Chapter 2: Chap 2 : Killing Me Softly
"Seharusnya kau membunuhku, Dae."
"Dan seharusnya kau membiarkanku mati, Youngjae."
A Sweet Sin
"Three Shoot"
Cast :
Jung Daehyun
Yoo Youngjae
Summary :
"Dari awal bertemu, aku melenyapkan semua harapanmu." – Jung Daehyun.
Disclaimer :
All cast is god and their parent own.
Warning :
Boys Love! Don't like? Just tab close and don't judge!
Note :
Cerita ini terinspirasi dari Zoe x Adora yang menjadi chara di komik "Winter Wood". No plagiat! It's my pure ideas.
.
.
Maaf, openingnya ga jelas. Niatnya sih mau buat angst, tapi tau dah berhasil apa kaga :v
Wewangian sabun dan suara keran yang mengaliri bathup. Cipakan air yang berjatuhan pada ubin dingin tak menghentikan tangan lelaki itu yang masih menggosok pelan spon mandi yang penuh busa beraroma ceri pada tubuh lelaki yang ada tepat dipangkuannya.
"Aku pikir kau tak suka mandi dengan sabun ceri." Youngjae terkikik lucu sembari memainkan air busa yang mengalir tenang.
Harum cherry blossom menyeruak keluar ketika Daehyun terus menggosok sponnya dan ketika kaki Youngjae terus berkecipak memainkan air.
Tersenyum, ia menghentikan acara menggosokkan spon mandi itu dan beralih memeluk tubuh telanjang Youngjae. "Memangnya harus, ya kalau laki-laki itu berbau maskulin?"
Youngjae berpikir sejenak. Mengangkat kepala seolah ia tengah berpikir keras dengan tatapan yang penuh kekosongannya. "Yup, karena mungkin saja rekan kerjamu bisa tahu kalau kau mandi dengan kekasihmu."
Kekeh beratnya menggelitik telinga Youngjae yang ada beberapa senti darinya. Membuatnya tergidik dan mengeratkan genggamannya pada tangan kokoh Daehyun, "Bagus 'kan? Jadi tak ada laki-laki dan perempuan yang akan mendekatiku."
Youngjae diam sejenak, merasakan spon mandi yang Daehyun gosokkan pada punggungnya sekaligus memain-mainkan air yang bercampur dengan sabun ceri-nya.
Daehyun berkata, "Shh.. kau juga laki-laki. Tapi kenapa suka dengan sabun ceri?"
Sabun ceri?
Haruskah semuanya memiliki alasan?
Jadi ia harus mengingat kembali asal muasalnya?
Memudarlah senyum Youngjae perlahan, bersamaan dengan wajah muram yang makin merunduk muram dan tangannya yang mengendur dari permukaan kulit licin Daehyun.
"... K, karena adikku menghadiahiku sabun ceri ketika ulang tahunku tahun lalu," terangnya. Tak ada cahaya yang terpancar dari sinar matanya, namun segalanya berhasil menjawab kekalutannya.
Daehyun menggenggam hampa tangannya sendiri. Mengeraskannya tanpa aba-aba.
"Dia bilang, 'setidaknya sekali dalam hidupmu kau harus memakai sabunku!'" terangnya. "dia bicara itu sambil mengebrak-gebrak mejaku dan memaksaku mengambilnya. Tawa mengejeknya, cara dia memeluk pundakku dengan gelaknya, suara lenguhnya manja –"
"… A-awalnya aku menolaknya. Ia suruh aku menyimpannya saja. Ketika aku dengan jahatnya membuang sabunnya, dia terus mengganti sabun yang baru di nakasku. D-dan dia mengejekku ketika aku memakainya. A-aku kehabisan sabun waktu itu,"
Salah. Daehyun salah. Ia terus merasa bersalah!
Daehyun mengernyih tak nyaman, ia sadar jika dirinya telah salah melakukan hal itu pada keluarganya dan adiknya khususnya. Dan pastinya karena dia menanyakan pertanyaan yang sangat salah.
