Riiiingg! Ririiing! Riririiiing!

Tetsuna mengangkat tangannya lalu mematikan benda yang sedari tadi berbunyi dan mengusik tidur nyenyaknya.

06.00

Tetsuna mengambil posisi duduk lalu meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Jujur saja, Tetsuna masih merasa lelah dan penat akibat melakukan pekerjaan dari pagi sampai malam. Bahkan dibawah matanya terdapat kantung mata berwarna hitam.

Tetsuna segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi dan bersiap pergi ke sekolah.

Selesai bersiap siap, Tetsuna segera pergi menuju ruang sarapan.

Di meja sudah terdapat beberapa makanan yang disiapkan oleh para maidnya. Salah satu butler menarik kursi dan mempersilahkan majikannya untuk duduk.

Sepi. Satu kata yang menggambarkan keadaan ruang makan tersebut. Biasanya pamannya lah yang akan menemaninya sarapan, tapi saat ini dia sedang pergi keluar dan neneknya belum bangun di jam segini.

Tetsuna menghela nafas samar sebelum salah satu maidnya maju dan berbicara dengannya.

"Ojou-sama?"

Tetsuna mengalihkan pandangannya dan menatap datar maid yang berumur 3 tahun lebih tua darinya itu. "Hm?"

"Apa anda baik baik saja? Wajah anda terlihat pucat, dan sepertinya anda tidak nafsu makan." Maidnya memandang khawatir.

Tetsuna mengerjapkan matanya lalu segera mengalihkan matanya menatap sarapannya yang bahkan belum habis seperempat.

"Aku baik baik saja. Hanya sedikit lelah."

"Kalau begitu, sebaiknya hari ini anda tidak perlu masuk sekolah saja."

"Tenang saja, Mika. Aku baik baik saja. Aku tidak mau izin lagi."

"Tapi..." Maid yang bernama Mika itu menatap majikannya ragu.

Tetsuna bangkit dan meraih tasnya lalu berjalan menuju pintu keluar. "Aku berangkat."

"Ah, Ojou-sama!"

Brak!

Tetsuna tidak menghiraukan panggilan Mika. Bohong kalau Tetsuna menjawab bahwa ia baik baik saja. Kekurangan tidur dan tidur dalam keadaan masih memakai seragam, apalagi dengan AC yang masih menyala membuat dirinya terserang demam.

xxx

Nafas Tetsuna terengah engah. Bulir keringat menetes di pelipisnya. Ia tidak menyangka berjalan dari rumah ke sekolahnya akan menguras banyak tenaga.

Matanya melirik murid murid yang pada berdatangan. Tetsuna melebarkan matanya. Kali ini perutnya mulai bergejolak ingin memuntahkan isinya.

Tetsuna segera mempercepat larinya menuju toilet. Pintu dibukanya dengan keras dan untungnya tidak ada murid didalamnya sehingga tidak ada yang kaget dengan aksi Tetsuna.

Tetsuna segera memuntahkan isi perutnya di wastafel. Kacamata tebalnya diletakan di samping wastafel, dan tangannya bergerak membuka keran lalu mulai membasuh mukanya. Tetsuna menatap pantulan dirinya dikaca.

Wajah Tetsuna memerah, pandangannya sayu dan nafasnya terengah. Tetsuna mengambil sapu tangannya lalu mulai mengelap wajahnya yang basah.

Badan Tetsuna menggigil merasakan panas dingin yang menjalar diseluruh tubuhnya. Pusing dikepalanya semakin menjadi jadi. Tepat setelah pintu toilet terbuka, Tetsuna kehilangan keseimbangan dan jatuh pingsan.

Siswi yang membuka pintu tadi menatap tidak percaya. Baru dia menyadari kejadian didepannya, kakinya berlari mendekati Tetsuna.

"TETSU-CHAN!!"

xxx

"Nghh.." lenguhan lolos dari bibir mungil Tetsuna. Hidungnya mencium bau obat obatan yang dibencinya.

