DISCLAIMER

I only own the story.

Bila ada kesamaan cerita, itu hanyalah kebetulan belaka.

WARNING : TYPO(s), no edit.

©mochikun

Don't like, Don't read

Happy reading~^^

.

.

A/N : Should I write the same disclaimer each chapter?-_- Ah... forget it, just enjoy the story.

.

.

All in Normal POV

Jam weker yang terletak di meja nakas samping tempat tidur Jungkook berbunyi dengan nyaring, membuat sang pemilik mengerang kecil karena merasa tidurnya terganggu. Sang pemilik, alias Jungkook, menutup kedua telinganya dengan kedua tangan, berusaha untuk mengabaikan suara jam wekernya dan kembali tidur, tapi jam weker itu justru berbunyi semakin nyaring.

Dengan malas, Jungkook menjulurkan tangan kirinya untuk mematikan jam weker itu. Matanya masih terpejam dan tangannya sibuk meraba-raba meja nakas samping tempat tidurnya untuk menemukan jam itu. 'Dapat!' batin Jungkook ketika tangannya telah menemukan jam weker itu dan mematikannya.

Tadinya Jungkook ingin tidur kembali, tapi ia ingat bahwa sekarang ia telah menjadi pelayan, jadi ia harus bangun pagi. Dengan malas Jungkook membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjapkannya untuk membiasakan diri dengan cahaya yang menerobos masuk ke matanya, juga untuk menghilangkan kantuk.

Jungkook menggeliat pelan untuk meregangkan tubuhnya, tapi ia merasakan sesuatu yang berat yang menimpa tubuhnya. Ia merasakan ada udara yang menggelitik lehernya. Jungkook menoleh sedikit untuk mengetahui 'apa' yang menindih tubuhnya. Sedetik kemudian Jungkook berteriak.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriaknya dengan kencang. 'Sesuatu' atau lebih tepatnya seseorang yang menindih tubuh Jungkook mengerang kecil karena tidurnya terganggu oleh teriakan Jungkook. Jungkook merasa geli di lehernya ketika orang itu menggerakkan kepalanya sedikit, karena kepala orang itu berada tepat di perpotongan leher Jungkook. Seseorang yang menindih tubuh Jungkook itu, siapa lagi kalau bukan Taehyung.

"T-Taehyung! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau bisa berada disini, dan tidur disini?! Di KAMARKU?! Dan juga MENINDIHKU?!" teriak Jungkook panik. Ia berusaha menyingkirkan tubuh Taehyung dari tubuhnya, tapi gagal karena berat tubuh Taehyung melebihi berat tubuhnya.

Taehyung hanya mengerang pelan dan semakin membenamkan wajahnya di perpotongan leher Jungkook. Jungkook bergidik ketika merasakan nafas Taehyung yang menerpa lehernya. "Diamlah..." kata Taehyung pelan dengan suara serak khas orang mengantuk. Taehyung kemudian memeluk Jungkook dengan erat sehingga Jungkook tidak dapat bergerak sama sekali.

'Bagaimana aku bisa diam kalau posisinya begini?!' batin Jungkook. Dalah hati ia mulai panik. Alasan ia panik adalah, pertama, Taehyung itu... yah... bisa dibilang dia itu pervert, dan memang kenyataannya begitu. Kedua, nafas Taehyung terus menerpa lehernya, dan leher adalah salah satu bagian tubuh Jungkook yang paling sensitif. Ketiga, Taehyung benar-benar mengunci pergerakan tubuh Jungkook dengan memeluknya dengan sangat erat, sehingga Jungkook tidak bisa kabur.

Intinya, Jungkook takut pada Taehyung.

Jungkook mulai menggeliat gelisah. "Taehyung... lepaskan..." kata Jungkook dengan gelisah. Taehyung menggeleng, yang membuat Jungkook merasa geli di lehernya.

"Tidak mau" kata Taehyung singkat. Karena wajah Taehyung benar-benar dekat dengan leher Jungkook, jadi bibirnya sempat menyentuh leher Jungkook ketika ia berbicara. Jungkook menggigit bibir bawahnya pelan.

"Taehyung... aku harus bekerja..." kata Jungkook pelan. Taehyung tiba-tiba menyeringai ketika ia mendengar kata 'bekerja', tanpa sepengetahuan Jungkook tentunya.

"Hmm... bekerja ya..." bibir Taehyung kembali menyentuh leher Jungkook. "Kalau begitu aku mau 'sarapan'..." kata Taehyung.

