Sumarry : Harry mengetahui bahwa dirinya berbeda dari sepupunya, Dudley. Ia mengetahuinya sejak dirinya berusia 4 tahun dan dengan pengetahuan itu, ia terus mencari tahu apa saja yang bisa ia lakukan dengan kemampuan anehnya dan bertahan hidup dengan kekejaman paman nya. Hingga pada suatu hari, seorang pria datang dan mengaku bahwa ia adalah seorang penyihir.

Warning : Gray!Harry, Slytherin!Harry, Draco-And-Harry-Are-Friends, Good!Severus, Evil!Dumbledore, Good!TomRiddle/Voldemort, No-Pairing, Fake-Prophecy, Semi-Canon, Semi-AU, Harry-Can-Do-A-Wandless-Magic-But-Not-Too-Much-Yet, Probably-Will-Be-The-Next-Dark-Lord, Bahasa Campur ( Indonesia dan English), TYPO's

A/N : Severus disini akan menjadi ayah angkat Harry secara sah menurut hukum (yey!) Sirius tetap jadi Godfather nya Harry, Remus dan Sirius? Well, seperti biasa, mereka jadi uncle favorit Harry dan disini Harry akan ganti nama menjadi Harrison Snape pas sudah sah jadi anak angkat nya yah, disini Albus Dumbledore nya yang jahat, tapi ga berarti Voldemort tiba-tiba jadi baik dan penuh kasih sayang gitu, Voldemort, hm.. lihat saja yah bagiannya nanti disini heheh..

Dan untuk fanfic ini, akan kucoba update dua minggu sekali ya

Kalau ada saran dan kritik (kritik ya, bukan flame) kasih tau aja oke karena saya masih baru di fandom HP

Balasan Review : (Saya cukup senang melihat respon2 positif di chapter pertama fic ini )

takaakaime : sebenernya sih ini di fic ini Harry/Harrison Gray, karena beberapa alasan yang akan anda temukan di chapter2 berikutnya hehe.. thank you for being my first reviewer!

Jhena-chan : Dari dulu dia memang nice, Cuma sayangnya si Sev shy-shy cat XD

Shiera Nafatu Lya : Ini sudah update, ditunggu reviewnya yaa

Gery O Donut : Thank you so much! Hehe, lihat saja di chapter ini :D keep writing? Always XD and salam donut juga! :D

Ren Afrezya : Ini sudah di update, silahkan di RnR

Helena : momen gabut itu emg paling ga enak :v tp semoga km ska sama kelanjutan-kelanjutan dari fic ini hehe

...

"Avada Kedavra! " – Normal Speak

"Avada Kedavra! " – Parseltongue

"Avada Kedavra! " Beast/Magical Creatures Speaking and Spells/Charms/Curses

'Avada Kedavra!' Thoughts/dialog dalam hati

Chapter Two : Harrison Snape

Sudah tiga hari Harry tidak sadarkan diri semenjak Severus membawanya pergi dari Privet Drive. Entah mengapa hal ini membuat pikiran Severus tidak terlalu tenang beberapa hari ini. Severus tidak pernah memikirkan hal-hal lain selama ia mengajar di Hogwarts. Ia biasanya dengan mudah langsung menyingkirkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya mengajar sebagai profesor di Hogwarts.

Walaupun bila ia sedang memiliki banyak hal dan masalah yang perlu di cemaskan, sikap dan pembawaan Severus yang dingin dan tenang itu tidak pernah meninggalkan wajahnya. Jelas seluruh siswa dari tahun pertama sampai tahun ketujuh tidak ada yang berani macam-macam atau bertindak tidak sopan di depan Severus.

Statusnya sebagai profesor paling killer di Hogwarts itu bukan hanya isapan jempol belaka.

Karena itulah ia tidak disukai oleh mayoritas siswa-siswi di Hogwarts, kecuali ular-ular kecilnya itu. Tapi yah, itu bukan masalah besar.

Severus terus berjalan menuju Hospital Wing dengan tangan nya yang memegang sebuah tas yang terbuat dari kayu dan berbentuk persegi. Di dalam tas itu, terdapat beberapa botol ramuan dan ada juga yang ia telah bagi-bagi dalam tabung kecil yang berperan sebagai ukuran dosis jika ada murid tertentu yang harus mengkonsumsi salah satu ramuan buatan Severus di Hospital Wing dengan ukuran dosis tertentu.

"Severus! Kebetulan kau sudah datang. Mr. Potter baru saja bangun dan ia baru saja menanyakan tentangmu. " Kata Madam Pomfrey tersenyum kecil yang membuat Severus menaikkan sebelah alisnya.