Tanpa bertanya pun Tetsuna tau ini dimana. Tetsuna mengutuk tubuh lemahnya, karena hal itu, ia harus berakhir di tempat ini dengan mudahnya.

Baru saja dia ingin mengambil posisi duduk, sebuah suara menyapa indra pendengarannya. Dan sekali lagi tubuhnya merasakan tubrukan yang dapat meremukan tulangnya.

"Tetsu-chan!! Kau sudah sadar!? Kau baik baik saja? Ada yang sakit? Kau ingin sesuatu? Apa perlu kupanggilkan sensei!?" Pertanyaan beruntun dikeluarkan oleh Satsuki bahkan Tetsuna tidak sempat membalasnya.

"Ugh.. Sa-satsuki-chan.. se-sesak.."

"Oh, maaf!" Satsuki segera melepaskan pelukannya dari Tetsuna yang hampir saja kehabisan nafas.

Pelukan Satsuki memang sebelas duabelas dengan pelukannya Kise. Tetsuna menghela nafas lega.

"Ne, Tetsu-chan, apa kau masih merasa sakit?" Tanya Satsuki khawatir.

Tetsuna menatap datar Satsuki, tapi pandangan matanya melembut. Entah kenapa ia suka temannya mengkhawatirkannya. "Aku baik baik saja, Satsuki-chan. Demamku juga sudah turun." Jelas Tetsuna dengan tenang.

Satsuki mengerjapkan matanya. Walaupun tidak terlihat dengan jelas, Satsuki berani sumpah kalau Tetsuna sedang tersenyum, dan entah kenapa itu membuat Satsuki merasa senang.

Satsuki mengembangkan senyum manisnya. Dia ingin membuat Tetsuna terus tersenyum.

Ia kembali memeluk Tetsuna, tapi kali ini lebih lembut. Itu membuat Tetsuna merasakan sebuah perasaan hangat untuk pertama kalinya, dan Tetsuna tidak membencinya.

Tetsuna pernah bertanya tanya, mengapa ada kata teman dan sahabat? Bukankah dua hal itu adalah hal yang sama? tapi, sekarang Tetsuna mengerti. Inilah namanya sahabat. Hubungan yang lebih spesial dari teman. Dan itu adalah Momoi Satsuki.

xxx

"Hei, Tetsu-chan, apa benar tidak apa apa?" Tanya Satsuki yang entah keberapa kali.

"Aku bilang tidak apa Satsuki-chan. Bisakah kau berhenti bertanya?"

Keduanya kini tengah berjalan menuju kelas mereka. Saat ini sudah masuk periode ke lima. Dan Tetsuna sudah melewatkan empat jam pelajaran.

Pintu dibuka dan Tetsuna mengucapkan kata permisi. Seluruh perhatian kelas tertuju pada Tetsuna dan Satsuki.

"Oh, kau sudah baikan, Kuroko-san?" Tanya guru yang tengah mengajar dikelas.

"Hai', kondisi saya sudah membaik. Saya sudah bisa mengikuti pelajaran." Tetsuna berucap sopan dengan gestur tubuh yang anggun. Di belakang Tetsuna, Satsuki hanya diam menatap Tetsuna.

Kadang Satsuki berpikir kalau Tetsuna itu selalu bersikap anggun di setiap tindakannya. Dan ternyata hal itu memang benar. Tetsuna selalu bersikap layaknya seorang tuan putri.

Tingkahnya tidak pernah mencoreng namanya keluarganya, selalu tenang seperti orang bermartabat tinggi.

Dan berbicara tentang keluarga Tetsuna, pernah sekali ia bertanya kepada Kise tentang keluarga Kuroko tapi yang ditanya malah balas tidak tau.

Keduanya berjalan masuk dan menempati bangku masing masing. Pelajaran kembali berlanjut.

