.
Orange and Green
.
Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi, Shingeki no Kyojin belongs to Hajime Isayama. I take no profit of this and all the characters inside. All of the purpose for making this is just for fun and entertaining.
a Kuroko no Basuke X Shingeki no Kyojin crossover; knb!au
Furihata Kouki/Sasa Braus, K+, Friendship/Romance
© kazuka, february 22nd 2014
.
"Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan dan interaksi lainnya. Sasha menyenangkan, eh, Furihata?"
.
Siang itu, dengan sebundel artikel titipan kawannya untuk diserahkan ke klub majalah dinding, Furihata melintasi lorong yang masih dipenuhi segerombol siswa. Bel baru saja berbunyi, selasar penuh oleh siswa yang sedang bertarung dengan rasa lapar mereka.
Dan di antara sekian banyak derap yang terburu-buru itu, ada sepasang kaki yang berayun santai, berlari kecil sembari melompat menembus keramaian dengan enteng, sesekali dia menyapa orang-orang yang dikenalnya. Dan itu dilakukannya berkali-kali, tanda bahwa dia mengenal banyak orang.
Sapaan itulah yang menarik bagi Furihata, suara tersebut sampai ke telinganya berkali-kali, menggodanya untuk menoleh.
Sasha.
Sebuah bento yang dibungkus kain merah jambu ada di tangannya, dia sepertinya tak menyadari keberadaan Furihata, berlalu begitu saja. Dia menaiki tangga kecil, Furihata tahu tangga itu. Tangga menuju atap sekolah.
Furihata semakin tertarik.
.
xxx
.
Ketertarikan itulah yang mengantarkan Furihata untuk datang pada Kagami di suatu sore, setelah mereka selesai latihan.
"Tolong aku, Kagami!" bahkan dia sampai membungkuk.
Kagami tentu saja terheran-heran. "Ada apa denganmu, heh?"
"Kau bisa memasak, 'kan? Bantu aku membuat bento!"
Kagami melongo.
.
.
"Oke, tapi Maji Burger besok sore."
"Siap!"
.
.
"Kenapa nasimu begini? Lembek! Kau mau membuat bubur untuk orang sakit?"
"Aih, maaf!"
"Buat lagi sana!"
Furihata terpaksa mengambil lagi beras yang sengaja dia bawa dari rumah, mengulang lagi langkah pertama dalam pelajaran memasak yang diberikan oleh Kagami di rumah lelaki itu. Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk mengurangi kadar air masakannya, atau kalau tidak dia hanya akan disemprot Kagami lagi.
Sementara Kagami menungguinya dengan kalem sambil menyantap 'bubur' buatan Furihata, yang telah dia tambahi dengan potongan sosis dan ikan serta wortel rebus. Dasar omnivora.
.
.
"Wortelnya terlalu keras, Furihata," tetapi Kagami menelan saja potongan sayur yang barusan dimasak rekannya tersebut. "Wortelnya dimasukkan duluan sebelum sosis. Ini sosisnya pas, tapi wortelnya belum matang."
"Baik!"
.
.
"Potong sosisnya begini, tahu! Apa yang kau buat itu? Bukan sosis bentuk gurita namanya, oi! Apa-apaan, berrumbai begitu."
"O-oke!"
.
.
"Nuggetnya sampai keemasan, tahu! Yang begini masih mentah, goreng lagi!"
"Eeeh?"
"Menyusunnya yang rapi. Jangan sampai nasinya tertutup semua begitu."
"Baiklah ..."
"Tiriskan dulu telur dadarnya dengan benar. Kau hanya akan mengotori yang lain kalau kau meletakkannya sembarangan sebelum minyaknya selesai ditiriskan."
"Ya ..."
Furihata baru pulang dari rumah Kagami sekitar jam setengah sebelas malam, sementara Kagami di sana merasa sangat kekenyangan akibat menghabiskan masakan Furihata yang gagal. Omnivora tingkat akut.
Dan Furihata membawa pulang ilmu yang akan mulai dia praktekkan esok pagi.
.
xxx
.
"Hei," Furihata melangkah mendekat, gadis itu berada di ujung atap sekolah, sendirian. Cukup mengejutkan, Furihata kira Sasha punya banyak teman, dilihat dari apa yang terjadi di selasar tempo hari.
"Whoa, hai! Furihata-kun ternyata! Kau juga bawa bento? Ayo sini! Kebetulan, aku belum memakan punyaku."
Furihata, masih tersenyum, pun mengambil tempat di samping Sasha. "Selamat siang."
"Siang juga," Sasha memandang sebentar Furihata yang telah duduk di sampingnya. Dia pun memutar tubuh, agar dapat berhadapan dengan pemuda itu, sambil membuka kain penutup kotak makannya. "Furihata-kun bawa apa?"
Dengan malu-malu Furihata membuka kotaknya, memperlihatkan isinya. "Cuma ini ..."
Sengaja tak dia bilang pada Sasha bahwa ini kali pertama dia memasak dengan sungguh-sungguh.
"Wah, cantik!" Sasha memainkan sumpit di udara. "Eh, eh, Furihata-kun, tukaran bento, yuk!"
"Eeh?"
Mati, pikir Furihata, ini masakan pertamanya! Kalau rasanya buruk bagaimana? Imej dia yang rusak.
"Dulu aku melakukan ini untuk mengakrabkan diri dengan teman pertamaku di SMA. Tapi kalau Furihata-kun tidak mau, tidak apa kok, hehehe. Maaf ya, sudah seenaknya," anak itu menggaruk kepalanya sambil terkekeh canggung.
Bukannya apa-apa, sih. Hanya saja Furihata takut kalau Sasha ... keracunan.
Oke, ini berlebihan.
"Kalau Sasha tidak keberatan dengan makananku ..." Furihata tersenyum malu, "Boleh kok."
"Asyik!"
Maka dua bento itu pun bertukar pemilik. Furihata mengakui bahwa penataan bento Sasha jauh lebih cantik dari miliknya.
Sebelum mereka makan, Furihata mencoba memuaskan rasa penasarannya, "Kenapa kausendiri?"
"Teman-temanku masih suka makan di kantin. Mereka cuma kadang-kadang bawa bento. Selamat makan!"
Furihata mengangguk-angguk, dan mereka pun mulai makan.
"Bento Furihata-kun enak!" pujian ini sontak membuat Furihata tersipu, perlu mengedipkan matanya beberapa kali agar dia sadar bahwa dia berada di kenyataan.
"Ah, terima kasih."
Sasha mengangguk, Furihata tersenyum.
Baru Furihata tahu satu fakta—berdasarkan isi bento Sasha yang diamatinya—gadis itu penyuka kentang.
(Ada kentang rebus yang dihias sedemikian rupa hingga menjadi seperti wajah manusia, potongan kentang goreng, dan brokoli yang ditumis dengan kentang.)
.
.
A/N: ... aheee, furihata masak / / /w/ / /
