Bersamamu

SUMMARY: Chapter 2: Kedatangan Tim 7; Kegelisahan Hinata Akan Naruto. Dia bisa segalanya. Cantik, pintar, kuat, dan masih banyak lagi. Aku? Lemah. NarutoHinata fic.

A Naruto fic, presented by LIL-ECCHAN


DISCLAIMER: Naruto is not mine. But this fic's mine.

MAIN CHARACTER: Naruto and Hinata.

RATING: T

GENRE: Romance/Adventure

LANGUAGE: Indonesian


"…Baik." ujar tim 7 serempak.

2nd Moment: Kedatangan Tim 7; Kegelisahan Hinata Akan Naruto

-Sakura's P.O.V.-

Setelah kami mencari-cari keberadaan tim 8, akhirnya!

"Hei! Sasuke, Naruto, lihat! Itu Hinata sedang memetik bunga!" jari telunjukku mengarah pada sesosok perempuan berambut indigo.

"Ah! Hinata! Ayo kesana!" ajak Naruto. Aku dan Sasuke hanya mengikutinya dari belakang.

"Hei! Hinata!" sapa Naruto.

"A… Naruto?" ujarnya. "Sakura? Sasuke?" sekarang dia tampak kebingungan melihat kami.

"Hai." ujarku singkat, yang rasanya lebih baik daripada Sasuke yang tidak mengucapkan apa-apa.

"Ah, hai, Sakura. Ada apa yang membawa kalian kemari?" ujarnya tersenyum.

"Urm…" aku dan Naruto hanya ber-"um…" ria.

"Ceritanya panjang. Akan kami jelaskan nanti. Sekarang, tolong beritahu kami dimana Kiba dan Shino." ujar Sasuke panjang lebar dengan singkat. Rasanya, jarang sekali Sasuke berbicara seperti itu.

"Em… Kiba, Akamaru, dan Shino sedang mengamati jembatan disana," ujarnya sambil menunjuk ke arah utara. Aku jadi teringat, jembatan satu-satunya di desa ini tempat kami, Naruto, Sasuke, Pak Guru Kakashi, dan aku melawan Zabuza dan Haku, yang diakhiri dengan penyesalan Zabuza dan kematian mereka berdua. "Kalian mau kuantar?" ujar Hinata lagi.

"Iya, tolong ya, Hinata!" ujar Naruto. Huh, dasar. Sepertinya dia lupa dimana jembatan yang dimaksud.

Perjalanan kearah jembatan, dipimpin Hinata. Aku, Naruto, dan Sasuke hanya mengikutinya dari belakang. Kami masih bingung apa yang akan kami katakan pada mereka. Kiba dan Shino tentunya akan khawatir pada Hinata, dan mungkin Akamaru juga, kalau dia mengerti.

Mata kami sudah bisa melihat jembatan besar yang kokoh. Aku masih dapat mengingatnya… Ini jembatan buatan Pak Tazuna. Aku melirik ke arah Sasuke. Sama sepertiku, dia memandangi jembatan itu dengan serius. Mataku melirik ke arah Naruto. Dasar. Jangan-jangan dia lupa tentang jembatan ini. Raut wajahnya mengatakan kebingungan.

"Hei, kok, rasanya aku pernah melihat jembatan ini?" tanya Naruto. Benar, 'kan, apa yang kubilang?

"Bodoh! Tentu saja! Itu 'kan jembatan buatan Pak Tazuna! Kau lupa!?" tanyaku sambil marah, sekaligus memukulnya.

"Aah! Maaf kalau aku lupa… Tapi… Siapa itu 'Tazuna'?" tanpa pikir panjang, aku langsung memukulnya lagi. Naruto yang menyadari kalau dia melanjutkan bicara akan kupukul, dia hanya diam.
"Sasuke, kau ingat, 'kan? Tentang Pak Tazuna?" ujarku menoleh kearahnya.

"Hn." seperti biasa, singkat seperti biasa.

