It is Worth Anything

AUTHOR : HUANG AND WU

GENRE : ROMANCE, SLICE-OF-LIFE, AU!

LENGTH : ONESHOT

CHARACTER : WU YIFAN, HUANG ZITAO, XI LUHAN, and another SURPRISING CASTS

POINT OF VIEW : AUTHOR

RATE : T

SUMMARY :

Kisah cinta ini tidaklah seindah Habibie-Ainun, tidak juga seperti legenda Cinderella. Kisah cinta ini hanyalah kisah sederhana yang tumbuh dalam suatu kesempatan yang menyentuh. Dan setelahnya, cinta mereka terasa lebih bermakna. Terinspirasi dari kedatangan pengungsi Rohingya ke Aceh, inilah It is Worth Anything.

WARNING! IT IS GENDERSWITCH!

This is Indo-background!AU Project

Alohaaaaa readers-deul!

Hahaha, HAW is back with KRISTAO FF FINALLY!

Ada yang kangen KT? HAW KANGEN BANGET DEMIAPA *okesip KT feels ugh*

Oke guys! Langsung aja yuk! Cekidoottt!

Ps : Bakal sreg banget kalo sambil dengerin lagu Taeyeon – U R. Cocok banget dan fit parah feelingnya

.

-It is Worth Anything-

.

.

Start

Aceh, 2015.

SRIINGGG!

Suara helikopter yang berputar-putar di udara sedikit menginterupsi beberapa aktivitas di daerah lapang tersebut. Tenda-tenda bertebaran, dan banyak orang berlalu-lalang dengan urusan masing-masing.

Seorang namja berlari ke arah helikopter yang mulai melakukan landing itu, memegangi topinya dan sedikit menyipitkan matanya–agar topinya tidak terbang dan matanya tidak kemasukan debu.

Perlahan, beberapa orang namja keluar. Mereka berpakaian selayaknya tentara dan beberapa membawa tas-tas besar mereka di punggung. Namja yang tadi bertopi pun segera berjalan menghampiri helikopter itu dan berjalan ke salah seorang tentara.

"Wu Yifan?"

Tentara berwajah blasteran Amerika-Tiongkok itu pun menoleh, dan mengangguk. Namja bertopi itu mengangguk, kemudian meraih pena dan sebuah notes dari kantungnya dan menulis sesuatu di sana.

"Apa yang kau tulis itu.. Jongin?"tanya namja bernama Wu Yifan itu–dia sempat melirik nametag namja bertopi tersebut, membuat namja bertopi bernama Jongin itu terkekeh.

"Well, hanya absensi simpel. Tendamu nomor 3!"ucap Jongin, diangguki Yifan.

Baiklah, mari author jelaskan siapa sebenarnya main actor kita sekarang.

Dia adalah Wu Yifan, tetapi biasa dipanggil Kris oleh orang-orang dekatnya. Kris adalah seorang tentara perdamaian utusan United Nations alias PBB. Kris mendatangi Aceh untuk melaksanakan tugasnya sebagai tentara perdamaian. Kaum Rohingya baru saja diungsikan dari Myanmar dan Bangladesh, dan sekarang mereka tengah mengadu nasib di Indonesia. Dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, Kris sukarela datang ke Indonesia bersama beberapa kawannya.

Kris berjalan membawa tas besarnya, melintasi beberapa tenda. Ia menatap nomor-nomor pada tenda itu, mencari tenda miliknya.

"Ah, itu dia nomor 3."gumam Kris.

Kris berjalan ke arah tenda itu, kemudian membuka resleting tenda itu. Ia memeriksa isi tendanya, kemudian mengepak isi tas besarnya.

DUGH!

"Aww!"

Tiba-tiba, Kris merasa tas besarnya agak bergoyang. Kris menoleh, dan mendapati seorang yeoja yang tengah meringis seraya memegangi pergelangan kakinya yang berbalut sneakers. Kris berhenti mengepak tasnya sejenak, kemudian menghampiri yeoja itu.

"A-apa kau tersandung tas besarku? Aku minta maaf! Aku benar-benar tidak melihatmu!"ucap Kris, dengan rasa agak bersalah.

"Ahh, tidak apa-apa. Kurasa aku benar-benar ceroboh tadi."sahut yeoja itu, masih dengan tangan mengusap kakinya.

Dan kemudian, yeoja itu mendongak. Kris mengalihkan pandangannya dari kaki itu ke arah wajah yeoja itu. Mereka terdiam.

Eye-contact itu berjalan selama kurang lebih 1 menit.

"Ahh, terimakasih sudah peduli. Aku harus kembali ke tenda pengungsian anak-anak."ucap yeoja itu dengan nada agak salah tingkah, kemudian membungkuk singkat.

"Ba-baiklah. Hati-hati, jangan sampai tersandung lagi."ucap Kris, sedikit lirih dan dengan kekehan malu.

Yeoja itu sedikit terkekeh mendengar ucapan Kris, kemudian kembali berjalan menjauh. Kris menatap kepergian yeoja itu, dan beberapa kali yeoja itu tadi menoleh ke arah Kris. Kris hanya memasang senyum tampannya, menatap yeoja itu hingga sosoknya hilang di tikungan.

