XiRuLin proudly present

'LOVE SCENARIO'


[
bagian kedua]

.

.


ㅡSekejap bersamamu menjadi tujuan peraduanku, sekali mengenalimu menjadi tujuan dalam hidupkuㅡ


.

.

"Baiklah, kegiatan kita kali ini adalah perkenalan klub. Seperti pada umumnya. 9 pinning dan 9 pemain. Untuk satu jam ke depan kalian akan melihat cara klub ini bermain, trik trik serta gambaran besar latihan yang akan kalian hadapi selama menjadi anggota klub kami. Yang akan menjadi batter adalah Kim Taehyung. Taehyung! Kesini kau!"

Ketua organisasi baseball – Hoseok sunbae – berteriak kepada Taehyung hyung yang sedang merenggangkan badan tak jauh dari kerumunan. Taehyung hyung berdecak malas, melangkah mendekati kami.

Aku terpana.

Dia memang tampan, tapi kali ini ketampanannya bertambah berkali kali lipat. Ada headband berwarna hitam menutupi dahi, surai cokelat nya bermodel belah dua, di kibaskan keatas yang menambah aura maskulin Taehyung hyung. Seragam baseball khas sekolah yang berwarna putih hitam melekat pas di badan, huruf V begitu besar di bawah tulisan 'jersey' dan angka 68 di punggung. Baju seragam baseball sekolah kami berlengan pendek sehingga kulit tan Taehyung hyung yang seksi terpampang sempurna.

Sial. Apa dia bahkan manusia?

Beberapa siswi di sekitarku memekik tertahan di saat Taehyung hyung telah sempurna berdiri di samping Hoseok sunbae. Ia menguyah permen karet acuh, bersedekap dada.

"Nah, perkenalkan dirimu, Kim Taehyung."

Taehyung hyung mendengus. "Kau saja. Panas sekali, aku malas berbicara."

Hoseok menyikut pinggangnya. Taehyung hyung spontan mengaduh kesakitan. Beberapa siswa siswi tertawa juga panitia-panitia. Termasuk aku yang terkikik geli.

"Cepat perkenalkan dirimu, brengsek. Aku tahu kau sudah lama ingin di puja-puja oleh junior."

"Aish, terserahlah." Taehyung membuang permen karetnya ke rumput. Ia kali ini berkacak pinggang, tatapannya menyapu barisan anggota baru di hadapannya. "Halo, aku Kim Taehyung. Statusku sebagai Kapten. Jadi, salam kenal bawahanku. Untuk satu tahun ke depan kalian semua harus patuh kepada perintahku, tidak menolak, dan jangan mengeluh. Apalagi soal kulit kalian yang akan menggelap. Aku tidak main-main dalam memberi arahan dan aku tidak suka bercanda. Paham?!"

"Paham, Kapten!"

"Kurang keras, brengsek! Kalian paham atau tidak?!"

"PAHAM, KAPTEN!"

Suara kami menggema di tengah lapangan yang di sinari cahaya matahari terik. Taehyung hyung menyeringai puas. Setelahnya ia menepuk pundak Hoseok sunbae untuk melanjutkan materi, sementara dia bergerak ke arah kumpulan panitia. Kulihat Jimin hyung merangkulnya kuat. Mereka berdua tertawa bersama entah untuk apa.

Mengingat kejadian saat makan siang tadi, pipiku bersemu.

Apa ini tandanya aku dekat dengan Kapten tim?

Penjelasan Hoseok sunbae yang tidak lagi kudengarkan selesai. Kami di arahkan untuk duduk bersila di atas rumput yang panas, panitia berbaik hati membagikan air dingin juga handuk kecil untuk menghapus keringat. Aku menutup kepala dengan kertas materi. Panas siang ini benar-benar menyengat.

Tim senior yang juga berseragam baseball seperti Taehyung hyung telah memasuki tengah lapangan. Taehyung hyung berseru-seru mengatur posisi para anggotanya, di tangannya sudah ada bat juga helm pengaman. Siswi-siswa di sekitarku berseru-seru menyemangati. Walaupun kami junior, entah mengapa kami merasa telah terikat dengan para senior kami. Taehyung menatap barisan kami dari posisinya, mengacungkan jempol lalu tertawa.

Darahku berdesir.

Kupeluk lututku yang tertekuk. Efek panas dari rumput yang kududuki tidak lagi terasa. Fokusku hanya tertuju ke Taehyung hyung. aku masih mengingat dengan jelas taruhan kami.

Kira-kira apa yang akan Taehyung hyung lakukan kalau dia berhasil melakukan home run?

"Hei, Kookie."

Sekaleng cola dingin tiba-tiba menempel di pipiku. Aku bergidik, terkejut.

"Jimin hyung?" Ku tatap pemuda yang berjongkok di sampingku. Jimin hyung memasang cengiran lebar.

"Ini, cola untukmu."

"Jangan pilih kasih, hyung." Dengusku.