"Tazuna? Siapa dia?" tanya Hinata. Wajar kalau dia tak tahu, dia 'kan belum pernah bertemu dengan Pak Tazuna.

"Pak Tazuna adalah orang yang membangun jembatan besar ini, kami pernah menerima misi yang bersangkutan dengannya. Ngomong-ngomong, Kiba dan Shino ada disini, 'kan?"

"Oh, begitukah… Iya, mereka berniat untuk mengawasi desa ini." ujarnya tanda mengerti. Naruto masih saja memasang tampang keheranannya.

Kami naik(atau lebih tepatnya, meloncat) keatas jembatan. Hal pertama yang kami lakukan, pastinya, mencari-cari sosok Kiba, Shino, dan Akamaru.

"Hoi! Naruto! Anak-anak tim tujuh!" suara itu tentunya tidak asing lagi untuk kami. Suara si tato taring merah. Kami segera mencari-cari sumber suara, kanan, kiri, depan, belakang, tapi tak ada siapa-siapa. Atas? Hanya ada langit biru yang dihiasi awan. Bawah? Aku menengok ke bawah jembatan. Ada sungai. Kalau dilihat, jernih sekali. Ditengah-tengah saat-saat aku memandangi sungai jernih itu, ada Kiba yang kejar-kejaran dengan Akamaru. Mereka ini… Katanya mau mengawasi desa? Tapi kok mereka malah main-main? Tapi, walaupun begitu, tetap saja ada sosok yang kurang.

"Ah! Kiba, dimana Shino?" tengok Hinata ke sungai.

"Hoo? Hinata, kau juga disitu rupanya? Shino sedang mencari tempat penginapan untuk kita di desa bagian timur, katanya…" ujar Kiba yang menciprati Akamaru dengan air sungai, begitu juga Akamaru.

"Arah timur?" ujarku. Kalau diingat-ingat, rumah Pak Tazuna, Inari, Ibu Inari yang kulupa namanya tinggal di daerah itu.

"Hei, Naruto." ujarku.

"Hm?"

"Kau masih penasaran soal Pak Tazuna?" lirikku.

"Ya, lumayanlah." ujar Naruto.

"Kalau begitu, ayo cari Shino ke arah timur!" ujarku menentukan.

"Hah? Apa hubungannya Shino dan Pak Tazuna? Jangan-jangan… Mereka itu berkerabat?" aku hanya diam. Aku sudah lelah, cukuplah sudah hukuman dua pukulan tadi. "Yah, lihat saja nanti." ujarku, aku malas memarahinya. Rasanya perasaan puas ketika memarahinya hilang. Aneh. Atau aku yang aneh? Haha.

-End of Sakura's P.O.V.-

-Sasuke's P.O.V.-

Dasar bodoh. Pak Tazuna saja sudah dilupakannya. Bagaimana dengan Inari dan ibunya? Pasti dia lupa semua pertempuran melawan Zabuza.

-End of Sasuke's P.O.V.-

Setelah itu, mereka bergegas ke arah timur.

-Naruto's P.O.V.-

"Erm… Anu, Sakura?" tanyaku.

"Ya? Ada apa?"jawab Sakura seraya balik bertanya.

"Apa kau yakin ini arah yang benar? Rasanya kita terus berputar-putar dari tadi?" Sakura celingak-celinguk, lalu memandangku.

"Tidak, kok. Aku masih ingat. Lagipula, rasanya di sekitar sini tidak dipasang genjutsu. Kenapa memangnya?"

"Yaa, aku merasa kita berputar-putar… Kenapa, ya?" tanyaku heran. Sakura tersenyum, menyentuh keningku dan berkata, "Kau kelelahan, badanmu panas. Apa kau masih kuat berdiri?" tanyanya.

"Tenang, aku masih kuat." ujarku. Bukannya sok kuat, tapi aku tak mau dia khawatir. Walaupun sebenarnya, aku tak kuat lagi.