Seketika, Kris ingat sesuatu.

"Aish, sial! Aku lupa bertanya namanya!"gumam Kris seraya menepuk keningnya dengan bodoh.

Kris menatap tikungan tempat yeoja itu berbelok tadi. Ia sedikit termenung, kemudian senyum terpahat pada bibirnya. Matanya tak lepas dari tempat itu.

Siapa dia?

-XOXO-

"Ada perahu baru! Sebaiknya kalian ikut membantu!"

Terdengar pekikan seorang tentara. Kris segera keluar dari tendanya, kemudian meraih sepatu tentaranya. Ia mengeluarkan kedua kakinya dari tenda, kemudian memakai sepatu tersebut.

"Ayo cepat!"seorang tentara lewat di hadapan Kris, kemudian mengajaknya pergi.

"Iya, sebentar!"ucap Kris, setelah mengencangkan ikatan sepatunya.

Setelahnya, Kris meraih jaket loreng tentaranya, dan segera berlari ke arah sumber suara. Sambil berlari, ia memakai jaketnya.

Perahu baru? Pengungsi baru, kah?

-XOXO-

"TARIKK! TARIKK!"

Terdengar pekikan banyak namja di sana. Kris segera merangsek masuk ke dalam kelompok, dan secara random memilih ujung tali dari sebuah perahu cukup besar. Bersama-sama, seluruh namja itu menarik tali tersebut agar perahu tersebut mendekat ke arah daratan.

"TARIKK! TARIKKK!"pekik Kris, bersamaan dengan yang lainnya.

Tampak di atas perahu-perahu itu, yeoja dan namja beragam usia dengan wajah sedikit kotor. Beberapa relawan segera menghampiri mereka–tak peduli apakah mereka berbasah-basah ria oleh air laut–dan membantu mereka turun dari perahu.

Kris melihat aktivitas itu, lantas sedikit terdiam.

Yeoja yang tadi pagi tak sengaja bertemu dengannya ada di sana, tampak menggendong seorang anak kecil keluar dari perahu.

Tanpa sadar, Kris telah berjalan ke arahnya. Kris menghampiri yeoja itu, tak peduli apakah sepatunya jadi basah oleh air laut. Yeoja itu menyadari kehadiran Kris, dan menoleh. Senyum lembut terhias di atas wajahnya.

"Kau yang tadi pagi."gumam yeoja itu, diangguki Kris.

"Biar kubantu."

Kris berdiri di samping yeoja itu, kemudian menggenggam tangan dua orang anak kecil. Setelahnya, ia menggendong dua anak kecil itu dengan masing-masing tangannya. Ia berusaha agar anak-anak itu tidak kebasahan oleh air laut. Yeoja tadi menggendong seorang anak kecil, dan keduanya pun berjalan ke arah pantai.

SLASH!

"Aww!"

"Hati-hati!"

Baru saja yeoja tadi terpeleset oleh karang pinggiran, untung saja yeoja itu sigap memegangi pundak lebar Kris sehingga ia tidak terjatuh dengan anak dalam gendongannya. Kris menatap yeoja itu dengan khawatir, dan yeoja itu hanya terkekeh.

"Tidak masalah. Ayo, jalan."ucap yeoja itu.

Mereka pun sampai di tepi pantai.

Kris menurunkan kedua anak dalam gendongannya, dan yeoja itu menurunkan anak dari gendongannya juga. Ketiga anak-anak itu segera berlari ke arah kerumunan pengungsi Rohingya yang tampak tengah duduk di pinggir pantai, bersyukur bahwa mereka selamat dari ganasnya lautan. Kris menatap momen dimana anak-anak itu berpelukan dengan masing-masing orangtua mereka, tersenyum menatapnya.

"Itu momen yang indah."

Kris menoleh, mendapati yeoja itu juga menatap ke arah yang sama. Yeoja itu menoleh, lantas mendongak ke arah Kris. Ia tersenyum, memamerkan senyum manisnya yang entah kenapa Kris suka. Kris tersenyum, kemudian mengangguk seraya melipat tangannya di depan dada.

"Bayaran plus dari kegiatan sukarela seperti ini. Aku suka senyuman mereka."gumam Kris, diangguki oleh yeoja itu.

Kris menoleh pada yeoja itu, kemudian menyodorkan tangan kanannya. Yeoja itu menoleh, mendapati Kris yang tersenyum. Yeoja itu ikut tersenyum, kemudian membalas jabatan tangan itu.

Bisa Kris rasakan tangan lembutnya yang benar-benar seperti kain sutera bagi Kris.

"Aku Kris. Wu Yifan."ucap Kris, memperkenalkan dirinya.

"Aku Huang Zitao! Biasanya, orang-orang memanggilku Tao!"ucap yeoja itu, dengan senyuman riangnya.

Sudut bibir Kris berkedut untuk tersenyum. Tao menatap Kris dengan berbinar, membuat namja itu terpesona lebih dan lebih olehnya. Tao terkekeh, kemudian mengerjap.

"Senang berkenalan denganmu!"ucap Tao.

Senang berkenalan denganmu juga, cantik..

