di dalam mobil. Jungkook sudah coba untuk bicara tapi Taehyung ini hanya menanggapinya dengan kata-kata singkat atau bahkan hanya gumaman saja. Membuat Jungkook menyerah untuk memulai pembicaraan lebih awal.
Jadi sekarang Jungkook juga memilih diam. Masa bodoh jika dia akan mati bosan karena didiamkan seperti ini.
"Kita ke kampus ku dulu ya. Aku ada sedikit urusan. Tidak keberatan kan?" Taehyung menanyai Jungkook tanpa mengalihkan atensi dari jalanan. Seolah jalanan di depan sana lebih menarik dari Jungkook.
"Ya, tidak apa-apa." Jungkook menjawab seadanya.
"Aku jurusan sastra." Aku tidak tanya. "Kalau Jungkook?" Kau tidak perlu tahu. Jungkook tidak berhenti membatin. Dirinya masih kesal karena pria itu sempat mengabaikan Jungkook tadi.
"Jungkook-ssi?"
"Apa?" Tanya Jungkook pura-pura bodoh. "Kau kuliah jurusan apa?" Lihat saja dia bertanya masih tanpa melihat ke arah Jungkook.
Jungkook memejamkan mata sejenak, menahan gejolak emosi yang mungkin saja akan meledak sewaktu-waktu. "Aku jurusan seni." Pria itu menjawab dengan 'oh' singkat. Lalu hening kembali.
"Tunggu dulu, ini daerah kampusku." Jungkook sedikit terkejut saat mobil mereka memasuki area kampus yang familiar. Dirinya terlalu kesal mungkin sampai tidak menyadari bahwa dia melewati jalanan ke arah kampunya.
"Benarkah? Ini juga kampusku." Jungkook melongo.
Jadi aku dan dia satu universitas. Luar biasa.
"Aku tidak tahu harus komentar apa." Kata Jungkook. Taehyung hanya tersenyum miring. Bagaimana pria ini bisa begini santai dan dingin. Pikir Jungkook.
Taehyung memarkirkan mobilnya. Membuka seatbelt dan keluar dari mobil tergesa tanpa mengucapkan apapun pada Jungkook. Pria itu bahkan meninggalkan Jungkook di dalam mobil yang membatu kebingungan. Jungkook membuka seatbeltnya kesal. Turun dari mobil tanpa tujuan jelas. Terserah Taehyung itu ada urusan apa di kampus tapi bisa lah bilang Jungkook dia mau kemana. Toh pria itu juga yang menculiknya sampai disini.
Tidak menculik juga sih karena dia sudah minta izin Mama.
Lalu dari kejauhan Jungkook melihat Taehyung, berjalan beriringan dengan laki-laki mungil yang manis. Makin dekat, dan makin dekat.
"Ah maaf meninggalkanmu tiba-tiba." Jungkook mengangguk maklum walau hatinya kesal bukan main.
"Kenalkan ini Jimin. Park Jimin. Kekasihku."
Tunggu. Kekasih? Pacar? Taehyung punya pacar?
"Taehyung-ssi tapi aku.." Jungkook sudah akan melayangkan protes tapi Taehyung menyela, memberi gesture pada Jungkook agar pemuda itu menunggu.
"Nanti aku jelaskan. Tidak keberatan kan kalau aku memgantar Jimin pulang dulu?" Jungkook diam saja. Hatinya sudah panas bukan main.
Tbc...
Dilanjut
Aku menjadi tidak terlalu peduli dengan seberapa banyak yang minat
Aku akan punya banyak waktu luang karena liburan jadi tidak papa lah buat ngisi waktu.
Entah kalian suka atau tidak.
Entah akan kalian baca atau tidak.
Entah akan kalian review atau tidak.
I'll do anything i want to do.