Jimin hyung memutar bola mata jengah. Berinisiatif menaruh kaleng cola tersebut langsung di tanganku. "Aku tidak pilih kasih, hanya takut dimarahi Seokjin hyung dan Yoongi hyung kalau membiarkan adik kesayangan mereka pingsan efek kepanasan."

Aku tertawa. Baiklah, kebetulan aku memang sedang haus dan butuh soda.

"Jangan terlalu memaksakan diri, oke kookie? Kalau merasa capek, angkat tanganmu agar tim medis melihatnya." Jimin hyung meninju punggungku main-main. Aku mengaduh kesakitan, Jimin hyung hanya tertawa.

"Aku ini kuat, hyung. Jangan remehkan."

"Ya, ya. Terserah si Kookie saja."

Ku tak membalas godaan Jimin hyung. di tengah lapangan, peluit telah di bunyikan tanda permainan akan segera di mulai. Wasitnya adalah sang pelatih. Jimin hyung memilih untuk ikut duduk bersila di sampingku, sementara aku menegak cola dalam diam. Tatapanku fokus ke Taehyung hyung yang telah memasang kuda-kuda.

"Jimin hyung, kenapa tidak bercerita kalau kau dekat dengan Taehyung hyu – sunbae?"

"Untuk apa aku menceritakannya?"

Aku meninju bahunya. Dia hanya tertawa. "Memangnya kenapa, Kookie? Kau juga tertarik dengan Tae?"

Pipiku bersemu. Aku mengibaskan tangan cepat-cepat. "T-tentu tidak! Aku kan hanya, uh, penasaran dengan kapten tim klub ini."

"Hei, bocah. Kau itu paling tidak jago berbohong, ya." Jimin tergelak di sampingku. Aku hanya menggerutu, lanjut meminum cola.

"Yah, wajar, sih. Tae memang terkenal. Si idiot itu bersaing dengan beberapa kapten dari klub lain sebagai kapten tampan yang populer. Ku akui, wajahnya yang brengsek dan idiot itu memang sedikit menarik. Jadi, wajar saja kalau kau menyukainya, Kookie."

"Aku tidak menyukainya." Bela ku setengah berbisik.

Tapi Jimin hyung tidak mendengarnya. Ia lanjut mengoceh. "Hoseok juga pernah menyukainya. Di tembak terang-terangan di dalam kelas, di hadapan yang lain. Tapi Taehyung menolaknya dengan tawa, berkata kalau mereka berdua menjadi sepasang kekasih, yang ada perang besar akan meletus setiap hari. Untungnya Hoseok orang baik hati, sehingga sampai detik ini pun mereka masih berteman akrab."

Cola yang ku tegak tiba-tiba terasa pahit.

Jadi, ketua klub kami juga pernah menyukainya..

"Apa Taehyung sunbae baik kepada semua orang, hyung?"

Jimin hyung mengangguk. "Bukan hanya kepada sesama pelajar, guru-guru pun di embat Taehyung. Di goda habis-habisan. Efek itu lah yang membuatnya berhasil naik ke kelas tingkat akhir padahal nilai pelajarannya selalu anjlok. Brengsek, kan. Andai aku tidak berkencan dengan kakakmu, aku mungkin juga sudah jatuh hati padanya."

Jimin hyung tertawa selama menjelaskan. Dia tidak menyadari kalau raut muka ku perlahan menggelap. Nafsuku untuk minum cola hilang. Ku tatap Taehyung hyung yang berhasil melakukan run hingga ke base kedua. Double hit.

Dadaku sesak.

Kejadian siang tadi seharusnya tidak usah ku bawa terlalu serius. Berharap apa kau Jeon Jungkook..

.

.


Sebagai wujud dari cinta ku padamu adalah kedua tangan ku, dalam upaya berusaha menjagamu dan selalu berdoa untuk membahagiakan hidupmu


.

.

Taehyung hyung gagal melakukan home run hingga pinning 9.

Entah aku harus bereaksi seperti apa. Senang atau justru merasa kecewa.

Saat permainan di lapangan tadi selesai dan kami disuruh kembali ke aula, Taehyung hyung yang masih tersengal berlari kecil menghampiriku. Surainya basah oleh keringat juga seragamnya.

"Maaf, Jungkook-ah. Aku gagal." Dia menutup wajah dengan satu tangan, menghela nafas berat.

Aku – yang berhubung masih sedikit badmood setelah perbincangan dengan Jimin hyung sejam yang lalu hanya mengangguk pelan. Tidak berkata apa-apa.

"Maaf, ya. Tapi seharusnya kau senang, kan? Aku akan melakukan apapun yang kau mau." Dia tersenyum lebar. Taehyung hyung maju selangkah, hendak mengusak suraiku namun aku refleks menghindar.

"Aku sudah harus ke aula, hyung."

Tangan Taehyung hyung menggantung di udara.

"Ah, Baiklah."

Ku tundukkan kepalaku sedikit untuk hormat ke arahnya, lalu berbalik badan.

Namun Taehyung hyung menahan tanganku tiba-tiba.