-XOXO-

Semenjak itu, Tao dan Kris dekat. Sesekali, mereka tampak di suatu kejadian sukarela bersama. Terkadang, mereka juga tampak dalam bakti sosial dan juga pendampingan para pengungsi Rohingya yang baru datang. Kris dan Tao sama-sama mulai mengenal satu sama lain lebih dekat dari sebelumnya.

Bagi Kris, Tao adalah seorang yeoja berhati malaikat. Yeoja itu pantang menyerah dan juga tidak mudah lelah.

Kris pernah memergoki yeoja itu tengah menyuapkan bubur pada salah seorang anak pengungsi Rohingya jam 2 malam. Kris tidak pernah mendengar yeoja itu mengeluh, dan Tao adalah seorang koki yang hebat. Yeoja itu benar-benar tahu bagaimana menghibur para anak pengungsi Rohingya, dan dia juga tidak mudah lelah dalam mengurus para lansia. Tao selalu siap sedia membantu mereka menyiapkan sesuatu–entah itu peralatan ibadah atau pun makanan.

Tao juga selalu mengutamakan orang lain–atau bahkan makhluk lain. Ia bahkan menyerahkan satu porsi penuh makanannya–dengan menu nasi dan ikan goreng–kepada sekelompok kucing yang tengah mencari makan. Kucing-kucing itu makan dengan lahapnya. Bagi Kris, Tao adalah relawan yang mulia.

Bagi Tao, Kris adalah tentara yang luar biasa. Kris selalu berani menghadapi tantangan, dan terkadang dia juga berani ambil resiko demi keberlangsungan para pengungsi.

Pernah satu kali, ada saat dimana Kris menawarkan diri untuk membantu para anak pengungsi Rohingya menyeberangi sungai. Sungai itu tidak memiliki jembatan, dan hanya ada sebuah tali di sana. Kris pun dengan sukarela membiarkan anak-anak itu menaiki pundaknya, dan dirinya akan melawan arus sungai untuk berjalan ke seberangnya itu agar mereka bisa lewat. Kejadian itu berlangsung beberapa kali, dan Tao tidak pernah berhenti tersenyum jika mengingatnya. Bagi Tao, Kris adalah tentara teladan.

Keduanya saling mengagumi dalam hati, saling memuji walau tidak pernah mengatakannya secara langsung. Semuanya terasa indah.

"Hey, ada pengungsi baru! Bantu kapalnya!"

Kris menoleh ke arah sumber suara, lantas menghentikan kegiatan menulis jurnalnya. Kris segera berlari ke arah sumber suara, kemudian berjalan ke arah pinggir pantai–dimana perahu-perahu kayu mulai merapat.

"TARIKK! TARIKK!"perahu itu pun kembali ditarik oleh para tentara namja–Kris turut andil dalam membantu menarik kapalnya.

Setelah kapal itu cukup merapat ke daratan, Kris segera menembus air laut untuk mengangkut para penumpang ke daratan. Kris berdiri di sisi kapal, kemudian menatap penumpang-penumpang di sana.

Tampak di hadapannya, seorang yeoja berwajah oriental Tiongkok yang tengah berjongkok ketakutan.

"Ayo, aku angkat kau ke daratan."

Kris merentangkan kedua tangannya, mempersilahkan yeoja itu. Yeoja itu memposisikan dirinya di atas kedua tangan Kris, dan Kris segera memperbaiki posisinya. Ia pun menggendong yeoja itu ala bridal style menuju ke pinggir laut. Yeoja itu memeluk Kris erat, takut terjatuh.

"Tao!"pekik Kris.

Tao–yang tengah berdiri di pinggir pantai–pun sigap berjalan ke arah Kris yang setengah tubuhnya basah oleh air laut. Kris menurunkan yeoja itu dari gendongannya, dan Tao dengan sigap langsung menyelimutkan handuk pada tubuh mungilnya. Tao tersenyum menatap yeoja itu.

"Hai. Aku Tao. Aku akan mengurusmu sementara ini."ucap Tao, membuat yeoja itu mengangguk kaku.

"A-aku Luhan."ucap yeoja itu, disenyumi Tao.

"Bawa dia ke tenda. Beri dia pakaian hangat dan makanan."ucap Kris, diangguki Tao.

Tao merangkul pundak yeoja itu, kemudian membawanya ke arah tenda. Sekilas, Luhan menoleh ke belakang–untuk mendapati Kris yang masih melanjutkan aktivitasnya mengangkut pengungsi-pengungsi lain ke daratan. Luhan tersenyum kecil.

Tanpa Luhan sadari, Tao mengamati wajah Luhan. Dia tersenyum kecil, kemudian menatap ke arah Kris yang tengah sibuk di sana. Tao tahu apa yang ada di pikiran Luhan, namun dia hanya diam saja.

"Aku akan memberimu pakaian terlebih dulu. Apa ukuran bajumu?"

-XOXO-

Kris tampak tengah mengasah pisaunya di depan tenda. Beberapa hari ini ia harus menguliti beberapa kambing dan domba untuk dijadikan daging semur. Kris sukarela melakukan itu–hitung-hitung agar para pengungsi bisa makan enak.