Anak itu menanyakan tentang dirinya? Untuk apa?

Severus hanya mendengus geli dan dengan wajah tanpa ekspresi apapun ia kembali berjalan menuju anak berumur sebelas tahun yang kelihatannya sengaja mengalihkan perhatiannya dari melihat dirinya, entah apapun alasan bocah itu. Dan menurutnya, Harry juga terlihat seperti berusaha mencari jalan keluar untuk kabur jika tempat dimana ia berada itu berbahaya.

"Severus, aku pamit dulu. Ada hal penting yang harus ku kerjakan. Semua pemerksaanku tentang Harry ada di papan itu. Aku akan kembali dalam 20 menit karena banyak sekali hal yang harus kubicarakan denganmu tentang kondisi Harry." Ucapnya dengan nada khawatir di akhir kalimatnya dan dengan itu Poppy pergi meninggalkan Severus yang merasa penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Poppy tentang kondisi Harry.

Dari ekspresi Poppy saja Severus sudah menduga bahwa kondisi Harry kemungkinan besar akan jauh lebih buruk dari dugaannya. Severus teringat akan perlakuan paus gemuk itu pada Harry saat ia menjemputnya di Privet Drive dan di detik itu juga Severus memilih untuk mencoba menepis kenangan buruk antara dirinya dan James Potter dan menyelamatkan anak itu dari nasib yang sama yang pernah ia lalui saat masih kecil.

Ia tidak pernah mencintai ayah kandungnya itu, tetapi ia mencintai ibunya dan ayah angkatnya. Pernah saat kecil ia berkata pada ayah angkatnya bahwa ia berharap jika ayah kandungnya itu adalah dirinya dan bukanlah Tobias Snape. Tetapi ayah angkatnya hanya tersenyum lembut sambil mengatakan bahwa setiap penderitaan yang ia lewati adalah untuk membuat dirinya semakin kuat dan dewasa. Tidak semua penderitaan berakhir buruk-begitulah katanya saat itu.

Severus mengerdipkan kedua matanya beberapa kali saat dirinya sadar bahwa ia tenggelam dalam memori masa lalu nya dan ia maju selangkah sambil berdehem kecil sehingga Harry yang juga tenggelam dalam pemikirannya itu langsung mengarahkan pandangannya pada pria yang ia tahu telah membawanya pergi dari Privet Drive.

Ia masih tidak tahu siapa orang ini dan mengapa ia harus repot-repot membawa dirinya pergi dari Privet Drive padahal pernah bertemu saja tidak.

Satu hal yang pasti. Ia ketakutan saat ini karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak tahu bisa mempercayai pria didepannya ini atau tidak walaupun pria ini membawanya pergi dari Privet Drive.

Harry tidak pernah tumbuh dengan mengetahui apa itu artinya untuk percaya pada seseorang, atau suatu hal yang bisa ia percayai.

Tanpa sadar, Harry mencoba memasuki pikiran Severus dan Severus yang tersentak kaget akan serangan tiba-tiba dari Harry pun langsung mengeluarkan Harry dari pikirannya dengan lembut. Ia tahu bahwa Harry tidak sengaja dan Severus harus menahan rasa ingin tahunya akan bagaimana bisa Harry adalah seorang Legilimens natural-atau setidaknya begitulah buah hasil dari pemikirannya.

Harry tersentak kaget karena baru kali ini ia merasa dirinya terdorong keluar dari pikiran seseorang. Walaupun ia memang tidak sengaja melakukannya, tapi hal ini membuatnya penasaran. Pria ini, siapa dia sebenarnya?

"Bagaimana keadaanmu saat ini, Mr. Potter? " Tanya Severus yang mulai membuka pembicaraan seolah-olah hal yang terjadi 10 detik yang lalu tidak pernah terjadi. Jemarinya membuka perkamen yang diletakan oleh Poppy di meja kecil dekat dengan ranjang pasien yang saat ini tengah digunakan oleh Harry dan ia membaca laporan tentang kondisi Harry yang Poppy telah tuliskan di perkamen ini. Sejauh ini Poppy hanya menuliskan luka-luka yang terlihat di sekujur tubuh Harry.

Severus pun membuka tas nya dan mengeluarkan beberapa botol kecil yang merupakan ramuan Skelegro, Blood-Replenishing, Brush-Healing paste –karena menurut laporan dari Poppy, Poppy menemukan banyak sekali luka memar baru dan lama di sekujur tubuh Harry- dan Sleeping Draught ,karena Harry sering sekali mengiggau setiap malam menurut catatan disini. Tentunya karena perlakuan kasar para muggle tidak tahu diri itu.

"A-aku merasa lebih baik.. sir.. " Kata Harry pelan.