"Baiklah, akan kubuatkan. Minggirlah..." kata Jungkook yang belum menangkap maksud Taehyung yang sesungguhnya sambil mendorong Taehyung pelan. Taehyung kembali menyeringai.

"Kubilang, aku mau 'sarapan', baby" kata Taehyung sambil menjilat perpotongan leher Jungkook. Wajah Jungkook langsung memerah, ia bergidik ngeri. Spontan, ia menendang Taehyung sekuat tenaga, dan berhasil, Taehyung sedikit terjungkal ke samping. Jungkook tidak melewatkan kesempatan yang ia dapat. Ia langsung turun dari kasur dan berlari keluar kamarnya dengan wajah merah padam.

Taehyung lantas duduk di atas ranjang Jungkook. Ia mendecih. "Cih... padahal aku benar-benar ingin 'sarapan'... lihat saja kau, Jungkook! Aku pasti akan mendapatkanmu!" kata Taehyung sambil menyeringai mesum.

Sementara itu, Jungkook masih berlari dengan wajah merah padam sembari sesekali memegang lehernya yang basah akibat dijilat Taehyung. Jungkook berlari tak tentu arah, dan saat ia berhenti karena kelelahan, ia telah sampai di dapur. Untunglah tidak ada siapapun di dapur selain dirinya, sehingga tidak akan ada yang menanyainya kenapa ia berlarian di rumah dengan wajah merah padam.

Jungkook berjalan menuju wastafel di dapur itu, menyalakan kerannya, dan membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran tersebut. Setelah selesai, ia kembali mematikan keran itu. Ia mendudukkan dirinya di lantai, berusaha menenangkan diri sekaligus mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.

'Orang itu benar-benar berbahaya... aku harus berhati-hati' batin Jungkook. 'Dan lagi, seenaknya saja dia memanggilku 'baby'... aku kan bukan kekasihnya' batinnya lagi.

Jungkook menghela nafas. 'Mungkin memasak dapat membuatku tenang... lagipula aku juga sedang berada di dapur, sekalian memasak saja...' batinnya sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju kulkas untuk melihat bahan makanan apa saja yang tersedia.

Di dalam kulkas tersebut ada banyak sekali bahan makanan, seperti yang diharapkan Jungkook. Ia mengambil mentega tawar dingin, air es, dada ayam, bawang bombay, jamur champignon, dan dua lembar bayleave dari kulkas. Lalu ia mengambil tepung terigu, garam, gula pasir, pastry margarin, merica hitam bubuk, pala bubuk, keju cheddar dan cooking cream dari sebuah lemari kecil berwarna coklat yang menempel pada dinding di atas kompor.

Tidak lupa ia juga mengambil sarung tangan plastik transparan yang akan ia gunakan untuk melapisi tangannya ketika ia mengaduk bahan. Lalu ia mengambil satu botol besar berisi air mineral di atas meja yang terletak di samping kulkas.

Jungkook juga mengambil dua buah mangkuk berukuran sedang, pisau, satu sendok teh, satu sendok makan, penggiling, penyaring, dan 8 buah mangkuk tahan panas dari sebuah lemari yang terbuat dari kaca transparan tempat peralatan makan dan memasak diletakkan.

Jungkook mulai memotong dada ayam seberat 250 gram berbentuk kotak. Ia lalu mencincang halus satu buah bawang bombay dan mengiris halus 100 gram jamur champignon.

Setelah itu, ia memakai sepasang sarung tangan plastik transparan karena ia akan mencampurkan dan mengaduk bahan. Ia mengambil salah satu dari dua buah mangkuk berukuran sedang yang telah disiapkannya, lalu ia memasukkan 300 gram tepung terigu, 30 gram mentega tawar, setengah sendok teh garam, dan setengah sendok makan gula pasir. Lalu ia mengaduk bahan-bahan tersebut hingga rata.

Setelah itu, secara perlahan-lahan, Jungkook menuangkan air mineral dari botol besar yang telah disiapkannya ke adonan tersebut sambil terus mengaduk adonan itu. Setelah air yang dituangkannya dirasa cukup, ia kembali meletakkan botol itu dan kembali mengaduk adonan tersebut hingga seluruh bahan tercampur rata. Setelah itu Jungkook membentuk adonan itu menjadi bulat dan mendiamkannya selama 15 menit.