"Hai, Kris."

Kris mendongak, dan mendapati Tao yang tengah berdiri di hadapannya seraya tersenyum. Kris membalas senyuman itu, kemudian menggeser bangkunya–membiarkan Tao duduk di sampingnya. Tao mengamati apa yang Kris lakukan, dan namja itu kembali pada pekerjaannya.

"Mau cokelat?"tanya Tao, seraya menyodorkan segelas cokelat hangat di tangan kanannya.

Kris menatap cokelat itu, kemudian menatap wajah Tao. Tao tersenyum, dan Kris tidak bisa tidak membalas senyuman itu. Maka, ia pun menaruh pisau yang tengah ia asah, kemudian menerima cokelat hangat dari Tao.

"Ini enak! Kau yang buat?"tanya Kris, diangguki Tao.

"Kebetulan ada sisa air panas, jadi aku buat jadi cokelat."ucap Tao, kemudian meminum cokelat panas miliknya sendiri.

Kris dan Tao saling bertatapan. Keduanya larut dalam pembicaraan yang menyenangkan. Beberapa pembicaraan yang ada di antaranya adalah tentang alasan mereka menjadi relawan.

"Well, aku sudah menjadi relawan UNICEF sudah sejak lama. Aku hanya ingin menuntaskan keinginanku membantu orang, dan UNICEF adalah tempat yang cocok. Saat aku bertugas di Indonesia, tiba-tiba ada panggilan tugas untuk pergi ke Aceh. Maka, di sinilah aku. Aku cukup bersyukur bahwa pengungsi-pengungsi di sini baik-baik saja."jelas Tao, diangguki Kris yang paham maksudnya.

Tao menoleh ke arah Kris, mendapati namja itu yang tengah meminum cokelat panasnya.

"Bagaimana denganmu?"tanya Tao, membuat Kris menatapnya.

Kris menghabiskan gelas cokelat panas itu, kemudian sedikit menghela nafas. Ia menaruh gelas itu di belakangnya, kemudian menatap Tao yang tengah menatapnya dengan penasaran. Gosh, yeoja ini benar-benar menggemaskan; batin Kris.

"Aku menjadi tentara perdamaian PBB sudah sejak 3 tahun lalu. Sejak dulu, cita-citaku adalah menjadi pendamai antara Korea Utara dan Korea Selatan, walau aku tahu bahwa hal itu belum terjadi. Sama sepertimu, aku mendapat panggilan tugas untuk kemari. Jadilah aku di sini, duduk di sampingmu sambil meminum cokelat panas."ucap Kris, membuat Tao menunduk agak malu.

"Apa itu artinya.. kita ditakdirkan bersama?"tanya Tao, lirih.

Kris tersenyum samar mendengar ucapan lirih Tao. Kris menoleh ke arah Tao, mendapati yeoja bersurai hitam kelam itu masih menunduk malu. Kris merangkul Tao, membuat yeoja itu menoleh.

"Aku tidak tahu apa-apa soal takdir, tapi aku tahu bahwa ada alasan di balik pertemuan kita sebelumnya."ucap Kris.

Tao tak pernah merasa tersentuh seperti ini seumur hidupnya.

-XOXO-

Kris berjalan ke arah tenda pengungsi seraya membawa satu boks makanan berisi mie instan dan susu kaleng. Beberapa relawan ada di sana, menyambut boks makanan Kris. Kris menyapa mereka dengan ramah, dan membantu mereka membereskannya.

"Kau kemari."

Kris berbalik, mendapati seorang yeoja berwajah oriental di sana. Kris tersenyum, kemudian berjalan menghampirinya.

"Kau pengungsi yang waktu itu."ucap Kris, diangguki yeoja itu.

"Aku Luhan. Kau?"sapa yeoja itu seraya menyodorkan tangan kanannya.

Kris menatap tangan itu, kemudian membalas jabatan tangannya–Kris mengenakan sarung tangan. Luhan tersenyum, dan mereka pun melepas jabatan tangan itu.

"Aku Kris."sahut Kris.

"Well, Kris, senang bertemu denganmu. Dan, sekadar info, aku bukan pengungsi."ucap Luhan, membuat Kris mengernyit.

"Maksudmu? Kau bukan pengungsi Rohingya?"kaget Kris, diangguki Luhan.

"Aku adalah relawan pro-Rohingya. Aku ditendang dari Myanmar, dan kewarganegaraan-ku dicabut. Well, ini lumrah, dan aku baik-baik saja. Aku ikut Rohingya mengungsi karena aku ingin membela hak asasi mereka."ucap Luhan, membuat Kris cukup terpana.

"Itu luar biasa."gumam Kris.

Kris pun berjalan, diikuti oleh Luhan. Mereka mulai membicarakan banyak hal, sesekali tertawa karena lelucon ringan dari Kris. Tawa mereka lepas, dan yang melihatnya pun akan sangat senang dengan kebahagiaan mereka.

Tapi, tanpa Kris dan Luhan sadari, Tao tak sengaja melihat keduanya berjalan bersama seraya tertawa-tawa.