'Ia tidak pandai berbohong..' Pikir Severus menggeleng pelan.

'Lily juga tidak pandai berbohong. Kuharap anak ini lebih menuruni sifat dan karakter Lily daripada si idiot James itu' Pikir Severus.

Sejenak, kesunyian memenuhi ruangan tersebut karena Severus sibuk menyesuaikan dosis ramuan-ramuan yang harus diminum oleh Harry saat ini.

'Dua tulang rusuk patah, berbagai macam luka memar dan bekas luka bakar, malnutrisi karena telah menahan lapar untuk waktu yang lama. Dengan semua ini, mereka masih memaksanya bekerja seperti house-elf. Entah hukuman macam apa yang bisa dipersiapkan oleh Kementrian Sihir untuk orang-orang bodoh seperti Keluagra Dursley. Ciuman dari Dementor kurasa tidak akan cukup untuk menebus semua yang mereka perbuat pada anak ini.' Pikir Severus sambil menghela nafas kesal dan sekilas melirik kearah Harry yang tengah memandangi botol-botol berisi ramuan itu dengan tatapan bingung.

"Mr. Potter, " Severus menatap Harry yang saat ini tengah memandanginya dengan tatapan bingung dan polos dengan sepasang mata hijau indah yang mengingatkan Severus akan Lily. Tapi ekspresi polos di kedua mata itu tiba-tiba hilang dan tergantikan dengan ekspresi takut dan gugup.

"I-iya sir?" Tanya Harry gugup. Apakah pria ini akan marah padanya? Tapi ia tidak tahu apa alasan pria ini akan marah pada dirinya. Apakah ia menyesal telah mengajak nya pergi dari keluarga Dursley?

"Aku ingin kau langsung meminum ramuan ini, " Severus memberikan sebuah tabung kecil dengan cairan berwarna putih didalamnya.

Harry memandang bingung benda ditangan Severus itu.

Ramuan?

"Ini adalah ramuan Skele-gro. Ramuan ini akan memperbaiki tulang-tulangmu yang sudah lama tidak dirawat itu. Lalu aku ingin kau minum yang ini setelah kau minum Skele-gro. Kuperingatkan kau untuk langsung menegaknya sampai habis karena aku yakn seratus persen, kau tidak akan menyukai rasanya. " Ujarnya sembari mengambil ramuan Blood-Replenishing, dan Brush-Healing paste juga Sleeping Draught.

Harry mengambil tabung kecil dengan cairan berwarna putih itu dengan cepat dan meneguknya sembari memejamkan kedua matanya dengan erat. Rasa nya itu benar-benar tidak enak seperti yang dikatakan Severus. Tetapi ini adalah pertama kalinya ia meminum obat, atau Ramuan menurut Severus. Entah mengapa walaupun ia meminum obat yang rasanya sangat tidak enak, ia merasa senang.

Severus peduli padanya bukan? Apakah Severus mengenal siapa dirinya? Apakah kemungkinan Severus mengenal orang tuanya? Tetapi jika Severus benar-benar mengetahua siapa dirinya dan siapa orang tuanya, mengapa ia harus menunggu sebelas tahun sebelum akhirnya ia bisa menjemput dirinya keluar dari lubang neraka itu?

Berbagai macam emosi memenuhi hati dan pikiran Harry. Ia tidak tahu harus merasa apa dan sepertinya ia ingin tidur saja sekarang. Tetapi ia memiliki beberapa ramuan yang harus ia minum sekarang. Dan jika ia ingin tidur cepat, ia harus menghabiskan semua ramuan itu walaupun rasanya sangat tidak enak.

Dan ia harus mencoba memikirkan semua hal ini dengan pelan-pelan. Jika tidak, ia takut akan melewatkan suatu hal yang penting tentang semua kejadian ini.

Severus hanya diam sembari memberikan Harry beberapa ramuan yang harus ia minum dalam kesunyian yang ia suka I itu sebelum akhirnya kesunyiannya terganggu oleh suara langkah kaki dan ia tahu bahwa yang datang adalah Albus.

"Severus, terima kasih telah membantu memulihkan pahlawan kecil kita ini. Harry, my boy, bagaimana keadaanmu saat ini? " Tanya Albus sambil memberikan senyuman seolah-olah ia adalah kakek kandung Harry.

Harry menatap pria tua di depannya itu dengan tatapan meneliti untuk sejenak dan juga penasaran.

Pahlawan kecil mereka? Dirinya? Apa maksud dari pria tua ini sebenarnya. Ia tidak pernah menyelamatkan siapa-siapa seumur hidupnya karena ia terkurung di rumah paman nya yang ia benci itu bersama istrinya dan putranya yang gemuk seperti babi itu.

