Believe In Love
Cast : Kai, Sehun, etc
Karena ide Imperfect Love masih ngadat, jadi aku ketik yang ini dulu ya.
No edit, typo bertebaran dan absurd.
KaiHun Lovea
.
.
.
.
.
.
Kim Jongin baru saja keluar dari ruangan rapat yang terasa begitu membosankan untuknya, ketika ia melihat Jungwoo adiknya berlari menuju ke arahnya.
"Kak, aku sudah mencoba menelponmu beberapa kali, tapi kau tak pernah mengangkatnya."
"Aku baru saja selesai rapat," Jongin merogoh saku jas miliknya dan mengeluarkan handphonenya. "Ada apa?"
Raut wajah Jungwoo terlihat begitu cemas, pria bertubuh tak kalah jangkung dari Jongin itu berulang kali menelan ludahnya sebelum berhasil mengucapkan kata-katanya, "Ada kecelakaan di Meryl Street siang ini."
"Demi Tuhan Jungwoo, setiap hari selalu ada berita kecelakaan lalu lintas yang terdengar, kenapa kau harus secemas itu, ataukah..." Jongin kemudian teringat pada istrinya yang sedang berbelanja dan pastinya melewati jalan itu. "Apakah itu Shixun?" tanya Jongin dengan suara serak.
Jungwoo mengangguk dengan sedih, "Itu memang Taxi yang di tumpangi kakak ipar."
"Apakah..."
"Tidak, kakak ipar tidak meninggal. Ia sedang di rawat di rumah sakit sekarang."
"Bagaimana keadaannya?" tanpa menunggu waktu Jongin berteriak pada sekretarisnya, menyuruhnya untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini lalu ia menarik Jungwoo untuk ikut dengannya.
"Belum bisa di pastikan bagaimana kondisi kakak ipar sekarang, waktu aku menyusulmu kesini dia masih di ruang operasi."
"Shixun... Ya Tuhan..." Jongin mengusap wajahnya dengan telapak tangannya yang gemetar.
"Kita hanya bisa berdoa untuk keselamatannya kak."
Lima belas menit kemudian ketika Jongin dan Jungwoo tiba di rumah sakit, ia langsung di sambut oleh pelukan dan tangisan oleh ibunya. Dan Jongin menyadari seluruh keluarganya sudah berkumpul di sini, semuanya. Shixun sendiri sudah hidup sebatang kara saat pria itu berusia 18 tahun, hingga Jongin tak perlu mengkhawatirkan kalau ibu mertuanya akan bertingkah sama seperti ibu kandungnya yang masih terisak di dekapannya.
"Sudahlah Ma, jangan terus menangis," gumam Jongin.
"Mama mengkhawatirkannya Jongin, bagaimanapun dia adalah bagian dari keluarga kita."
"Aku juga khawatir ma, tapi ku mohon jangan menangis."
Suho perlahan sedikit menjauh dari putra sulungnya yang terlihat begitu lelah itu, "Mama tahu."
"Hei brother, duduklah di sini, kau tampak begitu kacau." Minseok sepupunya, menepuk kursi kosong di sampingnya dan Jongin langsung beranjak ke kursi itu masih dengan lengannya yang merangkul pundak ibunya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jongin.
"Buruk, kami semua bahkan tidak bisa mengenalinya, kau tahu wajahnya secara keseluruhan sudah tidak bisa kita kenali lagi sebagai Shixun yang cantik luar biasa," gumam Minseok.
"Lalu?"
"Dokter sudah berupaya untuk mengoperasi semua kerusakan yang ia dapatkan karena kecelakaan itu, kau tahu mereka menemukan dua mayat gosong di dalam taxi yang terbakar tersebut, Shixun sendiri beruntung karena menurut para saksi yang melihat, ia berhasil keluar dari dalam taxi itu sesaat sebelum taxi itu meledak dan yah meskipun ia selamat tapi 80% tubuhnya terutama wajahnya mengalami luka bakar yang serius."
Jongin terdiam sejenak, wajahnya terlihat begitu murung, "Kau bilang tadi ada dua mayat lagi di dalam taxi itu, yang satu sudah pasti sopir, tapi satunya lagi siapa? Setahuku Shixun berangkat sendirian."