Tao sedikit murung, tapi kemudian mulutnya kembali mengukir senyuman. Dengan sebuah boks berisi buku-buku di tangannya, ia pun kembali berjalan menjauh. Ia berusaha melupakan kejadian barusan.

Memikirkan kejadian tadi, malah akan membuatnya menjadi lebih sakit hati.

Cemburu, kah?

-XOXO-

Tao mengepak buku-buku itu, menaruhnya ke dalam rak-rak buku minimalis dalam sebuah tenda tentara besar–tenda itu berperan sebagai sekolah darurat sekaligus perpustakaan kecil untuk anak-anak pengungsi. Tao sesekali membetulkan posisi buku-buku itu.

"Hey, what're you doing?"

Tao mengernyit, kemudian menoleh dan mendongak. Seorang tentara tampak berdiri di hadapannya, kemudian tersenyum. Dari seragam tentara itu, Tao bisa memperkirakan bahwa tentara itu sama seperti Kris–anggota pasukan perdamaian dunia PBB.

"Hello. Nice to meet you."sapa Tao, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.

Tentara itu menghampiri Tao, kemudian berjongkok di sampingnya. Ia pun meraih beberapa buku dari dalam boks di hadapan Tao, kemudian membantu yeoja itu mengatur buku-bukunya dalam diam.

"Eh?"kaget Tao, melihat tentara bermata bulat itu membantunya.

Tao sedikit terdiam, kemudian tersenyum dan berterimakasih. Ia pun melanjutkan kegiatan merapikan buku-buku itu, hingga buku-buku itu pun bisa ditaruh secara rapi di dalam rak buku.

"Hey, let me introduce my self. I'm Peter Park."tentara itu memperkenalkan dirinya, kemudian menyodorkan tangan kanannya (read, nama Peter Park adalah nama Inggris dari Park Chanyeol).

"Hello, Peter. I'm Tao. Nice to meet you!"sapa Tao, kemudian membalas jabat tangan Peter.

"Well, looks so tidy and feel warm here."gumam Peter seraya menatap sekelilingnya.

"Yes, indeed. Are you a new soldier? I never see your face before."ucap Tao, diangguki Peter.

"Yes, United Nations sent me two days ago to add more soldiers here."jelas Peter, diangguki Tao.

"Do you want to have a walk? I will walk you around this place."ucap Tao, diangguki Peter dengan semangat.

"Sounds great."

Peter dan Tao keluar dari tenda itu, kemudian berjalan berkeliling. Bahasa Inggris Tao yang fasih membuat Peter mudah untuk berkomunikasi dengannya. Well, Peter adalah seorang blasteran Korea-Inggris, namun ia menetap di Inggris dan tidak fasih berbahasa Korea.

Penjelasan Tao tentang beberapa tenda dan interaksinya dengan anak-anak membuat Peter serasa nyaman di dekat yeoja itu. Senyuman Tao yang indah tidak mampu ia menolak–pesona yang sulit untuk dihindarkan.

Tanpa keduanya sadari, Kris–yang tengah mengangkut beberapa peralatan memasak–merasa sedikit murung.

Kris tersenyum ketika melihat Tao yang berinteraksi dengan anak-anak, sesekali melemparkan candaan ringannya dan membuat anak-anak itu riang. Kris selalu suka momen itu, dan–selama ini–ia diam-diam mengamati Tao.

Melihat kedekatan tentara itu dengan Tao, membuat kepala Kris jadi agak pening. Rasanya panas, dan Kris tidak bisa menghindar dari rasa panas itu.

Jealous? Indeed..

-XOXO-

"Semua tentara harap berkumpul di area helipad!"terdengar pemberitahuan via speaker.

Kris keluar dari tendanya, kemudian memakai sepatu tentaranya. Ia meraih jaket tentaranya yang sudah agak kumuh, kemudian berjalan ke arah helipad yang tampak sudah didatangi beberapa tentara.

Di antara tentara-tentara itu, ada satu orang yang familiar oleh Kris.

Tentara yang kemarin bersama Tao–yang tak lain adalah Peter Park.

"Dengarkan pengumuman ini baik-baik!"terdengar suara perintah.

Kris mengancingi jaketnya, menatap ke arah depan dengan wajah sedikit menautkan alis. Pengumuman apa yang akan disampaikan? Sepertinya sangat penting; batin Kris.

"Kita butuh tentara-tentara perdamaian untuk dikirim ke Bangladesh dan membantu evakuasi Rohingya di sana. Perbatasan tengah memanas, dan rakyat Rohingya di sana dalam bahaya. Itulah kenapa saya mengumpulkan kalian di sini!"

Kris terdiam. Ia mengerjap, kemudian sedikit berpikir. Bangladesh? Tanpa sadar, Kris mengepalkan tangannya. Ia berusaha menahan emosinya.

Jika ia harus pergi, itu artinya ia tidak akan bertemu dengan Tao.

-XOXO-

"Kudengar kau akan pergi."

Kris berbalik, mendapati Luhan yang berdiri di belakangnya. Kris meraih tas besarnya, kemudian berdiri di depan tendanya dan tersenyum. Luhan tersenyum menatap Kris, walau terlihat sekali ada raut kesedihan di sana. Tangan kanan Kris bergerak untuk mengusak rambut Luhan, membuat yeoja itu sedikit protes.