"A-aku merasa lebih baik saat ini, sir. Aku juga berterima kasih kepada nyonya perawat tadi dan juga atas bantuan diri anda, Mr. Severus. Dan juga atas keramahan anda, sir " Ucap Harry sesopan mungkin.

Ia tidak begitu yakin jika yang ia baru saja ucapkan sebagai ucapan terima kasih itu cukup sopan atau tidak, mengingat keluarga paman nya itu tidak pernah mau repot-repot mengajarinya apapun.

"Tidak masalah, Harry. Aku yakin saat ini kau pasti penasaran tentang apa yang terjadi. Tetapi kau butuh istirahat dan aku akan menjawab semua pertanyaan mu besok. Sementara ini, Severus akan menjagamu hingga sekolah buka kembali di bulan September nanti dan jika kau sudah lebih baik, Severus akan menemanimu ke Diagon Alley untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan untuk sekolahmu di bulan September ini." Jelas Albus yang masih tetap mempertahankan senyumannya.

Severus menatap tajam Albus di sebelahnya.

"Kau menitipkan anak dari orang yang kubenci padaku, Albus? Kau sudah gila ya?" Desis Severus tajam dekat telinga Albus dan Albus hanya menatap Severus dengan senyuman khasnya itu.

Ugh, demi Merlin! Ia benci melihat senyum sok polos yang diberikan oleh Dumbledore itu.

"Severus, dia adalah putra dari Lily juga. Aku tahu kau membenci James, tetapi kurasa kau bisa memberikan kesempatan pada Harry kecil ini. Dia tidak tahu siapa orang tuanya dan orang yang ia kenal hanyalah dirimu saat ini." Ujar Albus pelan di dekat telinga Severus agar Harry tidak mendengar apa yang mereka katakan untuk saat ini. Sayangnya kedua pria itu tidak tahu kalau pendengaran Harry cukup tajam dan ia menyimpan dua nama yang telah dilontarkan oleh Albus. Lily dan James.

Dan seketika, Harry teringat oleh sebuah memori dimana Petunia kecil selalu merasa iri dan kecewa dengan anak perempuan berambut merah panjang yang selalu pergi di awal bulan September. Ia ingat ia melihat sepucuk surat dengan kertas yang terlihat seperti kertas itu sudah berusia ratusan tahun.

'Apa mungkin.. gadis berambut merah itu ada hubungannya dengan kedua orang ini? ' Pikir Harry.

Harry tahu bahwa seharusnya ia tidak memikirkan hal yang berat seperti ini. Tetapi memang beginilah Harry saat ia menemukan sebuah misteri yang harus ia pecahkan, namun semua hal yang ia ingin pecahkan itu belum bisa ia pecahkan-seperti saat ia mengetahui bahwa dia bisa berkomunikasi dengan seekor ular- karena Harry merasa ada satu potong puzzle yang menjadi kunci dari lengkapnya gambar puzzle yang ingin ia lengkapi.

Tiba-tiba Harry tersentak kaget saat ia merasa ada tangan yang memegang pundaknya dan ternyata yang memegangnya ialah pria tua itu. Harry menghela nafas lega karena ia hampir mengira pria itu adalah Uncle Vernon dan semua yang di lihatnya hanyalah mimpi.

"Harry, kau tidak apa-apa? Kau terlihat memikirkan sesuatu hingga kau tidak bergeming saat aku memanggilmu." Tanya Albus khawatir.

Harry menggeleng pelan, "Ah, aku tidak apa-apa, aku masih mengira semua ini adalah mimpi." Jawab Harry. Albus mengangguk dan ia menjentikkan jarinya sampai akhirnya seorang House-elf mucul dari ketiadaan. Harry yang melihat hal ini hanya bisa membulatkan sepasang mata emerald hijaunya lebar.

Mahkluk apa itu?

"Sandy, aku ingin kau bawakan satu set makan malam yang masih hangat untuk Mr. Potter." Perintah Albus.

"Sandy mengerti! Sandy akan bawakan satu set makan malam yang masih hangat sesuat perintah Master Albus untuk Master Harry Potter Sir! " Dan dengan itu Sandy menghilang dalam sekejap dan Harry masih mempertahankan ekspresi yang sama.

"Apakah ini adalah hal yang dinamakan.. sihir? " Harry ingat bahwa ia melihat memori dimana Petunia berkelahi dengan gadis berambut merah itu dan mengatai nya freak karena wanita itu memiliki sihir. Harry masih belum bisa melihat-lihat banyak memori dari Petunia karena wanita itu jadi cukup jarang di rumah karena Petunia sibuk menghabiskan uangnya dengan berbelanja bersama teman-temannya itu.