Ia lalu mengambil mangkuk berukuran sedang lainnya dan memasukkan 225 gram pastry margarin dan 30 gram tepung terigu, lalu ia mengaduknya hingga rata, membuat adonan yang kedua. Setelah kedua bahan tersebut tercampur rata menjadi sebuah adonan, Jungkook memipihkan adonan tersebut dan membentuknya menjadi kotak. Setelah itu ia menyisihkannya.

Setelah 15 menit, adonan yang pertama ia potong menjadi empat bagian dan menggilingnya dengan penggiling. Lalu ia meletakkan adonan yang kedua di tengah-tengah adonan pertama dan melipat adonan pertama tersebut hingga menutupi adonan kedua yang berada ditengahnya. Setelah itu ia menggilingnya lagi dan mendiamkannya di kulkas selama 15 menit.

Sembari menunggu, ia merebus dada ayam yang telah dipotong-potong tadi dalam air mendidih hingga matang. Setelah matang, ia mengangkat dada ayam tersebut dan menyaring air kaldunya.

Lalu ia menumis bawang bombay hingga harum dan memasukkan jamur champignon, lalu menumis lagi kedua bahan tersebut. Lalu ia memasukkan tepung terigu ke tumisan bawang bombay dan jamur champignon itu, kemudian mengaduknya hingga berbutir.

Jungkook perlahan-lahan menuangkan kaldu ayam yang telah disaring tadi sambil mengaduk bahan-bahan yang tadi ditumisnya hingga licin. Setelah itu, ia memasukkan dada ayam yang telah dipotong kotak, bayleave, garam, merica hitam bubuk, pala bubuk, dan gula pasir, lalu ia memasaknya hingga mendidih. Lalu ia memasukkan keju cheddar parut dan cooking cream ke dalamnya dan memasaknya hingga meletup-letup. Jadilah sup krim.

Setelah matang, ia menuangkan sup krim itu ke 8 buah mangkuk tahan panas, lalu ia mengoles bibir mangkuk tahan panas itu dengan air, dan menutupnya dengan adonan yang telah ia ambil dari kulkas. Lalu ia meletakkan kedelapan mangkuk itu diatas sebah nampan dan memasukkannya ke dalam oven dengan suhu 200 derajat celcius.

Tak lama kemudian pun, masakan yang Jungkook buat—Zuppa Soup—telah matang dan siap untuk disantap. Aroma sedap Zuppa Soup itu menguar ke sepenjuru dapur. Jungkook menjilat bibir bawahnya. Lalu ia tersenyum senang. 'Pasti enak' batinnya.

Ia mengambil satu mangkuk Zuppa Soup yang ia buat dan meletakkannya di atas sebuah nampan berbentuk bulat. 7 mangkuk Zuppa Soup lainnya ia masukkan ke dalam kulkas. Ia membawa nampan itu menuju ruang makan, dan ia langsung cemberut ketika melihat seseorang sedang duduk di salah satu kursi meja makan, siapa lagi kalau bukan Taehyung.

Taehyung menatap Jungkook, lalu tersenyum. Jungkook justru bergidik melihat senyum Taehyung. Entahlah, dari semua ekspresi yang pernah Taehyung tunjukkan padanya, Jungkook paling tidak menyukai senyum Taehyung—meskipun senyumannya terlihat tampan—karena biasanya senyum Taehyung merupakan pertanda bahwa hal yang tidak baik akan terjadi.

Jungkook berjalan dengan ragu menuju meja makan berbentuk bundar itu dan meletakkan nampan berisi Zuppa Soup itu di sana. Taehyung menatap Zuppa Soup itu sebentar, lalu ia kembali menatap Jungkook. "Kau yang membuat ini?" tanya Taehyung. Jungkook hanya mengangguk kecil.

"A-aa... kalau kau mau memakannya, silahkan... aku mau ke kamar dulu..." kata Jungkook, hendak berjalan pergi, namun tidak jadi karena Taehyung telah mencengkeram pergelangan tangannya. Taehyung menatap Jungkook tajam.

"Kau. Tetap. Disini" kata Taehyung tegas, dan dari raut wajahnya dan tatapan matanya, Jungkook tahu bahwa Taehyung tidak akan menerima penolakan. Jungkook menelan ludahnya kasar. Ia tidak bisa kabur sekarang. Jungkook mengangguk patuh dan duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Taehyung.

Taehyung melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan Jungkook. Lalu ia duduk di kursi tepat di sebelah Jungkook. Jungkook sedikit menunduk, menatap lantai, sambil meremas ujung kausnya. Taehyung menopang dagunya dengan tangan kiri, lalu ia menatap Jungkook yang masih menundukkan kepalanya intens.