"Polisi sudah menyelidiki dan mengirim mayatnya untuk di identifikasi, mereka mengatakan kalau pria yang bersama Shixun di dalam taxi itu sudah membuntuti istrimu dari dalam Mall tersebut."
"Shit," Jongin mengumpat. "Apakah dia salah satu haters."
Minseok menggeleng, "Polisi memperkirakan dia hanyalah salah satu fans biasa yang ingin mendapatkan tanda tangan istrimu."
"Fans yang tidak beruntung karena ia justru terbakar bersama sopir di dalam sana," gumam Jongin muram.
Minseok menepuk pundaknya, "Jangan terlalu khawatir begitu, dokter bilang semua kerusakan yang di alami Shixun bisa diperbaiki dengan operasi plastik. Kita hanya perlu menunjukkan foto Shixun dan kemudian segera setelah lukanya mengering dan ia sudah dinyatakan bebas dari infeksi yang mungkin terjadi, mereka akan melakukan operasi itu, tentu saja setelah mereka mendapatkan izin darimu."
"Lakukan apapun yang terbaik untuk istriku."
"Pasti."
Jongin memijit pangkal hidungnya, "Menurutmu apakah ini murni kecelakaan biasa?"
Minseok melirik pada Chanyeol, ayah Jongin yang sedang berbicara serius dengan Jungwoo, lalu beralih pada Suho yang memejamkan mata karena kelelahan di samping Jongin. "Truck itu keluar dari jalur yang seharusnya Jongin, kau bisa menyimpulkan sendiri apakah itu kecelakaan atau bukan."
Jongin mengumpat lagi, "Apa mereka sudah menemukan pemilik truck tersebut?"
Sayang sekali, meski ada rekaman cctv, ternyata nomor truck itu palsu begitupun nama perusahaan yang tertera di badan truck itu juga tercatat sebagai perusahaan fiktif."
"Sial," geram Jongin. "Apakah ini salah satu ulah dari musuhku?"
"Kita tidak tahu Jongin, ku harap polisi akan menemukan titik terang masalah ini."
Jongin diam, ia tahu di balik banyaknya pengagum dirinya yang begitu terpesona pada ketampanan dan juga kekayaan yang ia miliki, ia juga punya banyak musuh yang membencinya. Dan kali ini mereka sudah memberikan peringatan pada dirinya, tapi kenapa mereka harus melakukannya pada Shixun istrinya dan tidak langsung kepadanya?
Sejam setelah kedatangan Jongin di rumah sakit, akhirnya lampu ruang operasi padam dan dokter berwajah ramah keluar dari dalamnya, terlihat keletihan di sana, namun dokter itu menenangkan mereka dengan mengatakan kondisi Shixun baik-baik saja, dan sebentar lagi ia akan dipindahkan ke ruang ICU. Semua orang yang berada disitu menarik napas lega, Shixun sudah berhasil melewati masa kritisnya.
"Oh ya kak, aku lupa memberikan ini padamu." Jungwoo merogoh saku jaketnya dan memberikan satu benda yang ia ambil dari saku jaketnya ke tangan Jongin.
"Cincin Shixun?" tanya Jongin dengan kening berkerut.
"Satu-satunya barang yang membuat kami yakin kalau itu memang istrimu, nak. Kau tahu, wajah Shixun sudah tak bisa kami kenali lagi," Chanyeol menepuk pundak Jongin pelan, berusaha memberi kekuatan pada anak sulungnya tersebut.
"Aku mengerti," gumam Jongin.
"Pengawal di depan mengatakan kalau wartawan semakin banyak yang datang kemari," ucap Minseok pelan, ia memasukkan lagi handphonenya ke saku jaket sebelum menoleh pada Jongin, "Kau ingin berbicaran pada mereka?"
"Demi Tuhan, tidak. Aku tak ingin berhubungan dengan satupun wartawan saat ini. Shixun bahkan masih belum sadar."
"Sabar nak, Shixun pasti bangun, mama percaya itu."
"Ma..." Jongin berbalik untuk memeluk ibunya dengan erat. "Aku takut kalau Shixun kenapa-kenapa."
"Tidak sayang, Shixun akan baik-baik saja."
.
.
.