Severus dan Albus memandang satu sama lain sebelum akhirnya Albus menjelaskan semua hal yang memang harus diketahui Harry tentang sihir dan identitasnya sebagai penyihir sementara Harry menikmati makan malamnya hingga pada saat Albus ingin mengatakan tentang ramalan yang menjadi takdir dari Harry untuk mengalahkan penyihir kejam bernama Voldemort, Severus menghentikannya.

"Kupikir Mr. Potter sudah terlalu lelah atas semua pembicaraan ini, Profesor Dumbledore. Mungkin kau harus melanjutkannya di lain waktu." Walaupun ia masih tidak menyukai Harry, tetapi ia tahu pasti rasanya berada di posisi Harry dan Albus mengharapkan anak itu akan mengerti posisinya dan takdirnya hanya dalam waktu satu malam?

'Tch! Kenapa aku harus menyela Dumbledore untuk melanjutkan perkataanya? Aku tidak peduli dengan anak itu.' Batin Severus.

"Hmm.. kau benar Severus. Baiklah, bagaimana kalau kau istirahat kembali dan kita akan lanjutkan pembicaraan kita lain waktu, Harry? " Harry hanya mengangguk saja mendengarnya. Ia memang sudah mengantuk dan ia hanya mendengarkan sebagian dari apa yang pria tua itu katakan. Tetapi tentunya ia sudah tahu bahwa saat ini ia berada di dunia para penyihir dan ia sendiri juga adalah penyihir.

Harry tidak tahu apakan pria tua itu sempat menyebutkan tentang orang tuanya atau tidak karena Harry sudah terlalu lelah dan begitu banyak hal yang harus ia pikirkan.

"Dan satu hal lagi, aku ingin kau menjaga Harry, Severus. Maksudku, aku ingin Harry tinggal dengan dirimu hingga ia mulai sekolah karena hanya kau orang yang bisa ku percaya." Ucapnya dan hal itu membuat Severus kaget bercampur kesal.

Albus memang gila, kira-kira begitulah pemikirannya.

Severus menatap Albus dengan tatapan datar, "Kalau begitu, biarkan Potter yang menentukan jika ia ingin tinggal didalam ruangan yang berlokasi di bawah tanah dengan lorong gelap yang lembab, Albus. Aku yakin ia akan berpikir dua kali dan memintamu untuk mencarikan tempat yang bagus untuk dirinya tinggal." Namun entah mengapa Severus menjadi tidak terlalu yakin seratus persen dengan kalimat yang baru saja ia lempar pada Albus.

"Baiklah." Jawab Albus sembari tersenyum dengan nada yakin saat ia menyetujui saran Severus.

Kemudian Albus kembali mengalihkan perhatiannya kepada Harry dan setelahnya ia berjalan keluar dari Hospital Wing. Severus menghela nafas lelah setelah Albus pergi.

Severus pun menyuruh Harry untuk tidur dan dengan senang hati Harry langsung mengambil posisi tidur sebelum menyampaikan rasa terima kasih nya dengan memeluk Severus dengan tangan kecilnya dan hal itu membuat Severus membeku di tempat untuk beberapa saat hingga ia sadar bahwa pelukan kecil dari Harry telah hilang entah kemana dan digantikan dengan pemandangan Harry yang terlelap.

Severus memijat batang hidungnya sembari kembali menghela nafas. Apa mungkin ia mulai menjadi agak.. lembut?

'Merlin, mengapa anak ini tiba-tiba memelukku seperti itu?' Batin Severus agak frustasi. Ditambah Poppy yang tidak muncul-muncul.

Mungkin saja Poppy lupa sehingga akhirnya Severus pergi dari Hospital Wing, namun belum selangkah ia beranjak, ia mendengar Harry bergumam didalam tidurnya. Pastinya mimpi buruk.

"Mom.. Dad.. kumohon.. bawa aku.. pergi.. dari sini.. " Harry mengigau dan Severus membeku mendengar kalimat dari igauan Harry. Namun kemudian, ia berpikir, mengapa Harry bisa mengigau padahal ia sudah memberikan Sleeping Draught Potion padanya tadi?

Severus pun dengan segan mengusap rambut hitam berantakan Harry dan Harry pun bergerak sejenak untuk mencari posisi nyaman dalam tidur lelap nya hingga ia menemukan posisi yang tepat untuk kembali melanjutkan tidurnya. Severus pun menarik selimut itu hingga mencapai batas pundak Harry dan ia pergi dari Hospital Wing untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedari tadi tertunda itu.