"Psst! Psst! Midorin!" Bisik Satsuki.

Midorima yang duduk di depan Satsuki menoleh kebelakang. Belum sempat bertanya, ia malah disodori sebuah kertas dari Satsuki.

Kau tau tentang keluarganya Tetsu-chan?

Midorima menatap bingung, lalu membalas pesan Satsuki di kertas itu lalu melemparnya ke belakang tanpa menoleh.

Kertas itu jatuh tepat di depan Satsuki. Dengan segera, Satsuki membuka kertas itu.

Tidak. Lagi pula, kenapa kau tidak tanya orangnya sendiri?

Satsuki mendengus kesal lalu membalas pesan dan memberikannya ke Midorima.

Kalau bisa untuk apa aku bertanya padamu, Midorin? Masalahnya aku takut menyinggungnya. Dan sepertinya Tetsu-chan itu berasal dari keluarga yang berada. Aku mana mungkin bertanya hal seperti itu.. aku kan baru berteman dengannya.

'Bukannya kau juga berasal dari keluarga yang berada?' Batin Midorima.

Kalau begitu, kenapa tidak memanfaatkan teknologi canggih yang bernama internet?

Satsuki mengerjapkan matanya.

Oiya ya.. hehe.. makasih, Midorin!

Midorima hanya menggeleng geleng melihat tingkah teman sekaligus manajer basketnya.

xxx

teng! teng! teng!

Bel tanda sekolah usai berbunyi dan disambut gembira oleh murid murid yang lelah belajar.

Tetapi, tak semua murid beranggapan seperti itu. Contohnya Kuroko Tetsuna yang sudah selesai mengemasi barang barangnya. Bagi Tetsuna, berada di rumah atau sekolah terasa sama saja, tapi bedanya disekolah lebih ramai.

Satsuki yang juga baru selesai mengemas barang, berniat pergi ke gym dikejutkan karena tiba tiba saja Tetsuna berlari keluar kelas setelah melihat keluar jendela. Akashi, Midorima dan Kise? Sudah pergi duluan. Begitu pula dua temannya yang berada dikelas sebelah.

Merasa aneh dengan sikap Tetsuna, Satsuki pun berjalan ke jendela dan melihat keluar. Dia melihat Tetsuna yang sudah sampai di halaman sekolah dalam keadaan masih berlari.

Wow.. cepat sekali!'

Tetsuna berlari menuju salah satu mobil hitam mewah yang terparkir diluar sekolah. Terlihat Tetsuna sedang mengomeli supir mobil itu, lalu dengan cepat Tetsuna naik mobil disusul oleh si supir. Satsuki yang saat itu tambah bingung tentang temannya segera mengedikan bahu acuh lalu berjalan keluar kelas.

Toh, ada internet. Nanti sampai dirumah, langsung nyari ah~'

xxx

Tetsuna menatap kesal-walau masih terkesan datar- supir pribadinya. Saat ini ia sedang dalam perjalanan pulang.

"Jadi, kenapa kau menjemputku ke sekolah? Kau tidak mungkin hanya beralasan bahwa aku sedang sakit, kan?"

Si supir langsung menengok ke belakang. "Jadi benar no-"

"Jawab. Aku."

Si supir berkeringat dingin lalu kembali menatap kedepan. "Sebenarnya.. anda mendapatkan undangan pesta dari salah satu rekan anda."

"Lagi?"

"Hai' "

Tetsuna menghela nafas lalu merogoh tasnya. Diambilnya Handphone bermerek terkenal. Dia mencari sebuah nomor lalu menelponnya.

"Ah, moshi moshi? Ojii-sama? Berapa lama lagi kau ada di sana? Eh, selama itu? Aku mendapatkan undangan lagi. Bisakah kau pulang dan menghadirinya untukku? Kenapa? Huff.. baiklah, baiklah, ku tutup."

Perkataan pamannya terngiang di kepalanya.