"Jangan nakal, ya? Aku akan kembali secepatnya."ucap Kris, diangguki Luhan dengan patuh.

Kris mengendarkan pandangannya, lantas terdiam ketika melihat suatu pemandangan memilukan.

Tao, yang tengah berdiri di depan tendanya, dengan tentara yang kemarin.

"Kris?"

Kris menoleh cepat, mendengar panggilan Luhan. Kris terkekeh salah tingkah, kemudian menatap yeoja itu.

"Aku melamun. Maaf."gumam Kris.

Luhan menengokkan kepalanya ke arah pandangan Kris sebelumnya. Dan sebagai seorang yeoja, dia cukup paham kenapa Kris menatap pemandangan di hadapannya dengan siratan terluka di sana.

-XOXO-

"You are gonna be fine, Peter. Don't worry."

Tao menatap Peter di hadapannya dengan tatapan menghibur, dan Peter hanya menghela nafas berat. Sejujurnya, namja itu tidak rela jika dia harus pergi jauh dari Tao. Dia sudah nyaman dengan Tao, dan–dia harap–Tao nyaman dengannya.

"I will go back soon. Will you wait me?"tanya Peter, disenyumi Tao.

"Of course I will. You are my friend."ucap Tao, membuat Peter tersenyum samar.

Friend? Is that it? Nothing special?; batin Peter. Peter menghela nafas berat, kemudian tersenyum. Tao menepuk pundak Peter, memberinya semangat. Peter meraih tas besarnya, kemudian mengangkatnya dengan tangan kanannya.

"Goodbye, Tao."ucap Peter, kemudian berjalan menjauh dari tenda Tao.

Tao menatap Peter, kemudian tersenyum. Ia mengendarkan pandangannya, lantas terdiam ketika melihat sesuatu. Pandangannya melunak, dan entah kenapa matanya sedikit berair ketika melihatnya.

Kris, yang tengah menatapnya dari jauh.

Tao berjalan menghampiri Kris, mendekap tubuhnya sendiri dengan gugup. Kris menatap Tao yang menghampirinya, dan namja itu pun ikut menghampiri Tao.

Mereka berdiri berhadapan, sekitar 1 meter.

"Hai."sapa Tao, membuat Kris menatapnya dan tersenyum.

"Hai."sahut Kris.

"Kau.. akan pergi juga?"tanya Tao, diangguki Kris singkat.

"Ya. Aku harus pergi dan membantu mereka."ucap Kris, menatap Tao tanpa berkedip sekalipun.

Kris ingin merekam wajah itu dalam ingatannya, sehingga ia selalu punya alasan kenapa harus kembali ke tempat pengungsian ini.

Tao menatap Kris, dengan bibir bawah yang ia gigit sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca, dan pundaknya mulai bergetar. Tao mengerjapkan matanya, lantas berjalan menghampiri Kris dengan cepat.

GREP!

BUGH

Dan kemudian, ia memeluk namja tinggi itu. Kris melepas tasnya dari genggamannya, kemudian balas mendekap yeoja itu.

Tao menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Kris, dan namja itu menunduk–menghirup wangi tubuh Tao kuat-kuat. Tao menangis cukup deras, membuat pundak Kris serasa basah. Kris memejamkan matanya, merasakan bahwa setitik airmata telah mengaliri pipinya. Mereka menyalurkan kehangatan sebanyak-banyaknya–sebelum terlambat.

Tao melonggarkan dekapannya, menatap Kris yang sejengkal lebih tinggi darinya. Kris menatap wajah Tao, kedua tangannya bergerak mengusap wajah itu. Tao sedikit terisak, dan Kris menunduk sedih.

"Aku akan segera kembali, Tao. Aku janji aku akan kembali."gumam Kris, lirih.

Kris mempersatukan kening mereka, menikmati deru nafas masing-masing. Tao mengusap tangan Kris yang mengusap wajahnya, memejamkan matanya erat.

"Berjanjilah untuk pulang."pinta Tao, lirih.

"Ya, aku berjanji."

CHU

Dan setelahnya, Kris mengecup kening yeoja di hadapannya dengan penuh cinta–menunjukkan betapa cintanya pada Tao terlampau besar.

Pemandangan mengharukan itu dilihat oleh segenap relawan di sana. Tak terkecuali Peter dan juga Luhan.

Ada rasa sedih dalam hati keduanya, mengingat mereka menaruh hati pada Tao dan Kris. Tetapi, ada juga rasa hangat yang tak logis, begitu menyadari bahwa orang yang kau suka telah menemukan kenyamanan dan tambatan hatinya.

Kedua sejoli itu pun hanya bisa tersenyum getir.

-XOXO-

Tiga hari semenjak kepergian para tentara perdamaian PBB, tidak ada perubahan signifikan pada lokasi pengungsian kaum Rohingya.

Tao tengah membawa sebuah panci, kemudian menaruhnya di atas sebuah kompor portable. Setelah memeriksa gasnya, barulah ia menyalakan kompor itu. Ia berencana untuk menanak nasi.