"Aku baru sadar cherry blossom punya aroma yang enak sekali. Jadi sekarang aku sering memakainya. Dia tertawa terpingkal-pingkal di kasurku ketika melihat separuh botol itu sudah raib –"
"… Jae –"
"Setiap aku memakainya, aku merasa adikku ada di dekatku. Ejekan kekananakannya terus menggentayangiku. Rasanya, a-aku bisa -"
Youngjae merasakan tangan hangat Daehyun memeluk tubuhnya. Youngjae tahu, jika Daehyun pasti merasa bersalah atas pertanyaannya. Semenjak hari itu, Daehyun tak berhenti dihantui oleh rasa bersalahnya.
"D-daehyun, maafkan aku tapi aku.. adikku, k-kenapa –"
"Eumph..!"
Sebuah bibir tebal menjejal mulut miliknya dan bungkam menjadi buah dari tindakan Daehyun semata. Sebuah lumatan agresif mencairkan kedinginan hatinya. Youngjae tanpa sadar menitih air mata. Tepat ketika Daehyun melesakkan tubuhnya mendekat. Dalam hati yang tanpa kepastiannya pria itu terus bertanya apa sebabnya?
Daehyun mengunci Youngjae terus pada pagutannya. Menggigit, melumat, dan menghidu aroma tubuh Youngjae yang memabukkan. Youngjae meronta, emosinya meluap dan menyeruak lewat air matanya. Selalu, Daehyun menghentikan Youngjae ketika ia belum selesai bertanya.
Dentang denyut jantungnya bersuara nyaring pada rusuknya. Bukan mendebarkan, melainkan nyeri yang amat menusuk. Daehyun turun pada ceruk. Mencumbu berulang dari dagu hingga belikatnya. Mengacaukan syaraf dan membuat tubuh Youngjae kejang.
"Daeh..! Stop... uh.. ngghhh! W-wae – ahhh…"
Kecupan yang mengandung emosi itu berubah menjadi kegarangan. Ia meninggalkan banyak tanda yang akan membekas lama pada kulit porselainnya. Tangannya mengapai surai Daehyun sebagai pelampiasan rasa menggelitik yang tak wajar pada perutnya. Mulutnya terperangah dan matanya mengatup sayu.
Daehyun mengakhiri dengan kuluman singkat pada jakun Youngjae. Lenguh Youngjae semakin tak tertahan. Daehyun menuntun untuk membalikan tubuhnya cepat, membimbing kakinya untuk berpindah dan saling berhadapan. Daehyun merekatkan dahinya pada dahi Youngjae. Menempelkan seakan tak akan pernah melepaskannya, merasakan deru napas mereka bersama. Ia menatap lekat-lekat setiap tetes air yang membasahi wajah dan melihat ke dalam mata getir Youngjae.
Daehyun dan Youngjae bertahan lama dalam posisinya. Youngjae tak berani menegakkan kepalanya, bibirnya bergemetar kuat, bahkan giginya masih terdengar menggeretak padahal ia terus berupaya menggigit bibirnya.
"Kau takut, Youngjae?"
Hening.
Geretakan giginya berubah menjadi sebuah guncangan pada kedua pasang pundaknya. "H-hiks – " Youngjae menangis, tubuh mungilnya terguncang hebat dalam pangkuan Daehyun. Youngjae tak pernah takut padanya, tak ada ketakutan nyata yang dapat melukainya. Namun ia terus bertanya kenapa, kenapa, kenapa? Rasa keingintahuannya yang terus menggelayut di benaknya. Merisaukan dirinya.
Daehyun mengangkat kepala itu dengan hati-hati. Dagunya mengangkat dengan perlahan dan lembut. Semakin mendekat, Daehyun mengecup kedua pelupuk Youngjae yang tertutup lemah. Menghapus jejak air mata dari pipi.
"Belum waktunya, Youngjae." Daehyun menggeleng lemah sembari mengusap wajah itu seksama.
Kembali Daehyun mengecup kedua mata itu, berulang-ulang dan menurun; pada mata, hidung, pipi, dan memagut pada bibir plum Youngjae. Lembut. Daehyun awalnya memagut bibir itu lembut. Seiring waktu berjalan, pagutan mereka semakin memanas.
Daehyun menyelipkan kedua pada tengkuk serta pinggang ramping Youngjae dengan penuh gairah. Mendekatkan tubuh mereka hingga dada mereka saling melekat. Youngjae hanya menerimanya pasrah, sikunya bertumpu pada pundak bidang Daehyun baku-baku jarinya menyelip pada surai kekasihnya.
"Eumph… -" Youngjae tak bisa lepas, penjara Daehyun terlalu menyiksa dan erat.