'Sepertinya aku benar-benar mulai menjadi lembut. ' Pikir Severus.

Skip Time : Three Weeks Later

Dalam tiga minggu yang cukup cepat berlalu, kesehatan Harry semakin membaik berkat Poppy dan ramuan dari Severus, juga kerja sama dari Harry yang mau meminum ramuan yang diperintahkan oleh Severus untuk diminum dengan tekun, walaupun rasanya benar-benar ingin membuatnya muntah.

Hingga pada akhirnya Severus membawa Harry menuju perpustakaan dimana Harry bisa menunggu dan melepas rasa bosannya selama Severus mempersiapkan bahan mengajar untuk tahun ajaran baru yang akan datang. Dan hampir setiap hari selama dua minggu berturut-turut Harry menghabiskan waktunya di perpustakaan setelah ia di perbolehkan keluar dari Hospital Wing oleh Madam Pomfrey.

Harry telah mempelajari banyak hal dari dunia barunya itu berkat buku-buku yang ia baca dari perpustakaan Hogwarts. Ia benar-benar kagum saat mengetahui sihir itu.

Ia juga baru mengetahui kalau kemampuannya menggerakan benda itu dinamakan Wandless Magic dimana seorang penyihir tidak membutuhkan tongkat sihirnya untuk melakukan apapun yang ia kehendaki.

Lalu kemampuannya memasuki pikiran seseorang dan melihat memori-memori mereka, Severus memberitahunya kalau itu adalah Seni Legilimency. Dan menurut Severus, dirinya adalah seorang natural di seni legilimency ini karena tidak semua orang natural dalam seni Legilimency dan Occlumency.

Dan dalam waktu tiga minggu ini, Harry bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa Severus, atau yang ia panggil Uncle Sev adalah orang yang dapat dipercaya olehnya seratus persen. Ia tahu Severus adalah orang yang dingin dan menyukai bila privasinya tak terganggu. Tetapi di suatu malam saat Harry bertanya apakah Severus mengenal orang tuanya atau tidak dan Severus menjawab bahwa ia mengetahui mereka, Harry memohon agar Severus mau menceritakan itu padanya agar ia tahu bila mereka mencintainya atau tidak seperti yang dikatakan oleh bibinya.

Dan setelah Severus menceritakan semuanya, setelah beberapa kali Harry memohon pada Potions Master itu tentunya, Harry terdiam dan melangkah menuju kamarnya dengan wajah tanpa emosi yang ternyata tanpa sepengetahuannya membuat Severus khawatir dan Severus mengikutinya saat ia gagal untuk mencoba tidak terlalu peduli pada Harry.

Di kamarnya yang berada di lantai atas, Harry menangis dalam diam. Uncle Vernon mengatakan bahwa menangis adalah sebuah kelemahan, namun Harry tidak bisa menahan air mata yang dengan keras kepala terus menerus keluar dari pelupuk matanya. Dan seketika ia merasakan sepasang tangan yang memegang pundaknya dengan lembut.

Severus memandang Harry yang menangis dalam diam itu tanpa berkata apapun. Harry dengan ragu bersandar di dada Severus dan Severus pun memeluk Harry hingga pada akhirnya Harry menangis tersedu-sedu karena semua rasa sakit yang telah ia rasakan selama ini, ditambah dengan berita kematian kedua orang tuanya yang ternyata terbunuh walaupun Severus masih belum mau memberitahu siapa pembunuhnya.

Harry pun menangis hingga ia tertidur dan keesokan paginya Severus bersikap.. lebih lembut terhadapnya dan mengizinkannya memanggilnya dengan panggilan Uncle Sev dan Severus bilang, dalam beberapa hari ia akan mengajaknya ke suatu tempat. Namun ia harus mendapatkan izin dulu dari Kepala Sekolah. Harry hanya mengangguk saja karena ia tidak tahu kemana ia akan dibawa pergi oleh Severus, tetapi ia sempat ragu dan berbagai pikiran negatif pun memenuhi pikiran Harry akan berbagai kemungkinan kemana Severus mengajaknya pergi.

"Tunggu.. kau bilang apa barusan, Severus?" Tanya Albus sembari menatap Severus dengan tatapan penuh fokus. Ia tidak yakin dengan apa yang barusan ia dengar.

Severus menghela nafas akan kelakuan sang kepala sekolah didepannya ini.

"Kuulangi sekali lagi, aku bersedia mengasuhnya.. mengadopsi nya lebih tepatnya. Dia akan kujadikan anakku dan aku akan membawanya ke Kementrian Sihir untuk melakukan ritual Blood Adoption." Kata Severus.

Dumbledore terdiam untuk sejenak lalu seketika muncul sebuah senyuman diwajahnya.