Ingatan yeoja itu beralih pada Kris.

Ia tidak pernah berhenti mendoakan Kris. Setiap ia mengingat nama itu, semakin besar pula rasa rindunya, dan semakin besar pula rasa cintanya pada namja itu. Tao memejamkan matanya, dan–untuk kesekian kalinya–ia menangkup tangannya. Ia berdoa dengan khusyuk.

TES

Dan membiarkan airmatanya mengalir. Airmata penuh pengharapan.

"Ya Tuhan, jagalah Kris di sana. Jagalah ia untukku. Kembalikanlah ia kemari, Ya Tuhan."gumam Tao, lirih.

"Hey."

Tao menoleh, mendapati seorang yeoja yang tengah tersenyum ke arahnya, dengan sebuah selimut cukup besar yang menyelimuti tubuh ringkihnya. Tao menyeka airmatanya kasar, kemudian mempersilahkan yeoja itu untuk duduk di sampingnya. Yeoja–yang tak lain adalah Luhan–itu pun duduk.

"Kau pengungsi yang dekat dengan Kris itu."gumam Tao, sedikit mengingat wajahnya.

"Kau mengingatku rupanya."ucap Luhan, kemudian memamerkan senyumnya.

Mereka pun berkenalan lebih dekat. Luhan menjelaskan banyak hal pada Tao, salah satunya adalah alasan kenapa dia terus berjuang membela hak asasi kaum Rohingya. Luhan sebenarnya bukanlah pengungsi Rohingya. Ia adalah penduduk yang menetap di Myanmar, dan menentang keras kekerasan terhadap kaum Rohingya. Ia pun memutuskan untuk ikut membuang diri ke lautan bersama kaum Rohingya, sebagai perwujudan rasa penegakan hak asasi manusianya yang sangat kentara.

Tao sedikit berpikir. Luhan benar-benar pantas untuk Kris; batin Tao, sedikit nestapa.

Tao menunduk dalam. Ia merasa tak pantas bersanding dengan Kris. Luhan memiliki segalanya, dan dia yakin bahwa Kris akan jauh lebih memilih Luhan. Luhan menatap wajah murung Tao, kemudian tersenyum miris.

"Kris.. selalu membicarakan banyak hal tentangmu."ucap Luhan, mengakuinya.

Tao menoleh ke arah Luhan. Ia menangkap pancaran luka dan pahit dalam manik hazelnut itu. Luhan menundukkan kepala, kemudian menangkup wajahnya dengan satu tangan.

"Aku tak tahu, apa aku harus membencimu atau malah mengorbankan diriku dan rasa cintaku terhadap Kris. Di sini sakit, dan aku tahu bahwa luka ini takkan pernah sembuh."gumam Luhan seraya menunjuk ke bagian dadanya dimana jantungnya berada.

Tao terdiam. Luhan menatapnya, kemudian tersenyum memaksa. Tao tak mau membalas ucapan yeoja itu. Ia tahu bahwa yeoja itu sudah remuk karena Kris, dan Tao masih punya hati untuk tidak membuatnya lebih buruk.

"Kris sangatlah sempurna, dan kau adalah orang yang cocok untuknya. Aku hanyalah manusia keras kepala yang hanya akan menjadi beban untuknya. Aku mencintainya, tapi aku menyadari bahwa cinta tak harus memiliki."

"Maafkan aku.."gumam Tao, lirih.

Tao mendekap tubuh Luhan erat, memberikan rasa tenang dan bersahabat padanya. Luhan membalas dekapan Tao, lantas terisak di atas pundaknya. Tao membisikkan banyak kata penenang, membiarkan Luhan melampiaskan perasaannya.

Hari itu, kedua yeoja berhati mulia itu meresmikan diri mereka sebagai sahabat.

-XOXO-

"Tentara perdamaian PBB akan segera tiba dari tugas mereka!"terdengar pekikan dari beberapa pengungsi.

Tao menatap ke arah sumber suara, kemudian menoleh ke arah Luhan yang tengah menaruh sebuah baju di atas jemuran tali. Tao menyentuh pundak Luhan, membuat yeoja itu menoleh. Setelah 2 minggu menunggu, akhirnya tentara-tentara itu tiba juga.

Akhirnya, Kris pulang!

"Ayo, kita sambut mereka!"ucap Tao, terdengar antusias.

Luhan menyadari wajah antusias Tao, lantas tersenyum miris. Tao meraih tangan kanan Luhan, kemudian menariknya dan membawanya berjalan ke arah helipad. Luhan benar-benar menyadari rasa excited Tao, dan ia memikirkan satu hal.

Sepertinya, belajar merelakan sesuatu takkan ada salahnya..

Tentara-tentara itu turun dari atas helikopter, membawa beberapa pengungsi. Relawan-relawan yang stay langsung sigap membantu mereka. Tao dan Luhan menatap helikopter-helikopter lain yang baru saja tiba.

Dimana Kris?

"Ayo, turunkan dia! Perlahan."terdengar suara komando.