"D-daeh.. hhh…"
Lenguhan panjang Youngjae kedua tercipta, ia merasakan sesuatu yang ada di pangkuannya menusuknya – sesuatu menenda di bawahnya. Youngjae berhenti memagut, namun Daehyun tak berhenti. Youngjae termangu, dan entah saraf mana yang rusak hingga ia berani menggerakkan pinggulnya.
"…. Ngh –" Daehyun akhirnya mendangakkan kepalanya. Isi otaknya berantakan.
Youngjae merengkuh kembali kepala Daehyun, meraih nyawa Daehyun yang setengah melayang dan meleburkan bibir dan lidah mereka. Tinggal lenguh dan desau mereka, berteman dengan air yang terus berkecipakan. Mereka terengah, Youngjae pun sudah menyambut tubuh kekar Daehyun pada kedua lengannya. Jari Daehyun bergetar menyusuri garis tubuh Youngjae. Aura memanas dan bergairah semakin membakar – keduanya larut.
Daehyun membanting tubuh ringan itu pada air, menyandarkan pada bibir bathup. Youngjae melenguh – sebagai protesnya. Punggungnya merasakan dingin mengalir dari keramik itu. Bulu romanya meremang ketika Daehyun menerjang. Daehyun mencumbu tulang belikat Youngjae yang menjadi nilai estetis tersendiri untuknya, mengigit – menyesap. Kaki Youngjae tak berhenti mengejang, bergerak gelisah di bawah, kadang mengenai milik Daehyun dengan lembut.
"A-ah.. !"
"Ugh –"
Banyak tanda keunguan yang tertinggal dan berjejak. Daehyun turun pada puting merah muda Youngjae, menegang – meraupnya, menjilat, memilin, menarikan lidahnya pada putting itu dengan gerakan memutar. Pikiran Youngjae tertinggal jauh, ia terus mengelinjang dan bergetar dan mendesah.
"D, daeh-hyun... aah.." Laki-laki itu mencoba memanggilnya. Daehyun mengecup paha dalamnya sebelum tubuhnya merapat padanya. Youngjae mendekatkan tangannya pada wajah Daehyun. Membuat napas hangatnya menerpa wajah. Tak peduli berapa kotornya udara yang mereka hirup berdua.
Youngjae menarik napas rakus, sambil berkata, "M-maaf, ak.. aku terlalu terburu-buru –"
Angguk, balasan dari Daehyun.
"Seharusnya.. a-aku menahan diri, sebentar l-lagi untuk tahu.."
Daehyun menatap dalam pada maniknya, mata yang tak terdiskripsi itu seakan menusuk bahkan ketika Youngjae tak dapat melihatnya. Youngjae terus mengusap pipi kekasihnya yang membeku, dan Daehyun kembali menjerakan jarinya pada lekuk tubuh Youngjae.
"Buka mulutmu." Bisik Daehyun, setengah merancau. Suara berat itu membelai gendang telinga Youngjae.
Lelaki manis itu dengan sedia membuka mulutnya. Dan ketika rongga mulutnya terisi oleh udara, bibir ranumnya – merekah merah – mendapatkan dua pasang jari. Youngjae meneguk salivanya, mengerti.
Youngjae membuka mulutnya lebih lebar, meraup kedua jari itu utuh. Youngjae mulai menjulurkan bibirnya didalam, menarikan lidah itu dari pangkal hingga ujung jari. Ia membasahi kedua jari itu dengan salivanya.
Daehyun tak mengira Youngjae akan menikmati permainan solonya. Youngjae terus menggoda Daehyun dengan lidahnya. Pria itu menggeram tertahan, ia tak tahan lagi.
"Mpph… pah.. –"
Sebelah tangan Daehyun menghentikan Youngjae, dengan mendongakkan dagunya. Terjalin sebuah tali saliva pada jemari itu.
Daehyun kini mencumbu bibirnya, "Mmm.." dan ketika ciuman terjadi Daehyun memasukkan satu jarinya pada hole sempit milik Youngjae.
Youngjae masih dapat menyesuaikan tubuhnya dengan satu jari itu, ia menggeliat. Dan belum dapat menemukan sweet spot miliknya. Setelah dirasa Youngjae dapat menerima, pria itu memasukkan jari tengahnya. Daehyun melepas pagutan mereka, dan ketika jari tengahnya menerjang Youngjae reflek mengangkat dada.