"Kalau begitu, bertahanlah, kita mampir dulu ke tempat Pak Tazuna. Mungkin kau kelelahan karena terik matahari yang tidak sesuai dengan suhu disini. Bertahanlah, ya?" ujarnya lembut.

"…Baiklah." ujarku sederhana. Ya, itulah salah satu daya tariknya. Sifatnya yang keibuan itu membuatku tenang, walaupun sering memukulku. Tapi yah, walaupun begitu, aku tidak mungkin punya kesempatan untuk mendapatkannya. Sasuke sudah memilikinya. Mereka sudah bertunangan. Sakura mencintai Sasuke, dan begitu juga sebaliknya. Aku tak mungkin punya celah, aku hanya sahabat di mata Sakura, tak lebih tak kurang. Tapi rasanya aku merasa cukup dengan begitu.Dengan begitu, kedua sahabatku yang paling kusayangi bahagia.

Sudah lama rasanya berjalan. Lelah… Capek… Letih… Lemah… Lesu… Segala kata untuk rasa letih ini. Aku…

-End of Naruto's P.O.V.-

-Hinata's P.O.V.-

"Tenang saja, Naruto tidak apa-apa." ujar Sakura. Aku hanya menghembuskan nafas lega.

Kini, kami sudah berada di rumah Pak Tazuna, Shino pun sudah ditemukan. Tadi, Naruto pingsan di tengah jalan. Sepertinya dia terlalu sering menerima misi yang berat. Nona Tsunade memang menjadikannya andalan, sih.

Kalau kuingat-ingat, sepertinya akulah yang paling kebingungan sewaktu Naruto pingsan tadi. Rasanya, sepertinya aku ini tidak berguna. Kalau kupikir-pikir… Aku mencintainya.

Tapi, kenapa aku tak bisa berguna untuknya?

Aku lihat, Sakura sedang sibuk membuat obat untuk Naruto. Kalau dipikir-pikir… Rasanya memang wajar kalau Naruto menyukai Sakura. Dia bisa segalanya. Cantik, pintar, kuat, dan masih banyak lagi. Aku? Lemah… Melawan Kak Neji saja… Aku kalah. Pantas saja ayah lebih memilih Hanabi ketimbang aku.

Plok. Tepukan pelan mendarat di pundakku. "Hinata, kenapa menangis?" ternyata itu Sakura. Eh? Menangis? Aku meraba pipiku, basah. Iya, aku menangis.

"Ada apa, Hinata?" tanya Sakura seraya melepaskan ikat rambutnya. Dia cantik, 'kan? Beda denganku.

"Tidak apa." aku menjawab, masih menangis, sambil tersenyum.

"Benarkah?" tanyanya lagi. Dia baik, 'kan? Aku ini tidak patut untuk dikhawatirkan. Dia… Sempurna.

"Iya, tak apa. Terimakasih, Sakura." dia bisa mengerti kesulitan orang.

"…Sama-sama. Kalau ada apa-apa, bilang, ya." ujarnya tersenyum. Murah senyum.

Sakura melangkah, menjauh dari pandanganku, dan lenyap seketika setelah dia menutup pintu rumah. Dia pergi keluar. Masih sibuk dengan pekerjaannya, membuat obat untuk Naruto.

Hening.

'Apa yang bisa kulakukan?' pertanyaan itu selalu terngiang di telingaku.

Aku melangkah perlahan, ke arah ruangan dimana Naruto tertidur. Aku duduk di kursi di sebelah kasurnya.

Perlahan, aku sentuh telapak tangannya. Panas sekali. Nafasnya terengah-engah. Tuhan… Apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya?

"Hinata?" terdengar suara di balik pintu. Aku spontan menoleh.

"Shi… Shino? Ada apa?" ujarku.

"Kenapa menangis?" eh? Menangis? Yang benar saja? Masa' aku menangis terus?

Aku hanya menggeleng, "Tidak apa. Mataku kelilipan.".

"Ah, Hinata? Shino?" ujar seorang wanita yang tak lain adalah Tsunami, ibu Inari, memasuki ruangan. Inari hanya mengintip dari luar.