'Senyuman itu.. selalu mengartikan beberapa hal tak terduga..' Batin Severus.

"Astaga Severus! Aku tidak menyangka kau akan bersedia mengadposi Harry! Apa yang terjadi padamu dan Harry selama tiga minggu ini? " Tanyanya sembari menikmati lemon drop nya kembali.

"Hanya sedikit saling mengenal satu sama lain dan anak itu mengingatkanku pada Lily akan banyak hal. Well, dia memang tidak seperti James seperti yang kau katakan. Jadi, aku bersedia untuk mengadopsinya. " Jawab Severus.

Dumbledore mengangguk pelan sembari mengusap janggut putih panjangnya perlahan.

"Begitu rupanya. Baiklah, kalau begitu aku akan membantu mempersiapkan dokumen-dokumen yang harus dibawa dan siapa saksi yang akan kau pilih untuk ritual itu? Setidaknya harus ada dua orang yang menjadi saksi dan jika boleh, aku akan menjadi saksi pertama untuk ritual itu." Ucap nya sembari mengajukan diri.

Severus hanya diam sebelum akhirnya ia memberikan sebuah nama untuk menjadi saksi kedua.

"Lucius Malfoy."

Harry yang sedang membaca buku di perpustakaan pun menoleh seketika saat ia mendengar suara langkah kaki yang ia sudah kenal. Severus sudah datang menjemputnya untuk kembali menuju ruangan mereka yang berada di bawah tanah itu. Entah mengapa walaupun kelihatannya menyeramkan dan terlalu dingin, Harry menyukainya.

"Uncle Sev!" Harry terlihat begitu senang melihat dirinya kembali. Ia jadi teringat akan perkataan Poppy tentang kondisi mental Harry yang sangat parah. Tentu saja, selama sebelas tahun ia tidak pernah mengenal rasa kasih sayang dan bagaimana mempercayai seseorang atau memilah mana orang yang bisa dipercaya dan mana yang tidak, juga masih banyak lagi. Mengingat hal ini membuat tangan Severus mengepal agar ia tidak ber-Apparate menuju Privet Drive dan membunuh mereka dengan mantra Avada Kedavra.

"Harry, aku ingin kau tidur lebih awal karena besok kita akan cukup sibuk." Kata Severus. Harry mengangguk paham mendengarnya, namun sebelum ia beranjak bangun dari posisi tengkurapnya, ia bertanya.

"Jika boleh tahu, besok kita akan pergi kemana, Uncle Sev?" Tanya Harry yang masih agak takut dan malu-malu. Severus hanya menatapnya sebentar dan hal itu membuat Harry gugup. Kemudian Severus menjawab pertanyaannya.

"Besok kita akan mengurusi pengadopsianmu agar kau bisa tinggal secara permanen denganku di Kementrian Sihir dan juga-.." Belum selesai Severus menjelaskan destinasi mereka besok, ia merasakan sebuah pelukan erat dan melihat Harry memeluknya sembari menangis dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

Severus sempat bingung dengan perlakuan Harry, akan tetapi ia teringat akan perkataan Poppy soal masalah Harry yang masih tidak mengerti apa itu rasa kasih sayang dan sebagainya. Severus pun menepuk pelan pundak Harry hingga akhirnya Harry berhenti menangis.

"Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya," Severus berdehem sebentar. "Aku akan mengadopsimu dan menjadikanmu putraku. Tetapi jika aku ingin mengadposimu, aku harus memberikanmu nama keluargaku, dan sebenarnya aku ingin mengganti nama Harry-mu itu dengan nama lain, itu pun jika kau tidak masalah."

Tanpa berbicara apa-apa, Harry mengangguk semangat. Bukan masalah besar bila Severus ingin mengganti namanya, yang penting akhirnya ada seseorang yang tidak menganggapnya aneh, yang mau memberikannya tempat bernaung, makanan dan pakaian yang layak, dan yang terpenting, mulai memberitahunya seperti apa rasanya diperhatikan dan diberikan kasih sayang, tak masalah apapun latar belakangnya.

Skip Time

Harry memandang kagum saat mereka sampai di gedung kementrian yang terlihat megah itu dan disaat ia melihat banyak orang yang keluar dari perapian yang memiliki api hijau didalamnya itu.

'Itukah Floo? Tampak keren..' Pikir Harry saat ia mengenali cara keluar para penyihir-penyihir itu dari buku yang ia baca di perpustakaan Hogwarts. Saat ini Harry bersama rombongan kecilnya yang terdiri dari Severus, Dumbledore dan seorang pria dengan pakaian serba hitam rapi bernama Lucius memasuki sebuah ruangan setelah sebelumnya mereka menggunakan lift hingga akhirnya mereka bertemu dengan seorang pria yang merupakan Menteri Utama di dunia sihir, Cornelius Fudge.