"D, daeh… yun.."
Tangan Daehyun akhirnya melakukan gerakan menggunting. Youngjae mengerang, tanpa sadar bahwa kukunya melukai kulit punggung Daehyun. Menimbulkan baretan merah yang cukup dalam.
Daehyun menggerakkan kedua jarinya dengan tempo pelan-cepat, tangannya terus tertanam dalam dan bertekan oleh rektum Youngjae yang masih ketat.
"Ahh..! Ugh… e-ehh.."
Tidak, Daehyun tak bisa main-main lagi. Kulit bahkan gairahnya telah terbangun sempurna. "Young.. jae, I wanna fuck you. So badly."
"P, please, have me..hh –"
Daehyun mengecup daun telinga Youngjae lalu berbisik, "I love you… Jae."
Ia mengeluarkan baku-baku jarinya, dan dengan cepat ia menggantung kedua tungkai kaki Youngjae pada pundaknya. Tubuh yang sangat ringan itu hanya merentang pasrah, ia… sudah terbangun sejak tadi pula.
Penis Daehyun mengarah pada hole Youngjae yang berkedut antusias menunggu miliknya masuk kesana. Dan dalam hitungan detik, Daehyun telah menyentak masuk. Baru kepala penis itu saja, namun berhasil membuat Youngjae meraup banyak napas dan terengah. Sakit –
"D-DAE..!"
"T-tahan…"
Youngjae membuat sebuah mahakarya baru pada punggung Daehyun, luka cakaran yang lebih hebat. Terasa perih dan sangat menyakitkan.
"ARGH..!"
Daehyun menyentakkan penisnya makin dalam hanya dengan sehentakan. Tak ingin menyakiti Youngjae lebih lama. Dan, di detik itu juga, Youngjae menitih air mata dan kesakitan. Tidak, ini neraka yang mereka lalui bersama.
Pria itu menghujami sekujur wajahnya dengan kecupan ringan, mengalihan rasa sakit itu. Menautkan bibir mereka juga, alih-alih mengganti rintih akibat penetrasian tadi.
Di sela pagutan mereka, Youngjae mengangguk. Berisyarat bahwa ia telah siap.
Daehyun menjauhkan wajahnya beberapa senti, merajut senyum tipis dan menyaitkan beberapa rambut yang menghadang wajah cantik milik Youngjae.
Ia mulai menggerakkan pinggulnya – keluar dan masuk. Youngjae termangu, baru beberapa gesekan namun tubuh mereka telah matang terpanggang mendidihnya gairah mereka. Rektum hangat Youngjae mengapit miliknya dengan begitu erat, sangat ketat. Daehyun menarik tubuhnya hingga kepalanya tersisa, dan menghentakkan dengan ritme cepat. Daehyun tak kuasa menjaga seluruh tenaganya untuk tidak mendekat pada ceruk Youngjae. Tangannya pun sekali tak berdaya untuk menopang tubuhnya. Terlalu… ketat.
"Ahh! T-there.. –"
Daehyun menemukan sweetspot Youngjae. Ia memamerkan smirk terindahnya. Tak menyangka akan semudah itu menemukan titik kenikmatan Youngjae. Daehyun semakin menambah temponya bergerak. Tak ingin menyia-nyiakan sama sekali.
"Ahh! Eungg… hhh.. e, ehh.. ahh! Ahh!"
Youngjae menarik tubuh Daehyun, memohon pada Daehyun untuk membubuknya semakin dalam. Daehyun bergerak semakin liar. Dan semakin liar pula desahan Youngjae yang keluar.
"Ahh..! ahhh..! hnn.. d, daeh.. nghh.. –" Youngjae menarik surai pekat itu, menyalurkan rasa nikmatnya pada helai rambut Daehyun.
Youngjae mengaitkan kaki jenjangnya pada pinggul sempit Daehyun. Memperdalam penyatuan kedua insan yang tengah bercinta di atas hamparin air yang dingin. Suhu tubuh mereka mengalahkan segala rasa menggigil, mereka lebih panas dari matahari. Lelesan saliva menbanjiri sudut mulut pria itu. Tak berdaya ketika titik penyatuan mereka semakin memanas.