"Hinata, kenapa menangis?" tanya Tsunami.

"Tidak apa-apa, Nona Tsunami." ujarku.

"Eh? Nona? Ahaha. Kenapa kau memanggilku Nona?" tanyanya.

"Eh… Begini, kami 'kan tamu disini, jadi, ya, aku hanya menjaga sopan santun, itu saja, kok."

"Ahaha." Tsunami tertawa lagi. "Tak usah formal begitu, panggil saja Tsunami seperti biasa," Tsunami menoleh ke arah pintu, "Inari, masuklah, ada apa? Apa kakak ini menakutkan?" ujar Tsunami sambil menunjuk ke arah Shino.

"A… Tidak… Anu, apa… Apa Kak Naruto baik-baik saja?" ujarnya sambil memunculkan kepalanya dari balik pintu.

"Kak Naruto sedang sakit, Inari bosan? Ayo, Ibu ajak ke pasar, kita beli ikan koi untuk dipelihara."

"Eeh? Yang benar? Baiklah! Aku siap-siap dulu!" ujar Inari menjauh.

"Haha, dasar anak-anak." ujar Tsunami puas, melangkah keluar. "Hinata, jaga Naruto baik-baik, ya," ujarnya lalu pergi. "Hinata, aku juga keluar ke tempat Kiba…" ujar Shino, lalu dia pergi.

Aku tinggal sendiri. Hanya ada suara desahan Naruto yang nafasnya masih terengah-engah.

"Naruto…" semoga kau cepat sembuh, ya.

-End of Hinata's P.O.V.-


.:REVIEW REPLIES:. -NEW SECTION-

meL-chan River: Hohouu Cx Yang bener? Yah, pokoknya, inti fic ini bukan Hanabi yang diculik, tapi blablabla (memberikan spoiler) Cha, kau pereview pertama, makasii Cx

Panik-kok-di-disko: Waw. Anda banget? Ecchan gangerti... (mulai lemot)

cweeniez.narsis: Aih, enaknya bisa post fanfic di mading (loh?)

Sahara ZhafachieQa: Hohou Cx Baca aja terus ;D

Inuzumaki Athena Helen: Waii. Ecchan malah sama sekali nggak nyadar! Haahaa XD

M4yuraa: Waa! Makasih! :"D

Ray-kun 13: Kreatif? Makasih! :"D Iya, Ecchan bigfan'nya NaruHina XD Houu, anak baru. Salam kenal jugaa. :D

5 sekawan: Hinata bukan, yaa? Baca aja, deh ;) Keren? Makasih! XD Udah kubaca dan review :D

P. Ravenclaw: Udah kubaca dan review :D

Konoha High School Musical: Aku juga nggak setuju lagiii, kalo mereka berdua dijadikan satu ' 3'

Reina Lunarrune: Micchan! (peluk)

Mugle 30.05.80: Nah lo. Penasaran? Baca aja terus :P

syntax-error13: Aih... Karena takdir, karena Tuhan masih belum menginginkan untuk di update (ditendang)

Azumi Uchiha: Ini udah di update :D

m i s a . a m a n e: Waa! Sisca-senpai! Ini dia lanjutannya! ;3


Thankies for reading! :D

And please submit a/lot review, because Ecchan's crazy about reviews! Ahahaa :D

If you don't have an account in this site, or you're too lazy to log in, you still can submit a review! From now on, anonymous can submit reviews in Ecchan's fanfics!

What?! Flame? Please DON'T do that! Critics and suggestion are allowed. Once again, don't flame! Just give Ecchan critics or suggestion! They're absolutely different! And please don't insert unpolite sentences in your reviews. Ecchan hates when peoples being unpolite, such as saying bad words.

THANKS for: Reading(absolutely, BIG thanks!), review(if you do).

SORRY for: Bad grammar(ah, geez!),

WISHING for: Review(sweety pretty please with a candy on the top?), repairing my grammar(haahaa).

Once again, thankies! :D