"Suapi aku" kata Taehyung tiba-tiba, yang membuat Jungkook langsung menoleh padanya dan menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah berkata 'hah?'.

Taehyung meraih pergelangan tangan kanan Jungkook dan mengarahkan tangannya untuk mengambil sendok yang terletak disamping Zuppa Soup itu. "Kubilang, suapi aku, Jungkook" kata Taehyung lagi. Kini Jungkook telah memegang sendok itu. Taehyung mengarahkan tangan Jungkook ke Zuppa Soup itu, lalu ia melepas pergelangan tangan Jungkook.

Jungkook menyendok Zuppa Soup itu dan mulai menyuapi Taehyung dengan patuh. Taehyung memakan Zuppa Soup itu dan tidak dapat dipungkiri bahwa rasanya sangatlah enak. Jungkook terus menyuapi Taehyung hingga Zuppa Soup itu hanya tersisa separuhnya.

"Kau tidak makan?" tanya Taehyung. Jungkook menggeleng kecil. "Lalu untuk apa kau memasak ini?" tanya Taehyung lagi. Jungkook kebingungan menjawabnya.

"Aa... ituu... aku tadi hanya iseng memasaknya... hehe" jawab Jungkook sembari tertawa garing. Tiba-tiba, perut Jungkook berbunyi. Oh, perut memang tidak bisa diajak kompromi. Jungkook langsung menunduk malu.

Taehyung terkekeh. "Kau lapar kan?" tanya Taehyung. Jungkook diam saja, ia terlalu malu untuk menjawab. Taehyung menyendok Zuppa Soup itu dan menyodorkannya ke depan bibir Jungkook. Ia memegang dagu Jungkook dengan tangan yang satu lagi. "Buka mulutmu" titah Taehyung.

Jungkook sedikit merona diperlakukan seperti itu. "Ta-tapi... sendok itu..."

"Ciuman secara tidak langsung, huh?" tanya Taehyung malas. "Aku tidak begitu peduli, jadi cepat makan" lanjutnya.

'Tapi aku peduli' batin Jungkook. Dengan terpaksa karena ia takut pada Taehyung, ia membuka mulutnya dan memakan Zuppa Soup buatan dirinya sendiri.'Enak...' batinnya.

Taehyung menatap mulut Jungkook yang sibuk mengunyah roti Zuppa Soup itu. Ia menelan salivanya kasar. 'Tuhan... lihatlah bibirnya yang begitu menggoda itu... dan mulutnya serta lidahnya... sial! Aku ingin mencicipinya!' batin Taehyung. Ia harus menahan keinginannya mati-matian karena ia tidak ingin mengganggu Jungkook yang sedang makan.

Taehyung terus menyuapi Jungkook hingga Zuppa Soup itu habis. Jungkook mendesah lega, kebiasaannya ketika telah selesai makan atau minum. Dan entah kenapa, hal itu sedikit banyak membuat Taehyung turn on.

Taehyung menggeser nampan berisi mangkuk Zuppa Soup yang sudah habis itu ke samping. Lalu ia berdiri, menarik pergelangan tangan Jungkook, membuatnya berdiri. Jungkook menatap Taehyung bingung. Taehyung mendorong tubuh Jungkook hingga ia telentang di atas meja makan. Taehyung mengunci kedua tangan Jungkook dengan tangannya di samping kanan dan kiri kepala Jungkook. Jungkook mulai bergidik ngeri.

"T-Taehyung?" tanyanya dengan takut. Taehyung tidak menjawab. Ia justru mulai mencium dan menjilati perpotongan leher Jungkook. Jungkook tentunya kaget. Ia langsung menggigit bibir bawahnya agar ia tidak mendesah.

Taehyung tidak puas karena ia tidak mendengar desahan Jungkook. Ia mulai menghisap dan menggigit kecil perpotongan leher Jungkook, meninggalkan beberapa kiss mark disana.

"Aahh... Tae..hyunghh... jangannhhh..." desah Jungkook saat Taehyung kembali membuat kiss mark di lehernya.

Taehyung berhenti dengan aktifitasnya dan menatap Jungkook sebentar. Lalu ia mencium bibir Jungkook dengan kasar, tapi tidak sampai menyakiti namja manis itu.