Beberapa tentara menurunkan beberapa brankar dan membantu tentara-tentara lain berjalan. Tao menyadari bahwa helikopter itu adalah helikopter khusus tentara yang terluka. Menyadari ada sesuatu di sana, Tao menyipitkan matanya.

Setelahnya, ia kaget bukan main.

Tampak Kris, keluar bersama Peter yang membantunya berjalan. Kris berjalan menggunakan tongkat. Luhan kaget bukan main, sedangkan Tao sudah berlari ke arah Kris. Kaki itu berdarah-darah.

Kris menatap Tao yang berlari menghampirinya, lantas kaget.

"Tao?"

GREP!

"Kau menepati janjimu! Kau menepati janjimu!"pekik Tao, dalam dekapan Kris.

Kris butuh waktu untuk memproses apa yang Tao lakukan padanya. Tao mendekap Kris lebih erat, menenggelamkan wajahnya pada ceruk lehernya. Kris membalas dekapan Tao dengan satu tangan, satu tangannya lagi masih menumpu tongkat jalannya.

"Maaf, aku.. pulang dalam keadaan cacat seperti ini."

Tao melepas dekapannya pada Kris, kemudian menatap kaki Kris yang berdarah-darah. Tao memanggil beberapa perawat, dan langsung menidurkan Kris di atas sebuah brankar. Ia pun dibawa ke tenda kesehatan. Luhan dan Peter turut bersama mereka.

Seorang dokter memeriksa keadaan Kris, mengamati luka pada kakinya itu. Benar-benar luka yang dalam dan menyeramkan, tetapi Tao tampak tidak takut dengan luka itu.

"Lukanya sangat parah. Harus diamputasi."

Luhan menangkup wajahnya tidak percaya, dan Peter menggeleng-geleng–tak kuasa mendengar diagnosis dokter itu. Ekspresi Kris berubah sendu, kemudian menatap Tao yang setia berada di sampingnya. Tao mengalihkan pandangannya pada Kris, kemudian mengusap kepalanya dengan lembut. Tatapan penuh cinta tersirat dari kedua matanya, menunjukkan betapa cintanya–terlalu–besar pada namja itu.

"Lakukan, dok. Amputasi dia, jika itu yang terbaik agar dia terus hidup."

Kris menatap Tao tak percaya. Tao tersenyum lembut, kemudian mengecup kening itu dengan lembut. Luhan dan Peter saling terharu, menatap pemandangan cinta yang indah di hadapan mereka. Tao menempelkan keningnya dengan milik Kris, kemudian mulai menitikkan air mata.

"Kau.. takkan membenciku?"tanya Kris, lirih.

Tao menatap tepat ke dalam manik tajam itu. Kris menangkap tatapan penuh arti Tao, entah kenapa merasa hangat dengan tatapan itu.

"Tak ada alasan bagiku untuk membencimu."

THE END

.

.

.

.

.

Epilogue

Beberapa hari setelahnya, Kris sudah diamputasi. Tao sering menjenguknya di tendanya, kemudian menghiburnya dan menemaninya. Kris bersyukur bahwa Tao selalu ada untuknya, dan Tao bersyukur bahwa Kris selalu menerima dirinya.

Saat ini, Tao tampak tengah mengganti perban pada luka Kris dengan perban yang baru. Dengan telaten, ia menggantinya, sesekali menanyakan bagaimana rasanya kehilangan satu kaki.

"Rasanya.. aku masih punya kaki itu, tapi di sisi lain aku tidak bisa merasakannya bergerak."jawab Kris, dikekehi Tao.

"Kau akan terbiasa."ucap Tao, kemudian mengusap luka Kris yang mulai mengering dengan antiseptik.

Kris menatap wajah Tao yang serius di sana. Wajah yeoja anggun yang selalu mengutamakan orang lain. Yeoja yang menjadi alasan baginya untuk bertahan dan kembali ke camp pengungsian. Pada awalnya, Kris takut Tao takkan mau menerimanya lagi.

Tapi akhirnya, semua berakhir indah.

Kris tak peduli dengan apa yang ia alami. Mungkin Kris kehilangan satu kakinya, mungkin ia tidak bisa bertugas sebagai tentara lagi, dan mungkin dia takkan bisa lagi hidup mandiri. Tapi, satu hal yang Kris sangat syukuri.

Kehadiran Tao dalam hidupnya berhasil menggantikan kakinya, dan tidak ada alasan baginya untuk tak mensyukuri semuanya. Jika memang ini yang digariskan oleh Tuhan padanya, maka Kris siap menerimanya dengan lapang dada. Selama Tao selalu berada di sampingnya, Kris selalu bersyukur atas segalanya.

Semua pengorbanannya, terbalas secara adil oleh Tuhan.

Worth it?

.

.

Worth it.

(Bener-bener) THE END

Note :

Halohaaaaa yeorobunnn!

Gimana gimana gimana? Di sini HAW suka banget sama karakterisasi Tao. Dia setia dan loyal banget UGH. Bener-bener uri panda yang da best best best!

Oke fix my KrisTao feels UGH

Indo-background!AU Project selanjutnya = BEACH TIME - KaiSoo!

Ada yang mau KaiSoo?

Mind to REVIEW and FAVOURITE, please?

HUANG AND WU