"Harry, beri salam padanya. Namanya adalah Cornelius Fudge dan dia adalah menteri utama di dunia sihir." Kata Severus pada Harry dan Harry pun langsung menjalankan perintah Severus.

"Salam kenal, Sir. Nama saya Harry Potter, uh.. senang bertemu dengan anda." Kata Harry dengan nada pelan karena gugup dan malu-malu. Tak disangka, Fudge hanya tertawa pelan sambil memperkenalkan dirinya juga dan mengacak pelan rambut Harry. Harry merasa sebal saat rambutnya semakin berantakan dikarenakan ulah Fudge.

Akhirnya keempat orang dewasa itu duduk dan memperbincangkan banyak hal yang Harry tidak terlalu mengerti dan Harry hanya duduk merapat dekat Severus dan memandang meja didepannya dengan rasa gugup dan senang yang bercampur menjadi satu.

Tak lama, seorang wanita dengan pakaian berwarna serba merah muda masuk kedalam ruangan tersebut dan membawa sebuah gulungan perkamen yang diletakkan di tengah-tengah meja. Fudge pun memulai ritual tersebut dengan beberapa kalimat aneh yang ia tidak mengerti dan disertai dengan beberapa lambaian tongkat sihirnya sebelum akhirnya ia menatap Harry dan memberikan sebuah pertanyaan apabila ia bersedia menerima Severus Snape sebagai ayah angkatnya dan tanpa paksaan dari pihak luar manapun.

Dan dengan semangat Harry menjawabnya dengan Yes, dan Fudge menanyakan hal yang sama pada Severus yang tentu dijawab dengan Yes. Perkamen tersebut terbuka dengan sendirinya dan terlihat dua bagian yang harus diberikan tetesan darah oleh Harry dan Severus.

"Apakah kau ingin mengganti nama Mr. Potter sebelum kita mengikat perjanjian adopsi ini dengan darah kalian?" Tanya Fudge.

Severus mengangguk, "Aku dan Harry setuju untuk mengganti namanya menjadi Harrison Severus Snape, Harrison Snape." Dan seketika keluarlah tulisan " Harrison Snape " di perkamen tersebut dan keduanya membubuhkan setetes darah mereka dan perkamen itu berkilau sejenak sebelum akhirnya cahaya itu meredup.

"Dengan ini, kalian berdua telah sah menjadi ayah dan anak, selamat untuk kalian, Severus Snape dan Harrison Snape. " Kata Fudge sambil tersenyum dan menjabat tangan keempat tamunya itu sebelum keempatnya pergi dari kantornya.

Sepanjang jalan, Harrison tersenyum senang sembari menggandeng tangan ayah barunya ini. Kemudian ia menoleh kearah Severus yang mengajaknya berhenti dan ternyata Uncle Lucius yang harus kembali bekerja di Kementrian dan memberi ucapan selamat kepada mereka berdua.

Dumbledore pun langsung pergi kembali menuju Hogwarts saat Severus bilang bahwa ia dan Harrison harus pergi ke Diagon Alley untuk membeli kebutuhan-kebutuhan Harrison.

"Em.. apa boleh aku memanggilmu dengan panggilan Dad sekarang?" Tanya Harrison ragu. Severus hanya memandang putra nya ini sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil.

"Memangnya aku pernah melarangmu memanggilku Dad, Harrison? Tentu saja kau boleh. Kau ini adalah putraku." Sontak Harrison kembali memeluk Severus dan Severus berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Harrison karena mereka tengah berada di tengah-tengah keramaian dan Severus tidak ingin image nya yang telah dibangun bertahun-tahun hancur hanya karena sebuah pelukan.

"Dad!" Panggil Harrison dengan ekspresi bahagia di tengah-tengah tangisan bahagianya itu.

Severus menatap Harrison dalam diam sebelum akhirnya ia tertawa kecil. Sepertinya ia harus membiasakan dirinya dipeluk seperti ini.

TBC

A/N : Uh.. yah, kira-kira beginilah chapter 2. Maaf bila banyak kekurangan disana-sini dan ide adopsi ini aku inget pas baca fanfic luar, Cuma lupa judul nya apa dan satu lagi dari fanfic indo, kalau ga salah judulnya Winter gift . Memang dari awal niatnya pengen bikin Sev adopsi Harry dan akhirnya seperti ini deh.. hehe *sweatdropped* Chapter depan akan masuk dimana Harry akan mulai tahun pertama di hogwarts

RnR yaa