Jungkook membelalakkan matanya kaget. Taehyung terus mencium bibirnya, menghisapnya, menggigitnya kecil, membuat mulutnya terbuka. Lalu Taehyung menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Jungkook, merasakan rasa manis mulut Jungkook. Jungkook sesekali mendesah kecil, walaupun sesungguhnya ia tidak ingin mengeluarkan suara yang menurutnya menjijikkan itu.

Tiba-tiba, kedua mata Jungkook terasa panas, dadanya terasa sesak—bukan sesak karena ciuman, tapi akibat sesuatu yang lain yang membuatnya ingin menangis. Dan cairan bening itu mengalir begitu saja tanpa permisi dari mata Jungkook.

Taehyung tentu saja kaget ketika tiba-tiba ia merasakan pipinya basah. Ia melepas pagutannya dengan enggan, meninggalkan saliva yang menjembatani bibirnya dengan bibir Jungkook. Namun, ia lebih kaget lagi ketika melihat Jungkook sedang menangis dalam diam. Perlahan, ia melonggarkan cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan Jungkook.

"Itu... itu... ciuman pertamaku, bodoh! Hiks..." kata Jungkook sarat ketidakrelaan sambil menangis. Taehyung tertegun. Ia perlahan melepaskan kedua pergelangan tangan Jungkook, lalu ia berjalan mundur sedikit.

Jungkook berdiri. Ia menundukkan kepalanya dalam, masih menangis. Bahunya bergetar. "Beraninya kau... hiks... kita bahkan baru saling mengenal, dan kau sudah berani menciumku?! hiks..." bentak Jungkook marah sambil terus menangis. Taehyung kembali tertegun. Ia merasa bersalah pada Jungkook. Entah kenapa, dadanya jadi terasa sesak melihat namja manis itu menangis.

"Jungkook... aku—" belum selesai Taehyung berbicara, Jungkook telah berlari pergi menuju kamarnya.

'Jahat... ciuman pertamaku... direbut oleh orang sepertinya...' batin Jungkook, masih menangis sambil terus berlari menuju kamarnya.

Taehyung lantas mengejar Jungkook, namun sayangnya ia tidak cukup cepat, karena ketika ia telah sampai di depan kamar Jungkook, Jungkook telah membanting pintu kamarnya menutup dan menguncinya. Taehyung pun menggedor-gedor pintu kamar Jungkook.

"Jungkook! Buka pintunya!" teriak Taehyung dari luar. Jungkook tidak menyahut. Ia duduk bersila sambil menyenderkan punggungnya pada pintu kamarnya. Ia kembali menangis dalam diam sambil memeluk kedua kakinya.

Taehyung tidak menyerah, ia terus menggedor-gedor pintu kamar Jungkook. "Jungkook! Kumohon buka pintunya... maaf, maafkan aku Jungkook, aku tidak tahu soal itu... aku sungguh bodoh... maafkan aku... kumohon buka pintunya!" kata Taehyung. Dadanya berdenyut sakit ketika membayangkan Jungkook sedang menangis dalam diam sambil bergelung di atas ranjangnya.

Taehyung masih menggedor-gedor pintu kamar Jungkook sambil menyerukan permohonan agar namja itu membuka pintu kamarnya. Setelah sekitar 15 menit ia melakukan hal tersebut, dan dirasa hal itu tidak akan berhasil, Taehyung berhenti. Ia membalikkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya pada pintu kamar Jungkook, lalu perlahan-lahan memerosotkan tubuhnya hingga jatuh terduduk.

Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dalam hati ia mengutuk kebodohannya sendiri karena tidak memikirkan perasaan Jungkook. Ia menghela nafas panjang. "Jungkook..." ia berbisik lirih.

"Baiklah Jungkook, kalau kau tidak mau membuka pintunya, aku akan menunggu disini sampai kau mau membuka pintunya, tidak peduli jika sampai besok pun kau tidak mau membuka pintu kamarmu, aku akan tetap menunggu disini" kata Taehyung.

Jungkook mendengarnya. Ya, tentu saja ia mendengarnya. Ia membenamkan wajahnya pada kedua lututnya dan kembali menangis. "Taehyung... kau itu kuat ya... padahal aku sudah membentakmu seperti itu... tapi kau tetap kuat... tapi aku tidak bisa jadi sekuat itu..." bisik Jungkook lirih. Ia masih menangis.

"Ciuman pertama itu sangat berarti bagiku..."

.-.-.-.

Jungkook perlahan membuka matanya yang terasa lengket. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, lalu ia menguap kecil. Ia mengucek matanya beberapa kali sambil melihat jam digital yang tergantung di dinding. Jam 22.30.