.
.
.
Baekhyun menjerit histeris saat polisi tiba di kafe miliknya dan memberitahukan kecelakaan itu padanya.
"Sehun stupid, bodoh..." air mata berderai dipipinya yang tirus. "Kau bahkan bukan fasn Shixun tapi kenapa demi aku kau rela mengejarnya dan meminta tanda tangannya. Hiks... Aku sekarang membencinya Sehun, sangat benci... kenapa dia selamat dan kau tidak." Baekhyun menyedot ingusnya dan kembali menangis terisak.
Polisi itu menatapnya dengan canggung, ia tampak ragu menyerahkan dompet yang sudah setengah terbakar itu ke hadapan Baekhyun. "Ini adalah barang yang kami temukan di tkp, apakah ini benar-benar milik temanmu?"
Sehun sudah tidak punya keluarga lagi sejak ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu dan Baekhyun adalah orang yang menyelamatkan Sehun dari keterpurukannya saat itu, hingga mereka bisa berteman akrab sampai sekarang. Baekhyun berdehem pelan sebelum ia meraih dompet yang anehnya hanya separuh terbakar itu, padahal melihat kondisi mayat yang gosong harusnya dompetnya juga tak bersisa. Namun polisi itu mengatakan kalau posisi mayat itu saat ditemukan adalah dengan posisi menindih separuh dari dompet itu. mungkin itu yang menyebabkan dompetnya tidak terbakar sebagian.
Tangisan Baekhyun kembali pecah saat ia melihat kartu kreditnya yang separuh terbakar di dalam dompet itu. "Huhuhu... Sehun... kau bahkan membuat kartu kreditku tidak bisa di pakai lagi."
Polisi yang masih berada di depannya meringis, apakah kartu kredit itu lebih penting dari Sehun? polisi itu hanya tidak tahu betapa sedihnya Baekhyun, hingga ia harus mencari sesuatu yang bisa mengalihkannya dari rasa sedihnya pada Sehun.
"Sehuna, aku janji dari sekarang aku tidak akan melirik pada Shixun lagi, ku mohon kembalilah padaku."
Namun Sehunnya tidak akan kembali karena nyatanya Baekhyun bahkan menghadiri pemakamannya yang dilakukan begitu sederhana dan diiringi tangisan memilukan dari Baekhyun hingga pemakanan Sehun selesai.
"Sehun, aku menyayangimu, tenanglah di sana dan biarkan aku terus membenci orang yang telah membuatmu seperti ini. Aku akan membalasnya Sehun."
.
.
.
.
.
.
Tak ada hal yang lebih membuat Jongin cemas selain kondisi istrinya yang belum juga sadar, ini hari ke lima belas sejak kecelakaan itu terjadi, semua luka yang Shixun alami sudah mengering, dan hari ini pula ia di jadwalkan untuk melakukan operasi plastik untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat kulitnya yang terbakar tersebut.
"Shixun, kapan kau akan bangun? Apakah ini salah satu caramu untuk menghindari permintaanku?"
Jongin masih ingat bagaimana ia mengatakan pada Shixun kalau ia begitu ingin mempunyai anak dari istrinya tersebut, hal ini sudah menjadi perdebatan mereka selama berbulan-bulan, Shixun yang ingin kembali berkarier di dunia selebritinya tentunya tak senang kalau ia harus tampil di kamera dengan perut membuncit, karena itu ia menolak usulan Jongin untuk menunda comebacknya di dunia hiburan. Dan Jongin juga masih ingat, setelah berbulan-bulan keduanya melakukan perang dingin, pagi sebelum kecelakaan itu terjadi, Shixun datang kepadanya dan mengatakan kalau ia bersedia menuruti keinginan Jongin asal dirinya tetap bisa berkarier di dunia hiburan nantinya. Dan Jongin jelas senang mendengar kabar tersebut, mereka bahkan sempat bercinta sebelum kemudian Shixun pergi untuk berbelanja dan kecelakaan itu terjadi.
"Apa kali ini kau sendiri yang menginginkan kecelakaan ini agar kau tidak harus hamil anakku?"