"Sesekali pergilah menyapa rekan rekanmu. Tak baik jika kau selalu memintaku untuk menghadiri acara seperti itu. Anggap saja ini adalah salah satu pembelajaranmu dalam mengurus perusahaan."

Ck. Kenapa hanya disaat seperti ini pamannya berubah menjadi bijak?

"Hahh.. Takeda-san, kapan acara itu di mulai?" Tanya Tetsuna.

"Acaranya dimulai malam ini-tepatnya jam 9 malam." Jawab supir bernama Takeda itu.

Mata Tetsuna sedikit menyipit. "Kenapa mendadak sekali?"

"Entahlah, saya tidak tahu."

"Siapa yang mengadakan acaranya?" Tanya Tetsuna hati hati.

"Kalau tidak salah.. Akashi Group."

Deg!

'Dari sekian banyaknya, kenapa harus mereka? Dalam rangka apa perayaan ini?'

"Ah, kita sudah sampai."

Tetsuna segera turun dan masuk kedalam mansion besarnya. Di dalam, terlihat Runya beserta para maid dan butler yang tengah berdiri rapi menyambutnya.

"Okaerinasai, Ojou-sama."

"Hm, Tadaima. Segera siapkan pakaianku untuk malam ini. Usahakan jangan terlalu mencolok." Perintah Tetsuna dan segera di patuhi oleh maid maidnya.

Tetsuna menoleh kearah salah satu butlernya yang bertugas mencatat jadwalnya. "Hayaka-san, dalam rangka apa pesta kali ini?"

Hayaka membuka buku jadwal nona mudanya. "Pesta kali ini di selenggarakan untuk merayakan ulang tahun calon pewaris mereka yang ke 16."

"Baiklah, tolong siapkan hadiah yang ku pilih untuk anak mereka nanti."

"Hai', Kashikomaerimashita." Dan Hayaka pun segera melaksanakan perintah.

Kini Tetsuna berjalan menuju kamarnya untuk bersiap siap. Dibukanya pintu kamar mandi lalu segera membersihkan tubuhnya.

Usai mandi, Tetsuna berendam di kolam khusus untuk berendam air panas. Wangi dari kelopak bunga mawar masuk ke penciumannya, menambah rasa rileks pada tubuhnya.

Jujur saja Tetsuna tidak ingin menghadiri acara itu. Tapi mau bagaimana lagi? Tetsuna tidak mempunyai pilihan lain. Kalau tidak menghadiri acara itu, mau di taruh kemana harga diri Kuroko Group? Apalagi keluarga Akashi itu sangat susah untuk dikelabui.

Tetsuna berendam selama setengah jam. Tangannya mengambil handuk lalu melilitkannya ke tubuhnya.

Keluar dari kamar mandi, Tetsuna mendapati para maidnya yang sudah selesai bersiap kini tengah menatap majikannya dengan mata berbinar.

Bagaimana tidak? Jarang jarang sekali mereka bisa mendandani dan melihat majikan mereka dalam balutan gaun yang indah.

Sayang sekali Tetsuna tidak menyadari niat para pelayannya. Dan di mulailah pekerjaan mereka untuk mendandani majikan mereka.

xxx

Tetsuna tengah menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan datarnya. "Hei, bukankah sudah ku bilang agar tidak terlalu mencolok?"

Di cermin, terlihat ia tengah mengenakan gaun berwarna biru muda yang panjangnya hingga mata kaki, dengan renda dimana mana. Bagian pundaknya di perlihatkan dan di lehernya diikatkan pita kecil berwarna biru tua. Lengan gaunnya mencapai pergelangan tangan.

Rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepitan sederhana berbentuk bunga melati berwarna putih. Wajahnya hanya di poles sedikit dengan di tambahi lipstic berwarna pink dan sedikit blush on di kedua pipinya, karena wajahnya sudah putih dan lembut, maka tidak perlu lagi menggunakan bedak.