"Ha-ahh...! ahh...! Nhh, ah, deeper.. Nggh.. –"
"D, daehyunh nhh.. J-Jung.. D-daehn.. Hyun.. P-please.. Ahh.."
Daehyun menggeram tertahan, ia menggerilya ketika Youngjae mengemis lebih padanya.
Youngjae merancaukan nama Daehyun berulang-ulang. Memekik kenikmatan hingga pita suaranya terdengar berat dan serak. Ia menggila untuk terus menyebut nama Daehyun. Tangannya meremas rambut lelakinya dengan gerakan brutal. Menutup setengah kelopaknya dengan mulut erotis terbuka.
Hingga akhirnya Youngjae merasa akan mencapai puncak surgawinya, "Ak-u.. ahh.. ahn–"
"Almost.. wait, ba-by.. ngh–"
Youngjae menenggelamkan kepalanya pada tengkuk Daehyun. Menahan rasa melilit pada perutnya dan klimaks yang membuat nyawanya hampir melayang dari raganya. Laki-laki itu hanya pasrah mendesah pada kuasa Daehyun yang masih menggenjotnya cepat. Dominan yang menguasai penuh permainan.
"Dae –ahhhhhhh!!" Pria itu mendangakkan kepalanya penuh pada udara. Rasa hangat menyapa dalam tubuhnya. Cairan cinta Youngjae mengotori perut bidangnya. Daehyun mengerang panjang ketika keduanya klimaks bersamaan dan berupaya sekuat mungkin tak membiarkan tubuhnya terjatuh. Ia tetap bertahan pada posisi berada di atas Youngjae yang telah membanting tubuhnya kembali ke bibir bathup. Rasa yang sangat tak dapat diuraikan dengan kata. Mereka biarkan deru napas memburu keduanya memecah hening dan membiarkan mereka yang panas menggigil dalam air yang dingin.
Daehyun menunduk dalam, menguatkan lengannya dan menyapu poni basah Youngjae yang menghalangi pandangannya. Menatapnya Youngjae lekat yang masih terengah dan terguncang hebat. Semua tenaga terkuras habis dan rasa kantuknya alih-alih mendominan seluruh isi kepala Daehyun. Daehyun pun berkata, "Biar aku membilasmu setelah ini. Kau pasti kelelahan."
Youngjae segera tenggelam pada tubuh Daehyun, memeluk – "Daehyun, aku mencintaimu. Sangat, amat. Maaf –" lirih Youngjae pada telinga Daehyun.
"Tidak, aku cinta padamu."
Pria cantik itu mencengkram erat pada tubuh Daehyun yang masih menopang, tak peduli seberapa melelahkan semuanya. Ia terus memeluknya posesif dengan rapuh. Youngjae terus memeluknya, dan Daehyun hanya menerima.
Lama, hingga Daehyun tersadar jika Youngjae tertidur dipelukannya.
Daehyun merapihkan surainya di depan cermin besar yang terpajang di kamar Youngjae. Tangan panjangnya melesak pada rambut pirangnya yang terterpa angin. Ia baru saja datang. Dan mendapati Youngjae yang tengah membasuh dirinya. Daehyun tengah memilihkan pakaian tidur Youngjae. Tahu jika Youngjae sering salah warna dan sering kali memakai pakaian yang bertabrakan. Jadi Daehyun yang selalu memilihkan pakaian milik Youngjae. Bahkan dengan sabar memadu madankan pasangan baju Youngjae pada satu hanger, tinggal Daehyun yang mengarahkan.
Pria itu melepas kancing paling atas kemejanya. Terlihat jika hari ini adalah hari yang agak lelahkan dan panas. Daehyun hanya mendengar deras air dari bilik kamar mandi Youngjae dan tersenyum. Setelah ia berhasil mengganti piyama Youngjae yang lebih cocok untuk hari sepanas ini. Ia pun berniat untuk keluar dari kamar Youngjae dan menunggunya di luar.
"Daehyun-ah," pemilik nama itu berhenti tepat ketika tangannya meraih kenop pintu,"kau ada di sana?"
Daehyun selalu tersenyum kala keberadaannya selalu terendus oleh kekasihnya. Berpura-pura adalah hal yang hampir sepenuhnya mustahil bagi Daehyun. Youngjae tahu semua isi hatinya. Bahkan keberadaannya. "Iya sayang, aku barusaja mau keluar."