Jongin menatap dalam pada sosok yang terbaring dengan mata terpejam dan wajah serta seluruh tubuh di balut perban layaknya mumi. "Tidak sayang, begitu kau sembuh, kita akan tetap akan punya anak, kau sudah janji padaku. Jadi cepatlah sadar dan lihat aku."
Pintu ruangan terbuka dan Jungwoo masuk ke dalam, "Kak, dokter bilang mereka akan melakukan operasinya sebentar lagi." Bertepatan dengan selesainya Jungwoo bicara, dokter bedah yang akan menangangi Shixun masuk ke dalam bersama perawat.
"Mr. Kim," dokter itu tersenyum lembut pada Jongin.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Jongin tanpa basa basi.
"Secara fisik dia bagus, beberapa jam lagi ia akan mendapat kerangka wajah baru yang bisa saya yakini akan lebih cantik dari sebelumnya dan setelah itu kita tinggal menunggu kesembuhannya."
"Dia bahkan belum bangun," gumam Jongin muram.
"Ada trauma di otaknya , tapi saya yakin dia akan segera sadar."
"Aku menunggu hal itu terjadi," ucap Jongin, ia menatap pada para perawat yang mulai bergerak untuk membawa Shixun ke ruang operasi. "Berjuanglah untuk sembuh, Shixun."
.
.
.
.
.
.
.
Rasanya berjalan di dalam gua yang begitu gelap dan pengap. Tak ada satu titikpun cahaya yang terlihat, sementara Sehun terus berusaha berjuang untuk melangkahkan kakinya, berusaha mencari-cari kalau ada cahaya tersisa yang bisa ia lihat. Samar-samar ia bisa mendengar gumaman-gumaman bernada asing di telinganya. Itu suara orang, dan Sehun dengan langkah kakinya yang mulai lelah, berjuang keras melangkah menuju sumber suara itu.
Sedikit lagi, pikirnya. Saat ia melihat setitik cahaya yang berada jauh di depan, ada satu kekuatan asing yang mendorongnya untuk berlari menuju sumber cahaya tersebut, sedikit lagi Sehun, teruslah maju.
Tanpa di sadarinya, Sehun mengerang halus, ada rasa sakit yang menjalar dengan tiba-tiba di seluruh tubuh dan terutama tengkorak kepalanya. Seberkas cahaya itu lenyap dan kini digantikan suara-suara bising yang Sehun tak tahu dari mana asalnya, kepalanya terasa makin sakit ia mencoba untuk membukan matanya.
"Shixun..."
Bayangan samar seraut wajah terlihat di depan matanya, pandangannya buram dan Sehun berulang kali mengerjapkan matanya hingga objek itu terlihat makin jelas.
"Shixun, sayang, kau dengar aku?"
Shixun? Siapa itu Shixun? Apakah itu namanya?
Sehun membuka mulutnya yang terasa kering, ia ingin bersuara tapi tak bisa.
"Beri ia air, sepertinya ia kehausan," ada sosok lain, seseorang yang lebih tua dan terlihat masih begitu cantik dan anggun kini ikut menatap cemas ke arahnya.
Sehun mengerang lagi merasakan sengatan rasa sakit di kepalanya.
"Ia kesakitan, kenapa dokter itu lama sekali baru tiba di sini?" terdengar pemilik wajah cantik itu mengomel tidak jelas.
Sehun ingin memejamkan matanya lagi, tapi sentuhan lembut di tangannya membuatnya tetap membuka matanya. "Shixun kau harus tetap sadar, oke."
Shixun? Siapa? Apa ia mengenalnya, bukankah namanya... tunggu siapa dirinya? siapa namanya? Mendadak Sehun di serang rasa panik, ia lupa siapa namanya dan siapa dirinya.
Tubuhnya memberontak dan ia hampir saja melepas jarum infus yang tertancap di punggung tangannya andai tak ada tangan kekar yang menahannya. "Tenanglah sayang, kau sudah aman."
Sehun ingin berontak lagi, tapi pada saat itu dokter dan asistennya datang dan sedetik kemudian Sehun menerima satu suntikan lagi di selang infus miliknya dan Sehun langsung merasa ringan dan sedetik kemudian ia jatuh tertidur kembali di kasurnya yang hangat.
.
.
.
.
.
.
Amnesia.