Di telinganya di pasang anting berbentuk kristal dengan warna perak. Corak pada gaunnya didominasi oleh mawar mawar putih. Serta high heels dengan tinggi 5 cm berwarna putih yang terbuat dari kaca, tak lupa juga ukiran ukiran bunga mawar yang menambah kesan indah. Dapat di bayangkan penampilan Tetsuna saat ini. Sangat Cantik.

"Tapi, itu batasan kami.. kami tidak mengerti gaun seperti apa yang menurut anda tidak mencolok." Ujar salah satu maidnya yang jelas sekali itu hanyalah sebuah alasan belaka.

Baru saja Tetsuna ingin berkata, tapi tiba tiba Runya maju dan berbicara. "Sudahlah Ojou-sama, sudah telat untuk mengubahnya lagi. Sekarang sudah jam setengah sembilan. Sudah waktunya anda untuk berangkat."

Dengan berat hati, Tetsuna mengambil dompetnya lalu pergi keluar ruangan, dan tanpa disadarinya, para maidnya tengah bertos ria di kamarnya.

xxx

Kini Tetsuna sudah sampai di pesta keluarga Akashi. Kediamannya cukup mewah, tapi masih lebih kecil dari kediamannya, karena kediaman keluarga Akashi yang sebenarnya berada di Kyoto. Kediaman Akashi di Tokyo adalah kediaman bergaya eropa klasik abad pertengahan.

Tetsuna berjalan masuk dengan anggun diikuti salah satu butler terbaiknya, Hayaka. Tetsuna menunjukan kartu undangan kepada petugas, lalu dia di persilahkan masuk oleh petugas itu.

Tak lupa, Tetsuna diberikan topeng oleh salah satu resepsionis di pintu masuk karena ini adalah pesta topeng, dan itu membuat Tetsuna sedikit lega. Lalu, Tetsuna digiring menuju aula utama, sedangkan Hayaka menghilang entah kemana.

Di aula utama, terlihat banyaknya tamu undangan yang turut meriahkan pesta. Beberapa pasangan mulai berdansa dengan musik waltz sebagai iramanya. Dan beberapa diantara mereka sedang mencicipi makanan yang disajikan.

Ia di sambut oleh oleh beberapa kerabat keluarga Akashi dan juga orang tua dari Akashi Seijuurou.

Tentu ia tau tentang orang tua Akashi. Hanya saja, ia tidak pernah bertemu secara langsung dengan mereka.

Tetsuna membungkuk sopan di hadapan kedua orang tua Akashi, gaunnya sedikit di tarik dengan satu tangan agar tidak menyentuh lantai.

"Selamat malam, saya perwakilan dari keluarga Kuroko, Kuroko Tetsuna desu. Malam ini, saya turut merayakan ulang tahun dari anak anda, Akashi Seijuurou-san." Tetsuna kembali memposisikan tubuhnya berdiri tegak nan anggun. Bibirnya di usahakan untuk tersenyum, walau tipis.

"Oh? kau pewaris dari Kuroko Group bukan? Kami sangat berterima kasih karena mau menghadiri acara ini." Sambut Yuuzurou ramah kepada Tetsuna.

Tetsuna masih tersenyum sangat tipis. "Ie.. Sebaliknya, saya merasa terhormat karena bersedia mengundang kami. Namun, saya mohon maaf karena hanya saya yang bisa menghadiri pesta ulang tahun anak anda sekalian." Disamping sang suami, sang istri tersenyum senang.

"Tidak apa. Ngomong ngomong, apa yang kau hadiahkan untuk putra kami?" Tanya Seina.

Tetsuna kini meletakan tangan kanannya di dadanya. "Saya mendengar bahwa putra anda sangat gemar membaca. Jadi, saya menghadiahkan beberapa buku yang dibuat oleh seorang penulis terkenal, jujur saja buku ini sangat langka, jumlahnya pun hanya satu dan mungkin putra anda akan menyukainya."