'Astaga... sudah malam... berapa lama aku tertidur? Seingatku, tadi pagi, untuk menenangkan diri, aku membaca koleksi manhwa-ku hingga jam 11, lalu aku mandi agar tubuhku menjadi segar, lalu aku bermain game di laptop hingga jam 3, lalu aku tidur karena aku merasa ngantuk... astaga... lama sekali aku tertidur...' batin Jungkook sambil mengingat-ingat apa saja yang dilakukannya sebelum ia tidur.

Ia lalu duduk di atas ranjangnya dan menatap ke sekeliling. 'Gara-gara teralu lama tidur, sekarang aku jadi tidak mengantuk..' batin Jungkook. Ia mulai berguling-guling di kasur.

'Sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa... aah... bosan...' batin Jungkook lagi, masih sambil berguling-guling di kasur. Tiba-tiba ia teringat akan Taehyung. Jujur saja, ia masih marah pada Taehyung, tapi ia merasa sedikit kasihan juga. Ia teringat akan apa yang dikatakan Taehyung terakhir kali.

Baiklah Jungkook, kalau kau tidak mau membuka pintunya, aku akan menunggu disini sampai kau mau membuka pintunya, tidak peduli jika sampai besok pun kau tidak mau membuka pintu kamarmu, aku akan tetap menunggu disini.

Jungkook menghela nafas. 'Apa dia masih menunggu di luar?' batinnya. Ia ragu apakah sebaiknya ia keluar untuk mengecek apakah Taehyung masih menunggu atau tidak. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk keluar.

'Hanya mengecek kok... paling juga dia sudah berada di kamarnya dan sedang tidur nyenyak... dia tidak mungkin serius dengan kata-katanya..' batin Jungkook sambil berjalan menuju pintu dan membukanya.

Betapa kagetnya Jungkook ketika ia melihat Taehyung masih berada di depan kamarnya, duduk bersender pada dinding dengan mata terpejam, sedang tidur. Jungkook merasa kasihan juga melihatnya, sekaligus kaget. Ia tidak menyangkan Taehyung bisa serius dengan apa yang dikatakannya.

Jungkook berjongkok di depan Taehyung dan menatap wajah tertidur Taehyung. Ia menyingkirkan helaian poni yang menutupi dahi Taehyung, lalu menempelkan dahinya sendiri dengan dahi Taehyung. 'Dingin...' batinnya. 'Dia pasti kedinginan...'

Jungkook berdiri dan masuk ke kamarnya, mengambil selimut, lalu kembali ke luar dan menyelimuti tubuh Taehyung dengan selimut itu. Ia kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil bantal, lalu kembali ke luar untuk meletakkan bantal tepat di belakang kepala Taehyung. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar ia tidak membangunkannya.

'Aneh... padahal akulah yang menjadi pelayan, tapi aku justru merasa dialah pelayannya...' batin Jungkook.

Setelah selesai, ia menatap wajah Taehyung sejenak. Entah kenapa dadanya terasa menghangat ketika melihat wajah damai Taehyung ketika tidur. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan ketika ia mulai berpikir bahwa Taehyung itu tampan.

Ia bangkit berdiri, berjalan kembali ke kamarnya, dan menutup pintunya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya dan bergelung disana.

'Ini aneh... Perasaanku campur aduk..' batinnya. Ia menghela nafas. 'Kurasa aku akan menjauhi Taehyung untuk sementara waktu...'

.

.

TBC / END?

Yeay, chap 2 selesai!

Saya seneng banget waktu tau ternyata banyak yang suka ff ini, dan saya gak nyangka reviewnya bakal lebih dari sepuluh, padahal tadinya saya pikir review nya gak bakal lebih dari sepuluh-_-

Seperti yang kalian inginkan, saya apdet dengan cepat!

Mian kalo chap ini kurang memuaskan-_-

Jujur deh, kalo reviewnya banyak, saya jadi makin semangat buat apdet xD

Ohiya, saya berencana bikin fic ini jadi rated m, dan ada juga seseorang yang pengen fic ini dibikin jd rate m, tapi sebelumnya saya mau nanya dulu sama readers, gimana menurut kalian kalo fic ini dibikin jadi rate m?

Kalau banyak yang setuju, bakal saya bikin jadi rate m, kalau banyak yang gak setuju, ya gak jadi._.

Oke deh, chap selanjutnya bakal di apdet kalo total reviewnya lebih dari 27 *agak gak mungkin-_-

Reviewmu kebahagiaanku :D

So, review?