"Dae, ambilkan handukku. Aku kelupaan." Daehyun tersedak oleh salivanya sendiri. Tidak malam ini. Cukup. Youngjae sudah kesusahan berdiri beberapa hari. Daehyun tidak membiarkan –
Daehyun tergagap, "T-tapi a-aku.. a-aku.. tidak.."
"Letakkan saja handuknya di wastafel," Daehyun masih membeku di sana. "kumohon?"
Daehyun menghela panjang, seperti sihir. Ketika Youngjae memohon, itu akan terdengar seperti kewajibannya untuk mendengarnya. Ia menunduk dan segera meraih handuk yang tergeletak di atas kasur Youngjae. Menyampirkan pada pundaknya dan berjalan mendekat pada pintu kamar mandi sambil membuang napas pendek.
Lelaki itu dengan ragu membuka pintu kamar mandi. Melihat tirai kamar mandi yang dipenuhi titik embun air. Yang di dalamnya ia pastikan jika itu adalah Youngjae, kekasihnya. Suara derai air shower semakin jelas pada pendengarannya. Dan entah, ia sempat terdiam di sana beberapa detik hanya untuk menatap tirai yang bahkan hanya berwarna putih dengan tatapan kosong. Menjadi terlalu emosional kemarin cukup sekali untuknya. Hanya handuk.. ya, handuk saja. Setelah ia mengalami pertarungan sengit dengan batinnya, ia akhirnya menaruh handuk itu di atas meja wastafel.
"Terima kasih," Youngjae mengucapkannya dengan sangat lirih, suaranya teredam air yang membanjirinya. Dalam pikir Daehyun, ia melihat sekelibat senyum tipis Youngjae. Don't.
Daehyun hanya mengangguk mengiyakan. Lalu berbalik pergi dari sana sesegera mungkin.
"Dae, tunggu," Sekali lagi langkahnya tertahan berkat suara lembut itu. "Tolong dengarkan aku, dan aku berharap kau tak perlu menjawabnya."
Daehyun mengangguk dalam diam. Mengiyakan dan membiarkan dirinya mematung di sana ditemani suara air yang masih merdu menggema di dinding-dinding kamar mandi. Youngjae tampaknya tengah menata hatinya untuk bercerita. Terjadi keheningan lama yang membuat Daehyun terus membeku di sana. Bahkan Daehyun tak bergerak seinci pun untuk menunggu Youngjae kembali membuka mulut.
"Daehyun.. –"
Ia menggantungkan kata itu lama, "Ketika aku bertemu denganmu. Aku selalu merasa, bahwa aku tak pantas untuk menjadi orang yang kau cintai. A-aku.. aku bukanlah orang yang dapat membahagiakanmu. Bahkan untuk melihatmu pun aku tak bisa. Hhhh~ bagaimana aku bisa membahagiakanmu dengan kecacatan ini?
Bungkam. Hening yang panjang terjadi.
"Kau terlalu banyak membantuku. Terlalu banyak kau mencintaiku, yang hanya seorang cengeng dan tak bisa berbuat apa-apa. Jelas, aku tak menyayangimu. Aku sudah terjatuh teramat dalam padamu. Dan alasan apa yang membuatmu berani menangkapku? Itu selalu menjadi tanda tanya besar untukku. Kau selalu memberikan topeng pada semua orang. Kau hidup dalam kebohongan. Tapi tidak untukku. Aku selalu bertanya-tanya. Kenapa kau mau melepas semua kedok dan perisaimu demi aku. A-apa aku selemah itu? Atau karena kau terlalu percaya padaku, karena aku lemah? Entah. Tapi kau sudah berani untuk mengasihiku dengan tulus,"
"Seharusnya kau membunuhku, Dae."
"Hiks... h,hiks.."
Air shower tak berhenti membuat mereka berdua memilu. Entah, itu seperti kata yang mengharapkan Daehyun tak mengasihinya lagi. Entah hatinya tercabik dan berdarah. Suatu penolakan halus yang selalu membuat Daehyun terluka. Youngjae memeluk kaki telanjangnya, mendekat untuk meredam tangisnya. Dan, Daehyun hanya mengepal kuat tangannya. Membiarkan hatinya patah dan berdarah. Keraguan Youngjae tengah berhasil mengharu birukan segalanya. Baik Daehyun dan Youngjae kini saling bertanya. Saling menyalahkan. Daehyun benar-benar kehabisan kata. Dan Youngjae hanya terisak di antara suara-suara rintikan air yang menerpanya. Pria itu ingin sekali mendekapnya sekarang juga. Ia ingin mengatakan jika hatinya benar-benar untuk dirinya. Mereka sama-sama terluka. Rapuh.