Satu kata itu membuat raut wajah Jongin begitu murung, istrinya amnesia dan mungkin sekarang sudah melupakan kalau dirinya telah punya suami atau apapun itu, istrinya tidak mengeluarkan tanda-tanda kalau dirinya mengenalinya.
Setelah beberapa hari tersadar dari komanya, istrinya masih melupakan tanda-tanda kalau dirinya mengenalinya. Hanya saja sudah beberapa hari ini ia terus bermimpi dan menggumamkan nama Sehun dalam tidurnya.
Dokter bilang istrinya bisa saja merasa trauma pada lelaki yang bersamanya pada saat itu, hingga terus menggumamkan namanya.
Sehun sendiri begitu terbangun dari komanya terlihat begitu kebingungan karena tak bisa mengingat apa-apa saat kecelakaan itu terjadi. Ia bahkan terdiam dengan mulut ternganga saat mereka mengatakan kalau laki-laki tampan di depannya adalah suaminya.
"Tidak mungkin, aku... aku... istrinya?"
"Ya sayang, kau istriku?"
"Tapi... tapi... aku..."
Lelaki tampan bernama Jongin itu menggenggam jemarinya dengan hati-hati, takut kalau sentuhan sekecil apapun akan menyakiti istrinya. "Segera setelah perbannya di buka kau akan kembali cantik, jadi jangan minder padaku."
Sehun hanya diam, ia teringat lagi pada mimpinya, mimpi di mana seorang pria dengan paras biasa-biasa saja terus mengatakan padanya kalau dirinya adalah Sehun dan bukan Shixun.
"Namaku Sehun?"
"Bukan sayang, namamu Shixun, Sehun adalah orang yang bersamamu saat kecelakaan itu terjadi kau ingat?"
Sehun sedikit menggeleng.
"Kau mungkin melupakannya, tapi ingatlah satu hal, kau bukan Sehun tapi Shixun."
"Shixun..."
"Ya, itu namamu. Kim Shixun. Dan kau adalah istriku."
.
.
.
.
.
"Dia sudah sadar?"
"Ya."
Laki-laki itu meneguk winenya dengan sekali tegukan, lalu meletakkan gelasnya dengan kasar di meja. "Tadinya aku pikir sudah berhasil membunuhnya tapi ternyata tidak."
"Dia amnesia."
"Apa?"
"Ya, dia amnesia. Selama dia masih amnesia maka kita masih aman."
"Berapa lama dia kira-kira akan sadar?"
"Entahlah, tapi aku akan terus mengawasinya dan aku yakin kan kalau ia tidak akan lolos lagi kali ini."
.
.
.
.
.
.
Begitu dokter sudah yakin kalau bengkak-bengkak di wajah akibat operasi plastik itu sudah kempes, segera perban yang melilit di wajah Sehun kini di lepas dengan hati-hati, bekas luka bakar yang dulu terlihat begitu mengerikan di tubuhnya kini juga telah hilang menyisakan bekas kemerahan yang dokter bilang sebentar lagi akan hilang, ia juga menjamin tak akan ada bekas luka satupun yang terlihat di tubuh Sehun setelah itu.
Dan begitu perban yang di wajah Sehun terlepas, semua yang ada di ruangan itu bernapas dengan tercekat. Hasil mahakarya itu begitu sempurna, tanpa satupun yang cacat dan Jongin berani menjamin seribu persen kalau wajah Sehun yang sekarang, kecantikannya melebih yang dulu.
"Ya Tuhan, cantiknya." Suho menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Benarkah?" tanya Sehun dengan ragu.
"Tentu saja Shixun sayang, kau cantik sekali."
"Tapi aku laki-laki."
"Ya sayang, tapi kau cantik."
Sehun menggerakkan tangannya yang agak kaku ke lehernya dan saat itulah adik iparnya melontarkan kata-kata yang membuat semuanya terdiam. "Kakak ipar, sejak kapan kau punya tahi lalat di lehermu?"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Terima kasih atas responnya yang bagus, dan karena ide ending untuk Imperfect Love serta dont deserve selalu ngadat, mungkin ini dulu yang bisa aku teruskan. Tapi yang lain masih akan lanjut kok.
Mohon reviewnya lagi ya
KaiHun Lovea