Seina mengerjapkan matanya lalu tertawa kecil. "Sejauh ini, yang ku tau bahwa kebanyakan tamu undangan menghadiahkan mobil bermerek, emas, permata, dan lainnya. Tapi baru kali ini aku melihat seseorang menghadiahkan putraku dengan buku. Haha.." Sedangkan si suami hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.

Tetsuna yang mendengarkan perkataan Seina memiringkan kepalanya bingung. "Apa itu tidak sesuai sesuai dengan keinginan anak anda?"

"Tidak, aku yakin dia akan merasa senang. Terima kasih. Lagi pula, apa kau yakin? buku yang sangat langka kau bilang? dan itu hanya ada satu."

Tetsuna mengerjapkan matanya lalu kembali tersenyum kecil, hanya saja kali ini lebih jelas. "Buku buku itu bukan dilihat dari jumlahnya, tapi dilihat dari pesan dan kegunaannya yang ada di dalamnya. Lagi pula, saya sudah membacanya berulang kali. Jadi, saya sangat yakin."

Seina tersenyum lembut kepada Tetsuna. Ia pikir, pewaris dari Kuroko Corp adalah seorang yang tamak seperti lainnya. Tapi, ternyata ia salah. Kuroko Tetsuna memiliki hati yang mulia.

"Kau sangat baik hati. Oh ya, pesta kali ini bukan hanya untuk merayakan ulang tahun anak kami saja lho.. Tapi juga untuk mencarikan pasangan untuknya. Tapi.. kurasa itu sudah tidak perlu."

Tetsuna kembali memiringkan kepalanya. "Memangnya kenapa?"

"Karena aku sudah menemukannya." Yuuzurou yang sedang menyeruput kopinya dengan penuh wibawa tiba tiba tersedak begitu mendengar perkataan istrinya, ia tau apa yang sedang istrinya pikirkan.

"Benarkah? Siapa?" Tanya Tetsuna penasaran.

Seina menunjuk Tetsuna, sedangkan yang di tunjuk malah menengok kebelakang, tapi tidak ada siapa siapa di belakangnya. Itu berarti..

"Maukah kau menjadi pasangan anakku?"

Tetsuna tersedak air liurnya sendiri. "Uhuk! Uhuk! Ma-maaf.." Tetsuna menutup mulutnya dengan tangan kanan.

"Tidak, tidak apa kok."

Selesai membenarkan imagenya, Tetsuna langsung menatap Seina. "Maaf, tapi.. saat ini saya belum ingin memiliki pasangan."

Seina menghela nafas kecewa. "Benar juga ya... memang harus di dasari cinta juga.."

Cinta, ya?'

"Sudahlah Seina, kau tidak boleh bersikap seperti itu. Maaf, Kuroko-san, kau boleh pergi sekarang. Nikmatilah pestanya." Ujar Yuuzurou.

"Hai', Arigatou gozaimasu." Tetsuna kembali membungkuk hormat sebelum melangkah pergi.

"Seperti yang di harapkan dari putrinya rumi-chan."

xxx

Bosan. Itulah yang dirasakan Tetsuna saat ini. Dia memang tidak terbiasa dengan pesta. Sudah berapa kali para pemuda mengajaknya berdansa, tapi ia tolak dengan halus. Entah kenapa bakatnya tidak berfungsi di saat saat seperti ini.

Ingin sekali ia pulang, tapi ia juga merasa tidak enak dengan keluarga Akashi, karena ia baru saja sampai di sini. Sesuai dengan yang di ajarkan oleh neneknya dulu, bahwa tata krama itu sangat penting.

Tetsuna berjalan menuju tempat minuman dan mengambil segelas jus. Bagaimanapun, Tetsuna masih dibawah umur untuk meminum wine.