"Dan seharusnya kau membiarkanku mati, Youngjae."
TBC
Author's Note : *aga panjang, sori abis hiatus sih;;*
OI! Jungie balik! Sekiranya ada yang nyari saya? /enggak ya, halah bodo amat/. Kayanya Jungie udah hiatus selama setahun, ya? Maaf karena lama menunggu Jungie yang sedang menghadapi masa labil. Awalnya, aku ngadain suatu deal sama sohib author.. setelah saya update ff buat ulang tahun Daehyun, aku bakal berhenti :) Ya, Jungie belum tau bakal ngelakuin nazar itu atau malah lanjut. Kalau misalnya aku lanjut, berarti anggap aja saya munafik. Karena termakan kelabilan hati yang ga berujung.
Jungie banyak ngalamin pasang-surut, dari jadi orang yang peminder dan mudah iri. Satu tahun sebelumnya adalah tahun terburuk Jungie, karena berhenti buat ff aku malah jadi ogah-ogahan belajar dan ga ada semangat buat berimaginasi kaya dulu. Berimaginasi adalah satu-satunya jalan agar manusia imaginer (read; BAP) bisa terus kasih support dan itu caraku untuk support diri sendiri. Satu tahun ini, Jungie jadi orang yang realistis. Jungie berubah karakter drastis. Bahkan Jungie mulai persetan dengan nilai, Jungie berubah jadi manusia yang jahat sama diri sendiri.
Ok, sesi curhat selesai.
Dan, SESI SALAM DARI AUTHOR TERCINTA SE-NUSANTARA! FARAH RAMADANTI! Bby, Ara titip salam buat kalian semua reader sedunia. Ok, ini sesi jujur. Orang pertama, yang menggerakkan saya buat berani mempublish ff ke jaringan ini adalah sosok dia. Kita saling curhat kalau kita iri terlebih lagi saya *jujur iri banget*. Saya minder sama karya saya, kurang reviewer padahal buat satu chapter aja aku bisa habisin banyak waktu. Ini sesi jujur ya wkwk. Tapi sumpah saya patut sekali berterimakasih buat Ara yang membuka hati saya untuk mencintai keapa adaan dan keberanian diri. Tetep jadi anak umma yang nurut ya, ra;;
Special thanks satu lagi buat Ly eon!
Eon, makasih udah mau denger keluh kesah Bella. Eon pasti tau gimana kacaunya Bella satu tahun ini. Eon, eon kadang nyebelin tapi ada benernya makanya aku itu selalu tanya eon soalnya jawab jujur banget ke aku TT. Makasih buat jadi cermin buat aku :*
Back to cerita ya,
Maaf karena udah rombak yang bagian depan itu, karena aku ga sadar saking lamanya saya hiatus wkwk. Dan aslinya kan saya mau buat ffnya jadi two shoot, tapi karena malah jadinya 6k+ kuputuskan buat dibagi jadi 3 shoot. Aku ga tau nc-nya feel apa enggak, ga penting sih aku juga males baca ulang jadi mohon maaf kalo banyak typo dan ga feel. Besok kayanya saya bakal publish lagi lanjutannya. Biar hutang saya lunas besok.
Jujur, saya bahagia. Bahagia bisa berbagi cerita ini ke pembaca. Bisa memperlihatkan kerja keras saya untuk kalian.
Saya sampe nangis gini...
Karena bisa publish ff ini tanpa beban, tanpa rasa takut di hati.
Saya bahagia banget hari ini,
Bahagia bersamaan dengan genapnya Daehyun jadi 25 tahun.
... Saya ga bisa di notis, ga bisa ngasih apa-apa, tapi asa satu-satunya saya hidup itu cuman buat biarin senyumnya Daehyun terus bersinar. Saya cinta dia, sebagai kekasih, kakak, saudara, ayah.. dia itu udah jadi siapa aja di imaginasiku.
.
.
Dae, Ilysm.
Happy Birthday.
.
.
With all my heart,
Jungie.