"Pulang nanti, tunggu aku."

Untuk apa? Membuatku berharap lagi?

Walau begitu, aku berakhir menganggukkan kepala.

.

.


ㅡHati ku hanya ada satu. Tolong, jangan hancurkan


.

.

Aku menghantuk-hantukkan ujung sepatuku ke lantai, menghitung berapa detik yang telah terlewatkan selama menunggu Taehyung hyung di depan aula yang sudah kosong.

Orientasi berakhir dua puluh menit yang lalu. Seluruh peserta telah pulang, hanya tersisa beberapa panitia bagian perlengkapan yang masih membersihkan sisa-sisa orientasi juga menyiapkan untuk besok.

Kuhela nafasku entah keberapa kalinya.

Saat kaki ku sudah hendak melangkah pergi, siluet Taehyung hyung yang di sinari lampu jalan terlihat. Ia berlari ke arahku, dari gedung sebelah. Jas sekolah tersampirkan di bahu, headbandnya sudah tidak terpakai.

"Maaf, Jungkook-ah. Aku terlambat." Dia berucap setengah tersengal tepat ketika tiba di depanku.

Aku meringis kasihan. Mengangguk. "Tidak apa-apa, hyung. aku juga baru selesai berkemas."

Taehyung hyung tersenyum tipis. "Syukurlah kalau begitu."

Hening di antara kami tercipta.

Kulihat Taehyung hyung mengusap tengkuknya canggung. "Uh, jadi? Aku kalah dan kau menang. Apa yang harus kulakukan untukmu?"

"Tidak ada, hyung." Kugelengkan kepala. aku tersenyum tipis. "Hyung tidak perlu melakukan apapun. Lagipula home run memang sulit, aku saja tidak yakin dapat melakuka–"

"Jeon Jungkook."

Tidak ada lagi tatapan lembut Taehyung hyung. Ia menatap tajam. Aku seketika mematung, merinding.

"Kita taruhan, ingat? Kau menyetujuinya. Kalau begitu, kau harus memberiku perintah." Ia bersuara, tajam dan rendah.

Apa ini aura ketua nya yang membuatnya sangat di segani?

Kutelan susah payah ludahku. "B-baiklah. Hyung.. uh.. hanya perlu melakukan apapun yang ingin hyung lakukan."

Dahinya berkerut. "Hah?"

"M-maksudku, hyung bebas melakukan apapun yang hyung rasa pantas di lakukan untukku. Err.. apa perkataanku sulit dimengerti?"

Lenggang sejenak.

Perlahan, sudut bibir Taehyung hyung tertarik keatas. Dia berakhir tertawa kecil. "Oh, maksudmu terserah aku saja?"

"Iya, hyung."

Taehyung hyung menggelengkan kepala. "Dasar, kau memang tidak berhenti membuatku terkejut. Baiklah, jadi terserah aku, kan?"

Seringai yang dia patri di kalimat terakhir membuatku bersemu. Cepat-cepat kulototkan mataku. "Tapi hyung jangan melakukan macam-macam, ya! Jangan mesum!"

"Hah, siapa juga yang mau bertindak macam-macam? Kau jahat sekali kalau berpikir aku ini orang jahat, Jungkook-ah." Bola mata Taehyung hyung membesar. Alisnya menukik tidak terima, namun bibirnya menyunggingkan seringai lebar.

Dasar munafik.

"Pokoknya, kalau hyung macam-macam akan langsung ku tinju!"

Gelak Taehyung hyung memecahkan sunyi nya malam. Ia refleks mengusak surai hitamku gemas, dan aku tidak sempat menghindar.

"Eumaeh, kau memang menggemaskan seperti bayi."

Aku bersemu. Berakhir menggerutu dengan kepala tertunduk. Taehyung hyung semakin tertawa.

Dalam sekejap ucapan Jimin hyung terlupakan bagai angin lalu.

Kami lanjut mengobrol. Beberapa panitia perlengkapan yang baru keluar dari aula menyapa Taehyung hyung, mengeryit heran melihat ada siswa asing yang menemani kapten mereka.

Tepat pukul sembilan malam aku pamit setelah panggilan dari Seokjin hyung masuk. Taehyung hyung bersikeras hendak mengantarku pulang, tapi aku berdalih kalau penjemputku telah menunggu di depan sekolah.

Pulang bersama hanya akan membuatku semakin jatuh hati padanya.

Itu tidak boleh terjadi..

[sender : Kim Taehyung]

hei Jungkook, ini kontakku.

[sender : Jeon Jungkook]

Iya, hyung. aku simpan, ya.

[sender : Kim Taehyung]

Siap, manis.

Terima kasih untuk hari ini.

Jangan lupa mimpi indah, oke?

[sender : Jeon Jungkook]

Dasar perayu handal.

Iya, hyung

Hyung juga ya~

[sender : Kim Taehyung]

Salahkan dirimu yang semanis gula.

Sampai bertemu besok.

Aku merindukanmu.

.

.


ㅡbersambung


sincerely,

XiRuLin.