Tetsuna melihat orang orang berdansa sambil sesekali menyesap jus, sebelum akhirnya sebuah suara yang sangat di kenalnya terdengar. Tetsuna berbalik kebelakang, melihat orang yang tadinya memanggilnya.

Mata Tetsuna seketika sedikit melebar. Di depannya, Akashi Seijuurou tengah tersenyum kepadanya dengan tangan yang terulur ke arahnya.

"Shall we dance?"

Nafas Tetsuna tercekat. Ia malah bertemu dengan bintang utama acara ini. Ingin menolak, tapi kini ia menjadi pusat perhatian orang orang termasuk kedua orang tua Akashi yang tengah tersenyum jahil(cuma Seina).

Dengan ragu, Tetsuna membalas uluran tangan Akashi. Pelan pelan, Akashi menuntun Tetsuna menuju lantai dansa. Mereka terus berdansa dalam diam, sampai keduanya mencapai bagian tengah lantai dansa.

Para tamu yang tadinya ikut berdansa, entah sejak kapan mulai menyingkir dan menonton pertunjukan dansa Akashi dan Tetsuna dangan wajah terkagum kagum.

Kini keduanya menjadi pusat perhatian. Tetsuna yang merasa tidak nyaman, berusaha mengalihkan tatapannya agar tidak tertangkap oleh manik heterocrome itu.

Tetsuna mencoba menenangkan dirinya. Lagi pula ia sudah memakai topeng, jadi, pastinya Akashi belum mengetahui identitasnya.

"Kau sangat pandai berdansa ya? Ojou-san." Puji Akashi yang dari tadi diam.

"I-iya." Kenapa Tetsuna merasa gugup sekarang?

"Boleh ku tau namamu?" Tanya Akashi dengan senyuman menawannya.

Kalau saat ini yang berada di posisi Tetsuna adalah gadis lain, maka dapat dipastikan gadis itu akan blushing parah. Tapi ini Tetsuna. Dan reaksi dari Tetsuna adalah wajahnya yang memucat dengan tampang tidak percaya.

Sekarang Tetsuna tengah dilema. Ketahuan bohong sedikit saja hidupnya yang tenang akan terancam. Bilang sejujurnya juga sama saja. Tidak bilang juga sama saja.

"Itu.." mata Tetsuna bergerak gelisah, sebelum akhirnya Tetsuna melihat sosok mencurigakan di antara para tamu.

Akashi yang melihat tingkah aneh gadis di depannya mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?" Sadar akan hawa tidak enak yang berada di belakangnya, Akashi menyeringai kecil.

"Ne, Ojou-san, apa ada masalah?"

Tetsuna melirik wajah Akashi lalu memutar bola mata bosan, laki laki itu sudah tau.

"Jangan bertanya, jika kau sudah tau jawabannya." Ujar Tetsuna dingin.

"Aku hanya menebaknya. Apakah kau sedang terpesona denganku? Atau.." Tetsuna memandang Akashi jijik. Akashi yang melihat reaksi Tetsuna itu tertawa kecil lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Tetsuna.

"Kau sedang mengawasi si pemburu haus darah itu."

Tetsuna mencoba menjauhkan dirinya dari Akashi, karena Akashi berdiri terlalu dekat dengannya.

"Jangan melawan. Tetap dalam posisi ini." Perintah Akashi.

"Ti-dak.."

"Diam. Ini perintah." Tetsuna mendengus kesal, mulai lagi tuan dengan sifat absolutenya itu.

"Terus berdansa. Dengar, saat si pemburu sudah berada dekat dengan kita, kau berlarilah memanggil penjaga, aku akan menahan mereka."

Tetsuna menatap datar lalu memalingkan wajahnya. "Tidak."

Akashi mencoba menahan emosi di depan gadis biru itu. "Baiklah kalau itu maumu. Aku tidak bertanggung jawab jika kau terluka."

Tetsuna mendengus. "Ku balikan kalimat itu padamu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC